Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : journal of marine research

Karakteristik Morfometrik Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Pesisir Pulau Bintan Sarinawaty, Pratiwi; Idris, Fadhliyah; Nugraha, Aditya Hikmat
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28432

Abstract

ABSTRAK: Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbiji (angiospermae) yang mampu hidup terendam di dalam air laut dan beradaptasi pada lingkungan dengan salinitas tinggi serta memiliki rhizome, daun dan akar sejati. Kajian terkait karakteristik morfometrik menekankan pada keadaan karakter morfologi suatau spesies yang mendiami suatu wilayah tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada ekosistem lamun di beberapa wilayah pesisir di Pulau Bintan. Penentuan lokasi penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling sedangkan pengambilan data lamun menggunakan transek kuadran ukuran 50x50cm. Karakteristik bagian lamun yang diukur yaitu panjang daun, lebar daun, diameter rhizome, panjang akar dan jumlah daun. Karakteristik morfometrik lamun di ketiga lokasi memiliki perbedaan. Lamun E. acoroides di lokasi Pantai Impian memiliki panjang daun yang terpanjang dan diameter rhizome yang paling besar dari lokasi lainnya. Sedangkan lokasi pengudang memiliki lebar daun tertinggi. Morfometrik Lamun jenis T. hemprichii yang mempunyai nilai panjang daun, lebar daun dan diameter rhizome tertinggi terdapat di lokasi Pantai Impian. Sedangkan panjang daun terendah terdapat di Pengudang.  ABSTRACT: Seagrass is the only seed plant (angiosperms) that can live submerged in seawater and adapt to environments with high salinity and has rhizomes, leaves, and tree roots. Studies related to morphometric characteristics emphasize the morphological character of a species that inhabits a particular area. This research was conducted in October 2019 to March 2020 in Dompak, Pengudang Village, and Pantai Impian to compare the morphometric characteristics of the seagrass Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii in seagrass ecosystems in some coastal areas of Bintan Island. The determination of the location of the study was determined by a purposive sampling method while seagrass data collection using a 50x50cm quadrant transect size. Morphometric characteristics of seagrasses in the three locations have differences. Seagrass E. acoroides at the Impian Beach location has the longest leaf length and the largest rhizome diameter than other locations. Whereas the storage location has the highest leaf width. Morphometrics of seagrass T. hemprichii which has the highest value of leaf length, leaf width, and rhizome diameter is at the Dream Beach location. While the lowest leaf length is found in Pengudang. 
Pengaruh Kerapatan Berbeda Terhadap Produksi Dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove Xylocarpus granatum Koenig, 1784 (Meliaceae:Rosids) dan Rhizophora apiculate Blume,1827 (Rhizophoraceae: Rosids) di Perairan Pulau Bintan Muslimin, Muslimin; Susiana, Susiana; Nugraha, Aditya Hikmat
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30134

Abstract

Penelitian mengenai Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove Xylocarpus granatum dan Rhizophora apiculata di Perairan Busung dan Tanjung Unggat Pulau Bintan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove Xylocarpus granatum dan Rhizophora apiculata di perairan Busung dan Tanjung Unggat, Pulau Bintan. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Februari – Mei 2020 mengenai produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove X. granatum dan R. apiculata di perairan Busung dan Tanjung Unggat Pulau Bintan. Penelitian ini bertujuan membandingkan produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove X. granatum dan  R. apiculata. Penelitian ini dilakukan dengan penentuan lokasi, kemudian persiapan alat dan bahan dan dilanjutkan dengan pengambilan data kerapatan mangrove dan pengambilan data serasah serta laju dekomposisi. Hasil penelitian ditemukan 2 jenis mangrove di 2 stasiun yaitu X. granatum dan R. apiculata. Kerapatan total di Desa Busung berjumlah 2267 pohon/ha tergolong sangat padat dan masih dalam kondisi baik sedangkan kerapatan total di Tanjung Unggat berjumlah 1200 pohon/ha tergolong sedang dan masih dalam kondisi baik. Produksi serasah tertinggi yaitu terjadi pada Stasiun Busung yaitu R. apiculata 1.47 g/m2/hari dan X. ganatum 0.83 g/m2/hari dengan kerapatan yang padat dan untuk hasil terendah terjadi pada stasiun Tanjung Unggat yaitu R. apiculata 1.09 g/m2/hari dan X. granatum 0.65 g/m2/hari dengan kerapatan sedang. Laju dekomposisi serasah daun spesies X. granatum menunjukkan nilai 0.0192 dan Laju dekomposisi serasah daun spesies R. apiculata menunjukkan nilai 0.0203. Laju dekomposisi sersah daun terjadi penurunan yang sangat signifikan pada hari ke 14 yaitu dengan kisaran 0.04 – 0.06 gr/hr. Sedangkan pada hari ke-14 sampai hari ke-28 relatif  konstan, dengan kisaran 0.01 – 0.03 gr/hr. Research on the Production and Decomposition Rate of Xylocarpus granatum and Rhizophora apiculata Mangrove Litter in Busung and Tanjung Unggat Waters, Bintan Island. The purpose of this study was to compare the production and decomposition rate of mangrove litter from Xylocarpus granatum and Rhizophora apiculata in the waters of Busung and Tanjung Unggat, Bintan Island. This research was conducted in February - May 2020 regarding the production and decomposition rate of mangrove litter X. granatum and R. apiculata in the waters of Busung and Tanjung Unggat Bintan Island. This study aims to compare the production and decomposition rate of mangrove litter X. granatum and R. apiculata. This research was conducted by determining the location, then preparing the tools and materials, followed by collecting data on mangrove density and data collection of litter and decomposition rate. The results found 2 types of mangroves at 2 stations, namely X. granatum and R. apiculata. The total density in Busung Village was 2267 trees / ha which was classified as very dense and still in good condition, while the total density in Tanjung Unggat was 1200 trees / ha which was classified as moderate and still in good condition. The highest litter production occurred at Busung Station, namely R. apiculata 1.47 g/M2/day and X. granatum 0.83 g/m2 /day with a dense density and for the lowest yield occurred at Tanjung Unggat station, namely R. apiculata 1.09 g/m2/day and X. granatum 0.65 g/m2/day with moderate density. The leaf litter decomposition rate of species X. granatum showed a value of 0.0192 and the rate of decomposition of leaf litter of species R. apiculata showed a value of 0.0203. The decomposition rate of leaf litter decreased significantly on day 14, in the range of 0.04 - 0.06 gr/day. Meanwhile, on day 14 to day 28 it is relatively constant, with a range of 0.01 - 0.03 g/day.
Struktur Populasi Ikan Baronang pada Ekosistem Lamun Di Pesisir Pulau Bintan Jemi Jemi; Ita Karlina; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.33029

Abstract

Salah satu ekosistem pesisir yang dapat ditemukan di pesisir Pulau Bintan yaitu  ekosistem lamun. Ikan baronang merupakan ikan ekonomis penting yang berasosiasi dengan padang lamun. Kondisi struktur ekosistem lamun yang berbeda di perairan pulau Bintan diduga dapat berpengaruh terhadap persebaran ikan baronang pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi tutupan lamun pada beberapa lokasi dan mendeskripsikan struktur populasi ikan baronang (Siganus sp) pada ekosistem lamun dengan tutupan berbeda di  perairan pulau Bintan. Metode sampling tutupan lamun menggunakan transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm dan sampling ikan baronang menggunakan jaring insang dasaran (bottom gill net). Diperoleh 8 jenis lamun yang tersebar di 4 stasiun penelitian. Tutupan lamun tertinggi terdapat di stasiun Pengudang dengan nilai 65,20% dengan kondisi kaya/padat.  Terdapat 5 jenis ikan baronang. Jenis ikan baronang yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Siganus canaliculatus. Tidak terjadi perbedaan yang signifikan untuk persebaran jenis ikan baronang pada lokasi penelitian  One of the ecosystems that can be found on the coast of Bintan Island is the seagrass ecosystem. SIganus sp are economical fish associated with seagrass beds. The structure of the seagrass ecosystem is thought to have an effect on the distribution of Siganus sp in the seagrass ecosystem. This study aims to describe the condition of seagrass cover at several locations in the waters of Bintan Island and to describe the population structure of Siganus sp in seagrass ecosystems with different cover in the waters of Bintan Island. The seagrass cover sampling method used a quadratic transect measuring 50 x 50 cm and the Siganus sp fish sampling used a bottom gill net. Obtained 8 types of seagrass spread over 4 research stations. The highest seagrass cover was found at Pengudang station with a value of 65.20% with rich/dense conditions. There are 5 types of baronang fish. The type of baronang fish that has the highest abundance is Siganus canaliculatus. There is no significant difference for the distribution of baronang fish species at the study site.
Sebaran Jenis dan Kondisi Tutupan Lamun di Perairan Kepulauan Riau Aditya Hikmat Nugraha; Imam Pangestian Syahputra; I Wayan Eka Dharmawan; Ucu Yanu Arbi; Bambang Hermanto; Fajar Kurniawan; Syofyan Roni; Ganang Wibisono; Anggia Rivani
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36274

Abstract

Perairan Kepulauan Riau yang terdiri dari pulau-pulau kecil umumnya memiliki ekosistem pesisir yang tersusun dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem lamun merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang memiliki peran tidak kalah penting seperti habitat biota, area pengasuhan, regulasi karbon dan lain sebagainya. Monitoring terkait kondisi ekosistem lamun penting untuk dilakukan dalam rangka mengetahui status ekosistem sehingga kedepan dapat menentukan langkah pengelolaan ekosistem yang baik. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2021 di Perairan Kepulauan Riau meliputi Perairan Kota Batam, Perairan Pulau Bintan, Perairan Lingga, Perairan Natuna dan Perairan Anambas. Metode pengamatan dilakukan dengan menggunakan transek garis yang dibantu dengan transek kuadrat dalam mengamati tutupan lamun di setiap lokasi penelitian.  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan 11 jenis lamun di Perairan Kepulauan Riau, meliputi spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis, Halodule pnifolia dan Syringodium isoetifolium. Nilai tutupan berada pada kisaran 20,68%-54,44%, Berdasarkan tutupannya secara umum ekosistem lamun di Perairan Kepulauan Riau berada dalam status sedang.The waters of the Riau Archipelago which consist of small islands generally have coastal ecosystems consisting of mangrove ecosystems, seagrass ecosystems and coral reef ecosystems. Seagrass ecosystems are part of coastal ecosystems that have no less important roles such as biota habitat, nurturing areas, carbon regulation and so on. Monitoring related to the condition of seagrass ecosystems is important to do in order to determine the status of the ecosystem so that in the future it can determine steps for good ecosystem management. This research was conducted in 2021 in the waters of the Riau Archipelago including Batam City Waters, Bintan Island Waters, Lingga Waters, Natuna Waters and Anambas Waters. The observation method was carried out using line transects assisted by quadratic transects in observing seagrass cover at each research location. Based on the results of the research conducted, 11 species of seagrass were found in the waters of the Riau Archipelago, including species of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis, Halodule pinifolia and Syringodium isoetifolium. The cover value is in the range of 20.68%-54.45%, based on seagrass cover in general the seagrass ecosystem in the Riau Islands waters is in a poor status.
Respon Pertumbuhan dan Sintasan Benih Enhalus acoroides Terhadap Pengkayaan Nutrien Menggunakan Limbah Budidaya Udang Aditya Hikmat Nugraha; Tri Apriadi; Fadhliyah Idris; Widia Kartika Di Sari Putri
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.42850

Abstract

Dilaporkan bahwa luasan ekosistem lamun di dunia terus mengalami penurunan. Salah satu faktor diantaranya adalah tingginya konsentrasi nutrien di perairan pesisir yang berasal dari aktivitas masyarakat. Benih lamun merupakan salah satu fase penting di dalam awal perkembangan kehidupan lamun. Selain itu juga nutrien menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan benih lamun. Pada penelitian ini sumber nutrien yang akan digunakan dalam proses pembenihan lamun berasal dari limbah budidaya udang.  Tujuan Penelitian ini untuk mengukur respon pertumbuhan dan tingkat sintasan benih lamun Enhalus acoroides yang dikultivasi pada media limbah budidaya udang dan mengukur perubahan konsentrasi nutrien pada limbah budidaya udang sebagai media tumbuh benih lamun Enhalus acoroides. Benih lamun Enhalus acoroides ditumbuhkan pada tiga perlakuan yaitu : jumlah tegakan lamun jarang (perlakuan A), jumlah tegakan lamun sedang (perlakuan B) dan jumlah tegakan lamun rapat (perlakuan C). Proses kultivasi dilakukan selama 4 minggu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya benih lamun mengalami penurunan pertumbuhan. Tingkat sintasan benih lamun tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan nilai sebesar 90%. Penyerapan nutrien (amonia, nitrat, dan fosfat) yang terdapat pada limbah budidaya udang optimal terjadi pada perlakuan C. Konsentrasi nutrien pada seluruh perlakuan cenderung mengalami penurunan It is reported that the area of seagrass ecosystems worldwide continues to decline. One of the factors is the high concentration of nutrients in coastal waters originating from community activities. Seagrass seedling are one of the critical phases in the early development of seagrass life. In addition, nutrients are also one of the factors that influence the development of seagrass seeds. In this study, the nutrients used in the seagrass seeding process come from shrimp farming waste. The purpose of this study was to measure the growth response and survival rate of seagrass seeds Enhalus acoroides cultivated in shrimp farming waste media and to measure changes in nutrient concentration in shrimp farming waste as a growing medium for seagrass seeds Enhalus acoroides. Seagrass seeds Enhalus acoroides were grown in three treatments, namely: the number of sparse seagrass stands (treatment A), the number of medium seagrass stands (treatment B) and the number of dense seagrass stands (treatment C). The cultivation process was carried out for 4 weeks. The study results showed that seagrass seeds generally experienced a decrease in growth. The highest survival rate of seagrass seeds was found in treatment C, with a value of 90%. The absorption of nutrients (ammonia, nitrate, and phosphate) in shrimp farming waste was optimally achieved in treatment C. Nutrient concentrations in all treatments tended to decrease.
Variasi Harian Kelimpahan Relatif Ikan Pada Ekosistem Lamun di Perairan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Sari Wahyuni; Ahmad Zahid; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.46287

Abstract

Diantara peran penting ekosistem lamun diantaranya sebagai tempat memijah, pengasuhan, mencari makan, dan tempat berlindung bagi berbagai organisme laut seperti ikan. Sebagai kota yang berada di wilayah pesisir, Tanjungpinang memiliki sebaran ekosistem lamun yang tersebar pada beberapa area. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajar terkaitani kondisi struktur ekosistem lamun, variasi harian kelimpahan ikan, dan keterkaitan antara asosiasi ikan dengan  struktur ekosistem lamun di perairan Kota Tanjungpinang. Terdapat empat stasiun pengamatan pada penelitian ini. Metode pengambilan data tutupan lamun dengan menggunakan transek garis yang dibantu dengan kuadrat dengan ukuran 50x50 cm sedangkan asosiasi ikan pada ekosistem lamun diamati dengan cara mengumpulkan ikan yang ditangkap dengan menggunakan jaring insang (Bottom gill net) yang memiliki karakteristik mata jaring ukuran 1,5 inci sepanjang 100 m dan lebar 2 m. Diperoleh 7 jenis lamun yang ditemukan di setiap stasiun dengan tutupan lamun tertinggi terdapat di Tanjung Duku. Teridentifikasi sebanyak 89 ikan yang berasosiasi dengan ekosistem lamun yang terdiri dari 23 famili dan 30 spesies. Hasil analisis one way ANOVA, menunjukkan bahwa variasi harian kelimpahan ikan pada siang dan malam hari memiliki nilai Sig. 0,014 (P< 0,05). Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan kelimpahan jenis ikan pada siang dan malam hari. Hasil analisis korespondensi antara kelimpahan ikan dengan kategori tutupan lamun menunjukkan adanya kelompok sebaran jenis ikan berdasarkan karakteristik tutupan ekosistem lamun. Among the crucial roles of seagrass ecosystems are as a place for spawning, nurturing, foraging, and shelter for various marine organisms such as fish. As a city located in a coastal area, Tanjungpinang has a distribution of seagrass ecosystems spread across several regions, each with its unique characteristics and importance. This study aims to study the condition of the seagrass ecosystem structure, daily variations in fish reports, and the relationship between fish associations and the structure of the seagrass ecosystem in the waters of Tanjungpinang City. This study has four observation stations. The method of collecting seagrass cover data using a line transect assisted by a 50x50 cm square, while the fish association in the seagrass ecosystem is observed by collecting fish caught using gill nets which have characteristics of 1.5 inch mesh size, 100 m long and 2 m wide. Seven types of seagrass were found at each station with the highest seagrass cover at Tanjung Duku. 89 fish were identified as being associated with the seagrass ecosystem, consisting of 23 families and 30 species. The results of the one-way ANOVA analysis showed that daily variations in reporting fish during the day and night had a Sig. Value of 0.014 (P <0.05). This indicates that there are differences in reporting fish species during the day and night. The results of the analysis of the delivery between fish reporting and seagrass cover categories indicate the existence of groups of fish species distribution based on the characteristics of seagrass ecosystem cover.
Co-Authors . Jihad Abdul Rahman Putra Abdul Rahman Ritonga Achmadiah, Soneta Achmadiyah, Soneta Addini, Indri Aditianda, Said Rully Adriani Sunuddin Afis Irawan Agung Dhamar Syakti Agus Ramli Ahmad Zahid Ahmad Zahid Ahmad Zahid Ailsa Brinda Shasika Alifiya, Rosyita Aminatul Zahra Andi Alamsyah Andi Bakia Askara Andri Irawan Anggia Rivani Angraini, Rika Anjani, Poppy Yulia Anma Hari Kusuma Anna Kristine Sigarlaki Annisa Annisa Arief Pratomo, Arief Arifatin, Ilil Armanto, Tri Asep Mulyono Aulia, Hillyatul Aulia, Hilyatul Bambang Hermanto Bimo Panji Prayogo Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Chandra Joei Koenawan Dea Fauzia Lestari, Dea Fauzia Dedy Kurniawan Deni Saputra Desrica, Ramona Devia Hartono Puteri Devia Hartono Puteri Devita, Vera Febri Dharmawan, I Wayan Eka Dietriech Geoffrey Bengen Dony Apdillah Eddy Handoko, Eddy Endang Sunarwati Srimariana ESTY KURNIAWATI Esty Kurniawati Fadhliyah Idris Fajar Kurniawan Falmi Yandri Fatma Chairda Yani Febrianti Lestari Ganang Wibisono Gunzales, Ario halim, muhamad Hanifah, Putri Nur Haniifah Nur Faatinah Puruhito Hasan Eldin Adimu Hasidu, La Ode Abdul Fajar Hasikin, Nur Hayaty, Nurul Hazrul Hazrul Herlanto Sihar Napitupulu Hertyastuti, Putri Restu Hidayat, Rommy Hukom, Frensly Damianus I Wayan Eka Dharmawan I Wayan Eka Dharmawan Ika Anggraeni Ilham Antariksa Tasabaramo Imam Pangestian Syahputra Indra Jaya Indri Addini Insaniah Rahimah Iqoh Faiqoh Islam, MD Jayedul Ita Karlina Jelita Rahma Hidayati Jemi Jemi Jumsurizal Jumsurizal Juraij Juraij Khairul Hafsar Khairunnisa Khairunnisa Khairunnisa Khairunnisa Kristina, Kariska Kurniawan, Rika Laia, Dominikus Yoeli Wilson Lia Badriyah Ma'mun*, Asep Ma'mun, Asep Maharani Makatipu, Petrus Christianus Mario Putra Suhana Muhammad Abrar Mujizat Kawaroe Mujizat Kawaroe MUJIZAT KAWAROE Murwanto, Murwanto Muslimin Muslimin Muslimin Muslimin Muta Ali Khalifa Nancy Willian Nimmi Zulbainarni Novajrati Ningsih, Dwi Putri Nurhasima Nurul Dhewani Mirah Sjafrie Nurul Hati Pradipta Agustina, Pradipta Pratiwi Sarinawaty Purnamsari, Ni Wayan Puruhito, Haniifah Nur Faatinah Putri Cahyani Putri Ramadhani Ramadhan, Muhammad Fitrah Reski Putri Handayani Rika Anggraini Rika Angraeni Rikoh Manogar Siringoringo Risandi Dwirama Putra Riska Rizki Rizki Rochmady Rosdyani Rachmi Sadam, Sadam Said Almahdi Saputra, Ruli Sari Wahyuni Sari Wahyuni Sarinawaty, Pratiwi Sinaga, Ronald Raditya Kesatria Sukmana, Hardiyanti Suraya, Intan Susanti Susanti Susi Rahmawati Susi Rahmawati Susiana Susiana Susiana Susiana Susiana Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri Syofyan Roni T. Ersti Yulika Sari Tarlan Subarno Tetty, Tetty Tri Apriadi Try Febrianto Ucu Yanu Arbi Udhi E Hernawan Udhi E Hernawan Ufek, Indok Uli Rohana Malau Wahyu Adi Wahyu Muzammil Wahyudin Wahyudin Widia Kartika Di Sari Putri Yandri, Fahmi Yani, Fatma Chairda Yehiel Hendry Dasmasela Yeti Darmayati Yuni Sinta Pratiwi Zamalludin, Zamalludin Zulfikar, Andi