Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Kiwari

Peran Brand Ambassador Arya Saloka dan Amanda Manopo dalam Membangun Brand Awareness Randy Wijaya; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 1 No. 1 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i1.15687

Abstract

This Research is trying to examine the role of brand ambassadors in increasing brand awareness. The researcher took the case study of Arya saloka and Amanda Manopo who became Shopee's Brand ambassadors. Researchers interviewed three informants and one expert of marketing communications. The purpose of this study was to determine the role of Brand ambassadors Arya Saloka and Amanda Manopo in building Brand Awareness. The researcher uses Kotler & Keller marketing communication theory and brand awareness theory with qualitative case study methods which data is taken from interviews, literature study and documentation study. The results that the authors get are that the brand ambassadors is one of factor in building brand awareness. Brand ambassador must have five attributes, namely suitability, transparency, attractiveness, power, and credibility. Brand ambassadors are important because they are a bridge between the community and the company. The three informants have reached the highest level in the brand awareness pyramid, namely the Top of Mind. The three informants know the elements of Shopee and Shopee users.Kajian ini meneliti peran brand ambassador dalam meningkatkan brand awareness. peneliti mengambil studi kasus Arya Saloka dan Amanda Manopo yang menjadi Brand ambassador Shopee. Peneliti mewawancarai tiga informan dan satu narasumber ahli di bidang komunikasi pemasaran. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui peran Brand ambassador Arya Saloka dan Amanda Manopo dalam membangun Brand Awareness. Peneliti menggunakan teori komunikasi pemasaran Kotler&Keller dan teori brand awareness dengan metode kualitatif dengan metode studi kasus yang datanya diambil dari wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumentasi. Hasil yang penulis dapatkan yaitu brand ambassador merupakan salah satu faktor dalam membangun brand awareness. Brand ambassador harus memiliki lima atribut yaitu kesesuaian, transparansi, daya Tarik, power, dan kredibilitas. Brand ambassador menjadi penting karena merupakan jembatan antara masyarakat dan perusahaan. Ketiga informan sudah mencapai tingkat tertinggi dalam piramida kesadaran merek yaitu puncak pemikiran (top of mind). Ketiga informan mengetahui elemen-elemen Shopee dan pengguna Shopee.
Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi Publik Terkait dengan Penanggulangan COVID-19 (Studi Deskriptif Kualitatif pada Akun Instagram @ikpdinaskominfobabel) Sofian Arissaputra; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 1 No. 1 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i1.15780

Abstract

This study aims to provide information and education related to the Covid-19 pandemic in the Bangka Belitung Islands, Pangkalpinang City through Instagram social media, especially on the @ikpdinaskominfobabel account. The information and education provided by the city government on the account is expected to protect Bangka Belitung so that it is free from the Covid-19 virus and there is no increase in cases of transmission. Where was the beginning of the typical Covid-19 began to appear, until it spread throughout the world and then entered Indonesia, especially Bangka Belitung. This research is a qualitative descriptive study. In collecting data, this research uses methods, such as interviews, documentation and literature study. The theory used is the theory of new media, Instagram as social media and public communication. The results of this study indicate that the information and education provided by the Bangka Belitung City Government regarding the prevention of Covid-19 distributed through Instagram with the @ikpdinaskominfobabel account is very useful for the people of Bangka Belitung. In addition, the results of this study provide an utilization of the Covid-19 countermeasures in Bangka Belitung by the government to the public through Instagram social media in overcoming Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi terkait pandemi Covid-19 yang ada di Kepulauan Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang melalui media sosial Instagram khususnya pada akun @ikpdinaskominfobabel. Adanya informasi dan edukasi yang diberikan pemerintah kota pada akun tersebut, diharapkan dapat melindungi Bangka Belitung agar terbebas dari virus Covid-19 dan tidak ada peningkatan dalam kasus penularannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan metode, seperti wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Teori yang digunakan adalah teori new media, instagram sebagai media sosial dan komunikasi publik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa informasi serta edukasi yang diberikan oleh Pemerintah Kota Bangka Belitung terkait penanggulangan Covid-19 yang disebarkan melalui Instagram dengan akun @ikpdinaskominfobabel sangat bermanfaat bagi masyarakat Bangka Belitung. Selain itu hasil dari penelitian ini memberikan sebuah pemanfaatan penanggulangan Covid-19 di Bangka Belitung oleh pemerintah kepada masyarakat melalui media sosial Instagram.
Gaydar: Komunikasi Nonverbal dalam Mengidentifikasi Orientasi Seksual di Kalangan Gay Jocelin Citra Tanjaya; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 1 No. 4 (2022): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v1i4.16027

