Claim Missing Document
Check
Articles

PANTI WERDHA DI BITUNG. Arsitektur Tropis Pendekatan Kenyamanan Thermal Pilat, Christhalia D. P.; Supardjo, Surijadi; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23695

Abstract

Acuan perancangan ini bertujuan : (1) Menganalisis Kebutuhan dan Kegiatan Lansia di Panti Werdha, (2) Menganalisis Arsitektur Tropis dengan Pendekatan Kenyamanan Thermal dalam Arsitektur, (3) Menganalisis kebutuhan dan besaran ruang, sistem struktur, dan utilitas bangunan yang akan dimanfaatkan dalam Panti Werdha.Untuk menciptakan suatu wujud dan lingkungan dan bangunan yang berfungsi menjawab persoalan keterbatasan ruang para lansia dengan desain yang nyaman, aman, dan sesuai dengan standar dalam segi arsitektural, serta memfasilitasi kebutuhan serta aktivitas lansia dengan memperhatikan aspek perilaku dan lingkungannya, Metodologi yang digunakan adalah glass box dengan studi literature, studi banding dan observasi lapangan, wawancara/interview dan penelitian kepustakaan. Melalui penelitian, peneliti mendapatkan hasil yang mendukung perancangan dengan pemetaan perilaku lansia dan kenyamanannya. Kata Kunci : Lansia, Kebutuhan, Kegiatan, Panti Werdha, Arsitektur Tropis, Kenyamanan Thermal, Kota Bitung.
PUSAT PENGEMBANGAN KESENIAN KABUPETEN MINAHASA TENGGARA. Arsitektur Tropis Kawahe, Imanuel H. A.; Takumansang, Esli D.; Punuh, Claudia S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23699

Abstract

Pusat Pengembangan Kesenian marupakan tempat atau wadah dimana dimana seluruh kesenian itu dikembangkan. Begitu banyak orang suka dengan kesenian, tidak terkecuali di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara..  Masalah yang timbul adalah tidak adanya tempat untuk mengembangkan potensi kesenian tersebut. Selain itu juga masalah yang timbul adalah merancang bangunan yang baik untuk masyarakat Minahasa Tenggara dan penerapan tema Arsitektur Tropis pada perancangan. Kesenian bukannya hanya sekedar menghibur sesama, tapi juga dapat menghibur diri sendiri sebagai pelaku seni. Tujuan dan sasaran perancangan terciptanya Pusat Pengembangan Kesenian di Minahasa Tenggara dimana objek ini nantinya menjadi sarana masyarakat Minahasa Tenggara mengembangkan kesenian daerah agar kesenian terus diperkenalkan dari generasi ke generasi sehingga tidak ditelan zaman yang penerapan bangunannya berdasarkan tema Arsitektur Tropis. Metode perancangan menggunakan metode Glass Box berdasarkan pendekatan tipologi objek, pendekatan tematik, dan pendekatan tapak dan lingkungan yang kemudian dilakukan pengambilan data, kemudian dianalisis, konsep, hasil perancangan.Hasil perancangan berupa desain Site Plan, Lay Out, Tampak Tapak, Potongan Tapak, Tampak Bangunan, Potongan Bangunan, Utilitas Bangunan, Utilitas Tapak, Perspektif, Interior dan eksterior bangunan, Struktur bangunan, detail Struktur dan Utilitas yang mengacu pada tema perancangan Arsitektur tropis.Kata kunci: Pusat pengembangan Kesenian Kabupaten Minahasa Tenggara, Arsitektur tropis
TERMINAL PENUMPANG ANGKUTAN LAUT DI TAHUNA. Arsitektur Neo Vernakular Rompas, Jufri H.; Rengkung, Joseph; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24038

