Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

KAJIAN KESUBURAN TANAH DI LAHAN PASCA PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI) PADA BEBERAPA PERIODE PENAMBANGAN DI KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK PETRUS YONAL; Sulakhudin Sulakhudin; Rita Hayati
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.23603

Abstract

Lahan pasca penambangan emas tanpa izin merupakan lahan yang telah terdegradasisehingga sulit bagi lahan tersebut untuk kembali seperti kondisi semula. Tekstur tanahberpasir dan miskin unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapasifat kimia tanah dan mengkaji status kesuburan tanah. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah Fertility Capability Classification (FCC) dan StatusKesuburan Tanah menurut Pusat Penelitian Tanah (PPT). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kelas kesuburan tanah menurut metode FCC pascapenambangan emas tanpa izin 7 dan 20 tahun adalah SSeh(8%) dan hutan sekunderadalah OLeh(8%). Tanah pada pasca PETI 7 dan 20 tahun bertekstur pasir padalapisan atas dan bawah (SS), KTK sangat rendah (e), bereaksi masam (h) danbesarnya kemiringan lahan 8%. Tanah pada hutan sekunder lapisan atas berupa bahanorganik (O), lapisan bawah berlempung (L), KTK rendah/sangat rendah (e), reaksitanah masam sampai agak masam (h) dan besarnya kemiringan lahan 8%. Statuskesuburan tanah dengan metode PPT yaitu, lahan pasca PETI 7 dan 20 tahun statuskesuburan sangat rendah sedangkan hutan sekunder status kesuburan rendah. Kata kunci : Hutan sekunder, Kesuburan tanah, Mandor, Pasca PETI, Pasir
PENGARUH PEMBERIAN LUMPUR MERAH DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH PMK Zulifa Fadilla; Surachman Surachman; Sulakhudin Sulakhudin
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 12, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i4.69459

Abstract

Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan satu di antara komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi karena digunakan sebagai rempah dan penyedap rasa makanan. Permasalahan yang dihadapi pada lahan PMK adalah pH termasuk masam, Al-dd yang tinggi, kandungan P yang rendah, kapasitas tukar kation yang rendah (KTK) dan tanah yang miskin unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lumpur merah dan dosis pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah yang terbaik pada tanah PMK. Penelitian ini dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dalam bentuk faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah lumpur merah (M) yang terdiri dari 3 taraf dan faktor kedua adalah pupuk NPK (F) yang terdiri dari 3 taraf. Perlakuan seluruhnya 9 kombinasi terdiri dari 3 ulangan dan setiap kombinasi perlakuan terdapat 4 tanaman sampel, dengan demikian terdapat 108 tanaman. Faktor pertama: Lumpur Merah (M) terdiri dari 3 taraf: m1 = 1: 500 (0,016 kg/polybag) setara dengan 16 gram/polybag , m2 = 1: 750 (0,01067 kg/ polybag) setara dengan 10,67 gram/polybag, m3 = 1: 1000 (0,008 kg/polybag) setara dengan 8 gram/polybag. Faktor kedua: Pupuk NPK (F) terdiri dari 3 taraf: f1 = 0,0008 kg/tanaman setara denga 0,8 gram/tanaman, f2 = 0,0012 kg/tanaman setara dengan 1,2 gram/tanaman, f3 = 0,0016 kg/tanaman setara dengan 1,6 gram/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian lumpur merah dan NPK  terjadi interaksi pada variabel jumlah anakan minggu ke 4 dan minggu ke 6 sedangkan pada variabel jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah umbi, berat basah dan berat kering angin berpengaruh tidak nyata. Perlakuan terbaik terdapat pada pemberian lumpur merah 8 g/tanaman dan NPK 1,6 g/tanaman.
PEMETAAN SEBARAN STATUS UNSUR HARA N, P, DAN K TANAH PADA LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAKYAT KECAMATAN SANDAI KABUPATEN KETAPANG Hakim, Muhamad Amarul; Krisnohadi, Ari; Sulakhudin, Sulakhudin
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.77974

