Claim Missing Document
Check
Articles

Implementation of Blended Learning in PAI Subjects to Increase Student Engagements in High School Fauziyah, Lana Umi; Hartati, Erina Rizka; Hidayat, Nurul; Noorhidayati, Salamah; Junaidi, Mahbub
EDU-RELIGIA : Jurnal Keagamaan dan Pembelajarannya Vol 7 No 1 (2024): Edu-Religia : Jurnal Keagamaan dan Pembelajarannya
Publisher : Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/edu-religia.v7i1.6750

Abstract

As technology develops, learning models have progressed, and learning in class and online (online) has experienced significant developments. The combination of the two is called a blended learning model. Because the learning process cannot be separated from the touch of technology. In line with that, learning achievements in this technological era are carried out by updating the quality of learning, helping students develop participation, personalizing learning, emphasizing project or problem-based learning, encouraging collaboration and communication, increasing student involvement and motivation, cultivating creativity and innovation in learning, using appropriate learning tools, and designing learning activities that are relevant to the real world. So, this research aims to discover the meaning, components, composition, characteristics, types, implementation, and advantages and disadvantages of the blended model. The author of this research used the literature study method. In the blended learning model, there are six stages. The first stage is determining the teaching materials. Second, the design of the blended model used must be determined. Third, determine the online learning format. Fourth, carry out design trials. Fifth, apply the model that has been designed and finally evaluate. The author used the RPP for Class XII odd semester PAI subjects from SMAN 1 Prambanan to implement these six stages as a sample. In general, the results have met the evaluation criteria starting in terms of ease of navigation, format/appearance, applicability, cost-effectiveness/value, and content in accordance with the learning objectives. However, there is some material whose study content is not complete.
Kontekstualisasi Makna Bid'ah Dalam Hadis Perspektif Asy-Syatibhi Dan Hasyim Asyari: Analisis Kitab Al-I'tisham Dan Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah Hasym, Jumiati Binti; Noorhidayati, Salamah; Ridho, Muhamad; Hidayat, Nurul; Abdul Rahim, Mohd Hisyam Bin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2024.12.1.25-48

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari tentang makna bid'ah dalam hadis, menganalisis konteks pemahaman dan kontekstualisasinya serta pemberdayaan pemahaman Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari tentang bid'ah dalam konteks kekinian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif yang bersifat kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan dua sumber data yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berupa kitab Al-I'tisham dan kitab Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah, sedangkan sumber data sekunder berupa buku, jurnal, karya ilmiah lain dari penelitian terdahulu atau literatur lain yang berkaitan dengan pokok penelitian serta aplikas hadis lembut. Dalam melakukan proses analisis data, penulis menggunakan teori kontekstualis (pendekatan kontekstualis) yang ditawarkan oleh Abdullah Saeed. Penelitian ini menemukan bahwa Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari memiliki perbedaan pemahaman dalam memahami makna bid'ah yang ditulis dalam kitab Al-I'tisham dan Risalah Ahlusunnah Wal Jam'ah Perbedaan Asy-Syatibhi dan Hasyim Asyari diawali dari lafad hadis “kullu bid' atin dhalalah”dan lafad “man ahdatsa fii amrina”.. Asy-Syatibhi dalam memaham bid'ah secara literal terhadap hadis bid'ah dengan fokus hanya kepada lafaz serta tafsiran asal dan keumuman teks. Sedangkan Hasyim Asyari memahami bid'ah dengan tidak melihat keumuman teks tetapi, mentakhsis dengan teks yang lain untuk menemukan makna yang lebih luas.
Penafsiran Bakri Syahid Tentang Kepemimpinan dalam Al-Huda Tafsir Qur'an Basa Jawi Maya, Ria Tri; Badruzaman, Abad; Noorhidayati, Salamah
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 5 No. 3 (2024): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v5i3.1830

Abstract

Leadership is important because it becomes the milestone of a community. About this leadership, not only found in the Qur’an but also found in Javanese philosophy, considering that Javanese philosophy is a teaching that is full of deep meaning. There are several figures who try to combine the Qur’an with Javanese philosophy, Bakri Syahid is one of them. In his work Al-Huda Tafsir Qur’an Basa Jawi it uses subtle Javanese language, he combines the Qur’an with Javanese philosophy. The conception of leadership according to Bakri Syahid in Tafsir Al-Huda there are three, namely socialist, mandate, and religious. When interpreting verses from the Qur’an Bakri Syahid also includes elements of Javanese culture. The influence of Javanese culture in Tafsir Al-Huda can be seen in its interpretation that combines Islamic teachings with Javanese culture, such as the use Javanese philosophical concepts contained in Serat Wulang Reh.
Makna Al-Najwa dalam Al-Qur'an: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah Maziyatul Hikmah; Teguh Teguh; Salamah Noorhidayati
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.235

