Claim Missing Document
Check
Articles

SOSIALISASI BUDAYA HARMONI (WA) JEPANG TERHADAP SANTRI PESANTREN KILAT DI MESJID AL-ANSHOR MARGAHAYU RAYA KOTA BANDUNG Sunarni, Nani
Midang Vol 3, No 1 (2025): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.58835

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya kepada para santri pesantren kilat di Mesjid Al Anshor ini difokuskan pada sosialisasi pengenalan budaya harmoni (Wa) dengan lingkungan alam. Dalam pendidikan pesantren tidak hanya disajikan muatan lokal berbasis agama Islam saja, namun dalam era globalisasi, pemahaman budaya harmoni (Wa) perlu diperkenalkan. Keharmonian antara manusia dengan lingkungan perlu diwujudkan. Sebagai upaya dalam mewujudkan keharmonian antara manusia demngan alam lingkungannya perlu disampaikan melalui penanaman pendidikan  kesadaran terhadap alam dan lingkungan yang disajikan dalam kurikulum pesantren. Kesadaran keharmonian manusia dengan lingkungan alam tercantum pula pada Al Qur’an. Manusia seharusnya memelihara dan menjauhi perusakan alam. Namun, di Indonesia khususnya di kalangan para santri pun masih kurangnya kesadaran yang disebabkan oleh idealisme manusia. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, menjadikan para santri pesantren kilat di Mesjid Al Anshor ini termotivasi untuk lebih dapat meningkatkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam khususnya harmoni dengan lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya.
EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PERAJIN DAN PENGUSAHA BATIK DI KABUPATEN GARUT Nur, Tajudin; Nugraha, Tb. Chaeru; Sofyan, Agus Nero; Sunarni, Nani; Indrayani, Lia Maulia; Ismail, Nany; Abdul Malik, M. Zulfi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v6i1.44832

Abstract

Produksi batik Garut yang dikenal dengan batik Garutan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya minat generasi penerus pada usaha batik tulis, ketidaktersediaan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran dan juga munculnya batik mesin printing. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan pendampingan kepada para perajin batik Garutan. Metode edukasi dan pendampingan yang digunakan adalah metode pemetaan sosial, yaitu rapid appraisal dan participatory appraisal. Pelaksanaan rapid appraisal  diawali dengan melakukan wawancara informan kunci, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD). Adapun pelaksanaanparticipatory appraisaldengan langkah sebagai berikut: pelatihan, pembinaan, pendampingan, dan kaji tindak. Berdasarkan kegiatan edukasi dan pendampingan yang telah dilakukan, terdapat animo dan apresiasi yang besar dari para peserta perajin batik di Kabupaten Garut. Ke depan, kegiatan tersebut dilakukan secara berkesinambungan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para perajin batik di Kabupaten Garut sehingga mereka semangat dalam mengembangkan usahanya.
MAKNA VERBA MAJEMUK ~KIRU DALAM BAHASA JEPANG: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIS Taqdir Taqdir; Nani Sunarni; Agus Suryadimulya
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.143.47-56

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur verba majemuk (V + V) dalam bahasa Jepang. Struktur tersebut meliputi pembentukan zenkoudoushi (verba awal) dengan koukoudoushi (verba akhir). Verba akhir (koukoudoushi) yang menjadi objek dalam makalah ini adalah verba ~kiru. Sementara itu, zenkoudoushi (verba awal) dalam pembahasan ini meliputi joutai doushi ‘verba statis’, keizoku doushi ‘verba kontuinitas’, shunkan doushi ‘verba fungtual’ dan daiyonshu doushi ‘verba bagian ke empat’. Pengklasifikasi ini mengacu pada pengklasifikasian verba Kindaichi. Kiru sebagai verba tunggal bermakna memotong, mengirisi, memutuskan, dan mematikan. Kiru pada saat digabungkan dengan verba lain akan membentuk sebuah verba majemuk yang mempunyai beberapa arti. Secara garis besar verba gabung kiru memiliki dua makna, yakni makna dari segi leksikal dan makna dari segi sintaksis.Secara leksikal verba gabung ~kiru bermakna setsudan ‘pemotongan’ dan shuketsu ‘selesai/berkahir’, sedangkan dari segi sintaksis memiliki makna kyokudo ‘luar biasa / tak terhingga’ dan makna kansui ‘perfektif’. Verba gabung ~kiru yang melekat pada verba kontuinitas (keizokudoushi) akan bermakna setsudan setsudan ‘pemotongan’, shuketsu ‘selesai/berkahir’, dan kansui ‘perfektif’, sedangkan apabila melekat pada verba fungtual (shunkandoushi) akan bermakna kyokudo ‘luar biasa/tak terhingga’. 
Leuit and the Food Preservation System During the Pandemic as a Form of Local Wisdom of the Indigenous People of Kasepuhan Sinar Resmi Cisolok Sukabumi West Java Firmansyah, Eka Kurnia; Sunarni, Nani; Maulia, Lia
Pattimura Excellence Journal of Language and Culture Vol 2 No 2 (2022): Pattimura Excellence Journal of Language and Culture
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PEJLaC.v2.i2.pp161-169