Abstract

Kelapa sawit merupakan komoditi pertanian subsektor perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai unsur hara yang ada di lokasi Penelitian. Kelapa sawit diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kelapa sawit khususnya di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan di Desa Merimbang Jaya untuk mengetahui sebaran status unsur hara N, P, dan K tanah pada kebun kelapa sawit dan memberikan saran pemupukan yang diperlukan. Penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai dari survey lokasi penelitian, pengambilan sampel, analisis di laboratorium, analisis kriteria unsur hara, dan pembuatan peta sebaran status unsur hara N, P dan K mengunakan ArcGIS metode Kriging. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan N-total tanah pada kedalaman 0-30 cm rendah, sedangkan pada kedalaman 30-60 cm ada yang rendah dan ada yang sedang. Kandungan P-tersedia tanah pada kedalaman 0-30 cm bervariasi dari sedang hingga sangat tinggi, sedangkan pada kedalaman 30-60 cm ada yang rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Kandungan K-dd tanah pada kedalaman 0-30 cm mayoritas sangat rendah, sementara pada kedalaman 30-60 cm mayoritas sangat rendah. Saran pemupukan yang diberikan untuk tanaman kelapa sawit meliputi pemakaian pupuk Urea sebanyak 1,49 kg/pohon, pupuk SP-36 antara 0,15-1,23 kg/pohon, dan pupuk MOP 1,89-4,5 kg/pohon.
STUDI KETERSEDIAAN UNSUR HARA N, P, K DAN PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) AKIBAT PEMBERIAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN ABU BOILER PADA TANAH GAMBUT Ramadhan, Gina Suci; Sulakhudin, Sulakhudin; Junaidi, Junaidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.81170

Abstract

Tanah gambut adalah tanah yang memiliki potensi cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai lahan budidaya pertanian. Tanah gambut sebagai lahan budidaya pertanian menghadapi permasalahan seperti, pH tanah yang rendah, kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, kandungan unsur makro dan mikro yang rendah, sehingga kurang optimal bagi budidaya tanaman bawang merah. Upaya untuk mengatasi permasalahan dilakukan untuk meningkatkan pH tanah dan ketersediaan unsur hara N, P, K di tanah gambut yaitu dengan cara pemberian pupuk kandang kambing dan abu boiler. Penelitian merupakan percobaan faktorial yang disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan terdiri dari 2 faktor yaitu pupuk kandang kambing (P) dan abu boiler (B). Faktor pertama yaitu pupuk kandang kambing sebanyak 3 taraf perlakuan P0 (0 g/polybag), P1 (240 g/polybag), P2 (480 g/polybag) dan faktor kedua abu boiler sebanyak 3 taraf perlakuan B0 (0 g/polybag), B1 (842 g/polybag), B2 (1.148 g/polybag) sehingga total kombinasi perlakuan sebanyak 9 dan diulang 3 kali sehingga terdapat 27 unit percobaan. Pengaruh perlakuan terhadap parameter pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) uji F. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kandang kambing dan abu boiler secara interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Pemberian pupuk kandang kambing secara tunggal pada tanah gambut menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap parameter C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd dan tinggi tanaman bawang merah. Pemberian abu boiler secara tunggal pada tanah gambut menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap parameter P-tersedia, K-dd dan jumlah daun tanaman bawang merah.Kata Kunci:  Abu boiler, ketersediaan hara, pupuk kandang kambing, tanah gambut, tanaman bawang merah.
IDENTIFIKASI SIFAT KIMIA TANAH PADA AREAL PENAMBANGAN KAOLIN DI DESA PAWANGI KECAMATAN CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Mahendra, Dimas; Sulakhudin, Sulakhudin; Chandra, Tino Orciny
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i4.69959

Abstract

Kaolin merupakan bahan tambang alam yang termasuk dalam jenis tanah lempung (clay) dimana mineral penyusun utamanya adalah kaolinit. Tanah lempung jenis kaolin berwarna putih atau putih keabu-abuan. Di alam kaolin berasal dari dekomposisi feldspar, sebagai bahan tambang, kaolin bercampur   dengan oksida lainnya seperti magnesium oksida, kalsium oksida, kalium oksida dan lain-lain. Kegiatan penambangan tersebut dilakukan oleh perusahaan bersama dengan masyarakat dan menggunakan cara-cara penambangan mekanisasi yaitu eksavator. Penambangan yang dilakukan juga mengakibatkan lingkungan menjadi rusak apabila aktivitas penambangan telah berakhir. Akibatnya lahan-lahan bekas tambang seringkali menjadi kawasan yang gersang lahan menjadi lahan yang tidak produktif lagi dan menjadi miskin vegetasi, sehingga tumbuhan tidak dapat berkembang dengan baik karena rendah nya unsur hara, maka perlu di analisis lebih lanjut untuk mengetahui status kesuburan dan sifat kimia pada lahan pasca tambang kaolin. Penelitian akan dilakukan di Desa Pawangi Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, di lokasi tersebut terdapat beberapa lahan bekas pertambangan kaolin yang di biarkan secara terlantar. Setelah penambangan kaolin berakhir, lahan tersebut tidak lagi diperdulikan dan dibiarkan begitu saja, sehingga tanah tersebut menjadi rusak.
ANALISIS BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH ULTISOL PADA LAHAN KELAPA SAWIT DI DESA KELOMPU KECAMATAN KEMBAYAN KABUPATEN SANGGAU Anindita, Marta; Sulakhudin, Sulakhudin; Agustine, Leony
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i4.71088

