Claim Missing Document
Check
Articles

Elemen Arsitektural Astana Sunda Kasepuhan Ciptagelar Noeviyanti Indah Laksana; Lisa Dwi Wulandari; Susilo Kusdiwanggo
RUAS Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : RUAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2021.019.02.5

Abstract

Kasepuhan Ciptagelar is a kasepuhan who still holds the ngalalakon tradition. Based on the traces of the movement, the artifacts left are not only settlements or houses but also artifacts that are outside the settlements in the form of astana (tomb). Physically, this astana has differences from other tombs because the astana adapts to environmental conditions. This study aims to identify the architectural elements of Astana Sunda Kasepuhan Ciptagelar, to determine its characteristics. The research method is a qualitative research with descriptive analysis. The results show that the architectural elements of Astana Sunda Kasepuhan Ciptagelar are influenced by Sundanese culture, nature and the environment, with the main character is the use of natural materials around the. The basic form of plan is rectangle, with or without pangkemit. All astana have woven bamboo walls, rectangle windows and doors in several variants, roof in the form of parahu kumureb and Suhunan Jolopon. The original roof are made of palm-fibers, and the ceiling under the roof are using woven bamboo.
Benang Merah Sistem Struktur Kayu pada Pembangunan Kaompu dan Sistem Spasial Banua Tada dalam Tradisi Posuo dan Kawia Masyarakat Labalawa Kota Baubau Mimin Trianus; Lisa Dwi Wulandari; Ema Yunita Titisari
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2022): December 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.002 KB) | DOI: 10.31004/jptam.v6i3.4473

Abstract

Dalam pandangan arsitektur pembangunan rumah memiliki kaidah dalam membangun, salah satunya menempatkan dan memposisikan struktur, pada pemukiman tradisional memiliki kaidah dan tatanan rumah yang identik dengan tradisi dan budaya setempat. Pada pemukiman masyarakat Labalawa ini terdapat tradisi pembangunan kaompu yang disebut sebagai ruang tambahan, pembangunan kaompu ini dilakukan dalam proses kawia atau disebut pernikahan. Dari pembangunan kaompu ini akan dikaji mengenai bagaimana karakter menempatkan struktur kayu dalam pembangunan kaompu, dengan fokus kajian pada karakter tradisi membangun dari masyarakat Labalawa. Metode yang digunakan dengan melakukan pengamatan langsung pada objek penelitian dan terlibat dalam pembangunan kaompu, objek yang dipilih yaitu berdasarkan pelaksanaan tradisi kawia di jenis rumah yang berbeda yaitu rumah panggung dan rumah batu, agar dapat melihat eksistensi masyarakat Labalawa dalam menempatkan struktur. Hasil temuan dari penelitian objek 1 dan objek 2, masyarakat Labalawa dalam membangun kaompu masih menggunakan kaidah yang sesuai dengan cara mendirikan banua tada yaitu berdasarkan hapu dan ole, hapu dimaknai sebagai kaki atau potongan bagian bawah dari sebuah batang pohon dan ole dimaknai sebagai kepala atau bagian atas dari sebuah batang pohon. Tangga dan pintu utama adalah landasan awal manusia ketika memasuki rumah maka penempatan struktur dari balok di bagian pintu utama dan tangga yaitu bagian hapu dari sebuah batang pohon.
AKTIVITAS DAN SYNOMORPHY PADA RUANG PUBLIK KAMPUNG WARNA-WARNI JODIPAN KOTA MALANG Nur Ratih Ratnawati; Lisa Dwi Wulandari; Antariksa
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 3 No 01 (2019): PAWON : Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.477 KB) | DOI: 10.36040/pawon.v3i01.128

