Claim Missing Document
Check
Articles

UPPER LIMB NEURODYNAMIC BILATERAL LEBIH MENURUNKAN SKOR NYERI DAN TENSION NERVUS MEDIANUS DIBANDINGKAN DENGAN UPPER LIMB NEURODYNAMIC IPSILATERAL PADA PENDERITA CERVICAL RADICULOPATHY Gede Parta Kinandana; I Ketut Suyasa; Wahyuddin Wahyuddin; Putu Astawa; I Made Ady Wirawan; Nyoman Mangku Karmaya
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p10

Abstract

Pendahuluan: Cervical radiculopathy merupakan suatu kondisi klinis dimana terjadinya kompresi pada akar saraf yang menyebabkan perubahan fisiologis pada jaringan saraf. Tujuan Penelitian: membuktikan upper limb neurodynamic bilateral lebih menurunkan nyeri, meningkatkan range of motion (ROM) cervical, dan ekstensi elbow pada penderita cervical radiculopathy jika dibandingkan dengan neurodynamic ipsilateral. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pre dan post-test control group design menggunakan 24 orang sampel yang dibagi ke dalam 2 kelompok. Pada Kelompok 1 diberikan upper limb neurodynamic ipsilateral sedangkan Kelompok 2 diberikan intervensi upper limb neurodynamic bilateral. Intervensi diberikan sebanyak 12 kali. Pengukuran skor nyeri menggunakan numerical pain rating scale (NPRS) dan ROM cervical menggunakan goniometer dan tension nervus medianus diukur melalui ROM ekstensi elbow. Hasil: Perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok didapatkan pada pengukuran skor nyeri dengan nilai p = 0,000 (p<0,05) pada pengukuran nyeri diam dan saat neurodynamic testing. Perbedaan yang bermakna juga ditemukan pada pengukuran ekstensi elbow dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Perbedaan yang tidak bermakna ditemukan pada pengukuran ROM cervical (ekstensi, rotasi, dan lateral fleksi ipsilateral) dengan nilai p = 0,377; 0,110; dan 0,342 secara berurutan (p > 0,05). Kesimpulan: upper limb neurodynamic bilateral lebih menurunkan skor nyeri dan menurunkan tension nervus medianus dibandingkan dengan upper limb neurodynamic ipsilateral dan tidak lebih meningkatkan ROM cervical pada penderita cervical radiculopathy. Kata kunci: nyeri, ROM cervical, ROM ekstensi elbow, neurodynamic ipsilateral, neurodynamic bilateral, cervical radiculopathy
CORE STABILITY EXCERCISE LEBIH BAIK DIBANDINGKAN MCKENZIE EXCERCISE DALAM PENURUNAN DISABILITAS PASIEN NON-SPECIFIC LOW BACK PAIN Ganesa Puput Dinda Kurniawan; I Made Muliarta; Sugijanto -; I Made Ady Wirawan; Susy Purnawati; Wahyudin -
Sport and Fitness Journal Volume 5, No.3, 2017
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.931 KB) | DOI: 10.24843/spj.2017.v05.i03.p05

Abstract

Non-specific low back pain is the symptom of lower back pain that occurs without an obvious cause, the diagnosis is based on exclusion of specific pathology. Non-specific low back pain can result in pain, muscle spasm and muscle imbalance, it can decrease the stability of the abdominals and lower back, limitation in lumbar mobility , changes posture, and it’s couse make disability in patients with non-specific low back pain. Exercise therapy for non-specific low back pain is high recommend to increased stability and correct posture of the spine, for this case thsth can be used for exercise therapy is like McKenzie exercises and core stability exercise. The purpose of this study is to determine the core stability excercise better than McKenzie excercise for release in reduce patient disability in non-specific low back pain. This research applied experimental research method with Pre and Post Test Control Group Design. The research was conducted in Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten. There were 32 subjects taken for this research. Disability was measured by oswestry disability index (ODI) before and after treatment. They were divided into two treatment groups consisting of core stability 16 subject for the Mckenzie exercise is 16 and the frequens are 2 times a weak in a month. Statistical test results obtained, have a decline ODI score at the first group have done with a value of p = 0.000 and the second gorup with p = 0.000. it means that both of the group are significantly improve functional activity. From the comparative test data by t-test using the data difference in both groups p value <0.05, which means indicated that there is a significant difference. Therefore, the conclusion of this research indicated thar the core stability excercise better than McKenzie excercise for release in reduce patient disability in non-specific low back pain. The study is expected to benefit in patients with non-specific low back pain in reducing disability.
Digital Surveillance of Health and Safety Hazards at Tourist Attractions in Bali: First Preliminary Evidence I Md Ady Wirawan; Wayan Citra Wulan Sucipta Putri; Ngurah Agus Sanjaya ER; Made Agus Hendrayana; Ni Made Dian Kurniasari; Ketut Hari Mulyawan
E-Journal of Tourism Volume 7 Number 1 (March 2020)
Publisher : Centre of Excellence in Tourism Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.442 KB) | DOI: 10.24922/eot.v7i1.59123

Abstract

This study examined the feasibility of conducting digital surveillance of health and safety hazards through a system that can be accessed by travelers using their mobile phones. A progressive mobile website and a mobile application were developed employing a research database which consists of hazards, risks and health facilities that have been geo-tagged and mapped based on their respective geographical positions in 197 tourist attractions in Bali. The system was launched in 80 strategic tourist attractions in Bali at the end of August 2019. Trends in some specific diseases, hazards, and risks were observed monthly using a keyword analysis. Serial data for the first four months were analyzed and presented descriptively. The result shows that in total there were 19,869 visits to the website, or an average of 163 visits per day. There has been a nearly three-fold increase in total website traffic from 85.2 in September to 245.8 in December 2019. Safety hazard is the most frequently visited pages by tourists and there were 45 valid keywords found in the website panelboard. This study is the first to examine the possibility of developing a digital surveillance system using mobile phones directly involving travelers at destinations.
GAMBARAN TINGKAT RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS KOTA DENPASAR Isabella Soerjanto Putri; Ida Bagus Yorky Brahmantya; I Made Pande Dwipayana; Made Ratna Saraswati; I Made Ady Wirawan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i8.P16

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit dengan jumlah penderitanya terus bertambah setiap tahun. Penyebab utama kematian dan kecacatan pada pasien diabetes adalah penyakit kardiovaskular. Berdasarkan tingginya risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes, WHO telah membuat grafik penilaian risiko penyakit kardiovaskular untuk memprediksi penyakit kardiovaskular yang kemungkinan dapat terjadi dalam sepuluh tahun mendatang. Penelitian dengan tujuan mengetahui gambaran tingkat risiko penyakit kardiovaskular pada penderita diabetes melitus tipe 2 ini dilakukan di Puskesmas yang tersebar di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan rancangan studi potong lintang. Puskesmas dipilih secara acak menggunakan cluster random sampling. Keseluruhan subjek penelitian berjumlah 94 responden dari tujuh Puskesmas. Reponden penelitian ini merupakan pasien yang terdiagnosis diabetes. Penilaian tingkat risiko penyakit kardiovaskular menggunakan WHO/ISH risk prediction chart. Data yang diperlukan diperoleh menggunakan wawancara dan pengukuran. Hasil penelitian dianalisis dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Dalam sepuluh tahun ke depan, sebagian besar responden memiliki risiko rendah penyakit kardiovaskular dengan jumlah 66%, risiko tinggi dengan jumlah 21,3%, dan sedang dengan jumlah 12,8%. Sebagian besar responden memiliki risiko rendah mengalami kejadian fatal dan non-fatal penyakit kardiovaskular. Kata Kunci: Risiko Penyakit Kardiovaskular, Diabetes Melitus
GAMBARAN TINGKAT RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS KOTA DENPASAR Isabella Soerjanto Putri; Ida Bagus Yorky Brahmantya; I Made Pande Dwipayana; Made Ratna Saraswati; I Made Ady Wirawan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i11.P10

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit dengan jumlah penderitanya terus bertambah setiap tahun. Penyebab utama kematian dan kecacatan pada pasien diabetes adalah penyakit kardiovaskular.Berdasarkan tingginya risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes, WHO telah membuatgrafik penilaian risiko penyakit kardiovaskular untuk memprediksi penyakit kardiovaskular yangkemungkinan dapat terjadi dalam sepuluh tahun mendatang. Penelitian dengan tujuan mengetahuigambaran tingkat risiko penyakit kardiovaskular pada penderita diabetes melitus tipe 2 ini dilakukandi Puskesmas yang tersebar di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan desain studi observasionaldengan rancangan studi potong lintang. Puskesmas dipilih secara acak menggunakan cluster randomsampling. Keseluruhan subjek penelitian berjumlah 94 responden dari tujuh Puskesmas. Repondenpenelitian ini merupakan pasien yang terdiagnosis diabetes. Penilaian tingkat risiko penyakitkardiovaskular menggunakan WHO/ISH risk prediction chart. Data yang diperlukan diperolehmenggunakan wawancara dan pengukuran. Hasil penelitian dianalisis dan disajikan dalam tabeldistribusi frekuensi. Dalam sepuluh tahun ke depan, sebagian besar responden memiliki risiko rendahpenyakit kardiovaskular dengan jumlah 66%, risiko tinggi dengan jumlah 21,3%, dan sedang denganjumlah 12,8%. Sebagian besar responden memiliki risiko rendah mengalami kejadian fatal dan nonfatalpenyakitkardiovaskular. Kata Kunci: Risiko Penyakit Kardiovaskular, Diabetes Melitus
PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KECAMATAN ABIANSEMAL, KABUPATEN BADUNG Ni Ketut Sri Lestari; I Made Ady Wirawan; Pande Putu Januraga
ECOTROPHIC : Jurnal Ilmu Lingkungan (Journal of Environmental Science) Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Master Program of Environmental Science, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/EJES.2021.v15.i02.p04

