Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN MINUMAN ISOTONIK ALAMI AIR KELAPA DENGAN AIR GULA AREN TERHADAP STATUS HIDRASI DAN PERFORMA ATLET FUTSAL Anggraini, Revita Dwi; Pradana, Arya Kemal; Manggabarani, Saskiyanto; Tanuwijaya, Rani Rahmasari
Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2022): November: Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jrik.v2i3.668

Abstract

Futsal merupakan olahraga yang membutuhkan ketahanan fisik yang lebih dibandingkan dengan sepak bola. Banyaknya tenaga yang dikeluarkan oleh pemain mengakibatkan kelelahan sebelum pertandingan berakhir. Kelelahan dapat menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi dan menurunkan performa. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa dan air gula aren terhadap status hidrasi dan performa pada pemain futsal SMK Makarya 1 Jakarta. Metode yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan Nonequivalent Control Group Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling diperoleh sebanyak 18 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok air kelapa muda, air gula aren muda dan air mineral (p-value=0,00) terhadap status hidrasi. Terdapat pengaruh yang signifikan sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok air kelapa muda dan air gula terhadap performa (p-value=0,027 dan p-value=0,028). Tidak terdapat pengaruh yang signifikan sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok air mineral terhadap performa (p-value=0,917). Adanya peningkatan status hidrasi dan performa lebih tinggi pada kelompok air kelapa dibandingkan dengan air gula aren dan air mineral. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kelompok yang mengonsumsi air kelapa muda lebih efektif meningkatkan status hidrasi dan performa.
Pengaruh Intervensi Perilaku Jajan Sehat terhadap Pencegahan Anemia Gizi pada Anak Usia Sekolah Dasar di Kota Makassar Sudarman, Sumardi; J. Hadi, Anto; Manggabarani, Saskiyanto; Ishak, Syamsopyan
Promotif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 10 No. 1: JUNE 2020
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.812 KB) | DOI: 10.56338/pjkm.v10i1.1143

Abstract

Prevalensi anemia gizi besi pada anak Sekolah Dasar sebagian besar disebabkan kekurangan zat besi dalam makanan. Akibat nyata dari anemia gizi terhadap kualitas sumber daya manusia tergambar pada penurunan prestasi belajar anak sekolah dasar.Tujuan penelitian ini adalah menilai besar perubahan perilaku jajan sehat sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Kota Makassar pada tahun 2019. Desain Quasy Eksperiment melalui pretest-post-test with control group design. Sampel adalah anak anemia pada Sekolah Dasar dipilih secara purposive sampling yang terdiri atas kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Intervensi penelitian selama 3 bulan dengan pemberian modul perilaku jajan sehat dan leflet, setiap bulan dilakukan pemantauan anak menggunakan Food Recall modifikasi, kuesioner, dan penilaian anemia dengan Cyanmethemoglobin. Data dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat dengan Independent t-test, Mann-Whitney test dan Paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan jajan (p=0,000), sikap jajan (p=0,000), tindakan jajan (p=0,000) bermakna terhadap perilaku pencegahan anemia. Kesimpulan diperoleh bahwa ada perbedaan perilaku jajan setelah intervensi pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Perubahan perilaku jajan lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol. Disarankan pihak sekolah perlu melakukan upaya promotif – preventif terhadap kejadian anemia melalui program usaha kesehatan sekolah.
Pengaruh Model Edukasi Deteksi Dini Risiko Stunting Dengan Metode Peer Educator Gizi Terhadap Remaja Perempuan Di Kabupaten Tapanuli Selatan Harahap, Dewani; Hadi, Anto J.; Sujoko, Edy; Rangkuti, Juni Andriani; Hasibuan, Ahmad Safii; Manggabarani, Saskiyanto
Jurnal Dunia Gizi Vol 6, No 1 (2023): Edisi Juni
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v6i1.5906

Abstract

Latar Belakang: Remaja perempuan yang cenderung rentan terhadap stunting karena masa pertumbuhan dan peran penting dalam mengasuh anak-anaknya. Selain itu juga berperan sebagai peer educator di lingkungannya, memberikan informasi tentang gizi dan stunting. Tujuan: Untuk menguji pengaruh model edukasi deteksi dini risiko stunting dengan metode peer educator gizi terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku remaja perempuan dalam mencegah stunting di Kabupaten Tapanuli Selatan. Metode: Penelitian ini metode eksperimental dengan desain pretest-posttest control group design. Penelitian ini berlangsung selama 6 bulan, dengan tahap pra-intervensi, intervensi, dan tahap pasca-intervensi yang masing-masing memiliki jadwal tertentu. Penelitian ini melibatkan sampel remaja perempuan usia 13-18 tahun yang tersebar di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi diberikan model edukasi deteksi dini risiko stunting dengan metode peer educator gizi dan kelompok kontrol tidak mendapatkan intervensi. Sampel penelitian terdiri dari remaja perempuan di dua sekolah di Kabupaten Tapanuli Selatan yang dipilih secara acak. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner penelitian serta data dianalisis secara univariate, bivariate dan multivariate. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dampak positif yang kuat dari intervensi edukasi ini pada pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja perempuan dalam upaya mencegah stunting. Mereka yang menjadi peer educator di komunitas juga memperluas dampak edukasi ini dengan menciptakan perubahan positif dalam perilaku gizi anak-anak di sekitarnya. Kesimpulan: model edukasi deteksi dini risiko stunting dengan metode peer educator gizi memiliki pengaruh positif dan signifikan pada pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja perempuan terkait pencegahan stunting. Edukasi ini diharapkan dapat memperkuat kesehatan anak-anak dan kualitas hidup di masa depan, serta berperan dalam pembangunan masyarakat yang lebih sehat. Dengan memberikan pengetahuan yang tepat dan mengubah sikap serta perilaku, model ini membuka jalan menuju upaya pencegahan stunting yang lebih efektif dan berkelanjutan di kalangan remaja perempuan.
Rasio Lingkar Pinggang Panggul, Asupan Serat, Betakaroten dengan Kadar Gula Darah: A Cross Sectional Study Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Hutabarat, Setyowati Erineta; Manggabarani, Saskiyanto
Jurnal Dunia Gizi Vol 7, No 1 (2024): Edisi Juni
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v7i1.6250

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Melitus merupakan kondisi dimana tubuh seseorang memiliki kadar gula darah yang melebihi batas normal. Faktor yang mempengaruhi diabetes melitus salah satunya adalah, asupan makan dan kelebihan berat badan. Konsumsi lemak yang tinggi dapat meningkatkan rasio lingkar pinggang panggul yang selanjutnya berhubungan dengan kadar gula darah. Asupan serat dan betakaroten yang baik juga mempengaruhi penurunan kadar gula darah.Tujuan: Menganalisis hubungan antara rasio lingkar pinggang panggul, asupan serat dan asupan betakaroten dengan kadar gula darah pada Guru Sekolah Dasar. Metode dan Sampel; Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 120 guru di wilayah kecamatan Cilandak. Teknik pengambilan menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi adalah guru SD yang bekerja di wilayah kecamatan Cilandak, berusia 25-60 tahun, bersedia menjadi responden dan tidak berpuasa. Adapun kriteria eksklusi yaitu responden tidak menyetujui untuk berpartisipasi, memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, serta mengonsumsi obat penurun kadar glukosa darah. Variabel dalam penelitian ini adalah rasio lingkar pinggang panggul, asupan serat dan betakaroten serta kadar gula darah yang diuji menggunakan uji korelasi spearman. Hasil: Sebanyak 68% responden memiliki rasio lingkar pinggang panggul tidak normal. Sebagian besar responden memiliki asupan serat yang kurang kurang yaitu sebesar 88%. Sebanyak 92% responden memiliki asupan betakaroten yang kurang. Sebesar 100% responden memiliki kadar gula darah sewaktu normal. Hasil uji korelasi spearman menunjukkan rasio lingkar pinggang panggul (p=0,098), asupan serat (p=0,245), asupan betakaroten (p=0,392) dengan kadar gula darah. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara rasio lingkar pinggang panggul, asupan serat, dan betakaroten dengan kadar gula darah.Kata Kunci: Betakaroten, Serat, Kadar Gula Darah, Rasio Lingkar Pinggang Panggul.
Kekurangan Energi Kronik, Pengetahuan, Asupan Makanan dengan Stunting: Cross-Sectional Study Manggabarani, Saskiyanto; Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Said, Irfan
Journal of Nursing and Health Science Vol. 1 No. 1 (2021): Edisi Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pertamedika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58730/jnhs.v1i1.13

Abstract

Anak umur periode 2 tahun termasuk periode kritis dan masa emas dalam pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal. Malnutrisi yang terjadi pada anak usia ini akan menyebabkan masalah gizi seperti obesitas dan stunting. Angka kejadi stunting dan obesitas pada anak setiap tahunya meningkat yang disebabkan oleh beberapa pemicu utama termasuk pengetahuan pengasuh, sosial ekonomi serta asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat signifikansi kekurangan energi kronik, pengetahuan, asupan dengan stunting baduta. Metode penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan teknik survey serta desain cross sectional study. Sampel diseleksi dengan Teknik purposive sampling sebanyak 185 baduta yang telah memenuhi kiteria tidak menderita penyakit infeksi, umur 6-24 bulan, tidak lahir prmeatur, berat bayi lahir rendah, dan pangasuh bersedia untuk di wawancara. Data diperoleh menggunakan metode wawancara dengan kuesioner, formular food recall, timbangan digital, microtoise dan LILA. Analis data menggunakan uji korelasi dan determinasi (R2) dengan tingkat signifikansi nila p <0,05. Hasil ditemukan bahwa kekuerangan energi kronik, pengetahuan, dan asupan makanan diperoleh ada hubungan yang signifikan terhadap kejadian stunting dengan nilai p-value <0,05. Semakin tinggi pengetahuan ibu dan asupan makan anak akan seiring dengan meningkatkatnya status gizi juga namun sebaliknya status KEK ibu semakin meningkat tidak meyebakan pengkatan status gizi baduta.
Korelasi Status Gizi, Asupan Natrium, Asupan Serat terhadap Tekanan Darah: A Cross Sectional Study Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Manggabarani, Saskiyanto; Melani, Dyah Opsa Condro Wati
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2023.7.2.16383

Abstract

The aim of this research is to determine the direction and strength of the relationship between nutritional status, sodium intake and fiber intake on systolic and diastolic blood pressure. This type of research is quantitative with a cross-sectional study approach. The research was conducted in November 2020 at the UPT Puskesmas Jombang, South Tangerang City with 100 adult respondents aged 36-45 years who were selected using the Purposive Sampling Technique. Data collection used data analysis tools using the Pearson Correlation test. The results of the correlation test of nutritional status, sodium, and fiber intake on systolic have a p value of 0.096; 0.912; 0.054 and has an r value of 0.162; 0.193; 0.011. The results of the correlation test analysis of nutritional status, sodium and fiber intake on diastole have a p value of 0.058; 0.250; 0.074. Nutritional status, sodium and fiber intake have no correlation with systolic and diastolic blood pressure. More in depth studies at the molecular level are needed to identify in more detail the risk factors for hypertention in the adult group. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui arah dan kekuatan hubungan status gizi, asupan natrium, dan asupan serat terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian dilakukan pada November 2020 di UPT Puskesmas Jombang Kota Tangerang Selatan dengan jumlah responden dewasa berusia 36-45 tahun sebanyak 100 orang yang dipilih menggunakan Teknik Purposive Sampling. Analisis data yang digunakan uji Korelasi Pearson. Hasil uji korelasi status gizi, asupan natrium, dan serat terhadap sistolik memiliki nilai p yaitu 0,096; 0,912; 0,054 serta memiliki nilai r yaitu 0,162; 0,193; 0,011. Hasil analisis uji korelasi regresi status gizi, asupan natrium, dan serat terhadap diastolik memiliki nilai p yaitu 0,058; 0,250; 0,074. Status gizi, asupan natrium, dan serat tidak memiliki korelasi terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik. Diperlukan kajian lebih dalam hingga ke tingkat molekuler untuk mengidentifikasi lebih detail faktor resiko hipertensi pada kelompok dewasa.
Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan Terhadap Fisikokimia Tepung Pisang Mas Manggabarani, Saskiyanto; Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Febriyanti, Lilian
Journal of Nursing and Health Science Vol. 2 No. 3 (2023): Edisi Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pertamedika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58730/jnhs.v2i3.213

Abstract

Mas banana has the potential to be developed into flour products due to its starch, fiber, and functional compound content. This study aims to analyze the effect of various heating temperatures on the physicochemical properties of Mas banana (Musa acuminata) flour. The research design used was a one-factor Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, namely without heating (P0), oven heating at 60°C for 6 hours (P1), 80°C for 4 hours (P2), and 100°C for 2 hours (P3), each repeated three times. The parameters analyzed included moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, mineral (potassium and magnesium) content, and functional properties in the form of water absorption capacity (WAC) and oil absorption capacity (OAC). The results showed that increasing the heating temperature decreased the moisture, protein, and fat content significantly (p < 0.05), while the ash and carbohydrate content increased. The potassium and magnesium content decreased by approximately 15% and 13%, respectively, due to mineral volatility during heating. WAC and OAC values increased with increasing temperature, indicating partial starch gelatinization and protein denaturation, which increased water and oil binding capacity. Darkening of the flour color at higher temperatures indicates the Maillard reaction and pigment degradation. Heating at 80°C for 4 hours (P2) produced flour with the best characteristics—low moisture content, bright color, and optimal functional properties. Therefore, medium-temperature drying is recommended to produce high-quality banana flour that is physically stable and nutritionally sound, and has potential for use in functional food product formulations.
Formulasi Snack Bar Pisang Mas dengan Substitusi Daun Kelor terhadap Karakteristik Fisik dan Kandungan Gizi sebagai Pangan Fungsional Ibu Menyusui Manggabarani, Saskiyanto; Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Abriyani, Afifah Hasna
Journal of Nursing and Health Science Vol. 3 No. 1 (2023): Edisi Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pertamedika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58730/jnhs.v3i1.214

Abstract

Masa menyusui merupakan periode penting dalam kehidupan ibu dan bayi, di mana kebutuhan zat gizi meningkat untuk menunjang produksi air susu ibu (ASI) dan menjaga kesehatan ibu. Inovasi pangan fungsional praktis seperti snack bar dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kandungan gizi dan mutu sensorik snack bar pisang mas (Musa acuminata) sebagai pangan fungsional ibu menyusui. Penelitian menggunakan rancangan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan empat perlakuan substitusi daun kelor (0%, 5%, 10%, dan 15%) dan tiga kali ulangan. Analisis meliputi proksimat, zat besi, kalsium, vitamin A, antioksidan, serta uji organoleptik (rasa, aroma, warna, dan tekstur). Hasil menunjukkan bahwa substitusi daun kelor berpengaruh nyata terhadap peningkatan kandungan protein, zat besi, kalsium, dan vitamin A (p
Optimalisasi Formulasi Dan Fortifikasi Vitamin B Pada Snack Brownies Crispy Daun Kelor Terhadap Daya Terima Dan Total Plate Count Sebagai Pangan Fungsional Untuk Anemia Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Kusuma, Andini Permata; Manggabarani, Saskiyanto
Journal of Nursing and Health Science Vol. 5 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pertamedika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58730/jnhs.v5i1.220

Abstract

Latar belakang: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang tinggi di Indonesia, terutama pada perempuan usia reproduktif dan remaja putri. Upaya pencegahan melalui pendekatan pangan fungsional berbasis bahan lokal menjadi solusi potensial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan formulasi brownies crispy daun kelor (Moringa oleifera) yang difortifikasi vitamin B terhadap daya terima konsumen dan mutu mikrobiologis (Total Plate Count). Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor: tingkat substitusi tepung daun kelor (0%, 5%, 10%, 15%) dan fortifikasi vitamin B (tanpa dan dengan fortifikasi folat dan B12). Analisis meliputi kadar proksimat, zat besi, folat, vitamin B12, uji organoleptik (warna, aroma, rasa, kerenyahan, keseluruhan), serta Total Plate Count selama penyimpanan 28 hari. Data dianalisis menggunakan ANOVA dua arah. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi daun kelor berpengaruh signifikan terhadap kadar protein (p=0.002), abu (p=0.001), dan zat besi (p=0.000), sedangkan fortifikasi vitamin B berpengaruh signifikan terhadap kadar folat (p=0.000) dan vitamin B12 (p=0.000). Tidak terdapat interaksi signifikan antara kedua faktor terhadap parameter kimia utama (p>0.05). Formulasi optimal diperoleh pada perlakuan S1F1 (5% daun kelor + fortifikasi vitamin B) dengan skor organoleptik keseluruhan 7.92 (kategori “suka”), kadar Fe 3.95 mg/100 g, folat 39.56 µg/100 g, vitamin B12 1.51 µg/100 g, dan nilai TPC
EDUCATION AND PRODUCTION OF CRISPY BROWNIES AS A FUNCTIONAL FOOD FOR ANEMIA MOTHERS WITH MORINGA LEAF FLOUR SUBSTITUTION Tanuwijaya, Rani Rahmasari; Manggabarani, Saskiyanto; Salim, Sahila Tania
Journal Community Service of Health Science Vol. 4 No. 1 (2025): February
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pertamedika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58730/jcshs.v4i1.225

Abstract

Anemia defisiensi besi pada ibu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada peningkatan risiko komplikasi kehamilan, pertumbuhan janin terhambat, dan penurunan kualitas hidup. Upaya pencegahan anemia perlu mengintegrasikan edukasi gizi dan intervensi berbasis pangan lokal yang mudah diterapkan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran ibu mengenai pencegahan anemia melalui edukasi dan demonstrasi pembuatan brownies crispy berbasis tepung daun kelor sebagai pangan fungsional. Kegiatan dilaksanakan di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor pada tahun 2024, melibatkan 40 ibu balita. Metode kegiatan meliputi ceramah, diskusi, demonstrasi pembuatan produk, serta evaluasi pengetahuan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test yang dianalisis secara deskriptif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan peserta mengenai anemia, dengan lebih dari 87% peserta mengalami peningkatan skor setelah edukasi. Peserta juga memperoleh keterampilan dalam mengolah brownies crispy berbahan dasar daun kelor dan pisang mas yang dinilai mudah dipraktikkan, disukai keluarga, serta memiliki potensi meningkatkan asupan mikronutrien, terutama zat besi. Pendekatan praktik langsung terbukti efektif meningkatkan motivasi, kemandirian, dan penerapan ilmu gizi di tingkat rumah tangga. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pangan lokal fungsional dapat menjadi strategi promotif dan preventif yang relevan dalam penanggulangan anemia. Program lanjutan diharapkan mencakup sesi rutin edukasi gizi dan pengembangan formulasi produk untuk optimalisasi kandungan gizi.