Articles
Poor Girls are Vulnerable to be Married: A Case Study of Dayak Mali Law in West Kalimantan
Nikodemus Niko
Jurnal Perempuan Vol. 21 No. 1 (2016): Status of Girls in Child-Marriage
Publisher : Yayasan Jurnal Perempuan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34309/jp.v21i1.8
This paper investigates the child-marriage in West Kalimantan. This study took Desa Cowet who is inhabited mainly by Dayak Mali. The issue of child-marriage is perpetuated by the Law in Indonesia. The effort to eliminate child-marriage is often difficult due to the high-rate of poverty among Dayak Mali people. Within Indigenous Law, there is no specific rules that arrange child-marriage or age of minimum to marriage. What is stated is usually the approval of both parents to the couple. Child-marriage among Dayak Mali, this study confirmed, is basically mostly triggered by poverty of girls in villages. Poor girl of Dayak Mali are basically prone to child-marriage.
MERAJUT INDONESIA; NILAI KEBANGSAAN DAN PEREMPUAN PEJUANG LINGKUNGAN
Nikodemus Niko;
Rupita Rupita
Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (576.664 KB)
Ketika persoalan-persoalan lingkungan sudah berada pada tahap sangat mengkhawatirkan di negeri ini, perempuan menjadi representasi yang tidak berdaya. Dibalik itu, sama sekali tidak menghilangkan orang-orang baik yang masih peduli, merawat dan mencintai lingkungan. Perempuan menjadi kontrol yang memegang kendali atas perjuangan lingkungan, kalau bukan perempuan, siapa lagi? Kendali patriarki atas pengrusakan lingkungan kemudian meluas pada tidak terkontrolnya penggunaan kantong plastik, sampah berbahaya bagi mahkluk hidup baik di lautan maupun di daratan. Persoalan tentang sampah kantong plastik menjadi polemik yang tidak berujung-pangkal. Tulisan ini merupakan refleksi atas perjuangan seorang perempuan yang dijuluki Ncie Kresek, yang aktif menyuarakan dan mempraktikkan asas etika lingkungan dengan mengubah sampah kantong plastik menjadi kerajinan rajut yang bernilai jual. Implikasinya terhadap rasa kebangsaan adalah ketekunannya mengajar merajut hingga ke pelosok-pelosok desa dan pulau-pulau terpencil di Indonesia, terdapat misi penyelamatan lingkungan serta rasa kebangsaan yang menjadi tujuan. Merajut Indonesia adalah slogan yang mendarah daging dalam diri Ncie, beragam komunitas adat di desa, komunitas anak muda di kota turut belajar merajut darinya. Diskursus yang ingin dibangun melalui tulisan ini berupa perdebatan atas isu lingkungan, membangun entitas manusia dari perusak lingkungan menjadi pejuang lingkungan dengan pendekatan Sosiologi Lingkungan. Melalui penyelamatan lingkungan nasib perempuan bisa terselamatkan pula, pun bangsa ini dapat selamat dari bencana alam yang diakibatkan kerusakan lingkungan yang berkepanjangan.
Partisipasi masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia dalam melanjutkan pendidikan: Studi di perbatasan Aruk Kabupaten Sambas
Desca Thea Purnama;
Chainar Chainar;
Nikodemus Niko
Gulawentah:Jurnal Studi Sosial Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Madiun
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25273/gulawentah.v6i2.10459
Tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisa partisipasi masyarakat perbatasan dalam melanjutkan pendidikan pada jenjang atau satuan pendidikan menengah. Keadaan pendidikan yang cukup memprihatinkan juga di alami wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat tepatnya di Kecamatan Aruk Kabupaten Sambas. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun penelitian ini dilakukan dimulai sejak Oktober 2020. Kemudian, penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Februari tahun 2021. Data penelitian bersumber dari data primer dan data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis data kualitatif, dimana melalui proses pengumpulan data, intepretasi dan penulisan laporan penelitian. Kemudian teknik keaabsahan data adalah triangulasi sumber. Pengumpulan data primer dengan wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder didapatkan melalui penelusuran daring, instansi kecamatan dan desa. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipasi pendidikan di wilayah perbatasan mengalami perbaikan ke arah yang lebih maju, dimana sebagian masyarakat sudah memiliki pola pikir yang semakin maju dengan melihat pendidikan bukan hanya sekedar keharusan yang dicanangkan oleh negara, akan tetapi masyarakat mulai berpikir bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan nasib. Dengan berpendidikan artinya mereka memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan kehidupan.
Konflik Horisontal Gafatar di Kalimantan Barat: Perspektif Johan Galtung
Nikodemus Niko
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 5 No 1 (2017): Hukum Islam dan Resolusi Konflik
Publisher : Postgraduate State Islamic Institute (IAIN) Metro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The Presence of Gafatar in West Kalimantan through the transmigration which bring the story of that ended in expulsion of Gafatar. This paper tries to connect the concept of culture violence by Johan Galtung with the stereotyping to the Gafatar. The stereotyping in Gafatar is the flow of astray and dangerous of movement organization, those indicated as trigger of conflict between Gafatar and the local people. This paper uses descriptive approach. This research result indicates that there is a horizontal conflict between civil society, lead to cultural violence. There should have been mapping on the cause and trigger, why conflict happened.
Persoalan Kerawanan Pangan pada Masyarakat Miskin di Wilayah Perbatasan Entikong (Indonesia-Malaysia) Kalimantan Barat
Nikodemus Niko;
Atem Atem
Jurnal Surya Masyarakat Vol 2, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (291.066 KB)
|
DOI: 10.26714/jsm.2.2.2020.94-104
The issue of food security has long since developed, both among the international community and national communities in Indonesia. In some processes and forms of national food security, the Government encourages the development of local food-based communities. In the community in Entikong, the implementation of this program is still not seen as an exact condition in thehandling of food issues at the borders of the country. Border society is still food dependence on Malaysia. The idea of making Indonesian society self-sufficiency in food has long been a crucial sector of individual attention to the Government. Many empowerment programs are found in the community that is the meeting point for overcoming food insecurity, so it is a new way forthe border community out of the inferior zone. The method used is a descriptive exploratory where the source of the data comes from the primary data referring directly to the situation of the border society of Entikong, while the secondary data of the desk review results related to the potential and state of the food community In the Entikong border area. The findings in this paper are that Entikong has economic potential, strategic location, and formal access support that has been qualified to advance. However, this situation is uneven; there are still areas of isolated villages and limited access. Then, the construction of international Terminal Goods (TBI) on the border became a breath of fresh air for the Entikong to multiply and make Entikong as the center of activity and economic development, including the food Center for the region Indonesia and as part of Malaysia.
Kemiskinan Perempuan Dayak Benawan di Kalimantan Barat sebagai Bentuk Kolonialisme Baru
Nikodemus Niko
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 1 (2019): Dekolonisasi Ilmu Sosial Humaniora Dari Pengetahuan Lokal ke Pemberdayaan Masyar
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (832.504 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i1.47467
Penelitian ini mendeskripsikan kondisi kemiskinan perempuan di komunitas adat Dayak Benawan Kalimantan Barat. Akses pengambilan keputusan yang terbatas bagi perempuan Dayak Benawa berimbas kepada adanya struktur pembagian kerja gender yang tidak adil. Tradisi adat yang tidak adil juga ikut menyebabkan kemiskinan. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara di lapangan dan data sekunder dari berbagai sumber pustaka seperti buku, dokumen dari kantor desa dan jurnal ilmiah.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami kaum perempuan Dayak Benawan tidak hanya bersifat kultural dan struktural saja, melainkan juga bersifat multidimensi. Diberlakukannya tradisi lokal justru menjadi alat pelemahan posisi perempuan secara politis di dalam komunitas. Hal semacam itu merupakan praktik yang melangengkan patriarki di dalam komunitas masyarakat Dayak Benawan. Narasi kolonialisme baru muncul dalam konteks dimana keterlibatan perempuan ditiadakan melalui tradisi adat sehingga memperparah kondisi kemiskinan khususnya bagi perempuan di dalam komunitas Dayak Benawan.
SUPREMASI PATRIARKI: REAKSI MASYARAKAT INDONESIA DALAM MENYIKAPI NARASI SEKSUALITAS DAN PERKOSAAN KASUS REYNHARD SINAGA
Nikodemus Niko;
Alfin Dwi Rahmawan
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (618.363 KB)
|
DOI: 10.20961/jas.v9i1.39781
The main idea of this paper is to dismantle the narrative of sexuality which is often likened to sexual violence (rape) narratives in various cases. This Paper departs from a phenomenon that is being highlighted at the beginning of 2020, which is about rape involving Indonesian citizens who are in the UK. It is reported that rape made by Indonesian citizen is the biggest rape case in England. The problem is the phenomenon of rape made by the Indonesian citizen become a patriarchy supremacy with the number of comments that are in the universe of cyberspace. The method of this peper are qualitative with a library study approach. The presenting of descriptive data analysis derived from the secondary data. The data analyzed are from secondary data derived from media coverage, scientific journals and books related to this paper theme. Based on the analysis, Indonesian society is largely still assuming that rape crimes are related to sexuality. In the case of Reynhard the more condemned was the sexuality (homosexual) than the crimes and criminal he committed. Sexuality is a private realm, which is not a defining you want to be a good person or a bad person. While rape is a criminal offence that is entirely different to sexuality, where rape is not the case for sexuality but rather a lame power relationship.Keywords: Sexual Violence; Sexuality; Patriarchy Supremacy; Rape. AbstrakIde utama dari paper ini adalah ingin membongkar narasi seksualitas yang acapkali dipersamakan dengan narasi kekerasan seksual (perkosaan) pada berbagai kasus. Paper ini berangkat dari fenomena yang sedang menjadi sorotan di awal tahun 2020, yakni tentang pemerkosaan yang melibatkan warga negara Indonesia yang berada di Inggris. Diberitakan bahwa pemerkosaan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia ini merupakan kasus pemerkosaan terbesar di Inggris. Permasalahan disini, fenomena pemerkosaan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia tersebut menjadi sebuah supremasi patriarki dengan banyaknya komentar yang berseliweran di jagat dunia maya. Metode yang dilakukan dalam peper ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Penyajian data deskriptif analisis yang berasal dari data sukender. Data yang dianalisis berasal dari data sekunder yang berasal dari pemberitaan media, jurnal ilmiah dan buku yang berkaitan dengan tema paper ini. Berdasarkan analisis, masyarakat Indonesia sebagian besar masih beranggapan bahwa kejahatan perkosaan berkaitan dengan seksualitas. Pada kasus Reynhard yang lebih banyak dikutuk adalah seksualitasnya (homoseksual) dibandingkan kejahatan dan kriminal yang dilakukannya. Seksualitas adalah ranah privat, yang bukan menjadi penentu kau mau jadi orang baik atau orang jahat. Sementara perkosaan adalah tindak pidana yang sama sekali berbeda dengan seksualitas, dimana perkosaan bukan terjadi karena seksualitas melainkan adanya relasi kuasa yang timpang.Kata kunci : Kekerasan Seksual; Seksualitas; Supremasi Patriarki, Perkosaan.
THE DISINFODEMIC MITIGATION STRATEGY OF MAFINDO IN INDONESIA
Syarifah Ema Rahmaniah;
Septiaji Eko Nugroho;
Rupita;
Nikodemus Niko
International Journal of Social Science Vol. 1 No. 6: April 2022
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53625/ijss.v1i6.1903
Social media is usually utilized for literacy and education in articulating ideas and criticism. This study focused on the utilization of social media in the community during the COVID-19 outbreak, the implications for critical political awareness, and the wise use of social media. The data used was a compilation of hoax data circulating in Indonesia from independent fact-checking sites, government-run fact-checking sites, and fact-checking channels created by the mainstream media. The results revealed that the strong political polarization among the people was the cause of the massive spread of false news and hate speech during the COVID-19 outbreak. This study also described the mitigation strategy of MAFINDO to improve information security in facing an event that leads to an information crisis during the COVID-19 pandemic. Therefore, disinfodemic mitigation strategy was constructed as part of an early warning system in increasing public immunity against disinfodemic and controlling the spread of public suggestions and dangerous reactions. This study can be used an early warning system to prevent health misinformation by revitalizing the movement of the anti hoax community in online and offline education.
The Socio-Political Approach in Viewing the Vaccination Programs in Indonesia
Desca Thea Purnama;
Asrul Nur Iman;
Alif Alfi Syahrin;
Khosiruddin Khosiruddin;
Nikodemus Niko
Kawanua International Journal of Multicultural Studies Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : State Islamic Institute of Manado (IAIN) Manado, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (751.76 KB)
|
DOI: 10.30984/kijms.v2i1.13
The current COVID-19 pandemic has led to more social segregation among the world’s people, including in Indonesia. This pandemic has created social, economic, and political inequality. The turning point for getting out of this pandemic is when the COVID-19 vaccine is discovered. This article discusses how politics plays a role in the vaccination program in Indonesia. The vaccination program has already started to be implemented in January 2021, following the issues of an emergency use approval (EUA) permit by Indonesia’s Food and Drug Supervisory Agency (Indonesia: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)) and a halal (sacred) fatwa by the Indonesian Ulema Council (Indonesian: Majelis Ulama Indonesia (MUI)). At some stages of policy implementation, the government has not even been able to provide valid data related to the vaccination program. In this article, researchers explore the problems emerging concerning the COVID-19 vaccination program. Furthermore, researchers analyze the political agenda that is possible to become a health, social, and economic policy intervention in the corridor of the perspective of sociology.
Terminal Barang Internasional (TBI) dalam Konteks Pembangunan Ekonomi Masyarakat di Perbatasan Entikong, Indonesia-Malaysia
Nikodemus Niko;
Samkamaria Samkamaria
Indonesian Journal of Religion and Society Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Religion and Society Studies (InTReSt)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36256/ijrs.v1i2.65
Entikong has the potential for economic growth, strategic location, and formal access support that is already capable and advanced. This article explores the impact of the construction of an international terminal goods (Terminal Barang Internasional) at the border of Entikong on the economic development potential of border communities. The method used is a descriptive exploratory where the data sources derived from primary data (interviews and opinion actors), while secondary data from the review desk results related to the economic development of the community in the country's border area. With the accessible of Entikong's border to Malaysia makes economic growth in the region is a good implication towards improving the welfare of local communities. Especially with the construction of international Terminal (TBI) at the border of Entikong, it is hoped that Entikong is able to grow rapidly and make this frontier region as a growth motor for the government of Sanggau Regency in particular and West Kalimantan in general.