Abstract

Some gay people choose to walk underground, most of them also appear as heterosexuals to avoid discrimination and rejection from society. It is difficult for gay people to show their true selves, so they use the term gay-dar (gay radar). This study aims to determine the use of nonverbal communication in identifying sexual orientation among gay people. In this study, the author uses relevant theories and concepts, namely the theory of interpersonal communication, verbal, and non-verbal communication. This study uses a qualitative research approach and uses phenomenological research methods. Data was collected using interview and documentation methods. Non-verbal communication that exists in the gaydar phenomenon can also include kinesic messages, facial messages, gestural messages, and postural messages that are different from men in general and look more feminine, gentle, and graceful. In addition, in terms of proxemic messages, gay people prefer to stay away from the public because they realize that they have not been accepted by the wider community. The use of nonverbal communication in the form of artifactual messages, paralinguistic messages, tactile messages, and messages in the form of smells become nonverbal communication messages used in identifying gay sexual orientation.   Sebagian kaum gay memilih berjalan secara underground (sembunyi-sembunyi), kebanyakan dari mereka juga muncul seolah-olah sebagai kaum heteroseksual untuk menghindari diskriminasi dan penolakan dari masyarakat. Sulitnya kaum gay menunjukan diri mereka yang sesungguhnya, sehingga menggunakan istilah gay-dar (gay radar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan komunikasi nonverbal dalam mengidentifikasi orientasi seksual di kalangan gay. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori dan konsep yang relevan, yaitu teori komunikasi interpersonal, komunikasi verbal dan non-verbal. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan menggunakan metode penelitian fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Komunikasi non verbal yang ada pada fenomena gaydar juga dapat meliputi pesan kinesik, pesan fasial, pesan gestural dan pesan postural yang berbeda dengan laki-laki pada umumnya serta lebih terlihat feminim, lemah lembut dan gemulai. Selain itu, secara pesan proksemik, kalangan gay lebih memilih untuk menjauh dari masyarakat umum karena menyadari bahwa mereka belum bisa diterima oleh masyarakat luas. Penggunaan komunikasi nonverbal berupa pesan artifaktual, pesan paralinguistik, pesan sentuhan serta pesan yang berupa bau-bauan menjadi pesan komunikasi nonverbal yang digunakan dalam mengidentifikasi orientasi seksual kaum gay.
Kritik Sosial dalam Lagu (Studi Semiotika Lagu ‘Tiba-Tiba Batu’ Oleh Efek Rumah Kaca) Alfira Dittya Raihan; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 1 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i1.23043

Abstract

Efek Rumah Kaca is one of the bands who often voice their opinions through the songs they compose, ERK represents the title and lyrics, they describe "rock" in the video clip, but the real rock that ERK wants to talk about is not a rock but a form of toughness head during an argumen that is not matched by a definite background of knowledge on social media. By using the semiotic analysis method proposed by Ferdinanad De Saussure using the Parole and Langue concepts, the author determines the final result, namely, that the song "Suddenly Batu" has social criticism in it. The social criticism that is focused on this song is moral criticism, namely criticism that aims to reveal truth values and criticize bad habits in society. Efek Rumah Kaca expresses its criticism through songs and this confirms the function of the song as an outpouring of creativity, emotion, and reality. Therefore, it can be said that social criticism in the song "Suddenly Batu" is an expression of feelings that the poet pours into the lyrics and tone to become a song. Efek Rumah Kaca merupakan salah satu band yang kerap kali menyuarakan pendapat lewat lagu yang dibuat, ERK merepresentasikan judul dan liriknya, mereka menggambarkan “batu” di video klip-nya, namun batu sesungguhnya yang ingin dibicarakan oleh ERK bukan batu benda melainkan bentuk sikap keras kepala pada saat berargumen yang tidak diimbangi dengan latar belakang pengetahuan yang pasti di media sosial. Dengan menggunakan metode analisis semiotika yang dikemukakan oleh Ferdinanad De Saussure menggunakan konsep Parole dan Langue, penulis menenukan hasil akhir yaitu, bahwa lagu “Tiba – Tiba Batu” memiliki kritik sosial di dalamnya. Kritik sosial yang tertuju pada lagu ini adalah kritik moral, yaitu kritik yang bertujuan untuk mengungkapkan nilai – nilai kebenaran dan mengkritik kebiasaan buruk pada masyarakat. Efek Rumah Kaca menuangkan kritiknya melalui lagu dan ini membenarkan akan fungsi dari lagu sebagai bentuk curahan dari kreativitas, emosional, dan realitas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kritik sosial dalam lagu “Tiba – Tiba Batu” adalah sebuah ungkapan perasaan yang dicurahkan oleh penyair ke dalam lirik dan nada hingga menjadi sebuah lagu.
Aktivitas Komunikasi Kelompok Pemuda Wardul dalam Menciptakan Kegiatan Sosial Abdul Rijwan; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.23994

