Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Ketahanan Sistemik Terinduksi pada Tanaman Padi dengan Ekstrak Tumbuhan terhadap Nematoda Bengkak Akar (Meloidogyne graminicola Golden and Birchfiels) Toto Sunarto; Tarkus Suganda; Martua Suhunan Sianipar; Aep Wawan Irawan
Agrikultura Vol 30, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.37 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i1.22700

Abstract

ABSTRACTInduced systemic resistance in rice plant with plant extract to rice root-knot nematode (Meloidogyne graminicola Golden and Birchfiels)Rice is one of important crop that constantly infected by various pathogens. Root-knot nematodes (Meloidogyne graminicola) can decrease rice productivity in Southeast Asia. These nematodes have been reported in Indonesia. Currently nematode control is focused on biological control, application of organic and inorganic materials, natural nematicide, and induction of resistance. The study was conducted in the greenhouse Department of Plant Pest and Disease, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The purpose of this study was to obtain an effective type of plant extract as an inducer of rice plant resistance to M. graminicola. The experiment used experimental method with Randomized Block Design consisting of 6 treatments and 4 replications. The treatment consists of application of plant leaf extract: kirinyuh (Chromolaena odorata), beluntas (Plucea indica), water hyacinth (Eichornia crassipes), spinach thorn (Amaranthus spinosus), control (without plant extract), and carbofuran. The experimental results showed that the extract of beluntas (P. indica) and spinach thorn (A. spinosus) can decrease the amount of gall on the roots of rice plants, and can suppress the amount of juvenile II M. graminicola in 100 ml of soil.Keywords: Induced systemic resistance, Meloidogyne graminicola, Plant extract, RiceABSTRAKTanaman padi merupakan tanaman serealia penting di dunia. Patogen tanaman seperti jamur, bakteri, virus, dan nematoda merupakan faktor pembatas pada budidaya tanaman padi. Nematodabengkak akar (Meloidogyne graminicola) dapat menurunkan produktivitas padi di Asia Tenggara, dan nematoda ini telah dilaporkan terdapat di Indonesia. Pengendalian nematoda parasit tanaman sangat sulit, umumnya menggunakan nematisida kimia yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Saat ini pengendalian nematoda difokuskan pada pengendalian secara biologi, aplikasi bahan organik dan inorganik, nematisida alami, dan induksi resistensi. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh jenis ekstrak tumbuhan yang efektif sebagai bahan penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap M. graminicola. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol (tanpa ekstrak tumbuhan), aplikasi ekstrak daun tumbuhan kirinyuh, beluntas, eceng gondok, bayam duri, dan karbofuran. fek ekstrak tumbuhan sebagai bahan penginduksi tanaman diuji terhadap jumlah gall pada akar, jumlah juvenile tingkat kedua (J2) M. graminicola dalam tanah, berat basah bagian atas tanaman, berat basah akar, dan tinggi tanaman padi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun tanaman bayam duri dan beluntas dengan metode seed treatment (perendaman benih padi) dan soil drench (penyiraman pada tanah sekitar tanaman padi) dapat menurunkan jumlah gall pada akar padi dan tanaman padi resisten terhadap M. graminicola. Ekstrak daun bayam duri dan beluntas dapat menekan jumlah J2 M. graminicola dalam tanah dan meningkatkan berat basah akar dan tinggi tanaman padi.Kata Kunci: Ekstrak tumbuhan, Ketahanan sistemik terinduksi, Meloidogyne graminicola, Padi
Curvularia sp. Jamur Patogen Baru Penyebab Penyakit Bercak Daun pada Tanaman Sawi Tarkus Suganda; Dinda Y Wulandari
Agrikultura Vol 29, No 3 (2018): Desember, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.516 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i3.22716

Abstract

ABSTRACTCurvularia sp. a new fungal pathogen causing leaf spot on the leaf of mustard greenA new diseases symptom as small spots of 1.5 - 1 mm diameter has been found on mustard green's leaf of farmer's field at Tanjungsari Regency of Sumedang. This symptom is different from those previously known incited by Alternaria brassicae and A. brassicola, Pseudocercosporella capsellae as well as by Myscosphaerella brassicicola. Although the spots are small, they are abundant and accompanied with yellowing, making these symptoms detrimental to mustard green production which has to be green and healthy. A Koch Postulate has been performed and successfully identified that the fungal causal agent was of the genera of Curvularia. Previously, curvularia leaf spot disease has never been reported on mustard green in Indonesia.Keywords: Curvularia, Leaf spots, Mustard green, Brassica junceaABSTRAKGejala penyakit baru, berupa bercak hitam berukuran diameter 0,5 - 1 mm ditemukan pada daun tanaman sawi milik petani di daerah Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Gejala demikian berbeda dengan gejala-gejala penyakit bercak yang selama ini dikenal disebabkan oleh Alternaria brassicae dan A. brassicola, Pseudocercosporella capsellae dan Myscosphaerella brassicicola. Walaupun gejalanya berukuran kecil, namun karena jumlahnya banyak dan menyebabkan daun menguning, menjadikan gejala penyakit ini merugikan tanaman sawi yang harus hijau dan sehat. Uji Postulat Koch telah dilaksanakan, dan berhasil mengidentifikasi bahwa berdasarkan morfologi mikroskopiknya, jamur tersebut adalah dari genus Curvularia. Penyakit bercak daun curvularia, sebelumnya, belum pernah dilaporkan terdapat pada tanaman sawi di Indonesia.Kata Kunci: Curvularia, Bercak daun, Sawi, Brassica juncea
Uji In-Vitro Kemampuan Ekstrak Metanol Bunga dan Daun Tanaman Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae Tarkus Suganda; Indah Nita Chrysilla Simarmata; Yadi Supriyadi; Endah Yulia
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24031

Abstract

Penyakit moler (Fusarium oxysporum f.sp. cepae, Foc) merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman bawang merah. Jamur Foc merupakan patogen tular tanah sehingga sulit untuk dikendalikan. Pengendalian menggunakan fungisida sintetik pada tanah tidak dianjurkan untuk dilakukan karena dapat meninggalkan residu yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia serta dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan adalah penggunaan fungisida nabati. Kembang telang merupakan tanaman potensial untuk digunakan karena memiliki kandungan senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak metanol bunga dan daun tanaman kembang telang dalam menekan pertumbuhan Foc secara in vitro. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengujian ekstrak metanol bunga dan daun terhadap pertumbuhan koloni, produksi konidia dan perkecambahan konidia jamur. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak metanol bunga memberikan penekanan tertinggi pada konsentrasi 1,8% (35,11%), sedangkan ekstrak metanol daun pada konsentrasi 2,4% (47,11%). Semua konsentrasi ekstrak metanol bunga dan daun tanaman kembang telang menekan produksi konidia jamur Foc. Tidak ada perlakuan ekstrak metanol, baik bunga maupun daun yang dapat menghambat perkecambahan konidia jamur Foc.
Preferensi dan Waktu Aktif Harian Kunjungan Burung Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) terhadap Fase Pertumbuhan Padi (IR-36) di Lahan Sawah Jatinangor Ichsan Nurul Bari; Ai Siti Santriyani; Wawan Kurniawan; Reginawanti Hindersah; Tarkus Suganda; Vira Kusuma Dewi
Agrikultura Vol 32, No 1 (2021): April, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i1.31450

Abstract

Burung bondol jawa (Lonchura leucogastroides) merupakan salah satu hama pada tanaman padi ketika memasuki fase generatif. Petani seringkali menjaga sawah selama sehari penuh untuk mengendalikan hama burung. Cara tersebut kurang efektif karena banyak waktu petani yang terbuang hanya untuk mengendalikan burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan padi yang disukai bondol jawa dan mengetahui kelimpahan kunjungan tertinggi burung bondol jawa di sawah. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga bulan Mei 2020 bertempat di lahan sawah milik petani di Desa Cileles, Jatinangor dan Laboratorium Vertebrata, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metode uji kelimpahan kunjungan tertinggi dilakukan dengan menghitung jumlah burung yang berkunjung pada lahan penelitian. Sementara itu, metode uji preferensi pada bondol jawa dilakukan dengan membandingkan bagaimana cara makan bondol jawa ketika diberi pakan padi yang matang susu dan padi yang sudah matang penuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bondol jawa menyerang sepanjang pengamatan, yaitu 11 MST-14 MST. Tingkat kematangan padi yang disukai bondol jawa adalah saat matang susu. Kelimpahan bondol jawa mengunjungi sawah adalah saat sore hari, yaitu mulai dari jam 14.00 hingga jam 17.00. Hal ini menunjukkan bahwa masa tersebut dapat digunakan petani untuk mengendalikan hama burung di sawah.
Uji In Vitro Keefektifan Ekstrak Air Daun Dan Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea l.) terhadap Jamur Alternaria solani Penyebab Penyakit Bercak Coklat pada Tanaman Tomat Tarkus Suganda; Pini Komalasari; Endah Yulia; Wahyu Daradjat Natawigena
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28909

Abstract

Penyakit bercak coklat (Alternaria solani) merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan pada tanaman tomat. Umumnya penyakit ini dikendalikan dengan penggunaan fungisida sintetik, tetapi selain menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan, patogen ini juga mampu berubah menjadi tidak sensitif lagi terhadap bahan aktif fungisida sintetik yang digunakan.  Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak tumbuhan dapat menekan berbagai patogen. Tanaman kembang telang diketahui memiliki sifat antimikroba terhadap berbagai mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak air daun dan bunga kembang telang dalam menekan A. solani secara in vitro. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas empat konsentrasi ekstrak daun (0, 3, 6, dan 9%) dan empat konsentrasi ekstrak bunga (0, 5, 10, 15%) yang diperoleh berdasarkan uji LC50 pendahuluan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak air daun maupun bunga memperlihatkan penekanan terhadap pertumbuhan koloni jamur A. solani.  Penekanan tertinggi ekstrak air daun maupun bunga masing-masing pada konsentrasi 9% (34,78%) dan 15% (38,97%). Ekstrak air daun mampu menurunkan produksi konidia A. solani pada konsentrasi 9% yaitu 3,0 x 103 konidia/ml, sementara pada konsentrasi 15%, ekstrak air bunga kembang telang menekan total produksi konidia A. solani. Penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia (58,33%) ditunjukkan oleh ekstrak air daun kembang telang 3% sedangkan oleh ekstrak air bunga kembang telang sebesar 75,00% oleh konsentrasi 5%.  Kemampuan antisporulasi dari ekstrak air daun dan bunga kembang telang lebih dominan dibandingkan kemampuan fungistatik maupun kemampuan fungisidalnya.
Reproduksi, Fekunditas dan Lama Hidup Tiap Fase Perkembangan Plutella xylostella (Lepidoptera : Ypnomeutidae) pada Beberapa Jenis Tumbuhan Cruciferae Nenet Susniahti; Tarkus Suganda; Sudarjat Sudarjat; Danar Dono; Andhita Nadhirah
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.102 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.12296

Abstract

ABSTRACTReproduction, fecundity and period of each growth phase of Plutella xylostella on some species of crucifersPlutella xylostella L. is one of major pests of cabbage (Brassica oleracea). P. xylostella, also known as diamondback moth, is an oligophagous with limited host only a crucifers. The pest often causes damage on the plant in the low to high altitude of the land. It is able to attack cabbage leaf from seedling to harvesting. An alternative controlling method that can be done is by using potential parasitoid, Diadegma semiclausum. Its application can be done using conservation technique through environment modification such as planting ornamental plants as parasitoid food source and alternative host for P. xylostella. The research aimed to find alternative host for P. xylostella. Experiment was conducted at greenhouse of Department Plant Pests and Disease, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. Experiment was carried out by observation method using Randomized Blocked Design consisted of five treatments and four replications. The result demonstrated that Rorippa indica and Cardamine hirsuta were alternative host for P. xylostella. The average number of eggs laid on R. indica and C. hirsuta were 226.75 and 216.25 eggs, respectively. Survival rate of P. xylostella infested on R. indica was 32.50% whereas the survival rate of P. xylostella infested on C. hirsute was 28.75%. It can be concluded that P. xylostella was able to spend its whole life cycle on both plants.Keywords: Crucifers, Fecundity, Growth phase, P. xylostella, ReproductionABSTRAKPlutella xylostella L. merupakan salah satu hama utama kubis (Brassica oleracea). P. xylostella, juga dikenal sebagai Diamondback moth, yang bersifat oligofag dengan inang terbatas hanya pada tanaman kubis-kubisan. Hama ini sering menyebabkan kerusakan tanaman pada dataran rendah dan tinggi. Hama ini dapat menyerang pertanaman kubis pada saat bibit sampai panen. Sebuah metode pengendalian alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan parasitoid, Diadegma semiclausum. Penerapannya dapat dilakukan dengan menggunakan teknik konservasi melalui modifikasi lingkungan seperti menanam tanaman hias sebagai sumber pakan untuk parasitoid dan inang alternatif untuk P. xylostella. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan inang alternative dari P. xylostella. Percobaan dilakukan di rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Percobaan ini dilakukan dengan metode observasi menggunakan RancanganAcak Kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rorippa indica dan Cardamine hirsuta merupakan inang alternatif bagi P. xylostella. Rata-rata jumlah telur yang diletakan pada R. indica dan C. hirsuta adalah 226, 75 dan 216,25 butir. Kelulusan hidup P.xylostella yang di-infestasikan pada R. indica adalah 32,50% dan pada C. hirsuta adalah 28,75%. serta pada kedua jenis tanaman tersebut, P.xylostella dapat menyelesaikan seluruh siklus hidupnya.Kata Kunci : Cruciferae, Fase perkembangan, Fekunditas, P. xylostella, Reproduksi
Uji Pendahuluan Efek Fungisida Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) terhadap Jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae Penyebab Penyakit Moler pada Bawang Merah Tarkus Suganda; Satryo Restu Adhi
Agrikultura Vol 28, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.277 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i3.15746

Abstract

ABSTRACT Preliminary study on the fungicidal effect of butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) against Fusarium oxysporum f.sp. cepae, the causal agent of moler diseases on shallot Butterfly pea (Clitoria ternatea) has been known worldwide to possess numerous anti microbe substances, both against bacteria, fungi, nematodes, and insects. Researches were mostly conducted against human microbial pathogens, whereas only a few against plant pathogens, especially in Indonesia. A preliminary study has been carried out to reveal the fungicidal effects of flower extract in inhibiting the in-vitro growth of Fusarium oxysporum f.sp. cepae (FOC), the causal agent of moler diseases, one of the most destructive diseases on shallot. Results showed that the boiling extract of flower of butterfly pea at 5% concentration inhibited 46% the growth of FOC over control. Key words: Fungicidal effect, Cliteria ternatea, Fusarium oxysporum f.sp. cepae, In-vitro ABSTRAK Kembang telang (Clitoria ternatea) sudah lama dikenal di seluruh dunia mengandung berbagai senyawa antimikroba, baik terhadap bakteri, jamur, nematoda. bahkan insekta. Target utama patogen yang banyak diteliti adalah terhadap patogen penyakit pada manusia. Penelitian terhadap patogen tanaman, terutama di Indonesia masih sangat kurang. Uji pendahuluan sudah dilakukan untuk mengetahui efek fungisidal bunga kembang telang dalam menghambat pertumbuhan in-vitro jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae (FOC), penyebab penyakit moler yang sangat merugikan pada tanaman bawan merah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa air rebusan bunga kembang telang memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan biakan FOC. Pada konsentrasi 5%, efek penghambatannya mencapai 46% terhadap kontrol. Kata kunci: Efek fungisida, Cliteria ternatea, Fusarium oxysporum f.sp. cepae, In-vitro
Efek Aplikasi Jamur Parasit Nematoda G. rostochiensis terhadap Pertumbuhan dan Tajuk serta Serapan P dan K Tanaman Kentang Marthin Kalay; Sadeli Natasasmita; Tarkus Suganda; Tualar Simarmata
Agrikultura Vol 21, No 1 (2010): April, 2010
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.957 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v21i1.983

Abstract

Globodera rostochiensis (Woll)  adalah nematoda sista kuning (NSK)  pengganggu tanaman yang berbahaya pada tanaman kentang baik di daerah tropis maupun sub tropis. Mekanisme NSK untuk menyebabkan penyakit adalah pembentukan sinsitium yang menghambat serapan unsur hara dari tanah oleh akar tanaman. Penelitian rumah kaca ini dilakukan untuk menguji kemampuan jamur parasitik NSK dalam meningkatkan pertumbuhan dan serapan unsur hara makro fosfor (P) dan kalium (K) tanaman kentang yang ditanam di tanah diinfestasi sista NSK. Percobaan rumah kaca dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok yang menguji tujuh spesies jamur antagonis yang diisolasi dari sista NSK. Hasil percobaan menunjukkan bahwa inokulasi Fusarium oxysporum TR1, F. solani TR2, F. oxysporum KT1, F. chlamydosporum KT2, F. oxysporum SM1, Phaecilomyces  lilacinus SM3 dan F. chlamydosporum SM4 pada media tanam yang terinfestasi sista G. rostochiensis, dengan nyata meningkatkan bobot kering tajuk serta serapan P dan K pada daun kentang. Jamur antagonis ini berpotensi untuk digunakan sebagai agen hayati pengendali NSK.
Uji In Vitro Air Rebusan Daun dan Batang Porang (Amorphophallus sp.) Terhadap Pyricularia oryzae Penyebab Penyakit Blas pada Tanaman Padi Tarkus Suganda; Sofia Kholifatu Wahda
Agrikultura Vol 32, No 2 (2021): Agustus, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i2.34007

Abstract

Penyakit blas (Pyricularia oryzae) merupakan faktor pembatas utama produksi padi di seluruh areal pertanaman padi di dunia.  Pestisida nabati dieksplorasi sebagai salah satu alternatif pengendalian untuk mengurangi dampak negatif fungisida yang selama ini digunakan secara intensif. Berbagai jenis tanaman telah diketahui dapat digunakan sebagai pestisida nabati terhadap penyakit blas namun tanaman porang (Amorphophallus sp.) yang diketahui memiliki kandungan senyawa antijamur dan antibakteri serta telah banyak digunakan sebagai obat untuk penyakit manusia belum pernah diujicoba terhadap P. oryzae. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh air rebusan daun dan batang porang dalam menghambat pertumbuhan koloni dan perkecambahan jamur P. oryzae secara in vitro. Percobaan dilakukan di Laboratorium Fitopatologi, Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman dan Laboratorium Pestisida dan Toksikologi Lingkungan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran di Jatinangor pada bulan Januari 2021 sampai Maret 2021. Penelitian  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol (0%), ekstrak air rebusan daun dan batang porang dengan konsentrasi masing-masing 3%; 4%; 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rebusan daun dan batang porang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan koloni P. oryzae dengan penghambatan tertinggi sebesar 30,6% oleh air rebusan batang konsentrasi 5%. Penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia, yaitu sebesar 60,6% diperlihatkan juga oleh perlakuan air rebusan batang porang 5%.
Uji Ketahanan Klon Kentang Hasil Pesilangan Atlantic x Repita terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans Helmi Kurniawan; Ineu Sulastrini; Tarkus Suganda
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.327 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.20806

Abstract

ABSTRACTResistance Test of Potato Clones Derived from Crossing of Atlantic x Repita to Late Blight (Phytophthora infestans)Late blight, incited by Phytophthora infestans is the most destructive disease of potato. The management that is effective and environmentally-friendly is the use of resistant variety. The objective of this study was to test the resistance of the six potato clones (AR 04, AR 05, AR 06, AR 07, AR 08 and AR 09) derived from crossing var. Atlantic x var. Repita to late blight caused by P. infestans. Var. Atlantic, Repita and Granola were used as susceptible, resistant and susceptible but the most-grown variety, respectively. Field test was located in Ciwidey, one of the potato growing center where late blight is endemic since potatoes are continuously grown. The treatments were arranged in a randomized block design with 3 replicates. The result showed that clones AR 07 and AR 08 were more resistant than the other potato clones, but it still below the resistance level var. Repita. However, based on statistical test on the diseases development (AUDPC), clone AR 08 could be categorized as resistant, equal with of the resistance level of var. Repita.Keywords: Potato clones, Rsistance, P. infestansABSTRAKPenyakit hawar daun yang disebabkan Phytopthora infestans merupakan penyakit utama pada tanaman kentang. Pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan adalah dengan penanaman varietas tahan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketahanan 6 klon kentang (AR 4, AR5, AR6, AR7, AR 8, dan AR9) yang merupakan hasil persilangan antara var. Atlantic (produksi tinggi tetapi rentan) dengan var. Repita, sebagai tetua tahan terhadap penyakit hawar daun yang disebabkan oleh P. infestans. Varietas Atlantic, Repita dan Granola digunakan sebagai pembanding. Pengujian ketahanan dilakukan di Ciwidey, yang merupakan salah satu sentra produksi kentang di Jawa Barat dan endemik penyakit hawar daun. Perlakuan ditata menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon AR 07 dan Klon AR 08 memiliki ketahanan yang lebih baik dibanding klon-klon kentang lainnya, namun tingkat ketahanannya masih di bawah cv Repita. Namun, berdasarkan uji statistik terhadap nilai perkembangan penyakit (AUDPC) klon AR 08 dapat dikategorikan tahan, sama dengan derajat tahan var. Repita.Kata Kunci: Klon kentang, Ketahanan, P. infestans
Co-Authors A.M. Kalay Aep Wawan Irawan Agung Karuniawan Agus Susanto Ai Siti Santriyani Amalia Murnihati Noerrizki Amanda, Lauren Thalita Andang Purnama Andhita Nadhirah Avissa Ayuningdiyas Azhhar Hadyarrahman Bari, Ichsan Nurul Budi Irawan Ceppy Nasahi Danar Dono Danar Dono Danar Dono Debby Ustari Dinda Y Wulandari Dinda Yulindar Wulandari Endah Rismawati Endah Yulia Endah Yulia Endah Yulia Yulia Fahmi, Rahmad Bahaudin Fitri Widiantini Gabbi Andria Dwitia Putri Harlino Nandha Prayudha Helmi Kurniawan Helmi Kurniawan Hersanti - Indah Nita Chrysilla Simarmata Ineu Sulastrini Iwan Setiawan Jabbar, Muhammad Aqshal Azizil Jutti Levita Kaltsum, Rumaisha Thifaaliyah Keliat, Chrisnasari Yanti Khairul Zen Kholifah, Sisca Noor Lindung Tri Puspasari Luciana Djaya, Luciana Martua Suhunan Sianipar Maulana, Ghifari Aditya Murdaningsih H. K. Neneng Sri Widayani Nenet Susniahti Noladhi Wicaksana Noor Istifadah Pini Komalasari Puspa Radityo Putri Putri Ardhya Anindita Rahayu, Aldi Rangga Irawan Prasetyo Reginawanti Hindersah Ridwan Setiamihardja Rika Meliansyah Risma Yuniah Nur’haqi Rizky Ramdhani Rizqullah, Ahmad Fauzan Rohmah, Nanda Dea Nikmatu Sadeli Natasasmita Satriyo Restu Adhi SIska Rasiska, SIska Sofia Kholifatu Wahda Sri Hartati Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sudarjat Syarif Hidayat Syarif Hidayat Toto Sunarto Tresna Kusuma Putri Trixie A. Ulimaz Trixie Almira Ulimaz Tualar Simarmata Tualar Simarmata Vergel Concibido Vergel Concibido Vergel Concibido Vergel Concibido Vira Kusuma Dewi Virda Aziza Virda Aziza Wahyu Daradjat Natawigena Wahyu Daradjat Natawigena, Wahyu Daradjat Wawan Kurniawan Yadi Supriyadi Yani Maharani, Yani Yulia, Endah Yulia Yunira, Alma Yusup Hidayat Yusup Hidayat