Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PRAKTIK IBU BALITA GIZI KURANG SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN PMBA DI DESA BUNUT BAOK Laraeni, Yuli; Irianto; Darawati, Made; Fajri, Himmatul
Media Bina Ilmiah Vol. 19 No. 12: Juli 2025
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PMBA adalah program pemerintah yang bertujuan menurunkan angka stunting. Berdasarkan data SSGI tahun 2022, NTB menempati urutan ke-4 prevalensi stunting tertinggi sebesar 35,5%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan tingkat pengetahuan dan praktik ibu balita gizi kurang usia 6-23 bulan sebelum dan sesudah diberikan kelas PMBA menggunakan media video berbahasa Sasak. Metode yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 orang. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan (p=0.000) dan praktik (p=0.000) ibu balita setelah intervensi. Media video berbahasa lokal terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan praktik pemberian makan pada balita. Penelitian ini menunjukkan bahwa kelas PMBA dengan pendekatan budaya lokal memberikan dampak positif.Kata Kunci: Bahasa Sasak, Pengetahuan, Pelatihan, Video
COOK HEALTHY MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENYIAPKAN MENU SEIMBANG REMAJA PUTRI SEBAGAI UPAYA MENCEGAH ANEMIA Laraeni, Yuli; Sulendri, Ni Ketut Sri; Wahyuningsih, Retno
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 5 No. 1 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v5i1.1321

Abstract

Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2005, menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil 50,9%, ibu nifas 45,1%, remaja puteri  usia 10-14 tahun 57,1%, wanita usia subur (WUS) usia 17-45 tahun sebesar 39,5% (Supriyono. 2010) Remaja puteri memiliki risiko sepuluh kali lebih besar menderita anemia dibandingkan dengan remaja putera. Hal ini dikarenakan remaja  puteri mengalami menstruasi setiap bulannya, sedang dalam masa  pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Remaja  puteri biasanya  sangat memperhatikan bentuk tubuh, sehingga banyak yang membatasi konsumsi makanan dan banyak pantangan terhadap makanan. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengabmas ini  Remaja puteri di Dusun Bengkel Selatan 1  Desa Bengkel Kecamatan Labuapi mengatasi anemia  dengan pemanfaatan makanan tinggi protein dan Fe berbasis pangan lokal dengan pendampingan cara penggolahan makanan (cook healthy) adalah salah satu cara mengolah bahan makanan yang tinggi protein dan Fe dengan cara yang benar dan tidak menghilangan zat gizi yang terdapat dalam bahan makanan sehingga makanan yang terolah bermanfaat untuk peningkatan protein dan Fe dalam tubuh, sebanyak 15 remaja puteri. Metode yang diterapkan dalam pendampingan ini dengan melakukan  praktek pengolahan bahan makanan tinggi protein hewani dan Fe untuk diterapkan di rumahnya selama sebulan seminggu 1 kali. Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi untuk melihat dampak pendampingan cook healthy terhadap remaja puteri dalam mengolah makanan tinggi protein hewani dan Fe melalui lomba. Terjadi peningkatan pengetahuan melalui pendampingan cook healthy pada remaja putri. The household health research (SKRT) 2005 reports that the anemia prevalence on pregnant women is at 50.9%, on postpartum mothers is at 45.1%, on female teenagers around 10-14 years old is 57,1%, on mature age women around 17-45 years old is 39,55% anemia was found (Supriyono. 2010).  Female teenagers suffering anemia possibilities are ten times greater risk compared to male teenagers risk of suffering anemia. This phenomenon happens because female teenagers are in a growing progress as well as experiencing menstruation monthly. Thus monthly. Thus monthly. Thus, they require more iron intake to support the growth of their body. For the sake of fulfilling their “body goal”,  the female teenagers often restrict on consuming some foods and committed some eating “taboo”. By seeing these phenomena, the research is aimed at preventing the anemia by means of high protein traditional based foods. The “cook healthy” is one of the high protein and Fe cooking technique without no decreasing on nutrition containing in particular foods. This cooking technique was believed to have significant effects on anemia suffering by 15 female teenagers. The cooking techniques were given once a week in one month along with home practices. by the end of the program,  an evaluation was carried out to see the impact of “cook healthy” assistance on female teenagers’ skills in processing high animal protein and Fe foods. The result shows that there was a significant effects of “cook healthy” on female teenagers skill processing high animal protein and Fe foods with p = 0,006 (p<0,05).  
Gambaran Tingkat Pengetahuan, Sikap Tindakan terhadap Tablet Fe, dan Status Gizi pada Remaja Putri Anemia ansyariah, ummarroh; Laraeni, Yuli; Utama, L. Juntra; Adiyasa, I Nyoman
Student Journal Nutrition (SJ Nutrition) Vol. 2 No. 2 (2023): Student Journal Nutrition (SJ NUTRITION)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/sjn.v2i2.24

Abstract

Background : Anemia is a body condition in which the level of hemoglobin in the blood is below normal or is experiencing a decrease. Based on the 2018 Riskesdas data, the prevalence of anemia in adolescents is 32%, meaning that 3-4 out of 10 adolescents suffer from anemia. The percentage of young women consuming iron tablets <52 was 98.6%, while young women consuming iron tablets > 52 was 1.4% (Ministry of Health, 2018). Research Methods: The research method used is analytic observational, with a cross-sectional research design. The sample used was 33 young women who had anemia. Research Results: Description of the level of knowledge is 10 (30.3%). Less than 13 people (39.4%) and 10 students who have a good level of knowledge (30.3%). The average attitude level is 14 (42.4%). The attitude level is less than 5 (15.2%) and 5 students have a good attitude level (15.2%). Description Action Level is being there are 9 people (27.3%). Less action rate as many as 19 students (57.6%). Good action as much as 5 students (15.2%). The nutritional status description of the sample is 27 female students who have a good nutritional status level (82%). There were 2 undernourished students (6%), 2 students who were in the overnutrition category (6%), 2 students who were in the Obesity category (6%). Conclusion: The highest level of knowledge is in the less category, 13 people with a percentage of 39%. The highest level of attitude in the medium category is 14 people with a percentage of 42.4%. and the highest level of action was in the less category, namely 57.6%, and the highest nutritional status was in the good category, namely 27 people with a percentage of 82%. Keywords: Level of Knowledge, Attitudes, Actions, Nutritional Status, Anemia, and Young Women.
EDUKASI TENTANG PENERAPAN GIZI SEIMBANG PADA 1000 HPK REMAJA PUTRI UPAYA UNTUK MENCEGAH STUNTING Laraeni, Yuli; Sulendri, Ni Ketut Sri; Wahyuningsih, Retno; Darni, Joyeti; Pratiwi, Intan Gumilang
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 5 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v5i2.1563

Abstract

Timbulnya masalah gizi pada remaja pada dasarnya dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidak seimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Bila konsumsi gizi selalu kurang dari kecukupan maka seseorang akan mengalami gizi kurang. Sebaliknya jika konsumsi melebihi kecukupan akan menderita gizi lebih. Adapun tujuan pelasanaan kegiatan meningkatkan pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja putri dan mempersiapkan dan memotivasi remaja puteri untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang pada periode 1000 HPK untuk mencegah stunting. Remaja Puteri di Dusun Bengkel Selatan 1  Desa Bengkel Kecamatan Labuapi. Metode kegiatan pemberian konsultasi gizi tentang edukasi dalam penerapan gizi seimbang pada 1000 HPK pada kelompok sasaran dengan menggunakan metode secara langsung yaitu assessment masalah gizi dan pemberian konsultasi gizi dan metode yang digunakan adalah pemberian contoh makanan bergizi  yang sesuai dengan prinsip-prinsip gizi seimbang. Pengukuran antropometri. Pada akhir kegiatan dilkukan evaluasi hasil terjadinya peningkatan pegetahuan tentang makanan gizi seimbang sebelum edukasi pengetahuan yang baik sebesar 46,7% setelah edukasi menjadi 80 %, untuk pengetahuan sedang sebelumnya 46,7 % menjadi 20% dan pengetahuan kurang 6,6 % setelah penyuluhan dan pemberian contoh makanan semua menjadi katagori baik dan sedang. Saran: Koordinasi dengan pihak aparat dan puskesmas terkait lebih ditingkatkan mengingat masih terdapat sasaran yang perlu mendapatkan tindak lanjut karena mengalami anemia dan mengalami KEK.
PENGENALAN MAKANAN BERGIZI UNTUK MENURUNKAN ANGKA STUNTING DAN PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM) Laraeni, Yuli; Pratiwi, Intan Gumilang
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 6 No. 1 (2024): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v6i1.1747

Abstract

Stunting merupakan salah satu status gizi yang mengindikasikan terjadinya kekurangan zat gizi dan penyakit penyakit infeksi yang kronis dan berulang, Sebagian besar stunting  dimulai saat janin/bayi berada pada priode 1000 Hari Pertama Kehidupan  (1000 HPK) separuh dari periode ini terjadi saat di dalam kandungan. Data Riskesdas 2013 nenunjukkan bahwa mereka yang dilahirkan dengan BBLR mempunyai resiko stunting usia dibawah 2 tahun 2,5 kali lebih besar dibandingkan yang lahir dengan BB normal, indikasi bahwa kemungkinan besar stunting terjadi bersamaan dengan terjadinya proses penurunan kemampuan  kognitif dan meningkatnya risiko Penyakit Tidak Menular. Berdasarkan data Profil Puskesmas Selaparang  dan dialog dengan tokoh-tokoh yang bersangkutan, terdapat beberapa permasalahan kesehatan yang ada di lokasi, antara lain stunting yaitu terdapat 31 balita dengan indikator sangat pendek 11 balita dan pendek 20 balita, ibu hamil KEK di Kelurahan Sayang-Sayang pada bulan Januari-Maret 2024 sebanyak 2 ibu hamil, hipertensi satu tahun terakhiur mengalami peningkatan kasus sebanyak 364 kasus dan diabetes melitus pada satu tahun terakhir sebanyak 247 kasus. Tingginya presentase balita stunting, kasus hipertensi dan DM, ibu Hamil KEK. Tujuan Dari Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Ini Adalah Untuk Memberikan Edukasi Dan Pengenalan Makanan Bergizi Untuk Menurunkan Angka Stunting Dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM)
EDUKASI GIZI TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN IBU HAMIL PENDERITA KURANG ENERGI KRONIS (KEK) DALAM PEMBUATAN MAKANAN GIZI SEIMBANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KURIPAN KABUPATEN LOMBOK BARAT Laraeni, Yuli; Abdi, Lalu Khairul; Irianto; Cahyaningrum, Aladhiana; Andini, Dilla
Media Bina Ilmiah Vol. 19 No. 3: Oktober 2024
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurang energi kronis (KEK) merupakan suatu keadaan atau kondisi dimana ibu hamil mengalami kekurangan makanan yang berlangsung lama atau menahun ( kronis) yang dimana dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi ibu selama masa kehamilan,dimana kebutuhan zat gizi untuk ibu hamil pada masa kehamilan akan terus meningkat selama masa kehamilannya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018 prevalensi KEK pada wanita hamil di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) lebih tinggi dibandingkan prevalensi Indonesia yaitu sebesar 21,5% (Indonesia: 17,3%). Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2012, yaitu sekitar 19,98%. Jenis penelitian adalah penelitian Pra Eksperiment dengan rancangan one groupe test and post test design.Lokasi penelitian yaitu di wilayah kerja Puskemsas Kuripan Kabupaten Lombok Bara. Penelitian dilakukan pada bulan januari tahun 2022 dengan sampel yang berjumlah 10 orang ibu hamil KEK. Karakteristik umur ibu hamil yang paling banyak berusia 20-35 tahun sebanyak 9 orang ( 90%), pendidikan mayoritas ibu berpendidikan sekolah menengah sebanyak 6 orang (60%) , pekerjaan sebagian besar ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga) sebanyak 9 orang (90%) parparitas ibu hamil mayoritas paling banyak yaitu paritas ke-1 sebanyak 7 orang (70%) usia kehamilan ibu paling banyak pada trimeter 2 sebanyak 5 orang (50%) Rata-rata skor sebelum dilakukan edukasi gizi dalam pembuatan makanan gizi seimbang tingkat pengetahuan ibu hamil tergolong kedalam kategori sedang dan kategori keterampilan ibu hamil tegolong dalam kategori kurang terampil dan setelah dilakukan edukais gizi tingkat pengetahuan ibu meningkat menjadi kategori baik dan untuk keterampilan tergolong dalam kategori terampil dengan p value =004.
EDUKASI HIPERTENSI DAN DIET DASH MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO ANIMASI PADA PASIEN HIPERTENSI Cahyaningrum, Aladhiana; Laraeni, Yuli; Ananda Liza Aryansyah Putri; Gumilang Pratiwi, Intan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 7 No. 1 (2025): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v7i1.1946

Abstract

Hypertension is known as the silent killer because it typically doesn't cause symptoms or complaints, so many sufferers are unaware of it. Central Lombok Regency has the second-highest number of hypertension cases in West Nusa Tenggara Province, with 58,666 cases, consisting of 27,980 men and 30,686 women. Most people with hypertension are unable to control their condition, likely due to varying knowledge and perceptions about managing their condition. One health program that can be used to change attitudes among people with hypertension is to provide nutritional information or education about the DASH diet, which is essential for blood pressure control. The purpose of this Community Service Program (PKM) is to increase the knowledge of hypertensive patients in an effort to improve their health status so that blood pressure remains under control and thus can prevent or inhibit complications of other diseases. The PkM activity was carried out through direct counseling for outpatients at the Praya Health Center using video media, and blood pressure measurements and measuring pre-post-test knowledge. The results of this PkM activity were increased patient knowledge and an average patient blood pressure of 145.5 mmHg for systolic blood pressure and 85,3 mmHg for diastolic blood pressure