Claim Missing Document
Check
Articles

Pemberian Pijat Refleksi Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Dengan Masalah Keperawatan Ketidak Stabilan Kadar Gula Darah Di Tiyuh Dayaasri Tumijajar Tulang Bawang Barat Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Widia Afira; Prima Dian Furqoni; Rahma Elliya; Eka Yudha Crisanto; Linawati Novikasari; Triyoso Triyoso
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 1 Februari 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i1.2793

Abstract

ABSTRAK Menurut International Diabetes Federation (IDF) (2015), saat ini Indonesia merupakan negara dengan urutan ke-7 jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia yaitu sebanyak 10,0 juta jiwa, dan pada tahun 2020 diperkirakan penderita diabetes di Indonesia akan naik ke nomor enam terbanyak di dunia dengan jumlah penderita 16,2 juta jiwa, dan dilaporkan bahwa kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, sudah hampir 10 % penduduknya menderita diabetes. Diabetes merupakan penyakit kronis yang serius dan terjadi baik saat pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur glukosa darah) maupun jika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif. pengobatan bisa dilakukan secara non farmakologi, diantaranya dengan menggunakan terapi pijat refleksi. Tujuan setelah penyuluhan dan demonstrasi, diharapkan pemberian pijat refleksi dapat untuk menurunkan glukosa darah. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan menggunakan leaflet dan demonstrasi terapi pijat refleksi. Terdapat penurunan gula darah pada klien diabetes melitus setelah pemberian terapi pijat refleksi selama 3 hari di Tiyuh Dayaasri Tumijajar Tulang bawang barat. Dari evaluasi hari terakhir pemeriksaan kadar glukosa darah terjadi penurunan yaitu antara sebelum diberikan terapi dan sesudah diberikan terapi, diperoleh data pada nilai glukosa darah sebelum diberikan asuhan keperawatan yaitu hari pertama GDS: 215 mg/dl, setelah diberikan intervensi pijat refleksi selama kurun waktu 3 hari dan di beri waktu istirahat selama 4 hari tetapi tetap dalam pengontrolan pola makan, untuk memberikan efek rileks kemudian di cek gula darah kembali di hari ke 7 (tujuh),  dari hasil pemeriksaan didapatkan yaitu GDS: 189 mg/dl. Saran agar dapat menerapkan terapi pijat refleksi kepada penderita diabetes melitus dan sebagai pengobatan alternatif untuk menjaga kestabilan glukosa darah, untuk mengurangi efek samping penggunaan obat jangka panjang. Dengan demikian, pemberian pijat refleksi pada klien diabetes melitus sangat efektif dalam menurunkan gula darah.Kata kunci : Diabetes Melitus, Gula Darah, Terapi Pijat Refleksi   ABSTRACT According to the International Diabetes Federation (IDF) (2015), Indonesia is currently the 7th largest number of diabetics in the world with 10.0 million people, and 2020 estimated that diabetics at Indonesia will rise to number 6th in the world with 16.2 million sufferers, and it is reported that big cities like Jakarta, Surabaya, already almost 10% the population suffer of diabetes. Diabetes is a serious chronic disease and occurs both when the pancreas does not produce enough insulin (a hormone that regulates blood glucose) or if the body cannot use insulin produced effectively. treatment can be non-pharmacologically, including by reflexology therapy. The purpose after counseling and demonstration, is expected to provide reflexology to reduce blood glucose. The activities carried out in the form of counseling used leaflets and demonstration of reflexology therapy. There is a decrease in blood sugar in diabetes mellitus clients after giving reflexology therapy for 3 days at Tiyuh Dayaasri Tumijajar West Tulang Bawang. From evaluation of the last day,examination of blood glucose levels there was a decrease between before being given therapy and after being given therapy, obtained data on blood glucose values before being given nursing care that is the first day of GDS: 215 mg / dl, after being given a reflexology intervention for a period of 3 days and given a rest period of 4 days but still in control of eating patterns, to provide a relaxing effect then checked for blood sugar again on day 7 (seven), from the examination results obtained namely GDS: 189 mg / dl. Suggestions for adjust reflexology therapy to people with diabetes mellitus and alternative treatment to maintain blood glucose stability, to reduce the side effects of long-term drug use. Thus, giving reflexology to diabetes mellitus's client is very effective of lowering blood sugar. Keywords: Diabetes Mellitus, Blood Sugar, Reflexology Therapy
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG DEMAM TIFOID DI SMP NEGERI 26 BANDAR LAMPUNG Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; M. Arifki Zainaro
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v1i2.28

Abstract

ABSTRACT The World Health Organization (WHO) estimates the number of cases of typhoid fever in worldwide, reaching 16-33 million with 500-600 thousand deaths in each year. Typhoid fever is an infectious infection that can occur in children and adults. Children are the most susceptible to typhoid fever, although the symptoms experienced by children are lighter than adults. In almost all endemic areas, the incidence of typhoid fever occurs mostly in children aged 5-19 years. The goal after counseling is expected to increase students' knowledge of SMP Negeri 26 Bandar Lampung about typhoid disease. The activities carried out in the form of counseling using leaflets and flipcharts. There was an increase in knowledge of students in Bandar Lampung Junior High School 26 against typhoid disease and ways of prevention and treatment. Thus, giving counseling to students about the prevention and treatment of typhoid fever is very effective. Keywords: Typhoid, Students, Counseling
Pemberian Rebusan Daun Seledri Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Klien Hipertensi Di Kecamatan Sekampung Mudik Desa Brawijaya Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Mimin Septi Wahyuni; Dessy Hermawan
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i4.2830

Abstract

ABSTRAK Dari 10 besar penyakit terbanyak di Provinsi Lampung, pada tahun 2013 hipertensi menduduki urutan ketujuh dengan jumlah 17,29% dan meningkat menjadi urutan kelima pada tahun 2014 dengan jumlah 30,01% dan pada tahun 2015 hipertensi meningkat lagi menjadi urutan ketiga dengan jumlah 31,07%, pada tahun 2018 dengan jumlah 34.1%. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang umum terjadi dalam masyarakat. Keadaan itu terjadi jika tekanan darah pada arteri utama di dalam tubuh terlalu tinggi. Salah satu penanganan non farmakologis yang dipergunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah seledri. Tujuan setelah penyuluhan dan demonstrasi, diharapkan pemberian rebusan daun seledri dapat menurunkan tekanan darah tinggi pada klien hipertensi. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan menggunakan leaflet dan demonstrasi pembuatan rebusan daun seledri. Terdapat penurunan tekanan darah pada klien hipertensi setelah pemberian rbusan daun seledri selama 7 hari di kecamatan sekampung mudik desa brawijaya. Dengan demikian, pemberian rebusan daun seledri pada klien hipertensi sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah. Kata Kunci: Rebusan daun seledri, tekanan darah, Hipertensi ABSTRACT The 10 biggest diseases at Lampung Province, in 2013 hypertension was in seventh place (17.29%) and increased to fifth in 2014 (30.01%) and in 2015hypertension increased again to third (31, 07%), in 2018 34.1%. Hypertension or high blood pressure is a common disease in society. This situation occurs when the blood pressure in the main arteries in the body is too high. One of the non-pharmacological treatments used to reduce high blood pressure is celery. The purpose after counseling and demonstration, expected to give a decoction of celery can reduce high blood pressure in hypertension's clients. The activities were carried out in the form of counseling using leaflets and demonstrations making celery stew. There was a decrease in blood pressure in hypertension's client after the administration of leaves of celery for 7 days in mudik village, brawijaya village. Thus, giving celery decoction to hypertension clients is very effective in lowering blood pressure. Keywords: Celery stew, blood pressure, hypertension
Pendidikan Kesehatan Tentang Isolasi Mandiri Dalam Upaya Penanganan Covid-19 Di RT 007 Kelurahan Segalamider Kota Bandar Lampung Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; M. Arifki Zainaro; Sandi Esa Prayoga
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i3.4961

Abstract

ABSTRAK Indonesia teridentifikasi COVID-19 pertama dilaporkan di pada tanggal 2 maret 2020. Data terbaru pada tanggal 23 April 2020 kasus terkonfirmasi positif sebanyak 7.775. Kasus COVID-19 di RT 007 Kelurahan Segalamider sudah mulai mengalami peningkatan kasus pada satu minggu terakhir. Hingga tanggal 20 Agustus terdapat empat kasus positif COVID-19 dan satu orang meninggal. RT007 di Kelurahan Segalamider merupakan salah satu wilayah yang terdapat di wilayah Kota Bandar Lampung. Masyarakat banyak belum mengetahui tentang isolasi mandiri. Hal ini tentu akan menimbulkan perluasan penularan kasus di rumah tangga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bermitra dengan Wali RT007 di Kelurahan Segalamider. Solusi permasalahan sekaligus bentuk kegiatan berupa edukasi kepada masyarakat mengenai isolasi mandiri bagi orang dalam pemantauan (ODP) dalam upaya penanganan COVID-19. Edukasi diberikan melalui media leaflet serta pemberian donasi masker kepada masyarakat yang terkena dampak COVID-19. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai upaya isolasi mandiri jika mengalami gejala mirip COVID-19 atau berkontak dengan penderita COVID-19. Hasil pengabdian kepada masyarakat peserta tentang isolasi mandiri dan mampu mengenali tanda - tanda COVID-19, sehingga penyebaran COVID-19 dapat dicegah, peserta paham tentang perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat sebagai upaya untuk mencegah penularan COVID-19. Kesimpulan dari penyuluhan ini peserta dapat mengetahui serta mengerti mengenai isolasi mandiri sangat penting bagi orang dalam pengawasan. Kata kunci : COVID-19, Edukasi, Isolasi Mandiri ABSTRACT Indonesia's first identified COVID-19 was reported on March 2, 2020. The latest data on April 23, 2020, was 7,775 positive confirmed cases. The case of COVID-19 in RT 007 of the Allamider Village has begun to increase in cases in the past week. As of August 20, there were four positive cases of COVID-19 and one person died. RT007 in the Village of Allmider is one of the areas in the city of Bandar Lampung. Many people do not know about self-isolation. This will certainly lead to an expansion of the transmission of cases in the household. Community service activities in partnership with Wali RT007 in the Village of Allmider. Solutions to problems as well as activities in the form of educating the public about self-isolation for people under monitoring (ODP) in an effort to handle COVID-19. Education is provided through leaflets as well as donations of masks to people affected by COVID-19. The purpose of this activity is to increase public knowledge about self-isolation efforts if they experience symptoms similar to COVID-19 or come into contact with COVID-19 sufferers. The results of community service participants regarding self-isolation and being able to recognize signs of COVID-19, so that the spread of COVID-19 can be prevented, participants understand about clean and healthy living behavior in the community as an effort to prevent transmission of COVID-19. The conclusion of this counseling is that participants can know and understand that self-isolation is very important for people under supervision. Keyword : COVID-19, Education, Self-Isolation
PENYULUHAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DI POSYANDU ANGSANA WAY HALIM PERMAI TAHUN 2017 Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Teguh Pribadi; Lidya Ariyanti; Dewi Novalina
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 1 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v1i1.25

Abstract

ABSTRACT Prevention of mosquito population was done by eradication of mosquito larvae, mosquito eggs, and mosquitoes in various ways. The larvae are targeted in controlling that act as vector-borne diseases through mosquitoes, such as malaria and dengue hemorrhagic fever. The purpose of the activity is expected to understand how to eradicate mosquito breeding. This activity was done on Thursday, December 14, 2017. The activity consist of education to the residents on how to eradicate mosquito breeding in the work area of Way Halim health center, using LCD and leaflets. There was a significant result of people knowledge after education. Thus, the provision of education can provide increased knowledge, especially with regard to eradicating mosquito breeding. Keywords: Mosquito, Larva, Eradication
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG DIARE DI PANTI ASUHAN BUSSAINA BANDAR LAMPUNG Rika Yulendasari; Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Umi Romayati Keswara; Eka Yudha Chrisanto
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v2i2.2078

Abstract

ABSTRAKBadan Kesehatan Dunia (Who) Diare Membunuh Dua Juta Anak Di Dunia Setiap Tahunnya Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir dseluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia dapat terserang. Diare menjadi salah satu penyebab utama mordibitas dan mortalitas pada anak di negara berkembang. SetiapTahun Di Indonesia Diare Merupakan Salah Satu Penyebab Kematian Kedua Terbesar Pada Balita Dan Urutan Ketiga Bagi Bayi Serta Urutan Ke Lima Untuk Semua Umur. Tujuan Setelah Penyuluhan, Diharapkan Dapat Meningkatkan Pengetahuan Anak-Anak  Panti Asuhan Bussaina Bandar Lampung Tentang Penyakit Diare. Adapun Kegiatan Yang Dilakukan Berupa Penyuluhan Menggunakan Leaflet Dan Lembar Balik. Terdapat Peningkatan Pengetahuan Pada Anak-Anak Panti Asuhan Bussaina Bandar Lampung Terhadap Pencegahan Serta Perawatannya. Dengan Demikian, Pemberian Penyuluhan Pada Siswa Tentang Pencegahan Serta Perawatan Penyakit Diare Sangat Efektif. Kata Kunci : Diare, Anak-Anak, Penyuluhan  ABSTRACTWorld Health Organization (WHO) Diarrhea Kills Two Million Children in the World Each Year Diarrhea is one of the main causes of morbidity and mortality in almost all geographical regions of the world and all age groups can be attacked. Diarrhea is one of the main causes of mordibitas and mortality in children in developing countries. Every Year In Indonesia Diarrhea Is One Of The Biggest Causes Of Second Death In Toddlers And Third Order For Infants And Fifth Order For All Ages. Purpose After Counseling, It Is Expected To Increase Knowledge Of Children Of Bussaina Bandar Lampung Orphanage About Diarrhea. As for the activities carried out in the form of counseling using leaflets and flip sheets, there is an increase in knowledge in children of the Bussaina Bandar Lampung orphanage against prevention and care. Thus, the provision of counseling for children about prevention and treatment of diarrhea is very effective. Keywords: Diarrhea, Children, Extension
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI SMA NEGERI 13 BANDAR LAMPUNG Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; M. Arifki Zainaro; Linawati Novikasari; Lidya Ariyanti; Prima Dian Furqoni
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i1.2588

Abstract

ABSTRAKUpaya masyarakat mengatasi penyakit menular, masih berorientasi pada penyembuhan penyakit, hal ini dirasa kurang efektif karena banyak mengeluarkan biaya. Upaya yang lebih efektif adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan berperilaku hidup sehat. Namun, hal ini ternyata belum disadari sepenuhnya oleh masyarakat. PHBS adalah sebuah rekayasa sosial yang bertujuan menjadikan sebanyak mungkin anggota masyarakat sebagai agen perubahan agar mampu meningkatkan kualitas perilaku sehari – hari dengan tujuan hidup bersih dan sehat. Terdapatlangkah – langkah berupa edukasi melalui pendekatan pemuka atau pimpinan masyarakat, pembinaan suasana dan juga pemberdayaan masyarakat dengan tujuan kemampuan mengenal dan tahu masalah kesehatan yang ada di sekitar terutama pada tingkatan rumah tangga sebagai awal untuk memperbaiki pola dan gayahidup agar lebih sehat. Tujuan setelah penyuluhan, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa SMA Negeri 13 Bandar Lampung tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan menggunakan leaflet dan lembar balik. Terdapat peningkatan pengetahuan pada siswa di SMP Negeri 13 Bandar Lampung terhadap perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan demikian, pemberian penyuluhan pada siswa tentang perilaku hidup bersih dan sehat sangat bermanfaat untuk siswa. Kata Kunci: PHBS, Siswa, Penyuluhan  ABSTRACTCommunity efforts to overcome infectious diseases, are still oriented towards healing diseases, this is considered less effective because it costs a lot. A more effective effort is to maintain and improve health by living a healthy life. However, this has not been fully realized by the public. PHBS is a social engineering that aims to make as many members of the community as possible agents of change in order to be able to improve the quality of daily behavior with the aim of clean and healthy living. There are steps in the form of education through community leaders or leaders approach, atmosphere development and also community empowerment with the aim of being able to recognize and know the health problems around especially at the household level as a start to improve patterns and lifestyle to be healthier. The aim after counseling is expected to increase the knowledge of SMA Negeri 13 Bandar Lampung students about clean and healthy living behavior. The activities carried out in the form of counseling using leaflets and leaflets. There is an increase in students' knowledge at SMP Negeri 13 Bandar Lampung on clean and healthy living behavior. Thus, giving counseling to students about clean and healthy living behavior is very beneficial for students. Keywords: PHBS, Students, Counseling
Pemberian Kompres Jahe Merah Pada Penderita Asam Urat Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Di Desa Padan Arang Kabupaten Lahat Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i5.2847

Abstract

ABSTRAK Data World Health Organization (2016) dilaporkan prevalensi gout arthritis di dunia adalah 13,6% pria dan 6,4% perempuan. Pada tahun 2015 jumlah penderita arthritis sudah mencapai 66 juta atau hampir 1 dari 3 orang menderita gangguan sendi (WHO, 2016). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2017, prevalensi arthritis gout tiga tertinggi yaitu di Bali mencapai 22,8%, Aceh 21,3%, dan Lampung 14,5%, sedangkan untuk kota Palembang pada tahun 2016 di bulan JanuariFebruari penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat di urutan ke 4 dari 10 penyakit terbesar sebanyak 7.304 orang, dan pada bulan Maret meningkat sebesar 3.357 orang, sedangkan pada bulan April meningkat sebanyak 5.328 (Dinkes Palembang, 2016). Sedangkan di Desa Padan Arang Kabupaten Lahat, terdapat sedikitnya 30 lansia dan kurang lebih 20 (66,67%) diantaranya mengalami masalah asam urat dengan tanda gejala nyeri pada setiap sendi-sendi baik pagi atau pun malam hari, namun terapi yang digunakan hanya sebatas melakukan kompres hangat saja.Kata Kunci: Kompres jahe merah, Nyeri Gout Atritis (Asam Urat) ABSTRACTData from World Health Organization (2016) reported that the prevalence of gout arthritis in the world is 13.6% of men and 6.4% of women. In 2015 the number of arthritis sufferers reached 66 million or almost 1 in 3 people suffer from joint disorders (WHO, 2016). The results of the Basic Health Research (Riskesdas) in 2017, the highest prevalence of arthritis of gout three, namely in Bali reached 22.8%, Aceh 21.3%, and Lampung 14.5%, while for the city of Palembang in 2016 in January February the disease in the system muscle and connective tissue ranked 4th out of the 10 largest diseases of 7,304 people, and in March it increased by 3,357 people, while in April it increased by 5,328 (Palembang Health Office, 2016). Whereas in Padan Arang Village, Lahat Regency, there are at least 30 elderly people, and approximately 20 (66.67%) of them experience gout problems with signs of pain in every joint either morning or night, but the therapy used is only limited to conducting just warm compresses. Keywords: compress red ginger, gout arthritis pain (gout)
Pendidikan Kesehatan Tentang Kompres Hangat Untuk Demam Di Margorejo Dusun 6 Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan Erlina Wati; Heki Febrianto; Lilis Marlia; Dessy Hermawan; Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; M. Arifki Zainaro; Riska Wandini
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i2.3339

Abstract

Penanganan terhadap demam dapat dilakukan dengan tindakan farmakologis, tindakan non farmakologis maupun kombinasi keduanya. Tindakan farmakologis yaitu dengan memberikan obat antipiretik. Sedangkan tindakan non farmakologis yaitu tindakan tambahan dalam menurunkan panas seperti memberikan minuman yang banyak, di tempatkan diruangan yang bersuhu normal, menggunakan pakaian tipis dan di berikan kompres. Kompres hangat adalah tindakan dengan menggunakan kain atau handuk yang telah dicelupkan pada air hangat, yang di tempelkan pada bagian tubuh tertentu sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan menurunkan suhu tubuh. Tujuan mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan tentang pemberian kompres hangat pada penderita demam. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan. Sebelum dimulai penyuluhan, terlebih dahulu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan pelaksana penyuluhan, dibuka dengan pretest, dilanjutkan dengan penyampaian materi juga diskusi yang terarah berupa edukasi dan penyuluhan. Hasil yang didapatkan menunjukkan sebagian besar ibu-ibu (80%) belum memahami dan mnegerti tentang cara penggunaan kompres hangat dengan benar serta belum mengetahui manfaat kompres hangat dan sebagian kecil ibu-ibu sudah memahami tentang cara penggunaan kompres hangat tetapi belum mengetahui manfaatnya. Kata Kunci : demam, kompres hangat, pendidikan kesehatan  ABSTRACTTreatment of fever can be done by pharmacological action, non pharmacological action or a combination of both. Pharmacological action, namely by providing antipyretic drugs. Meanwhile, non-pharmacological actions are additional measures to reduce heat such as giving lots of drinks, put in a room with normal temperature, using thin clothes and applying a compress. A warm compress is the action of using a cloth or towel that has been dipped in warm water, which is applied to certain parts of the body so that it can provide a sense of comfort and reduce body temperature. The purpose of knowing the effect of health education on giving warm compresses to fever sufferers. This activity is carried out by extension methods. Before starting counseling, first convey the intent and purpose of the arrival of the extension agent, opened with a pretest, followed by the delivery of material as well as focused discussion in the form of education and counseling. The results obtained show that most mothers (80%) do not understand and understand how to use warm compresses properly and do not know the benefits of warm compresses and a small proportion of mothers already understand how to use warm compresses but do not know their benefits. Keywords: fever, warm compress, health education
Efektivitas Home Based Exercise Training (HBET) terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung Rendi Kurniawan; Djunizar Djamaludin; Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.3903

Abstract

Background: In Indonesia, physical training is carried out centrally in hospitals. Official data on the coverage and participation of this program in heart failure patients in Indonesia have not been obtained. Home-based exercise training (HBET) can be an option for physical exercise and an alternative solution in order to reduce patients' participation in physical exercise. HBET is a programmed physical exercise that patients can perform independently at home.Purpose: To examine the effects of home-based exercise training (HBET) on the quality of life in patients with heart failure.Method: One group pretest-posttest design was employed with purposive sampling technique. The sample used was 15 participants who were outpatients at Gedong Air Community Health Center, Bandar Lampung City. Participants were given the Home-based exercise training (HBET) program for 14 days subsequently the participants was measured using the Minesota Living with Heart Failure Quistionaire to determine the quality of life.Results: There is an effect of home based exercise training (HBET) on the quality of life of patients with heart failure with p-value of 0.000. The mean score of quality of life before being given home based exercise training (HBET) is 35.93 ± 6.770 and the mean score after giving intervention is 57.13 ±7,469.Conclusion: There is an effect of home-based exercise training (HBET) on the quality of life of patients with heart failure.Suggestion: This physical exercise home-based exercise training (HBET) should be an integral part of the rehabilitation program for patients with heart failure after discharge from the hospital so that it can reduce rehospitalizations and improve quality of life.Keywords: Home Based Exercise Training (HBET); Quality of Life; Patients; Heart Failure.Pendahuluan: Di Indonesia latihan fisik dilakukan secara terpusat di rumah sakit. Data resmi tentang cakupan dan partisipasi program ini pada pasien gagal jantung di Indonesia belum didapatkan. Home-based exercise training (HBET) dapat menjadi salah satu pilihan latihan fisik dan alternative solusi rendahnya partisipasi pasien mengikuti latihan fisik. HBET merupakan latihan fisik terprogram yang dapat dijalankan oleh pasien secara mandiri di rumah.Tujuan: Untuk menilai pengaruh home-based exercise training (HBET) terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung.Metode: Rancangan penelitian one group pretes-postes design dengan tehnik sampling yaitu purposive samping. Sampel yang digunakan sebanyak 15 partisipan yang merupakan pasien rawat jalan di Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Pada saat intervensi partisipan diberikan program Home-based exercise training (HBET) selama 14 hari kemudian setelah itu di ukur menggunakan Minesota Living with Heart Failure Quistionaire untuk mengetahui kualitas hidupnya.Hasil: Terdapat pengaruh home based exercise training (HBET) terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung dengan nilai p-value 0,000. Nilai rata-rata kualitas hidup sebelum diberikan home based exercise training (HBET) yaitu 35,93 dengan standar deviasi 6,770 dan nilai rata-rata sesudahnya yaitu 57,13 dengan standar deviasi 7,469.Simpulan: Ada pengaruh home based exercise training (HBET) terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung.Saran: Latihan fisik home based exercise training (HBET) ini hendaknya menjadi bagian integral program rehabilitasi pasien gagal jantung setelah pulang dari rumah sakit sehingga dapat menurunkan rawat inap dan meningkatkan kualitas hidup.
Co-Authors Agustina, Respa Alberta Rika Pratiwi Albet Maydiyantoro Alfabet Oktristyan Fakuriza andhika satria Andoko Andoko Andri Nugraha Anjani, Ni Wayan Oktavia Aprilia Putri, Hanisa Arini, Mutiara Ariyanti Wardiyah Aryanti Wardiyah Chrisanto, Eka Yudha Deny Eka Liasari Desti Rosalia Dewi Kusumaningsih Dewi Kusumaningsih Dewi Kusumaningsih Dewi Novalina Djamaludin, Djunizar Djunizar Djamaludin Djunizar Djamaludin Dwiky Dermawan Santari Eka Trismiana Eka Trismiyana Eka Yudha Chrisanto Elliya, Rahma Emir Fajar Hizrian Erlina Wati Fajar Septriwanti Faradisa, Ratih Mary Fatmawati, Iin Ferisca, Fidela Firmansyah, Maulid Elang Furqoni, Prima Dian Gunawan, M. Ricko Hadi, Riswan Heki Febrianto Heri Prasetya Herizon Herizon Herlinda Herlinda Hermawan, Dessy Indah Sari Indriana, Nova Jemy Sundoro Kaulani, Sirfia Keswara, Umi Romayati Kiramah Wati Kusumanignsih, Dewi Leni Sari Asdi Lensi, Yufia Liasari, Deny Eka Lidya Arianti Lidya Arianti Lidya Ariyanti Lidya Ariyanti Lilis Marlia Lolita Sary M. Arifki Zainaro Made Novita Sari Mimin Septi Wahyuni Muarif, Muhammad Syamsul Muhammad Yanuar Rianto Mutia Ade Dea nopriani, nopriani Novikasari, Linawati Nugraha, Rezha Wahyu Nur Hidaya Tulaisyah Pradisca, Rima Ary Prima Dian Furqoni Rafika Anjarsari Rahma, Reka Putri Reka Putri Rahma Rendi Kurniawan Respa Agustina Rias Tusianah Ridwan Ridwan Ridwan Ridwan Riska Wandini, Riska Riyanto, Eko Rizwan, Al Khairul Rudi Winarno Sandi Esa Prayoga Seftiliani Putri Ayu Sekardhyta Ayuning Tias Setiawati Setiawati Sri Sakinah Sugiyatno Sugiyatno Teguh Pribadi Triyoso Triyoso Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma, Tubagus Ali Rachman Puja Utomo, Budi Setia Wahyuninsih, Indah Widia Afira Yessi Aprianti Yopita Sari Yufia Lensi Yulendasari, Rika Yustika, Reny Zainaro, Muhamad Arifki