Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Faktor Rendahnya Self-Efficacy Pada PesertaPelatihan di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Menjahit Dewi Sani Susanti; Anugrah Setiawan; Yolanda Pretty Marpaung; Reny Furnawati Sitanggang; Tri Mawar Sianturi; Amenobelia Sitepu
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 3 (2024): JUNI - JULI 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tantangan kurangnya kepercayaan diri bagi peserta pelatihan di LKP Dewi yang ingin membuka usaha jahit sendiri merupakan permasalahan yang kompleks. Selain melibatkan aspek teknis dalam bidang menjahit, tantangan tersebut juga mencakup aspek psikologis, praktis, dan finansial. Meskipun peserta memiliki keterampilan teknis yang memadai, keraguan tentang kemampuan mengelola bisnis, kekhawatiran terkait finansial, dan ketakutan akan kegagalan dapat menjadi penghambat dalam mencapai kesuksesan bisnis. Dalam konteks ini, pendekatan holistik yang mencakup penguatan mental, pendampingan, pendidikan bisnis, dan membangun komunitas solid menjadi krusial dalam membantu peserta mengatasi kurangnya kepercayaan diri dan meraih kesuksesan dalam usaha jahit mereka.
STRATEGI ADAPTASI MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN DALAM MENYONGSONG BONUS DEMOGRAFI Mutiara Zahara; Friska Rodayana Tambunan; Sabam Isay Sianipar; Anugrah Setiawan
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 1 (2025): Juni 2025 : Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v1i2.41

Abstract

Indonesia sedang memasuki fase bonus demografi yang memberikan peluang besar sekaligus tantangan bagi pembangunan nasional. Namun, masih terdapat kesenjangan keterampilan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri yang dapat menghambat pemanfaatan peluang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi adaptasi mahasiswa Universitas Negeri Medan dalam menyongsong bonus demografi, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta menelaah keterampilan, peran organisasi, dan kewirausahaan sebagai bentuk kesiapan mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek 15 mahasiswa FMIPA UNIMED yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui angket terbuka Google Form dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa melakukan adaptasi melalui peningkatan literasi digital, penguasaan bahasa asing, pengembangan soft skills, serta keterlibatan dalam organisasi, seminar, magang, dan kewirausahaan. Tantangan yang dihadapi mencakup persaingan kerja, keterbatasan lapangan pekerjaan, kesenjangan keterampilan, serta kendala internal seperti manajemen waktu dan kesehatan mental. Keterampilan abad 21 berupa kombinasi hard skills dan soft skills dinilai sebagai bekal utama, sedangkan organisasi kampus dan kewirausahaan berperan penting dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu bersaing sekaligus menciptakan lapangan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Negeri Medan memiliki kesadaran adaptif yang tinggi, meskipun masih diperlukan perluasan penelitian dengan lingkup yang lebih besar untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.  
STRATEGI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DALAM MEMBENTUK KARAKTER GENERASI MUDA Alya Anggriani Sinaga; Nia Novita Insani Sinaga; Putri Arga L. Munte; Anugrah Setiawan
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 1 (2025): Juni 2025 : Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v1i2.43

Abstract

Korupsi masih menjadi masalah besar di Indonesia yang tidak hanya berdampak pada aspek hukum, tetapi juga moral, sosial, dan budaya. Fenomena ini menunjukkan adanya kegagalan dalam pembentukan karakter bangsa yang berintegritas. Oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan yang efektif melalui jalur pendidikan, khususnya pendidikan anti korupsi sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui urgensi pendidikan anti korupsi dalam membentuk karakter generasi muda, mengidentifikasi tantangan implementasi di sekolah maupun perguruan tinggi, serta menganalisis strategi pembelajaran yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan keadilan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui angket online (Google Form) yang disebarkan kepada mahasiswa dan siswa sebagai representasi generasi muda. Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif serta interpretasi kualitatif dari jawaban terbuka responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai pendidikan anti korupsi sebagai aspek yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda. Indikator kejujuran dan kepedulian sosial memperoleh persentase tertinggi (masing-masing 80%), diikuti oleh disiplin, tanggung jawab, dan keadilan. Temuan ini menegaskan adanya kesadaran kolektif generasi muda mengenai urgensi pendidikan anti korupsi, meskipun masih terdapat sebagian kecil responden yang belum menempatkan disiplin dan tanggung jawab sebagai prioritas. Dengan demikian, pendidikan anti korupsi terbukti berperan signifikan sebagai instrumen strategis dalam membangun generasi berintegritas, serta perlu diimplementasikan secara sistematis, berkesinambungan, dan berbasis nilai Pancasila, agama, serta budaya bangsa.
ANALISIS FAKTOR PEMICU RADIKALISME PADA REMAJA SERTA DAMPAKNYA PADA DEMOKRASI Inna Umi Fadillah; Julia Agnesia Harianja; Wan Saskia Putri; Anugrah Setiawan
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 1 (2025): Juni 2025 : Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v1i2.56

Abstract

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor pemicu radikalisme pada remaja serta dampaknya terhadap demokrasi di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian literatur, penelitian ini menelaah sumber dari jurnal dan buku. Hasil kajian menunjukkan bahwa radikalisme remaja dipicu oleh beberapa faktor utama, yaitu ideologis, psikologis (krisis identitas), sosial-budaya (diskriminasi, eksklusivitas budaya), ekonomi (ketidakadilan dan kesenjangan), serta pengaruh media digital. Fenomena ini berdampak serius pada demokrasi, antara lain terkikisnya nilai toleransi, ancaman terhadap kebebasan beragama, meningkatnya polarisasi sosial, melemahnya partisipasi politik sehat, hingga berkurangnya kepercayaan publik terhadap institusi demokratis. Penelitian ini menegaskan bahwa radikalisme remaja bukanlah masalah individu semata, melainkan persoalan kolektif yang mengancam keberlanjutan demokrasi. Oleh karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara sinergis melalui peran keluarga, pendidikan, pemerintah, media, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan generasi muda.
PENINGKATAN KOMPETENSI LITERASI DATA GURU DALAM PEMBUATAN KARYA ILMIAH DAN INSTRUMEN BERBASIS HOTS DI SMA NEGERI 1 BATANG KUIS Andi Taufiq Umar; Nasrullah Hidayat; Nur Hudayah M; Anugrah Setiawan; St Mardiana
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 No 4 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i4.48788

Abstract

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi literasi data dan kemampuan pembuatan karya ilmiah serta instrumen berbasis HOTS (High Order Thinking Skills) bagi semua guru di SMA Negeri 1 Batang Kuis. Masalah yang teridentifikasi adalah rendahnya kemampuan guru dalam menggunakan data hasil belajar untuk menyusun karya ilmiah dan instrumen evaluasi yang mampu merangsang keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Ada 5 tahapan dalam pelaksanaan program ini yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Proses pelatihan dilakukan secara intensif yang melibatkan teori dan praktik dengan pendekatan partisipatif yang memungkinkan guru berinteraksi langsung dengan semua partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengolah data untuk perencanaan pembelajaran, menyusun karya ilmiah berbasis data, serta merancang instrumen evaluasi berbasis HOTS yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan presentase sebesar 52,86% dan 45% dari hasil evaluasi pre-test dan post-test guru terkait pemahaman dan pengetahuan dalam pembuatan karya ilmiah dan instrumen berbasis HOTS. Hasil ini menjadi penting sebagai referensi model kegiatan yang bisa dikembangkan dan diterapkan pada program lain dengan tujuan yang relatif sama di seluruh instansi pendidikan yang ada di Indonesia
Development of Local Culture-Based Digital Storytelling Media as a Preventive Strategy for Juvenile Delinquency Fauzi Kurniawan; Anugrah Setiawan; Ibnu Hajar; Anifah; Vidya Dwi Amalia Zati; Marisa Almarind; Fira Aprilia
International Journal of Educational Practice and Policy Vol. 4 No. 2 (2026): June-July 2026
Publisher : PT. Global Research Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66314/ijepp.v4i2.566

Abstract

Juvenile delinquency among adolescents has become a growing concern in non-formal educational environments, particularly due to negative social influences, weak parental supervision, and limited understanding of moral and cultural values. This study aims to develop and evaluate local culture-based digital storytelling media as a preventive strategy against juvenile delinquency among adolescents at the Laskar Pelangi Community Learning Center (PKBM). The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of analysis, design, development, implementation, and evaluation phases. The participants were 30 adolescents aged 10–15 years selected through purposive sampling. Data were collected through pre-test and post-test questionnaires, observation sheets, and expert validation, and analyzed using normality tests, paired-sample t-tests, and linear regression analysis. The findings revealed that the developed digital storytelling media effectively improved participants’ understanding of moral values, cultural awareness, and social behavior. The paired-sample t-test showed a significant difference between pre-test and post-test scores (Sig. = 0.000 < 0.05), while the regression analysis indicated that the media significantly contributed to juvenile delinquency prevention, with a coefficient of determination (R²) of 79%. In addition, participant engagement reached 85%, indicating strong interest and active involvement during the learning process. The study concludes that local culture-based digital storytelling is an effective and engaging educational medium for strengthening character education, promoting cultural identity, and reducing tendencies toward juvenile delinquency among adolescents in non-formal education settings.
Desain Model Sekolah Pra Nikah Perspektif Islam Berbasis Kebutuhan Generasi Z Anugrah Setiawan; M Rifai Harahap; Sitti Subaedah; Michael Yudha Pratama; Nurhudayah Muharayu
Haumeni Journal of Education Vol 6 No 1 (2026): Edisi Juni 2026
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v6i1.27530

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas persoalan pernikahan pada Generasi Z yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, budaya digital, serta rendahnya kesiapan emosional dan spiritual dalam membangun keluarga. Program pra nikah yang ada cenderung bersifat normatif dan belum sepenuhnya adaptif terhadap karakteristik generasi muda muslim. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model Sekolah Pra Nikah perspektif Islam yang berbasis pada kebutuhan Generasi Z. Metode yang digunakan adalah studi literatur dipadukan dengan analisis kebutuhan melalui kajian dokumen, observasi konseptual, dan telaah penelitian terdahulu. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan teknik reduksi data, kategorisasi tema, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan perlunya model pembelajaran integratif yang memadukan nilai maqashid syariah, pendidikan karakter, literasi digital, kesiapan psikologis, dan perencanaan ekonomi keluarga. Model yang dirancang menekankan pendekatan partisipatif, kontekstual, dan aplikatif sesuai karakter digital native Generasi Z. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum pra nikah yang sistematis dan kolaboratif antara lembaga pendidikan, komunitas dakwah, dan instansi keagamaan.
Generation Zs Perception of the Relevance of Pancasila in the Digital Era Dhea Isfani Putri AP Lubis; Ela Sari Br Ginting; Nilam Artika Sari; Nurul Khairunisa; Rosela Hartati Harefa; Anugrah Setiawan
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 11 (2025): December 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17852399

Abstract

This study aims to explain how Generation Z views the importance of Pancasila as the foundation of the nation in the digital era. The study uses a qualitative method by collecting data through in-depth interviews with five individuals from the Generation Z group. The results show that Generation Z regards Pancasila as a moral guideline and a foundation for social life, although the meanings they understand vary and are not always practiced in the digital world. However, all respondents agree that Pancasila remains relevant as an ethical guide, especially in addressing issues such as fake news, misleading speech, and division on social media. A major challenge faced by Generation Z is the vast amount of digital information and the influence of global culture, which can alter their understanding of national values. The study concludes that to internalize Pancasila, it must be done in a more creative, contextual, and experience-based manner aligned with the digital lives of Generation Z.
Designing an Authentic Assessment-Based Non-Test Evaluation Model for Assessing Cognitive and Social Growth of Children with Special Needs Muhammad Takwin Machmud; Nurhudayah Manjani; Anugrah Setiawan; Nurul Mukhlisa; Zulfitrah Zulfitrah; Omthajit Pansri; Fadjaryah Afifah; Jenneri Arbinto Toraja Sitepu
PAEDAGOGIA Vol 29, No 1 (2026): PAEDAGOGIA Jilid 29 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/paedagogia.v29i1.109764

Abstract

Children with special needs face unique challenges in learning and assessment, and traditional test-based methods often fail to capture their full cognitive and social abilities. This research aims to design and validate a non-test evaluation model based on authentic assessment principles to measure the cognitive and social development of children with special needs. Using a Research and Development (R&amp;D) approach guided by Richey and Klein’s model, the study proceeded through three phases: model development, expert validation, and implementation. Data were collected through expert validation sheets and perception questionnaires involving teachers, therapists, and parents, analyzed both qualitatively and quantitatively. The validation results showed that the developed model achieved a “very valid” category across all indicators, demonstrating strong theoretical grounding, practical relevance, and contextual suitability. Respondent perceptions were predominantly positive, with 80% agreeing on the model’s clarity, usefulness, and applicability in inclusive educational settings. The model effectively integrates real-life contexts and interdisciplinary collaboration, providing a holistic framework for assessing both cognitive and social growth. In conclusion, this authentic, non-test-based model offers a practical and inclusive alternative for evaluating children with special needs, bridging the gap between assessment theory and classroom practice.
Pelatihan Koding dan Kecerdasan Buatan (AI) untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis dan Kreativitas Guru Sekolah Dasar di Kota Medan Anugrah Setiawan; Khairunnisa; Michael Yudha Pratama; Nurhidayah Muharayu; Radini; Marisa Al Marind
TEKNOVA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2026): April
Publisher : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68129/teknova.v1i1.42

Abstract

Perkembangan teknologi digital pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut guru untuk memiliki kompetensi dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran yang inovatif, termasuk koding dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Namun, kemampuan guru sekolah dasar dalam mengintegrasikan koding dan AI ke dalam proses pembelajaran masih relatif terbatas, sehingga pengembangan kemampuan analisis dan kreativitas peserta didik belum optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar di Kota Medan melalui pelatihan dan pendampingan pembelajaran berbasis koding dan AI. Metode pelaksanaan dilakukan melalui workshop, praktik langsung (hands-on training), serta pendampingan berbasis project-based learning yang melibatkan peserta dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran inovatif. Evaluasi kegiatan menggunakan desain quasi-experimental dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan meliputi tes kemampuan analisis dan angket kreativitas guru. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan yang diberikan mampu meningkatkan kemampuan analisis dan kreativitas guru secara signifikan. Hasil uji independent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada kemampuan analisis (t = 4,87; p = 0,001) dan kreativitas (t = 5,32; p = 0,000). Nilai effect size yang tinggi (Cohen’s d = 1,21 dan 1,35) menunjukkan bahwa program memberikan pengaruh yang kuat terhadap peningkatan kompetensi guru. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam memanfaatkan teknologi digital untuk merancang pembelajaran yang lebih interaktif, adaptif, dan berbasis pemecahan masalah. Kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat kapasitas guru menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21 serta mendorong terciptanya inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital