Claim Missing Document
Check
Articles

MENGOPTIMALKAN PENGEMBANGAN DIRI MELALUI AYAT-AYAT SELF IMPROVEMENT: Menurut Tafsīr Al-Ibrīz Melati Almatu Sholikah Bambang; Robitoh Widi Astuti; Salamah Noorhidayati; Ahmad Saddad; Lana Umi Fauziyah
Al-Mufassir: Jurnal Ilmu Alquran, Tafsir dan Studi Islam Vol. 6 No. 1 (2024): Januari - Juni 2024
Publisher : LPPM UMC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/amf.v6i1.5837

Abstract

Penelitian ini mengangkat tema pengembangan diri (self-improvement). Islam sendiri lebih mengenalnya dengan sebutan muḥāsabah 'ala nafs. Penelitian tentang ayat-ayat tidak aman akan dimaknai secara menurut oleh Bisri Mustofa dalam kitab tafsirnya, kemudian dikolaborasikan dengan gagasan Imam al-Ghazali pada bab pengawasan serta introspeksi diri melalui enam langkah yakni musyāraṭah, murāqabah, muḥāsabah, mu'āqabah, mujāhadah, dan mu' āṭabah. Fokus penelitian ini adalah bagaimana konsep perbaikan diri digambarkan dalam kitab Tafsir al-Ibriz dan bagaimana memaksimalkan pengembangan diri pada masa ini. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif di mana pada proses penafsirannya menggunakan metode tematik-konseptual. Hasil penelitian menunjukkan adanya Ayat-ayat yang berisi perintah untuk memperbaiki diri sendiri, manfaatnya, dan bagaimana perilakunya saat ini; dapat menggunakan waktu dengan maksimal, memanusiakan manusia, menghapus rasa rendah diri, tidak mudah berputus asa serta dapat memilih berita yang sesuai kebenarannya.
DUALITAS PERAN SANTRI TAHFIZ PONDOK MODERN DARUL HIKMAH TAWANGSARI Husnul Amira; Ayu Cintana; Mumtazah Al ‘Ilmah; M. Muntahibun Nafis; Salamah Noorhidayati
Al-Mufassir: Jurnal Ilmu Alquran, Tafsir dan Studi Islam Vol. 5 No. 2 (2023): Juli - Desember 2023
Publisher : LPPM UMC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/amf.v5i2.5882

Abstract

The duality of the role of Tahfiz students in Indonesia is increasingly widespread with the existence of Islamic boarding schools, especially Tahfiz Islamic boarding schools, which are starting to integrate the Tahfiz program with formal schools. One of the interesting boarding schools for research is Pondok Modern Darul Hikmah which integrates the tahfiz program with formal schools while emphasizing the use of Arabic and English as languages ​​of daily communication. In this way, the tahfiz students of Pondok Modern Darul Hikmah have two important roles that must be carried out. From this research, researchers found that the dual role of Islamic boarding school students at Pondok Modern Darul Hikmah (as memorizers of the Qur'an as well as students) is indeed difficult, but they can carry it out with balance and full responsibility. Even though there are several factors that become obstacles, they can still get good academic grades without neglecting their memorization targets
CONTEXTUALIZATION OF THE MEANING OF HADITH REGARDING THE EXHORTATION TO INCREASE OFFSPRING FROM THE PERSPECTIVE OF HASAN HANAFI’S HERMENEUTICS: A Counter Effort Against the Childfree Phenomenon Noorhidayati, Salamah; Ariesti Rasyid, Dara Sri
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.28205

Abstract

This research aims to uncover the meaning of the text and context, as well as the effort to contextualize the meaning of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring in order to counter the phenomenon. It poses three research questions: firstly, what is the quality of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring. Secondly, we will examine the meaning of the Hadith regarding the encouragement to have many offspring. Thirdly, we will explore the contextualization of the meaning of the Hadith concerning the encouragement to have many offspring within the context of childfree. This study is a literature review with a deductive approach, employing the hermeneutic method of Hadith by Hasan Hanafi through three operational steps, namely historical criticism, eidetic criticism, and practical criticism. As a result of this research, the first finding is that the Hadith about the encouragement to have many offspring is considered to be authentic (sahih lighairihi). Secondly, the textual meaning is the prohibition of celibacy and marrying infertile women, as well as the recommendation to get married, while the contextual meaning is that the Prophet will take pride in having numerous descendants. Thirdly, contextualization of the hadith, which is about having descendants and preserving the lineage.[Penelitian ini dilatar belakangi sejak munculnya fenomena dalam sebuah pernikahan yang mulai marak diperbincangkan. Fenomena tersebut yakni adanya sepasang suami istri yang menolak untuk memiliki anak, karena pada hakikatnya fenomena ini dapat memutuskan mata rantai regenerasi yang mengakibatkan kerusakan dari sisi akidah maupun dari sisi sosial kemasyarakatan. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap makna teks dan konteks serta upaya kontekstualisasi makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan dalam rangka meng-counter fenomena tersebut, dengan mengajukan tiga rumusan masalah yaitu pertama, Bagaimana kualitas hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan. Kedua, Bagaimana makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan. ketiga, Bagaimana kontekstualisasi makna hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan dalam konteks childfree. Penelitian ini merupakan jenis studi kepustakaan yang bersifat deduktif dengan menggunakan metode hermeneutika hadis Hasan Hanafi melalui tiga langkah operasional yaitu langkah kritik historis, kritik eidetis, dan kritik praksis. Sebagai hasil temuan dari penelitian ini yaitu pertama, Hadis tentang anjuran memperbanyak keturunan memiliki kualitas shahih lighairihi. Kedua, Makna tekstual yaitu larangan membujang dan menikahi wanita mandul serta anjuran untuk menikah, sedangkan makna kontekstual yakni nabi akan berbangga dengan banyaknya keturunan. Ketiga, Kontekstualisasi makna hadis yakni memiliki keturunan dan menjaaga keturunan.]
Implementasi Metode Pembelajaran dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Memahami Kitab Kuning Roji, Bibah; Noorhidayati, Salamah; Anam, Khoirul
Translitera : Jurnal Kajian Komunikasi dan Studi Media Vol 13 No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas Islam Balitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35457/translitera.v13i1.3641

Abstract

Sekalipun pendidikan agama Islam dapat dipelajari dan tersedia dalam internet dapat diakses kapanpun dan dimanapun, namun kehadiran seorang kyai, ustaz, guru adalah hal yang tidak kalah penting sebagai sumber informasi dan pendidik mengenai ajaran agama Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan metode bandongan, metode diskusi dan mendeskripsikan langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan santri dalam memahami kitab Kuning. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Peneliti menggunakan tiga pendekatan berbeda untuk memperoleh data: 1) observasi, 2) wawancara, dan 3) dokumentasi. Temuan penelitian dapat diperoleh dengan menganalisis data yang dikumpulkan yakni mereduksi data, menyajikan fakta, dan menarik kesimpulan untuk mengkaji hal tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Penerapan metode bandongan dilakukan pada perkuliahan yang berkaitan dengan hadis, fiqh, nahwu, dan tauhid. 2) memasukkan teknik debat ke dalam kelas hadis, nahwu, dan fiqh. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap kitab kuning pada pembelajaran tauhid, nahwu fiqh, dan hadis dengan menekankan nilai-nilai kognitif, emosional, dan psikomotorik.
Syarah Hadith with Saga: Methodological Study of the Book of An-Nail Al-Hatsîts Fî Hikâyât Al-Hadîts by Al Imam Al Faqih Abu Laits As-Samarqandi Nuralita, Fadila Ikke; Ahmadi, Rizqa; Noorhidayati, Salamah
Mashdar: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis Vol 5, No 2 (2023): Mashdar: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/mashdar.v5i2.7597

Abstract

This article investigates the syarah of the book an-Nail al-Hatsîts fî Hikâyât al-Hadîts (NHfHH) by Al-Imam Al Faqih Abu Laits As-Samarqandi with a focus on the study of syarah hadith methodology. This work by As-Samarqandi is classified as a book in the Sufism genre, which is arranged thematically and contains various explanations (syarah) of the saga. This research employs a qualitative design with literature research methods. Next, hadith data was collected from primary sources, namely NHfHH, and then the data was read by using the takhrij hadith method to trace the hadith reference sources. This research found out that NHfHH by As-Samarqandi is using the ijmali syarah method, which explains its syarah globally. Next, the writing of the syarah is originated from companions, tabi'in, Sufism, explanation of verses of the Al-Qur’an, verses of poetry, and unidentified sources. The sharia style of this book has five varieties: fiqh, social, Sufi lore, linguistics and education. In addition, As-Samarqandi uses expository narration based on actual facts and data. A suggestive narrative is based on events that involve the reader's imagination, so it is equipped with character dialogue, scenes of events, and resolution. The written book is comprehensively divided into chapters according to what society needs and is a tool for socialization about social values, motivation, and uplifting the soul. Thus, this makes this work accessible to understand, educates people on how to behave and do good deeds, and allows them to tolerate various events. Apart from that, it teaches an attitude of getting closer to Allah and trying to change a bad personality into a good one. In brief, NHfHH proves that the style of writing syarah hadith books has developed following society's need for prophetic messages.
Implementation of Blended Learning in PAI Subjects to Increase Student Engagements in High School Fauziyah, Lana Umi; Hartati, Erina Rizka; Hidayat, Nurul; Noorhidayati, Salamah; Junaidi, Mahbub
EDU-RELIGIA : Jurnal Keagamaan dan Pembelajarannya Vol 7 No 1 (2024): Edu-Religia : Jurnal Keagamaan dan Pembelajarannya
Publisher : Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/edu-religia.v7i1.6750

Abstract

As technology develops, learning models have progressed, and learning in class and online (online) has experienced significant developments. The combination of the two is called a blended learning model. Because the learning process cannot be separated from the touch of technology. In line with that, learning achievements in this technological era are carried out by updating the quality of learning, helping students develop participation, personalizing learning, emphasizing project or problem-based learning, encouraging collaboration and communication, increasing student involvement and motivation, cultivating creativity and innovation in learning, using appropriate learning tools, and designing learning activities that are relevant to the real world. So, this research aims to discover the meaning, components, composition, characteristics, types, implementation, and advantages and disadvantages of the blended model. The author of this research used the literature study method. In the blended learning model, there are six stages. The first stage is determining the teaching materials. Second, the design of the blended model used must be determined. Third, determine the online learning format. Fourth, carry out design trials. Fifth, apply the model that has been designed and finally evaluate. The author used the RPP for Class XII odd semester PAI subjects from SMAN 1 Prambanan to implement these six stages as a sample. In general, the results have met the evaluation criteria starting in terms of ease of navigation, format/appearance, applicability, cost-effectiveness/value, and content in accordance with the learning objectives. However, there is some material whose study content is not complete.
Kontekstualisasi Makna Bid'ah Dalam Hadis Perspektif Asy-Syatibhi Dan Hasyim Asyari: Analisis Kitab Al-I'tisham Dan Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah Hasym, Jumiati Binti; Noorhidayati, Salamah; Ridho, Muhamad; Hidayat, Nurul; Abdul Rahim, Mohd Hisyam Bin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.25-48

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari tentang makna bid'ah dalam hadis, menganalisis konteks pemahaman dan kontekstualisasinya serta pemberdayaan pemahaman Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari tentang bid'ah dalam konteks kekinian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif yang bersifat kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan dua sumber data yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berupa kitab Al-I'tisham dan kitab Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah, sedangkan sumber data sekunder berupa buku, jurnal, karya ilmiah lain dari penelitian terdahulu atau literatur lain yang berkaitan dengan pokok penelitian serta aplikas hadis lembut. Dalam melakukan proses analisis data, penulis menggunakan teori kontekstualis (pendekatan kontekstualis) yang ditawarkan oleh Abdullah Saeed. Penelitian ini menemukan bahwa Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari memiliki perbedaan pemahaman dalam memahami makna bid'ah yang ditulis dalam kitab Al-I'tisham dan Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah Perbedaan Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari diawali dari lafad hadis “kullu bid' atin dhalalah”dan lafad “man ahdatsa fii amrina”.. Asy-Syatibhi dalam memaham bid'ah secara literal terhadap hadis bid'ah dengan fokus hanya kepada lafaz serta tafsiran asal dan keumuman teks. Sedangkan Hasyim Asyari memahami bid'ah dengan tidak melihat keumuman teks tetapi, mentakhsis dengan teks yang lain untuk menemukan makna yang lebih luas.
Penafsiran Bakri Syahid Tentang Kepemimpinan dalam Al-Huda Tafsir Qur'an Basa Jawi Maya, Ria Tri; Badruzaman, Abad; Noorhidayati, Salamah
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 5 No. 3 (2024): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v5i3.1830

Abstract

Leadership is important because it becomes the milestone of a community. About this leadership, not only found in the Qur’an but also found in Javanese philosophy, considering that Javanese philosophy is a teaching that is full of deep meaning. There are several figures who try to combine the Qur’an with Javanese philosophy, Bakri Syahid is one of them. In his work Al-Huda Tafsir Qur’an Basa Jawi it uses subtle Javanese language, he combines the Qur’an with Javanese philosophy. The conception of leadership according to Bakri Syahid in Tafsir Al-Huda there are three, namely socialist, mandate, and religious. When interpreting verses from the Qur’an Bakri Syahid also includes elements of Javanese culture. The influence of Javanese culture in Tafsir Al-Huda can be seen in its interpretation that combines Islamic teachings with Javanese culture, such as the use Javanese philosophical concepts contained in Serat Wulang Reh.
Makna Al-Najwa dalam Al-Qur'an: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah Maziyatul Hikmah; Teguh Teguh; Salamah Noorhidayati
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.235

Abstract

Al-Najwa merupakan pembicaraan secara rahasia yang dilarang oleh syari’at agama sebab mengandung unsur keburukan. Penelitian ini memiliki titik pusat pembahasan pada makna Al-Najwa yang menjadi kebiasaan masyarakat. Tujuan artikel ini untuk menganalisis makna Al-Najwa dalam al-Qur’an yang memfokuskan pada Q.S an-Nisa ayat 114, Q.S al-Tawbah ayat 78, dan Q.S al-Isra’ ayat 47 dengan mengkomparasikan antara pandangan tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yang mengacu pada beberapa bahan pustaka yang relevan dengan tema penelitian, serta tergolong dalam penelitian deskriptif komparatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik penelaahan terhadap beberapa literatur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah menunjukkan makna Al-Najwa dalam Q.S al-Nisa’ ayat 114, Q.S al-Tawbah ayat 78, dan Q.S al-Isra’ ayat 47 menurut tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah. Dari ayat-ayat tersebut penulis menyimpulkan diantara tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah yang memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Kedua tafsir memiliki persamaan dalam menjelaskan makna Al-Najwa sebagai perilaku berbisik-bisik. Pada ayat pertama tafsir al-Azhar cenderung menggambarkan penafsirannya dengan kasus nyata, sedangkan tafsir al-Misbah lebih condong pada sisi kebahasaan. Ayat kedua tafsir al-Azhar memberikan kutipan peribahasa sebagai penjelas penafsirannya, sedangkan tafsir al-Misbah menyajikan sisi kebahasan Al-Najwa. Kemudian ayat ketiga tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah memiliki pendapat yang sama, tetapi tafsir al-Misbah lebih menonjolkan pada sisi kebahasaan.
Qur’anic Exegesis as A Social Critique: A Study on the Traditionalist Bisri Musthofa’s Tafsīr al-Ibrīz Abidin, Ahmad Zainal; Nurain, N.; Aziz, Thoriqul; Noorhidayati, Salamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.215-239

Abstract

This article examines Tafsīr al-Ibrīz, a Javanese exegetical work of the Quran authored by the traditionalist Muslim scholar Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Adopting a dialogical approach to tafsr literature, the study seeks to explore the intersection between the scriptural text and the sociocultural contexts that the exegete engages with. Written during a period marked by the intensification of Islamic reform and modernization, al-Ibrīz offers valuable historical insights into these dynamics, as well as the exegete’s responses and critiques of contemporary socio-religious challenges in Indonesia. Through a critical-dialectical epistemological framework, the article underscores two significant aspects: the intellectual perspective of the author and the socio-cultural milieu in which the book was produced. Furthermore, it contends that Bisri Musthofa epitomizes a defender of Islamic traditionalism, whose religious authority is articulated through classical Islamic scholarship. His book embodies the responses of traditionalist Muslims to the processes of modernization and rationalization in late 20th-century Indonesia, addressing issues spanning economics, theology, and ethics.[Artikel ini mengkaji Tafsir al-Ibrīz, sebuah karya tafsir al-Qur’an Jawa yang ditulis oleh ulama tradisionalis, Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Dengan menggunakan pendekatan dialogis literatur tafsir, penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi persinggungan antara teks kitab suci dan konteks sosial budaya yang dihadapi oleh penafsir. Ditulis selama periode yang ditandai oleh intensifikasi reformasi dan modernisasi Islam, al-Ibrīz menawarkan wawasan sejarah yang berharga serta tanggapan dan kritik penafsir terhadap tantangan sosial-keagamaan kontemporer di Indonesia. Melalui kerangka epistemologis dialektis-kritis, artikel ini menggarisbawahi dua aspek penting: perspektif intelektual penyusun dan lingkungan sosial-budaya tempat buku tersebut disusun. Lebih jauh, penulis berpendapat bahwa Bisri Musthofa merupakan lambang pembela tradisionalisme Islam, yang otoritas keagamaannya diartikulasikan melalui keilmuan Islam klasik. Tafsir al-Ibrīz merangkum respons kaum Muslim tradisionalis terhadap proses modernisasi dan rasionalisasi di Indonesia akhir abad ke-20, dengan membahas isu-isu yang mencakup ekonomi, teologi, dan etika.]