Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI DAN EVALUASI EKSISTENSI RUANG TERBUKA DI KECAMATAN WENANG KOTA MANADO Longaris, Sendy; Rogi, Octavianus H.A.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Wenang adalah salah satu kecamatan di Kota Manado yang memiliki tingkat kepadatan bangunan tinggi serta sudah tidak memiliki ketersediaan lahan efektif lagi (ditinjau dari tabel ketersediaan lahan efektif di wilayah kota Manado, Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado tahun 2014-2034). Lokasi Kecamatan Wenang yang berada tepat di pusat kota yang menjadi pusat dari segala aktivitas masyarakat kota Manado baik aktivitas perdagangan, usaha, dan lain-lain. Sehingga terdapat banyak lahan terbangun di kecamatan Wenang. Hal ini menjadi masalah terhadap ketersediaan ruang terbuka sebagai tempat bertemu, berkumpul dan berinteraksi antara satu sama lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi eksistensi ruang terbuka serta mengevaluasi ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Wenang Kota Manado berdasarkan Permen PU no. 5 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan berdasarkan luas wilayah yaitu minimal 30%, sementara berdasarkan jumlah penduduk menyesuaikan tabel penyediaan yang ada. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif menggunakan teknik analisis dialog deskriptif yaitu mendialogkan hasil data lapangan dengan menyesuaikan teori-teori yang ada, serta metode kuantitatif menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis data ini diolah menggunakan aplikasi ArcGIS untuk membuat peta sebaran, jenis, serta tipe kepemilikan ruang terbuka. Dari hasil output peta akan dihitung jumlah ketersediaan ruang terbuka. Maka hasil evaluasi yang diperoleh ketersediaan ruang terbuka berdasarkan luas wilayah masih kekurangan, dari luas wilayah Kecamatan Wenang 368.78 ha hanya terdapat 47.63 ha yang terdiri dari 39.37 ha RTH publik dan 8.26 ha RTH privat. Jika di persentasekan RTH di Kecamatan Wenang hanya memiliki luas 12.91% sementara di standar penyediaan harusnya minimal 30%. Untuk standar berdasarkan jumlah penduduk masih memiliki banyak kekurangan karena tidak tersedianya ruang terbuka berdasarkan tipe taman RT, taman RW dan Taman Lingkungan. Namun di sisi lain ada tipe taman kecamatan yang sudah terpenuhi ketersediaannya yakni seluas 3.49 ha dari standar 0.6 ha per unit.Kata Kunci: Ruang Terbuka, Ruang Terbuka Hijau, Ruang Terbuka Non Hijau.
PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA HIJAU DI PULAU SULABESI, KABUPATEN KEPULAUAN SULA Djalil, Soepratman Abd; Takumansang, Esli D.; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata di Pulau Sulabesi Kabupaten Kepulauan Sula merupakan wisata kepulauan yang masih baru di kembangkan, sehingga Peratuan Pemerintah Kabupaten tentang perencanaan dan penataan kawasan wisata belum maksimal juga tertata dengan baik, padahal wisata kepulauan ini memiliki aspek keindahan dan nilai ekonomi yang besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula. Perencanaan Pengembangan yang baik dengan mengutamakan lingkungan diharapkan dapat bermanfaat bukan hanya saat ini tapi di masa yang akan datang. Berdasarkan latar belakang maka masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu Bagaimana perencanaan pengembangan pariwisata daerah di Pulau Sulabesi dengan pendekatan Pariwisata Hijau. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk Menganalisis perencanaan pengembangan pariwisata daerah di Pulau Sulabesi dengan pendekatan Pariwisata Hijau, adapun manfaat hasil penelitian dapat digunakan sebagai rujukan untuk perencanaan pengembangan kawasan pariwisata di Pulau Sulabesi. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Metode analisis mengunakan analisis SWOT dan Perencanaan ada beberapa strategi perencanaan lainnya. Hasil Penelitian berdasarkan matriks SWOT diketahui faktor internal, faktor eksternal dan faktor internal yaitu ; Wisata Mangrove Kecamatan Sanana Utara, Wisata kebudayaan dln.  Beberapa faktor ekstenal yaitu ; Pengelolaan limbah yang belum baik, Infrastuktur pariwisata belum baik dln. Hasil penelitian lainnya ialah infrastuktur pariwisata masih kurang seperti jaringan energi listrik, jaringan telekomunikasi dan jalur transportasi yang hanya bisa diakses melalui jalur laut dan darat.Kata Kunci: Perencanaan Pengembangan Kawasan Pariwisata Hijau, Pariwisata Hijau
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN DI PULAU SULABESI KABUPATEN KEPULAUAN SULA Duwila, Rifandi; Tarore, Raymond Ch.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Sulabesi mengalami pembangunan yang cukup pesat dari tahun ke tahun. Dalam perkembangan ini tidak terlepas dari kebutuhan lahan yang akan terus meningkat, sehingga kawasan lindung bisa terancam alih fungsi menjadi lahan terbangun. penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kelas kemampuan lahan, dan menentukan pemanfaatan lahan sesuai dengan kelas kemampuan lahan di Pulau Sulabesi, untuk mencapai tujuan tersebut di lakukan penelitian dengan cara pengambilan data sekunder kepada instansi pemerintah terkait yaitu Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kepulauan Sula, data yang diambil diantaranya: Peta curah hujan, peta topografi, peta geologi, peta kemiringan lereng, peta bencana alam, peta penggunaan lahan, peta Morfologi. Teknik analisis kemampuan lahan yakni dilakukan dengan memasukkan data dari hasil analisis satuan kemampuan lahan yang kemudian dilakukan dengan teknik overlay. Proses analisis ini juga dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografis) ArcGis 10.5. Menurut Pedoman PU No 20 tahun 2007 yang telah di tetapkan bobotnya setiap SKL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelas kemampuan lahan di Pulau Sulabesi terdiri dari lima kelas yaitu kelas A, B, C, D, dan E. Kelas kemampuan lahan terluas terdapat pada kelas C dengan luasan 40670,2 Ha (74,25%) sedangkan pemanfaatan lahan pada kemampuan lahan terluas terdapat pada hutan rimba dengan luasan 32.717,9 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa 74,25% dari luasan Pulau Sulabesi berada pada Kelas c yang artinya adalah kemampuan lahan sedang atau di kategorikan sebagai kawasan pemanfaatan sedang. Kata kunci: Pulau Sulabesi, Kemampuan Lahan, Sistem Informasi Geografis, Pemanfaatan Lahan
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN FASILITAS SOSIAL DI KOTA KOTAMOBAGU Rumengan, Michael Rinaldi Clipper; Kindangen, Jefrey I.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk yang begitu besar di Indonesia sering terjadi pada suatu wilayah perkotaan, semakin besar pertumbuhan dan jumlah penduduk tentu harus diikuti dengan penambahan berbagai fasilitas sosial yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan sekitarnya. Di Kota Kotamobagu memiliki laju pertumbuhan penduduk relatif meningkat, bertambahnya jumlah penduduk maka ketersediaan fasilitas sosial juga harus memenuhi kebutuhan penduduk yang ada. Karena menurut Golany (1976) apabila diantara mereka yang mencari fasilitas diluar pemukiman padahal fasilitas tersebut fungsinya sama, maka disimpulkan bahwa fasilitas yang tersedia tidak dapat menjawab kebutuhan mereka. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan mengidentifikasi eksisting sebaran fasilitas sosial dan menganalisis kebutuhan fasilitas sosial di Kota Kotamobagu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis ketersediaan dan kebutuhan fasilitas sosial menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI 03-1733-2004), analisis proyeksi menggunakan rumus geometrik serta analisis spasial berupa teknik buffer (radius) dengan menggunakan software (SIG) sistem informasi geografis. Hasil penelitian dapat mengetahui sebaran eksisting fasilitas sosial di Kota Kotamobagu yang tersedia berupa 229 fasilitas pendidikan, 163 fasilitas kesehatan, 189 fasilitas peribadatan yang tersebar dikategorikan sudah terpenuhi, kebutuhan fasilitas sosial di Kota Kotamobagu dilihat dari pola persebaran fasilitas sosial berdasarkan indeks tetangga terdekat yang tersebar membentuk pola persebaran acak dan mengelompok mengikuti atau berdekatan dengan pemukiman. Analisis proyeksi pertumbuhan penduduk ditahun mendatang dan peta buffer (radius jangkauan) tiap sarana dibuat untuk mengetahui tingkat kebutuhan fasilitas di Kota Kotamobagu.Kata Kunci : Pertumbuhan Penduduk, Fasilitas Sosial, Radius Pelayanan.
GALERI KAIN BENTENAN DI MANADO (ARCHITEXTILES) Soegiarto, Eko; Tinangon, Alvin J.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kain Bentenan merupakan kain khas suku Minahasa yang pernah ditenun sejak abad ke 18. Seiring berjalannya waktu, keberadaan kain Tenun Bentenan mulai langka. Hingga awal abad ke 20, di daerah asalnya Kain Bentenan sudah hampir tidak bisa ditemukan lagi. Berangkat dari keprihatinan inilah, Galeri Kain Bentenan di Manado dihadirkan sebagai wadah untuk melestarikan kembali keberadaan Kain Bentenan sebagai kain khas Sulawesi Utara khususnya suku Minahasa. Upaya pelestarian dilakukan dengan menghadirkan Galeri yang bersifat informatif, dimana fungsi dari galeri ini bukan hanya sekedar ruang pamer melainkan adanya proses pembuatan Kain Bentenan berupa workshop dan berbagai fasilitas penunjang lainnya. Kegiatan perancangan ini menggunakan Tema Architextiles yaitu sebuah strategi desain yang menerapkan beberapa aspek tekstil dalam arsitektur antara lain : bagian, sifat, tekstur, dan material, yang diaplikasikan kedalam bentuk, ruang, tampilan maupun ide-ide arsitektural lainnya. Perancangan Galeri Kain Bentenan dengan mengusung tema diatas menghasilkan desain yang unik dimana bentukan massa bangunan dibuat saling mengikat berdasarkan perwujudan dari proses tenun Kain Bentenan yang ditenun dengan teknik double ikat. Sirkulasi ruang dalam memberikan kesan dinamis yang bersifat interaktif, hal ini diperoleh dari sifat daripada benang yang memiliki makna filosofis sebagai sebuah ruang yang mengalir.Dari segi tampilan bangunan, konsep selubung bangunan menggunakan konsep rajutan benang yang dirajut secara zigzag secara berulang-ulang dengan mempertimbangkan keseimbangan antara dinding dan kaca. Diharapkan dengan penggunaan strategi desain diatas, Galeri Kain Bentenan ini akan memiliki tampilan yang unik dan membawa sejumlah terobosan baru dalam dunia arsitektur. Kata Kunci : Kain Bentenan, Galeri, Manado, Architextiles
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN SORONG Da Costa, Alarico; Mononimbar, Windy; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Distrik Aimas di Kabupaten Sorong merupakan salah satu Distrik yang kondisi lahannya harus diperhatikan karena merupakan wilayah yang makin berkembang salah satunya adalah permukiman. Kondisi fisik lahan di Distrik Aimas sangat bervariasi mulai dari morfologi bergunung dan kemiringan lereng yang curam oleh karena itu perlu dianalisis kemampuan dan kesesuaian lahan untuk pengembangan permukiman yang ada di Distrik Aimas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis data menggunakan pedoman Permen PU No.20/PRT/M/2007 tentang teknik analisis fisik dan lingkungan, ekonomi serta sosial budaya dalam penyusunan tata ruang. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik superimpose/overlay (tumpang tindih) dan analisis skoring untuk pemberian nilai setiap parameter. Tahap analisis ini ialah menggabungkan setiap parameter SKL untuk mendapatkan satuan kemampuan lahan setelah mengetahui daya dukung suatu lahan, selanjutnya digabungkan berdasarkan aspek kesesuaian lahan untuk mendapatkan arahan yang sesuai untuk permukiman. Dari hasil analisis yang dilakukan pada aspek arahan tata ruang pertanian, arahan rasio penutupan, arahan ketinggian bangunan, arahan pemanfaatan air baku, dan perkiraan daya tampung lahan bahwa kesesuaian lahan permukiman di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, memiliki 4 kelas kesesuaian lahan permukiman yaitu Kelas N2, Kelas N1, Kelas S2, Kelas S1. Kelas N2 yakni lahan tidak sesuai untuk permukiman dan tidak ada permukiman, Kelas N1 yakni lahan tidak sesuai untuk permukiman tetapi pada saat ini sudah ada permukiman, Kelas S2 yakni lahan sesuai untuk permukiman tetapi tidak ada permukiman dan Kelas S1 yakni lahan sesuai untuk permukiman dan pada saat ini sudah terbangun permukiman. Kelas kesesuaian lahan yang mendominasi di Distrik Aimas adalah Kelas N2.Kata Kunci: Kabupaten Sorong, kesesuaian lahan, permukiman.
PERENCANAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT PADA KAWASAN KHUSUS KONSERVASI PENYU DI DESA LAMANGGO KABUPATEN SITARO (STUDI KASUS : DESA LAMANGGO) Buangsampuhi, Ria; Egam, Pingkan P.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencaanaan Pariwisata berbasis masyarakat pada kawasan khusus konservasi penyu merupakan program Pelestarian sekaligus menjadi wadah pendidikan untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari suatu pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengidentifikasi Potensi sumber daya lain serta mengetahui peran masyarakat terhadapat pariwisata yg ada. (2) Startegi perencanaan wisata kawasan penyu berbasis masyarakat di desa Lamanggo. Pariwisata di Kecamatan Biaro desa Lamanggo ini tergolong masih baru dan belum terekspos oleh wisatawan, karna pemerintahan daerah setempat masih dalam usaha Perencanaan pariwisata. Kecamatan Biaro menjadi salah satu destinasi pariwisata Kabupaten Sitaro. Desa Lamanggo khususnya Pantai Bira Menjadi lokasi Kawasan khusus Konservasi penyu. Penelitian ini menggunakan Metode Analisis SWOT . Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu : Empat (4) Potensi Pariwisata selain Kawasan Konsrvasi yaitu: (a).Pemandangan jalan Lamanggo, (b).Batu Kuda, (c).Spot Diving, (d).Gugusan Pulau-pulau. Strategi perencanaan dilakukan pengembangan Program yaitu : (A) Partisipasi masyara-kat melalui pariwisata, (B) Peningkatan kesadaran peran masyarakat, (C) Upaya pengelolaan wisata, (D) Pengembangan Kelembagaan.Kata kunci: Pariwisata, pariwisata berbasis masyarakat, konservasi, Konservasi penyu, desa Lamanggo
GEDUNG LATIHAN DAN PERTUNJUKANPADUAN SUARA DI MANADO Bawembang, Fransisca J.; Siregar, Frits O. P.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi pelaku seni paduan suara dari berbagai usia meningkat drastis dari tahun ke tahun, dibuktikan dengan lahirnya berbagai kelompok sanggar, Paduan Suara Mahasiswa, dan Paduan Suara Gerejawi. Jumlah kelompok paduan suara di dunia semakin hari semakin bertambah dengan kebutuhan yang meningkat pula. Paduan suara adalah seni bernyanyi secara kelompok dengan memadukan lebih dari satu jenis dan warna suara manusia. Pesatnya perkembangan paduan suara berdampak baik bagi pelaku aktifitas seni ini karena bernyanyi adalah suatu kegiatan positif yang selayaknya didukung dan difasilitasi. Kebutuhan yang paling mendasari aktifitas seni ini mengacu pada teknis dan non teknis. Secara teknis, pelatihan adalah yang terpenting, dan membutuhkan wadah untuk berlatih secara non teknis. Seni paduan suara tidak akan pernah dinikmati jika tidak ditampilkan dalam suatu bentuk pertunjukan. Inilah yang membuat paduan suara istimewa, karena semua hal yang berbau seni identik dengan show. Sebagai kota yang sedang berkembang dari berbagai sektor termasuk seni dan kebudayaan, Manado memiliki potensi yang terbilang unggul dari kota-kota lainnya di Indonesia dalam hal menggali bakat bernyanyi, apakah itu individual maupun berkelompok seperti vocal group dan/atau paduan suara. Sebagai ‘sarang paduan suara’ di Indonesia, Manado menjadi unik dan menarik. Semakin lengkap rasanya karena didukung penuh oleh pihak Pemerintah dalam menjadikan seni paduan suara sebagai aset Kota. Perancangan wadah untuk memfasilitasi aktifitas seni paduan suara di Manado merupakan tujuan dari perpaduan geometri dan teknologi yang mengacu pada tema simbiosis. Merasa tetantang dengan konsep perancangan tematik, perancang berinovasi dengan objek perancangan konseptual yang merupakan kebutuhan yang paling dicari di Kota saaat ini, sehingga dalam kajian ini mampu menghadirkan Gedung Latihan dan Pertunjukan Paduan Suara di Manado seperti yang dimaksud. Kata kunci : Paduan Suara, Simbiosis Latihan–Pertunjukan
GEDUNG PEMUDA DI MANADO (ART AND DESTRUCTION) Manorek, Heski; Tinangon, Alvin J.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meskipun sudah ada beberapa bangunan yang diperuntukan untuk generasi muda di kota Manado, namun pada kenyataannya bangunan yang sudah ada belum bisa menarik perhatian para pemuda untuk datang dan melakukan kegiatan positif di tempat tersebut. Sehingga karena keadaan, banyak dari generasi muda yang lebih memilih untuk berkumpul dan berekreasi di mall atau bahkan mabuk-mabukan di lorong-lorong. Situasi ini adalah suatu bentuk penyaluran hasrat kaum muda dalam pergaulan dan bagian dari proses pencarian jati diri. Melalui pembangunan Gedung Pemuda yang memiliki konsep kekinian dengan menerapkan tema “Art And Destruction” serta didukung oleh lokasi yang berada di dekat tempat berkumpulnya para pemuda, secara tidak langsung kita dapat menggiring para generasi muda dalam pembentukan karakter mereka ke arah yang lebih baik. Kata Kunci : Pemuda, Seni, Kehancuran, Karakter
MALL AGRIKULTUR DI TOMOHON, Green Architecture Bonde, Christiana P.; Tondobala, Linda; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 9, No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha untuk meningkatkan kualitas perekonomian dan rekreasi akan semakin bersinergi apabila dilakukan sejalan dengan pelestarian alam dan potensi mata pencaharian penduduk daerah tersebut. Kota Tomohon identik dengan budaya bercocok tanam, serta memiliki iklim yang mendukung. Penduduk Kota Tomohon mayoritas petani bunga dan sayur hingga buah – buahan. Perkembangan kota Tomohon secara fungsional sebagai pusat pelayanan dari wilayah sekitarnya, menuntut untuk kota ini memiliki pusat perekonomian serta rekreasi yang melayani kebutuhan masyarakat. Kecamatan Tomohon Tengah melalui beberapa