Anemia remains a significant global public health issue, including in Indonesia, despite a downward trend in prevalence in recent years. Adolescents—particularly those of junior high school age—are vulnerable to anemia due to increased iron requirements during rapid growth and menstrual blood loss among girls. Anemia in adolescents often goes undetected due to nonspecific symptoms, yet it can impact cognitive function, academic performance, and long-term health. A lack of early detection for anemia was identified as a key issue among the project partners. Therefore, this community service initiative aimed to screen hemoglobin levels among junior high school students in Tangerang Regency as a means of early detection. The activity aligns with the Sustainable Development Goals (SDGs), specifically SDG 2 (Zero Hunger) on nutrition and SDG 3 (Good Health and Well-being) on public health. The methodology involved measuring hemoglobin levels using a Sinocare HB 101 digital hemoglobinometer on students in grades 7–9 who had obtained parental consent. The screening was conducted on November 3, 2025, following standard procedures for capillary blood testing. A total of 126 students participated, with a mean age of 12.97 years. The results showed a mean hemoglobin level of 14.3 g/dL, with a range of 10.3 to 17.9 g/dL. The prevalence of anemia among participants was 5.6%, lower than the national prevalence for the 5–14 age group; this difference is likely attributable to participants' socioeconomic characteristics and nutritional status. This activity demonstrates that routine screening with digital hemoglobinometers is a crucial initial step in preventing anemia among adolescents. ABSTRAKAnemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih signifikan secara global, termasuk di Indonesia, meskipun prevalensinya menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Remaja, khususnya usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia akibat peningkatan kebutuhan zat besi pada masa pertumbuhan pesat serta kehilangan darah menstruasi pada remaja putri. Kondisi anemia pada remaja sering tidak terdeteksi karena gejalanya tidak spesifik, namun dapat berdampak pada fungsi kognitif, prestasi akademik, dan kesehatan jangka panjang. Minimnya deteksi dini anemia merupakan salah satu permasalahan yang ditemukan pada mitra. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining kadar hemoglobin pada siswa SMP di Kabupaten Tangerang sebagai upaya deteksi dini anemia pada remaja. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Zero Hunger) dalam penanggulangan masalah gizi dan SDG 3 (Good Health and Well-being) dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan adalah pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan hemoglobinometer digital Sinocare tipe HB 101 pada siswa kelas 7–9 yang telah mendapatkan persetujuan dari orang tua. Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 3 November 2025 dengan prosedur standar pemeriksaan darah kapiler. Sebanyak 126 siswa mengikuti kegiatan ini dengan rerata usia 12,97 tahun. Hasil pemeriksaan menunjukkan rerata kadar hemoglobin sebesar 14,3 g/dL dengan rentang 10,3–17,9 g/dL. Prevalensi anemia pada peserta adalah 5,6%, lebih rendah dibandingkan prevalensi nasional pada kelompok usia 5–14 tahun. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi dan pemenuhan gizi peserta. Kegiatan ini menunjukkan bahwa skrining rutin dengan menggunakan hemoglobinometer digital merupakan langkah awal pencegahan anemia pada remaja.