Abstract

Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan salah satu Kabupaten yang sedang berkembang dalam hal ekonomi maupun lainnya. Daya tarik Kabupaten Kepulauan Sangihe akan budaya  dan pariwisata laut menjadi tujuan utama para turis datang ke kota ini. Sehingga perhubungan laut dengan fasilitas yang memadai sangat memberikan nilai tambah dalam pelayanan.  Pelabuhan ini juga bukan hanya berperan dalam hal pariwisata tetapi juga sebagai alat penyebrangan ke daerah lain, serta sebagai sarana untuk berdagang sehingga peran pelabuhan Tahuna sangat vital bagi daerah di sekitarnya, maka dari itu dengan adanya Perancangan ulang Terminal Pelabuhan Tahuna yang di rencanakan akan memberikan fasilitas yang memadai dan memenuhi standar dalam menampung segala aktifitas, dalam hal kepelabuhanan pelabuhan Tahuna juga merupakan salah satu pintu masuk menuju Kabupaten Kepulauan Sangihe dan sekitarnya yang tentunya sangat berperan untuk menunjang kelancaran transportasi antar kota dan kabupaten, selain itu Teminal Pelabuhan Tahuna juga akan dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya. Dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular sehingga diharapkan mampu menghadirkan Terminal Pelabuhan dengan perpaduan budaya, fungsi dan fasilitas yang baik sehingga memberikan makna juga kenyamanan dalam penggunannya. Kata Kunci : Terminal Pelabuhan, Tahuna, Arsitektur Neo Vernakular, Sangihe, Budaya
Pengembangan RTH Kota Berbasis Infrastruktur Hijau dan Tata Ruang Studi Kasus: Kota Manado Moniaga, Ingerid L.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan RTH kota yang berbasis infrastruktur hijau (infrastruktur ekologis) harus terpadu dengan RTH sebagai komponen utama pembentuk ruang. Kota Manado merupakan kota yang memiliki sumberdaya alam yang sangat indah dengan bentang alam yang topografikal yakni berbukit, bergunung, dan berombak-ombak. Karakteristik kota yang alami seperti ini membutuhkan peren-canaan tata ruang yang berbasis ekologis dan berkelanjutan. Kawasaan perbukitan yang berfungsi lindung tangkapan air (catchment area) seharusnya merupakan kawasan yang dalam perencanaan dan pengendalian ruang Kota Manado difungsikan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Daerah-daerah yang sensitif terhadap perubahan harusnya dipreservasi atau dikonservasi sebagai infrastruktur hijau sehingga paradigma bahwa RTH bukanlah ruang-ruang sisa diantara ruang-ruang terbangun melainkan RTH merupakan unsur utama dalam tata ruang Kota. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi RTH pada kawasan perbukitan di Kota Manado dengan variabel analisis yakni kelerengan, topografi, jenis tanah, dan curah hujan, untuk menghasilkan penataan terintegrasi RTH dan Tata Ruang berdasarkan karakteristik wilayah Kota Manado. Metodologi penelitian ini dilakukan dengan metode analisis spasial yang menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.0 dan global mapper.
Interaksi Keruangan Antara Pusat Kota Bitung dan Pulau Lembeh Suawah, Alya Graciela Rahmadini; Takumansang, Esli D.; Sela, Rieneke L. E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Bitung Barat Satu, Kelurahan Bitung Barat Dua, Kelurahan Bitung Tengah dan Kelurahan Bitung Timur di Kecamatan Maesa yang berfungsi sebagai pusat pelayanan di Kota Bitung mengindikasikan terjadinya ketimpangan dengan wilayah lainnya khususnya wilayah pinggiran, yakni Pulau Lembeh dalam berbagai aspek seperti kondisi ekonomi dan infrastruktur perkotaan sehingga dimana hal ini dapat menghambat perkembangan Pulau Lembeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai interaksi keruangan dan menentukan faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi keruangan antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan yang ada di Pulau Lembeh menggunakan analisis model gravitasi dan analisis spasial berbasis Geographic Information System (GIS). Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah pendapatan per kapita, fasilitas perkotaan dan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelurahan Papusungan yang berada di Pulau Lembeh telah terjadi interaksi dengan klasifikasi yang sangat kuat pada 3 jenis data sementara itu Kelurahan Lirang terjadi interaksi yang sangat lemah pada 2 jenis data. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya interaksi antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan di Pulau Lembeh adalah faktor kemampuan saling melengkapi (regional complementarity) hal ini dikarenakan suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga perlu melakukan interaksi dengan wilayah lainnya.
Interaksi Keruangan Antara Pusat Kota Bitung dan Pulau Lembeh Suawah, Alya Graciela Rahmadini; Takumansang, Esli D.; Sela, Rieneke L. E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Bitung Barat Satu, Kelurahan Bitung Barat Dua, Kelurahan Bitung Tengah dan Kelurahan Bitung Timur di Kecamatan Maesa yang berfungsi sebagai pusat pelayanan di Kota Bitung mengindikasikan terjadinya ketimpangan dengan wilayah lainnya khususnya wilayah pinggiran, yakni Pulau Lembeh dalam berbagai aspek seperti kondisi ekonomi dan infrastruktur perkotaan sehingga dimana hal ini dapat menghambat perkembangan Pulau Lembeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai interaksi keruangan dan menentukan faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi keruangan antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan yang ada di Pulau Lembeh menggunakan analisis model gravitasi dan analisis spasial berbasis Geographic Information System (GIS). Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah pendapatan per kapita, fasilitas perkotaan dan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelurahan Papusungan yang berada di Pulau Lembeh telah terjadi interaksi dengan klasifikasi yang sangat kuat pada 3 jenis data sementara itu Kelurahan Lirang terjadi interaksi yang sangat lemah pada 2 jenis data. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya interaksi antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan di Pulau Lembeh adalah faktor kemampuan saling melengkapi (regional complementarity) hal ini dikarenakan suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga perlu melakukan interaksi dengan wilayah lainnya.
GLAMPING RESORT di DANAU TONDANO: Back To Nature Wuntu, Brinda H.; Waani, Judy O.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 14 No. 4 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 4, November 2025
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v14i4.66687

Abstract

Perancangan objek Glamping Resort di Danau Tondano dilatarbelakangi oleh perkembangan potensi pariwisata lokal yang belum diimbangi dengan penyediaan akomodasi ramah lingkungan. Melalui pendekatan tematik Back To Nature, sehingga dapat menciptakan objek wisata yang mampu mewadahi kebituhan wisatawan, dengan menerapkan prisnip Back To Nature melalui penggunaan material alami, serta memperhatikan pemilihan lokasi dan karakteristik tapak secara kontekstual. Metode perancangan yang digunakan adalah Image-Present-Test, yang menekankan eksplorasi visual dan pengujian ide secara bertahap. Proses desain didukung oleh studi literatur, kajian preseden, pendekatan pengguna, dan analisis tapak di sekitar Danau Tondano. Hasil rancangan difokuskan pada integrasi desain dengan landscape sekitar, kenyamanan pengguna, serta mendukung pengembangan pariwisata berbasis berkelanjutan. Kata Kunci : Glamping Resort, Back To Nature, Danau Tondano
Co-Authors Aldwin F. Lompoliuw Alvin J. Tinangon Alvin J. Tinangon Andy M. Malik Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Artahsasta B. P. Binilang, Artahsasta B. P. Bonde, Christiana P. Brawid Sutrisno, Brawid Buangsampuhi, Ria Ch. Tarore, Raymond Christanty Srirejeki Christiana P. Bonde Christie G. Tooy Christofel Jacob Claudia S. Punuh, Claudia S. Cynthia E. V. Wuisang Da Costa, Alarico David Singal Djalil, Soepratman Abd Duwila, Rifandi Dwight M. Rondonuwu Eko Soegiarto, Eko Faizah Mastutie Febrian Rumambi Fela Warouw Fela Warouw Fella Warouw Ferdinand Sagisolo Firstnoel N. Wowor Folasimo, Desriyati H. Fransisca J. Bawembang Frits O. P. Siregar Frits O. P. Siregar Hendriek H. Karongkong Indradjaja Makainas Ingerid L. Moniaga Ingerid L. Moniaga Jacobus, Adrian Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Judy O. Waani Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Julianus A. R. Sondakh Julianus A.R. Sondakh Juneyver Lemeng Juningsih T. A. Karaeng Kandouw, Sheren Gloria Kawahe, Imanuel H. A. Kerin M. Karisoh Lakat, Ricky M. S. Laras Pitaloka, Dyah Leidy M. Rompas Leon S. P. Kondoy Leonardy V. Wuaten Linda Tondobala Linda Tondobala Longaris, Sendy Loudy M.B. Kalalo Lucy J. Wagey Manorek, Heski Maulana S. Sumaryono Meylita, Watuseke M. Meytti Y. Sabarofek Missah, Rizkyanto Efraim Monica C. K. Tanod Nissia E.M. Kaunang Octavianus Hendrik Alexander Rogi Oscar V. Tatengkeng Patrycia A. J. Sandil Peggy Egam Pialandang, Vilia G. S. Pierre H. Gosal Pilat, Christhalia D. P. Rahmat Qadri Adipu Raymond Ch. Tarore Raymond Ch. Tarore Reksy Ch. Sambuaga Ricky M. S. Lakat Ricky S. M. Lakat Rieneke L. E. Sela Rikha C. Sinampu Rombon, Orlando R. Rompas, Jufri H. Roosje J. Poluan Rumambi, Febrian Rumengan, Michael Rinaldi Clipper Runita Rasyid Sembiring, Ririn E. V. Sonny Tilaar Steven Lintong Stevi Buloglabna Suawah, Alya Graciela Rahmadini Surijadi Supardjo Suryono Sutrisni Napu, Sutrisni Tangkere, Yosua Trajuman, Rendi W. Umamit, Praditia Supanji Uniplaita, Andre E. Waleleng, Deofishart Ch. Windy Mononimbar Woy, Tesalonika Miranda Wuntu, Brinda H. Wuritimur, Kasawuri Y. A. L. F Yakobus Sumallea, Yakobus Zefanya Saerang