Abstract

Kampung Warna-Warni Jodipan merupakan salah satu kampung di Kota Malang yang berkembang menjadi kampung wisata. Perkembangan tersebut mendorong terbentuknya aktivitas baru di dalam kampung, khususnya di ruang publiknya, yang didominasi oleh pelaku wisatawan. Aktivitas baru tersebut perlu dianalisis kesesuaiannya (synomorphy) dengan lingkungan fisik kampung yang memiliki kepadatan cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas dan synomorphy yang terbentuk di ruang publik kampung sehubungan dengan perkembangan fungsi kampung. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hubungan kesesuaian antara aktivitas dan lokasi aktivitas (milieu) yang disebut dengan synomorphy, terbentuk dengan adanya unsur-unsur, physical forces, social forces, physiognomic perception, influence of behavior on the milieu serta physiological processes.
DINAMIKA FUNGSI DAN ORGANISASI RUANG PADA HUNIAN DI KAWASAN SITUS LIYANGAN TEMANGGUNG Rizki Swandani; Antariksa; Lisa Dwi Wulandari
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 3 No 01 (2019): PAWON : Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.477 KB) | DOI: 10.36040/pawon.v3i01.135

Abstract

Ditemukannya situs kuno Liyangan di kawasan permukiman di Dusun Liyangan, Kabupaten Temaggung berkembang menjadi kawasan pariwisata, kawasan konservasi penelitian dan perdagangan secara tidak langsung menyebabkan (setidaknya) dinamika ruang pada hunian di sekitar situs tersebut. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, karena berusaha mendeskripsikan dinamika ruang pada hunian (ranah arsitektural) di kawasan situs purbakala (ranah arkeologi). Metode pengumpulan datanya yaitu: observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, sketsa dan pengukuran arsitektural. Rancangan penelitian berjenis kualitatif, sedangkan strategi penelitian berjenis deskriptif. Menggunakan dua metode analisis yaitu: analisis deskriptif dan analisis komparatif. Temuan pada penelitian ini adalah deskripsi dari dinamika fungsi ruang dan organisasi ruang pada hunian di kawasan situs Liyangan.
PENGARUH FAKTOR KEBUTUHAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA RUANG RUMAH INDUSTRI KUE PIA WARUREJO PASURUAN Benny Karunia Wardana; Lisa Dwi Wulandari; Agung Murti Nugroho
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 3 No 02 (2019): PAWON : Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.971 KB) | DOI: 10.36040/pawon.v3i02.885

Abstract

Era globalisasi yang semakin berkembang pesat, tingkat pertumbuhan dalam perekonomian yang terus meningkat tidak sebanding dengan jumlah pekerjaan yang didapat. Penduduk menengah kebawah akan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Untuk itu para penduduk menengah ke bawah membangun sebuah industri di dalam rumahnya untuk menyambung kehidupan. Rumah industri merupakan sebuah rumah yang berbeda dari rumah pada umumnya karena pada rumah industri memiliki dua fungsi yakni sebagai tempat tinggal dan sebagai area industri. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori milik Hermanto, 2008 terkait ruang yang terfokus pada aspek bentuk ruang dan ukuran ruang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi. Tahapannya adalah menganalisis bentuk ruang (perubahan ruang dan fungsi ruang)dan ukuran ruang dengan menggunakan analisis deskriptif (antar studi terpilih) dan analisis komparatif (kajian jurnal terdahulu). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dinamika ruang yang terjadi pada rumah industri yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Hasilnya adalah ada 3 jenis faktor ekonomi yang ada disana yakni, faktor ekonomi biasa, faktor ekonomi menengah dan faktor ekonomi tinggi. Faktor ekonomi biasa mempengaruhi sedikit ruang, faktor ekonomi menengah mempengaruhi sebagian beberapa ruang (setengah) dalam rumah sedangkan faktor ekonomi yang tinggi mempengaruhi semua pola ruang di dalam rumah.
Planning and Development Strategy of Pancer Door Beach Tourism Area in Pacitan City Irfan Maulana Ashgaf; Lisa Dwi Wulandari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pacitan is a city nicknamed as "Paradise of Java" which has natural and abundant cultural wealth. Tourism is the mainstay of regional income. One of the beaches close to the city as the main destination is Pancer Door Beach. This area stretches wide but the condition of it doesn’t attract tourists because the diversity of potential both naturals, artificial and cultural are not optimal. This is a reference for researchers in knowing what are the potential of the Pancer Door Beach Tourism Area is that can be used as an important point in developing the area. This study uses qualitative research methods with SWOT analysis. The SWOT contains of the research identification which are then analysed in terms of strengths, opportunities, weaknesses and threats. From the SWOT analysis, a SWOT matrix appears. The SWOT matrix becomes the basis for finding a grand strategy. The grand strategy in this study is a combination between strong and weak potentials of the area for rapid and to overcome the slowdown in planning and development of Pancer Door Beach Tourism Area. Phenomena, interviews, research objects, and regulations as well as theoretical studies are the basis of developing the area on a micro-architectural scale. Keywords: 4A Tourism, Development, Planning, Potential 
Territorial Approach to Spatial Dynamics Based on Posuo and Kawia Tradition of the Labalawa Community of Baubau City Mimin Trianus; Lisa Dwi Wulandari; Ema Yunita Titisari
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 3 (2022): Budapest International Research and Critics Institute August
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i3.6143

