Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Effect of Papaya Seeds (Carica papaya) and Gandarusa Leaves (Justicia gendarussa) on the Spermatozoa Quality of Male Mice Jangga Jangga; Abdul Wahid Suleman; Saparuddin Latu; Sri Wulan Rini
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v9i1.69885

Abstract

Papaya seeds (Carica papaya L.) and gandarusa leaves (Justicia gendarussa Burm.f.) are considered medicinal plants that can be used as natural male contraceptives. Papaya seeds contain alkaloids, triterpenoids, saponins, and papain. Meanwhile, the gandarusa leaves contain flavonoids. These compounds have the function of antifertility for men. The purpose of this study was to determine the effect of papaya seeds (Carica papaya L.) ethanol extracts, gandarusa leaves (Justicia gendarussa Burm.f.), and its combination on motility, viability, and morphology of male mice spermatozoa (Mus musculus) most effective decrease concentration on motility, viability, and morphology of male mice spermatozoa (Mus musculus). This research was an experimental study. The samples of this study were 18 male mice with a body weight of 20-30 grams, aged 3-5 months, and were divided into six groups. The treatments given were control, papaya seed ethanol extract, gandarusa leaves ethanol extract, and its combinations to concentrations of P1 Na CMC1%, P2 (papaya seed 100mg/kgW), P3 (gandarusa leaf 50mg/kgW), P4 (papaya seed : gandarusa leaf 50:50 mg/kgW), P5 (papaya seed : gandarusa leaf  50:100 mg/ kgW), P6 (papaya seed : gandarusa leaf 100:50 mg/kgW). The extract was given for 35 days. On the 36th day, the mice were dissected to take their epididymis to observe the spermatozoa's quality (motility, viability, morphology). Those observations used a light microscope. Data were analyzed using one-way ANOVA and LSD post hoc tests. This study resulted differences in P1, P2, P3, P4, P5, and P6 towards motility, viability, and morphology of spermatozoa (p< 0.05). The conclusion of this study showed that both single and combination ethanol extracts of papaya seeds and gandarusa leaves could reduce the motility, viability, and morphology of spermatozoa of male mice, and the effective dosage in reducing motility, viability, and morphology of spermatozoa is P3 gandarusa leaves 50mg/kgW.
Uji Aktivitas Formula Sediaan Masker Gel Peel Off Ekstrak Etanol Buah Patikala (Etlingera eatior (Jack) R.M Smith) terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Jerawat Abdul Wahid Suleman; Saparuddin latu; Andi Muh Yagkin Padjalangi; Jangga Jangga
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 5, No 1 (2024): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v5i1.14011

Abstract

Buah Patikala memiliki senyawa flavonoid digunakan untuk menghambat mikroba. Tujuan penelitian untukmmengetahui ekstrak buahjpatikala dapat diformulasikan dalam masker peel off  yang secara fisika dan kimia serta untuk mengetahui seberapa  besar konsentrasi dari ekstrak buah patikala yang dapat menghambat bakteri penyebab jerawat. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental meliputi evaluasi masker peel off secara fisik dan kimia serta pengujian aktivitas formula masker gel peel off ekstrak etanol buah patikala terhadap zona hambat pada bakteri penyebab jerawat yang terbagi mejadi 5 kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah patikala dapat diformulasikan serta stabil dalam bentuk sediaan masker gel peel off dan memiliki aktivitas antibakteri. Konsentrasi pada formula III merupakan konsentrasi yang memiliki aktivitas antibakteri paling optimal terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan luas zona hambat 9,91±0,18 mm. Konsentrasi pada formula III merupakan konsentrasi yang memiliki aktivitas antibakteri paling optimal terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dengan luas zona hambat 9,25±0,27mm.
POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS ANTANG Muthmainnah; Jangga; Mochamad Noer Alim Qalby; Andi Juaella
Jurnal Kesehatan Yamasi Makassar Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Kesehatan
Publisher : Akademi Farmasi Yamasi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59060/37mt2w74

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang kerap terjadi bersamaan. Penanganan kedua penyakit tersebut umumnya memerlukan lebih dari satu jenis obat secara bersamaan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat yang dapat memengaruhi efektivitas dan keamanan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di Puskesmas Antang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional secara retrospektif menggunakan data rekam medis periode April-Juni 2025. Sampel diperoleh melalui teknik total sampling sebanyak 56 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan Drugs.com dan Medscape. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang paling banyak ditemukan berjenis kelamin perempuan sebanyak 35 pasien (62,50%) dan kelompok usia terbanyak ditemukan pada rentang 56-65 tahun sebanyak 28 pasien (50,00%). Sebanyak 51 pasien (91,07%) teridentifikasi memiliki potensi interaksi obat. Tingkat keparahan terbanyak berada pada kategori moderat sebanyak 63 kasus (73,26%), diikuti mayor 22 kasus (25,58%), dan minor 1 kasus (1,16%). Mekanisme interaksi obat yang paling banyak ditemukan adalah farmakodinamik sebanyak 55 kasus (63,95%), diikuti farmakokinetik 23 kasus (26,74%), dan mekanisme yang belum diketahui 8 kasus (9,30%). Kombinasi obat yang paling banyak berpotensi menimbulkan interaksi adalah metformin dan amlodipin dengan tingkat keparahan moderat melalui mekanisme farmakodinamik sebanyak 48 kasus (55,81%), diikuti amlodipin dan simvastatin dengan tingkat keparahan mayor melalui mekanisme farmakokinetik sebanyak 22 kasus (25,58%). Kesimpulan penelitian ini, sebagian besar pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di Puskesmas Antang memiliki potensi interaksi obat dengan tingkat keparahan moderat dan mekanisme farmakodinamik.