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, di area seluas sekitar 20 hektar, berlangsung selama enam bulan dari April hingga Juli 2023. Bahan yang digunakan meliputi bahan kimia untuk menganalisis sifat kimia dan fisik tanah, serta sampel tanah yang diambil langsung dari lapangan untuk dianalisis di laboratorium. Alat-alat yang digunakan mencakup peta topografi, Munsell Soil Colour Chart, kunci taksonomi tanah, bor tanah, dan lain-lain. Pengambilan contoh tanah menggunakan metode sistem grid, dengan pengamatan profil tanah di setiap titik, menghasilkan empat profil tanah. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm untuk analisis sifat kimia. Analisis di laboratorium meliputi pengukuran pH tanah, kandungan C-organik, N-total, P-tersedia, dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, lahan kelapa sawit di tanah Ultisol di semua lokasi memiliki karakteristik kimia tanah yang serupa dengan kadar nutrisi rendah, terbukti dari hasil analisis sampel tanah. Praktik pengelolaan lahan yang kurang optimal, seperti pemupukan yang tidak seimbang, berdampak negatif pada sifat kimia tanah. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rekomendasi pemupukan yang diberikan masih lebih tinggi dari saran optimal, terutama untuk unsur hara K dalam bentuk KCl.Kata Kunci: karakteristik kimia tanah, kelapa sawit rakyat, rekomendasi pupuk
STATUS UNSUR HARA TANAMAN KELAPA SAWIT ( ELAEIS GUINEESIS JACQ) MENGHASILKAN PADA TANAH ULTISOL DI DESA SEMUNTAI KECAMATAN MUKOK KABUPATEN SANGGAU Juliawati, Ragil; Sulakhudin, Sulakhudin; Manurung, Rinto
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 14, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i2.90863

Abstract

Tanah merupakan faktor utama dalam mendukung pertumbuhan tanaman karena menyediakan air dan unsur hara esensial seperti N, P, K dan Mg. Ultisol salah satu jenis tanah yang umum di Indonesia, banyak dimanfaatkan dalam perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan hara N, P, K, dan Mg pada tanah Ultisol guna mendukung produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan. Pengamatan dilakukan di lahan seluas 2 Ha dengan metode diagonal, 15 titik pengamatan berjarak 25 meter. Sampel tanah diambil dari kedalaman 0-30 cm dan dikompositkan menjadi 3 sampel, sampel daun diambil dari pelepah ke-17 dan juga dikompositkan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan unsur hara bervariasi dengan fosfor tertinggi pada TM 3 (5,92%) dan kadar kalium yang rendah di semua titik. Analisis daun menunjukkan kandungan nitrogen 3,39-3,45%, fosfor 0,44-0,47%, kalium 1,00-1,43%, dan magnesium 0,34-0,39%. rekomendasikan pemupukan menggunakan urea 2,15 kg/ha, SP-36 1,65 kg/ha, dan KCl 3,22 kg/ha. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu optimalisasi pengelolaan perkebunan kelapa sawit pada tanah Ultisol secara berkelanjutan.
STATUS UNSUR HARA TANAMAN KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ) BELUM MENGHASILKAN PADA TANAH ULTISOL DI DESA SEMUNTAI, KECAMATAN MUKOK, KABUPATEN SANGGAU Fauziah, Fauziah; Sulakhudin, Sulakhudin; Manurung, Rinto
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 14, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i2.90864

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Semuntai, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau, dengan tujuan untuk menganalisis korelasi antara kandungan unsur hara tanah, kadar unsur hara dalam jaringan tanaman, dan pertumbuhan kelapa sawit belum menghasilkan serta memberikan rekomendasi pemupukan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode diagonal pada kedalaman tanah 0"“30 cm dan pelepah ke-9 daun tanaman. Analisis dilakukan terhadap parameter kimia tanah (pH, KTK, C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd, Mg-dd), kimia daun (N, P, K, Mg), serta pertumbuhan tanaman (tinggi, panjang pelepah, lebar dan panjang daun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah memiliki pH masam, kapasitas tukar kation sedang, serta kandungan C-organik dan nitrogen total sedang. Fosfor, kalium, dan magnesium dalam tanah tergolong sangat rendah. Sebaliknya, unsur hara daun menunjukkan kandungan nitrogen dan fosfor tinggi, serta kalium dan magnesium dalam kategori optimum. Korelasi antara unsur hara tanah dan jaringan tanaman dianalisis untuk memahami hubungan antar variabel dan menyusun rekomendasi pemupukan yang tepat.
PERANAN BAHAN AMELIORAN RED MUD DAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP KETERSEDIAAN HARA MAKRO DAN PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG HIBRIDA DI TANAH GAMBUT Jamli Jamli; Denah Suswati; Sulakhudin Sulakhudin
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 2 (2024): Edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i2.4610