Abstract

Al-Najwa merupakan pembicaraan secara rahasia yang dilarang oleh syari’at agama sebab mengandung unsur keburukan. Penelitian ini memiliki titik pusat pembahasan pada makna Al-Najwa yang menjadi kebiasaan masyarakat. Tujuan artikel ini untuk menganalisis makna Al-Najwa dalam al-Qur’an yang memfokuskan pada Q.S an-Nisa ayat 114, Q.S al-Tawbah ayat 78, dan Q.S al-Isra’ ayat 47 dengan mengkomparasikan antara pandangan tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yang mengacu pada beberapa bahan pustaka yang relevan dengan tema penelitian, serta tergolong dalam penelitian deskriptif komparatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik penelaahan terhadap beberapa literatur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah menunjukkan makna Al-Najwa dalam Q.S al-Nisa’ ayat 114, Q.S al-Tawbah ayat 78, dan Q.S al-Isra’ ayat 47 menurut tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah. Dari ayat-ayat tersebut penulis menyimpulkan diantara tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah yang memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Kedua tafsir memiliki persamaan dalam menjelaskan makna Al-Najwa sebagai perilaku berbisik-bisik. Pada ayat pertama tafsir al-Azhar cenderung menggambarkan penafsirannya dengan kasus nyata, sedangkan tafsir al-Misbah lebih condong pada sisi kebahasaan. Ayat kedua tafsir al-Azhar memberikan kutipan peribahasa sebagai penjelas penafsirannya, sedangkan tafsir al-Misbah menyajikan sisi kebahasan Al-Najwa. Kemudian ayat ketiga tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah memiliki pendapat yang sama, tetapi tafsir al-Misbah lebih menonjolkan pada sisi kebahasaan.
Qur’anic Exegesis as A Social Critique: A Study on the Traditionalist Bisri Musthofa’s Tafsīr al-Ibrīz Abidin, Ahmad Zainal; Nurain, N.; Aziz, Thoriqul; Noorhidayati, Salamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.215-239

Abstract

This article examines Tafsīr al-Ibrīz, a Javanese exegetical work of the Quran authored by the traditionalist Muslim scholar Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Adopting a dialogical approach to tafsr literature, the study seeks to explore the intersection between the scriptural text and the sociocultural contexts that the exegete engages with. Written during a period marked by the intensification of Islamic reform and modernization, al-Ibrīz offers valuable historical insights into these dynamics, as well as the exegete’s responses and critiques of contemporary socio-religious challenges in Indonesia. Through a critical-dialectical epistemological framework, the article underscores two significant aspects: the intellectual perspective of the author and the socio-cultural milieu in which the book was produced. Furthermore, it contends that Bisri Musthofa epitomizes a defender of Islamic traditionalism, whose religious authority is articulated through classical Islamic scholarship. His book embodies the responses of traditionalist Muslims to the processes of modernization and rationalization in late 20th-century Indonesia, addressing issues spanning economics, theology, and ethics.[Artikel ini mengkaji Tafsir al-Ibrīz, sebuah karya tafsir al-Qur’an Jawa yang ditulis oleh ulama tradisionalis, Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Dengan menggunakan pendekatan dialogis literatur tafsir, penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi persinggungan antara teks kitab suci dan konteks sosial budaya yang dihadapi oleh penafsir. Ditulis selama periode yang ditandai oleh intensifikasi reformasi dan modernisasi Islam, al-Ibrīz menawarkan wawasan sejarah yang berharga serta tanggapan dan kritik penafsir terhadap tantangan sosial-keagamaan kontemporer di Indonesia. Melalui kerangka epistemologis dialektis-kritis, artikel ini menggarisbawahi dua aspek penting: perspektif intelektual penyusun dan lingkungan sosial-budaya tempat buku tersebut disusun. Lebih jauh, penulis berpendapat bahwa Bisri Musthofa merupakan lambang pembela tradisionalisme Islam, yang otoritas keagamaannya diartikulasikan melalui keilmuan Islam klasik. Tafsir al-Ibrīz merangkum respons kaum Muslim tradisionalis terhadap proses modernisasi dan rasionalisasi di Indonesia akhir abad ke-20, dengan membahas isu-isu yang mencakup ekonomi, teologi, dan etika.]
Pelatihan Retorika Dakwah bagi Santri di Pesantren Subulussalam Plosokandang Tulungagung Jawa Timur Salamah Noorhidayati; Ahmad Zainal Abidin; Zunita Lutfiana Pangesti; Husnul Amira
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.152

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang pelatihan retorika dakwah bagi santri di Pesantren Subulussalam Plosokandang Tulungagung Jawa Timur yang berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu meningkatkan keterampilan dan kemampuan santri dalam menyampaikan pesan dakwah, gagasan, maupun ide dengan baik dan efektif. Peningkatan ini nampak dibanding dari keadaan sebelumnya yang belum baik dan maksimal. Dengan metode deskriptif, tulisan ini menjelaskan bagaimana melalui pendekatan partisipatif, metode pelatihan praktis, dan pendampingan intensif, program pelatihan ini meningkatkan pengetahuan kognitif santri tentang teori dakwah dan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan yang selama ini ada. Dengan masukan-masukan selama pendampingan, para santri memperbaiki praktik khitobah yang selama ini kurang baik dan kurang maksimal menjadi lebih baik, efektif dan maksimal. Pada akhirnya, tulisan ini menemukan bahwa hasil pelatihan dari PKM ini menjadi model bagi pimpinan pesantren, musyrif-musyrifah dan pengurus dalam melakukan evaluasi praktek khitobah. Selanjutnya pola pendampingan ini dapat diberlakukan seterusnya bagi santri atau peserta khitobah yang belum tersentuh pendampingan karena terbatasnya waktu pendampingan.
Pembangunan Spiritualitas Anak Oleh Orang Tua Perspektif QS Maryam Ayat 30-32 Mushaffa, Arju; Azmi, M. Ulul; Islam, Muhammad Thoriqul; Ludviana, Vieke; Amelia, Fatma; Fasya, Zaini; Noorhidayati, Salamah
Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan Vol 17 No 1 (2025): Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-qalam.v17i1.3609

Abstract

As a Muslims, the implementation of the educational process should be understood as an effort to convey, transform, and internalize the values of Islamic teachings, which cannot be separated from the teachings contained in the Qur'an and Hadith. This includes values that are closely related to the development of children's spirituality as an important part of character building. The purpose of this paper is to describe the development of children's spirituality by parents in Surah Maryam verses 30-32. As well as analyzing the values of spiritual education contained in Surah Maryam verses 30-32. The method used in this writing is the literature research method, where the author relies on various literatures to obtain research data. The purpose of this research is to find out the aspects of building children's spirituality by parents contained in QS Maryam verses 30-32. QS Maryam verses 30-32 contains three aspects of building children's spirituality by parents, namely aspects of Aqidah or faith, aspects of Shari'a or worship, and aspects of morality.
GAYA PENAMPILAN DAKWAH HANAN ATTAKI, ALI JABER, DAN MIFTAH FAUZIAH, DIYA’ ANNISAUL; NOORHIDAYATI, SALAMAH
TASAMUH Vol. 19 No. 1 (2021): MODEL DAKWAH DAN MANAJEMEN
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tasamuh.v19i1.3418

Abstract

In preaching, da'i must need a way or method to provide attractiveness for the object of da'wah to enter into the study of da'wah, the ethics of fashion as a thing that is very noticed by the community in the da'wah of its da'i, no wonder when fashion trends today become a favorite thing of the community in a da'wah delivered by the da'i. It has been widely studied about the ethics of fashion in preaching in order to attract mad'u, but not all people have a fashion interest in one da'i. In this journal, the author took three examples of da'i using clothes that were able to attract mad'u in his da'wah studies, namely Hanan Attaki, Ali Jaber, and Miftah. The purpose of this journal is because the public knows that fashion is able to cause mad'u interest in a da'wah. With this journal, we will know that all kinds of clothing can be used as a trend of da'wah as long as it doesn’t violate ethics of da'wah fashion that is in accordance with shariat islam
Hubungan Antar Umat Beragama Dalam Perpektif Hadits Noorhidayati, Salamah
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v10i2.11

Abstract

Dalam beberapa hal, Islam sering dituduh sebagai agama yang diskriminatif, khususnya terkait dengan relasi antar umat beragama. Tuduhan ini didasarkan pada banyaknya hadis yang secara redaksional menunjukkan sikap yang demikian. Artikel ini mengelaborasi tipologi hadis-hadis tentang relasi umat beragama, konteks sosio-historis yang melatari kemunculannya dan model pembacaan yang konstruktif untuk konteks kekinian. Penelitian ini menemukan bahwa: Pertama, ada dua sikap hadis terhadap umat non muslim, yaitu apresiatif-akomodatif dan kritis-konfrontatif. Kedua, kedua kategori itu lahir dalam konteks relasi sosial umat beragama yang dinamis-fluktuatif yaitu harmonis dan disharmonis. Ketiga, pembacaan yang konstruktif dilakukan dengan menggunakan pendekatan humanis-kontekstual. 
MANAQIBAN OF SHAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI TRADITION: Study of Living Hadith in Kunir Wonodadi Blitar East of Java Noorhidayati, Salamah; Mahmud, Kharis
KALAM Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v12i1.2319

Abstract

This article examines the meaning of tradition in Syaikh Abdul Qadir Jailani’s Manaqiban recitation in Kunir village, Wonodadi, Blitar.  This article is written based on the research using qualitative method and phenomenology approach. Data collected from observation, interviews, and document reviews are analysed using Karl Manheim’s theory of knowledge. This article demonstrates that, first, manaqiban tradition understood by the Kunir villagers as form of Islamic teaching guided by the Qur’an and the hadith and a medium for acquiring blessing from the Saint. Second, for the Kunir villagers, the manaqiban tradition has three meanings, i.e. objective meaning referring to a form of religious observance; expressive meaning referring to the motives jama’ah has in manaqiban participation; documentary meaning referring to the meaning of manaqiban as a means to preserve Islamic teaching and accommodate local culture in order to create religious and social life of society.