kriteria, terpilih sebagai lokasi diselenggarakannya objek Mall Agrikultur, yang merupakan pengadaan gabungan sifat kegiatan sebagai wadah perekonomian dan rekreasi yaitu; mall, sebagai fasilitas perdagangan yang mewadahi budaya mata pencaharian penduduk Kota Tomohon yakni; pertanian / agrikultur yang dilengkapi dengan unsur rekreasi. Sinergitas antara perdagangan dan agrikultur digabungkan dalam perancangan dengan tujuan dapat selain memberi timbal balik, baik bagi pelestarian budaya dan alam daerah serta meningkatkan potensi ekonomi daerah juga mengangkat identitas Kota Tomohon. Green Architecture atau Arsitektur Hijau dipilih sebagai konsep tema objek rancangan dengan tujuan mengajak masyarakat peduli lingkungan dengan desain yang ramah lingkungan, meminimalkan pemakaian energi dan berkontribusi dalam meminimalisir pemanasan global. Hal ini sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu lebih ekonomis dan semakin bersinergi dengan ciri lokasi hingga tujuan objek rancangan.Kata Kunci: Agrikultur, Mall, Arsitektur Hijau, Rekreasi Pertanian Modern
Co-Authors Adrian Jacobus Aldwin F. Lompoliuw Alvin J. Tinangon Alvin J. Tinangon Andy M. Malik Aristotulus E. Tungka Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Artahsasta B. P. Binilang, Artahsasta B. P. Bonde, Christiana P. Brawid Sutrisno, Brawid Buangsampuhi, Ria Ch. Tarore, Raymond Christanty Srirejeki Christhalia D. P. Pilat Christiana P. Bonde Christie G. Tooy Christofel Jacob Claudia S. Punuh Cynthia E. V. Wuisang Da Costa, Alarico David Singal Deofishart Ch. Waleleng Desriyati H. Folasimo Djalil, Soepratman Abd Duwila, Rifandi Dwight M. Rondonuwu Eko Soegiarto, Eko Faizah Mastutie Febrian Rumambi Fela Warouw Fella Warouw Ferdinand Sagisolo Firstnoel N. Wowor Fransisca J. Bawembang Frits O. P. Siregar Frits O. P. Siregar Hendriek H. Karongkong Imanuel H. A. Kawahe Indradjaja Makainas Ingerid L. Moniaga Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Joseph Rengkung Judy O. Waani Jufri H. Rompas Julianus A. R. Sondakh Julianus A. R. Sondakh Julianus A.R. Sondakh Juneyver Lemeng Juningsih T. A. Karaeng Kandouw, Sheren Gloria Kasawuri Y. A. L. F Wuritimur Kerin M. Karisoh Lakat, Ricky M. S. Laras Pitaloka, Dyah Leidy M. Rompas Leon S. P. Kondoy Leonardy V. Wuaten Linda Tondobala Linda Tondobala Longaris, Sendy Loudy M.B. Kalalo Lucy J. Wagey Manorek, Heski Maulana S. Sumaryono Meytti Y. Sabarofek Missah, Rizkyanto Efraim Monica C. K. Tanod Nissia E.M. Kaunang Octavianus Hendrik Alexander Rogi Orlando R. Rombon Oscar V. Tatengkeng Patrycia A. J. Sandil Peggy Egam Pialandang, Vilia G. S. Pierre H. Gosal Pingkan P. Egam Rahmat Qadri Adipu Raymond Ch. Tarore Raymond Ch. Tarore Reksy Ch. Sambuaga Rendi W. Trajuman Ricky M. S. Lakat Ricky S. M. Lakat Rieneke L. E. Sela Rikha C. Sinampu Ririn E. V. Sembiring Roosje J. Poluan Rumambi, Febrian Rumengan, Michael Rinaldi Clipper Runita Rasyid Sonny Tilaar Steven Lintong Stevi Buloglabna Surijadi Supardjo Surijadi Supardjo Suryono Sutrisni Napu, Sutrisni Umamit, Praditia Supanji Uniplaita, Andre E. Watuseke M. Meylita Windy Mononimbar Woy, Tesalonika Miranda Yakobus Sumallea, Yakobus Yosua Tangkere Zefanya Saerang