Abstract

This research discusses the system of food storage during the pandemic through rice storage in Leuit in the community of Kasepuhan Sinar Resmi Village, Cisolok District, Sukabumi Regency, also examines what tools, times and types are used to carry out the belief rituals they use in food storage, especially during the Seren Taun traditional ceremony. This research discusses how the food storage system during the pandemic through rice storage in Leuit in the community of Kasepuhan Sinar Resmi Village, Cisolok District, Sukabumi Regency, also examines what tools, times and types are used to carry out the belief rituals they use in food storage, especially during the Seren Taun traditional ceremony. The results of this research can be described as a stable food storage system for hundreds of years, namely from the time of the ancestors until now and it was found what moral values are contained in the implementation of religious rituals or beliefs that they believe in. Another benefit of this research is that the community and local governments are expected to be able to provide information input and become one of the reference discourses in the food preservation system and the preservation of the inventory of cultural heritage of the community, especially the Sundanese in the southern West Java region
PENDAMPINGAN KELOMPOK SADAR WISATA DALAM UPAYA OPTIMALISASI POTENSI WISATA DESA MARGAMEKAR KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT Sunarni, Nani; Indrayani, Lia Maulia; Firmansyah, Eka Kurnia
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i2.57619

Abstract

In line with the objective of sustainable economic development, the tourism sector is one of the superior products that can be developed in Margamekar Village, Sumedang Regency, West Java. The presence of natural resources such as large upstream rivers, forests, mountains, and rice fields can be explored to increase economic value without damaging the ecological balance. In addition to the natural resources owned by the village, the community also possesses abundant intangible cultural wealth (intangible cultural heritage), which can be developed and transformed into tourist attractions. To improve the tourism sector in this village, it is necessary to provide assistance and training to the tourism awareness groups. The programs initiated include identifying the potential for natural, religious, and culinary tourism development. The method used in implementing this community service is the participatory action research approach. The results of this activity indicate that natural resources and cultural wealth can drive the realization of the village as a tourism destination, which greatly supports the enhancement of village potential and the improvement of the community's economy. Pembangunan ekonomi berkelanjutan pada sektor pariwisata menjadi salah satu  produk yang dapat dijadikan unggulan Desa Margamekar, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Keberadaan sumber daya alam seperti hulu sungai dan sungai yang cukup besar, hutan, gunung, dan pesawahan dapat dieksplorasi  untuk menambah nilai ekonomis tanpa merusak ekologisnya. Selain sumber daya alam yang dimiliki desa ini, masyarakatnya pun memiliki kekayaan budaya tak benda  (intangible cultural heritage) yang melimpah yang dapat dikembangkan dan dapat menjadi objek serta daya tarik wisata. Dalam upaya meningkatkan sektor pariwisata, perlu dilakukan pendampingan dan pelatihan terhadap kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di desa ini. Adapun program-program yang dilakukan mulai dari identifikasi pengembangan potensi wisata alam, religi, dan kuliner. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan participatory action research. Hasil dari kegiatan ini  diketahui bahwa  sumber daya alam dan kekayaan budaya dapat menjadi pendorong terwujudnya desa sebagai desa destinasi pariwisata yang sangat bermanfaat dalam menunjang peningkatan potensi desa dan meningkatkan perekonomian masyarakatnya.
Structural and Semantic Analysis of the Auxiliary Verb ~You (da) in Japanese Sentences Nani Sunarni; Herawati, Isye
Chi e Journal of Japanese Learning and Teaching Vol. 13 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v13i1.17424

Abstract

This study investigates the structure and meaning of the auxiliary verb ~you (da) in Japanese sentences. Data were collected from the Books Bunpou ga Yowai Anata e and Manabo! Nihongo Shou (Chuukyuu) and self-constructed sentences reviewed by native speaker linguists. Using a qualitative descriptive approach, 29 instances of ~you (da) were analyzed and categorized into three meanings: assumption based on observation (15 cases), similarity or equality (6 cases), and comparison or analogy (8 cases). The findings reveal that ~you (da) structurally attach to verbs, adjectives, and nouns in their base forms, functioning as predicates. Semantically, it conveys two core meanings: (1) assumption based on observation or perceived conditions and (2) expressions of similarity, resemblance, or analogy. The latter meaning is further divided into reiji (例示), which provides examples, and Hikyou (比況), which expresses similarity through comparison. These meanings are realized through patterns such as [V+you ni V], [N+ no you ni + V/Adj], and [N + no you da]. This study contributes to Japanese grammar research by clarifying the syntactic and semantic roles of ~you (da). The analysis follows the sentence study approach and the matching method, examining linguistic elements based on their referential meanings. By offering a structured analysis of ~you (da), this study enhances the understanding of its usage and provides insights for learners and educators in Japanese language studies.
PROSES VERBALISASI PADA SYAIR KARYA SYIHABUDDIN DAN AL-BUNI DALAM KITAB SYAMSUL MA’ARIF (KAJIAN MORFOLOGI) Alawi, Zamzam Mugni; Sofyan, Agus Nero; Sunarni, Nani; Soemantri, Ypsi Seoria
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4 No 1 (2021): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i1.13044

