Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 terhadap Ekspresi Budaya Tradisional di Kabupaten Sleman Dyah Permata Budi Asri
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 23 No. 4: OKTOBER 2016
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issues in this research include first, how is the protection for the traditional-cultural expression recently done in Sleman Regency? Second, how is the attempt of Department of Culture and Tourism of Sleman Regency towards the legal protection to the traditional cultural expression in Sleman Regency? This is a juridical-empirical research by taking the primary data from the research field through observation and interview done to the informants (Department of Culture and Tourism of Sleman Regency and Ministry of Law and Human Rights, Regional Office of Special District of Yogyakarta) and supported with the secondary data. The result of this research concluded that first the protection given by the Local Government related to the obligation mandated by regulation of Copy Right is through the inventory, documentation and other activities regarding the cultural affair of speciality of Yogyakarta. Second, the further attempt to give the protection for the traditional culture expression in Sleman Regency is by making the database of culture based on the information system; thus, it can be accessed by all parties and as a media to promote the tourism in Sleman Regency.
Perlindungan Hukum Terhadap Kebudayaan Melalui World Heritage Centre UNESCO Dyah Permata Budi Asri
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 25 No. 2: MEI 2018
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol25.iss2.art3

Abstract

Legal protection for culture is important because Indonesia has a diversity of cultures which serve as valuable assets. The problems of this study were first, why is the arrangement of Traditional Cultural Expressions in DIY needed in order to provide protection? Second, what is the legal protection of traditional cultural expressions according to UNESCO World Heritage Center? This study aimed to find out about the reasons why the protection for TCE is important and the TCE protection according to UNESCO World Heritage Center. This was a normative legal research using both primary and secondary data. The result of this research concludes that Yogyakarta has carried out efforts to protect and maintain culture because this region has a diversity of cultures so there is a possibility that the ownership of these cultures is claimed by other parties. The local government of Yogyakarta has carried out inventory and documentation efforts, but these efforts are not yet optimal. UNESCO through its World Heritage Center has also performed inventory and documentation on Indonesian cultures. Preventive measures through inventory and documentation are needed to prevent Indonesian cultures from being claimed and exploited without permission by other countries. Until the present time, there are 19 (nineteen) Indonesian cultures that have received UNESCO’s recognition.
Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual Bagi Produk Kreatif Usaha Kecil Menengah Di Yogyakarta Dyah Permata Budi Asri
Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 27 No. 1: JANUARI 2020
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/iustum.vol27.iss1.art7

Abstract

There is a rather large presence of Small and Medium Enterprises (SMEs) as part of creative industry in Yogyakarta, yet the Intellectual Property Rights management is still very minimum. The problems in this study are, first, why the protection of Intellectual Property Rights is important for small and medium business entities as creative industries in the Special Region of Yogyakarta. Second, how is the role of the regional government of the Special Region of Yogyakarta in order to provide legal protection for Intellectual Property Rights to small and medium businesses in the special Region of Region Yogyakarta. This paper applies a juridical-empirical approach by using primary data. This study concludes that firstly, the potential market for creative industries has a tendency to develop continuously, since SMEs in Yogyakarta contribute 59% of Gross Domestic Revenue in Special Region of Yogyakarta hence the protection of IPRs on creative economic products to guarantee the economic rights of the creators is crucial. Secondly, the role of local governments at the moment in the context of providing IPR protection for SMEs is carried out by establishing an Intellectual Property Management Center (BPKI), and developing a website to provide IPR services, namely "JogjaKI".
Pengembangan Industri Kreatif UMKM Asal Yogyakarta Melalui Pendaftaran "Jogja Co Branding" Dyah Permata Budi Asri
Kosmik Hukum Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v18i2.3448

Abstract

Saat ini UMKM telah menjadi bagian penting dalam perekonomian di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Keberadaan UMKM menjadi salah satu pilar utama penggerak perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa masalah utama yang dihadapi UMKM adalah kemampuan teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM), akses pemasaran, akses permodalan, dan kualitas produk. Salah satu permasalahan UMKM yang akan diangkat dalam topik penelitian ini adalah dari akses pemasaran. Dinas Perindustrian Perdagangan, selanjutnya disebut Disperindag Provinsi DI Yogyakarta, telah berupaya berperan dalam mempromosikan produk UMKM yang ada di wilayah Yogyakarta, dengan membuat kebijakan penggunaan co-branding untuk produk UMKM di DI Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengetahui strategi pemasaran dalam konsep co-branding untuk memberikan perlindungan Merek bagi UMKM sesuai yang diamanatkan dalam Undang-undang Merek dan Indikasi Geografis Nomor 20 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian Yuridis Normatif. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa saat ini Pemerintah Daerah DI Yogyakarta telah memiliki regulasi yang akan mengatur mengenai merek dan budaya tradisional yang berasal dari DI Yogyakarta. Adanya strategi pemasaran co-branding tersebut memang tidak berdampak langsung pada perlindungan merek dagang seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang Merek, namun dengan menggunakan fasilitas co-branding tersebut secara tidak langsung produk-produk yang diajukan merek tersebut akan terdaftar sebagai produk yang berasal dari Yogyakarta. Strategi pemasaran dengan menggunakan dua merek atau lebih (co-branding) itu diharapkan bisa melindungi, melestarikan, dan mendokumentasikan produk-produk asal Yogyakarta dengan prosedur yang mudah. Kata kunci: Merek, UMKM, Co-Branding, Perlindungan Hukum
Analisis perlindungan hukum tindakan pencabutan konten secara Unilateral oleh Youtube berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Andhika Justisia; Dyah Permata Budi Asri
Kajian Hasil Penelitian Hukum Vol 4, No 1 (2020): Mei
Publisher : Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.762 KB) | DOI: 10.37159/jmih.v4i1.1228

Abstract

There are so many content creators that lost their video because of false claim using DMCA notice and takedown. When YouTube receive a report of copyright infringement using notice and takedown, YouTube must takedown that content video as soon as possible. There are three questions related to the problems. They are 1 How do the YouTube’s indicators related to copyright infringement look like reviewed using Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta 2 Are the content creators that lost their content video able to ask YouTube about the clarification of the copyright infringement 3 How is YouTube conduct reviewed using Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. In order to answer those questions, the researcher used normative research as and secondary data sources. Then, the researcher explained the result of the research using qualitative descriptive. It showed that YouTube does not have copyright infringement indicators. When taking down a content video, YouTube is only using the description provided by the claimer. That conduct did not match the theory of legal certainty. For the content creators that lost their content videos can do an appeal by sending a counter notice and takedown and sending a restoration content request to YouTube. The opportunity that is given by YouTube to the content creators that lost their content was match with the theory of justice. Reviewed using Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, YouTubes conduct is not violating any terms of that regulation.
ANALISIS HUKUM TERHADAP PELAKSANAAN HAK EKONOMI INDIKASI GEOGRAFIS SALAK PONDOH DI KABUPATEN SLEMAN Wawan Setiawan Wahyu Wicaksono; Dyah Permata Budi Asri
Kajian Hasil Penelitian Hukum Vol 5, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.192 KB) | DOI: 10.37159/jmih.v5i2.1727

Abstract

Indikasi Geografis di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan terhadap Indikasi Geografis sebagaimana bunyi Pasal 1 Angka 6 bahwa Indikasi Geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan.Dengan adanya perlidungan indikasi geografis terhadap salak pondoh Sleman akan menguntungkan dan juga dapat mendorong daerah yang bersangkutan untuk meningkatkan penjualannya sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Selain itu, dengan dilakukan nya pendaftaran perlindungan indikasi geografis terhadap salak pondoh Sleman, Kabupaten Sleman sebagai daerah penghasil salak akan mendapatkan reputasi yang baik sebagai daerah penghasil salak pondoh yang berkualitas.  Perlindungan Indikasi Geografis merupakan hal baru dalam rezim perlindungan hak kekayaan intelektual di Indonesia. Sistem perlindungan terhadap Indikasi Geografis diatur dalam Perjanjian Trade Related aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) yang mewajibkan negara-negara anggota untuk menyusun peraturan tentang Indikasi Geografis, dengan tujuan memberikan perlindungan hukum terhadap praktek atau tindakan persaingan curang.
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENERIMA FIDUSIA PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 18/PUU-XVII/2019 Wihandriati Wihandriati; Dyah Permata Budi Asri
Kajian Hasil Penelitian Hukum Vol 5, No 1 (2021): Mei
Publisher : Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.877 KB) | DOI: 10.37159/jmih.v5i1.1721

Abstract

Pada awalnya, Undang-Undang Fidusia membolehkan kreditur mengeksekusi sendiri objek jaminan fidusia, namun pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019 tanggal 6 Januari 2020 untuk melaksanakan eksekusi, kreditur harus mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri.Tujuan penulisan ini adalah mengetahui perlindungan hukum bagi penerima fidusia dan memahami upaya hukum bagi penerima fidusia pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019 tanggal 6 Januari 2020. Penelitian ini merupakan penelitian Yuridis Normatif. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: 1)  Perlindungan hukum bagi penerima fidusia pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019 tanggal 6 Januari 2020 berupa Perlindungan hukum Menurut KUHPerdata (Pasal 1238 KUHPerdata), Pasal 11 UU Fidusia, Asas Pacta Sunt Servanda pada Kontrak, Hukum Acara Perdata melalui Gugatan. 2) Upaya bagi penerima fidusia pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019 tanggal 6 Januari 2020 ialah Upaya Non Litigasi berupa Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Pembaharuan Hutang Pasal 1381 jo. 1413 KUHPerdata, Musyawarah Mufakat untuk Eksekusi di Bawah Tangan. Upaya Litigasi melalui Gugatan Wanprestasi, Mengajukan Sita dan atau Mengajukan Eksekusi berdasarkan Hukum Acara Perdata
Juridical study on the implementation of business strategy on group construction companies (holding companies) holding companies from business law perspectives Zai Syahril Nur; Dyah Permata Budi Asri; Murjiyanto Murjiyanto
Kajian Hasil Penelitian Hukum Vol 4, No 1 (2020): Mei
Publisher : Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.255 KB) | DOI: 10.37159/jmih.v4i1.1233

Abstract

The implementation of business strategies by Construction Holding Company in business diversification is very vulnerable to violations of Business Competition Law. Violations of business competition by Group Companies / Holding Companies are very crucial Business Competition Law issues. Conflicts of interest in business diversification connected with the jurisdiction of state sovereignty are a polemic of Business Competition Law. The occurrence of Monopolistic Practices and Unfair Competition by the Holding Company against the business world in a country is a violation of the law and contrary to the Business Competition Law. As for knowing the Implementation of Holding Company Business Strategy to Avoid Violation of Business Competition Law and Implementation of Business Competition Law against Prevention of Violations in the Implementation of Business Strategy in Holding Company Companies. From these problems the authors conducted research using normative juridical methods that emphasize the legal norms and laws and regulations and analyzed using descriptive qualitative methods. From the results of research and analysis it can be concluded that the Implementation of Business Strategy on Construction of holding must be guided by the law of business competition and apply good corporate governance and comply with it and carry out with ethics and morality. KPPU embodies business competition law against Prevention of Violations in the Implementation of Business Strategy in the business world by means of advocacy, consultation, namely by developing compliance programs with business competition law such as seminars / outreach and executive forums. In this way it is hoped that business actors, stakeholders and stakeholders can understand and disseminate knowledge in the business world.
Perlindungan hukum konsumen jasa kesehatan pada penyedia layanan khitan rumahan di Kota Yogyakarta Yoga Pratitis; R Murjiyanto; Dyah Permata Budi Asri
Kajian Hasil Penelitian Hukum Vol 4, No 1 (2020): Mei
Publisher : Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.687 KB) | DOI: 10.37159/jmih.v4i1.1232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perlindungan hukum konsumen jasa kesehatan pada penyedia layanan khitan rumahan di Kota Yogyakarta, mengkaji tanggungjawab penyedia layanan khitan rumahan di Kota Yogyakarta sebagai pelaku usaha dalam hal terjadi tindakan malpraktik yang menimbulkan kerugian pada konsumen jasa kesehatan, dan mengkaji upaya konsumen jasa kesehatan apabila terjadi tindakan malpraktik oleh penyedia layanan khitan yang menimbulkan kerugian terhadap kesehatan atau keselamatan jiwanya. Dalam rangka mencapai tujuan penelitian tersebut, dilakukan penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Setelah data diperoleh baik dari penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan hasil penelitian dengan cara memberikan penjelasan atas data yang diperoleh dan kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku, diarahkan, diartikan, dan diberi penjelasan kemudian disimpulkan untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan. Perlindungan hukum konsumen jasa kesehatan pada penyedia layanan khitan rumahan di Kota Yogyakarta dilaksanakan dengan adanya sejumlah aturan dan perangkat hukum yang melindungi hak-hak konsumen serta dengan pemenuhan sejumlah hak konsumen jasa kesehatan oleh penyedia layanan khitan rumahan. Tanggungjawab penyedia layanan khitan rumahan di Kota Yogyakarta sebagai pelaku usaha dalam hal terjadi tindakan malpraktik yang menimbulkan kerugian pada konsumen jasa kesehatan secara keperdataan dengan memberikan ganti kerugian, secara pidana menerima pemidanaan, dan secara administratif menerima pencabutan ijin praktik.Upaya yang dilakukan konsumen jasa kesehatan apabila terjadi tindakan malpraktik oleh penyedia layanan khitan yang menimbulkan kerugian terhadap kesehatan atau keselamatan jiwanya adalah melalui upaya di luar lembaga peradilan non litigasi dan melalui lembaga peradilan (litigasi) serta meminta bantuan lembaga perlindungan konsumen, seperti LKY, BPSK, dan LO DIY.
PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM MEREK BAGI INDUSTRI KREATIF UKM DI KLATEN PADA MASA PENDEMI COVID 19 Supolo Supolo; Dyah Permata Budi Asri
Kajian Hasil Penelitian Hukum Vol 4, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.256 KB) | DOI: 10.37159/jmih.v4i2.1742

Abstract

Keberadaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) saat ini telah berkembang dengan sangat cepat, namun kesadaran para pelaku bisnis akan suatu merek masih dikatakan cukup kurang. Terdapat berbagai faktor yang mengakibatkan rendahnya kesadaran terhadap merek. Permasalahan dalam penelitian ini adalah, pertama, mengapa perlindungan merek sangat penting bagi usaha kecil dan menengah khususnya di Kota Klaten Jawa Tengah. Kedua, bagaimana peran pemerintah khususnya Kota Klaten dalam rangka memberikan perlindungan hukum merek kepada para pelaku usaha kecil dan menengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris dengan data primer. Hasil menunjukkan bahwa potensi usaha kecil dan menengah akan terus berkembang, terutama di era pandemi covid-19. Hal ini dikarenakan banyaknya para karyawan yang di PHK sehingga tidak ada alternatif lain kecuali dengan berwirausaha. Kedua, pemerintah harus melakukan upaya dalam rangka memberikan perlindungan hukum merek terhadap para pelaku UKM khususnya di kota Klaten. Perlindungan ini dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan serta sosialisasi kepada para pelaku mengenai prosedur pendaftaran merek dan pentingnya merek bagi suatu usaha.