Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Amelioration of Salt Tolerance in Soybean (Glycine Max. L) by Plant-Growth Promoting Endophytic Bacteria Produce 1-Aminocyclopropane-1-Carboxylase Deaminase Simarmata, Rumella; Ngadiman, Ngadiman; Rohman, Saifur; Simanjuntak, Partomuan
ANNALES BOGORIENSES Vol 22, No 2 (2018): Annales Bogorienses
Publisher : Research Center for Biotechnology - Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/ann.bogor.2018.v22.n2.81-93

Abstract

     Salinity is a major abiotic stress that can induce ethylene synthesis beyond the normal limits as plants response to stress and hence reduces crop productivity. The 1-aminocyclopropane-1-carboxylase deaminase (ACCD)-producing bacteria can reduce excessive ethylene synthesis by taking ACC (ethylene precursor) as a nitrogen source. This study showed the possibility of using endophytic bacteria in order to reduce the undesirable effects of salinity. Strain Pseudomonas putida PIR3C and Roultella terrigena PCM8 exhibited promising performance for promoting the growth of plant under salinity stress conditions. The results showed that bacterial inoculation was effective even in the presence of higher salinity levels. Strain P. putida PIR3C was the most efficient strain compared to the other strains and significantly increased shoot length, root length, dry weight, germination percentage, and reduced stem diameter. The role of ACCD in reducing ethylene production under salinity stress conditions was also studied by measuring the evolution of ethylene in vitro by soybean seeds treated with some ACCD bacterial strain. The maximum ethylene lowering capacity was observed in R. terrigena PCM8, the strain reduced ethylene production from 622.81 nmol.g-1(control) to 352.78 nmol.g-1 (43% reduction). The production of α-ketobutyrate, chlorophyll content and germination percentage from P. putida PIR3C was higher than other strains. The results suggested that strain P. putida PIR3C and R. terrigena PCM8 can be employed for salinity tolerance in soybean seedlings and may have better prospects for an amelioration of stress condition.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KAPANG ENDOFIT Cb.Gm.B3 ASAL RANTING KAYU MANIS (Cinnamomum burmanni) Rachman, Fauzy; Mubarik, Nisa Rachmania; Simanjuntak, Partomuan
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 5, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9174.357 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i2.3052

Abstract

Antioxidant Activity of Endophytic Fungi Cb.Gm.B3 Extract from Cinnamon (Cinnamomum burmanni) TwigsABSTRACTThere are many degenerative diseases that are caused by a free radical effect. Cinnamon (Cinnamomum burmanni) contains cinnamaldehyde compounds that have activity as a powerful antioxidant and fight free radicals. Endophytic fungi can be found in cinnamon plants living symbiotically. Endophytic fungi produce a variety of bioactive metabolites including antioxidants. This research was conducted to isolate endophytic fungi from C. burmanni plant which is active as antioxidant. Endophytic fungi isolation was carried out using surface sterilization method and cultivated in PDA media. Antioxidant activity test was performed using free radical 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) method. Selected isolates were then identified molecularly to determine their species. A total of nine fungi were isolated from cinnamon twigs. The result showed that the highest antioxidant activity was obtained from Cb.Gm.B3 with IC50 of 13.219 ± 0.755 µg/mL. The selected isolate Cb.Gm.B3 taxonomically has a high similarity with Neofusicoccum parvum isolate PEL23 (Accession no: KY053054.1).Keywords: antioxidant, Cinnamomum burmanni, 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl, endophytic fungi, Neofusicoccum parvum ABSTRAKKayu manis (Cinnamomum burmanni) mengandung senyawa sinamaldehid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan kuat dan dapat menangkal radikal bebas. Dalam tanaman kayu manis terdapat kapang endofit yang hidup bersimbiosis. Kapang endofit dapat menghasilkan berbagai senyawa metabolit bioaktif termasuk antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi kapang endofit dari tanaman C. burmanni yang aktif sebagai antioksidan. Isolasi kapang endofit dilakukan menggunakan metode sterilisasi permukaan dan ditanam pada media PDA. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan reagen 2.2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Isolat terpilih diidentifikasi secara molekuler untuk menentukan spesiesnya. Sebanyak 9 isolat kapang berhasil diisolasi dari jaringan ranting tanaman kayu manis. Aktivitas antioksidan tertinggi (IC50) didapatkan dari isolat Cb.Gm.B3 sebesar 13,219 ± 0,755 µg/mL. Isolat terpilih Cb.Gm.B3 secara taksonomi memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan Neofusicoccum parvum isolat PEL23 (No. aksesi: KY053054.1).Kata Kunci: antioksidan, Cinnamomum burmanni, 2.2-difenil-1-pikrilhidrazil, kapang endofit, Neofusicoccum parvum
AKTIVITAS SITOTOKSIK SENYAWA GOLONGAN FENOLIK DARI EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) Malik, Abdul; Marpaung, Lamek; Simanjuntak, Partomuan; Nasution, Pandapotan
FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 7, No 2 (2017): Vol.7, No.2, Desember 2017
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.997 KB)