Abstract

ABSTRAKSyair merupakan bagian dari karya sastra di dalamnya terdapat berbagai macam proses pembentukan verba salah satunya yaitu seperti yang terdapat pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan terjadinya proses verbalisasi pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kepustakaan (Library Research). Adapun dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, yaitu dengan menelaah dan mengkaji sumber data pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Teori pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan morfologi atau taṣrīf bahasa Arab menurut Ahmad Al-Hamalawi. (1953). Jumlah bayt pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali terdiri dari 13 bayt dan syair karya Imam Al-Buni terdiri dari 12 bayt. Dengan demikian seluruhnya berjumlah 25 bayt yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Dapat disimpulkan yaitu bahwa proses verbalisasi pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif di antaranya meliputi: prefiks (al-sawabiq) berjumlah sebanyak 16 data, sufiks (al-lawahiq) berjumlah sebanyak 6 data, dan konfiks (al-muzdawijah) berjumlah sebanyak 2 data.
Kesantunan dalam Pujian atas Kemampuan di Kolom Komentar Yahoo News Japan: Kajian Cyberpragmatics Prastika, Tiara Maulina; Sunarni, Nani; Kadir, Puspa Mirani
KIRYOKU Vol 9, No 2 (2025): Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan
Publisher : Vocational College of Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/kiryoku.v9i2.635-645

Abstract

This study aims to describe the politeness strategies in the form of ability compliments used by Japanese netizens in the comments column of Yahoo News Japan about the missing scissors incident at New Chitose Airport, Hokkaido. The research method used is descriptive qualitative with data taken from comments published on August 19–20, 2024. The object of research is comments that contain compliments on abilities, correct actions, or commendable behavior. Data analysis used the classification of compliments by Mizutani & Mizutani (1987), the politeness strategies of Brown & Levinson (1987), and the concept of cyberpragmatics from Rahardi (2020). From the analysis, it was found that all compliments use the positive politeness strategy. The compliments appear in several forms, such as explicit praise for discipline, recognition of correct responses, and empathetic expressions that emphasize solidarity. This shows that even though the comments were written anonymously, Japanese netizens still uphold politeness values such as enryo (modesty) and wakimae (social conformity). In the context of cyberpragmatics, compliments not only function as positive evaluations but also as a way to strengthen relationships, give moral support, and maintain collective identity (wa/和) in digital communication.
Symbols and meanings of kanji with bushu onnahen As representation of women Sunarni, Nani
Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture Vol. 4 No. 1 (2021): November
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/jr.v4i1.5286

Abstract

Kanji are characters used in Japanese which are the result of Chinese thought adopted by Japanese society. The main elements in kanji (bushu) can be gender markers, water, trees, and others. One of these elements is a female gender symbol called onnahen. The data used in this study, in the form of kanji with bushu onnahen. The data were analyzed based on the theory of semiotics and hypersemiotics which view kanji as a cultural phenomenon. The results of the analysis identified that the female symbol in the kanji with bushu onnahen represents that Japanese woman have a respectable character when they become a wife and mother, are authoritative, trustworthy, helpful, but have no character, are false, selfish, and jealous. Theoretically, this research is useful to add references in the study of gender and kanji.
Polysemous Dajare wordplay in Japanese-language advertisement series titled Santarou: A pragmatic study Mustaqim, Ilham Hijrah; Sunarni, Nani; Suryadimulya, Agus Suherman
Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture Vol. 5 No. 2 (2023): May
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/jr.v5i2.7788

Abstract

Dajare is a type of Japanese wordplay used in humorous contexts. Previous studies have only examined dajare formed through homophonic or semi-homophonic word pairs, while polysemous wordplay is more commonly found in English-language puns. This study seeks to describe dajare based on polysemy found in a series of Japaneselanguage television advertisements titled Santarou produced by Au. This study uses the qualitative-descriptive method to describe polysemous dajare found in the data source. The theory used is Attardo’s (2017) general theory of verbal humor to describe how the dajare creates humor in the advertisements. It can be concluded that polysemous dajare wordplay in the data revolves around the incongruity between the original meaning of a word and its derivation in slang and colloquial language.