Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Beras pratanak, Mutu, Steaming, Pengaruh Variasi Steaming Time Terhadap Mutu Fisik dan Sensorik Dari Beras Pratanak Pada Padi Varietas Lokal di Kabupaten Aceh Tengah: Pengaruh Variasi Steaming Time Terhadap Mutu Fisik dan Sensorik Dari Beras Pratanak Pada Padi Varietas Lokal di Kabupaten Aceh Tengah irwansyah irwan; Syahirman Hakim; Muhammad Zulfikar Nasuution; Syifa Saputra; Rustam Efendi
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 18, Nomor 2, Oktober 2025
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The steaming process is one of the stages a make parboiled rice process that produces brown rice. Brown rice is one of the foods widely consumed because it is healthy. This study aims to determine the analysis of the The steaming process is one of the stages of the parboiled rice process that produces brown rice. Brown rice is one of the foods widely consumed because it is healthy. This study aims to determine the analysis of the physical, chemical, and sensory properties of parboiled rice quality resulting from steaming treatment in Central Aceh Regency. The research method used is descriptive with steaming treatment at 90°C with steaming time treatment of 20 minutes, 25 minutes, and 30 minutes. Based on the results of physical tests, the physical quality of the rice head is 62.5% in the steaming treatment at 90°C with 30 minutes including medium rice quality 3 based on SNI Rice 6128: 2015. The higher the percentage of head rice yield, a lower on percentage of broken rice and rice grits. Based on the results of chemical tests, brown rice has nutritional content such as fat content, protein content, and high carbohydrate content than brown rice processed without steaming treatment. Based on the sensory test of parboiled rice by panelists, overall, the color, texture, taste, and aroma were assessed, namely steaming at a temperature of 90°C for 30 minutes with a liking category of 6.49. The effect of temperature and time during steaming on parboiled rice can affect quality and sensory.
PENGUATAN PEMAHAMAN ECO-FRIENDLY BAGI CALON PENGEMUDI DALAM MENJAGA LINGKUNGAN BERKENDERA Reza Fahmi; Syifa Saputra; Sumanti Sumanti; Faizin Faizin; Munawar Munawar; Aidil Amar; Cut Roswita; Marlina Marlina; Muhammad Fikri; Munawir Munawir
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19820

Abstract

Abstrak: Pengemudi eco-friendly memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga keselamatan dan lingkungan. Pengendara yang baik tentu memahami teknik menjadi pengemudi yang ramah lingkungan. Untuk meningkatkan pemahaman ini, diperlukan kegiatan pelatihan terstruktur melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada calon pengemudi tentang cara mengemudi yang aman dalam keselamatan berkendara, termasuk cara menghindari resiko kecelakaan. Membentuk karakter mitra dan calon pengemudi yang bertanggung jawab dan sadar lingkungan membantu mengurangi dampak negatif kendaraan terhadap lingkungan dan meningkatkan keselamatan lalu lintas. Mitra dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah di Rizki Driving Center (RDC) dengan sasaran peserta adalah calon pengemudi yang sedang belajar mengemudi pada Rizki Driving Center, jumlah peserta yang dilibatkan sebanyak 25 peserta. Pelaksanaan kegiatan dilakukan sebanyak lima kali pertemuan dimulai dari tanggal 15 juli 2023 sampai dengan 10 Agustus 2023, metode pelaksanaan berupa pelatihan dan edukasimenggunakan experince probased method. Teknik untuk mendapatkan data menggunakan teknik Ppre-test dan postt-test, dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan pengabdian. Hasil pretestpostest menunjukkan bahwa peserta 65% peserta masih kurang memahami cara mengemudi yang ecofriendly dan 75% calon peengemudi masih belum mampu memperioritaskan keselamatan. Sedangkan hasil postest yang dilakukan calon peengemudi sudah 90% memahami cara mengemudi yang ecofriendly dan 90% peserta sudah mampu memahami teknik berkendara yang baik serta dapat menjaga etika berlalu lintas. Dengan adanya peningkatan pemahaman ecofriendly, calon pengemudi akan mampu untuk memahami teknik berkendara yang baik dalam menjaga lingkungan.Abstract: Eco-friendly drivers play a very important role in maintaining safety and the environment from negative impacts while driving. Good drivers understand eco-friendly techniques and fuel supply. To improve this understanding, structured training activities are needed through community service activities. Community service activities aim to provide prospective drivers with an understanding of how to drive safely in driving safety, including how to avoid the risk of accidents. Shaping the character of partners and prospective drivers who are responsible and environmentally conscious helps reduce the negative impact of vehicles on the environment and improve traffic safety. The partner in implementing this activity is at the Rizki Driving Center (RDC) with the target participants being prospective drivers who are learning to drive at the Rizki Driving Center, the number of participants involved is 25 participants. The implementation of the activity was carried out for five meetings starting from July 15, 2023 to August 10, 2023, the method of implementation was training and education. Techniques for obtaining data using pre-test and post-test techniques, carried out to determine the level of understanding of participants before and after the implementation of service activities. The pretest results showed that 65% of participants still did not understand how to drive ecofriendly and 75% of prospective drivers were still unable to prioritize safety. While the results of the posttest conducted by prospective drivers are 90% understanding how to drive ecofriendly and 90% of participants have been able to understand good driving techniques and can maintain traffic ethics. With an increase in ecofriendly understanding, prospective drivers will be able to understand good driving techniques in protecting the environment.   
SOSIALISASI KENYAMANAN TERMAL PADA RUMAH LAYAK HUNI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS HUNIAN DI WILAYAH TROPIS Zuraihan Zuraihan; Idayani Idayani; Fitri Muliani; Syifa Saputra; Muhammad Yanis; Noor Fazila
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.28588

Abstract

Abstrak: Rumah layak huni merupakan hunian yang memenuhi standar kualitas, kenyamanan, aksesibilitas, kesehatan, dan keberlanjutan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman. Namun, minimnya pemahaman masyarakat mengenai kenyamanan termal sering kali menyebabkan pembangunan rumah hanya mengacu pada desain gambar tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan, seperti orientasi bangunan, ventilasi, dan material yang digunakan. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan termal rumah layak huni melalui sosialisasi dan penerapan desain prototipe yang menyesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Kegiatan ini melibatkan 15 peserta, terdiri dari perangkat desa, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta Pendamping Lokal Desa (PLD). Evaluasi dilakukan melalui angket pre-test dan post-test, wawancara, serta observasi langsung terhadap implementasi desain adaptif di rumah percontohan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa rumah contoh dapat dikategorikan layak huni, namun masih terdapat variabel yang memengaruhi kualitas kenyamanan termal, yaitu arah ventilasi dan bukaan, jumlah penghuni, luas rumah, serta jenis material bangunan. Sosialisasi ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta sebesar 60%, terutama dalam aspek perencanaan ventilasi silang dan pemilihan material isolasi termal. Selain itu, pengukuran menggunakan 5-in-1 Environment Meter menunjukkan adanya penurunan suhu ruangan rata-rata sebesar 2°C setelah dilakukan perbaikan ventilasi dan penggunaan material yang lebih sesuai. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi dan intervensi desain adaptif dapat meningkatkan kenyamanan termal dan kualitas hunian di wilayah tropis.Abstract: A habitable house is a dwelling that meets the standards of quality, comfort, accessibility, health, and sustainability, as regulated in Law No. 1 of 2011 on Housing and Settlement Areas. However, limited public understanding of thermal comfort often results in house construction that solely follows design blueprints without considering environmental factors such as building orientation, ventilation, and materials used. This community service activity aims to enhance thermal comfort in habitable houses through socialization and the implementation of a prototype design adapted to local climate conditions. The activity involved 15 participants, including village officials, members of the Family Empowerment and Welfare group (PKK), and Local Village Facilitators (PLD). Evaluation was conducted using pre-test and post-test questionnaires, interviews, and direct observation of adaptive design implementation in sample houses. The results indicate that while the examined houses can be categorized as habitable, certain factors still influence thermal comfort, including ventilation orientation and openings, number of occupants, house size, and building materials. This socialization program successfully improved participants' knowledge and skills by 60%, particularly in planning cross-ventilation and selecting thermal insulation materials. Additionally, measurements using a 5-in-1 Environment Meter recorded an average indoor temperature reduction of 2°C after ventilation improvements and the use of more suitable materials. These findings demonstrate that education and adaptive design interventions can enhance thermal comfort and overall housing quality in tropical regions.
PENGUATAN PERAN PEREMPUAN DALAM MENDUKUNG GREEN EKONOMI BERKELANJUTAN Syifa Saputra; Sri Wahyuni; Khairul Hasni; Aidil Amar; Reza Fahmi; Aisyah Aisyah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26886

Abstract

Abstrak: Perempuan merupakan objek utama sebagai agen perubahan dalam membentuk karakter sosial yang tinggi khususnya dalam sektor kehutanan maupun pengelolaan secara berkelanjutan. Dalam membentuk karakter sosial, diperlukan suatu aktivitas yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan salah satunya adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkuat peran perempuan dalam mendukung green ekonomi berkelanjutan melalui peningkatan pengetahuan dan pemahaman. Metode pelaksanaan kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan. Peserta yang dilibatkan adalah perempuan yang terlibat pada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Kampung Waq Pondok Sayur Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah dengan jumlah peserta terlibat sebanyak 50 orang. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan melalui kegiatan pretest dan posttest. Berdasarkan hasil pretest menunjukkan bahwa aspek gender, 100% peserta menginginkan peran, hak, dan akses yang sama dengan laki-laki, namun 30% menyatakan netral dalam pembagian tugas berdasarkan kesetaraan gender. sementara aspek manajemen organisasi, 100% peserta setuju akan perlunya kejelasan struktur organisasi dan pengelolaan yang baik, sedangkan 20% menyatakan netral dalam pembagian tugas yang adil. Dalam aspek jasa lingkungan, 100% peserta setuju akan pentingnya pengelolaan hutan dan peningkatan ekonomi. Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan signifikan. Pada aspek gender, 70% peserta setuju bahwa pembagian tugas kini lebih adil, dan 70% menyatakan sangat setuju bahwa perempuan dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi. Dalam manajemen organisasi, 75% peserta menyatakan setuju dan 25% sangat setuju akan perlunya struktur organisasi yang jelas. Untuk jasa lingkungan, 25% peserta menyatakan sangat setuju bahwa perempuan harus berperan sebagai agen perubahan dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, sehingga dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan ekonomi berkelanjutan.Abstract: Women are the main object as agents of change in shaping high social character, especially in the forestry sector and sustainable management. In shaping social character, an activity that can increase knowledge and skills is needed, one of which is community service activities. The purpose of this activity is to strengthen the role of women in supporting a sustainable green economy through increased knowledge and understanding. The method of implementing activities is in the form of education and training. The participants involved were women involved in the Social Forestry Business Group of Waq Pondok Sayur Village, Bukit District, Bener Meriah Regency with a total of 50 participants involved. Monitoring and evaluation carried out through pretest and posttest activities. Based on the pretest results, it shows that in the gender aspect, 100% of participants want the same roles, rights, and access as men, but 30% are neutral on the division of tasks based on gender equality. While in the organizational management aspect, 100% of participants agree on the need for clarity of organizational structure and good management, while 20% are neutral on the fair division of tasks. In the aspect of environmental services, 100% of participants agreed on the importance of forest management and economic improvement. The posttest results showed a significant improvement. On the gender aspect, 70% of participants agreed that the division of tasks is now more equitable, and 70% strongly agreed that women can contribute to economic improvement. In organizational management, 75% of participants agreed and 25% strongly agreed on the need for a clear organizational structure. For environmental services, 25% of participants strongly agreed that women should act as agents of change in sustainable development. Thus, this activity succeeded in increasing the knowledge and skills of participants, so that they can become agents of change in improving a sustainable economy.
Public Perceptions And Acceptance Of Ecoenzyme-Based Environmentally Friendly Soap In Lhokseumawe City Jannatul Liani; Abdul Malik; Syifa Saputra
International Journal of Social Science, Educational, Economics, Agriculture Research and Technology (IJSET) Vol. 5 No. 9 (2026): AUGUST
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ecoenzyme-based soap, formulated using fermented organic waste, may support household-level waste management and greener cleaning practices. This study examined public perceptions, acceptance, and perceived social and environmental implications of ecoenzyme-based environmentally friendly soap in Lhokseumawe City. A convergent mixed-methods design based on the Theory of Planned Behavior was used. Quantitative data were obtained from 54 questionnaire respondents and analyzed descriptively, while qualitative data were collected through in-depth interviews with 10 key informants and analyzed thematically using NVivo 12. Community perception was positive (mean = 4.29), with environmental friendliness receiving the highest rating (mean = 4.72). Acceptance was strong (mean = 4.50), led by interest in using ecoenzyme soap as an alternative to conventional soap (mean = 5.00). Family support, perceived ease of use, environmental benefits, and perceived safety were important enabling factors. However, limited technical knowledge, product availability, and affordability may constrain sustained use. The findings indicate that high stated acceptance reflects behavioral intention rather than verified routine adoption. Education on production and use, quality standardization, and improved access are needed to translate favorable perceptions into sustained household practice