Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 24-59 BULAN DI DESA KIMA BAJO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Lamia, Filia; Punuh, Maureen I.; Kapantow, Nova H.
KESMAS Vol 8, No 6 (2019): Volume 8, Nomor 6, Oktober 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi adalah keadaan kesehatan seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi didalam tubuh. Pengetahuan tentang kebutuhan makanan sangat penting untuk mendukung tercapainya kesehatan dan status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak usia 24-59 bulan di Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Desain penelitian menggunakan studi potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak usia 24-59 bulan. Sampel pada penelitian ini adalah keseluruhan populasi yaitu sebanyak 63 anak. Penelitian di mulai pada bulan Juni - Agustus 2019. Status gizi berdasarkan indeks (BB/U) terdapat gizi kurang 6,3% dan gizi baik 93,7%. Indeks (TB/U) terdapat status gizi pendek 12,7% dan gizi normal 87,3%. Indeks (BB/TB) terdapat status gizi kurus 12,7%, gemuk 3,2% dan normal 84,1%. Pengetahuan ibu yang paling banyak berada pada tingkat pengetahuan baik yaitu 93,6%. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel menggunakan fisher exact test dan spearman rank. Hasil penelitian berdasarkan fisher exact test tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak (BB/U) nilai p = 0,236, terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak (TB/U) nilai p = 0,005 dan berdasarkan uji spearman rank tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak (BB/TB) nilai p = 0,379. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak (BB/U dan BB/TB) dan terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi (TB/U). Saran kepada orangtua yang mempunyai balita untuk menghadiri kegiatan posyandu dengan rutin agar bisa memperoleh informasi yang penting terkait gizi anak, ibu juga bisa mencari dan mengetahui informasi mengenai gizi khususnya untuk anak melalui artikel atau buku tentang gizi.  Kata Kunci: Pengetahuan Gizi Ibu dan Status Gizi ABSTRACTNutritional status is a person's health condition that can be seen from the food consumed and the use of nutrients in the body. Knowledge about food needs is very important to support the achievement of good health and nutritional status. This study aims to determine the relationship of maternal nutrition knowledge with the nutritional status of children aged 24-59 months in Kima Bajo Village, Wori District, North Minahasa Regency. The study design uses a cross-sectional study. The population in this study were all children aged 24-59 months. The sample in this study was the overall population of 63 children. The study began in June - August 2019. The nutritional status based on the index (BB / U) contained malnutrition 6.3% and good nutrition 93.7%. Index (TB / U) contained 12.7% short nutrition status and 87.3% normal nutrition. Index (BB / TB) contained 12.7% underweight nutritional status, 3.2% fat and 84.1% normal. The most knowledge of mothers is at the level of good knowledge that is 93.6%. Statistical tests are used to analyze the relationship between variables using the fisher exact test and the Spearman rank. The results of the study based on the fisher exact test there is no relationship between maternal nutritional knowledge with child nutritional status (BB / U) p value = 0.236, there is a relationship between maternal nutritional knowledge and child nutritional status (TB / U) p value = 0.005 and based on the spearman test rank there is no relationship between maternal nutritional knowledge with child nutritional status (BW / TB) value of p = 0.379. The conclusion from this study that there is no relationship between maternal nutritional knowledge with child nutritional status (BB / U and BB / TB) and there is a relationship between maternal nutritional knowledge and nutritional status (TB / U). Suggestions for parents who have toddlers to attend posyandu activities routinely in order to obtain important information related to children's nutrition, mothers can also find and find out information about nutrition especially for children through articles or books on nutrition. Keywords: Mother's Nutritional Knowledge and Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN TOMBATU KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Simangunsong, Nella P; Punuh, Maureen I.; Kapantow, Nova H.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengetahuan seseorang yang berhubungan dengan makanan dan kesehatan merupakan pengetahuan gizi. Permasalahan balita pada umumnya adalah masalah kesulitan makan diantaranya kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi yang harus dipenuhi pada masa pertumbuhan balita (Sibagariang, dkk, 2010). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian menggunakan pendekatan Cross Sectional survey analitik dengan yang dilaksanakan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara, pada bulan Juni-September tahun 2018 dengan teknik purposive sampling pengambilan sampel non probability sampling (non random). Sampel merupakan anak usia 24-59 bulan sebanyak 75 anak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pengukuran berat badan, tinggi badan dan metode kuesioner. Hasil penelitian memperlihatkan pengetahuan gizi ibu sudah baik sebanyak 77,3% dan kurang baik sebanyak 22,7%. Hasil uji statistik Fisher Exact Test diperoleh nilai p=1,000 antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi (BB/U), p=0,458 dengan status gizi(TB/U) dan hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai p=0,415 untuk status gizi (BB/TB). Dari hasil uji ini memperlihatkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak usia 24-59 bulan berdasarkan indeks antropometri BB/U,TB/U dan BB/TB di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara, maka perlu di pertahankan dengan rutin melakukan pengukuran dan mengikuti kegiatan Posyandu untuk mendapatkan informasi dari penyuluhan maupun media lainnya.Kata kunci: Pengetahuan Gizi Ibu, Status GiziABSTRACTA person's knowledge related to food and health is nutritional knowledge. The problem of toddlers in general is the problem of eating difficulties including the lack of knowledge of mothers about nutrition that must be met during the growth of toddlers (Sibagariang, et al, 2010). The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between maternal nutritional knowledge with nutritional status in children aged 24-59 months in Tombatu District, Southeast Minahasa District. The research used Cross Sectional analytic survey approach which was held in Tombatu District, Southeast Minahasa District, in June-September 2018 with purposive sampling technique, non probability sampling (non random) sampling. Samples were children aged 24-59 months as many as 75 children. Data collection was conducted using measurements of body weight, height and questionnaire method. The results showed that maternal nutrition knowledge was good as much as 77.3% and less than 22.7%. Fisher Exact Test statistic test results obtained p = 1,000 between maternal nutritional knowledge with nutritional status (Weight / Age), p = 0.458 with nutritional status (Height / Age). And Chi Square statistical test results obtained p = 0.415 for nutritional status (Weight / Height). From the results of this test shows there is no relationship between knowledge of maternal nutrition with nutritional status of children aged 24-59 months based on anthropometric index Weight / Age, Height / Age and Body Weight / Height in Tombatu District, Southeast Minahasa District, it needs to be maintained by Maternal & Child Health Centre activities to get information from counseling and other media.Keywords: Maternal Nutrition Knowledge, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUSOMAEN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Mokodompit, Erza P.; Kapantow, Nova H.; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting di Indonesia merupakan satu dari banyaknya masalah gizi yang perlu ditangani secara serius, dapat dilihat dari kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak tumbuh terlalu pendek, dan perlu dilakukan penurunan prevalensi balita pendek (stunting). Angka prevalensi untuk stunting di Indonesia pada tahun 2013 persentasenya mencapai 37,2%. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan salah satu faktor terjadi stunting pada balita adalah tinggi badan orang tua. Penelitian ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui gambaran tinggi badan ayah dan ibu serta mengetahui hubungan antara tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan rancangan cross sectional, tempat penelitian  dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Pusomaen pada bulan Juli-September tahun 2018. Populasi dalam penelitian  berjumlah 424 balita dan didapatkan 100 responden berdasarkan rumus slovin  dan jenis teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah simple random sampling. Pengukuran tinggi badan balita dan orang tua menggunakan alat ukur yaitu microtoise dengan ketelitian 0,1 cm dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji fisher exact test.  Hasil analisis univariat persentase tinggi badan ayah yang  memiliki tinggi <155cm  sebesar 4%  (p value = 0,625) dan tinggi badan ibu  <150cm memiliki persentase 37% (p value = 0,406) adapun persentase balita pendek (stunting) sebesar 45% serta persentase untuk tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting didapatkan (p value = 0,678). Hasil analisis bivariat dalam penelitian ini mendapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan.   Kata Kunci : balita usia 24-59 bulan, tinggi badan orang tua, stunting ABSTRACTStunting in Indonesia is one of many problems nutrition that need to be addressed seriously, can be seen from condition failing growing on of baby a result of chronic malnutrition and the growing too short , and necessary reducing the prevalence of toddler short (stunting). The prevalence rate for stunting in Indonesia in 2013 reached 37.2%. Stunting is caused by multi-dimensional factors and one of the factors in stunting in infants is the height of parents. The research has purpose to know how the image of the height restrictions father and mother and to knows the correlation between the height restrictions parents with an occurrence stunting in toddlers age 24-59 months . Observational research using in the study design to a draft cross sectional , research locations carried out in this area of Puskesmas Pusomaen on the month July-September 2018. Population in research were 424 toddlers and obtained 100 respondents formula Slovin and types of  technique in the study was simple random sampling. Measuring toddlers' height and parents using a measuring instrument namely microtoise with 0.1 cm accuracy and the data obtained were analyzed using the fisher exact test. The results of univariate analysis of the percentage of father's height that has a height of <155cm of 4% (p value = 0.625) and maternal height <150cm has a percentage of 37% (p value = 0.406) while the percentage of short toddlers (stunting) is 45% and percentage for the height of parents with the incidence of stunting was obtained (p value = 0.678). The results of the analysis bivariat, there was no correlation between parents with the genesis stunting in toddlers age 24-59 months. Keywords: toddlers age 24-59 months, height parents, stunting
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSI DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 6-24 BULAN DI DESA AMONGENA KECAMATAN LANGOWAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA Haryanti, Clarista M.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat ditingkatkan melalui program 1000 hari pertama kehidupan (HPK), karena kualitas manusia ditentukan sejak awal janin bertumbuh di dalam tubuh seorang ibu. Di Indonesia, meskipun sejumlah besar perempuan (96%) menyusui anak mereka dalam kehidupan mereka, hanya 42% dari bayi yang berusia dibawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 6-24 bulan di Desa Amongena Kecamatan Langowan Timur Kabupaten Minahasa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan April-Juni tahun 2017 di Desa Amongena Kecamatan Langowan Timur Kabupaten Minahasa. Populasi penelitian ini adalah anak yang berusia 6-24 bulan dan jumlah sampel yaitu 100 anak. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dan fisher exact. Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi (p>0,05) berdasarkan indeks BB/U (p=0,182), dan status gizi bayi berdasarkan indeks BB/PB (p=0,387). Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi berdasarkan indeks PB/U (p=0,48).Kata Kunci : ASI Eksklusif, Status GiziABSTRACT Increasing the quality of human resources (HR) can be improved through the program the first 1000 days of life (HPK), because the quality of human is determined from the beginning of the fetus to grow in the body of a mother. In Indonesia, although large numbers of women (96%) breast-feed their children in their lives, only 42% of infants aged under 6 months who get exclusive breastfeeding. Therefore, the purpose of this research is to know the correlation between exclusive breastfeeding with nutritional status of infants aged 6-24 months in Amongena Village of East Langowan Minahasa’s Regency. This research will be using the analytical observational research with the cross sectional approach that will be done in April to June 2017 in Amongena Village of East Langowan Minahasa’s regency. The population of this research is infants aged 6 to 24 and the number of sample is 100 babies. The data analysis will be using statistical test of chi-square and fisher exact. The test result shows that there is no associated between the exclusive breastfeeding and the nutritional status of infans (p>0,005) according to the BB/U index (p=0,182) and the nutritional status of the babies according to the BB/PB index (p=0,387). However, there is a associated between the exclusive breastfeeding and the nutritional status according to the PB/U index (p=0,48). Therefore, mothers need to give more attention on the importance of exclusive breastfeeding.Keywords: Exclusive breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL EKONOMI DENGAN PEMBRIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAILANG KOTA MANADO Hartina, Putri Rahayu; Kapantow, Nova H.; Purba, Rudolf Boyke
KESMAS Vol 6, No 4 (2017): Volume 6, Nomor 4, Juli 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) Merupakan makanan yang terbaik untuk bayi pada usia 0-6 bulan, dan mengandung semua kebutuhan nutrisi untuk bayi seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dan sudah tercukupi oleh ASI.Status ekonomi adalah kedudukan seseorang atau keluarga di masyarakat berdasarkan pendapatan per bulan.Puskesmas Bailang merupakan salah satu puskesmas yang ada di Kota Manado dengan cakupan ASI eksklusif yang masih belum mencapai target. Data dari Puskesmas Bailang menunjukan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada tahun 2017 bulan Januari untuk bayi usia 6-12 bulan dari 130 sasaran jumlah bayi yang ada di puskesmas Bailang yang mendapat ASI berjumlah (35,7%). Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei analitik, dengan menggunakan desain Cross SectionalStudy. Sampel dalam penelitian ini yaitu bayi berusia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bailang Kota Manadosebanyak 98 bayi sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Data pemberian ASI eksklusif didapatkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan Analisis data menggunakan uji statistik Chi Square. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bailang Kota Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubunganantara status sosoal ekonomi dengan pemberian ASI eksklusif (p>0,05) berdasarkan pendidikan ibu (p=0,161), pekerjaan ibu (p=0,075) dan pendapatan keluarga(p=0,754) di Wilayah kerja Puskesmas Bilang Kota Manado.Kata Kunci : Pemberian ASI Eksklusif, Status Sosial Ekonomi.ABSTRACTBreast milk is the best food for babies at 0-6 months of their age. It contains all the nutritional needs for babies such as proteins, carbohydrates, fats, vitamins, and minerals; these are sufficient by breast milk. Economic status is the stage of a person or family in the community based on income per month. Bailang health care center is one of the health centers in Manado with exclusive breasfeeding coverage that has not reached the target. The data showed that coverage of exclusive breastfeeding in January 2017 for infants 6-12 months out of 130 targeted to received breast milk was 35,7%. This study using analytic survey research method with cross sectional design. Samples in this study were infants 6-12 months in the working are of Bailang health care center was 98 infants in accordance with inclusion and exclusion criteria. Data of exclusive breastfeeding was obtained through interviews using questionnaires and data analysis using Chi-Square statistical test. The purpose of this study to determine the relationship between socioeconomic status with exclusive breastfeeding in infants 6-12 months in Bailang health care center Manado. The results showed that there was no correlation between socioeconomic status with exclusive breastfeeding (p> 0,05); based on mother education (p = 0,401), based on maternal job (p = 0,798), and basaed on family income (p = 0,668) in Bailang health care center Manado.Keywords: Exclusive Breastfeeding, Socioeconomic Status.
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DIDESA ONGKAW KECAMATAN SINONSAYANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN Pratasis, Neni N.; Malonda, Nancy S. H; Kapantow, Nova H.
KESMAS Vol 7, No 3 (2018): Volume 7, Nomor 3, Mei 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak balita sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas dimasa depan. Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik ibu dengan status gizi anak balita didesa Ongkaw Kecamatan Sinonsayang Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, dengan pendekatan crosssectional. Dilakukan pada bulan januari-febuari 2018 didesa Ongkaw Kecamatan Sinonsayang Kabupaten Minahasa selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah 142 anak balita yang berusia 2-5 tahun. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 82 yang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, Timbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Uji statistik yang digunakan untukmenganalisis hubungan antara variabel menggunakan uji spearman rank dan chisquare. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan uji spearman rank tidak terdapat hubungan antara umur ibu dengan status gizi anak balita (p=0,682), tidak terdapat hubungan pendidikan ibu dengan status gizi anak balita (p= 0,763),terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak balita (BB/TB)(p= 0,010) dan berdasarkan hasil uji chi square tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi anak balita (p= 0,187). Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan antara umur, pendidikan dan pekerjaan ibu dengan status gizi anak balita dan terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita (BB/TB). saran kepada ibu balita dan pemberi pelayanan kesehatan seperti puskesmas untuk melakukan pemantauan status gizi anak balita secara berkala melalui informasi berupa media masa dan penyuluhan dari tenaga kesehatan tentang pengetahuan ibu, umur ibu, pendidikan ibu dan pekerjaan ibu yang mempengaruhi status gizi balita.Kata Kunci: karakteristik ibu, status gizi balitaABSTRACTChildren as the next generation of the nation is expected to become a quality human resources in the future. This research for analyze the relationship of the characteristics of mothers and nutritional status of children under five in Ongkaw village. This study used analytic observational method with cross sectional approach. The study was conducted from januari until febuari 2018 at Ongkaw village, district of Sinonsayang South Minahasa regency. The population in this study was 142 children under five aged from 2 to 5 years old. The number of samples in this study was 82children that met the inclusion and exclusion criteria. The instruments used were questionnaires, weight scales and height measurements.The statistical test used to analyze the relationship between variables using chi-square test and Spearman rank. The results showed that based on spearman rank test there was no correlation between mother’s education level and nutritional status of children (p = 0.682), there was no correlation between mother’s agewith nutritional status of children (p = 0.763), there was correlation between mother’s nutritional knowledge with the nutritional status of children (Body Weight / Body Height)) (p = 0,010) and based on chi square testthere was no significant correlation between mother’s occupation and the nutritional status of children (p = 0,187). In conclusion, there was no correlation between mother’s age and the nutritional status of children, there was no correlation between mother’s education level with the nutritional status of children, there was no correlation between mother’s occupation with the nutritional status of children and there was a correlation between mother’s nutritional knowledge with the nutritional status of children (Body Weight / Body Height). advice to mother and child health service providers such as puskesmas to monitor the nutritional status of Toddlers periodically through information in the form of mass media and counseling from health personnel about mother's knowledge, mother's age, mother's education and mother's occupation that affect nutritional status of children.Keywords: characteristics of mother, children nutritional status.
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WALANTAKAN KECAMATAN LANGOWAN. Maradesa, Eirene; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Makanan sehari-hari perlu mengandung cukup energi dan zat yang esensial untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh dan mengatur proses tubuh. Ketiga jenis zat makro berupa karbohidrat, lemak, dan protein menghasilkan energi bagi tubuh melalui proses metabolisme (pembakaran). Sumber energi yang utama adalah karbohidrat dan lemak, sedangkan protein terutama digunakan sebagai zat pembangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional  yang dilaksanakan pada bulan September–November tahun 2014 di Puskesmas Walantakan Kecamatan Langowan dengan total responden sebesar 84 anak berumur 1-3 tahun. Penelitian ini menggunakan kuesioner Food Recall 2×24 Jam, alat timbangan berat badan, pengukuran tinggi badan/microtoice, program SPSS, dan program nutrisurvey sebagai instrument. Asupan energi yang kurang berjumlah 38.09% dan lebih berjumlah 26.19% selanjutnya asupan protein yang kurang berjumlah 10,71% dan lebih berjumlah 63,10% selanjutnya Status gizi menurut umur (TB/U), pendek berjumlah 31% dan normal berjumlah 53,6% selanjutnya status gizi menurut Indeks Massa Tubuh (IMT/U) gemuk berjumlah 3,6% dan normal 96,4%, hasil uji menunjukan bahwa tidak berhubungan antara asupan energi dengan status gizi menurut TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,139) selanjutnya asupan protein dengan status gizi menurut TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,363) menunjukan bahwa tidak berhubungan antara asupan protein dengan status gizi pada anak usia 1-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Walantakan. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan antara asupan energi dan asupan protein dengan status gizi menurut TB/U, IMT/U di wilayah kerja Puskesmas Walantakan Kecamatan Langowan. Kata Kunci : Asupan Energi, Asupan Protein, Status Gizi ABSTRACT Daily food should caontain adeqnate energy and essential nutrition for  reputation types of substances are carbohydrates macro, fats and for the body through metabolic processes (combustion). The main energy source is carbohydrate and fat and protein is mainly used as a builder substance and maintain the cells and tissues of the body. This study was anobservational analytic with cross sectional approach conducted in September-November 2014 in PHC walantakan District Langowan with total subject 84 children aged 1-3 years. this researchuse the questionnaire, Food Recall 2×24 hours, the scale weight, height measurement/microtoice, SPSS and nutrisurvey programas a research instrument. Data processing with Spearman Rank test with α=0,05, CI=95%. Less energy intake amounted to 38,09% and amounted to 26,19%, intake of protein is less amounted to 10,71% and amounted to 63,10% subsequent nutritional status according to age (TB/U), amounting to 31% shorter and amounted to 53,6% next normal nutritional status according to the nutritional status of the index according to the Body Mass Index (IMT/U) amounted to 3,6% fat and 96,4% of normal, test results shows that there is correspondence between energy intake and nutritional status TB/U (p=0,926), IMT/U (p =0,139) protein intake and nutritional status TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,363) address that is notnot related between. There’s no relationship between energy intake and protein intake with nutritional status according to TB/U, IMT/U in the working area of community health center walantakan langowan. Keyword: Energy intake, Protein Intake, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANGTUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOULUAAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Kairupan, Calista A.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) yang diakibatkan karena kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak terlalu pendek untuk umurnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Populasi yaitu orang tua kandung yang mempunyai balita berusia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, sehingga di dapati 100 sampel. Variabel stunting diukur menggunakan microtoise dan timbangan digital, kemudian menghitung Z-Score. Hasil penelitian ini diperoleh, status gizi pada15 anak (15,0%) berstatus stunting. Distribusi prevalensi tinggi badan ayah, pada kategori pendek sebesar 3,0%, dan distribusi prevalensi tinggi badan ibu pada kategori pendek sebanyak 8,0% .Berdasarkan hasil uji Fisher’s Exact diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting tidak berdapat hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting dan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Disarankan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan lagi pola makan balitanya dan melakukan pengecekan kesehatan status gizi pada balita secara berkala di puskesmas.Kata Kunci : Orang tua, Stunting, Anak usia 24-59 bulanABSTRACT Toddlers are children aged 0-59 months, at this time marked by a very rapid process of growth and development. Stunting is a failure to grow in children under five (infants under five years) due to chronic malnutrition so that the child is too short for his age. This study aims to determine whether there is a relationship between parents height with the incidence of stunting on toddlers aged 24-59 months in the work area of Touluaan Health Center in Southeast Minahasa Regency.This research is analytic observational with cross sectional study design. The population is biological parents who have children aged 24-59 months in the Touluaan Health Center work area. Sampling using purposive sampling technique, so that found 100 samples. Stunting variables are measured using microtoise and digital scales, then calculate the Z-Score. The results of this study were obtained, the nutritional status of 15 children (15.0%) was stunting. Distribution prevalence of father’s height, in the short category of 3.0%, and the distribution prevalence of mother’s height in the short category 0f 8.0%. Based on the Fisher's Exact results obtained that there was no relation between father's height with the incidence of stunting, there was no relation between mother’s height with incidence of stunting, and there was no relationship between parents height with the incidence of stunting on toddlers aged 24-59 months in the work area of the Touluaan Health Center in Southeast Minahasa Regency. It is recommended for parents to pay more attention to their toddlers diet and check the health of nutritional status regularly at the health center. Keywords: Parents, Stunting, Children aged 24-59 months
HUBUNGAN ANTARA USIA PERTAMA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN STATUS GIZI BAYI 6-12 BULAN DI PUSKESMAS TUMINTING Estrelita, Tudus Gabriella; Kawengian, Shirley; Kapantow, Nova
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuh dan kembang bayi sangat berperan penting terhadap makanan, karena bayi pada masa itu sedang dalam masa tumbuh sehingga segala kebutuhan bayi berbeda dengan kebutuhan orang dewasa. Hal ini sejalan dengan anjuran WHO/UNICEF mengungkapkan antara lain pemberian makanan pendamping ASI yang tepat diberikan sejak bayi berusia 6-24 bulan . Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis adakah hubungan antara usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi bayi 6-12 bulan di Puskesmas Tuminting. Jenis penelitian ini bersifat survey analitik dengan jenis desain cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 82 bayi yang tinggal diwilayah kerja Puskesmas Tuminting dan sampel ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dan menggunakan kuesioner tentang usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dan Status Gizi. Analisa data yang digunakan yaitu Uji Sperman dengan n α = 0,05. Berdasarkan hasil uji statistik yang diperoleh terdapat hubungan antara usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi BB/U dan PB/U dengan nilai p value secara berurut (0,043) dan (0,041). Dan tidak terdapat hubungan antara usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi BB/PB dengan nilai p value (0,656).Kata Kunci : Usia Pertama,MP-ASI,Status GiziABSTRACTGrowing and developing baby plays an important role to the food, because the baby at that time is in the growing so that all the needs of the baby is different from the needs of adults. This is in line with the recommendations of WHO/UNICEF reveals, among other , the perovision of apporiate breastfeeding food given since aged 6-24 months. The purpose of this sudy is to analyze whether there is a relationship between the first age of complementary feeding of breast milk (MP-ASI) with nutritional status of infants 6-12 months in Tuminting Public Health Center. This type of research is an analytic survey with cross sectional design type. Data from 82 babies in the work area of Tuminting Public Health Center were taken by using purposive sampling technique with questionnaire about first age of complementary feeding of mother’s milk (MP-ASI) and nutritional status based on the result of statistical test (sperman test), obtained there is relationship between the first age of complementary feeding of breast milk (MP-ASI) with nutritional status of BB/U and PB/U (0,043 and 0,041). But there is no relationship between of the first age of complementary feeding of breast milk (MP-ASI) with nutritional status of BB/PB (0,656).Keyword : Age of First,MP-ASI, Nutritional Status.
HUBUNGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA KEHAMILAN DENGAN BERAT LAHIR BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ONDONG Jacobus, Cecilia R; Kapantow, Nova H.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi serta ketahanan hidup dari bayi dapat dilihat dari berat badan bayi pada saat lahir. Tiga kategori berat lahir bayi adalah <2500gram disebut BBLR, 2500-3999gram disebut normal, dan >4000gram disebut sebagai bayi besar. Menganalisa pertambahan berat badan ibu selama kehamilan terhadap berat lahir bayi di wilayah Kerja Puskesmas Ondong. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang memeriksakan diri dan melahirkan di Puskesmas Ondong pada bulan Januari 2015 sampai Agustus 2016 yaitu sebanyak 169 subjek. Subjek dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Dengan ini banyak pertimbangan-pertimbangan untuk kepentingan penelitian, pertimbangan yang dimaksud yaitu pertimbangan keterbatasan waktu, keterbatasan tenaga, dan jauhnya lokasi penelitian. Maka besar subjek ditetapkan dengan menggunakan rumus Slovin maka hasil yang didapat dibulatkan menjadi 119 subjek, tetapi karena dibatasi oleh kriteria inklusi dan kriteria eksklusi maka jumlah subjek menjadi 100. Pada uji ini nilai Spearman’s rho r sebesar 0,245 dengan sig. (2-tailed) 0,014 atau lebih kecil dari nilai α= 0,05. Hasil uji dengan nilai ρ value (0,014) kurang dari nilai α (0,05), artinya terdapat hubungan antara pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dengan berat lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Ondong.Kata kunci:Berat Badan Ibu, Berat Lahir BayiABSTRACTThe growth and development of a baby and the survival of the baby can be seen from the baby's body weight at birth. Three categories of infant birth weight are <2500gram called LBW, 2500-3999gram is called normal, and> 4000gram is called a big baby. To analyze maternal weight gain during pregnancy for the baby's birth weight in the Ondong Community Health Center. This type of research is observational analytic with a cross-sectional approach. The population in this study were all pregnant women who examined themselves and gave birth at the Ondong Health Center from January 2015 to August 2016, which were 169 subjects. Subjects in this study using purposive sampling. With this many considerations for the sake of research, the consideration in question is the consideration of time constraints, limited personnel, and the location of the study. Then the subject size was determined by using the Slovin formula so the results obtained were rounded to 119 subjects, but because it was limited by the inclusion criteria and exclusion criteria, the number of subjects became 100. In this test the value of Spearman's rho r is 0.245 with sig. (2-tailed) 0.014 or less than the value of α = 0.05. The test results with a value of ρ value (0.014) is less than the value of α (0.05), meaning that there is a relationship between maternal weight gain during pregnancy and the baby's birth weight in the work area of Ondong Health Center.Keywords: maternal weight gain, baby’s birth weight
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje E. Manampiring Aaltje E. Manampiring abram, rani angraini Adisti A. Rumayar Adrian Umboh Agian, Grasila Alexander S. L. Bolang Alimuddin, Nuraini M N Amisi, Marsella D. Anastasia G.A. Kapahang Aring, Enjelia S. Axel Umboh Billy J. Kepel Bolang, Alexander Celeste, Jessica M. Dina Rombot Doda, Diana V.D. Eirene Maradesa, Eirene Elma P. Tonapa Enji Virginia Tampi Ester C. Musa Estrelita, Tudus Gabriella Fatimawali . Grace Korompis Gregoria S. S. Djarkasi Gunawan, Deni Halik, Nabila Hartina, Putri Rahayu Haryanti, Clarista M. Hendra A. Herlambang, Hendra A. Irot, Rodela A. Jacobus, Cecilia R Josri Mandiangan Kairupan, Calista A. Kairupan, Tara S. Kansil, Trily Ida Lurista Kapahang, Anastasia G.A. Kapojos, Francess W. S. Kaunang, Timothy Abiel Salomo Kawatu, Paul A.T Kawengian, Shirley E.S Kawengian, Shirley ES. Kojongian, Cindy F. Korompis, Grace Esther Caroline Lamia, Filia Lucia C. Mande, Lucia C. Lumente, Kalista Mahardhika, Fajri Makalew, Megawati S. Malonda, Nancy S. H Malonda, Nancy S.H Margareth Sapulete Marsella D. Amisi Marsilia Laila Martha M. Kaseke Maulydia, Nur B. Maureen I. Punuh, Maureen I. Maya S. Putri, Maya S. Meiny O. Manumpil Mokodompit, Erza P. Momongan, Nita Momongan, Nita R, Mulalinda, Chendany W. Murty Ekawaty M, Murty Ekawaty Nancy S. H. Malonda Nancy S.H. Malonda, Nancy S.H. Nasaru, Umria Nelly Mayulu Ngenget, Cindy V. Niode, Nurdjannah Jane Nita R. Momongan, Nita R. Nora Poluan Novita Tombokan Nurdjannah J. Niode Panese, Janitha M. Pangalila, Yesenia Veronika Pangalo, Risye Melinda Pantungan, Mersy Junistia Patimbano, Brenda Lavenia Paul A. T. Kawatu, Paul A. T. Paul A.T Kawatu Paul A.T. Kawatu Paul A.T. Kawatu Pratasis, Neni N. Pratiwi, Ageng Ingrit Pua, Tita L.C.A. Punuh, Maureen Irinne Purba, Elisa A. Pusida, Jesika Natalia Ridzka Cristina, Ridzka Risa K. F. Sahalessy, Risa K. F. Rompas, Sefti S.J. Rondonuwu, Irene R. Rorimpandei, Cindy Ch. Roring, Deiby Olivia Rotty, Linda WA. Rudolf B. Purba, Rudolf B. Rudolf Boyke Purba Rumayar, Adisti Aldegonda Rumende, Mada Sahara, Sri G. Sanggelorang, Sweetly Shirley E. S. Kawengian Shirley Kawengian, Shirley Simangunsong, Nella P Sumakul, Angel Amelia Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Tamalumu, Aprilia Tambajong, Claudia Angel Tampi, Meiny Ledya Tangel, Pricillia T. Thambas, Arthur Harris Tindangen, Brigita F. N. E Tira, Tita O.K. Tirajoh, Injilia P. Toliu, Siti Nurjanah K. Trina E. Tallei, Trina E. Tuda, Joseft Sem Berth Tumbelaka, Christian Tumiwa, Militia Christy Rebcca Turangan, Brenda D. Ughude, Rezka Utari Waani, Miracle B. Warbung, Yanti Yashinta Wariki, Windy M. V. Wungouw, Herlina Ineke Surjane Wungouw, Herlina IS. Yulianty Sanggelorang