Abstract

This study aims to identify and analyze space territories in the kawia traditions of the Labalawa community. The method used in this research is descriptive qualitative by analyzing the results of the identification of the formation of territory based on changes in shape, size, boundaries, and space components, sampling was carried out by purposive sampling with the criteria of house types of Banua tada and stone houses and differences in the availability of space on the object of observation. The results showed that the space territory was dominated by semi-fixed elements and non-fixed elements, changes in the function of space during the posuo and kawia tradition from day to day were more dominated by public functions, and the condition of adding space called kaompu with the stage form was more influenced by factors availability of open space and also because of the tradition of building the Labalawa community which is practiced from generation to generation through the posuo and kawia tradition.
Akulturasi Budaya Islam dan Jawa: Ruang Komunal pada Budaya Nyadran Dukuh Krajan, Desa Kromengan, Kabupaten Malang Sri Winarni; Galih Widjil Pangarsa; Antariksa Antariksa; Lisa Dwi Wulandari
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.339 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2674

Abstract

Javanese and Islamic acculturations adhere to the people living at Dukuh Krajan. Javanese social and cultural aspects affect the spirit of Islamic activities. This is obvious by the use of Javanese/Islamic calendar system in every ritual. Yet, the high value of togetherness and communality is decreasing. This change will result in abandoning culture and growing social problem. It also influences the change of common space in the neighborhood. Therefore, it needs exploration on communal space established through Nyadran ritual. The purpose is to maintain the existence of the communal space as well as to develop togetherness and communality for the next generation. The study employs qualitative design with rationalistic approach. The data were collected through observation and interview. The communal space is formed by the activity, the physical area, the doers and the ritual time. The use of communal space in Nyadran ritual reflects togetherness and mutual cooperation value established as the result of the sense of care and the social awareness to share spaces for public interest. Akulturasi budaya Islam dan Jawa masih melekat pada kehidupan masyarakat Dukuh Krajan. Kegiatan Islam suasananya dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Tergambar jelas pada pemakaian kalender Jawa/Islam pada setiap kegiatan budaya. Namun, nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyangan dalam kegiatan sosial budaya saat ini semakin berkurang. Perubahan ini akan berpengaruh terhadap beberapa budaya setempat yang tersisihkan, dan masalah-masalah sosial yang mulai berkembang. Dampaknya akan berpengaruh juga terhadap perubahan ruang-ruang komunal di lingkungan pedesaan. Untuk itu perlu diteliti lebih detail tentang ruang komunal yang terbentuk, khususnya pada runtutan kegiatan budaya nyadran. Tujuannya agar ruang komunal yang terbentuk pada tradisi nyadran eksistensinya tetap ada dan terjaga dengan baik serta dapat bermanfaat dalam menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan dan kegotongroyongan pada generasi berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan rasionalistik dengan data dari observasi lapangan dan wawancara. Pembentukan ruang komunal dipengaruhi aktivitas itu sendiri, fisik ruang, pelaku dan waktu kegiatan itu berlangsung. Penggunaan ruang komunal pada kegiatan budaya nyadran mempunyai makna kebersamaan dan keguyuban, yang terbentuk dari kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, serta kesadaran masyarakat dalam memberikan sebagian ruang miliknya yang bermanfaat untuk kepentingan umum.
Spatial Hierarchy In The Tengger House, Ranu Pani Village Sani Syauqi Azmi; Lisa Dwi Wulandari; Yusfan Adeputera Yusran
International Journal of Built Environment and Scientific Research Vol 6, No 2 (2022): International Journal of Built Environment and Scientific Research
Publisher : Department of Architecture Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ijbesr.6.2.139-152

Abstract

The Tengger tribe inhabits the Bromo Tengger Semeru National Park area, a national park area that is synonymous with natural and cultural tourism. Among the villages in the Tengger area, Ranu Pani Village is the most recently administratively formed village in 2001. The uniqueness of Ranu Pani Village is located in the middle of the National Park area so that its status as an enclave village. With this status, the village cannot increase its land expansion because it is confined to a protected forest area. it is common for Ranu Pani houses are often found between children and parents close together. The existence of residential houses that are close to those of parents and children as well as tourists make the space users of a house diverse. The privacy of a space is interesting to know from the space in the house in Ranu Pani Village which has different dynamics of function and occupants of the space. method used in this study is a descriptive qualitative method. The results of the study show that the basic hierarchy of spatial from houses in Ranu Pani Village still has many similarities with other Tengger studies, but some have adapted with form and function from the house.
Mapping Religious Activities and Pluralities in Houses: Case Study at Balun Village Lamongan Agus Subaqin; Antariksa Sudikno; Lisa Dwi Wulandari; Herry Santoso
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20310

Abstract

 Religious activities are basic things that are indispensable in life and are primary needs that must be met. Religious plurality is a social reality in life; it is a challenge to create religious harmony, but on the other hand, it is prone to conflict. The study aims to map religious activities in the settlement of religious plurality, namely Islam, Christianity, and Hinduism, in Balun village, Lamongan. It applied an environment behavior study approach with a place-centered mapping method to find individuals or groups using and accommodating their behavior in a certain time and space, with aspects studied, namely religious activities, space, and time. Data were obtained from direct observation and interviews with purposive, systematic samples. The results showed that religious activities at home with religious plurality were mapped into two categories: the religious activities of individuals or groups according to their religion; and the religious activities by inviting citizens to their religion and different religions. Mapping of space use showed that the use of semi-public and public space in the home for religious activities result in flexibility in spatial functions and changes in sacred-profane spatial boundaries. The research contributed to the theoretical development of using shared space in the home and creating a space of tolerance in Balun village's religious life. Kegiatan keagamaan merupakan hal mendasar yang sangat diperlukan dalam kehidupan dan menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Pluralitas agama termasuk realitas sosial dalam kehidupan; merupakan tantangan untuk menciptakan kerukunan umat beragama, namun di sisi lain rawan konflik. Kajian ini bertujuan untuk memetakan aktivitas keagamaan dalam penyelesaian pluralitas agama, yaitu Islam, Kristen, dan Hindu, di desa Balun, Lamongan. Penelitian ini menerapkan pendekatan kajian perilaku lingkungan dengan metode place-centered mapping untuk menemukan individu atau kelompok yang menggunakan dan mewadahi perilakunya dalam ruang dan waktu tertentu, dengan aspek yang dikaji yaitu kegiatan keagamaan, ruang, dan waktu. Data diperoleh dari observasi langsung dan wawancara dengan sampel purposif, sistematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan di hunian dengan pluralitas agama dipetakan menjadi dua kategori yaitu kegiatan keagamaan individu atau kelompok menurut agamanya; dan kegiatan keagamaan dengan mengajak warga untuk beragama dan berbeda agama. Pemetaan pemanfaatan ruang menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang semi publik dan publik di rumah untuk kegiatan keagamaan mengakibatkan terjadinya fleksibilitas fungsi ruang dan perubahan batas ruang yang sakral-profan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori pemanfaatan ruang bersama di rumah dan penciptaan ruang toleransi dalam kehidupan beragama di Desa Balun.
Co-Authors - Antariksa A Antariksa Achmad Faried Hanafi Achmad Faried Hanafi, Achmad Faried Adita Ronarizkia Agung Murti Nugroho Agus Subaqin Ahsan Hidayat Setiadi Aigan Fanda Amar Rizqi Afdholy Antariksa Antariksa Antariksa Antariksa Sudikno Antariksa Sudikno Antariksa, , Arini Anggreini Arnes Ayunurafidha Ashgaf, Irfan Maulana Aula Sekar Arum Pertiwi Ayu Indeswari Ayu Indeswari Ayu Indeswari Azizah, Novia Benny Karunia Wardana Budi Santosa Budi Santosa Cantya P. Marhendra Christina, Adinda Cyndhi Dewi Rukmana Damayanti Asikin Damayanti Asikin Damayanti Asikin Daniel Happy Putra Diyan Lesmana Dwi Risky Mauliah Dwiki Darmawan Elan Gajmar Ema Yunita Titisari F, Redi Sigit. Faudina Faradilla Nanda Febrianto, Eko Fidelista, Alya Nafisa Galih Widjil Pangarsa Galih Widjil Pangarsa Galih Widjil Pangarsa Guruh Pratama Zulkarnaen H.D. Khamim Binanda HALIM, ADISTY Hamka, , Handajani, Rinawati Pudji Hartati Kapita Herry Santosa Herry Santosa Herry Santoso Herry Santoso Herry Santoso Heru Sufianto Hidhayad, Aulia Indah Ciptaning Widi Irene Olivia Humayang Dinar Irani Irfan Maulana Ashgaf Irma Fitriyani Irma Fitriyani, Irma Isma Fawzeya Rosida Iswanto, Heru Hendri Jenny Ernawati Jenny Ernawati Joko Triwinarto Santoso Kukuh Alfandhi Kurniawan Kusdiwanggo, Susilo Laksana, Noeviyanti Indah M. Satya Adhitama M. Satya Adhitama Makarim, Muhammad Raja Rafi Marjono Mawaddahni, Sari Meirinda Putri Aristyani Mike Yuanita Mike Yuanita Mimin Trianus Mimin Trianus Mochammad Naruseito Mohamad Harun Mourad, Raghad Muhammad Andi Finaldi Nur Tantyo Muhammad Satya Adhitama Mukhlis A. Mukhtar Noeviyanti Indah Laksana Nordin, Jestin Noviani Suryasari Nur Laily Azizah Nur Ratih Ratnawati Nur Tantyo, Muhammad Andi Finaldi Nurmayanti, Yunita Pratiwi, Elsa Intan Previa Sandyangsani Rahma, Sarah Naila Redi Sigit Febrianto Redi Sigit. F Resty Linandi Cipta, Resty Linandi Retnosari, Zahra Febri Ridjal, Abraham Mohammad Rifdah, Balqis Nadhifatur Risqi Cahyani Risqi Cahyani Risqi Cahyani, Risqi Rizki Swandani Rosawati Saputri S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Salsabila Tajrimin Ramadhani Sani Azmi Sani Syauqi Azmi Sari, Hela Radika Savitri, Andriadini Setiadi, Ahsan Hidayat Sholehah Sigmawan Tri Pamungkas Sigmawan Tri Pamungkas Siswahyudianto Sri Utami Sri Utami Sri Winarni Sri Winarni Sri Winarni Subhan Ramdlani Surjono Surjono Susilo Kusdiwanggo, Susilo Titik Indra Setyowati Triandriani Mustikawati Turningtyas Turningtyas Turningtyas Turningtyas Tyas Pinendita Wahid, Julaihi Yogie Maulana Satuhu Yunus, Rafika Zulfadyanti Yusfan Adeputera Yusran Yusfan Adeputera Yusran Yusran Yusfan Adeputra Yusran Yusran, Yusfan Adeputera