Abstract

Group communication activities among youth hang out at roadside coffee shops, sometimes people have a negative view of gathering activities carried out by young people, hanging out or gathering activities make people feel restless, and make the environment they live in unsafe because they are worried about children. -children hanging out will cause problems such as fights between groups, drinking, drugs, and so on. The purpose of this study is to provide a different view that there are other groups when hanging out they don't do negative things, even this group makes positive social activities for people who can't afford it. The pattern of communication that exists in this group creates several other positive activities when they get together. The results of the study were that the communication activities of children hanging out at the Wardul coffee shop made several positive activities, from chatting at the Wardul coffee shop the group members sparked ideas to carry out several activities including carrying out sports activities, developing talents by playing musical instruments and band together, doing trips to Sukabumi. and take social action for the community. Aktivitas komunikasi kelompok pada Pemuda nongkrong di warung kopi pinggir jalan terkadang masyarakat memiliki pandangan yang negative terhadap aktivitas berkumpul yang dilakukan anak-anak muda, aktivitas nongkrong atau berkumpul membuat masyarakat menjadi resah, dan mebuat lingkuangan yang mereka tempati menjadi tidak aman karena mereka khawatir dengan anak-anak yang nongkrong akan membuat masalah seperti tawuran antar kelompok, mabuk-mabukan, narkoba, dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini ingin memberikan pandangan yang berbeda bahwa ada kelompok lain saat nongkrong tidak melakukan hal-hal negatif bahkan kelompok ini membuat kegiatan sosial positif pada masyarakat yang tidak mampu. Pola komunikasi yang terjalin di kelompok ini menciptakan beberapa kegiatan positif lainnya saat mereka berkumpul. Hasil penelitian adalah aktivitas komunikasi anak nongkrong di warung kopi Wardul membuat beberapa kegiatan positif, dari kegiatan mengobrol di warung kopi Wardul para anggota kelompok mencetuskan ide untuk melakukan beberapa kegiatan diantaranya melakukan aktivitas olahraga, mengembangkan bakat dengan bermain alat musik dan ngeband bareng, melakukan trip sukabumi dan melakukan aksi sosial untuk masyarakat.
Representasi Bullying dalam Film The Emoji Movie Aletheia Imanuel; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.23996

Abstract

The Emoji Movie is a 2017 Sony Pictures animated film directed by Tony Leondis. The purpose of this study is to dissect the representation of bullying in the form of discrimination and intimidation and the search for identity in the main character in The Emoji Movie and to find out the message that The Emoji Movie wants to convey to the audience. This study uses a qualitative approach using Roland Barthes' semiotic analysis technique in which there are elements of verbal bullying that trigger the search for the main character's identity in The Emoji Movie. The results obtained from this research are that in this film the meaning of bullying is constructed, where bullying should have a negative meaning but becomes a positive meaning in this film, as the starting point for triggering the formation of the main character's self-confidence in the search for his identity. But, basically a person's resilience and the meaning of bullying for each individual is different. Other people's opinions on our behavior in society can be positive or negative depending on our response and our meaning. The Emoji Movie merupakan film animasi produksi Sony Pictures tahun 2017 disutradarai oleh Tony Leondis. Tujuan dari penelitian ini untuk membedah representasi bullying dalam bentuk diskriminasi dan intimidasi dan pencarian jati diri pada tokoh utama dalam film The Emoji Movie dan untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan melalui film The Emoji Movie kepada penonton. Penelitian ini menggukan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes yang di dalamnya terdapat unsur-unsur bullying verbal yang menjadi pemicu pencarian jati diri tokoh utama dalam film The Emoji Movie. Hasil dari penelitian ini yaitu film ini mengkonstruksikan makna bullying, dimana bullying yang seharusnya bermakna negatif tetapi menjadi makna positif dalam film ini, sebagai awal mula pemicu terbentuknya kepercayaan diri tokoh utama dalam pencarian jati dirinya. Tetapi pada dasarnya resiliensi seseorang dan pemaknaan bullying untuk setiap individu berbeda-beda. Pendapat orang lain atas perilaku kita di masyarakat dapat menjadi hal yang positif maupun negatif tergantung respon kita dan pemaknaan kita.
Strategi Personal Branding Kreator Konten TikTok dalam Mengembangkan Citra Diri Positif Cynthia Dora Moudy; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24001

Abstract

In this technological era, we are no strangers to social media. One of the most popular social media lately is Tiktok. With the rise of Tiktok, many new Content Creator have appeared and made the competition between creators even fiercer. Therefore, every creator must have good personal branding that can have a good impact on Tiktok followers and users who watch their content. Strong personal branding is very important for a Content Creator because it can affect the application of personal branding strategies in any content or live streaming that creators do on social media. The author uses the theory of mass and persuasive communication, personal branding, social media and Content Creator as well as a qualitative approach using the case study method. The data and information obtained from this research are through in-depth interviews, documentation, and literature studies. The results of research on the personal branding strategy carried out by TikTok Content Creator in carrying out active interactions, as well as implementing personal branding elements that must be owned by a Content Creator are quite effective for viewers and followers in building relationships, increasing trust and developing a positive self-image. Di era teknologi ini, kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak diminati akhir – akhir in ialah Tiktok. Dengan melejitnya Tiktok, banyak kreator konten baru bermuculan dan membuat persaingan antar kreator semakin sengit. Oleh karena itu, setiap kreator harus memiliki personal branding yang baik yang dapat berdampak baik pada pengikut serta pengguna Tiktok yang menonton konten - konten mereka. Personal branding yang kuat sangat penting bagi seorang kreator konten, karena hal tersebut dapat mempengaruhi pengaplikasian strategi personal branding dalam setiap konten atau live streaming yang dilakukan kreator pada media sosial. Penulis menggunakan teori komunikasi massa dan persuasif, personal branding, media sosial dan Kreator Konten serta pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dan informasi yang diperoleh dari penelitian ini adalah dengan melalui wawancara mendalam, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil peneliatian strategi personal branding yang dilakukan oleh Kreator Konten Tiktok dalam melakukan interaksi yang aktif, serta mengimplementasikan elemen personal branding yang harus dimiliki oleh seorang kreator konten cukup efektif terhadap penonton dan pengikutnya dalam membangun hubungan, meningkatkan kepercayaan serta mengembangkan citra diri yang positif.
Interpretasi Personal Branding Ian Hugen dalam Menyuarakan Citra Positif Transgender di Media Sosial Instagram Daniel Dwi Fabian; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24002

Abstract

Humans are social beings who live side by side and depend on one another. Humans live in groups and humans who live in groups in an area are called communities. However, there is a group of people who are not part of society. An example is the LGBT community, the LGBT community often gets treatment from society. The LGBT community is considered to have a negative stigma because it is against religious law. Because of this, the LGBT community often receives treatment in their environment and on social media. However, in the midst of the LGBT community, there is a transgender figure who has good personal branding. That figure was Ian Hugen. Ian Hugen is a public figure who is also a transgender person and Ian Hugen often insults self-love on social media so that he often receives praise from netizens. In this study the authors used the concepts/theories of communication, meaning, transgender, image, and social media. This study used qualitative research methods. The results of this study are informants on the meaning of Ian Hugen's personal branding in positive image deception which is dominated by the position of meaning. This is reinforced by the 8 elements of personal branding fulfilled by Ian Hugen. Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berdampingan dan bergantung satu sama lain. Manusia hidup secara berkelompok dan manusia yang hidup secara berkelompok pada suatu daerah disebut masyarakat. Akan tetapi, ada sekelompok manusia yang tidak menjadi bagian dari masyarakat. Komunitas LGBT kerap kali mendapatkan diskriminasi dari masyarakat. Komunitas LGBT dianggap memiliki stigma yang negatif karena berlawanan dengan hukum agama. Oleh karena itu, komunitas LGBT kerapkali mendapatkan diskriminasi dilingkungannya maupun di media sosial. Namun, ditengah-tengah komunitas LGBT, terdapat sosok transgender yang memiliki personal branding yang baik. Ian Hugen sebagai seorang public figure yang juga transgender dan sering kali menyuarakan tentang self-love di media sosial. Pada penelitian ini penulis menggunakan konsep/teori komunikasi, pemaknaan, transgender, citra, dan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ian Hugen memenuhi delapan elemen personal branding menurut Montoya. Hal tersebut diperkuat dengan pemaknaan informan terhadap personal branding Ian Hugen dalam menyuarakan citra positif transgender melalui media sosial Instagram yang di dominasi dengan posisi pemaknaan Dominan.
Persepsi Perempuan Muda terhadap Komunikasi Nonverbal Artifaktual pada Fenomena Fashion Style Cewek Mamba, Bumi, dan Kue Febriana Agatha; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24009

