Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh Infinite Mindset Melalui Keputusan Jangka Panjang dan Adaptabilitas Terhadap Sustainable Business Kedai Kopi Muhammad Reza Aulia; Anisah Nasution; Junita Rahmah; Fantashir Awwal Fuqara; Keumala Fadhiela; Alfis Suhendra
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 2 No. 3 (2024): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v2i3.195

Abstract

Dalam era globalisasi dan digitalisasi, adaptabilitas juga menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan usaha kedai kopi. Berdasarkan pra penelitian  yang telah dilakukan di lapangan, terdapat beberapa kedai kopi yang tutup yang disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh pola pikir tidak terbatas melalui keputusan jangka panjang dan adaptabilitas terhadap sustainable business. Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Aceh Barat mulai dari bulan Desember  2023 sampai dengan bulan Januari 2023. Pemilihan lokasi dipilih secara sengaja (purposive). Hal ini dikarenakan Kabupaten Aceh Barat merupakan daerah yang memiliki potensi yang tinggi usaha kedai kopi. Data yang digunakan pada penelitian ini hanya menggunakan data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung oleh peneliti kepada objek penelitian yang dituju, dalam penelitian ini, data primer diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan Partial Least Squer (PLS) karena dapat menganalisa pengaruh langsung atau tidak langsung. Partial Least Squares (PLS) adalah sebuah metode analisis statistik yang digunakan dalam analisis persamaan struktural (SEM). Infinite mindset, adaptabilitas, dan keputusan jangka panjang memiliki dampak positif dan signifikan terhadap keberlanjutan usaha kedai kopi. Temuan ini menyoroti pentingnya sikap mental yang terbuka terhadap inovasi, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan, dan pengambilan keputusan strategis yang berkelanjutan dalam mendukung kesuksesan bisnis di industri kopi.
Model Edukasi Konservasi melalui Pendekatan Layanan Ekosistem Lamun bagi Anak Sekolah Dasar Eka Lisdayanti; Rahmawati Rahmawati; Anisah Nasution; Nurul Najmi; Abdiel Khaleil Akmal
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Juli 2026
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i2.615

Abstract

Lingkungan laut mengalami tekanan yang dalam banyak kasus menyebabkan kerusakan permanen, sementara kesadaran anak usia sekolah dasar terhadap pentingnya ekosistem lamun masih relatif Anak-anak umumnya hanya mengenal hutan mangrove dan terumbu karang sebagai ekosistem pesisir, sehingga lamun kurang mendapat perhatian meskipun memiliki fungsi ekologis penting sebagai penyerap karbon, habitat biota, dan penahan sedimen, serta penyedia jasa ekosistem bagi kehidupan pesisir. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan model edukasi konservasi melalui pendekatan layanan ekosistem lamun sebagai sarana meningkatkan literasi laut, pengetahuan, dan sikap peduli lingkungan pada anak sekolah dasar. Model yang dikembangkan menekankan keterkaitan antara manfaat ekosistem lamun dengan kehidupan sehari-hari secara kontekstual. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pembelajaran interaktif melalui permainan edukatif, pembuatan poster kreatif, observasi sederhana, serta diskusi kelompok yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan anak dari 34,66% menjadi 74,66%, yang diikuti dengan partisipasi aktif, kemampuan mengaitkan peran lamun dengan kehidupan sehari-hari, serta munculnya sikap peduli terhadap lingkungan pesisir. Model ini juga terbukti mampu menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual dan mudah dipahami. Dengan demikian, pengenalan ekosistem lamun sejak dini menjadi langkah strategis dalam membentuk kesadaran lingkungan dan mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Guna Mewujudkan Gerakan Aceh Mandiri Pangan di Kampung Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah Fantashir Awwal Fuqara; Muhammad Reza Aulia; Anisah Nasution; Safrika Safrika; Yulia Windi Tanjung; Dewi Andriani; Ovianalisa Ovianalisa
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar Vol 6, No 2 (2024): Juli-Desember
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/baktiku.v6i2.10135

Abstract

Food availability is a condition where household food needs are met sufficiently, both in terms of quantity and quality and affordable. The yard is one of the closest sources to produce food needs to meet family nutritional needs, and reduce shopping needs and and can increase household income. The purpose of this activity is to improve the community's capability in managing the yard and provide insight, knowledge and expertise in cultivating vegetables. The method of community service activities is observation or survey, socialization, monitoring and evaluation. The results of this activity are able to increase public awareness of family health and nutrition by 85.9%, motivate the community to cultivate vegetables by 93.3% and increase 100% of people who are able to cultivate food crops and horticulture. This community service activity is expected to provide knowledge about sustainable food houses, as well as skills in cultivating plants so that healthy and nutritious vegetables are obtained in every house in Jagong Jeget Village, Aceh Tengah Regency
Diversifikasi Produk Olahan Jeruk Nipis sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Kelompok Wanita Makmue Beujaya Anisah Nasution; Dony Arung Triantoro; Safrika; Abdul Muzammil; Liston Siringo-ringo
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 10 No 1 (2025): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v10i1.10772

Abstract

The Makmue Beujaya Women Entrepreneurship Group (KWW) has great potential in developing a lime-based business in Kuta Makmue Village, Nagan Raya Regency. Previously, the planted limes were only processed into one product, namely dish soap. This resulted in limited group income because the products produced were not optimal in fully utilizing the potential of lime. To overcome this problem, a community service program was implemented with the aim of encouraging the diversification of processed lime products, including by producing new products such as hand sanitizer and lime slice. This program uses the Participatory Action Research (PAR) method, which involves women group members actively in the entire process, starting from the socialization, training, to evaluation stages. The results of this activity show an increase in the capacity of women's groups, both in creating innovative products based on local potential and increasing knowledge and skills in product diversification. This effort is expected to encourage sustainable economic growth for the group and improve family welfare through a flexible business that can be done from home
Peningkatan Kapasitas Kelompok Pembudidaya Ikan Kumis Jaya melalui Pelatihan Formulasi Bahan Pakan Alternatif Lele Anisah Nasution; Mudastsir; Rahmawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 10 No 2 (2025): November
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v10i2.12889

Abstract

This community service program aims to enhance the capacity of the Fish Farmers Group (POKDAKAN) Kumis Jaya in independently formulating catfish feed. The main problems faced by the partner are their dependence on expensive commercial feed and limited knowledge about fish nutritional needs, particularly the ideal protein content. These issues result in high production costs and suboptimal fish growth. The activities included delivering material on catfish nutritional requirements, introducing locally available feed ingredients, and providing training on feed formulation using the Pearson Square method. A participatory approach was applied to ensure that group members actively understood the basic concepts while also practicing formulation calculations. The evaluation results showed a significant increase of 75% in participants’ understanding. They recognized the importance of 25–30% protein content in feed to support healthy catfish growth and were able to calculate feed formulations independently using local ingredients. This activity successfully improved the independence of Kumis Jaya in feed formulation, while also providing opportunities to reduce production costs and strengthen the sustainability of catfish farming.
SPATIAL VARIABILITY OF ORGANIC CARBON STOCKS IN SEAGRASS ECOSYSTEMS: THE ROLE OF BIOMASS AND SEDIMENTS IN BANYAK ISLANDS, ACEH SINGKIL Lisdayanti, Eka; Najmi, Nurul; Akmal, Abdiel Khaleil; Nasution, Anisah; Nasution, Muhammad Arif
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi Vol. 10 No. 3 (2026): Volume 10, Nomor 3, June 2026
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jiituj.v10i3.52819

Abstract

Seagrass ecosystems are major blue carbon reservoirs that play an important role in climate change mitigation, yet their capacity is increasingly threatened by anthropogenic pressures in tropical coastal areas such as Banyak Islands, Aceh Singkil. This study aimed to analyse organic carbon (Corg) content and estimate the carbon storage potential of seagrass ecosystems in this region. Field data were collected using line transect and quadrat methods in intertidal and subtidal zones to assess seagrass cover and species composition, while organic carbon in biomass and sediments was analysed using the Loss on Ignition (LOI) method. The results showed significant spatial variation in carbon storage. The highest biomass carbon was recorded at Rago-rago Island, dominated by Thalassia hemprichii (20.26% cover), whereas the highest sediment organic carbon was found at Balai Island, dominated by Cymodocea rotundata (1.37% cover). Sediments were identified as the primary carbon reservoir (4.15 Mg Corg ha⁻¹), while biomass contributed a smaller proportion (0.71 Mg Corg ha⁻¹). These differences are influenced by species morphology, sediment characteristics, and hydrodynamic conditions. This study highlights the dominant role of sediments in seagrass carbon storage and the importance of ecosystem structure in regulating carbon sequestration. The findings provide quantitative evidence to support blue carbon–based conservation strategies and ecosystem-based coastal management for climate change mitigation in western Indonesia.
Tata Kelola Mangrove Berbasis Pentaheliks melalui Edukasi Lingkungan dan Penanaman Bibit di Peunaga Cut Ujong Eka Lisdayanti; Rahmawati Rahmawati; Nurul Najmi; Herri Darsan; Rudi Hermi; Anisah Nasution; Dandi Sardanul Alim
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27512

Abstract

ABSTRAK Pengelolaan mangrove membutuhkan tata kelola multipihak agar kegiatan rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman seremonial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan, melaksanakan penanaman dan penyulaman mangrove, memetakan kontribusi aktor pentaheliks, serta menyusun rancangan pemeliharaan pascatanam di Gampong Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan dilaksanakan pada 8 Juni 2026 melalui identifikasi substrat, koordinasi, edukasi lingkungan, praktik penanaman, evaluasi, dan perumusan tindak lanjut. Sebanyak 100 peserta mewakili unsur akademisi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media. Evaluasi edukasi menggunakan pre-test dan post-test pada 25 responden yang dipilih secara purposif dengan kuota lima orang pada setiap unsur. Sebanyak 500 bibit Rhizophora apiculata digunakan untuk penanaman pada bagian lahan yang belum bervegetasi dan penyulaman pada titik yang mengalami kehilangan bibit. Skor pemahaman meningkat dari 57% menjadi 92%, atau bertambah 35 poin persentase. Pemetaan peran menunjukkan bahwa akademisi dominan pada inisiasi, edukasi, dan evaluasi; pemerintah pada dukungan bibit, legitimasi, dan koordinasi teknis; masyarakat pada pengetahuan substrat dan pelaksanaan penanaman; media pada dokumentasi dan diseminasi; sedangkan dukungan dunia usaha pada tahap pascatanam belum terdokumentasi secara rinci. Kegiatan menghasilkan luaran edukatif dan operasional serta rancangan awal tata kelola berupa pembagian peran, inventarisasi petak, penanggung jawab lokal, kanal pelaporan, dan monitoring pada bulan ke-1, ke-3, ke-6, dan ke-12. Keberhasilan ekologis belum dapat disimpulkan sebelum tersedia data kelangsungan hidup dan pertumbuhan bibit. Kata Kunci: Edukasi Lingkungan, Mangrove, Pentaheliks, Rehabilitasi Pesisir, Tata Kelola.  ABSTRACT Mangrove rehabilitation requires multi-stakeholder governance to prevent planting programs from ending as one-day ceremonial activities. This community service program aimed to improve stakeholder understanding, conduct mangrove planting and replanting, map pentahelix actor contributions, and formulate a post-planting maintenance framework in Peunaga Cut Ujong Village, Meureubo District, West Aceh Regency. The program was implemented on 8 June 2026 through site assessment, stakeholder coordination, environmental education, planting practice, evaluation, and follow-up planning. A total of 100 participants represented academia, government, business, community, and media. Educational evaluation used pre- and post-tests completed by 25 purposively selected respondents, with five respondents from each pentahelix element. Five hundred Rhizophora apiculata seedlings were used for planting in unvegetated areas and replacing seedlings lost from earlier interventions. The aggregate understanding score increased from 57% to 92%, a gain of 35 percentage points. Role mapping showed that academia led initiation, education, and evaluation; government provided seedlings, legitimacy, and technical coordination; communities contributed site-based knowledge and field implementation; media documented and disseminated the activity; while the business sector's post-planting contribution remained insufficiently documented. The program generated measurable educational and operational outputs and an initial governance framework covering role allocation, plot inventory, local responsibility, reporting channels, and monitoring at months 1, 3, 6, and 12. Ecological success cannot yet be concluded without seedling survival and growth data. Keywords: Coastal Rehabilitation, Environmental Education, Governance, Mangrove, Pentahelix.