Abstract

Senyawa golongan fenolik adalah senyawa aktif dari tanaman sirih yang berpotensi digunakan sebagai bahan obat alami. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas sitotoksik senyawa golongan fenolik dari daun sirih (Piper betle  L.). Aktivitas sitotoksik diuji dengan mengukur nilai LC50 menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut metanol 96%. Data yang diperoleh dianalisis dengan Probit Analysis. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa golongan fenolik dari ekstrak metanol daun sirih memiliki aktifitas sitotoksik yang dengan nilai LC50 = 3,92 ppm dengan standart error 0,42 ppm. Kata kunci: Senyawa fenolik, sirih, Piper betle, sitotoksik
TOKSISITAS, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI EKSTRAK AIR KULIT KAYU MASSOI (Cryptocarpa massoy (Lauraceae)) Lohita Sari, Bina; Rurianti, Wandesta; Simanjuntak, Partomuan
FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 4, No 1 (2014): FITOFARMAKA
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.548 KB)

Abstract

Massoi (Cryptocarya massoy) merupakan tanaman yang digunakan masyarakat Papua sebagai obat tradisional. Kulit batang tanaman ini memperlihatkan beberapa aktivitas biologis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas, aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak air kulit batang Massoi (EAKM). Uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), aktivitas antioksidan diuji dengan metode Peredaman Radikal Bebas menggunakan DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl), dan uji antibakteri menggunakan metode cakram difus terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penapisan fitokimia menunjukkan adanya steroid, flavonoid, saponin, tannin, kumarin dan minyak atsiri. Hasil LC50 sebesar 493,00 µg/mL menunjukkan bahwa EAKM adalah toksik. Nilai IC50 sebesar 14,06 µg/mL (vitamin C sebagai control positif 7,78 µg/mL) menunjukkan potensi EAKM sebagai antioksidan. Sementara EAKM tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureusdan E. coli. Kromatografi kolom menggunakan silika gel dengan fasa gerak kloroform:metanol (1:1) dan kloroform:metanol:air (5:5:1) pada EAKM menghasilkan empat fraksi. Semua fraksi diidentifikasi dengan KCKT menggunakan fasa gerak metanol : air (1:1). Profil KCKT keempat fraksi menunjukkan profil kromatogram yang hampir sama, yaitu pada waktu menit ke 10,0. Kata kunci :Toksisitas, antioksidan, antibakteri, Cryptocarya massoy
AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK BEBERAPA BAGIAN TANAMAN KUNYIT (Curcuma longa) Septiana, Eris; Simanjuntak, Partomuan
FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 5, No 1 (2015): FITOFARMAKA
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.447 KB)

Abstract

Kunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman obat tradisional yang biasa digunakan sebagai bumbu masakan dan sebagai bahan obat meliputi antimikroba, antioksidan,antitumor, dan anti inflamasi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui aktivitas antimikroba dan antioksidan dari beberapa organ tanaman kunyit meliputi akar, rimpang, batang, dan daun. Semua bagian diekstraksi dengan etanol dan etil asetat. Seluruh ekstrak etanol dan etil asetat diuji aktivitas antimikrobanya menggunakan metode difusi cakram kertas terhadap Escherichia coli,Staphylococcus aureus, dan Candida albicans. Kloramfenikol dan nistatin masing-masing digunakan sebagai kontrol positif untuk uji antibakteri dan antijamur, sedangkan masing-masing pelarut untuk ekstraksi juga digunakan sebagai kontrol negatif. Aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode 1,1-difenil-2pikril hidrazil (DPPH) dan asam askorbat digunakan sebagai standar. Hasil aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dari daun dan batang memiliki aktivitas penghambatan tertinggi terhadap S. aureus, ekstrak etil asetat dari akar dan batang memiliki aktivitas penghambatan tertinggi terhadap E. coli, dan ekstrak etil asetat dari daun memilikiaktivitas penghambatan tertinggi terhadap C. albicans. Ekstrak etil asetat dari rimpangmemiliki aktivitas antioksidan tertinggi diantara ekstrak lainnya.
PENGHAMBATAN AKTIVITAS ENZIM α-GLUKOSIDASE DARI EKSTRAK AIR TANAMAN RARU (Vatica pauciflora) SECARA IN VITRO septiana, eris; winarti, wiwi; simanjuntak, partomuan
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.706 KB) | DOI: 10.22236/farmasains.v4i1.96

Abstract

Diabetes mellitus is a metabolic disorder that leading the blood sugar levels become higher than normal. In Indonesia, one of the plants that traditionally used to cure hyperglycemic is raru plant (Vatica pauciflora). The objectives of this research was to investigate α-glucosidase inhibitory activity from stem bark, root, and leaf of raru plant. Extraction of stem bark, root, and leaf was conducted with reflux at 70 °C by using water as a solvent. In vitro anti-diabetic activity was tested using the method of α-glucosidase inhibition. The results show that water extracts of raru’s stem bark, root, and leaf have α-glucosidase inhibitory activity. The stem bark water extract has the highest activity than leaf and root with IC50 values were 13.53, 16.96, and 41.91 ppm respectively. All extracts is categorized as active in inhibiting the activity of α-glucosidase enzyme by having IC50≤100 ppm. The results obtain in this research clearly indicate a promising potential as anti-diabetic properties of raru plant.
PENGARUH METODA EKSTRAKSI SIMPLISIA MULTI HERBAL DAN MULTI EKSTRAK DAUN SUKUN, SELEDRI DAN DAUN SALAM TERHADAP AKTIVITAS ANTIKOLESTEROL SECARA IN-VITRO Putra, Ari Permana; Simanjuntak, Partomuan; Suwarno, Tisno
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTCholesterol is one component of fat that is useful for the formation of steroid hormones and the formation of walls of cells in the body Excess cholesterol can also cause various diseases, especially cardiovascular diseases (heart and blood vessels). Hyperlipidemia is a condition of increasing blood fat levels which is characterized by increased levels of total cholesterol, Low Density Lipoprotein (LDL), and triglycerides in the blood that exceed normal limits. This study was conducted to determine the effect of differences in extract methods and activity potential of multiherbal extract and breadfruit leaf extract (Artocarpus altilis), celery leaves (Apium graveolens L) and bay leaves (Syzygium polyanthum (Wight) Walp) as anti-cholesterol in vitro using water solvent and ethanol 70% solvent. The method used for this research is the Lieberman-Burchad method. The multiherbal and multi-extract extract test results are indicated by the IC50 test value. The results of the anticolesterol activity test of multiherbal extract and breadfruit leaf extract, celery and bay leaf obtained IC50 values of multiherbal ethanol extract of 187.7 μg / mL, and IC50 values of multi-ethanol extract with IC50 values 448.3 μg / mL. Based on the results of these measurements it can be concluded that the best multiherbal ethanol extract in reducing cholesterol activity. Keywords: Anticholesterol, Breadfruit Artocarpus altilis leaves; Celery leaves Apium graveolens L and bay leaves (Syzygium polyanthum (Wight) Walp), Multiherbal, Multi-extract. ABSTRAKKolesterol merupakan salah satu komponen lemak yang bermanfaat untuk pembentukan hormon steroid dan pembentukan dinding sel – sel dalam tubuh. Kelebihan kolesterol juga dapat menyebabkan berbagai penyakit terutama penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah). Hiperlipidemia merupakan suatu keadaan meningkatnya kadar lemak darah yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total, Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida dalam darah yang melebihi batas normal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari faktor perbedaan metoda ekstraksi dan potensi aktivitas dari ekstrak multiherbal dan multiekstrak daun sukun (Artocarpus altilis), daun seledri (Apium graveolens L) dan daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp) sebagai antikolesterol secara in vitro menggunakan pelarut air dan pelarut etanol 70 %. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode Lieberman-Burchad. Hasil uji ekstrak multiherbal dan multiekstrak ditunjukkan dengan nilai pengujian IC50. Hasil dari uji aktivitas antikolesterol ekstrak multiherbal dan multiekstrak daun sukun, seledri dan daun salam didapatkan nilai IC50 ekstrak etanol multiherbal sebesar 187,7 μg/mL, dan nilai IC50 multiekstrak etanol dengan nilai IC50 448,3 μg/mL. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak multiherbal etanol terbaik dalam menurunkan aktivitas kolesterol. Kata Kunci: Antikolesterol, Daun sukun Artocarpus altilis; Daun seledri Apium graveolens L dan Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp), Multiherbal, Multiekstrak.
ji Bioaktivitas Senyawa Glikosida dari Biji Keben (Barringtonia asiatica L. Kurz) Bustanussalam, Bustanussalam; Simanjuntak, Partomuan
Jurnal Natur Indonesia Vol 12, No 1 (2009)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.273 KB) | DOI: 10.31258/jnat.12.1.9-14

Abstract

The fruits or seeds of Keben (Barringtonia asiatica L. Kurz) were used traditionally for fish poisons, to curvestomach and headeach. The aim of this research was to isolate and identify bioactive compound of n-butanolfraction of active compound against Artemia salina Leach larvae. Isolation and purification of n-butanol fractionwere carried out by column chomatography (SiO2, CHCl3-MeOH) and high pressure liquid chromatography (RP,MeOH). The result of purification was than tested using BSLT methode. The test showed that, BABU-2.4 had thehighest activity with LC 50 value was 30.19 ppm. BABU-2.4 was identified with FT-IR spectrophotometer and NMR(proton and carbon) spectrophotometer as derivate of glicoside.
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Air Tanaman Sarang Semut (Myrmecodia pendans) Terhadap Histologi Organ Hati Mencit Soeksmanto, Arif; Simanjuntak, Partomuan; Subroto, Muhammad Ahkam
Jurnal Natur Indonesia Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.325 KB) | DOI: 10.31258/jnat.12.2.152-155

Abstract

erbal products in powder or capsule forms made of sarang semut plant have been widely distributed in market.This plant is believed to treat several diseases, such as cancer, gout, liver, stroke, heart, hemorrhoid, back pain,allergy, and as tonicum to increase sexual desire. Information on the plants was still limited on plant distribution,ecology, ethnobotany, and taxonomy, without research on toxicity and clinical aspect. Considering that sarangsemut products has been distributed at market and limited scientific publication of the plant, hence acute toxicitytest of sarang semut extract should be conducted. The results showed that dose of 375 mg/kg bw caused liverdegeneration on day-5 and normal on day-19. Whereas dose of 3750 mg/kg bw caused cell necrosis up to day-12,degeneration still apparent on day-26.
PEMBUATAN DAN EVALUASI PARFUM PADAT DARI MINYAK ATSIRI VANILLA (Vanilla planifola), MELATI (Jasminum sambac (L.) Ait, JERUK MANIS (Citrus sinensis (L.) Osbeck) DALAM KEMASAN BROS Hardiyati, Iin; Simanjuntak, Partomuan; Suwarno, Tisno
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTEssential oils of vanilla (Vanilla plafonia), Melati (Jasminum sambac (L) Ait, Jeruk Manis (Citrus sinensis (L) Osbeck), used as the main material in the formuulation and evaluation of solid perfumes, which are then packaged in brooches. It is formulated into solid perfume preparations, essential oils used with a concentration of 20%, formulated using carrageenan as a base preparation with a concentration of 2.5%, then dispersed with distilled water compared with 1:30, and base of stearic acid wax concentration of 2%, cetil alcohol as stiffening concentration agent 1 %, propylene glycol as humectant concentration of 15%, then melted both using a 1% triethanolamine emulsion concentration with ABS (Acrylonitrile butadiene styrene) as a 1% surfactant and added nipagin preservative concentration of 0.2%, 0.05% nipasol as preservative and patchouli essential oil concentration of 2% as a fixative so that the aroma of solid perfume can be stronger.  Essential oils can be made solid perfume, solid perfume preparations are then packaged and evaluated with product comparison in the market through hedonic test preparation, sensory test, and stability test, and the evaluation results of hedonic test fragrance of jeruk manis essential oil is very preferred with a percentage of 28.3%, and the sensory test of jasmine essential oil has a very strong fragrance with percentage of 31.6%. The solid perfume after formulation has perfume resistance up to 12 days, with the test results losing the smallest weight on the preparation with jeruk manis fragrance at 40C with a percentage of 16.92%, at a temperature of 250C with a percentage of 36.16% and at a temperature of 400C with a percentage of 53.19%, and in solid perfume packaging, the percentage is 33.3% Keywords : Solid Perfume, Brooch Packaging, Solid Perfume Packaging, Vanilla Essential Oil, Perfume Packaging Variant  ABSTRAK Minyak atsiri vanilla (Vanilla plafonia), Melati (Jasminum sambac (L) Ait, Jeruk Manis (Citrus sinensis (L)Osbeck), digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan dan evaluasi parfum padat, yang kemudian dikemas dalam bros. Minyak atsiri tersebut diformulasikan menjadi sediaan parfum padat, minyak atsiri yang digunakan dengan konsentrasi 20%, diformulasikan menggunakan  karagenan sebagai basis sediaan dengan konsentrasi 2.5%, kemudian didispersikan dengan aquades berbandingan 1:30, dan  basis lilin asam stearat konsentrasi 2%,  cetil alkohol sebagai stiffening agen konsentrasi 1%, propilen glikol sebagai humektan konsentrasi 15%, kemudian dilebur keduanya menggunakan emulgaator triethanolamin konsentrasi 1% dengan ABS (Acrylonitrile butadiene styrene) sebagai surfaktan konsentrasi 1% dan ditambahkan pengawet nipagin konsentrasi 0.2% nipasol 0.05% sebagai pengawet serta minyak atsiri nilam konsentrasi 2% sebagai fixative agar aroma parfum padat bisa lebih kuat. Dari minyak atsiri tesebut dapat dibuat parfum padat, sediaan parfum padat kemudian dikemas dan di evaluasi. dengan pembanding produk dipasaran melalui uji hedonik sediaan, uji sensori, serta uji stabilitas., dan hasil evaluasi sediaan uji hedonik wangi minyak atsiri jeruk manis amat sangat disukai dengan persentase 28,3%, dan pada uji sensori minyak atsiri melati memiliki wangi sangat kuat dengan persentasi 31,6%. Parfum padat setelah diformulasikan memiliki ketahanan wangi parfum hingga 12 hari, dengan  hasil uji kehilangan berat yang paling kecil pada sediaan dengan wangi jeruk manis di suhu 4◦C dengan persentasi 16,92%, pada suhu 25◦C dengan persentasi 36,16% dan pada suhu 40◦C dengan persentasi 53,19%, dan pada kemasan parfum padat bros di sukai persentasi 33,3%Kata kunci : Parfum Padat, Kemasan Bros, Kemasan Parfum Padat, Minyak Atsiri Vanilla, Minyak Atsiri Melati, Minyak Atsiri Jeruk Manis, Varian Parfum