Abstract

Fashion is an inseparable part of everyday life. Nowadays, fashion is not only how we dress or look but also a medium for communication which can represent human expression and self-image. This research aims to find out young women's perceptions of artifactual non-verbal communication, especially in the phenomenon of fashion style cewek mamba, cewek bumi and cewek kue. The communication theory used is artifactual non-verbal communication which includes fashion. In this study, used a descriptive qualitative research approach with a case study method. Based on the analysis conducted with the informants, it can be concluded that the informants' perceptions related to the phenomenon of fashion style cewek mamba, cewek bumi and cewek kue are different. The informants stated that the phenomenon of fashion style of cewek mamba, cewek bumi and cewek kue does not represent the original personality of the individual but is merely a fashion expression that shows the mood and the heart of the individual. Fashion merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini fashion tidak hanya bagaimana kita berbusana atau berpenampilan saja melainkan menjadi medium untuk berkomunikasi dimana dapat menampilkan ekspresi dan citra diri manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi perempuan muda terhadap komunikasi non-verbal artifaktual khususnya pada fenomena fashion style cewek mamba, cewek bumi dan cewek kue. Teori komunikasi yang digunakan adalah komunikasi non-verbal artifaktual yang didalamnya mencakup fashion. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan para informan dapat disimpulkan bahwa persepsi para informan terkait dengan fenomena fashion style cewek mamba, cewek bumi dan cewek kue berbeda-beda. Para informan menyatakan fenomena fashion style cewek mamba, cewek bumi dan cewek kue tidak mewakili kepribadian asli individu melainkan merupakan ekspresi fashion semata yang menunjukkan mood dan suasana hati pemakai.
Strategi Komunikasi Silang dalam Meningkatkan Kesadaran akan Keberadaan Tuli Flavia Veilieta; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 3 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i3.25890

Abstract

Communication is something that happens every day in the society. But not everyone can communicate well because of their limitations, such as people with deaf disabled. In this study, the author used the word Deaf which begins with a capital letter to emphasize that Deafness is an identity, as people disabled who certainly have Human Rights, the "voice" of Deaf Friends also needs to be heard by society, so that they can carry out activities well and feel the equality of their fellow human beings. This study aims to determine activities in increasing public knowledge of Deaf culture through cross-communication strategies. The results show a variety of strategies used in increasing public awareness. They use the app as the primary medium to be the bridge from deaf and normal people listen in many ways. With the Sign Language Interpreter (JBI) service available on the Silang application, it makes it easier for inclusive companies to get access. The authors suggest that subsequent studies use more diverse samples and different research methods. Komunikasi adalah suatu hal yang terjadi setiap hari di tengah masyarakat. Namun tidak semua orang dapat berkomunikasi dengan baik karena keterbatasannya, seperti para penyandang difabel Tuli. Pada penelitian ini penulis menggunakan kata Tuli yang diawali huruf kapital untuk menekankan bahwa Tuli adalah sebuah indentitas, sebagai kaum difabel yang tentu memiliki Hak Asasi Manusia, "suara" Teman Tuli juga perlu terdengar oleh masyarakat, sehingga mereka dapat menjalani aktivitas dengan baik dan merasakan kesetaraan sesama manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dalam meningkatkan pengetahuan publik akan budaya Tuli melalui strategi komunikasi Silang. Hasil menunjukkan beragam strategi yang digunakan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Mereka menggunakan aplikasi sebagai media utama untuk menjembatani orang Tuli dan dengar dalam berbagai hal. Dengan adanya layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang tersedia pada aplikasi, memudahkan perusahaan-perusahaan bersifat inklusif untuk mendapat akses. Penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan sampel yang lebih beragam dan metode penelitian yang berbeda.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy