p-Index From 2021 - 2026
5.234
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Edukasi Jurnal Theologia Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam ADDIN Analisa MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial TA'DIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Risâlah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam MODELING: Jurnal Program Studi PGMI al-Afkar, Journal For Islamic Studies Journal on Education JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM AL-IDARAH JURNAL ANSIRU PAI : Jurnal Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Dirasah : Jurnal Studi Ilmu dan Manajemen Pendidikan Islam Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam AL-ADABIYA: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Jurnal Scientia Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial ADDIN MANAJERIAL: Jurnal Inovasi Manajemen dan Supervisi Pendidikan INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya ALSYS : Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan ANWARUL: Jurnal Pendidikan dan Dakwah MASALIQ: Jurnal Pendidikan dan Sains ARZUSIN: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Dasar Analisa: Journal of Social Science and Religion AHKAM : Jurnal Hukum Islam dan Humaniora TOFEDU: The Future of Education Journal Solo International Collaboration and Publication of Social Sciences and Humanities Ta'dib Journal of Innovative and Creativity Jurnal Budi Pekerti Agama Islam TARBIYAH: Jurnal Pendidikan Agama Islam Jurnal Ilmu Ekonomi, Pendidikan dan Teknik (IDENTIK) Tahdzib Al-Akhlaq Jurnal Pendidikan Islam Al I'tibar Jurnal Pendidikan Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

Strengthening Religious Moderation to Counter Radicalism at IAIN Surakarta Moh Ashif Fuadi; Fuad Hasyim; Muhammad Nur Kholis; Abraham Zakky Zulhazmi; Rustam Ibrahim
AL-TAHRIR Vol 21, No 2 (2021): Islamic Studies
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v21i2.3102

Abstract

Abstract: Religious moderation discourse in Indonesia has recently attracted the attention of many parties, especially academics. Moderation means in the middle-center, neither to the right nor the left. In religious issues, religious moderation does not involve radicalism, fundamentalism, and liberalism. It is congruous for religious higher education to be a laboratory of religious moderation. It embeds national ideas, critical thinking constructs, multiculturalism values cultivation, and the peaceful delivery of spiritual messages. This research discusses the implementation of religious moderation at IAIN Surakarta. The internalization of moderation values to students is channeled through Bilik Moderasi Islam dan Adab (BIMA) of the Faculty of Adab and Language. This study employed descriptive qualitative methods with progress reports. It concluded the existence of several channels of moderation at the institutional level. BIMA became one of the pioneers of the religious moderation movement in the faculty. The prevention of radicalism was done in some ways. They establish moderation insight courses, conduct monthly studies on moderation, and create moderation digital creative content. Not only that but also BIMA certificates became the requirement of munaqosah. Besides, the progress report of the moderation index measurement showed the effect of BIMA coaching on the increase in the student moderation index. Based on the survey, most students also suggested maintaining the religious moderation education.الملخص: استحوذ الحديث عن الاعتدال الديني في إندونيسيا مؤخرا على اهتمام العديد من الأطراف والأحزاب، خاصة  الأكاديميين. تحتوي كلمة الاعتدال على معنى الوسط، ولا يتعدى إلى اليمين أو إلى اليسار. عندما يرتبط الأمر بالقضايا الدينية، فإن ممارسة الاعتدال الديني هي السلوك والتصرف الذي لا يتبع التطرف والأصولية والليبرالية. الجامعة الإسلامية مناسبة جدا لتكون مختبرا للاعتدال الديني. فالجامعة الإسلامية هي المكان تصدر ة تنمو منه  الأفكار الوطنية، وبناء التفكير النقدي، وتنمية قيم التعددية الثقافية، والتسليم السلمي للرسائل الدينية. يناقش هذا البحث تنفيذ الاعتدال الديني في جامعة سوراكارتا الإسلامية الحكومية. من خلال وحدة Bilik Islam Moderasi dan Adab (IMAB) التابع لكلية الآداب واللغات، يتم توجيه استيعاب قيم الاعتدال للطلاب. مع أساليب وصفية نوعية مع تقارير مرحلية،أدى هذا البحث إلى الانتهاء  من عدة قنوات للاعتدال على المستوى المؤسسي وأصبح BIMA  أحد رواد  حركة الاعتدال الديني في الكلية. أصبحت الجهود المبذولة لمنع التطرف من خلال إنشاء دورات رؤية الاعتدال ، والدراسات الشهرية تحت عنوان الاعتدال ، وإنشاء  منتجات المحتوى الإبداعي الرقمي الاعتدال  وشهادات IMAB شرطا لجلسات مناقشة البحث العلمي.  ويبين التقرير المرحلي لقياس مؤشر الاعتدال تأثير تدريب IMAB على الزيادة في مؤشر اعتدال الطلاب، واستنادا إلى مسح غالبية الطلاب الذين يرغبون في الحفاظ على تعليم الاعتدال الديني.Abstrak: Diskursus moderasi beragama di Indonesia belakangan ini menyita perhatian banyak pihak khususnya kalangan akademisi. Kata moderasi mengandung makna tengah-tengah, tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri. Jika dikaitkan dengan persoalan agama, praktik moderasi beragama itu bersikap dan berperilaku yang tidak mengikuti radikalisme, fundamentalisme dan liberalisme. Pendidikan Tinggi Keagamaan sangat tepat menjadi laboratorium moderasi beragama. Perguruan tinggi keagamaan sejatinya menjadi lahan tersemainya gagasan kebangsaan, konstruk pemikiran kritis, penanaman nilai-nilai multikulturalisme dan penyampaian pesan agama yang damai. Penelitian ini membahas tentang implementasi moderasi beragama di IAIN Surakarta. Melalui unit Bilik Moderasi Islam dan Adab (BIMA) Fakultas Adab dan Bahasa, maka internalisasi nilai-nilai moderasi kepada mahasiswa disalurkan. Dengan metode kualitatif deskriptif dengan progress report, penelitian ini menghasilkan kesimpulan adanya beberapa saluran moderasi di tingkat institusi dan BIMA menjadi salah satu pelopor gerakan moderasi beragama di fakultas. Upaya pencegahan radikalisme dilakukannya melalui   penetapan mata kuliah wawasan moderasi, kajian bulanan bertemakan moderasi, pembuatan produk konten kreatif digital moderasi dan sertifikat BIMA menjadi syarat untuk sidang munaqosah. Adapun progress report pengukuran indeks moderasi menunjukkan aadanya pengaruh pembinaan BIMA terhadap kenaikan indeks moderasi mahasiswa dan berdasar survei mayoritas mahasiswa menginginkan edukasi moderasi beragama terus dipertahankan.
PESANTREN DAN PENDIDIKAN KEBANGSAAN: Studi Tentang Buku al-Difâ‘ ‘ani al-Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ Karya Kiai Muhammad Said Rustam Ibrahim
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.489

