p-Index From 2021 - 2026
2.863
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Buletin PSP Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut MEDIA KONSERVASI Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Maspari Journal Bumi Lestari AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Jurnal Perikanan dan Kelautan AL KAUNIYAH Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Jurnal EduBio Tropika Maspari Journal Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology Journal of Degraded and Mining Lands Management Jurnal Perikanan dan Kelautan Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) JURNAL BIOLOGI INDONESIA Omni-Akuatika MAJALAH ILMIAH GLOBE Jurnal Biologi Tropis Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management) LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management COJ (Coastal and Ocean Journal) Jurnal Ilmu Kehutanan Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Jurnal Manusia dan Lingkungan Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan (Journal of Environmental Sustainability Management)
Claim Missing Document
Check
Articles

STUDI KETERKAITAN EKOSISTEM LAMUN DAN PERIKANAN SKALA KECIL (Studi Kasus: Desa Malang Rapat dan Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau) Muhammad Nur Arkham; Luky Adrianto; Yusli Wardiatno
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.269 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i2.1255

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu bagian penting sebagai bagian penyusun kesatuan ekosistem pesisir bersama dengan mangrove dan terumbu karang. Secara spesifik, keterkaitan masyarakat sebagai pemanfaat sumberdaya pada ekosistem lamun belum banyak diungkapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keterkaitan sistem sosial-ekologi lamun berdasarkan hasil tangkapan sumberdaya ikan di lokasi penelitian dan mengestimasi besaran manfaat sumberdaya ikan kaitannya dengan jasa ekosistem lamun di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data yang dibutuhkan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapat dari wawancara dengan instrumen kuisioner dan pencatatan hasil tangkapan dan penjualan di pedagang pengepul. Analisis data penelitian ini menggunakan metode analisis diskriptif kualitatif dan net fishing revenue (NFR) yang diperoleh nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan sosial-ekologi dengan keberadaan ekosistem lamun yang dijadikan sebagai tempat penangkapan bagi perikanan skala kecil yang bisa berkontribusi dalam ketahanan pangan dan sebagai mata pencaharian nelayan di desa tersebut. Manfaat yang didapat perikanan skala kecil dari keberadaan ekosistem lamun yaitu kemudahan akses bagi nelayan skala kecil dalam mencari ikan karena lokasinya yang dekat dengan pantai. Secara umum besaran manfaat dari fungsi ekosistem lamun sebagai jasa penyedia terlihat dari pendapatan per hari nelayan skala kecil diatas UMK Kabupaten Bintan yaitu Rp. 93,000,00. Dengan adanya keterkaitan sosial-ekologi lamun tersebut dapat dilakukan pertimbangan pengelolaan pesisir terpadu dengan pendekatan sosial-ekologi lamun di lokasi penelitian. (The Study of Seagrass Ecosystem and Small-Scale Fisheries Linkages (Case Studie: Malang Rapat and Berakit village, Bintan Regency,Riau Islands))Seagrass ecosystem is one of an important coastal ecosystem’s component along with mangroves and coral reefs. However, the linkage between fishers and seagrass ecosystem, had not been fully explored. The objectives of this research were analyze seagrass social-ecological system linkages based on fish caught and estimating the fisheries resource benefits regarding its ecosystem services at the study sites. Qualitative and quantitative approach based on primary and secondary data were used in this study. Data were collected by interviewed using questionaire and also production and sales records from sellers. Descriptive-qualitative and net fishing revenue (NFR) were used to analyze in this study. Results showed that there was a social and ecological linkage between seagrass and small scale fishers that could contribute to food security and livelihood at those sites. Accessibility of fishing ground on shores was one of the benefit for small scale fisheries. While ecological benefit of seagrass as a provisioning service was indicated by the daily small scale fishers’ revenue that was higher than The Minimum District Wage of Bintan District value which was IDR 93,000. Based on those social-ecological linkages, it is possible to use integrated coastal management with seagrass social-ecological approach in those sites.
KAJIAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR BERBASIS PENGELOLAAN BERKELANJUTAN PADA BUDIDAYA BANDENG DI PESISIR KABUPATEN KARAWANG Dicky Rachmanzah; Bambang Widigdo; Yusli Wardiatno
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.144 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menilai kesesuaian pelaksanaan dan capaian tujuan program penberdayaan melalui penilaian Indeks Pelaksanaan Program dan Indeks Pencapaian Tujuan;  (2) mengidentifikasi  pengaruh  variabel  pelaksanaan  sebagaimana  disebutkan  dalam  pedoman pemberdayaan terhadap tujuan program pemberdayaan dalam dimensi ekologis, ekonomi, dan  sosial, serta; (3) merumuskan strategi perbaikan yang perlu dilakukan sehingga pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pesisir dapat terlaksana dan berlanjut secara efektif. Metode penelitian  yang digunakan adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Indeks Pelaksanaan Program adalah sebesar 2,39 dengan kategori ‘Baik’. Indikator yang memerlukan upaya perbaikan  yaitu indikator ketepatan waktu penyaluran bantuan; (2) Indeks Pencapaian Tujuan sebesar 2,11 dengan kategori Cukup. Indikator capaian tujuan peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan kelembagaan kelompok memerlukan upaya perbaikan guna pencapaian kategori yang lebih baik; (3) Terhadap pencapaian tujuan dalam dimensi ekonomi berupa peningkatan produksi budidaya, variabel ketepatan waktu penyaluran, kecukupan jumlah bantuan, dan aktivitas pendampingan berpengaruh positif, sedangkan variabel kejadian kekeringan berpengaruh negatif; (4) Untuk pencapaian tujuan dalam  dimensi  sosial,  hanya  variabel  aktivitas  pendampingan  yang  berpengaruh  signifikan  terhadap peningkatan kelembagaan kelompok, dan; (5) Keseluruhan variabel pelaksanaan tidak berpengaruh terhadap capaian tujuan dalam dimensi ekologis berupa peningkatan kualitas lingkungan. Dengan memperhatikan hasil analisis, beberapa opsi kebijakan yang perlu dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu: (1) penyesuaian waktu penyaluran bantuan dengan musim tanam untuk meningkatkan efektifitas capaian tujuan dalam dimensi ekonomi; (2) peningkatan dukungan terhadap aktivitas pendampingan oleh tenaga penyuluh, untuk meningkatkan capaian tujuan dalam dimensi sosial, dan; (3) peningkatkan capaian tujuan dalam dimensi ekologis, berupa peningkatan kualitas lingkungan melalui pemberian intensif bagi pembudidaya yang memiliki sertifikat cara budidaya ikan yang baik (CBIB)(Title: Implementation Study of The Coastal Communities Empowerment Program Based on Sustainable Management of Milkfish Cultured In The Coastal Regency of Karawang)This study aimed to: (1) assess the suitability of the empowerment program implementation and  goals through the introduction of programs implementation Indexes and achievement of goals indexes;  (2) identify influences of enforcement variable mentioned in empowerment guidelines against goals of empowerment programs, the objectives in the form of economic, social, and ecology dimensions, and; (3) formulate strategy that needs to be done so the program can continue and be implemented effectively  in achieving its goal. Survey was used as the research method. The result of studies have shown that:  (1) Program Implementation Index that states performance level of coastal community empowerment program is worth 2.39 with the Good category. Performance indicators that require improvement efforts in order to achieve a better category , i.e. punctuality indicators of aid distribution; (2) Achievement Index that states the level of achievement goals of empowerment program is worth 2.11 with moderate 14 categories. The whole purpose of indicators that include increased production, increased institutional  farmer group, and improving the quality of the environment in the category of quite and require attention  and improvement efforts in order to achieve a better category; (3) against the objectives in the form of economic, variable aid delivery timeliness,adequacy of the amount of aid, and mentoring activity has a positive effect, while the incidence of drought has negative impact; (4) against the objectives in the form of social, only mentoring activities has a positive effect, and; (5) all of implementation variable hasn’t  effect against the objectives in the form of ecology. By considering the results of the analysis, some policy options that need to be done by Ministry of Marine Affairs and Fisheries are: 1) timing adjustment aid to the fish cultivation to increase the effectiveness of objectives in the form of economic; (2) Improved support for mentoring activities, to increase the objectives in the form of social; (3) and improvement of objectives in the form of ecology objectives through the rovision of intensive to the farmers who are  certified best aquaculture practiced
Jasa Ekosistem Lamun Bagi Kesejahteraan Manusia Yudi Wahyudin; Tridoyo Kusumastanto; Luky Adrianto; Yusli Wardiatno
Journal Omni-Akuatika Vol 12, No 3 (2016): Omni-Akuatika Special Issue Kripik SCiFiMaS
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.377 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2016.12.3.122

Abstract

The purpose of this study was to determine the typology, seagrass ecosystem function andservices that are useful for human well-being.  This research was conducted by using literaturessurvey of some scientific documents and analyzed qualitatively and described to obtain acomprehensive overview in accordance with purposes of this research.  The results of this studyshows that seagrass ecosystem provides the benefits of ecosystem services are valuable andneeded humans to meet their needs and well-being, both ecologically, socially, and economically. Those ecosystem services include the following: (i) provisioning services that one of them shownby the production of a protein source necessary for mandkind, (ii) regulating services, one of whichis shown by role of seagrass in maintaining the stability of white sand beaches from abrasion, (iii)cultural services, one one which is shown by the role of seagrass in making the surrounding areaas a place for recreation, especially recreational fishing, and (iv) supporting services, one of whichis shown by the role of seagrass in the process of supplying oxygen and nutrient cycling in thewaters of the needs of fish and biota surrounding.  All the ecosystem services provided to be asource of life and livelihood are needed to meet the people’s welfare.  Keywords : seagrass, ecosystem services, provisioning services, regulating services,cultural services, supporting services
Distribution Of Batillaria Zonalis (Mollusca : Gastropoda) on Avicennia Marina (Forsk.) Vierh In The Coast Of Banggi, Rembang, Central Java Dafit Ariyanto Ariyanto; Dietriech Geoffrey Bengen; Tri Prartono; Yusli Wardiatno
Journal Omni-Akuatika Vol 14, No 3 (2018): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.838 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2018.14.3.458

Abstract

Mangroves prove a habitat for Batillaria zonalis as nursery ground, feeding ground and reproductive ground. This research was conducted from September 2016 - August 2017 and to determine the spasial and temporal pattern  with based on mangrove zone  and environmental characteristics. The gastropods and environmental characteristics were analyzed using Principal Component Analysis (PCA). The results showed that significant changes in gastropod assemblages were primarily due to changes in the water quality and season. Correlation between gastropod and physico-chemical parameters in A. marina  revealed significant relationship with gastropod B. zonalis distribution.
KONDISI DAN PRIORITAS UNTUK MENGENDALIKAN PEMANFAATAN IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus, RÜPPELL, 1835) DI KABUPATEN RAJA AMPAT Hendrik Sombo; Mohammad Mukhlis Kamal; Yusli Wardiatno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.047 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.3.2017.181-191

Abstract

Hasil survei potensi yang dilakukan IUCN dan LPSPL Sorong menunjukkan nilai kelimpahan ikan napoleon (Cheilinus undulatus) di Kabupaten Raja Ampat termasuk dalam kategori rendah. Walaupun demikian, nelayan tetap menginginkan ada kuota untuk pemanfaatannya karena merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama. Aktivitas pemanfaatan harus disertai dengan upaya pengendalian untuk menjaga kelestarian sumberdaya. Penerapan upaya fishing control dan manajemen kebijakan belum dilakukan secara optimal, sehingga diperlukan penetapan berdasarkan skala prioritas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi pemanfaatan dan menentukan skala prioritas upaya untuk mengendalikan pemanfaatan ikan napoleon di Kabupaten Raja Ampat. Penentuan skala prioritas dianalisis dengan model Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan melibatkan pakar di bidang konservasi dalam penilaian. Berdasarkan hasil identifikasi, kondisi pemanfaatan ikan napoleon di Kabupaten Raja Ampat dilakukan belum sesuai dengan ketentuan regulasi yang telah ditetapkan. Hasil penilaian dengan model AHP menunjukkan bahwa kriteria yang paling penting untuk mengendalikan pemanfaatan ikan napoleon adalah sumberdaya ikan lestari, dan urutan prioritas alternatif adalah sosialisasi kepada nelayan/pengusaha (bobot 0,2935), pengawasan (bobot 0,2715), survei kelimpahan secara berkala (bobot 0,2181) dan penerapan lalu lintas perdagangan melalui bandara (bobot 0,2169).The results of potential survey by IUCN and LPSPL Sorong showed the abundance value of napoleon fish (Cheilinus undulatus) in Raja Ampat Regency was low category. Nonetheless, the fisher quota for its utilization because it is one of the main sources of livelihood. The utilization activities should be followed by control of effort to maintain resource sustainability. Implementation of fishing control and management decisions has not been done optimally, therefore it need to be set based on priority scale. The purpose of this study were to identify conditions of utilization and to determine the priority scale to control utilization of napoleon wrasse fishery in Raja Ampat Regency. Determination of priority scale were analyzed with Analytical Hierarchy Process (AHP) model by involving experts in the field of conservation in the assessment. Based on the results of identification, the condition of the utilization of napoleon fish in Raja Ampat Regency was not with the regulation. The results of the assessment with AHP model showed that the most important criteria to control utilization of napoleon wrasse fishery is sustainable fish resources, and alternatives priority order are socialization/awareness program to fishers/live fish buyer (value 0.2935), surveillance (value 0.2715), periodic density surveys (value 0.2181) and implementation of trade air-only (value 0.2169).
DINAMIKA POPULASI LOBSTER PASIR (Panulirus homarus Linnaeus, 1758) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, JAWA BARAT Zairion Zairion; Nefi Islamiati; Yusli Wardiatno; Ali Mashar; Rudi Alek Wahyudin; Agus Alim Hakim
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.878 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.3.2017.215-226

Abstract

Dinamika populasi merupakan aspek penting sebagai dasar pengelolaan perikanan dan informasi tentang aspek tersebut pada lobster pasir masih minim di perairan Palabuhanratu. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek pertumbuhan, pola rekrutmen, mortalitas dan laju eksploitasi lobster pasir (Panulirus homarus) di perairan Palabuhanratu. Penelitian ini dilakukan periode Juni 2015-Mei 2016 dengan metode sensus. Lobster pasir hasil tangkapan jaring insang dasar dengan jumlah total sampel 483 ekor mempunyai panjang karapas antara 28-100 mm. Pola pertumbuhan berdasarkan hasil regresi linear memperlihatkan allometrik negatif. Hasil analisis menggunakan metode ELEFAN I (Electronic Length Frequency Analysis) menunjukan koefisien pertumbuhan lobster pasir jantan (K = 0,29 per tahun), lebih kecil dibandingkan dengan betina (K = 0,40 per tahun). Rekrutmen terindikasi dua puncak dalam setahun: yaitu pada Februari-Mei dan September-Oktober). Laju mortalitaskarena penangkapan (F) mencapai 1,9-2,2 kali laju mortalitas alami (M). Nilai Lc<Lrmemperlihatkan lobster pasir sudah tertangkap sebelum mencapaiukuran rata-rata mengerami telur atau ukuran kematangan reproduktif. Laju eksploitasi lobster pasir mencapai 32-38% di atas laju eksploitasi optimum, sehingga lobster pasir sudah mengalamieksploitasi yang berlebih.Population dynamics is an important aspect as basic of fisheries management and little information of this aspect for spiny lobster fishery in Pelabuhanratu waters. This research aims to evaluate of growth aspects, recruitment pattern, mortality, and exploitation rate of scalloped spiny lobster (Panulirus homarus) in Palabuhanratu waters. This research was conducted in June 2015 until May 2016 using census method. The size of P. homarus captured using bottom gill-net with total sample 483 specimen was between 28-100 mm carapace lengths (CL). Linear regression showed that growth pattern was negative allometric. The growth coefficient of male (K = 0.29 per year) was found smaller than female (K = 0.40 per year) based on ELEFAN I (Electronic Length Frequency Analysis) method. Recruitment seems to be accrued twice peaks a year (February to May and September to October) and the highest was at February to May. Fishing mortality (F) reached 1.9 to 2.2 times of natural mortality (M). The LcÂLr value showed that female has been caught before reached the average size of bearing eggs or reproductive maturity size. The exploitation rate of spiny lobsters reaches 32-38% above optimum level. This study suggests that the spiny lobster fishery in Palabuhanratu in the state of overexploitation.
KOMPOSISI DAN UKURAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) YANG TERTANGKAP PADA BEBERAPA STRATIFIKASI BATIMETRI DI PERAIRAN LAMPUNG TIMUR Zairion Zairion; Mennofatria Boer; Yusli Wardiatno; Achmad Fahrudin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.009 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.4.2014.199-206

Abstract

Perairan pesisir Lampung Timur merupakan salah satu daerah yang potensial untuk produksi rajungan (Portunus pelagicus) dari alam di Indonesia, namun produktivitas dan ukuran hasil tangkapan cenderung semakin menurun yang diduga akibat tingginya intensitas eksploitasi. Pada penelitian ini diinvestigasi komposisi kelamin dan ukuran rajungan yang tertangkap dengan jaring insang dasar (set gill-net) pada beberapa stratifikasi batimetri dari Maret 2012−Februari 2013.  Area kajian dibagi menjadi 3 stratifikasi: S1, S2 dan S3 dengan kedalaman air masing-masing kurang dari 5 m, 5−10 m, dan lebih dari 10 m.  Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Rajungan jantan dominan tertangkap di seluruh stratifikasi area pengamatan. Ukuran rata-rata lebar karapas (CW) dan bobot tubuh (BW) rajungan [±SD] di strata S1 adalah 108,57 ± 13,39 mm dan 89,22 ± 35,33 g serta berbeda nyata dengan S2 dan S3 (P<0,05). Peningkatan ukuran lebar karapas dari S1 hingga S3 masing-masing 17,59% dan 14,62% serta bobot tubuh masing-masing 66,25% dan 57,24%. Terdapat sekitar 34% rajungan yang berukuran kecil dari Lm50 dan 24% dewasa kurang reproduktif yang tertangkap di S1. Perairan pesisir di S1 juga tampak sebagai daerah tangkapan utama rajungan, sehingga diperlukan strategi pengelolaan dengan mengimplementasikan perlindungan daerah asuhan dan pemanfaatan yang sangat selektif di area ini. The East Lampung coastal waters is one of potential area for the blue swimming crab (Portunus pelagicus) wild catch production in Indonesia. However, catch productivity and sizes of caught crabs tend to be decrease and might be related to high exploitation rate. In present study, we investigated the sex compositions and size distribution of this crab caught by the set gill-net at several bathimetric stratifications from March 2012 to February 2013. The study area was divided into three stratifications, i.e., S1, S2, and S3, which have had water depth less than 5 m, 5−10 m and more than 10 m, respectively.  Data was analysed by descriptive statistics. The high proportion of males found in all stratification areas. Mean carapace width (CW) and body weight (BW) [±SD] of crabs were 108.57 ± 13.39 mm and 89.22 ± 35.33 g in S1and it was significantly different to that of S2 and S3 (P<0.05). An increasing of mean carapace width throughout S1 to S3 was 17.59% and 14.62%, whiles body weight was 66.25% and 57.24%, respectively. There were approximately 34% of immature crabs (less than Lm50) and 24% of less reproductive adults caught within S1. The coastal waters at S1 seem to be main fishing ground and management strategy by implementing a nursery ground protection and most selective fishing is required in this area.
FEKUNDITAS DAN TINGKAT KEMATANGAN GONAD RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BETINA MENGERAMI TELUR DI TELUK LASONGKO, SULAWESI TENGGARA Abdul Hamid; Yusli Wardiatno; Djamar T.F.Lumban Batu; Etty Riani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 1 (2015): (April 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.649 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.1.2015.43-50

Abstract

Kajian kematangan gonad pada rajungan betina mengerami telur dan fekunditas berdasarkan warna telur masih terbatas. Penelitian ini menganalisis fekunditas dan tingkat kematangan gonad rajungan betina mengerami telur di Teluk Lasongko, dilakukan dari bulan April 2013 sampai Maret 2014. Fekunditas rajungan dianalisis berdasarkan kelas ukuran tubuh danwarna rajungan betina mengerami telur. Tingkat kematangan gonad ditentukan berdasarkan perubahan warna dan morfologi gonad. Fekunditas rajungan berkisar 69.747-2.078.874 butir dengan lebar karapas 86,6-162,3mm. Fekunditas rajungan bervariasi terhadap ukuran tubuh dan warna rajungan mengerami telur, serta berkorelasi dengan ukuran tubuh dan berat telur. Rajungan betina mengerami telur ditemukan dari TKGI sampai IV. Fekunditas rajungan di perairan ini tergolong sedang sampai tinggi, rajungan betina mengerami telur berwarna kuning dan orange didominasi belum matang gonad sedangkan berwarna coklat dan abu-abu gelap didominasi matang gonad.
PENGELOLAAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) YANG BERKELANJUTAN BERDASARKAN ASPEK BIOEKOLOGI DI TELUK LASONGKO, SULAWESI TENGGARA Abdul Hamid Lakudo; Yusli Wardiatno Wardiatno; Djamar T.F Lumban Batu; Etty Riani Riani
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 9, No 1 (2017): (Mei 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2120.213 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.9.1.2017.41-50

Abstract

Status perikanan rajungan di Teluk Lasongko saat ini telah overfishing dan kritis, sehingga perlu dikelola dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk menentukan potensi dan permasalahan keberlanjutan pemanfaatan rajungan serta menyusun strategi pengelolaan rajungan di Teluk Lasongko berdasarkan pada aspek bioekologi. Data ekobiologi dikumpulkan sejak tahun 2006, dan 2013 sampai 2014 di Teluk Lasongko. Hasil penelitian menunjukkan potensi dan keberlanjutan pemanfaatan perikanan rajungan di Teluk Lasongko tergolong tinggi. Permasalahan yang timbul yang mengancam keberlanjutan rajungan adalah overfishing, penangkapan rajungan berukuran kecil dan rajungan betina ovigerous, daerah penangkapan rajungan yang tidak merata, dan kegiatan perikanan yang tidak ramah lingkungan. Beberapa strategi pengelolaan harus dilakukan untuk mendukung dan memastikan pengelolaan berkelanjutan rajungan di Teluk Lasongko, yaitu penetapan ukuran terkecil yang boleh ditangkap (untuk jantan >109,8 mm-CW dan betina >115,7 mm-CW), pelarangan penangkapan rajungan betina ovigerous, dan mengurangi upaya penangkapan dengan bubu sampai 50%. Selain itu, restocking dan pembentukan suaka rajungan juga harus dilakukan.  The status of blue swimming crab (Portunus pelagicus) fishery in Lasongko Bay is detected overfishing and critical, so it needs to be managed properly. This paper was aimed to determine the potential and problems of sustainability use of the crab and establish strategic management based on bioecology aspects. Bioecological data on the crab were collected in 2006, and from 2013 to 2014 in Lasongko Bay. Research result of indicated high potential and sustainable of use of crab fishery in the bay. Arising problems to threat the sustainability were over-fishing, small size crab and ovigerous female catch, localized fishing ground, and unfriendly environmentally fishing activities. Some management strategies must be done to support and ensure the sustainability management of the crab in Lasongko Bay, i.e. the minimum legal size (for males >109.8 mm-CW and females >115.7 mm-CW), not catching ovigerous female crabs, and reducing use of traps up to 50%. Restocking and establishing crab sanctuary could be also important to enhance the aforesaid management strategies.
Keanekaragaman Spesies dan Zonasi Habitat Echinodermata di Perairan Pantai Semerang, Lombok Timur (Diversity of Species and Habitat Zonation of Echinoderm in Semerang Coastal Waters, East Lombok) Noar Muda Satyawan; Yusli Wardiatno; Rahmat Kurnia
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 2 Desember 2014
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.132 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v13i1.66

Abstract

Research was conducted in order to determine the diversity of species and habitat zonation of Echinodermata in Semerang coastal waters East Lombok. The field survey was conducted using transects kuadrad and free collection during March to June 2013. Based on the results, in the Semerang Coast was found 26 species of Echinoderm which consist of Echinoidea (13 species), Asteroidea (7 species), Ophiuroidea (3 species ) and Holothuroidea (3 species). Echinoderms habitat in Semerang divided into 5 zones, consist of reef flat, sand, seagrass beds, rubble, and coral reefs. Diversity index values differ in each habitat. Shannon - Wiener index (Hꞌ) were largest on coral reef habitats (H ꞌ = 2.59 )and then followed by sand (H ꞌ = 2.30), rubble (H ꞌ = 2.17), seagrass (H ꞌ = 1, 93) and the reef flat (H ꞌ = 1.48). Greatest Evenness index was found in the sand habitat (E = 0.96) followed by a reef flat (E = 0.92), coral reefs (E = 0.86), rubble (E = 0.75) and seagrass beds (E = 0.67). the largest found Margalef Index (R), was found in coral reef habitats (R = 5.02) and then followed by rubble (R = 4.07), sand (R = 3.79), seagrass bed (R = 3.62) and reef flat (R = 1.41). Class of Echinoidea has found in all zones, Asteroidea and Holothuroidea not found on the reef flat zone while Ophiuroidea only found in the rubble and the coral reef zone.
Co-Authors . Ahyar . Erwyansyah Abd Saddam Mujib Abdul Hamid Abukena, Safrudin La Abukena, Safrudin La Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin Achmad Fahrudin ACHMAD FARAJALLAH Aditya Herry Emawan Adrian Damora Agus A Hakim Agus Alim Hakim Agus Priyono Agustinus M Samosir Ahmad Muhtadi Ahmad, Aditiyawan Akhmad Solihin Akrom Muflih Ali Mahsar Ali Mashar Ali Sarong Aliati Iswantari Alpinina Yunitha Ananingtyas S Darmarini Anggoro Prihutomo Anna Rejeki Simbolon Anna Rejeki Simbolon Arie Prabawa Ario Damar AS Aku, AS Asep Sahidin Asep Sahidin Athifah Nurulhafidzah Audra Ligafinza Audra Nur Ayu Annisa Kumalah Ayu, Inna Puspa Bambang Sumartono Beginer Subhan Belade, Jimmy Beni Beni Borbee, Erin Ceanturi, Ardan Charles Parningotan Haratua Simanjuntak Chikarista Irfangi Claritha Madonsa Dafit Ariyanto Dafiuddin Salim Daniel Djoko Setiyanto Daniel Djoko Setiyanto, Daniel Djoko DEDI SOEDHARMA Dedi Soedharma Dedy Eka Syaputra Dicky Rachmanzah Diding Sudira Efendi Dietriech Geoffrey Bengen Diini Fitriani Djamar Tumpal F. Lumbanbatu Dyah Muji Rahayu Erin R Nurulhayati Estri Octora Farmelia Etty Riani F Farlina Fifi Widjaja Fitriana Nazar Fitriani, Diini Fitrina Nazar Forcep Rio Indaryanto Forcep Rio Indaryanto Fredinan Yulianda Frijona Fabiola Lokollo Gatot Yulianto Gelis, Ester R. E. Gilang Rusrita Aida Gladys Peuru Gunawan Pratama Yoga Hadi Supardi Hadi Suryanto Hamdani Rachman Handayani, Luluk D Harpasis S. Sanusi Hartoni . Hartoni ., Hartoni Hawis H Madduppa Hefni Effendi Hendrik Sombo Heriansyah Herman Yulianto Herry Purnomo Hestirianoto, Totok Hulopi, Mahriyana I Wayan Nurjana I Wayan Nurjaya Ida Bagus Jelantik Swasta Iman Rusmana Indradewa, Rhian Inka Destiana Sapitri Irianda, Nadya Jeny Irma Minarti Harahap Irza Arnita nur Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjad Setyobudiandi Isdradjat Setyobudiandi Ismudi Muchsin Ita Sualia Iya Purnama Sari Jeane Siswitasari Mulyana Jojok Sudarso Jojok Sudarso, Jojok Joko Santoso Kadarwan Soewardi Katarina Hesty Rombe Khouw, Abraham S Khouw, Abraham S Lane, Christopher Luisa Febrina Amalo Luky Adrianto Luluk Dwi Wulan Handayani Lusi Lastria Lusita Meilana Lydia Safriyani Marpaung M Mukhlis Kamal M. Tahmid Made Ayu Pratiwi Majariana Krisanti Makoto Tsuchiya Mardiansyah Mardiansyah, Mardiansyah Marfian Dwidima Putra Martin Ali Iqbal Maulid Wahid Yusuf Mennofatria Boer Mintje Wawo Mintje Wawo Mohammad Mukhlis Kamal Muhamad Radifa Muhamad Suhaemi Syawal Muhammad Aly Muhammad Eidman Muhammad Nur Arkham Muhammad Rifqi MUNTI YUHANA Naila K Aini NAILA KHURIL AINI Nandy Kosmaryandi Nefi Islamiati Neviaty P Zamani NEVIATY PUTRI ZAMANI Niken T.M Pratiwi, Niken T.M Niken Tunjung Murti Pratiwi Nina Nurmalia Dewi Noar Muda Satyawan Novia Indah Kintani Nurhaya Afifah Nurlisa Alias Butet Partono, Tri Peter Funch Poppy Yulianti Putri, Vinna Windy Qadar Hasani Rachmad Caesario Rahadiati, Ati Rahayu, Endah Sri Rahman Rahman Rahmat Kurnia Raimundus Nggajo Raimundus Nggajo Rani Nuraisah Richardus F. Kaswadji Risa Tiuria Riska Febriana Riskiana, Refa Rudi Alek Wahyudin Rudi Alek Wahyudin Sambas Basuni Samosir, Agustinus Mangaratua Sani, L. Mukhsin Iqbal Setyo Handayani Shelly Tutupoho Sigid Hariyadi Siti Anindita Farhani Soewardi, Kadarwan Sutaman, Sutaman Sutrisno, Dewayany Syarviddint Alustco Taryono Taryono Kodiran Taslim Arifin Tri Prartono Tridoyo Kusumastanto Tyas Dita Pramesthy Vella Nurazizah Djalil Wahyu Muzammil Widayati, Kanthi Woro Anggraitoningsih Woro Anggraitoningsih, Woro Yoga, Gunawan Pratama Yona A. Lewerissa Yonvitner - Yoyok Sudarso Yudi Wahyudin Yuni Puji Hastuti Yunita Magrima Anzani Yuyun Qonita Yuyun Sri Wahyuni Zainuri, M Zairion ZETH PARINDING Zeth Parinding Zuhri, Muhammad Isnan Zulfikar ,