Claim Missing Document
Check
Articles

Building Harmony Through Pela Bola: Cultural Capital for Religious Conflict Reconciliation in Maluku Afdhal; Titing, Bernadus Williem
Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development Vol 6 No 2 (2024): Juli-Desember 2024
Publisher : Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52483/q3mvhs31

Abstract

This study examines the role of Pela Bola as cultural capital in efforts to reconcile religious conflicts in Maluku. The main issue discussed is the social conflict that has plagued Maluku and how Pela Bola can be a medium for creating social harmony. Pela is a traditional conflict reconciliation practice in Maluku, and Pela Bola is interpreted as the use of football as a medium for conflict reconciliation and efforts to create sustainable peace. The research method used is qualitative, with data collection techniques through in-depth interviews, observations, and literature studies. The research findings indicate that local identity can be an important capital in building harmony within the community. In Maluku, Pela Bola, as a culture and local identity, serves as both a medium and cultural capital in religious conflict reconciliation. Pela Bola becomes a strong cultural capital to integrate the community and maintain solidarity in interfaith relations. Football is used as an integration arena that creates a cultural identity based on local wisdom, strengthening kinship relations between the Muslim and Christian communities in Maluku. Based on these findings, it is recommended that the government and community organizations should further support and promote Pela Bola as a primary strategy in religious conflict reconciliation. Additionally, this research contributes to providing insights into the effectiveness of local cultural capital in creating peace and social harmony in post-conflict communities.
Sosialisasi Pendidikan Keluarga Berbasis Kebudayaan sebagai Penguatan Identitas Lokal di Maluku Manuputty, Feky; Litaay, Simona Christina Hendrika; Afdhal, Afdhal; Makaruku, Nathalia Debby
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 8 (2024): Oktober
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i8.1458

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menyosialisasikan pendidikan keluarga berbasis kebudayaan sebagai upaya penguatan identitas lokal di Maluku, khususnya di Negeri Hukurila. Pendidikan keluarga berbasis kebudayaan menjadi penting dalam menghadapi tantangan modernisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai lokal. Melalui pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai budaya lokal seperti pela, gandong, sasi, dan masohi, yang selama ini menjadi landasan kehidupan sosial masyarakat Maluku. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, serta pelatihan langsung kepada keluarga-keluarga di Negeri Hukurila. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi selama kegiatan berlangsung untuk memahami penerimaan masyarakat terhadap program ini. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sosialisasi pendidikan berbasis kebudayaan ini berhasil meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya menjaga dan meneruskan identitas lokal kepada generasi muda. Selain itu, program ini juga memperkuat ikatan sosial antarwarga dan membangkitkan rasa bangga terhadap warisan budaya mereka. Kesimpulannya, pendidikan keluarga berbasis kebudayaan berperan signifikan dalam penguatan identitas lokal dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut di wilayah Maluku.
Women's Political Communication in Maluku: Opportunities, Challenges, and Socio-Cultural Dynamics Afdhal Afdhal
Konsensus : Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum dan Ilmu Komunikasi Vol. 1 No. 5 (2024): Oktober : KONSENSUS : Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum dan Ilmu Komunikasi
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/konsensus.v1i5.395

Abstract

This study examines women's political communication in Maluku, focusing on the opportunities, challenges, and socio-cultural dynamics they face. In a region strongly influenced by patriarchal culture, women's roles in politics are often constrained by traditional social views and resistance to their involvement in a male-dominated political arena. The complexity of this issue is heightened by the perception that politics is a harsh and competitive domain. The aim of this research is to understand the communication strategies used by female politicians in Maluku and to identify the factors that influence their success or failure in the political field. This study employs a qualitative method, gathering data through in-depth interviews with female politicians, activists, and political observers in Maluku. The findings reveal that despite significant challenges, female politicians are able to leverage local values such as community solidarity and the adat-based social system to strengthen their political positions. Additionally, social networks and support from women's groups and political organizations play crucial roles in their political communication strategies. Women's roles in Maluku politics are not limited to verbal and non-verbal communication but also include their ability to integrate local values and utilize their central societal roles to promote political agendas. These findings provide a significant contribution to the study of women's political communication, particularly in contexts that have been underexplored in both national and international literature. The research concludes that women's political communication in Maluku is a complex adaptation to the local socio-cultural context.
Pelestarian Lingkungan Melalui Edukasi Dan Pemberdayaan Masyarakat Terdampak Pembangunan Jalan Di Buru Selatan Rumihin, Ony Frengky; Afdhal
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v4i1.1574

Abstract

Pembangunan infrastruktur, seperti ruas jalan Namrole-Leksula di Kabupaten Buru Selatan tahun 2024, memberikan dampak positif bagi aksesibilitas dan pertumbuhan ekonomi, namun juga berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melestarikan lingkungan melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang terdampak pembangunan jalan. Mitra pengabdian terdiri dari masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan kelompok peduli lingkungan di wilayah tersebut. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi tentang pentingnya pelestarian lingkungan, pelatihan pengelolaan sampah dan penghijauan, serta pendampingan dalam implementasi program berbasis masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terciptanya kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah rumah tangga, dan pelibatan aktif masyarakat dalam penghijauan di sepanjang wilayah pembangunan jalan. Program ini berhasil membangun sinergi antara masyarakat dan pemerintah untuk meminimalkan dampak lingkungan akibat pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, edukasi dan pemberdayaan berbasis komunitas terbukti efektif dalam mendukung keberlanjutan lingkungan di tengah proses pembangunan.
PENDIDIKAN KELUARGA BERBASIS BUDAYA LOKAL: STUDI SOSIOLOGI PADA MASYARAKAT NEGERI HUKURILA, KECAMATAN LEITIMUR SELATAN Feky Manuputty; Simona Christina Hendrika Litaay; Afdhal Afdhal; Nathalia Debby Makaruku
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jmbkan.v10i3.16452

Abstract

This study aims to explore the role of local culture in family education within the community of Negeri Hukurila, Leitimur Selatan District. The research employs a qualitative approach using observation and in-depth interviews to reveal how local cultural values such as pela, gandong, masohi, sasi, and adherence to customary laws form the foundation of family education. The findings show that family education not only emphasizes knowledge but also integrates the social and cultural norms of Maluku. These values contribute to the creation of harmonious families that are economically, socially, and culturally prosperous. This educational process is embodied through the bina keluarga program, an initiative of the Protestant Church of Maluku (GPM), which in Hukurila is carried out routinely every day. The novelty of this study lies in the discovery that the Bina Keluarga Program, although initiated by the church, has been adopted and consistently implemented in daily life, reinforcing the role of families in education based on local culture.
Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Pembuatan Keset Dari Limbah Kain Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Kreatif Berbasis Lingkungan Di Desa Nania, Maluku Manuputty, Feky; Afdhal, Afdhal; Litaay, Simona Christina Henderika; Makaruku, Nathalia Debby
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 4 No. 5 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v4i5.1675

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Nania, Maluku, dengan fokus pada pemberdayaan perempuan melalui pelatihan pembuatan keset dari limbah kain sebagai upaya peningkatan ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari potensi sosial perempuan desa yang tinggi namun belum terakses secara optimal dalam sektor ekonomi, serta keberadaan limbah kain rumah tangga dan penjahit lokal yang belum dimanfaatkan. Tujuan utama pengabdian ini adalah meningkatkan keterampilan perempuan dalam mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai jual, menumbuhkan jiwa kewirausahaan berbasis komunitas, dan mendorong kesadaran terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. Mitra pengabdian adalah kelompok perempuan di Desa Nania. Kegiatan dilaksanakan melalui metode partisipatif, meliputi sosialisasi dan pemetaan potensi lokal, pelatihan teknis pembuatan keset, serta evaluasi dan pembentukan kelompok usaha bersama. Hasil yang dicapai meliputi peningkatan keterampilan aplikatif peserta, terbentuknya kelompok usaha kreatif, serta tumbuhnya kesadaran lingkungan. Program ini menunjukkan bahwa integrasi antara pemberdayaan gender, pengelolaan lingkungan, dan ekonomi kreatif dapat menjadi strategi efektif dalam pembangunan desa berkelanjutan
Pemberdayaan Perempuan Lansia Melalui Kajian Online: Strategi Inklusif Mengatasi Permasalahan Psikososial Dan Kognitif Pada Usia Tua Afdhal
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 4 No. 5 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v4i5.1696

Abstract

Perempuan lanjut usia (lansia) merupakan kelompok rentan yang kerap menghadapi permasalahan psikososial dan kognitif akibat isolasi sosial, kesepian, serta menurunnya peran dalam masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan lansia melalui kajian online sebagai strategi inklusif dalam mengatasi permasalahan tersebut. Mitra kegiatan adalah kelompok perempuan lansia yang berada di Desa Nania, khususnya RW 03 yang dikenal dengan sebutan Nania Kampung Baru. Kegiatan dilakukan melalui tahapan pelatihan penggunaan perangkat digital, pendampingan teknis, serta pelaksanaan kajian rutin secara daring dengan topik spiritual, sosial, dan pengembangan diri. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatoris dengan observasi, wawancara, dan refleksi bersama sebagai alat evaluasi. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan partisipasi sosial, kemampuan dasar literasi digital, serta perubahan positif dalam aspek psikologis seperti meningkatnya rasa percaya diri, motivasi, dan semangat hidup. Selain itu, lansia mulai menunjukkan inisiatif dalam mengorganisasi kegiatan sederhana secara mandiri. Simpulan dari kegiatan ini adalah bahwa kajian online bukan hanya memperluas akses perempuan lansia terhadap ruang belajar dan interaksi, tetapi juga menjadi media efektif dalam merawat kesehatan mental dan daya kognitif mereka di usia tua secara inklusif dan berkelanjutan
Membangun Kota Humanis: Perbandingan Taman Ramah Anak di Jakarta dan Taman Edukatif Bersejarah di Ambon Siregar, Yuanita Aprilandini; Afdhal, Afdhal
JURNAL PARADIGMA : Journal of Sociology Research and Education Vol. 6 No. 1 (2025): (JUNI 2025) JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education
Publisher : Labor Program Studi Pendidikan Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/jpjsre.v6i1.11187

Abstract

Studi ini membandingkan dua model taman kota, yaitu Taman Ramah Anak di Jakarta dan Taman Edukatif Bersejarah di Ambon, dalam kerangka pembangunan kota humanis. Kota humanis adalah konsep perkotaan yang mengutamakan kesejahteraan sosial, keamanan, dan kenyamanan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan komunitas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana kedua taman mengakomodasi kebutuhan pengunjung melalui analisis aspek desain, fungsi, dan nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi langsung, wawancara semi-terstruktur dengan pengunjung serta pengelola taman, dan analisis dokumen kebijakan pengelolaan ruang publik. Taman Lapangan Banteng di Jakarta dikaji sebagai contoh taman ramah anak hasil revitalisasi yang menyediakan fasilitas bermain aman, edukatif, dan menarik. Sementara itu, Taman Museum Gong Perdamaian Dunia di Ambon diteliti sebagai taman edukatif bersejarah yang berfungsi sebagai ruang refleksi, rekreasi, dan interaksi sosial antar-generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taman di Jakarta menekankan aspek perkembangan anak dengan prioritas pada keamanan, kenyamanan, dan estetika, sedangkan taman di Ambon mengedepankan nilai historis dan sosial. Studi ini merekomendasikan integrasi konsep edukasi dan keamanan serta tata kelola berkelanjutan untuk memperkuat fungsi sosial dan budaya taman kota.
Menjadi Orang Ambon: Integrasi Sosial Migran dan Rekonstruksi Identitas Pasca Konflik Rieuwpassa, Sarmalina; Lalihun, Ishaka; Afdhal, Afdhal
JURNAL PARADIGMA : Journal of Sociology Research and Education Vol. 6 No. 1 (2025): (JUNI 2025) JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education
Publisher : Labor Program Studi Pendidikan Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/jpjsre.v6i1.11616

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji proses integrasi sosial dan rekonstruksi identitas para migran di Kota Ambon pasca konflik sosial yang melanda wilayah tersebut pada awal 2000-an. Kajian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di kawasan Waringin Cap, Ambon. Hasil kajian menunjukkan bahwa migran lama yang telah bermukim sebelum konflik memiliki sikap akomodatif dan berhasil merekonstruksi identitas diri sebagai bagian dari “orang Ambon,” dengan menanamkan nilai hidup orang basudara sebagai simpul identitas kolektif yang khas. Pasca konflik, integrasi sosial terjadi secara bertahap dengan terbentuknya relasi sosial yang ditandai oleh sikap saling menghargai, kerja sama, dan solidaritas antar sesama migran, baik lama maupun baru. Namun demikian, migran yang datang setelah konflik cenderung memperlihatkan sikap individualistik, emotif, dan reaktif terhadap perbedaan, sehingga menimbulkan potensi keretakan sosial yang meski kecil, tetap berisiko bagi kohesi masyarakat. Peran tokoh agama dan masyarakat terbukti vital dalam menjaga harmoni dan menyelesaikan potensi konflik. Kebaruan dari kajian ini terletak pada penemuan mengenai dinamika konstruksi identitas kultural pasca konflik oleh komunitas migran serta pentingnya integrasi sosial berbasis nilai lokal dalam membangun masyarakat multikultural yang damai. Kajian ini merekomendasikan pentingnya penguatan nilai-nilai lokal seperti hidup orang basudara sebagai fondasi dalam pengembangan teori dan praktik integrasi sosial dalam kajian sosiologi.
Pendidikan Berbasis Budaya Lokal dalam Hidden Curriculum: Strategi Membangun Toleransi dan Perdamaian di Sekolah Menengah Maluku Litaay, Simona Christina Henderika; Manuputty, Feky M. L.; Afdhal, Afdhal; Makaruku, Nathalia Debby
Society Vol 13 No 1 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i1.777

Abstract

This study examines how local cultural values are integrated into the hidden curriculum to promote tolerance and peace in secondary schools in Maluku. It investigates the influence of traditions such as Pela, Gandong, Famili, Badati, Masohi, and Ma’anu, which are not formally included in the curriculum but play a crucial role in shaping students’ social behavior and fostering inclusive learning environments. Using a qualitative case study approach, the research provides a contextualized analysis of how these cultural values function within school settings. Data were gathered through observations and in-depth interviews with teachers and students. The findings highlight the significant role of local cultural values in fostering tolerance and peace. Pela and Gandong reinforce interfaith solidarity through collaborative student activities, while the concept of Famili cultivates a sense of belonging and mutual respect. Badati and Masohi promote cooperation through project-based learning, and Ma’anu encourages an appreciation for diversity. These findings suggest that a hidden curriculum rooted in local culture can strengthen social harmony in pluralistic school environments. Beyond Maluku, this study offers insights into how culturally embedded hidden curricula can inform inclusive educational policies and curriculum design, providing a framework for other diverse and conflict-prone regions. The research underscores the importance of integrating local cultural wisdom into education as a pathway to sustainable peacebuilding.