Abstract

Environment, a variable that often gets special attention in assessing public health and environmental health, is an effort to prevent disease. Environmental Health Risk Assessment (EHRA) is a comprehensive study about sanitation facilities' conditions and risky behaviors on public health. Abiansemal District is one of the tourist destinations that has a very complex impact, especially on environmental health aspects. Behavior is a highly potential factor for health status, clean and healthy behavior is strongly influenced by the availability of sanitation facilities in order to control physical environmental factors that can harm health. This study determines the Health Risk Index and obtains an overview of the sanitation facilities condition and community behavior that has a risk for environmental health in Abiansemal District, Badung Regency. This study used stratified random sampling using a sample in the Abiansemal sub-district which has been determined as the target study area. Households to be visited in each village were selected randomly by stratified random sampling. After finding the first household visited, an interview was conducted according to the available questionnaire and after it was completed it was forwarded to neighbors until it found 40 houses per village. SPSS 20.0 is used for the data analysis. The description of sanitation facilities and community behavior that poses a risk to health in strata 1 has the main problem in domestic waste with the highest score of 36, while strata 2 has the main problem in solid waste with a score of 43 and strata 3 has the main problem in domestic wastewater with a score of 45. Analysis results of the sanitation risk index for the category of low risk/less risky area for strata 1 (1 village), the category of high-risk area for Strata 2 (11 villages), and the category of moderate risk area is in Strata 3 (6 villages). The high-risk area is found in Strata 2 (11 villages). Keywords: EHRA; Environmental health; Abiansemal; Badung.
Coronary Artery Calcium Score Improved Cardiovascular Disease Risk Prediction in Asymptomatic Patients I Md Ady Wirawan; Rodney Wu; Malcolm Abernethy; Sarah Aldington; Peter Larsen
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 50, No 1 (2018): SUPPLEMENT
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.372 KB) | DOI: 10.19106/JMedScieSup005001201805

Abstract

This study examined whether coronary artery calcium score (CACS) has a betteraccuracy than the cardiovascular risk prediction chart (CRPC), and evaluate thereclassification improvement of CACS if it isused as a screening tool compared withthe CRPC. CACS has a better accuracy than the CRPC and reclassified a considerableproportion (39%) of a symptomatic patient into correct cardiovascular risk categories.CACS should be assessed in asymptomatic people with5-year CVD risk score of5-10% and 10-15%.
Risk Factors of Needlestick and Sharp Injuries among Health Care Workers at Sanglah Tertiary Hospital I Komang Widarma Atmaja; I Made Ady Wirawan; I Ketut Suarjana
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Berkala Epidemiologi (Periodic Epidemiology Journal)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V9I12021.36-43

Abstract

Background: Needlestick and sharp injuries (NSIs) remain one of the main occupational hazards among health care workers (HCWs) that lead to blood-borne pathogen exposure. Purpose: This study examined the risk factors for NSIs among HCWs at a tertiary referral hospital in Bali. Methods: A case-control study was conducted at Sanglah General Hospital, Bali, involving 171 HCWs, divided into 81 cases and 90 control subjects. The sample was selected using a simple random sampling technique. Data were collected using questionnaires and analyzed using multiple logistic regression. Results: The majority of respondents had experienced NSIs once, in the morning shift, and had affected an individual’s hands. The most frequent activity leading to NSIs was giving an injection and most of the situations causing NSIs involved accidental self-action, and recapping needles. Factors associated with the incidence of NSIs were work career or experience of <5 years (p < 0.01; adjusted odds ratio [AOR]=5.04; 95% confidence interval [CI] = 2.04–12.42), non-compliance with working procedures (p = 0.01; AOR = 2.47; 95%CI= 1.26–4.82), female HCWs (p = 0.03; AOR = 2.21; 95% CI = 1.01–4.55), and unsafe workplace conditions (p = 0.04; AOR = 2.23; 95% CI = 1.01–4.92). Conclusion: Personal and environmental factors such as gender, work experience, compliance with working procedures, and workplace conditions are among the risk factors for NSIs. Occupational health and safety policies and programs focusing on the relevant factors, accompanied by adequate supervision, are necessary to reduce the risk of NSIs occurring.
PELATIHAN DAYA TAHAN OTOT BERBEBAN ½ KG 20 REPETISI 3 SET MENINGKATKAN FREKUENSI PUKULAN PENDETA TANGAN KIRI DAN KANAN PADA ANGGOTA PENCAK SILAT PERISAI DIRI RANTING SESETAN IKW. Suryawan; J.A. Pangkahila; B.K. Satriyasa; LMIS. Handari Adiputra; IP. Adiartha Griadi; IMA. Wirawan
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol. 5 No. 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Prodi Olahraga Perguruan Tinggi PGRI (APOPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.338 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3338702

Abstract

Pencak silat adalah seni beladiri yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Komponen biomotorik yang terpenting dikembangkan adalah kekuatan, daya tahan otot, kecepatan waktu reaksi dan koordinasi. Dalam penelitian ini peneliti menerapkan pelatihan daya tahan otot untuk meningkatkan frekuensi pukulan pendeta dengan dua tipe pelatihan yaitu, Kelompok 1 melakukan pelatihan daya tahan otot dengan beban dumbbell seberat ½ kg sebanyak 20 repetisi 3 set dan Kelompok 2 melakukan pelatihan daya tahan otot berbeban ½ sebanyak 15 repetisi 4 set. Secara keseluruhan penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan frekuensi pukulan pendeta. Perbedaan rerata frekuensi pendeta sebelum pelatihan pada Kelompok 1 26,22 ± 1,21 x/30 detik dan sesudah pelatihan 32,28 ± 1,03 x/30 detik menunjukkan adanya perbedaan bermakna p = 0,000 (p<0,05). Rerata frekuensi pukulan pendetasebelum pelatihan pada Kelompok 2 adalah sebesar 26,22 ± 1,56x/30 detik dan sesudah pelatihan 29,56 ± 1,23x/30 detik (p<0,05). Perbedaan frekuensi pukulan sesudah pelatihan antara kedua kelompok juga menunjukkan perbedaan yang bermakna p = 0,000 (p<0,05). Disimpulkan bahwa pelatihan daya tahan otot berbeban ½ kg 20 repetisi 3 set lebih meningkatkan dibandingkan pelatihan daya tahan otot berbeban ½ kg 15 repetisi 4 set.
Hubungan tingkat keparahan maloklusi berdasarkan ICON (Index of Complexity, Outcome and Need) dengan risiko karies ditinjau dari lama perlekatan plak pada remaja di SMPN 2 Marga Ni Luh Putu Mira Anggriani; Louise Cinthia Hutomo; I Made Adi Wirawan
Bali Dental Journal Vol. 1 No. 2 (2017): June 2017
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v1i2.13

Abstract

ABSTRAK: Kondisi gigi yang abnormal atau tidak teratur pada individu dengan maloklusi akan menyebabkan risiko berkembangnya karies cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan risiko karies. Penelitian ini merupakan jenis penelitian obseravasional analitik dengan desain potong lintang (cross sectional). Pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan teknik multistage random sampling pada kelas VII, VIII dan IX di SMP N 2 Marga pada tahun 2016/2017. Seluruh sampel penelitian berjumlah 90 orang dengan distrubusi sampel yang sama pada masing-masing tingkatan kelas. Tingkat keparahan maloklusi pada penelitian ini diukur dengan menggunakan ICON (Index of Complexity, Outcome and Need), sedangkan pengukuran risiko karies dilakukan dengan menggunakan GC Tri Plaque ID Gel yang diaplikasikan pada seluruh permukaan gigi-geligi sampel. Hipotesis statistik dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan uji non parametrik berupa korelasi spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maloklusi dengan tingkat keparahan easy mengalami risiko karies rendah (79,5%), risiko karies sedang (20,5%) dan risiko karies tinggi (0%). Maloklusi dengan tingkat keparahan mild mengalami risiko karies rendah (34,2%), risiko karies sedang (65,8%) dan risiko karies tinggi (0%). Maloklusi dengan tingkat keparahan moderate mengalami risiko karies rendah (0%), risiko karies sedang (66,7%) dan risiko karies tinggi (33,3%). Sedangkan maloklusi dengan tingkat keparahan difficult seluruhnya mengalami risiko karies tinggi.Hasil uji statistik menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,585, yaitu terdapat hubungan sedang antara tingkat keparahan maloklusi dengan risiko karies, dengan nila p=0,000 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat keparahan maloklusi dengan risiko karies.
Co-Authors Akatsu, Haruko Ariana, Putu Agus Aryanita, Made Ayu Ratih Astawastini, I Dewa Ayu Mas Manik Bagus Komang Satriyasa Carolyna Mairing Cokorda Agung Wahyu Purnamasidhi Cokorda Bagus Jaya Lesmana Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Cokorda Bagus Jaya Desak Nyoman Widyanthini Desak Putu Yulita Kurniati Deswandri Deswandri Dewa Nyoman Wirawan Dewa Nyoman Wirawan, Dewa Nyoman Dinar Lubis Dyah Pradnyaparmita Duarsa Egiya Goldarosa Sinuraya Erawati, Ni Kadek Erna Ervan Suryanti Umbu Lapu Fabiola Supit Florensia, Maria Frangklin Refelino Jotlely Fransiska Lavinia Gracella Futi Nurul Destya Ganesa Puput Dinda Kurniawan Gede Parta Kinandana Gunawan, I Made Abdi HARI MULYAWAN I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti I Gusti Agung Dyah Ambarawati I Gusti Ayu Made Julari I Gusti Ayu Made Juliari I Kadek Pendi Aprinta I Ketut Indra Wiguna Cakera I Ketut Suyasa I Komang Widarma Atmaja I Made Artana I Made Bakta I Made Jawi I Made Kerta Duana I Made Krisna Dinata I MADE MULIARTA . I Made Niko Winaya I Made Pande Dwipayana I Made Sukawinaca I Nyoman Mangku Karmaya I Putu Adiartha Griadhi I Wayan Putu Sutirta Yasa I Wayan Weta Ida Ayu Ary Pramita Ida Bagus Subanada Ida Bagus Yorky Brahmantya IKW. Suryawan Indra Wiguna Cakera, I Ketut Isabella Soerjanto Putri Iska Novi Udayani Istiana Marfianti J. A. Pangkahila Josua Aditya Manuel Kadek Dena Ayu Ersafira Kadek Tresna Adhi Karya, I Kadek Jony Dwi Ketut Ariawati Ketut Suarjana Komang Ayu Kartika Sari Lesmana, Cokorda Agung Bagus Jaya LMIS. Handari Adiputra Louise Cinthia Hutomo Luh Pitriyanti Luh Pitriyanti Luh Yulia Adiningsih Luh Yulia Adiningsih Made Agus Hendrayana MADE RATNA SARASWATI . Malcolm Abernethy Marfianti, Istiana Mia Ayustina Prasetya Nadila Sari, Putri Ngurah Agus Sanjaya ER Ni Kadek Dian Candra Dewi Ni Kadek Erna Erawati Ni Kadek Sutini Ni Ketut Sri Lestari Ni Luh Made Susanthi Pramandani Ni Luh Putu Mira Anggriani Ni Luh Putu Nurhaeni Ni Made Dian Kurniasari Ni Made Sri Nopiyani Ni Made Suasti Wulanyani Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Ita Mahayati Ni Wayan Mega Sri Wahyuni Ni Wayan Septarini Nijyoti, Nitya Nitya Nijyoti Nurhaeni, Ni Luh Putu Pande Putu Januraga Paramita, Ni Putu Pradnya Peter Larsen Prihandhani, I Gusti Agung Ayu Sherlyna Purnamawati, Susy Putu Astawa Putu Ayu Indrayathi Putu Ayu Sani Utami Putu Eka Arimbawa Putu Ika Anggaraeni Putu Imas Audina Putu Intan Tillama Putu Lestari Sudirman Putu Ratna Kusumadewi Giri Putu Rima Adilitha Widyasari Putu Wulan Putri Amerta R. A.T. Kuswardhani Rania Ayu Permata Putri Kornia Rodney Wu Rosita, Ni Putu Indah Santosa, I Gusti Ngurah Putra Eka Sarah Aldington Saraswati, Ni Luh Putu Gita Karunia Sari, Komang Ayu Kartika Sawitri, Anak Agung Sagung Sugijanto - Sukawinaca, I Made Sulawa, I Ketut Sulyastini, Ni Komang Susy Purnawati Tiara Alexander Wahyuddin, Wahyuddin Wahyudin - Wahyuni, Ni Wayan Mega Sri Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Widowati, I Gusti Ayu Rai - Yenny Kandarini Yuntari, Gusti Ayu Krisma