Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Characteristics of Speech Delay in Children Aged 2-5 Years for the Period January-December 2022 at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Habsad, Dina Izaida; Maharani, Ratih Natasha; Darma, Sidrah; Darussalam, Andi Husni Esa; Jafar, Muh. Alfian
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i1.6642

Abstract

The most common developmental disorder found in children is speech delay. The prevalence of symptoms of speech delay in children is 5-10% in Indonesia. This study aims to determine the characteristics of Speech Delay in children aged 2-5 years for the period January-December 2022 at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Descriptive observational research method taken from secondary data (medical records). Results of research on children with Speech Delay aged 2-5 years for the period January-December 2022 at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo is dominated by 2 and 3 year olds (36.9%), male (72.3%), father with higher education (98.5%), mother with higher education (95.4%), working father (100%), mothers do not work (50.8%), children ranked first (58.5%), with the most comorbidities Mixed Developmental Delay (24.6%). In conclusion, the majority of children aged 2 and 3 years, are male, have high parental education, the father's job is working and the mother's job is not working, the order of the first child and is dominated by the comorbidity Mix Developmental Delay.
Characteristics of Tonsillitis in Children at Massenrempulu Enrekang Regional Hospital During The Period 2017-2022 Far, TM, Duhri; Darussalam, Andi Husni Esa; Ikram, Dzul; Sanna, Andri Tenri; Jafar, Muhammad Alfian
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i1.6678

Abstract

Tonsillitis, an inflammation of the tonsils due to viral or bacterial infection, manifests with symptoms such as sore throat, tonsil swelling, difficulty swallowing, and fever. While the World Health Organization (WHO) lacks specific global tonsillitis incidence data, Indonesian Ministry of Health's 2018 statistics rank tonsillitis as the 10th most common ailment among 5-9-year-olds. Objective to characterize tonsillitis among children at Massenrempulu Enrekang Regional General Hospital during 2017-2022. The method used is descriptive research with a univariate design. The total sample size is 93, using total sampling technique, and analyzed with a univariate design. The results obtained showed that the age characteristics were as follows: children aged 6-11 years constitute 41 patients (44.1%), early adolescents aged 12-16 years constitute 31 patients (33.3%), toddlers aged 0-5 years constitute 14 patients (15.1%), and late adolescents aged 17-18 years constitute 7 patients (7.5%). The distribution of gender indicates that female patients are 52 (55.9%), while male patients are 41 (44.1%). Parental education level shows that moderate education level is represented by 52 patients (55.9%), followed by high education level by 37 patients (39.8%), and low education level by 4 patients (4.3%). A history of upper respiratory tract infections was found in 85 patients (91.4%), while only 8 patients (8.6%) had no history of upper respiratory tract infections. Allergy history was present in 68 patients (73.1%), while 25 patients (26.9%) had no history of allergies.
KARAKTERISTIK PASIEN PASCA STROKE DENGAN GEJALA DEPRESI DI RS BHAYANGKARA MAKASSAR Lalu, Hermawan Ranova; Darussalam, Andi Husni Esa; Kadir, Akhmad; Jafar, Muh Alfian
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.24766

Abstract

Stroke adalah  keadaan dimana hilangnya sebagian atau seluruh fungsi neurologis (defisit neurologik fokal atau global) yang terjadi secara mendadak, dan berlangsung   lebih dari 24 jam. Depresi secara signifikan lebih sering terjadi pada pasien stroke. Studi longitudinal sistematis  pertama dari depresi pasca-stroke menemukan tingkat keparahan gangguan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, fungsi sosial, dan fungsi kognitif yang terkait dengan depresi pasca-stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien pasca stroke dengan gejala depresi berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis stroke, dan tingkatan gejala depresi di RS Bhayangkara Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang. Teknik pengumpulan data digunakan data primer melalui wawancara dan pengisian kuesioner BDI II. Dari penelitian ini didapatkan 100 sampel pasien, dengan karakteristik pasien pasca stroke dengan gejala depresi berdasarkan usia paling banyak >60 tahun dengan jumlah 42 orang. Karakteristik berdasarkan jenis kelamin paling banyak didapatkan pada perempuan dengan jumlah 52 orang. Karakteristik  berdasarkan pendidikan paling banyak didapatkan pada pendidikan SMA dengan jumlah 39 orang. Karakteristik berdasarkan jenis stroke paling banyak didapatkan pada stroke iskemik 84 orang. Karakteristik berdasarkan tingkatan gejala depresi didapatkan gejala depresi ringan paling banyak dijumpai dengan jumlah 56 orang.
GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PASIEN DIARE AKUT PADA ANAK DI PUSKESMAS MAROANGIN KOTA PALOPO TAHUN 2021-2022 Gau, Anugrah Wija; Arsal, Andi Sitti Fahirah; Darussalam, Andi Husni Esa; Irwan, Andi Alamanda; Yani Sodiqah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.25490

Abstract

Studi ini menyelidiki pemberian antibiotik kepada pasien anak yang mengalami diare akut di Puskesmas Maroangin Kota Palopo selama tahun 2021-2022. Berdasarkan hasil penelusuran data rekam medik. Didapatkan 65 kasus anak yang terdiagnosa diare di puskesmas dengan jumlah penderita pada tahun 2021 ialah sebanyak 30 pasien dan tahun 2022 ialah sebanyak 35 pasien. Resep antibiotik didasarkan pada berbagai kelompok gejala pada pasien anak yang berusia 0 – 18 tahun dengan diare cair berdarah dan diare cair berlendir sebagai keluhan utama, termasuk di antaranya adalah diare berair disertai dengan demam, mual muntah, dan nyeri perut, diare berair disertai dengan demam dan nyeri perut, diare berair disertai dengan demam, diare berair disertai dengan mual muntah, diare berdarah disertai dengan demam, mual muntah, nyeri perut, diare berdarah disertai dengan demam, mual muntah, diare berdarah disertai dengan demam, mual muntah, serta gejala diare berdarah yang hanya disertai nyeri perut. Kelompok antibiotik yang paling sering digunakan pada pasien anak dengan diare akut ialah golongan sulfonamida, kemudian diikuti sefalosporin, dan penisilin sebagai golongan antibiotik paling sedikit digunakan. Jenis antibiotik yang sering diresepkan melibatkan jenis cotrimoxazole, diikuti cefixime, dan amoxicillin sebagai jenis antibiotik paling sedikit digunakan. Pemberian dosis antibiotik pada pasien anak yang mengalami diare akut sangat tergantung pada usia anak yang mengalami diare akut.
KARAKTERISTIK PASIEN COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA PADA PASIEN BALITA DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR TAHUN 2020-2022 Usri, Nur Afifah; Darussalam, Andi Husni Esa; Azikin, Wildana; Loddo, Nirwana; Safitri, Asrini; Badruddin, Kartini
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.26627

Abstract

CAP merupakan infeksi akut pada parenkim paru yang sebagian besar difokuskan pada anak berusia kurang dari 5 tahun. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian ini semua pasien balita yang didiagnosis CAP di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2020-2022. Sampel dalam penelitian ini keseluruhan dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Menggunakan teknik total sampling. Variabel dependen adalah CAP pada pasien balita, Variabel independen adalah, Prevalensi, Usia, Jenis kelamin, Gejala Klinis, Pemeriksaan Fisis, Radiologi foto thorax, Laboratorium darah rutin, Terapi antibiotik. Pengolahan data dengan software SPSS dengan analisa data univariat. Dari 328 pasien balita yang terdiagnosis CAP yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 278 pasien. Proporsi tertinggi prevalensi yaitu tahun 2022 144 orang (51.8%). Usia yaitu 0-12 bulan 70 orang (25.2%).  Jenis kelamin yaitu laki-laki 146 orang (52.5%). Gejala klinis dengan keluhan utama batuk 93 orang (33.5%). Pemeriksaan fisis yaitu takipnea 128 orang (46.0%). Foto thorax yaitu bercak infiltrate 177 orang (63.7%). Laboratorium leukosit meningkat 183 orang (65.8%), hemoglobin meningkat 130 orang (46.8%), hematokrit normal 190 orang (68.3%), trombosit normal 166 orang (59.7%). Terapi antibiotik kombinasi 258 orang (92.8%) antibiotik Ampicilin & Gentamicin 134 orang (48.2%) Prevalensi tahun 2022, usia 0-12 bulan, jenis kelamin laki-laki, gejala klinis dengan keluhan utama batuk, pemeriksaan fisis takipnea, foto thorax bercak infiltrate, laboratorium darah rutin leukosit meningkat, hemoglobin meningkat, hematokrit normal, trombosit normal, terapi antibiotik kombinasi dengan terapi antibiotik Ampicilin & Gentamicin, merupakan proporsi tertinggi karakteristik pasien balita Community Acquired Pneumonia di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2020-2022.
ANALISIS KUALITATIF : PENGALAMAN NYERI TERKAIT MENYUSUI PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS PEKKAE KABUPATEN BARRU Helmi, Gadis Mutmainnah; A. Madjid, Djauhariah; Ikram, Dzul; Badaruddin, Kartini; Darussalam, Andi Husni Esa
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37843

Abstract

Menyusui adalah cara yang normal dan sehat untuk memberi makan bayi. Puting susu lecet dapat terjadi karena ketika ibu menyusui bayinya, pelekatan yang dilakukan kurang tepat. Nyeri saat menyusui bisa menjadi pengalaman yang umum, terutama pada awal-awal masa menyusui. Adapun tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman dari ibu di Puskesmas Pekkae Kabupaten Barru yang mengalami nyeri terkait menyusui pada saat menyusui. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 15 ibu menyusui di Puskesmas Pekkae Kabupaten Barru. Berdasarkan analisis 15 sampel kuesioner, dapat disimpulkan bahwa nyeri selama menyusui adalah pengalaman yang hampir universal di kalangan ibu menyusui. Semua responden melaporkan pernah mengalami nyeri, dengan deskripsi nyeri yang beragam mulai dari perih, pedih, hingga nyeri akibat gigitan bayi. Frekuensi dan intensitas nyeri juga bervariasi, dengan beberapa ibu mengalami nyeri setiap kali menyusui, terutama di awal menyusui atau ketika bayi mulai tumbuh gigi. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa nyeri selama menyusui adalah pengalaman yang sangat umum dan beragam dalam jenis serta intensitasnya, namun pencarian bantuan profesional terkait nyeri menyusui masih rendah, dengan banyak ibu memilih untuk tidak berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi. Dukungan dan edukasi dari tenaga kesehatan dapat berperan penting dalam membantu ibu mengatasi nyeri dan meningkatkan pengalaman menyusui mereka.
Analysis of Risk Factors for Dengue Virus Infection with Warning Signs in Child Care at Haji Hospital Makassar City for the 2022-2023 Period Nur, A. Ahmad Fitrah Ramadhan; Maddeppungeng, Martira; Maulani, Destya; Ganda, Idham Jaya; Darussalam, Andi Husni Esa
Formosa Journal of Science and Technology Vol. 3 No. 9 (2024): September 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjst.v3i9.11091

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever ranked among the top 10 diseases with 193 cases in the Inpatient Hospital of Haji Hospital, Makassar City in 2018. The WHO's Dengue Virus Infection (IVD) classification with 7 Warning Signs helps identify severe IVD risks in both pediatric and adult patients. A retrospective cohort study analyzed 132 medical records of pediatric patients aged 4 months to 18 years using Purposive Sampling. Most IVD patients were aged 5-18 years (72.8%), male (56.1%), had good nutritional status (69.7%), and experienced fever for <4 days before treatment (58.3%). Significant risk factors for IVD with Warning Signs included gender (p-value 0.029) and nutritional status (p-value 0.025), while age (p-value 0.914) and duration of fever (p-value 0.323) were not significant. Gender and nutritional status are significant risk factors for IVD with Warning Signs.
PERAN COMPLEMENT 3 DAN ANTI-STREPTOLYSIN O PADA DIAGNOSIS GLOMERULONEFRITIS AKUT PASCA-STREPTOKOKUS ANAK Gau, Anugrah Wija; Aras, Jusli; Darussalam, Andi Husni Esa; Jafar, Muh Alfian; Aisyah, Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55054

Abstract

Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) merupakan penyebab tersering sindrom nefritik akut pada anak. Diagnosis umumnya dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis khas, namun konfirmasi diagnostik sering menghadapi kendala karena perubahan marker imunologis yang dipengaruhi oleh waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit. Dua parameter laboratorium yang paling sering digunakan adalah kadar komplemen C3 dan titer Anti-Streptolysin O (ASO), yang interpretasinya memerlukan pemahaman mengenai dinamika patofisiologi GNAPS. Tinjauan pustaka ini bertujuan mengevaluasi secara kritis peran, keterbatasan, dan nilai diagnostik pemeriksaan C3 dan ASO dalam menegakkan diagnosis GNAPS pada anak. Metode yang digunakan adalah penelusuran literatur melalui basis data PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect terhadap publikasi dalam sepuluh tahun terakhir. Dari delapan artikel yang memenuhi kriteria inklusi, didapatkan bahwa penurunan kadar C3 merupakan temuan yang paling konsisten pada fase akut GNAPS dan umumnya kembali normal dalam waktu 6–8 minggu. Sementara itu, peningkatan titer ASO berperan sebagai bukti serologis adanya infeksi streptokokus sebelumnya, namun sensitivitasnya bervariasi bergantung pada lokasi infeksi serta waktu pengambilan sampel. Kombinasi kadar C3 yang rendah dengan titer ASO yang meningkat memberikan nilai diagnostik tertinggi dibandingkan penggunaan masing-masing parameter secara terpisah. Pemahaman yang baik terhadap pola perubahan C3 dan ASO sangat penting untuk meningkatkan akurasi diagnosis, menghindari pemeriksaan yang tidak perlu, serta mencegah kesalahan interpretasi pada GNAPS anak.
Karakteristik Pasien Gizi Buruk Pada Balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo 2024 Purnamasari, Sri; Makmum, ⁠Armanto; Gayatri, Sri Wahyuni; Darussalam, Andi Husni Esa; Nurmadilla, Nesyana
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1840

Abstract

Latar Belakang: Gizi buruk pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi kekurangan gizi (underweight) sebesar 19,6%. Di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo, masalah gizi buruk masih menjadi tantangan yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi ekonomi, sanitasi, dan pengetahuan ibu. Penelitian ini dilakukan untuk memahami karakteristik pasien gizi buruk dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kasus gizi buruk pada balita, meliputi usia, jenis kelamin, riwayat kelahiran, pemberian ASI, kejadian infeksi, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu, kondisi ekonomi, dan riwayat imunisasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 44 balita yang mengalami gizi buruk di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita dengan gizi buruk berusia 13-59 bulan (86,4%), dengan proporsi lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan (70,45%). Sebanyak 68,2% balita lahir prematur, dan hanya 20,5% yang mendapatkan ASI eksklusif. Kejadian infeksi berulang juga menjadi masalah, dengan 45,5% balita sedang mengalami infeksi. Dari segi sanitasi, 54,5% balita menggunakan air sungai sebagai sumber utama. Selain itu, 75% ibu tidak memiliki pengetahuan gizi yang memadai, dan 63,6% balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Kesimpulan: Penelitian ini mengindikasikan perlunya peningkatan edukasi gizi untuk ibu, peningkatan cakupan imunisasi, dan intervensi pada balita berisiko tinggi. Penguatan peran posyandu dalam pemantauan pertumbuhan juga sangat diperlukan untuk mengatasi masalah gizi buruk.