Abstract

Peatlands have the potential to serve as productive agricultural land but possess low soil quality, necessitating innovative technologies to enhance soil quality and crop productivity. The improvement of peat soil quality can be achieved by utilizing ameliorants such as Red Mud and cattle manure. This study aims to investigate the role of Red Mud and cattle manure on the availability of macronutrients and the growth of hybrid corn plants in peat soil. The research was designed using a completely randomized design (CRD) with treatments of Red Mud and cattle manure. The first factor was Red Mud treatment at four dosage levels: without Red Mud (L0), 7 tons/ha (L1), 14 tons/ha (L2), and 21 tons/ha (L3). The second factor was cattle manure with four dosage levels: without cattle manure (P0), 50 tons/ha (P1), 100 tons/ha (P2), and 150 tons/ha (P3). The experiment was repeated three times, resulting in 48 experimental units. The results showed that the interaction between Red Mud and cattle manure significantly affected the parameters of exchangeable sodium availability and stem diameter. The single treatment of Red Mud had a significant effect on the parameters of pH, exchangeable potassium (K-dd), exchangeable sodium (Na-dd), cation exchange capacity (CEC), and plant height, with the best dosage being 21 tons/ha of Red Mud. The single treatment of cattle manure had a significant effect on the parameters of total nitrogen (N-total), available phosphorus (P-available), exchangeable potassium (K-dd), exchangeable sodium (Na-dd), and plant height, with the best dosage being 150 tons/ha of cattle manure. Keyword : amandement, peat soil, produktivity, quality
KEMAMPUAN BEBERAPA JENIS ISOLAT TRICHODERMA PADA TANAH ULTISOL DAN TANAH GAMBUT TERHADAP SERAPAN P DAN PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.) Savira, Veny; Yulies Vitri Indrawati, Urai Suci; Sulakhudin, Sulakhudin
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.4237

Abstract

Trichoderma spp. can act as a biofactor to accelerate decomposition, as a phosphate solvent and to control pests and diseases. This research aims to determine the effect of Trichoderma species and soil type on P uptake and growth of soybean plants (Glycine max.L). The research was carried out at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University. The experiment was carried out using the field experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 2 factors. Factor A is the type of soil and factor B is the type of Trichoderma. Factor A consists of 2 treatment levels and factor B consists of 3 treatment levels with 5 replications so that there are a total of 30 polybags. Factor A consists of 2 levels, namely peat soil and Ultisol and factor B consists of 3 levels, namely Trichoderma harzianum, Tricoderma koningii, and Trichoderma viride. The effect of treatment on observation parameters was analyzed using Analysis of Variance / Two way ANOVA. If there is a real effect of treatment on diameter, continue with the Tukey's Honestly Significant Difference Test (HSD-Tukey's). The results show that soil type and Trichoderma type have a significant effect on soil pH. Soil type treatment has a significant effect on plant height, plant dry weight, soil pH, soil organic carbon and soil available phosphorus. Treatment of Trichoderma types has a real influence on soil pH. The interaction between soil type and Trichoderma treatment had a significant effect on soil pH. Keywords: peat, P uptake, soybean,, Trichoderma, Ultisol. INTISARITrichoderma spp. dapat berperan sebagai biofaktor untuk percepatan dekomposisi, sebagai pelarut fosfat dan pengendalian hama penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis Trichoderma dan jenis tanah terhadap serapan P dan pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine max.L). Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Percobaan dilakukan menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri 2 faktor. Factor A adalah jenis tanah dan factor B adalah jenis Trichoderma. Faktor A terdiri 2 taraf perlakuan dan faktor B terdiri 3 taraf perlakuan dengan 5 ulangan sehingga total ada 30 polybag. Faktor A terdiri dari 2 taraf yaitu tanah gambut dan Ultisol dan factor B terdiri dari 3 taraf, yaitu Trichoderma harzianum, Tricoderma koningii, dan Trichoderma viride. Pengaruh perlakuan terhadap parameter pengamatan dianalisis dengan Analysis of Variance / ANOVA Two way. Apabila terdapat pengaruh nyata perlakuan terhadap diameter, dilanjutkan dengan uji Uji Beda Nyata Jujur Tukey’s (HSD-Tukey’s). Hasil menunjukkan bahwa jenis tanah dan jenis Trichoderma berpengaruh nyata terhadap pH tanah. Perlakuan jenis tanah berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, berat kering tanaman, pH tanah, karbon organik tanah, dan fosfor tersedia tanah. Perlakuan jenis Trichoderma memberikan pengaruh nyata terhadap pH tanah. Interaksi perlakuan jenis tanah dan jenis Trichoderma berpengaruh nyata terhadap pH tanah. Kata kunci : gambut, kedelai, serapan P, Trichoderma, ultisol.