Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

TANTANGAN DAN PELUANG MANAJEMEN PELATIHAN DI SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) KOTA MEDAN: PERSPEKTIF TENAGA PENDIDIK DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PROGRAM Sani Susanti; Anugrah Setiawan; Fira Aprilia; Miranda Afriza; Wahyu Nur Ihsan; Tari Patunnisa
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan nonformal memiliki peran strategis dalam meningkatkan keterampilan dan kompetensi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan formal. Salah satu lembaga yang berperan penting dalam pendidikan nonformal adalah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), yang menyediakan berbagai program pelatihan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan peluang dalam manajemen pelatihan di SKB Kota Medan dari perspektif tenaga pendidik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta analisis data sekunder dari literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama dalam manajemen pelatihan di SKB meliputi keterbatasan sumber daya manusia, minimnya fasilitas pendukung, keterbatasan anggaran, serta rendahnya partisipasi masyarakat. Selain itu, rendahnya insentif bagi tenaga pendidik juga menjadi kendala yang mempengaruhi efektivitas program pelatihan. Namun, terdapat berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti kolaborasi dengan pihak eksternal, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan pasar kerja. Dengan penerapan manajemen pelatihan yang efektif, SKB dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, kompetensi tenaga pendidik, serta daya saing lulusannya di dunia kerja. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dalam pengelolaan SKB agar lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MAHASISWA DALAM PENGEMBANGAN MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI Anugrah Setiawan; Sugianto Sugianto
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Agama Islam memiliki peran integral dalam membentuk karakter dan moralitas mahasiswa, malalui mata kuliah PAI mahasiswa tidak hanya belajar teori tetapi juga diajarkan untuk menginternalisasikan nilai nilai moral dalam kehidupan sehari hari.Dengan pendekatan yang tepat dalam pengajaran dan dukungan dari lembaga pendidikan, diharapkan mahasiswa dapat menjadi individu yang berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pendidikan karakter melalui pendidikan agama Islam bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan jenis motede penelitian studi pustaka atau library research. Peneliti menganalisis literatur tertulis sebagai sumber utama berupa buku, serta jurnal penelitian.Berdasarkan kajian literatur ini, bahwa pendidikan karakter melalui pendidikan agama Islam bersumber pada nilai agama, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Impementasi karakter dalam Pendidikan Agama Islam melalui pengajaran, keteladanan, pembiasaan untuk membina karakter Mahasiswa.
Faktor Rendahnya Self-Efficacy Pada PesertaPelatihan di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Menjahit Dewi Sani Susanti; Anugrah Setiawan; Yolanda Pretty Marpaung; Reny Furnawati Sitanggang; Tri Mawar Sianturi; Amenobelia Sitepu
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 3 (2024): JUNI - JULI 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tantangan kurangnya kepercayaan diri bagi peserta pelatihan di LKP Dewi yang ingin membuka usaha jahit sendiri merupakan permasalahan yang kompleks. Selain melibatkan aspek teknis dalam bidang menjahit, tantangan tersebut juga mencakup aspek psikologis, praktis, dan finansial. Meskipun peserta memiliki keterampilan teknis yang memadai, keraguan tentang kemampuan mengelola bisnis, kekhawatiran terkait finansial, dan ketakutan akan kegagalan dapat menjadi penghambat dalam mencapai kesuksesan bisnis. Dalam konteks ini, pendekatan holistik yang mencakup penguatan mental, pendampingan, pendidikan bisnis, dan membangun komunitas solid menjadi krusial dalam membantu peserta mengatasi kurangnya kepercayaan diri dan meraih kesuksesan dalam usaha jahit mereka.
STRATEGI ADAPTASI MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN DALAM MENYONGSONG BONUS DEMOGRAFI Mutiara Zahara; Friska Rodayana Tambunan; Sabam Isay Sianipar; Anugrah Setiawan
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 1 (2025): Juni 2025 : Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v1i2.41

Abstract

Indonesia sedang memasuki fase bonus demografi yang memberikan peluang besar sekaligus tantangan bagi pembangunan nasional. Namun, masih terdapat kesenjangan keterampilan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri yang dapat menghambat pemanfaatan peluang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi adaptasi mahasiswa Universitas Negeri Medan dalam menyongsong bonus demografi, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta menelaah keterampilan, peran organisasi, dan kewirausahaan sebagai bentuk kesiapan mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek 15 mahasiswa FMIPA UNIMED yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui angket terbuka Google Form dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa melakukan adaptasi melalui peningkatan literasi digital, penguasaan bahasa asing, pengembangan soft skills, serta keterlibatan dalam organisasi, seminar, magang, dan kewirausahaan. Tantangan yang dihadapi mencakup persaingan kerja, keterbatasan lapangan pekerjaan, kesenjangan keterampilan, serta kendala internal seperti manajemen waktu dan kesehatan mental. Keterampilan abad 21 berupa kombinasi hard skills dan soft skills dinilai sebagai bekal utama, sedangkan organisasi kampus dan kewirausahaan berperan penting dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu bersaing sekaligus menciptakan lapangan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Negeri Medan memiliki kesadaran adaptif yang tinggi, meskipun masih diperlukan perluasan penelitian dengan lingkup yang lebih besar untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.  
STRATEGI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DALAM MEMBENTUK KARAKTER GENERASI MUDA Alya Anggriani Sinaga; Nia Novita Insani Sinaga; Putri Arga L. Munte; Anugrah Setiawan
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 1 (2025): Juni 2025 : Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v1i2.43

Abstract

Korupsi masih menjadi masalah besar di Indonesia yang tidak hanya berdampak pada aspek hukum, tetapi juga moral, sosial, dan budaya. Fenomena ini menunjukkan adanya kegagalan dalam pembentukan karakter bangsa yang berintegritas. Oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan yang efektif melalui jalur pendidikan, khususnya pendidikan anti korupsi sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui urgensi pendidikan anti korupsi dalam membentuk karakter generasi muda, mengidentifikasi tantangan implementasi di sekolah maupun perguruan tinggi, serta menganalisis strategi pembelajaran yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan keadilan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui angket online (Google Form) yang disebarkan kepada mahasiswa dan siswa sebagai representasi generasi muda. Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif serta interpretasi kualitatif dari jawaban terbuka responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai pendidikan anti korupsi sebagai aspek yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda. Indikator kejujuran dan kepedulian sosial memperoleh persentase tertinggi (masing-masing 80%), diikuti oleh disiplin, tanggung jawab, dan keadilan. Temuan ini menegaskan adanya kesadaran kolektif generasi muda mengenai urgensi pendidikan anti korupsi, meskipun masih terdapat sebagian kecil responden yang belum menempatkan disiplin dan tanggung jawab sebagai prioritas. Dengan demikian, pendidikan anti korupsi terbukti berperan signifikan sebagai instrumen strategis dalam membangun generasi berintegritas, serta perlu diimplementasikan secara sistematis, berkesinambungan, dan berbasis nilai Pancasila, agama, serta budaya bangsa.
ANALISIS FAKTOR PEMICU RADIKALISME PADA REMAJA SERTA DAMPAKNYA PADA DEMOKRASI Inna Umi Fadillah; Julia Agnesia Harianja; Wan Saskia Putri; Anugrah Setiawan
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 1 (2025): Juni 2025 : Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v1i2.56

Abstract

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor pemicu radikalisme pada remaja serta dampaknya terhadap demokrasi di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian literatur, penelitian ini menelaah sumber dari jurnal dan buku. Hasil kajian menunjukkan bahwa radikalisme remaja dipicu oleh beberapa faktor utama, yaitu ideologis, psikologis (krisis identitas), sosial-budaya (diskriminasi, eksklusivitas budaya), ekonomi (ketidakadilan dan kesenjangan), serta pengaruh media digital. Fenomena ini berdampak serius pada demokrasi, antara lain terkikisnya nilai toleransi, ancaman terhadap kebebasan beragama, meningkatnya polarisasi sosial, melemahnya partisipasi politik sehat, hingga berkurangnya kepercayaan publik terhadap institusi demokratis. Penelitian ini menegaskan bahwa radikalisme remaja bukanlah masalah individu semata, melainkan persoalan kolektif yang mengancam keberlanjutan demokrasi. Oleh karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara sinergis melalui peran keluarga, pendidikan, pemerintah, media, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan generasi muda.
PENINGKATAN KOMPETENSI LITERASI DATA GURU DALAM PEMBUATAN KARYA ILMIAH DAN INSTRUMEN BERBASIS HOTS DI SMA NEGERI 1 BATANG KUIS Andi Taufiq Umar; Nasrullah Hidayat; Nur Hudayah M; Anugrah Setiawan; St Mardiana
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 No 4 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i4.48788

Abstract

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi literasi data dan kemampuan pembuatan karya ilmiah serta instrumen berbasis HOTS (High Order Thinking Skills) bagi semua guru di SMA Negeri 1 Batang Kuis. Masalah yang teridentifikasi adalah rendahnya kemampuan guru dalam menggunakan data hasil belajar untuk menyusun karya ilmiah dan instrumen evaluasi yang mampu merangsang keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Ada 5 tahapan dalam pelaksanaan program ini yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Proses pelatihan dilakukan secara intensif yang melibatkan teori dan praktik dengan pendekatan partisipatif yang memungkinkan guru berinteraksi langsung dengan semua partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengolah data untuk perencanaan pembelajaran, menyusun karya ilmiah berbasis data, serta merancang instrumen evaluasi berbasis HOTS yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan presentase sebesar 52,86% dan 45% dari hasil evaluasi pre-test dan post-test guru terkait pemahaman dan pengetahuan dalam pembuatan karya ilmiah dan instrumen berbasis HOTS. Hasil ini menjadi penting sebagai referensi model kegiatan yang bisa dikembangkan dan diterapkan pada program lain dengan tujuan yang relatif sama di seluruh instansi pendidikan yang ada di Indonesia
Development of Local Culture-Based Digital Storytelling Media as a Preventive Strategy for Juvenile Delinquency Fauzi Kurniawan; Anugrah Setiawan; Ibnu Hajar; Anifah; Vidya Dwi Amalia Zati; Marisa Almarind; Fira Aprilia
International Journal of Educational Practice and Policy Vol. 4 No. 2 (2026): June-July 2026
Publisher : PT. Global Research Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66314/ijepp.v4i2.566

Abstract

Juvenile delinquency among adolescents has become a growing concern in non-formal educational environments, particularly due to negative social influences, weak parental supervision, and limited understanding of moral and cultural values. This study aims to develop and evaluate local culture-based digital storytelling media as a preventive strategy against juvenile delinquency among adolescents at the Laskar Pelangi Community Learning Center (PKBM). The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of analysis, design, development, implementation, and evaluation phases. The participants were 30 adolescents aged 10–15 years selected through purposive sampling. Data were collected through pre-test and post-test questionnaires, observation sheets, and expert validation, and analyzed using normality tests, paired-sample t-tests, and linear regression analysis. The findings revealed that the developed digital storytelling media effectively improved participants’ understanding of moral values, cultural awareness, and social behavior. The paired-sample t-test showed a significant difference between pre-test and post-test scores (Sig. = 0.000 < 0.05), while the regression analysis indicated that the media significantly contributed to juvenile delinquency prevention, with a coefficient of determination (R²) of 79%. In addition, participant engagement reached 85%, indicating strong interest and active involvement during the learning process. The study concludes that local culture-based digital storytelling is an effective and engaging educational medium for strengthening character education, promoting cultural identity, and reducing tendencies toward juvenile delinquency among adolescents in non-formal education settings.
Desain Model Sekolah Pra Nikah Perspektif Islam Berbasis Kebutuhan Generasi Z Anugrah Setiawan; M Rifai Harahap; Sitti Subaedah; Michael Yudha Pratama; Nurhudayah Muharayu
Haumeni Journal of Education Vol 6 No 1 (2026): Edisi Juni 2026
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v6i1.27530

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas persoalan pernikahan pada Generasi Z yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, budaya digital, serta rendahnya kesiapan emosional dan spiritual dalam membangun keluarga. Program pra nikah yang ada cenderung bersifat normatif dan belum sepenuhnya adaptif terhadap karakteristik generasi muda muslim. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model Sekolah Pra Nikah perspektif Islam yang berbasis pada kebutuhan Generasi Z. Metode yang digunakan adalah studi literatur dipadukan dengan analisis kebutuhan melalui kajian dokumen, observasi konseptual, dan telaah penelitian terdahulu. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan teknik reduksi data, kategorisasi tema, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan perlunya model pembelajaran integratif yang memadukan nilai maqashid syariah, pendidikan karakter, literasi digital, kesiapan psikologis, dan perencanaan ekonomi keluarga. Model yang dirancang menekankan pendekatan partisipatif, kontekstual, dan aplikatif sesuai karakter digital native Generasi Z. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum pra nikah yang sistematis dan kolaboratif antara lembaga pendidikan, komunitas dakwah, dan instansi keagamaan.