Claim Missing Document
Check
Articles

Gaya Bahasa Repetisi Dalam Tindak Tutur Asertif Pada Wacana Debat Keempat Calon Wakil Presiden Indonesia 2024 Sunarni, Nani; Indrayani, Lia Maulia; Erlina, Erlina; Firmansyah, Eka Kurnia
Jurnal Sosioteknologi Vol. 24 No. 1 (2025): MARCH 2025
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2025.24.1.10

Abstract

This study investigates the role of repetition as a linguistic strategy in assertive speech acts within the debate discourse of the fourth vice-presidential candidates leading up to the 2024 election. Specifically, it examines the thematic relationships between repetitive figures of speech and assertive speech acts used by the first, second, and third vice-presidential candidates, utilizing NVivo 12 Plus for data visualization. Adopting a qualitative descriptive method, the study identifies instances of repetition in assertive speech acts, categorizing them into two primary functions: "stating" (three instances) and "explaining" (three instances). A pragmatic analysis reveals that repetition occurs at both the word and phrase levels, primarily serving to reinforce emphasis and strengthen the speaker's stance in political discourse. Moreover, NVivo 12 Plus analysis illustrates a hierarchical structure linking figures of speech, assertive speech acts, and their communicative functions. These findings underscore the strategic role of repetition as a persuasive tool in political debates, demonstrating its effectiveness in reinforcing arguments and enhancing audience recall. The study offers practical insights into political communication strategies, particularly for speechwriters, debate analysts, and politicians seeking to optimize message clarity and impact.
A segmental analysis of the Japanese negation verb variation: A phonological perspective Delfariyadi, Fahri; Sunarni, Nani; Ardiati, Riza Lupi
LingTera Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Department of Applied Linguistics, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lt.v9i2.54478

Abstract

Within the field of Japanese linguistics, the topics on segmental analysis of verb variation have rarely been studied from the phonological perspective. On the other hand, verb modifications have been frequently observed to occur in oral communication. This study addresses a segmental analysis within the variation of Japanese negation verb from the phonological standpoint. It employed a qualitative descriptive approach with the data gathered from the Japanese animated series Orange (Hamasaki & Nakayama, 2016). Excerpts of the data were in the form of conversation fragments, which were analyzed using the articulatory phonetic identity technique. The analysis resulted in five found variations: -nai, -nnai, -nee, -nnee, and -ai deletion. The presence of sounds in the phonological environment caused phonological variation, which affected the internal structure of the verb. As a result, the phonological rules are applied to showcase the phonological process in the verb.  It was also found that segmental processing does not necessarily reduce the amount of mora in verbs. Segmental processes, on the other hand, can change the mora structure without reducing the mora. Additionally, the current study shows vowel coalescence associated with the male speech in Japanese.
SEMANGAT JEPANG DALAM BAHASA DAN PADANANNYA DALAM BUDAYA SUNDA: SEMANGAT JEPANG DALAM BAHASA DAN PADANANNYA DALAM BUDAYA SUNDA Sunarni, Nani
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.178

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada bahasa yang mencerminkan mengandung semangat juang bangsa Jepang. Sumber data adalah buku Manabu Nihongo. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata dan ungkapan yang mengandung makna semangat juang bangsa Jepang. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan makna baik makna linguistik maupun makna budaya. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditemukan bahwa kata ikiiki ‘semangat’, gaman ‘sabar’, doryoku ‘kerja keras’, ganbaru ‘berusaha dengan semangat tinggi’ , ~nuku ‘berupaya menyelesaikan sesuatu walaupun penuh tantangan’ , yareba dekiru ‘apabila dilaksanakan pasti bisa’ menunjukkan kata -kata yang penuh makna dengan daya juang yang tinggi. Kata-kata tersebut dalam bahasa Sunda dapat dipadankan dengan peribahasa yang bermakna perintah yaitu hirup teh kudu jeung huripna, tong ngeok memeh dipacok, lamun keyeng tangtu pareng, sing daek peurih da hirup mah moal beunghar ku panyukup batur , ci karacak ninggang batu laun-laun jadi dekok.
KOSAKATA TANAMAN PETAI DALAM BAHASA SUNDA DI WILAYAH SUMEDANG: KOSAKATA TANAMAN PETAI DALAM BAHASA SUNDA DI WILAYAH SUMEDANG Sunarni, Nani
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.241

Abstract

Kajian ini difokuskan pada kosakata tanaman petai dalam bahasa Sunda. Data yang digunakan berupa kosakata yang terkait dengan tanaman petai mulai kosakata pamelakan, pemeliharaan, perkembangan, hitungan, dan penjualan. Data dikumpulkan melalui studi lapangan di daerah Sumedang dengan teknik komunikasi langsung berupa wawancara. Data dianalisis dengan pendekatan etnolinguistik. Hasil analisis ditemukan kata peuneuy, petir, peuteuy sebagai kosakata pamelakan, Kata ngubaran sebagai kata dalam pemeliharaan. Pendul, pentil, ramakah, ngarumbay, mata bangkong, dan peuteuy sebagai kosakata perkembangan petai. Siki atau mata, papan , ranggeuy, jodo, geugeus dalam kosakata hitungan. Dan dalam kosakata penjualan ditemukan kata ditaksir dan ditalian.
LEKSIKON PANGANAN BERBAHAN SINGKONG: KASUS DI KOTA SUMEDANG Sunarni, Nani
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.204

Abstract

Kabupaten Sumedang pernah menjadi daerah sentra singkong. Bahkan sampai sekarang pun di wilayah ini masih terdapat banyak pabrik-pabrik pengolahan singkong. Masyarakat Sumedang tidak hanya menjadikan singkong sebagai bahan tapioka yang diolah di pabrik-pabrik, namun bagi masyarakat Sunda Sumedang singkong dapat menjadi bahan makanan pengganti nasi dan berbagai olahan makanan ringan. Berbagai varian makanan olahan singkong ini memiliki nama dan cara pengolahan. Kajian ini merupakan kajian kebahasaan yang terkait dengan budaya yang bertujuan mendeskripsikan bentuk lingual dari leksikon panganan berbahan singkong. Penelitian ini dilakukan mulai dari proses pengumpulan data, analisis data, dan penarikan simpulan. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kata berupa nama-nama panganan dancara pengolahan panganan berbahan singkong. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode survey dan wawancara yang dilanjutkan dengan teknik catat yaitu dengan mencatat kata-kata sebagai nama dan cara pengolahan panganan berbahan singkong. Data dianalisis dengan pendekatan struktural. Dari perspektif linguistik nama-nama olahan singkong dan cara pengolahan tersebut dapat dipandang sebagai leksikon. Berdasarkan analisis, bentuk linguistik tersebut merepresentasikan leksikon panganan dan leksikon cara pengolahan singkong. Secara bentuk, leksikon tersebut dapat diklasifikasikan menjadi leksikon yang terdiri atas kata tunggal sebagai morfem bebas, frasa, dan kata turunan ataukata jadian berstruktur di+nomina dan di+verba. Kata kunci: leksikon, singkong, sampeu, Sumedang
VARIAN KOSAKATA KULINER TRADISIONAL SUNDA BERBAHAN SINGKONG, TAHU, DAN ONCOM ( KASUS DI KOTA BANDUNG): VARIAN KOSAKATA KULINER TRADISIONAL SUNDA BERBAHAN SINGKONG, TAHU, DAN ONCOM ( KASUS DI KOTA BANDUNG) Sunarni, Nani
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.255

Abstract

Kota Bandung merupakan kota multikultur sebagai tujuan pariwisata yang populer dengan sebutan kota kuliner. Seiring dengan kebutuhan kuliner, produktivitas menu baru sangat tinggi dengan nama-namanya yang baru. Dari satu nama makanan  “tahu”  muncul kosakata lain seperti tahu gejrot, tahu hot jeletot, tahu isi, bakso tahu, bakso tahu goreng (batagor), tahu bulat, goreng tahu, pais tahu, tahu burintik,  kupat tahu, angeun tahu dll. Munculnya kosakata-kosakata tersebut merupakan cermin perkembangan budaya dan identitas masyarakat pemilik kosakata tersebut. Kajian ini merupakan kajian kebahasaan yang terkait dengan budaya yang bertujuan mendeskripsikan bentuk lingual dari jenis-jenis kosakata yang terkait dengan kuliner. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode survey yang dilanjutkan dengan teknik catat yaitu dengan mencatat kosakata-kosakata nama kuliner di kota Bandung. Data dianalisis dengan pendekatan struktural dan kultural (Riley, 2008). Hasil penelitian ini memberikan perspektif budaya dan identitas Sunda dalam memandang tata nama kuliner sebagai kajian antroponomenika.
Pelanggaran Maksim Kuantitas Mahasiswa Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran Fathnindhia, Khansa Azmilika; Sunarni, Nani; Sutami, Hermina
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51774