Abstract

Abstrak: Kelompok radikal kerap menyerang ormas Islam yang tidak sependapat dengan mereka, termasuk pesantren. Pemahaman kebangsaan pesantren dengan kaum radikal bertolak belakang. Kaum radikal anti nasionalisme, sedangkan pesantren sangat erat dengan nasionalisme. Dalam hal ini, Pesantren Lirboyo memiliki sebuah kitab yang berjudul al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang konsep, aplikasi, dan urgensi pendidikan kebangsaan pada kitab tersebut. Berdasarkan penelitian, konsep pendidikan kebangsaan adalah media dan sarana untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Aplikasi pendidikan kebangsaan adalah menerapkan kaidah pendidikan kebangsaan, yaitu memperkokoh persatuan, memperkuat keamanan, menegakkan kemaslahatan, dan menanamkan rasa cinta tanah air.Abstract: Pesantren and Education of Nationality: Study Against al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ by Kiai Muhammad Said. Radical group often attacks against Islamic organizations that disagree with them, including pesantren. The understanding of pesantren with radical groups in the concept of nationality is contradictory. Radical group is anti nationalism, while pesantren is very close with nationalism. In this case, Pesantren Lirboyo has a book entitled al-Difâ‘ ‘ani al Wathân min Ahammi al-Wâjibât ‘ala Kulli Wâhidin Minnâ. This paper is the result of a research on the concept, application, and urgency of nationality education in the book of al-Difâ‘. Based on the research, the concept of nationality education is the media to maintain the unity of the Unitary State of the Republic of Indonesia. The application of nationality education is applying the rules of nationality education, namely strengthening unity, strengthening security, upholding benefits, and instilling a sense of loving the homeland.Kata Kunci: radikalisme, negara, politik, pendidikan, pesantren
DERADIKALISASI AGAMA DALAM PEMAHAMAN TEKS-TEKS LITERATUR PENDIDIKAN PESANTREN Rustam Ibrahim
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 2, No 2 (2015): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v2i2.378

Abstract

The author’s interest in researching on de-radicalization of religion in the literature of islamic boarding school education was driven by the fact that religion de-radicalization are now starting to touch many aspects of society. Religious radicalism is often associated with terrorism, such as suicide bombers under the pretext of jihad (martyrdom), violence in the name of amar ma'ruf-nahy munkar (commanding the good and forbidding the evil), even now starting to organize religious radicalism in the establishment of the state. Ironically, some of the perpetrators of terrorism are graduates of boarding schools. This is due to the fact that there are several texts in the literature of boarding school education that are vulnerable to radical behaviors, such as jihad, commanding the good, or fighting against non-Muslims. It makes boarding schools are negatively affected despite the fact that they are institutions of Islamic education in Indonesia who spread the teachings of Islam which is rahmatan lil Alamin (blessing for the universe), tolerant, and contextual. Therefore, this study wanted to know about de-radicalization of religion in the understanding of texts in the literature of boarding school education, particularly related to the meaning of jihad, commanding the good, and Islam as the blessing for the universe.This research uses library research, which is a pure literature research. This method is used for obtaining data on de-radicalization in the view of boarding schools using descriptive approach. This research is a study on religious teachings in relation to society, nature, character, and the influence of the thoughts and ideas in forming the character of a group.De-radicalization of religion in the literature of boarding schools includes several things. First, boarding schools should not teach jihad with war, but with education. Next, the applications of amar ma'ruf-nahy munkar must be done through certain stages, so that the direction fits the condition of the object of the missionary endeavor. Violence must not be used as long as it is still possible to use subtle ways since violence is only legalized when the situation is extremely urgent.Keywords: De-radicalisation of Religion, Text, Literature, Boarding School
Jihad Online dalam Perspektif Pendidikan Pesantren Rustam Ibrahim; Moh Ashif Fuadi
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol 13 No 2 (2021): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v13i2.867

Abstract

Artikel ini terinspirasi dari pernyataan KH. Said Aqil Siroj yang memerintahkan kepada segenap generasi muda untuk melakukan jihad online. Jihad online amat penting untuk mengcounter banyaknya hoax, fitnah, dan ujaran kebencian. Tujuannya adalah agar mampu melestarikan aqidah Aswaja, dan tentunya menjaga keutuhan NKRI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengertian jihad dalam istilah syariat dapat dimaknai sebagai perjuangan (bukan hanya peperangan) untuk menegakkan kebenaran dalam menjunjung tinggi agama Islam, termasuk jihad online. Aplikasi jihad online dalam perspektif pesantren dilakukan dengan menyampaikan argumentasi yang benar (iqomatul hujjaj)/(diagnosis), retorika yang santun (Dakwah Bil Hikmah Wal Mauidzotil Hasanah)/(prognosis), dan menyuarakan Islam yang rahmatan lil alamin (motivasional), Tujuan dari jihad online adalah media untuk menegakkan agama Islam dan sarana untuk mendapat Ridha Allah SWT.
DERADIKALISASI AGAMA DALAM PEMAHAMAN TEKS-TEKS LITERATUR PENDIDIKAN PESANTREN Rustam Ibrahim
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 2, No 2 (2015): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v2i2.378

Abstract

The author’s interest in researching on de-radicalization of religion in the literature of islamic boarding school education was driven by the fact that religion de-radicalization are now starting to touch many aspects of society. Religious radicalism is often associated with terrorism, such as suicide bombers under the pretext of jihad (martyrdom), violence in the name of amar ma'ruf-nahy munkar (commanding the good and forbidding the evil), even now starting to organize religious radicalism in the establishment of the state. Ironically, some of the perpetrators of terrorism are graduates of boarding schools. This is due to the fact that there are several texts in the literature of boarding school education that are vulnerable to radical behaviors, such as jihad, commanding the good, or fighting against non-Muslims. It makes boarding schools are negatively affected despite the fact that they are institutions of Islamic education in Indonesia who spread the teachings of Islam which is rahmatan lil Alamin (blessing for the universe), tolerant, and contextual. Therefore, this study wanted to know about de-radicalization of religion in the understanding of texts in the literature of boarding school education, particularly related to the meaning of jihad, commanding the good, and Islam as the blessing for the universe.This research uses library research, which is a pure literature research. This method is used for obtaining data on de-radicalization in the view of boarding schools using descriptive approach. This research is a study on religious teachings in relation to society, nature, character, and the influence of the thoughts and ideas in forming the character of a group.De-radicalization of religion in the literature of boarding schools includes several things. First, boarding schools should not teach jihad with war, but with education. Next, the applications of amar ma'ruf-nahy munkar must be done through certain stages, so that the direction fits the condition of the object of the missionary endeavor. Violence must not be used as long as it is still possible to use subtle ways since violence is only legalized when the situation is extremely urgent.Keywords: De-radicalisation of Religion, Text, Literature, Boarding School
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Pengertian, Prinsip, dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam Rustam Ibrahim
ADDIN Vol 7, No 1 (2013): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i1.573

Abstract

Implementasi Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Majelis Manakib Al Barokah Ponorogo Moh Ashif Fuadi; Rustam Ibrahim
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.576

Abstract

One of the most popular sufi figures in the world is Shekh Abdul Qadir al-Jailani. The significant number of followers is due to his tremendous knowledge in various fields. In the reciting activities of Shekh Abdul Qadir al-Jailani’s manakib explained his life history and grandeurs. In some of his works, he explains the teachings of sufism so that manakib practitioners can live up more to this. Also, he states to what extent the values of sufism are applied. The purpose of writing this article is to find out the sufism teachings of al-Jailani referring to his work and to know the implementation of his Sufism teachings in the Al Barokah Ponorogo manakib assembly with their routine agenda on the 11th night of the Hijri month. This study employs library sources combined with field observation on the assembly’s activities. The results show that the sufism teachings of al-Jailani in the book al-Ghunyah Li Thalib Thariq al-Haq are mujahadah, tawakkal, good morals, gratitude, patience, ridha, honesty, which in its implementation through the explanation and example of kiai have been practiced by the congregation of Al Barokah manakib and manifested in social behaviors. Keywords: al-Jailani, jamaah, manakib assembly, tasawuf. Salah satu tokoh sufi yang terpopuler di dunia adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Banyaknya penggemar tokoh sufi tersebut disebabkan oleh ketinggian ilmunya di berbagai bidang. Dalam kegiatan pembacaan kitab manakib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dijelaskan sejarah hidup berikut karomah-karomahnya. Dalam beberapa karyanya ia menjelaskan ajaran-ajaran tasawuf sehingga bisa semakin dihayati oleh pengamal manakib serta sejauh mana nilai-nilai ajaran tasawuf diterapkan oleh pengamalnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui ajaran-ajaran tasawuf al-Jailani merujuk pada karyanya dan mengetahui implementasi ajaran tasawufnya di majelis manakib Al Barokah Ponorogo yang diselenggarakan rutin tiap tanggal 11 bulan Hijriyah. Kajian ini menggunakan sumber pustaka dipadukan dengan pengamatan lapangan pada kegiatan majelis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran tasawuf al-Jailani dalam kitab al-Ghunyah Li Thalib Thariq al-Haq adalah mujahadah, tawakkal, akhlak baik, syukur, sabar, ridha, jujur yang dalam implemetasinya melalui penjelasan dan keteladanan kiai sudah dipraktekkan oleh jamaah Al Barokah dan terwujud dalam perilaku sosial. Kata kunci: al-Jailani, jamaah, majelis manakib, tasawuf.
PEMAKNAAN JAWA PEGON DALAM MEMAHAMI KITAB KUNING DI PESANTREN Sri Wahyuni; Rustam Ibrahim
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 17 No 1 (2017): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v17i1.920

Abstract

Pondok Pesantren dapat digolongkan menjadi dua yaitu PondokPesantren modern dan Pondok Pesantren salaf. Pondok Pesantrenmengajarkan kitab suci Al-Qur’an dan pengkajian kitab kuning, baik itumodern maupun salaf. Namun yang menjadi ciri khas dari PondokPesantren salaf adalah kitab berbahasa arab gundul kemudian diterjemahdengan bahasa jawa pegon. Huruf pegon lahir di kalangan PondokPesantren untuk memaknai atau menerjamahkan kitab-kitab berbahasaArab ke dalam bahasa Jawa atau Indonesia untuk mempermudahpenulisannya, karena penulisan arab dimulai dari kanan ke kiri, begitupula menulis pegon, sedangkan penulisan latin dimulai dari kiri ke kanan.Meskipun di lingkungan luar pesantren juga ada pembelajaran kitab,namun sulit sekali ditemukan pembelajaran kitab kuning (kitab gundul)yang menggunakan bahasa jawa pegon atau tulisan arab yangmenggunakan bahasa jawa, hanya saja mereka menggunakan kitab yangsudah diartikan dengan bahasa Indonesia secara langsung.Dalam Penulisannya, Pegon yang berupa huruf vokal diwakili denganhuruf-huruf yang dalam tulisan Arab berfungsi untuk memanjangkanbacaan huruf, yakni alif ( ا). wawu ( و), dan yak ( ي), Sedangkan hurufkonsonan ditulisan Arab Pegon diwakili oleh huruf-huruf hijaiyyah yangmirip bunyinya, seperti "n" dengan huruf nun, “m” dengan mim dan lainlain.Misalnya kata makan dituliskan dengan huruf mim, alif, kaf, alif dannun menjadi ماكان dan kata belajar dengan huruf ba, lam, alif, jim, alif, danro’ بلاجار . Selain huruf yang sudah ada padanannya, untuk huruf yangtidak ada dalam abjad hijaiyyah seperti bunyi sengau “ng” atau dan huruf“c”, dipakai huruf tertentu dengan menambahkan titik tiga: Ng denganghoin(ݞ) titik tiga dan c dengan jim( چ) titik tiga.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Ngatiman Ngatiman; Rustam Ibrahim
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 18 No 2 (2018): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v18i2.949

Abstract

Pendidikan Karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadianseseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalamtindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggungjawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Tujuanutama dalam mempromosikan manusia yang tangguh, baik secaraindividu atau dalam kelompok. Dalam Islam, karakter lebih dikenalsebagai akhlaq Nabi ketika ia dikirim sebagai delegasi Allah di bumi.Berdasarkan semangat pendidikan karakter saat ini, tulisan ini adalahuntuk mengulas tentang bagaimana pendidikan karakter yang sebenarnyadalam Islam. Sebagai soal fakta, pendidikan karakter dalam Islamterbentuk dalam hal akhlakul karimah. Berdasarkan aspek metodologis,metode pembiasaan dan keteladanan adalah cara terbaik untukpendidikan karakter, yang membiasakan hal yang baik sampai dianggapsebagai budaya dengan pikiran, perasaan dan tindakan. Dan Contoh halhalbaik untuk siswa sehingga mentransfer nilai ke dalam jiwa mereka,maka itu akan menghasilkan pengetahuan, serta terwujud dalam tindakan.
Eksistensi Pesantren Salaf di Tengah Arus Pendidikan Modern Rustam Ibrahim
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 21, No 2 (2014): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1614.522 KB) | DOI: 10.18784/analisa.v21i02.19

Abstract

AbstractThis research seeks to reveal the existence of traditional Muslim education institutions, the pesantren salaf. Pesantren salaf becomes a reference to the public. Thousands of the people follow the activities held by the pesantren salaf which is still exist though modern ones providing modern and advances technologies are growing rapidly. The focus of this research is on how the role of Kiai, various values, curriculum, and the devotion of pesantren salaf towards education..The method applied in this study is a qualitative research using a multi- site study design. The findings revealed that the three observed pesantrens are maintaining the existence of pesantren through four ways. They are (1) the role of Kiai; (2) the variety of values in boarding schools , such as religious values, the value of the Salaf, the values of obeying Kiai, the values of learning; and (3) curriculum / Kitab Kuning, like Alfiyah , imrithi , and Fath al-Muin; (4) community services, such as the role of alumni in the community, recitation activities, istighotsah, construction of mosques building mosque and the other public facilities.Keywords: existence , salaf islamic boarding school, modern education AbstrakPenelitian ini berupaya mengungkapkan keberadaan dunia pendidikan tradisional umat Islam, yaitu pesantren salaf. Pesantren salaf masih menjadi rujukan masyarakat, ribuan masyarakat banyak yang mengikuti kegiatan yang diadakan pesantren salaf, seperti pengajian dan istighosah. Di abad modern ini, pondok pesantren salaf masiheksis. Padahal dunia pendidikan modern semakin berkembang yang dibarengi dengan berbagai macam teknologi modern dan canggih. Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana peran kiai, ragam nilai, kurikulum, dan pengabdian pesantren salaf di tengah-tengah arus pendidikan modern. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan rancangan studi multi situs. Berdasarkan penelitian ditemukan bukti bahwa ketiga pesantren yang diteliti masih eksis. Eksistensi masing-masing pesantren memiliki andil yang cukup besar dalam mempertahankan eksistensi pesantren di tengah-tengah peradaban global. Ketahananpesantren salaf meliputi: (1). Peran kiai (2). Ragam nilai di pesantren, seperti nilai agama, nilai salaf, nilai patuh pada kiai, nilai belajar (3). Kurikulum/ kitab kuning, seperti kitab alfiyah, imrithi, dan fathul muin. (4). Pengabdian masyarakat, seperti peran alumni di masyarakat, kegiatan-kegiatan pengajian, istighotsah bersama masyarakat, bantuan pesantren untuk masyarakat dalam pembangunan masjid dan berbagai fasilitas umum.Kata kunci: eksistensi, pesantren salaf, pendidikan modern