Articles
Meta Analisis Korelasi Antara Depresi dan Kualitas Hidup
Marcel Aurelius Wirahadi Prasadhana;
Ananta Yudiarso
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 1 (2022): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v10i1.2336
Kualitas hidup merupakan hal yang harus diperhatikan pada tiap individu. Beberapa faktor negatif dari rendahnya kualitas hidup adalah terganggunya kesehatan mental. Kesehatan mental yang terganggu, salah satunya dapat menyebabkan depresi. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui hubungan dari depresi dan kualitas hidup menggunakan metode penelitian meta analisis. Penelitian meta analisis ini menggunakan 14 literatur (2017 - 2021) dengan total n = 3.952. Berdasarkan hasil dari analisa meta analisis dapat diketahui bahwa adanya effect size korelasi antara depresi dan kualitas hidup yang digolongkan ke dalam medium effect size ( r = 0,462, p = 0,0001, 95% CI = -0,7227 - -0,2023).
Studi Meta Analisis: Gratitude Therapy untuk Meningkatkan Subjective Well-being
Marsantia Julista Papilaya;
Ananta Yudiarso
Jurnal Psikologi TALENTA Vol 8, No 2 (2023): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26858/talenta.v8i2.22716
Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas dari Gratitude Therapy terhadap peningkatan Subjective Well-being. Metode yang digunakan adalah meta analisis dengan Jamovi 1.6.11. Penelitian ini melibatkan 11 jurnal eksperimen mengenai Gratitude Therapy dan Subjective Well-being (total n eksperiment group = 410; total n control group = 390). Berdasarkan pengelolahan data M, SD, dan N ditemukan nilai effect size yang diperoleh dari random effect model, yaitu sebesar 0.42 (95% Cl = -0.71 sampai -0.14) dengan I2 = 72.54%. Tidak terdapat bias publikasi dalam penelitian ini (Egger’s Regression p = 0.657). Moderator jenis kelamin kurang berpengaruh terhadap effect size. Dapat disimpulkan bahwa Gratitude Therapy memiliki efektifitas yang rendah terhadap peningkatan Subjective Well-being.
Effects of Self-Efficacy in the Life of Student Academic Procrastination
Yuniva Dwi Indah Lestari;
Ananta Yudiarso
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 1 (2023): Volume 11, Issue 1, Maret 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i1.10214
In psychology, the phenomenon of procrastination is called procrastination. Procrastination or procrastinating work that occurs in the academic area is commonly called academic procrastination. Academic procrastination is a frequent procrastinatory behavior in schools and universities that results in negative student performance. Procrastination behavior causes negative effects of anxiety or stress and rarely has a positive behavioral impact. The effect of procrastination behavior is the emergence of anxiety about fear of failure and decreased self-motivation. Another impact of procrastination behavior is lower academic self-esteem and lower learning effectiveness. Several studies have shown that there is a correlation between self-efficacy and academic procrastination. Therefore, this meta-analysis study serves to test the effect of size self-efficacy on academic procrastination. This study used 15 journals with a total of 2580 respondents. All of these journals describe the results of research with a negative correlation between self-efficacy and academic procrastination. This study also obtained random effect size results of -0.08 (95% CI= -0.38 to 0.22) with I2 (inconcruency) = 98.25% and egger regression of P=0.584. Calculations using moderates in the categories of self-efficacy measurement tools, academic procrastination measuring instruments and research areas showed that there was no publication bias. Based on the results of the meta-analysis analysis, it can be seen that self-efficacy is only slightly correlated with academic procrastination, which means the low influence between self-efficacy and academic procrastination. Therefore, it is expected that the research will contribute to further researchers in further studying the problem of academic procrastination. Dalam dunia psikologi, fenomena menunda-nunda disebut dengan prokrastinasi. Prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan yang terjadi pada area akademik biasa disebut dengan prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik merupakan perilaku penundaan yang sering terjadi di sekolah dan di Universitas yang mengakibatkan hal negatif pada kinerja siswa. Perilaku prokrastinasi menimbulkan dampak negatif yakni kecemasan atau stres dan jarang memberikan dampak perilaku positif. Pengaruh dari perilaku prokrastinasi tersebut adalah timbulnya kecemasan terhadap ketakutan akan kegagalan dan motivasi dalam diri yang menurun. Dampak lain dari perilaku prokrastinasi adalah harga diri akademik yang lebih rendah dan efektivitas belajar yang lebih rendah. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara self-efficacy dan prokrastinasi akademik. Maka dari hal itu studi meta analisis ini berfungsi untuk menguji tentang effect size self-efficacy terhadap prokrastinasi akademik. Studi ini memakai 15 jurnal dengan jumlah responden 2580 orang. Ke semua jurnal tersebut memaparkan tentang hasil penelitian dengan korelasi negatif antara self-efficacy dan prokrastinasi akademik. Penelitian ini juga mendapatkan hasil random effect size sebesar -0,08 ( 95% CI= -0,38 sampai 0,22) dengan I2 (inconcruency) = 98,25% dan egger regression sebesar P=0,584. Perhitungan menggunakan moderator kategori alat ukur self-efficacy, alat ukur prokrastinasi akademik dan wilayah penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat bias publikasi. Berdasarkan hasil analisa meta analisis dapat diketahui bahwa self-efficacy hanya sedikit berkorelasi dengan prokrastinasi akademik, yang artinya rendahnya pengaruh antara self-efficacy terhadap prokrastinasi akademik. Oleh sebab itu diharapkan dari penelitian memberikan sumbangsih terhadap para peneliti selanjutnya dalam mengkaji lebih lanjut mengenai permasalahan prokrastinasi akademik.
Studi Meta-analisis: Welas Diri dan Kecemasan
Clarissa Firanda Polii;
Ananta Yudiarso
Jurnal Psikologi Integratif Vol 11, No 1 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2736
Anxiety is defined as a physiological response to the possibility of problems arising in individuals. Anxiety is known to have a relationship with other variables, one of which is self-compassion. Individual self-compassion will be able to influence the level of anxiety. Individuals who have self-compassion will tend to avoid negative emotions that cause anxiety. This meta-analytic study aims to look at the relationship between anxiety and self-compassion in the last five years of research from 2018 to 2023 with a total of 10,489 respondents. The results of the study found that self-compassion had a moderate effect size (-0.55) with heterogeneity (I 2 ) of more than 88.81%, so this study used a random effects size. Therefore, self-compassion is interpreted as having a moderate effect that is negatively correlated with levels of anxiety. Kecemasan didefinisikan sebagai respon secara fisiologis dari kemungkinan munculnya permasalahan pada individu. Kecemasan diketahui memiliki kaitan dengan variabel lain salah satunya welas diri. Welas diri yang dimiliki individu akan mampu mempengaruhi tingkat kecemasan. Individu yang memiliki welas diri akan cenderung terhindar dari emosi negatif yang menyebabkan kecemasan. Studi meta-analisis ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kecemasan dan welas diri dalam penelitian lima tahun terakhir dari tahun 2018 hingga 2023 dengan total responden sebanyak 10.489 orang. Hasil penelitian menemukan bahwa welas diri memiliki medium effect size (-0,55) dengan heterogenitas (I 2 ) lebih dari 88,81%, sehingga penelitian ini menggunakan random effects size. Oleh karena itu, welas diri diartikan memiliki efek sedang yang berkorelasi secara negatif pada tingkat kecemasan.
META-ANALISIS PENGARUH INTERVENSI VIRTUAL REALITY THERAPY UNTUK MENURUNKAN SOCIAL ANXIETY DISORDER
Jocelyn Faustina Santoso;
Ananta Yudiarso
Jurnal Psikologi Vol 16, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gunadarma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35760/psi.2023.v16i1.7522
This study aims to see the effectiveness of appropriate virtual reality therapy methods to reduce level of social anxiety disorder in individuals. This research method is a meta-analysis based on the PRISMA-P 2020 procedure. This research involved 7 previous experimental studies that used virtual reality therapy as an intervention in reducing social anxiety disorder. The result of this study is that the virtual reality therapy method has a large effect size in reducing individual social anxiety disorder. Virtual reality therapy should be combined with other interventions such as cognitive behavior therapy (CBT) or mindfulness-based warm-ups and individuals are encouraged to do self-reflection to reduce the level of social anxiety disorder they experience.
Meta-analisis CBT Online dan Tatap Muka (Luring) Untuk Meningkatkan Self-Esteem
Jelite Prenggo Putri;
Ananta Yudiarso
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 8, No 1 (2023): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24176/perseptual.v8i1.7407
This study uses a meta-analysis review method from 18 research journals from 2011 to 2021. The purpose of this meta-analysis is to measure the effectiveness of Cognitive Behavior Therapy (CBT) to increase self-esteem by moderating the type of CBT given to participants with online and face-to-face methods. The participants are 1,587 include of 810 control groups and 777 experimental groups. Results based on the data processing Mean (M), Standard Deviation (SD), and the number of participants (N) then found the value of effect size hedge's g = 0.729 (95% CI -1.214 to 2.673) with I^2 (inconsistency) = 97.63 % and Egger bias P = 0.112. The results show a large effect size and no publication bias. Thus, it can be show that Cognitive Behavior Therapy (CBT) with online and face-to-face Cognitive Behavior Therapy (CBT) as a moderator has a large effect size so that can be told that effective for increasing self-esteem in individuals.Penelitian ini menggunakan metode meta-analisis melalui review dari 18 jurnal penelitian dari tahun 2011 hingga 2021. Tujuan dari meta-analisis ini yaitu untuk mengukur efektivitas Terapi Perilaku dan Kognitif untuk meningkatkan harga diri dengan moderator jenis Terapi Perilaku dan Kognitif (CBT) yang diberikan kepada partisipan dengan metode online dan tatap muka. Partisipan yang digunakan sebanyak 1.587 yang terdiri dari 642 kelompok kontrol dan 731 kelompok eksperimen. Berdasarkan hasil dari pengolahan data Mean (M), Standard Deviation (SD), dan jumlah partisipan (N) kemudian ditemukan nilai effect size hedge’s g= 0.729 (95% CI -1.214 to 2.673) dengan I2 (inconsistency) = 97.63% dan Egger bias P = 0.112. Hasil penelitian menunjukkan effect size large dan tidak ada bias publikasi. Secara keseluruhan, disimpulkan yaitu Terapi Perilaku dan Kognitif (CBT) dengan moderator jenis Terapi Perilaku dan Kognitif (CBT) online dan tatap muka memiliki large effect size sehingga dapat dikatakan efisien untuk meningkatkan harga diri individu.
Korelasi Antara Grit dan Kepuasan Kerja : Studi Meta-Analisis
Citha Kusuma Anindhyta;
Ananta Yudiarso
Psycho Idea Vol 20, No 2 (2022): Psycho Idea
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (334.82 KB)
|
DOI: 10.30595/psychoidea.v20i2.12697
Kepuasan kerja adalah salah satu aspek yang penting dalam keberlangsungan perusahaan. Namun tidak semua pegawai merasakan adanya kepuasan ketika bekerja, sehingga dapat berdampak pada tingginya stres kerja, menurunnya performa kerja, hingga turnover. Berbagai penelitian menyatakan bahwa grit merupakan salah satu aspek kepribadian yang dapat memprediksi adanya kepuasan bekerja pada pegawai. Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan korelasi grit terhadap kepuasan kerja melalui metode meta-analisis. Penelitian mengunakan 9 jurnal yang melibatkan 2.692 responden yang relevan untuk dilakukan melalui uji statistik. Hasil dari penelitian ini adalah nilai effect size yaitu sebesar 0,293 (95% CI = 0,166 – 0,42), p<0,001. Heterogenitas (I2) yaitu sebesar 90.72% dan egger bias pada meta- sebesar 0,919 sehingga tidak ada bias publikasi. Grit memiliki small effect size terhadap kepuasan kerja. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa terdapat variabel-variabel lain selain grit yang lebih berkorelasi dengan dengan kepuasan kerja. Terbatasnya jumlah studi yang digunakan dan penggunaan alat ukur yang berbeda berpengaruh terhadap hasil korelasi dari penelitian ini, sehingga perlu berhati-hati dalam proses mengaplikasikan hasil penelitian. Penelitian selanjutnya sebaiknya mempertimbangkan penggunaan alat ukur yang serupa dalam mengukur kedua variabel.
META ANALISIS: EFEKTIVITAS PENGARUH GUIDED IMAGERY THERAPY UNTUK KECEMASAN
Dayangku Fanny Padillah;
Ananta Yudiarso
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 6 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study aims to see the effectiveness of providing guided imagery therapy interventions to reduce anxiety in individuals. The research used the meta-analysis method according to the PRISMA-P 2020 procedure. Seven experimental studies were examined in this study using guided imagery therapy as an intervention that had a large effect size in reducing anxiety. The results of this study indicate that guided imagery therapy is effective in reducing anxiety in individuals with a medium to large effect size.
Studi Metaanalisis: Efektivitas Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk Menurunkan Depresi
Puput Makarti;
Ananta Yudiarso
Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET Vol 13 No 02 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35814/mindset.v13i02.2672
Depression is a disease which is encountered by most people these days. Depression can interfere with individuals in their daily lives because they lose energy, feel anxious, feel worthless and can even hurt themselves to commit suicide. The form of psychological therapy that can be given to individuals experiencing depression is Acceptance and commitment therapy (ACT). Acceptance and commitment therapy (ACT) is useful for increasing individual psychological flexibility regarding thoughts, feelings, and behavior. The purpose of this study is to conduct a meta-analysis review to seek further evidence regarding the effectiveness of Acceptance and commitment therapy (ACT) in reducing depression measured using the Center for Epidemiological Studies Depression Scale (CES-D), Depression Anxiety Stress Scales (DASS-D), The Beck Depression Inventory (BDI), The Beck Depression Inventory-II (BDI-II), Reynolds child depression scale (RCDS), Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS-D), Montgomery-Åsberg Depression Rating Scale (MADRS). The type of research conducted is quantitative research which is analyzed using meta-analysis techniques. The data used comes from 17 journals that discussed depression and Acceptance and commitment therapy (ACT) (n experimental group = 595; n control group = 620. The results of the analysis obtained an estimate value of 1,12 which show the large effect with a value of I2 = 95,34% this shows that Acceptance and Commitment Therapy (ACT) is effective in reducing depression levels.
Meta Analisis: Efektivitas Cognitive Behavioral Therapy untuk Insomnia
Rahma, Lili;
Yudiarso, Ananta
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 12 No. 1 (2024): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2930
Insomnia cases in Indonesia and worldwide as well have increased every year. Based on data found cases of insomnia increased during the COVID-19 pandemic. The intervention that is widely used in dealing with insomnia is by using cognitive behavioral therapy (CBT) intervention techniques. Several previous studies have conducted research related to CBT for insomnia (CBT-I). This research was conducted to see the magnitude of the effect size arising from CBT on insomnia and to increase statistical insight using meta-analysis approach of hedge's g. The study used 14 research journal articles discussing cognitive behavioral therapy and insomnia which involved total of 7085 respondents. The results of this study found that cognitive behavioral therapy was quite effective in reducing insomnia (g=-0.57). Kasus insomnia di Indonesia maupun di dunia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data yang ditemukkan kasus insomnia bertambah selama masa pandemi COVID-19 berlangsung. Intervensi yang banyak digunakan dalam menangani insomnia adalah dengan menggunakan teknik intervensi cognitive behavioral therapy (CBT). Beberapa penelitian terdahulu sudah melakukan penelitian berkaitan dengan CBT untuk insomnia (CBT-I). Penelitian ini dilakukan untuk melihat besaran effect sizeyang ditimbulkan dari CBT terhadap insomnia serta meningkatkan wawasan statistik dengan menggunakan meta-analisis. Pada penelitian ini menggunakan metode meta-analisis yang mana dalam analisisnya menggunakan aplikasi JAMOVI versi 2.2.5 dana melihat effect size menggunakan nilai hedge’s g. penelitian menggunakan 14 artikel jurnal penelitian yang membahas mengenai cognitive behavioral therapy dan insomnia yang mana melibatkan sebanyak 7085 responden. Hasil dari penelitian ini menemukkan bahwa cognitive behavioral therapy cukup efektif dalam menurunkan insomnia (g=-0.57).