Claim Missing Document
Check
Articles

Seagrass growth at different turbidity levels Eka Lisdayanti; Rohani Ambo Rappe; Nenni Asriani; Nur Tri Handayani; Steven Rante Limbong
Depik Vol 13, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.1.35173

Abstract

Seagrass beds are highly productive ecosystems and have ecosystem services in the coastal zone but are continuously declining globally. Mainly due to anthropogenic activities that reduce the amount of light entering the waters and reaching seagrasses, such as dredging, reclamation, sedimentation, and eutrophication. This research was conducted to determine the relationship between turbidity level and seagrass composition and morphology. The observations were conducted in November 2016 in Pangkep district on Sagara Island and Makassar City on Barrang Lompo and Lae-lae Island, South Sulawesi Province. The observation stations are determined based on the level of turbidity conditions. Sagara Island, Barrang Lompo, and Lae-lae are areas that are considered to represent turbid waters, by laying a line transect (roll meter) perpendicular to the coast and doing it 3 times. The data collected in this study related to seagrass conditions such as seagrass composition and seagrass morphometrics. Variables observed in seagrass leaf morphometric observations were leaf surface area and leaf width, leaf thickness, and distance between internodes. In addition, other data collected is environmental parameter data, such as currents, TSS, PAR, temperature, and salinity. One-way ANOVA analysis showed that there was a difference in turbidity levels between Barrang Lompo Island, Sagara Island, and Lae-lae Island with a significance value of 0.000. The types of seagrasses found on Barrang Lompo with light availability of 1735.23 mol/m/s are Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii. On P. Sagara with light availability of 170.01 mol/m/s, E. acoroides, T. hemprichii, Cymodocea serrulata, H. uninervis, and H. ovalis were found. Whereas in P. Lae-lae only E. acoroides was found. The results showed that the level of turbidity has an influence on seagrass morphometrics, namely leaf ratio and leaf thickness of E. acoroides species, and internode distance in H. uninervis species.Keywords:Availability of lightMorphometricsPARSeagrass bedsTurbidity
Penguatan Layanan Masyarakat dan Pemberdayaan Berbasis Sumber Daya Lokal Pascabencana Banjir Kecamatan Sultan Daulat Munandar, Roni Arif; Darsan, Herri; Iswan, Rinaldi; Saputra, Akmal; Lisdayanti, Eka; Ali, Sulaiman; Rezky Zuliyus, Fathur
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i2.17344

Abstract

Kecamatan Sultan Daulat di Kota Subulussalam merupakan wilayah rawan banjir yang berdampak serius terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat. Bencana banjir menyebabkan terganggunya pemenuhan kebutuhan dasar, rusaknya fasilitas umum, serta terhentinya aktivitas pembelajaran di sekolah dasar. Selain itu, kondisi pascabencana juga ditandai dengan keterbatasan akses air bersih, menurunnya kualitas kesehatan lingkungan, serta melemahnya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendukung pemulihan pascabencana melalui penyediaan bantuan kebutuhan dasar, pemulihan layanan pendidikan, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Metode yang digunakan meliputi asesmen lapangan berbasis kebutuhan riil, pendampingan masyarakat, distribusi bantuan logistik, pemasangan instalasi air bersih pada titik-titik strategis, serta edukasi kebencanaan berbasis partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan mampu memperbaiki akses masyarakat terhadap pangan dan air bersih, mendukung keberlangsungan kegiatan belajar mengajar darurat, serta meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Program ini juga memperkuat koordinasi antara masyarakat dan pemangku kepentingan lokal. Simpulan kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pengabdian yang terintegrasi, responsif, dan berbasis kebutuhan lapangan efektif dalam mempercepat pemulihan pascabencana serta meningkatkan ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan.
Model Edukasi Konservasi melalui Pendekatan Layanan Ekosistem Lamun bagi Anak Sekolah Dasar Eka Lisdayanti; Rahmawati Rahmawati; Anisah Nasution; Nurul Najmi; Abdiel Khaleil Akmal
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i2.615

Abstract

Lingkungan laut mengalami tekanan yang dalam banyak kasus menyebabkan kerusakan permanen, sementara kesadaran anak usia sekolah dasar terhadap pentingnya ekosistem lamun masih relatif Anak-anak umumnya hanya mengenal hutan mangrove dan terumbu karang sebagai ekosistem pesisir, sehingga lamun kurang mendapat perhatian meskipun memiliki fungsi ekologis penting sebagai penyerap karbon, habitat biota, dan penahan sedimen, serta penyedia jasa ekosistem bagi kehidupan pesisir. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan model edukasi konservasi melalui pendekatan layanan ekosistem lamun sebagai sarana meningkatkan literasi laut, pengetahuan, dan sikap peduli lingkungan pada anak sekolah dasar. Model yang dikembangkan menekankan keterkaitan antara manfaat ekosistem lamun dengan kehidupan sehari-hari secara kontekstual. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pembelajaran interaktif melalui permainan edukatif, pembuatan poster kreatif, observasi sederhana, serta diskusi kelompok yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan anak dari 34,66% menjadi 74,66%, yang diikuti dengan partisipasi aktif, kemampuan mengaitkan peran lamun dengan kehidupan sehari-hari, serta munculnya sikap peduli terhadap lingkungan pesisir. Model ini juga terbukti mampu menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual dan mudah dipahami. Dengan demikian, pengenalan ekosistem lamun sejak dini menjadi langkah strategis dalam membentuk kesadaran lingkungan dan mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.
Co-Authors Abdiel Khaleil Akmal Achmad Fahrudin Agus Sadelie Akmal Saputra Alaudin Alaudin Alaudin Alaudin Alfisyahrin, Alfisyahrin Ali, Sulaiman Ananingtyas S Darmarini Arief Diana, Muhammad Ariyandani, Mita Asriani, Nenni Ayu, Inna Puspa Baehaqi Dafit Gunawan Darmarini, Ananingtyas S Delfian Masrura Eko Perbowo Dian Hermawan Endah Anisa Rahma, Endah Anisa Fadillah, Teuku Rizqi Fadli Afriandi Faliqul Isbah Faliqul Isbah Farija, Nurul Febrian, Cutwan Nurul Fitry Hasdanita Friyuanita Lubis Fuah, Ricky Winrison Handayani, Nur Tri Haves Qausar Hayatun Nufus Hayatun Nufus Hayatun Nufus Heriansyah Hermawan, Eko Perbowo Dian Herri Darsan Hutabarat, Malfajri Iswan, Rinaldi Jamaluddin, Ikhsan Ligar Abdillah Limbong, Steven Rante M. Ali Sarong Mai Suriani Mariah Mariah, Mariah Michel Kasaf Muhammad Agam Thahir Muhammad Arif Nasution Muhammad Arif Nasution Muktaridha, Muktaridha Munandar Munandar Munandar, Roni Arif Mursawal, Asri Nasution, Anisah Neneng Marlian Neneng Marlian, Neneng Nenni Asriani Nisdianti, Aprilia Nur Tri Handayani Nurul Najmi Nurul Najmi Rahayu, Rosi Rahmawati Rahmawati Rahmawati Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rahmi, Mira Mauliza Rezky Zuliyus, Fathur Rika Astuti Riswan, M Riyanti, Levi Rohani Ambo Rappe Rohani Ambo Rappe Ronal Kurniawan Roni Arif Munandar Rudi Hermi Solly Aryza Sri Wahyuni Sri Wahyuni Steven Rante Limbong Syam, Futri Tjut Rizqi Maysyarah Hadi triantoro, dony arung Utami, Afrita Ida Yuliati - Yunisa Fahmi, Nadya Zulfadhli Zulfadhli Zurba, Nabil