Abstract

The Chinese Language and Culture study program is one of the study programs at the Faculty of Cultural Sciences, Padjadjaran University. Students in this study program come from various regions in Indonesia, and they are studying a foreign language, namely Chinese. Therefore, this study aims to analyze violations of the cooperative principle in students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University. This study uses a descriptive-qualitative method. The researcher applies one major theory in analyzing this study, namely the Cooperative Principle theory proposed by Grice (1975). The subjects of this study were first-year students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University who acted as respondents and became data sources, while the objects of this study were the utterances produced by first-year students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University. The method used in data collection was the Discourse Completion Tasks (DCT) method, and the data analysis method used pragmatic and referential equivalent methods according to Sudaryanto's view (2015). Based on the results of the analysis, it shows that the violations of the cooperative principle that were often found were violations of the cooperative principle of the maxim of quantity. Abstrak Program studi Bahasa dan Budaya Tiongkok merupakan salah satu program studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, mahasiswa pada program studi tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka mengemban pendidikan untuk mempelajari bahasa asing, yaitu bahasa Tiongkok. Oleh karena itu, penelitian ini ini bertujuan untuk menganalisis pelanggaran prinsip kerja sama pada mahasiswa jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Peneliti menerapkan satu teori besar dalam menganalisis penelitian ini, yaitu teori Prinsip Kerja Sama yang dikemukakan oleh Grice (1975). Subjek penelitian ini menggunakan mahasiswa tingkat 1 jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran yang berperan sebagai responden dan menjadi sumber data, sedangkan objek penelitian ini adalah tuturan yang diproduksi oleh mahasiswa tingkat 1 jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan metode Discourse Completion Tasks (DCT), serta metode analisis data dengan menggunakan metode padan pragmatis dan referensial menurut pandangan Sudaryanto (2015). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pelanggaran prinsip kerja sama yang sering ditemukan adalah pelanggaran prinsip kerja sama maksim kuantitas yang paling sering ditemukan.
Relasi Emosi dan Kandōshi Kandō dalam Tindak Tutur Ekspresif Marah pada Drama Jepang Kontemporer The Queen of Villains Sumpena, Salsadila Hairulnisa; Sunarni, Nani; Ginanjar, Pika Yestia
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 13, No 3 (2025)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v13i3.136342

Abstract

This study aims to analyze the use of kandōshi kandō as a marker of the expressive speech act of anger in the Japanese drama The Queen of Villains by examining its forms, delineating its pragmatic functions, and investigating the patterns of inter-utterance relations that construct the emergence of anger expressions within the characters’ dialogues. The research employs a qualitative descriptive method using referential and pragmatic analytical approaches. The data were extracted from dialogue containing angry expressions and subsequently classified according to the forms of kandōshi kandō, their contexts of occurrence, and their pragmatic functions. The findings reveal six major forms haa, nanda, aa, ee, ou, and fuu each signaling a distinct nuance of anger, ranging from cynical rejection and angry surprise to belittlement, emotionally charged criticism, harsh prohibition, and contempt. The analysis further shows that all kandōshi kandō appear within dependent utterance chains (coupling), functioning as direct responses to triggering lines. In addition, their use is pragmatically egalitarian, the drama does not depict power dynamics through linguistic hierarchy, as both senior and junior characters express anger directly without mitigation, producing a pattern of conflictual equality rather than social dominance. These findings contribute to Japanese pragmatic studies by offering a detailed mapping of kandōshi kandō functions specifically within angry expressive acts an area that remains underexplored in prior research, which has tended to focus on anime, radio dramas, or classical performances.