Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Literatur Review: Pengembangan Kapasitas Perempuan Pesisir dalam Diversifikasi Ekonomi Lokal Kurniawan, Ronal; Wahyuni, Sri
South East Asian Management Concern Vol. 2 No. 2 (2025): May
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.2.2.64-70

Abstract

Wilayah pesisir memiliki potensi sumber daya alam yang besar namun sering menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang kompleks, termasuk kemiskinan dan keterbatasan akses layanan dasar. Dalam konteks ini, perempuan pesisir memainkan peran penting dalam mendukung ekonomi rumah tangga dan pengelolaan sumber daya lokal. Artikel ini merupakan kajian literatur yang bertujuan untuk menganalisis pengembangan kapasitas perempuan pesisir dalam mendukung diversifikasi ekonomi lokal. Studi ini mengkaji literatur yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025, mencakup pendekatan teoritis, metodologis, serta implikasi kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas, pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, dan integrasi gender dalam kebijakan publik berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kapasitas perempuan pesisir. Namun demikian, tantangan struktural seperti akses terbatas terhadap sumber daya, pendidikan rendah, dan norma gender tradisional masih menjadi hambatan utama. Kajian ini juga menemukan kesenjangan geografis dan tematik dalam penelitian yang ada, serta minimnya studi jangka panjang yang mengevaluasi dampak program secara berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan lintas disiplin dan kolaboratif dalam merancang strategi pemberdayaan perempuan pesisir yang inklusif dan kontekstual, guna mewujudkan pembangunan ekonomi lokal yang adil dan berkelanjutan
Strategi Pengelolaan Berkelanjutan Laut dan Pulau-Pulau Kecil: Tinjauan terhadap Pendekatan Ekologis, Sosial, dan Kebijakan Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri; Kurniawan, Ronal
South East Asian Management Concern Vol. 2 No. 2 (2025): May
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.2.2.71-78

Abstract

Laut dan pulau-pulau kecil memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi yang sangat penting, terutama bagi masyarakat pesisir di negara kepulauan seperti Indonesia. Namun, kawasan ini menghadapi berbagai tantangan serius seperti degradasi ekosistem, eksploitasi berlebihan, konflik ruang, dan dampak perubahan iklim. Artikel ini merupakan kajian literatur yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pendekatan pengelolaan yang efektif dalam mewujudkan keberlanjutan wilayah laut dan pulau kecil. Beberapa pendekatan yang dikaji meliputi pengelolaan berbasis masyarakat (CBM), perencanaan ruang laut atau marine spatial planning (MSP), serta kawasan konservasi laut berbasis teknologi. Selain itu, tinjauan terhadap kebijakan nasional dan peran kelembagaan menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor, partisipasi lokal, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Konsep ekonomi biru juga dibahas sebagai strategi alternatif untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan melalui ekowisata bahari, budidaya laut berkelanjutan, dan inovasi produk kelautan lokal. Kajian ini merekomendasikan sinergi antara pendekatan ekologis, sosial, dan kelembagaan sebagai dasar bagi tata kelola laut dan pulau kecil yang berkelanjutan dan inklusif
Bioactive Potential of Marine Biota (Algae, Sponges, and Marine Bacteria) as a Source of Antimicrobial Compounds Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri; Kurniawan, Ronal
South East Asian Marine Sciences Journal Vol. 3 No. 1 (2025): September
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamas.3.1.19-26

Abstract

Antimicrobial resistance has become one of the most serious global health threats, prompting the search for new natural sources of antibiotics. Marine biota, such as algae, sponges, and bacteria, are known to produce a variety of secondary metabolites with potential biological activity, particularly as antimicrobial compounds. This review article examines the bioactive potential of these marine biota as an alternative source of natural antibacterial compounds. The study was conducted by reviewing various international and national literature related to the bioactive metabolites produced, their mechanisms of action against pathogenic bacteria, and the potential for their use in developing new antibacterial agents. The results of the review indicate that sulfated polysaccharides, terpenoids, alkaloids, and phenolic compounds from algae; alkaloids, cyclic peptides, and terpenoids from sponges; and secondary metabolites of marine symbiont bacteria have significant antibacterial activity, including against antibiotic-resistant bacteria. However, the development of marine bioactive compounds still faces various obstacles, particularly related to isolation techniques, mass production, and environmental sustainability issues. Therefore, modern biotechnological approaches, such as genomics, metabolomics, and synthetic biology, are needed to optimize the utilization of these marine resources. This article confirms that marine biota are important candidates for the development of new, sustainable antibacterial agents and have the potential to support the strengthening of the blue economy concept.
Morphometric Analysis of Ponyfish (Leiognathus daura) Landed at the PPI Cituis, Tangerang, Banten Mursawal, Asri; Ruzanna, Arina; Wahyuni, Sri
South East Asian Marine Sciences Journal Vol. 3 No. 1 (2025): September
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamas.3.1.27-32

Abstract

Leiognathus daura is a small pelagic fish that plays an important role in coastal ecosystems and has economic value for local communities. This study aimed to analyze the length–weight relationship, condition factors, and morphological characteristics of L. daura as a basis for fisheries biology information. A total of 30 specimens were examined morphometrically and meristically. The length–weight regression produced the equation y = 0.9073x + 0.2776 with a coefficient of determination (R²) of 0.2595. The value of b = 0.9073 (< 3) indicates a negative allometric growth pattern, meaning that length increases faster than body weight. Condition factors showed a Fulton's K value of 3.8036 and a relative condition factor (Wr) of 101.0081, suggesting that the fish population is healthy and supported by a favorable aquatic environment. Morphologically, L. daura has a laterally compressed body, small terminal mouth, large eyes, silvery scales, and a forked caudal fin, all of which support schooling behavior and adaptation to shallow coastal waters. The low R² value implies that body weight is influenced by length and environmental conditions, food availability, reproductive status, and fishing pressure. These findings highlight the importance of understanding the biological aspects of L. daura as a foundation for sustainable fisheries management in coastal ecosystems
Species Inventory of Epilithic Macroalgae in Padang Unoi Coastal Waters, Simeulue Island Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri; Usiani, Lulu; Kurniawan, Ronal
Jurnal Natur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2025): October
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jnat.23.2.108-115

Abstract

Epiphytic macroalgae are phototrophic organisms that attach to rigid substrates in the intertidal zone and serve as key components of coastal ecosystem structure due to their roles in providing habitat, stabilizing substrates, and supporting nutrient cycling. This study aimed to inventory the types of epiphytic macroalgae present in the rocky intertidal zone of Padang Unoi Village, Salang District, Simeulue Regency. Observations were conducted in July 2025 along a 150-m transect, dividing the area into two tidal zones: the lower littoral and the mid-littoral. The inventory revealed seven species of epiphytic macroalgae, namely Turbinaria sp, Sargassum sp, Padina sp, Chaetomorpha aerea, Caulerpa taxifolia, C. racemosa, and Amphiroa subcylindrica. Species from the Phaeophyta division dominated the mid-littoral zone, while Chlorophyta were more abundant in the lower littoral zone, and Rhodophyta were observed on coarse-textured rocky substrates. These three major divisions indicate habitat heterogeneity that supports the growth of various types of epiphytic macroalgae. The results of this study highlight the importance of the rocky intertidal zone of Simeulue as a productive habitat and provide a basis for sustainable coastal resource management
Immunostimulant effect of Chaetomorpha sp in Tilapia infected with Aeromonas hydrophila Kurniawan, Ronal; Putri, Mega N.; Riswan, M.; Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri
Aceh Journal of Animal Science Vol 10, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/ajas.10.2.45364

Abstract

Chaetomorpha sp is a type of green marcoalgae that is rich in bioactive compound that function as antibacterial, anti-inflammatory and can increase fish immunity. This study aims to determine the immunostimulating effect of Chaetomorpha sp macroalgae extract on the leukocyte profile of Tilapia infected with A. hydrophila. The experimental method used a completely randomized design (CRD) with four extract dose treatments (0, 25, 50, 75 mL/kg feed) and three replicates. The test fish used were 2.63 0.26g, reared in black tanks with a size of 60x30x30 cm, a volume of 80 L with a stocking density of 1 fish/4 L, and a recirculation system. Maintenance was carried out for 60 days with a frequency of feeding three times a day, namely 08.00 AM, 01.00 PM, and 05.00 PM, as much as 5% of body weight. The parameters observed were total leukocytes, leukocyte differentiation, and phagocytosis index. The results showed that the administration of Chaetomorpha sp extract significantly increased total leukocytes, lymphocyte differentiation, and phagocytosis index (p0.05). The dose of 50 mL/kg feed is the optimal dose that affects the leukocyte profile of Tilapia. T0 (without extract) experienced 100% mortality, while the treatment group showed increased resistance to infection. Bioactive compounds such as sulfated polysaccharides and flavonoids in Chaetomorpha sp are thought to play a role in stimulating the innate immune system. This study highlights the potential of Chaetomorpha sp as an alternative to antibiotics in sustainable tilapia aquaculture.
Analisis Tutupan Lamun di Perairan Pulau Weh, Pesisir Pelabuhan Balohan Sabang Mursawal, Asri; Wahyuni, Sri; Mardhatila, Anisa; Samudra, Arung
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v7i2.13874

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persentase tutupan lamun di perairan Pulau Weh, khususnya di pesisir Pelabuhan Balohan, Sabang. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode transek kuadran pada dua titik pengamatan. Transek kuadran ukuran 50x50 cm diletakkan dengan jarak 5 m pada garis pengamatan sepanjang 30 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya satu jenis lamun ditemukan di lokasi penelitian, yaitu Halodule uninervis, yang dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan berpasir dan arus tenang. Nilai kerapatan lamun berkisar antara 145–484 individu per kuadran, dengan persentase tutupan masing-masing 31% pada titik 1 dan 69% pada titik 2. Faktor lingkungan seperti kecerahan dan pH menjadi penentu utama perbedaan tutupan, di mana kecerahan lebih tinggi (1,6 m) dan pH basa (9,3) pada titik 2 mendukung pertumbuhan vegetatif lamun yang optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas perairan, khususnya tingkat kecerahan dan pH, memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas H. uninervis di habitat pesisir tropis. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam upaya pengelolaan dan konservasi ekosistem lamun di wilayah Sabang secara berkelanjutan.
Strategi Manajemen Konservasi Kawasan Aroen Meubanja sebagai Habitat Peneluran Penyu di Kabupaten Aceh Jaya Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri; Sarong, M. Ali; Kurniawan, Ronal; Rizal, M
South East Asian Management Concern Vol. 3 No. 1 (2025): November
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.3.1.6-17

Abstract

Kawasan Aroen Meubanja di Kabupaten Aceh Jaya merupakan habitat peneluran penting bagi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Karakteristik biofisik kawasan, terutama dominasi pasir sangat halus, kelandaian pantai yang landai, serta keberadaan vegetasi pantai seperti ketapang, pandan, dan cemara laut, mendukung stabilitas suhu dan kelembaban mikrohabitat yang diperlukan untuk perkembangan embrio. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi ekologis, faktor ancaman, dan kapasitas kelembagaan sebagai dasar penyusunan strategi manajemen konservasi. Metode yang digunakan meliputi observasi langsung dan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan data ekologis dan sosial yang telah terdokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik–kimia kawasan termasuk suhu substrat, pH, salinitas, dan struktur sedimen sangat sesuai bagi aktivitas peneluran. Namun, keberhasilan reproduksi penyu masih dipengaruhi oleh berbagai ancaman, seperti predasi oleh biawak dan anjing liar, pengambilan telur oleh masyarakat, gangguan ternak, serta aktivitas wisata yang belum terkelola. Meskipun kawasan telah memiliki SK resmi kelembagaan pengelola dari Pemerintah Aceh, kapasitas operasional, sarana konservasi, dan sistem monitoring jangka panjang masih perlu diperkuat. Berdasarkan analisis SWOT, strategi yang direkomendasikan mencakup penguatan kelembagaan, patroli malam dan perlindungan habitat, mitigasi ancaman predator dan aktivitas manusia, peningkatan edukasi masyarakat, pengembangan ekowisata berbasis konservasi, serta penguatan riset dan monitoring. Dengan implementasi strategi terpadu, Aroen Meubanja berpotensi menjadi model konservasi penyu berkelanjutan di Aceh
Blue Economy sebagai Kerangka Transformasi Akuakultur Berkelanjutan di Indonesia Kurniawan, Ronal; Wahyuni, Sri; Syuhada, Nur Ikhlas; Karsih, Okta Rizal; Riswan, M
South East Asian Management Concern Vol. 3 No. 1 (2025): November
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.3.1.18-25

Abstract

Pertumbuhan sektor akuakultur yang pesat telah menjadi respons terhadap meningkatnya permintaan protein hewani global, namun ekspansi yang tidak terkendali menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Konsep Blue Economy menawarkan kerangka pembangunan alternatif yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian ekosistem kelautan. Review artikel ini bertujuan mensintesis literatur terkini mengenai penerapan pendekatan Blue Economy dalam manajemen budidaya ikan berkelanjutan. Kajian ini mengeksplorasi berbagai sistem produksi berkelanjutan seperti Integrated Multitrophic Aquaculture (IMTA), Recirculating Aquaculture Systems (RAS), dan aquaponik yang terbukti mampu mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendiversifikasi produk. Implementasi Blue Economy juga mencakup dimensi sosial-ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan kapasitas, peningkatan akses pasar dan pembiayaan, serta penciptaan lapangan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu mengurangi beban nitrogen hingga 40-50% dan fosfor hingga 30-40% melalui sistem IMTA, serta menghemat konsumsi air hingga 99% melalui RAS. Meskipun menjanjikan, implementasi masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan investasi, kompleksitas regulasi, dan kurangnya kapasitas pembudidaya. Kajian ini memberikan kontribusi konseptual dalam memperkuat integrasi Blue Economy pada praktik budidaya ikan di Indonesia melalui tata kelola berbasis teknologi dan inklusivitas sosial
Bersih Pantai Lhok Raja: Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat untuk Mewujudkan Ekowisata Pesisir Berkelanjutan Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri; Nufus, Hayatun; Kusumawati, Ika; Suriani, Mai; Samudra, Arung; Saputra, Riki; Ramadhan, Azhari; Kurniawan, Hendri; Kurniawan, Ronal
Journal of Rural and Urban Community Empowerment Vol. 7 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jruce.7.1.71-76

Abstract

Permasalahan sampah, khususnya sampah plastik dari makanan dan minuman kemasan, menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut sekaligus mengurangi daya tarik destinasi wisata. Pantai Lhok Raja, Nagan Raya, merupakan salah satu kawasan wisata yang berpotensi dikembangkan menjadi ekowisata, namun menghadapi persoalan kebersihan akibat rendahnya kesadaran pengunjung dan terbatasnya sarana pengelolaan sampah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan mendukung ekowisata berkelanjutan melalui Program Bersih Pantai. Kegiatan dilaksanakan pada September 2025 dengan melibatkan mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar dan masyarakat setempat. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi tentang bahaya sampah, aksi bersih pantai, pemasangan spanduk larangan membuang sampah, serta penyediaan tong sampah di lokasi strategis. Hasil kegiatan menunjukkan berkurangnya volume sampah di kawasan pantai, meningkatnya pemahaman masyarakat tentang dampak sampah plastik, tersedianya sarana pendukung kebersihan, serta tumbuhnya kolaborasi multipihak dalam menjaga lingkungan pesisir. Program ini memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat potensi ekowisata berkelanjutan di Nagan Raya