Claim Missing Document
Check
Articles

Found 42 Documents
Search
Journal : Koneksi

Representasi Kemiskinan dalam Film Korea Selatan (Analisis Semiotika Model Saussure pada Film Parasite) Michelle Angela; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6480

Abstract

This study discusses the social problems that occur in South Korea that represents poverty in the film Parasite by identifying the signs used in the film. The director as a mass communicator makes a film as a mass message delivering a message to a mass audience or audience about their representation of reality. The theory used in this research is the theory of mass communication, film, representation, discourse, and poverty. This study uses a qualitative approach with Ferdinand de Saussure semiotic analysis technique which divides the signs into two, namely signifier and signified. In this study it was found that the film Parasite represented poverty depicting the figure of a family who lived a difficult life, a small house that was dirty and cramped, difficulty in finding decent work, living in a slum area, a house flooded. Kim's family poverty in this film is relative poverty which explains even though their basic needs are met, but the difference is clearly seen when compared to the economy with the Park family. Some poverty indicators according to the World Bank are portrayed in the film such as land ownership and limited capital, limited infrastructure needed, development bias in cities, differences in human resources and economic sectors, poor living culture and poor governance. Penelitian ini membahas tentang adanya masalah sosial yang terjadi di Korea Selatan dalam sebuah film yang merepresentasikan kemiskinan dalam film Parasite dengan mengidentifikasi tanda-tanda yang digunakan dalam film tersebut. Sutradara sebagai komunikator massa membuat film menyampaikan pesan kepada audiens massa atau penonton tentang representasinya terhadap realitas. Teori yang digunakan penelitian ini adalah teori komunikasi massa, film, representasi, wacana, dan kemiskinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis semiotika Ferdinand de Saussure yang membagi tanda menjadi dua yaitu signifier dan signified. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa film Parasite merepresentasikan kemiskinan menggambarkan sosok keluarga yang hidup sulit, rumah yang kecil kotor dan sempit, kesulitan dalam mencari pekerjaan yang layak, tinggal di daerah yang kumuh, rumah yang kebanjiran. Kemiskinan keluarga Kim dalam film ini adalah kemiskinan relatif yang menjelaskan meskipun kebutuhan pokok mereka terpenuhi, namun perbedaan terlihat jelas jika dibandingkan dengan ekonomi dengan keluarga Park. Film seperti kepemilikan tanah dan modal yang terbatas, sarana prasarana yang dibutuhkan terbatas, pembangunan yang bias di kota, perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi, budaya hidup yang jelek serta tata pemerintahan yang buruk.
Representasi Kekerasan Non Fisik Pada Film Joker (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure) William William; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10195

Abstract

The Joker film is a film with the psychology genre by director Todd Phillips which is produced by the Warner Bros. studio with Joaquin Phoenix as the main character. The story of this film tends to be dark and dark and is considered to also affect one's psychology. Most of the communication and information obtained by the public comes from the mass media. Mass media is a form of media or means of communication used to disseminate information or news to the public or the public. The method used by the researcher is qualitative using the research method with semiotic analysis of Ferdinand De Saussure which analyzes the existing signs with documentation techniques carried out by the researcher. This study focuses on the process carried out to prove the existence of representations of non-physical violence in the Joker film. The researcher aims to show that there is an element of non-physical violence representation through the selection of scenes, text and images. The results of this study can be concluded that violence can be done non-physically, such as slander, abuse, and made jokes for those around him. Film Joker merupakan film dengan genre psikologi karya sutradara Todd Phillips yang diproduksi studio Warner Bros dengan Joaquin Phoenix sebagai pemeran utama. Kisah dari film ini cenderung kelam dan gelap serta dinilai juga bisa mempengaruhi psikologi seseorang. Komunikasi dan informasi yang diperoleh masyarakat sebagian besar berasal dari media massa. Media massa merupakan salah satu bentuk media atau sarana komunikasi yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi atau berita kepada publik atau masyarakat. Metode yang digunakan oleh peneliti merupakan metode kualitatif dengan melakukan analisis semiotika Ferdinand De Saussure, yang menganalisa tanda-tanda yang ada dengan teknik dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian ini berfokus pada proses yang dilakukan untuk membuktikan adanya representasi kekerasan non-fisik pada film Joker. Peneliti bertujuan menunjukkan adanya unsur representasi kekerasan non-fisik melalui pemilihan scene-scene, teks dan gambar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan bisa dilakukan secara non-fisik seperti difitnah, dimaki, dijadikan bahan tertawaan bagi orang di sekitarnya. Individu yang lemah kemudian mempertahankan dirinya sendiri dalam keinginan untuk melukai atau mengikuti orang. Ini membuat individu menjadi tertekan, dan depresi. Tindakan perundungan atau bullying dalam bentuk kekerasan non-fisik dapat menyebakan permasalahan serius yang seharusnya lebih diperhatikan masyarakat seperti depresi, anti sosial, kecemasan, dan lainnya.
Pengungkapan Identitas Diri Melalui Komunikasi Non Verbal Artifaktual Pada Komunitas Crossdress Cosplay Jepang Fasa Bikati Sabka; Yugih Setyanto; Septia Winduwati
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3905

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana identitas diri dibangun dan dibentuk. Dengan menggunakan konsep, identitas diri yang terdiri dari konstruksi identitas diri, faktor-faktor yang mempengaruhi identitas, proses pembentukkan identias diri. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode yang dilakukan dalam mengumpulkan data yakni dengan teknik wawancara mendalam, observasi non-partisipan, studi kepustakaan, dan penelusuran data online. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri dibangun oleh proses pembentukan identitas diri yang dikarenakan adanya figur yang menjadi model dan tingkat keterbukaan individu terhadap berbagai alternatif identitas. Selain itu, terbentuk melalui media digital maupun media konvensional seperti Anime (kartun Jepang), Manga (komik Jepang), serta lingkungan disekitarnya.
Persepsi Masyarakat Betawi Terhadap Fenomena Ondel-Ondel Ngamen Iren Chienita; Eko Harry Susanto; Septia Winduwati
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3913

Abstract

Ondel-ondel selain sebagai ikon budaya Betawi, sejak dahulu digunakan dan dipercaya sebagai penolak bala dalam ritual adat Betawi. Namun, kini muncul fenomena Ondel-ondel ngamen di tengah masyarakat. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Betawi terkait fenomena Ondel-ondel ngamen yang dilihat dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah persepsi dalam teori komunikasi dan teori budaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, studi pustaka dan juga penelusuran data online. Hasil dari penelitian ini adalah persepsi kognitif masyarakat Betawi terhadap kelengkapan Ondel-ondel ngamen yang berbeda dengan Ondel-ondel dalam acara rakyat Betawi, persepsi afektif masyarakat Betawi cenderung tidak mendukung penggunaan Ondel-ondel sebagai alat mengamen karena kesal dan prihatin, dan persepsi konatif masyarakat Betawi cenderung tidak memberikan uang kepada Ondel-ondel ngamen.
Analisis Framing Pemberitaan LGBT pada Website Media SEJUK Edisi Januari 2019 Valentika Valentika; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6141

Abstract

Penelitian ini meneliti mengenai analisis framing pemberitaan isu-isu LGBT edisi bulan Januari 2019 pada media SEJUK. LGBT memang masih menjadi hal tabu di kalangan masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deksriptif, strategi penelitian analisis framing, objek dan subjeknya berasal dari artikel media SEJUK, dan wawancara. Dalam artikel yang dipilih terdapat pro dan kontra antara media sampai pada gereja dalam menerima komunitas LGBT. Dengan menggunakan konsep analisis framing Robert N. Entman untuk dapat terlihat bagaimana media SEJUK membingkai pemberitaan tersebut. Hasil penelitian ini adalah secara garis besar, dalam pembingkaiannya media SEJUK ingin memberikan ruang yang berimbang untuk membuat publik mendengar suara alternatif dari yang tidak toleran dan menghargai.
Analisis Framing Pemberitaan Portal Berita Media Online Mediaindonesia.com dan Beritasatu.com dalam Debat Pilpres Putaran Pertama Buche Christian Sapulette; Yugih Setyanto; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6155

Abstract

Penelitian ini meneliti mengenai analisis framing yang dilakukan portal berita media online Mediaindonesia.com dan Beritasatu.com yang melakukan pemberitaan terkait pasca debat putaran pertama pemilihan presiden yang berlangsung pada 17 Januari 2019. Dengan menggunakan teori analisis framing yang dikemukakan oleh Robert N. Entman, terlihat bahwa Mediaindonesia.com dalam melakukan pemberitaan pasca debat tersebut sangat mengarah dan selalu memberikan kesan positif pada pasangan Jokowi-Amin, serta memberikan kesan negatif bagi pasangan Prabowo-Sandi. Berbeda dengan Beritasatu.com yang terlihat lebih netral dibandingkan dengan Mediaindonesia.com, meski tetap lebih mengarah pada satu pihak, yaitu Prabowo-Sandi, namun pemberitaannya tidak ada yang memberikan kesan negatif bagi pasangan Jokowi-Amin.
Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect Pada Kalangan Remaja di Jakarta Ayu Reni Anisa; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10421

Abstract

Film are widely used as a medium of mass communication because film are considered effective in conveying messages. The presence of film that are usually made to represent the reality of real life that exists in society. As in the film Imperfect which is fully titled Imperfect: Career, Love & Scales, tells a story about the case of self-acceptance with the issue of beauty standards that are assessed by the general public. This study aims to determine the meaning of teenagers in Jakarta in the Imperfect film related to body positivity. This research is a qualitative research which is descriptive and uses reception analysis. The theory used is the reception theory and Stuart Hall's encoding-decoding theory which describe the three positions of the meaning of the audience. The research results were obtained through in-depth interviews which will be grouped into three positions of meaning, namely the dominant position, the negotiation position and the position.Film banyak digunakan sebagai medium komunikasi massa karena film dianggap ampuh dalam menyampaikan pesan. Kehadiran film yang biasanya dibuat untuk merepresentasikan realitas dari kehidupan nyata yang ada di tengah masyarakat. Seperti halnya dalam film Imperfect yang berjudul lengkap Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan, bercerita tentang kasus penerimaan diri dengan isu standar kecantikan yang dinilai pada masyarakat umun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan remaja di Jakarta pada film Imperfect terkait body positivity. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan analisis resepsi. Teori yang digunakan adalah teori resepsi dan teori encoding-decoding Stuart Hall yang menjabarkan tiga posisi pemaknaan audiens. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam yang akan dikelompokkan menjadi tiga posisi pemaknaan yaitu pada posisi dominan, posisi negosiasi dan posisi. Hasil penelitian menempatkan sebagian besar informan berada pada posisi negosiasi yang menyetujui bahwa penokohan dan cerita yang disampaikan dalam film Imperfect memiliki nilai body positivity namun dengan pengecuali pada beberapa adegan yang ada.
Aktivitas Interaksi Parasosial Penggemar Kepada Idola (Studi Deskriptif Kualitatif pada Wota dan Woti Penggemar JKT48 di Jabodetabek) Muhammad Rakha Rizky Pratama; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10197

Abstract

JKT48 is an idol group originating from Indonesia and produced by Akimoto Yasushi. This research is expected to be able to explain the parasocial interactions that occur between fans and idols. Parasocial interactions are interactions that occur when individuals interact with people who are presented by the media. This research is focused on finding out how the parasocial interaction activities between JKT48 fans Wota and Woti and JKT48 idols. This study uses the concept of communication theory, fandom theory, and parasocial interactions. This research uses a qualitative approach with a collection method by conducting interviews with three informants, study documentation, and literature study. The results in this study are Wota and Woti will feel sad when their idols leave, Wota and Woti limit their relationship with idols only to idols with fans, Wota and Woti make JKT48 as their guide when they behave. None of the three informants in this study was affected pathological.JKT48 merupakan grup idola yang berasal dari Indonesia dan diproduseri oleh Akimoto Yasushi. Penelitian ini bermaksud menjelaskan interaksi parasosial yang terjadi antara penggemar dan idola. Interaksi parasosial merupakan interaksi yang terjadi ketika individu berinteraksi dengan orang yang dipresentasikan oleh media. Penelitian ini fokus untuk mengetahui bagaimana aktivitas interaksi parasosial antara penggemar JKT48 Wota dan Woti terhadap idola JKT48. Penelitian ini menggunakan konsep teori komunikasi, teori fandom, dan interaksi parasosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara tiga informan, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil dalam penelitian ini adalah Wota dan Woti akan merasa sedih ketika idolanya keluar, Wota dan Woti membatasi hubungannya dengan idola hanya sebatas idola dengan penggemar, Wota dan Woti menjadikan JKT48 sebagai pedoman mereka saat bertingkah laku. Namun penelitian menunjukkan bahwa efek patologis tidak terjadi pada tiga informan.
Aktivitas Komunikasi Sanggar Seroja dalam Mengedukasi Transpuan di Jakarta Frank Marco; Septia Winduwati
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15673

Abstract

Humans are social beings who need the help of other humans and every human being has the right to determine his own way of life. However, this is what thedoes not feel, lesbian gay bisexual transgender (LGBT) community especially the transwoman community, such as in the right to health, work and many more so that they have to live a different life because their choices are different from most people. Many of them drop out of school, do not work and fall into the world of crime, this can be an example of the lack of attention of the trans women community and is one of the main reasons for the establishment of Sanggar Seroja to educate and empower trans women in Jakarta. Sanggar Seroja tries to educate transgender women through art activities and activities of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs). With the establishment of Sanggar Seroja, they hope that trans women will get the same attention and rights as other people, and they want to instill an attitude of independent trans women who are proud of themselves.Manusia adalah makluk sosial yang memerlukan bantuan manusia lain dan setiap manusia memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun inilah yang tidak dirasakan oleh komunitas lesbian gay bisexsual transgender (LGBT) terutama komunitas transpuan seperti dalam hak kesehatan, pekerjaan dan masih banyak lagi sehingga mereka harus menjalani hidup yang berbeda karena pilihannya yang berbeda dari kebanyakan orang. Banyak dari mereka yang putus sekolah, tidak bekerja dan terjerumus ke dalam dunia kriminalitas, hal ini dapat menjadi salah satu contoh kurangnya perhatian komunitas transpuan serta merupakan salah satu alasan utama didirikannya Sanggar Seroja untuk mengedukasi serta memberdayakan transpuan di Jakarta. Sanggar Seroja berusaha mengedukasi transpuan melalui kegiatan-kegiatan kesenian dan kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dengan didirikannya Sanggar Seroja, mereka berharap agar transpuan mendapatkan perhatian dan hak yang sama dengan orang lain, serta ingin menanamkan sikap transpuan yang independen dan bangga dengan dirinya sendiri. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitiatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Hasil pada penelitian ini adalah aktivitas komunikasi yang dibentuk oleh Sanggar Seroja komunikasi yang edukatif, saling terhubung dan juga Sanggar Seroja mengadakan kegiatan-kegiatan yang berguna untuk mengembangkan potensi dalam diri transpuan.
Self Disclosure Individu Queer Melalui Media Sosial Instagram (Studi Deskriptif Kualitatif pada Akun @kaimatamusic) Dhiya Fauziani Hediana; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6489

Abstract

In current digital era, the development of technology in the world are getting more advanced and rapid. The existence of new media provides an open space for individuals to convey or receive information. One of them, a Queer who see new media as a space for expression, such as self disclosure. The limited space in the public that encourages individuals queer self disclosure through digital communication in new media, namely social media Instagram. This purpose of this study is to find out how the self disclosure of one of a Queer on social media Instagram. The analysis is based on the theory of interpersonal communication with reference which according to the concept of self disclosure and social media theory. The study conducted using a qualitative descriptive approach with case study method on the Instagram account @kaimatamusic. The findings result of this study are informant able to open up herself by sharing her work, sexual identity, ideas, activities and open attitudes to the others on an Instagram account. Even so, there are some personal information that she did not share such as romantic partners and families Di era digital saat ini, perkembangan teknologi di dunia semakin maju dan pesat. Kehadiran media baru memberikan ruang keterbukaan individu untuk menyampaikan ataupun menerima informasi. Salah satunya, individu queer yang melihat media baru sebagai ruang untuk berekspresi, seperti melakukan pembukaan diri (self disclosure). Adanya keterbatasan ruang di publik yang mendorong individu queer melakukan penyingkapan diri (self disclosure) melalui komunikasi digital di media baru yaitu media sosial Instagram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembukaan diri salah satu individu Queer di media sosial Instagram. Analisa dilandaskan pada teori komunikasi antarpribadi dengan referensi yang mengacu pada konsep pembukaan diri (self disclosure) dan teori media sosial. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif dengan metode studi kasus pada akun Instagram @kaimatamusic. Temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah informan dapat membuka diri dengan membagikan  hasil karya, identitas seksual, ide dan gagasan, aktivitas serta sikap yang terbuka dengan orang lain di akun Instagram. Meskipun demikian, ada beberapa informasi pribadi yang ia tidak bagikan seperti pasangan romantis dan juga keluarga.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy