Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pengaruh Model Pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving dengan Pendekatan Berdiferensiasi Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Pasaribu, Jaza Anil Husna; fajriana, fajriana; Elisyah, Nur; Nuraina, Nuraina; Hidayatsyah, Hidayatsyah
Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh
Publisher : LPPM UNIMAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jpmm.v5i3.22971

Abstract

Penyebab rendahnya kemampuan penalaran matematis siswa salah satunya adalah kurangnya penerapan model dan pendekatan pembelajaran yang efektif. Berdasarkan hal tersebut, maka solusi yang diberikan untuk siswa adalah menerapkan model pembelajaran thinking aloud pair problem solving melalui pendekatan berdiferensiasi. Tujuan dilangsungkannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh model pembelajaran thinking aloud pair problem solving dengan pendekatan berdiferensiasi terhadap kemampuan penalaran matematis siswa. Pendekatan pada penelitian ini berbentuk kuantitatif yang berjenis eksperimen dengan menggunakan quasi experimental design. Seluruh siswa kelas X MAN Kota Lhokseumawe menjadi populasi dalam penelitian ini, Peneliti menetapkan kelas X-3 sebagai kelompok eksperimen dan X-2 sebagai kelompok kontrol melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang dipakai adalah tes dan non-tes. Tes menggunakan 3 butir soal essay yang memuat kemampuan penalaran matematis dan tes penentuan tipe gaya belajar serta non tes yang dipakai berupa lembar observasi aktivitas guru dan siswa guna mengidentifikasi kesesuaian model pembelajaran dan pengajaran yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai asymp sig (2-tailed) adalah 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa H0 ditolak sementara H1 diterima. Bisa disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran thinking aloud pair problem solving dengan pendekatan berdiferensiasi terhadap kemampuan penalaran matematis siswa pada materi persamaan kuadrat.
Pelatihan Learning Management System (LMS) Ruangguru dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Berbasis Blended Learning Ginting, Reza Pahlevi; Hidayatsyah, Hidayatsyah; Nasution, Wahyu Isnanda; Sudirman, Sudirman; Radhiah, Radhiah
Jurnal Solusi Masyarakat (JSM) Vol. 1 No. 2 (2023): Pengembangan Kelompok
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jsm.v1i2.15283

Abstract

LMS adalah perangkat lunak yang dirancang untuk memproduksi, mendistribusikan, dan mengatur penyampaian materi pembelajaran. Melalui LMS, blended learning akan menjadi lebih efisien dengan menciptakan interaksi yang intens dan membantu guru menentukan pemahaman siswa. Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode ceramah dan dilaksanakan dalam empat tahap dalam waktu tiga hari yaitu pada tanggal 27 sampai dengan 29 Oktober 2023, bertempat di SMK Kesehatan Darussalam Lhokseumawe. Pelatihan pembuatan media pembelajaran dalam kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan fitur Ruangkelas dalam aplikasi Ruangguru. Ada beberapa tindakan yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan pelatihan, yaitu tahap pertama, peneliti melakukan pengarahan serta penggunaan fitur yang ada dalam aplikasi LMS, tahap kedua, peneliti melakukan pelatihan dalam membuat desain media pembelajaran melalui fitur Ruangkelas dalam aplikasi Ruangguru, tahap ketiga, peneliti melakukan pelatihan dalam membuat e-modul melalui fitur Ruangkelas dalam aplikasi Ruangguru, dan tahap keempat, peneliti membuat rancangan asesmen yang dapat diaplikasikan dalam LMS. Kesimpulannya, penerapan aplikasi learning management system (LMS) dapat dilakukan melalui aplikasi pendukung seperti Ruangguru dan kolaborasi dengan media lain laiknya video pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan efektif.
Validitas LKPD dan Video Pembelajaran Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar Berbasis Pendekatan PMRI dengan Konteks Kantin Sekolah Elisyah, Nur; Hidayatsyah, Hidayatsyah; Amam Taufiq Hidayat
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 5 No. 1 (2024): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v5i1.599

Abstract

Algebra is a very important material to study because algebraic concepts are widely used in subsequent material and are useful in solving mathematical problems in everyday life. The aim of this research is to determine the validity of LKPD and learning videos on algebraic arithmetic operations based on an Indonesian realistic mathematics education approach. The research method used is development research developed by Tessmer with two stages, namely the preliminary stage (analysis and design) and the formative evaluation stage (self evaluation, expert review, one to one, small group, and field test. In this research the focus is on the formative evaluation, one of which is an expert review. From the results of the validation carried out by the expert review, an average assessment percentage of 76.11% was obtained with the criteria being quite valid or usable with slight revision. The validation assessment indicators are content, construct and language
An augmented reality-based SmartCard for teaching solid geometry in senior secondary schools Hidayatsyah, Hidayatsyah; Sudirman, Sudirman; Putri, Sabila Clara; Ikhsan, Arifah Sa’diah Sakinatul
Indonesian Journal of Science and Mathematics Education Vol. 8 No. 3 (2025): Indonesian Journal of Science and Mathematics Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijsme.v8i3.28823

Abstract

Understanding three-dimensional geometry remains challenging for senior secondary students due to its abstract nature and the limitations of conventional 2D teaching media. This study aims to develop and evaluate an Augmented Reality (AR)-based SmartCard as an innovative learning tool to enhance conceptual understanding of solid geometry. Using the ADDIE research and development model, a limited trial was conducted with 34 Grade XI students from four schools in Lhokseumawe and North Aceh, Indonesia. Data were collected through a validated Likert-scale questionnaire assessing validity (appropriateness), practicality, and effectiveness, and analyzed descriptively using percentages. Results show the medium is very appropriate (90.3%), very practical (85.3%), and very effective (90.9%). Students positively responded to the interactive 3D visualizations, ease of use via personal smartphones, and improved spatial comprehension. The AR SmartCard successfully bridges the gap between abstract mathematical concepts and concrete visual experiences, supporting independent and engaging learning. The study concludes that this medium is a valid, practical, and effective tool for teaching solid geometry at the senior secondary level. This research has implications for providing low-cost alternative learning media that are able to bridge abstract mathematical concepts with concrete visual experiences, and can be widely adapted to school contexts with limited resources.
The Influence of Google Lens-Assisted Discovery Learning Model on Improving Students' Mathematical Connections Hidayatsyah Hidayatsyah; Muhammad Fikry; Said Fadlan Anshari; Sudirman Sudirman
Proceedings of Malikussaleh International Conference on Multidisciplinary Studies (MICoMS) Vol. 4 (2024): Proceedings of Malikussaleh International Conference on Multidisciplinary Studies (MI
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the effect of the Discovery Learning learning model assisted by Google Lens on improving students' mathematical connections. This study used a quasi-experimental method with a Non-equivalent Control Group Design involving high school/vocational high school students in Lhokseumawe City. The sample consisted of an experimental group using Google Lens and a control group using conventional learning. The results showed a significant increase in mathematical connection skills in the experimental group compared to the control group. Students' perceptions of the use of Google Lens were also positive, with indicators of increased learning motivation and engagement. These findings provide implications for the implementation of technology in mathematics learning.
Disposisi Matematis Mahasiswa Dalam Menghadapi Tantangan Pembelajaran Analisis Real: Studi Fenomenologi Hidayatsyah Hidayatsyah; Shofia Ummi; Ahmad Ahmad; Muhammad Denni
Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh
Publisher : LPPM UNIMAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jpmm.v6i1.26672

Abstract

Pembelajaran Analisis Real seringkali menjadi tantangan signifikan karena menuntut transisi dari berpikir komputasional menuju berpikir deduktif formal yang rigor. Kesulitan ini tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga memengaruhi aspek afektif mahasiswa, khususnya disposisi matematis yang menentukan ketahanan belajar. Namun, dinamika pembentukan disposisi tersebut dalam menghadapi tekanan epistemologi Analisis Real belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman hidup mahasiswa dalam menghadapi tantangan pembelajaran Analisis Real melalui lensa disposisi matematis. Menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif, penelitian melibatkan delapan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Malikussaleh yang menempuh mata kuliah tersebut pada Semester Ganjil 2025/2026. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan jurnal reflektif selama satu semester. Analisis data menggunakan reduksi tematik dan analisis hermeneutik. Hasil menunjukkan lima esensi pengalaman yaitu ketegangan kognitif saat transisi ke matematika abstrak, keraguan diri dalam mengonstruksi bukti formal, ketekunan sebagai respons kesulitan, ketergantungan pada scaffolding dosen, dan transformasi persepsi matematika dari prosedural menjadi filosofis. Temuan mengungkap bahwa disposisi matematis bersifat dinamis terbentuk melalui interaksi dengan tantangan epistemologis. Penelitian ini memberikan implikasi pedagogis untuk merancang intervensi yang memupuk ketahanan kognitif mahasiswa.
Smarter Green: Edukasi Pertanian Mandiri Melalui Budidaya Luffa acutangula (Gambas) Bagi Kader Lingkungan SMPN 1 Sawang Hidayatsyah Hidayatsyah; Sudirman Sudirman; Masithah Mahsa; Khairani Hanum; Cut Rozatul Haliza; Risfani Putri; Syakilla Adza Maya; Sri Anggi Rezeki; Shofia Ummi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 11 (2026): Januari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i11.3880

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan kader lingkungan SMPN 1 Sawang melalui edukasi pertanian mandiri berbasis budidaya Luffa acutangula (gambas) sebagai bagian dari gerakan Smarter Green. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang mencakup sosialisasi, pelatihan teknis, dan praktik langsung pembibitan hingga perawatan awal tanaman. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta tentang ekosistem pertanian perkotaan, motivasi menjaga keberlanjutan lingkungan, serta keterampilan teknis dalam budidaya tanaman multiguna. Evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan 90% peserta mampu merancang taman sekolah berbasis gambas secara mandiri. Program ini membuktikan bahwa pendekatan place-based education efektif dalam membangun environmental stewardship di usia remaja. Rekomendasi ke depan meliputi replikasi model di sekolah lain dan integrasi kurikuler melalui muatan lokal berbasis kearifan ekologis.
Analisis Kemampuan Penalaran Matematis dan Kepercayan Diri Siswa Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Firanti Pratiwi; Wulandari Wulandari; Hidayatsyah Hidayatsyah
Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh
Publisher : LPPM UNIMAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jpmm.v6i2.28788

Abstract

Kemampuan penalaran matematis merupakan kompetensi esensial dalam pembelajaran matematika yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kognitif, tetapi juga kepercayaan diri. Rendahnya kemampuan penalaran matematis dan kepercayaan diri siswa yang ditemukan mengindikasikan keterkaitan dengan tipe kepribadian siswa, sehingga diperlukan perhatian khusus dari guru dalam mengenali karakteristik kepribadian siswa sebagai salah satu pertimbangan dalam merancang pembelajaran matematika yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan penalaran matematis dan kepercayaan diri siswa pada materi persamaan garis lurus ditinjau dari tipe kepribadian introver dan ekstrover. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas 20 siswa kelas VIII A MTsN 2 Aceh Utara, dengan lima siswa terpilih sebagai subjek wawancara. Data dikumpulkan melalui angket tipe kepribadian, tes kemampuan penalaran matematis, angket kepercayaan diri, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 siswa, 25% bertipe kepribadian ekstrover dan 75% introver. Kemampuan penalaran matematis seluruh ekstrover berada pada kategori rendah karena belum mampu menjelaskan proses penalaran secara lengkap dan konsisten, sedangkan introver bervariasi pada kategori rendah, sedang, dan tinggi seiring perbedaan kemampuan bernalar secara sistematis. Pola serupa ditemukan pada kepercayaan diri, di mana seluruh ekstrover berada pada kategori rendah dan introver tersebar pada kategori rendah-sedang, sejalan dengan kecenderungan siswa yang bernalar sistematis untuk turut lebih yakin terhadap jawabannya. Temuan ini menunjukkan introver cenderung memiliki penalaran dan kepercayaan diri lebih baik daripada ekstrover, meskipun keterkaitan keduanya tidak selalu linear. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran matematika yang memperhatikan karakteristik kepribadian siswa.
Bimbingan Teknis Tindak Lanjut Hasil AKMI: Strategi Peningkatan Literasi Sains, Sosial Budaya, Membaca, dan Numerasi Guru Madrasah Ibtidaiyah di Subang Hidayatsyah Hidayatsyah; Ahmad Ahmad; Muhammad Denni; Muammar Muammar; Linda Adriani; Nurmega Nurmega; Shofia Ummi; Fajriana Fajriana; Sudirman Sudirman
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 6 (2026): Agustus
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i6.4888

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan dan dampak bimbingan teknis tindak lanjut hasil Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) sebagai strategi peningkatan literasi sains, sosial budaya, membaca, dan numerasi bagi guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Subang. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah pelatihan dan pendampingan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting, melibatkan 30 guru MI. Tahapan kegiatan meliputi analisis kebutuhan, penyampaian materi strategi integrasi literasi-numerasi, simulasi penyusunan modul ajar, dan evaluasi pasca-kegiatan. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman guru dari 58,5 menjadi 84,2 (peningkatan 43,9%), yang mengindikasikan adanya peningkatan pemahaman dan kesiapan guru dalam mengintegrasikan keempat domain literasi AKMI ke dalam pembelajaran sehari-hari. Bimbingan teknis daring terbukti menjadi langkah tindak lanjut yang efektif, fleksibel, dan efisien untuk mendukung pengembangan profesionalisme guru MI di Kabupaten Subang secara berkelanjutan.
Educational Decentralization and Local Governance: A Case Study of School Management Policies in Indonesia M Mursalin; Ferri Safriwardy; Muhammad Ali; Muliana Muliana; Mutia Fonna; Hidayatsyah Hidayatsyah
Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : SAINTIS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ejeset.v7i1.1523

Abstract

Indonesia's formal commitment to educational decentralization, institutionalized through Law No. 22/1999 on Regional Governance and subsequently reinforced by Law No. 32/2004, transferred significant administrative authority to district governments and individual schools. Despite more than two decades of reform, the gap between legislated decentralization mandates and actual governance practices at the school level remains inadequately examined in empirical literature, particularly within the complex administrative landscape of Indonesian public education. This study investigates how educational decentralization is enacted in local school management practices, how district-level governance structures influence school decision-making, and what challenges emerge when formal autonomy provisions meet entrenched bureaucratic cultures. Grounded in an interpretivist qualitative case study design (Yin, 2014; Creswell, 2013), the research was conducted across four public secondary schools in a district of West Java Province over eight months of sustained fieldwork. Participants (n = 17) included school principals, classroom teachers, local education officers, and school committee members, selected through purposive sampling. Data were generated through in-depth semi-structured interviews, policy document analysis, administrative observation, and reflective field notes. Thematic analysis following Braun and Clarke (2006) and interpretive coding guided by Miles, Huberman, and Saldana (2014) were applied systematically. Findings identify a pattern of "layered decentralization" wherein formal school autonomy coexists with persistent dependence on district-level bureaucratic endorsement. School leaders navigate this tension through strategic compliance and selective adaptation, while community participation in governance structures remains largely ceremonial. These findings offer critical implications for the redesign of educational governance frameworks in decentralized developing-country contexts.