Claim Missing Document
Check
Articles

KECERNAAN NUTRIEN RANSUM DENGAN KANDUNGAN PROTEIN DAN ENERGI BERBEDA PADA SAPI BALI DARA Valentina F. D.; I W. Suarna; N. N. Suryani
Jurnal Peternakan Tropika Vol 6 No 1 (2018): Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.749 KB)

Abstract

This study aims to determine the effect of different protein and energy level on nutrient digestibility of bali cattle heifers. This research has been conducted in Farm cattle at Belok Sidan village Petang District, Badung Regency for 3 months. A total of 12 bali cattle heifers used in this study were divided into three groups based on body weight. The treatments consisted of four types of rations, a ration containing 12% crude protein and 2000 kcal ME/kg (treatment A), 13% crude protein and 2100 kcal ME/kg (treatment B), 14% crude protein and 2200 kcal ME/kg (treatment C), and 15% crude protein and 2300 kcal ME/kg (treatment D). The experimental design used was a randomized block design (RCBD). The observed variables were dry matter digestibility, organic matter digestibility, crude protein digestibility, ether extract digestibility and crude fiber digestibility. The results showed that fed ration with different protein and energy content has not significant different (P>0.05) of digestibility of dry matter, organic matter and crude fiber respectively with with values ??of 65.77-71.17%; 67,57-72,60%; and 53.13-54.32%. While for variable of crude protein digestibility and extract ether digestibility, fed rations with different protein and energy content yielded significantly different values ??(P<0.05). Crude protein digestibility and ether extract ether digestibility of treatment D were 23,64% and 16,56% higher respectively than treatment A. Based on the result of this study it was concluded that the increase of protein content of ration from 12% to 15% and metabolized energy from 2000 to 2300 kcal/kg does not affect the digestibility of dry matter, organic matter and crude fiber, but can improve the digestibility of crude protein and ether extract of bali cattle heifers. Keyword: protein and energy, nutrient digestibility, bali cattle heifers
Konsumsi Nutrien, Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik Ransum Sapi Bali Di Posko Penampungan Ternak Desa Nongan Kabupaten Karangasem Dwipayana I K. B; N. N. Suryani; Mahardika I G.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erupsi gunung agung yang terjadi pada bulan Agustus sampai Desember 2017 menyebabkan banyak ternak sapi diungsikan. Hal ini menyebabkan kesulitan untuk mendapatkan pakan ternak yang berkualitas baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi nutrien, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik ransum ternak di posko penampungan ternak akibat erupsi gunung agung. Penelitian dilakukan dua tahap, yaitu tahap pertama survei lapangan untuk mengetahui jenis pakan yang diberikan dan tahap kedua dilakukan di laboratorium untuk mengetahui kecernaan pakan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kualitas ransum di posko penampungan ternak lebih baik dari sebelumnya. Konsumsi ransum, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik selama di penampungan lebih tinggi dari sebelum di penampungan. Kata kunci: konsumsi nutrien, kecernaan, bahan kering, kecernaan bahan organik, sapi bali.
KUALITAS SILASE KOMBINASI BATANG PISANG DENGAN KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea) BERDASARKAN UJI ORGANOLEPTIK Khristanta I M. D.T. A; N. N. Suryani; I W. Wirawan
Jurnal Peternakan Tropika Vol 8 No 1 (2020): Issue 8 No. 1 (2020)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.908 KB)

Abstract

The aim of this study was to determine the recommended level of Clitoria ternatea in terms of organoleptic test. This research was conducted at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Jl. Raya Sesetan, Markisa Alley, Denpasar. Organoleptic test was carried out at the Animal Nutrition and Feed Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. The study design was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. Treatment A (65% banana stem + 30% polar + 5% (molasses + EM4)), B (55% banana stem + 10% C. ternatea + 30% polar + 5% (molasses + EM4)), C (45 % banana stem + 20% C. ternatea + 30% polar + 5% (molasses + EM4)), D (35% banana stem + 30% C. ternatea + 30% polar + 5% (molasses + EM4)). The research variables were pH, NH3, VFA, fungus, texture, color, and odor. Study showed that the highest color and odor values were obtained in treatment D, while the fungus and texture variables were the highest in treatment A. Addition of C. ternatea with levels of 20% and 30% (treatments C and D) show significant difference can increase NH3 compared to treatments A and B. Concentration of NH3 in treatment D compared treatments A, B and C respectively 327,50%, 407,92% dan 62,86%. The pH and total VFA did not show any significant difference between all treatment. The results of this study can be concluded that 30% C. ternatea can improve silage quality both in terms of NH3 as well as organoleptic test likes color and texture. Keywords : silage quality, banana steams, Clitoria ternatea, organoleptic test
KECERNAAN NITROGEN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN SAPI BALI BUNTING 7 BULAN YANG DIBERI RANSUM DENGAN LEVEL ENERGI BERBEDA Bernika J.S.; Mahardika I G.; Suryani N N.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 3 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.293 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan nitrogen serta hubungannya dengan pertambahan bobot badan sapi bali bunting 7 bulan yang diberi  ransum dengan level energi berbeda. Penelitian dilaksanakan di Sentra Perbibitan Sapi Bali di Desa Sobangan selama 3 bulan. Penelitian ini menggunakan 12 ekor sapi bali bunting 7 bulan dengan bobot badan awal 300 kg ± 23,31. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok (RAK) 4 perlakuan dan 3 kelompok sebagai ulangan. Perlakuan yang diberikan terdiri atas ransum yang mengandung 2000 ME kkal/kg (Perlakuan A), 2100 ME kkal/kg (Perlakuan B), 2200 ME kkal/kg (Perlakuan C) dan 2300 ME kkal/kg (Perlakuan D).Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi konsumsi nitrogen, nitrogen feses, kecernaan nitrogen, dan pertambahan bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kandungan energi termetabolis ransum dari 2000 kkal/kg menjadi 2300 kkal/kg akan menurunkan kecernaan nitrogen dari 71,41 g/e/h (perlakuan A) menjadi 66,09 g/e/h (perlakuan D) namun secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini tidak ditemukan hubungan nyata antara pertambahan bobot badan dengan nitrogen tercerna pada sapi bali bunting 7 bulan yang diberi ransum dengan energi termetabolis (ME) antara 2000 – 2300 kkal/kg, hal ini ditunjukkan pada kurva linier dengan persamaan garis Y= 791,4 – 4,94X, dengan R2 = 0,068 (Y = pertambahan bobot badan ; X = nitrogen tercerna).
PENGARUH KOMPOSISI HIJAUAN DENGAN LEVEL KONSENTRAT YANG BERBEDA PADA RANSUM TERHADAP KOMPOSISI TUBUH DAN RETENSI NUTRIEN KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) Widnyana I.G; Suryani N.N; IK.M Budiasa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 2 No 3 (2014)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi hijauan dengan level konsentrat yang berbeda dalam ransum terhadap komposisi tubuh dan retensi nutrien kambing PE. Lokasi penelitian dilaksanakan di Teaching Farm Fakultas Peternakan, Universitas Udayana Kampus Bukit, Jimbaran. Penelitian dilakukan selama 3 bulan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan ransum dengan 3 kelompok berat badan ternak kambing sebagai ulangan. Peubah yang diamati adalah komposisi tubuh yakni kadar air tubuh, lemak tubuh, protein tubuh, dan retensi nutrien yakni retensi lemak, retensi protein, dan retensi energi. Komposisi tubuh ditentukan dengan cara sebaran ruang urea (Rule et al., 1986). Hasil penelitian menunjukkan kadar komposisi tubuh kambing PE yang diberi 15% rumput gajah + 20% jerami padi + 25% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat menunjukkan kadar air dan protein tubuh paling tinggi akan tetapi kadar lemak tubuhnya paling rendah, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05). Pada hasil kadar retensi nutrien menunjukkan pemberian ransum 15% rumput gajah + 20% jerami padi + 25% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat menunjukkan hasil retensi lemak, retensi protein, dan retensi energi paling tinggi, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05). Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian komposisi hijauan yang beragam dengan level konsentrat yang berbeda pada ransum tidak berpengaruh terhadap komposisi tubuh dan retensi nutrient kambing PE.
Pertumbuhan dan Produksi Rumput Axonopus Compressus, Stenotaphrum Secundatum, dan Paspalum Conjugatum pada Berbagai Level Biourin Mertaningsih N. P. L.; N. N. Suryani; M. A. P. Duarsa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi rumput Axonopus compressus, Stenotaphrum secundatum, dan Paspalum conjugatum pada berbagai level biourin. Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola split plot. Faktor pertama (main plot/petak utama) adalah jenis rumput yaitu Axonopus compressus (R1), Stenotaphrum secundatum (R2) dan Paspalum conjugatum (R3). Faktor kedua (sub plot/anak petak) adalah perlakuan level biourin yaitu: tanpa biourin (B0), biourin 2000 l/ha (4 ml/4 kg) (B1), biourin 4000 l/ha (8 ml/4 kg) (B2), biourin 6000 l/ha (12 ml/4 kg) (B3). Dari faktor tersebut terdapat 12 unit perlakuan yang diulang sebanyak empat (4) kali sehingga terdapat 48 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, produksi dan karakterstik tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari jenis rumput berbeda nyata (P<0,05) pada variabel panjang tanaman, berat kering batang dan luas daun, tetapi berbeda tidak nyata (P>0,05) pada variabel jumlah daun, jumlah anakan, berat kering daun, berat kering akar, berat kering total hijauan, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang, dan toop root ratio. Perlakuan pemberian level biourin berbeda nyata (P<0,05) pada semua variabel kecuali berat kering batang, berat kering akar, berat kering total hijuan dan toop root ratio. Dapat disimpulkan bahwa rumput Stenotaphrum secundatum memberikan respon pertumbuhan dan produksi tertinggi dibandingkan dengan rumput Axonopus compressus dan Paspalum conjugatum. Level biourin 6000 l/ha (12 ml/4 kg) cenderung lebih tinggi dalam memberikan pertumbuhan dan produksi rumput lokal. Tidak terjadi interaksi antara jenis rumput lokal dengan bebagai level biourin. Kata kunci: jenis rumput, level biourin, pertumbuhan, produksi
Rumen Fermentation and Microbial Protein Synthesis of Bali Cattle Heifers (Bos sondaicus ) Fed Ration Containing Different Energy Protein Level N. N. Suryani; I. W. Suama; I. G. Mahardika; N.P. Sarini
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.2.187-194

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of energy and protein levels on rumen fermentation, microbial protein synthesis of Bali cattle heifers. The study was conducted in Petang Village, Badung Regency, Province of Bali Indonesia on 12 Bali cattle heifers with initial body weight 193,67 ± 22,55 kg/head. The treatment given is four types of ration consists of different level of metabolizable energy (ME) and crude protein (CP): ME 2051.41 kcal/kg: 12.04% CP (Treatment A); ME 2107.79 kcal/kg : 13.05% CP (Treatment B); ME 2194.06 kcal/kg : 14.04% CP (Treatment C) and ME 2294.23 kcal/kg : 15.09% CP (Treatment D). Variables measured: nutrient intake, rumen fermentation, microbial protein synthesis and growth performance of Bali cattle heifer age of 18 month. This research was a randomized block design. The results showed that increase in ME to 2294.23 kcal /kg and 15.09% CP significantly (P <0.05) increased energy intake to 17,880.57 kcal /day and protein intake 686.56 g /day. Rumen fermentation was also highest (P <0.05) in treatment D seen from total VFA, propionic acid and butyric acid respectively 170.32 mMol, 28.52 mMol and 13.70 mMol. While acetic acid, methane and NGR significantly decreased (P <0.05) respectively 57.77 mMol, 18.38 mMol and 3.07. This resulted in the highest rumen microbial protein synthesis in treatment D which was 562.06 g / day so that it was able to produce the highest ADG too, which was 0.42 kg /day. This study concluded that giving rations containing ME 2294.23 kcal /kg and 15.09% CP increased rumen fermentation and microbial protein synthesis, resulting in the highest growth compared to lower levels.
Suplementasi Tepung Jagung Dalam Ransum Meningkatkan Kualitas Daging Sapi Bali Ni Nyoman Suryani; I Wayan Suarna; I Gede Mahardika; Ni Putu Sarini
Bali Membangun Bali: Jurnal Bappeda Litbang Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Bali Membangun Bali, Volume 1, Nomor 2, Agustus 2020
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.595 KB) | DOI: 10.51172/jbmb.v1i2.114

Abstract

Tujuan: Studi ini dilaksanakan untuk mengoptimalkan produktivitas sapi bali sehingga mampu menghasilkan daging dengan kualitas yang baik. Metode penelitian: Percobaan menggunakan perlakuan yang terdiri atas: Perlakuan A: Sapi yang diberikan pakan rumput gajah + konsentrat 1,5% dari berat badan; Perlakuan B: Sapi yang diberikan pakan rumput gajah + 1,5% konsentrat dari berat badan dan 1 kg tepung jagung; Perlakuan C: Sapi yang diberikan pakan rumput gajah + konsentrat 1,5% dari berat badan dan 1,5 kg tepung jagung; dan Perlakuan D: Sapi yang diberikan pakan rumput gajah + konsentrat 1,5% dari berat badan dan 2 kg tepung jagung. Pakan konsentrat diberikan dua kali pada pagi dan sore hari, sedangkan pakan hijauan diberikan dalam keadaan segar setelah diberikan pakan konsentrat. Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase karkas hasil penelitian ini cukup tinggi yakni mencapai 55%, susut masak daging sapi berkisar antara 33,27 – 35,49. Ada kecenderungan meningkatnya daya ikat air dan menurunnya susut masak. Warna, keempukan, dan citarasa daging sapi bali hasil penelitian ini lebih disukai dibandingkan daging sapi import maupun sapi lokal yang dibeli di pasaran. Implikasi: Sapi bali adalah salah satu komuditas unggulan Provinsi Bali. Kualitas daging sapi bali sampai saat ini masih memerlukan upaya peningkatan. Kualitas daging sapi bali yang dipelihara dengan manajemen yang baik, secara fisik dan hedonik tidak berbeda dengan daging sapi import.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha YANG DIPUPUK DENGAN LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DITAMBAH KAPUR DAN SERBUK GERGAJI Kwarta A. P.; N. G. K. Roni; N.N Suryani
Jurnal Peternakan Tropika Vol 10 No 3 (2022): Vol. 10 No. 3 Tahun 2022
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha yang dipupuk dengan limbah rumah potong hewan (RPH) yang ditambah kapur dan serbuk gergaji. Penelitian telah dilakukan di rumah kaca, Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana di Jalan Raya Sesetan Gang Markisa selama 8 (delapan) minggu, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan dan 7 (tujuh) ulangan sehingga terdapat 28 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah dosis pupuk limbah rumah potong hewan yang ditambah kapur dan serbuk gergaji yang terdiri dari: 0 ton ha-1, 10 ton ha-1, 20 ton ha-1 dan 30 ton ha-1. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk limbah rumah potong hewan yang ditambah kapur dan serbuk gergaji belum mampu meningkatkan pada variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh. Dosis 20 ton ha-1 menghasilkan rataan tinggi tanaman sebesar 33,81 cm, jumlah daun sebesar 69,29 dan jumlah cabang sebesar 20,00 cenderung paling tinggi dibandingkan dosis 0 ton ha-1, 10 ton ha-1 dan 30 ton ha-1. Perlakuan dosis 20 ton ha-1 pada berat kering total hijauan menunjukkan rataan paling tinggi sebesar 2,21 g, dan perlakuan dosis 10 ton ha-1 pada nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar menunjukkan rataan paling tinggi yaitu sebesar 0,88 g. Disimpulkan bahwa pemberian pupuk limbah rumah potong hewan yang ditambah kapur dan serbuk gergaji belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Kata kunci : Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha, hasil, pertumbuhan, pupuk Organik
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN (RPH) TERFERMENTASI EM4 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN Asystasia gangetica PADA KADAR AIR TANAH YANG BERBEDA Bachtiar M. W.; N. N. Suryani; M. A. P. Duarsa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 10 No 3 (2022): Vol. 10 No. 3 Tahun 2022
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis pupuk limbah rumah potong hewan (RPH) terfermentasi EM4 dan kadar air tanah yang berbeda serta pengaruh masing – masing faktor terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca, Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana di Jalan Raya Sesetan Gang Markisa. Penelitian ini berlansung selama 3 bulan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk : dosis 0 ton/ha (D0), dosis 10 ton/ha (D10), dosis 20 ton/ha (D20) dan dosis 30 ton/ha (D30). Faktor kedua terdiri kadar air tanah yaitu: kapasitas lapang 50% (KL50%), kapasitas lapang 75% (KL75%) dan kapasitas lapang 100% (KL100%). Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan memiliki tiga kali ulangan, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara dosis pupuk limbah rumah potong hewan terfermentasi EM4 dan kadar air tanah pada semua variabel. Pada faktor dosis pupuk limbah rumah potong hewan (RPH) terfermentasi EM4 cenderung menunjukkan hasil tertinggi pada pemberian dosis 10 ton/ha (D10) dan tidak ada perbedaan nyata pada semua variabel kecuali nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Kadar air tanah menunjukkan hasil tertinggi pada pemberian kapasitas lapang 100% (KL100%) dan terdapat perbedaan nyata pada semua variabel kecuali nisbah berat kering daun dengan berat kering batang dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi perlakuan antara dosis pupuk limbah rumah potong hewan terfermentasi EM4 dengan kadar air tanah berbeda terhadap variabel (pertumbubuhan tanaman, hasil dan karakteristik tumbuh), perlakuan dosis pupuk limbah RPH terfermentasi EM4 belum mampu mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica, tetapi dosis 10 ton/ha cenderung menunjukkan hasil tertinggi dan perlakuan kadar air KL100% memberikan respon terbaik dalam mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica. Kata kunci : Asystasia gangetica, kadar air, pupuk, pertumbuhan
Co-Authors A. A. OKA A. W. Puger Ade Kiki Sintya Dewi Anak Agung Ayu Sri Trisnadewi Apsari, Anak Agung Putri Hartini Astrini N. K. M. S Bachtiar M. W. Bernika J.S. Budiono, Wahyu Galang Correia, Lígia Tomás Deswanto . Dewa Made Adnyana Dewi O. Dhany K.G Dharmayanti, Putu Ayu Paramita Dini Oktaviani Dwipayana I K. B Farida Hanum G. L. O. Cakra Gabrella T.D.V.F Gde Bayu Surya Parwita Gde Bayu Surya Parwita Gede Puspa Gusti Ayu Intan Mas Dewi Hariyanto D.N. Hendriana P. P. Y. I G. Lanang Oka Cakra I Gede Mahardika I Ketut Mangku Budiasa I KETUT MANGKU BUDIASA I Ketut Setia Sapta I M. Mudita I Made Saka Wijaya I Nengah Sujaya I Putu Andre Japani Satya Saputra I PUTU ARI ASTAWA I Putu Gede Didik Widiarta I Wayan Suarna I Wayan Widnyana I WAYAN WIRAWAN I. W. Suama I.G. Mahardika Ida Ayu Okarini Ida Bagus Gaga Partama Juliarta I K. Kartikasari D KETUT SULANDRA Khristanta I M. D.T. A Kwarta A. P. L. Doloksaribu Lígia Tomás Correia Lisandy M. A. R. Made Dewantari Magna Anuraga Putra Duarsa Mertaningsih N. P. L. Mirayanti, Ni Kadek N N.C. Kusumawati N. P. P. Wijayanti Nasrullah H. I. Ni Gusti Ketut Roni Ni Kadek Tiara Cahyani Permata Sari Ni Luh Ayu Suryanti Ni Luh Gde Sumardani Ni Made Witariadi Ni Nyoman Ari Novarini Ni Putu Ayu Swandewi NI PUTU MARIANI Ni Putu Mega Andini Ni Putu Pandawani Ni Putu Sarini Ni Putu Sarini Ni Wayan Eka Mitariani Oka A.A Parwata I N.A Pirayanti, Luh Putu Diah Prami, Anak Agung Anggita Pramiti, Ni Koming Pramusinto F.D Putu Ayu Paramita Dharmayanti Putu Ayu Sari Novita Dewi Ranti M.A.D Riani, Winda Desta S. Putra Saifullah R. S. Saputra, I Kadek Andre Saragih K. Sentana Putra Sio Stefanus, Sio Sri Anggreni Lindawati Sudarmin B. F. Tungga I. C. Upeksa I G.N.D Valentina F. D. Virangga, Komang Wibawa IM.S.P Widnyana I.G