Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Related Factors of Antiretroviral Adherence in HIV/AIDS Patients at one of the Community Health Centers in Malang City: Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral pada Pasien HIV/AIDS di Salah Satu Puskesmas di Kota Malang Putra, Dimas Setyadi; Puspitasari, Irma Melyani; Alfian, Sofa Dewi; Sari, Aisha Maulidya; Hidayati, Ika Ratna; Atmadani, Rizka Novia
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2023.009.01.7

Abstract

Introduction: HIV or Human Immunodeficiency Virus has become a serious global problem due to increased yearly infections. People living with HIV/AIDS (PLHIV) must take antiretrovirals (ARV) to improve their quality of life, so adherence is the main focus of therapy. Objective: This study aims to determine the factors that influence of adherence to ARV treatment in PLWHA at one of the Community Health Centers in Malang City. Methods: This study used a descriptive cross-sectional analysis method by collecting data using the Adherence to Refills and Medication Scale (ARMS) questionnaire during the February-March 2021 period at one of the Community Health Centers in Malang City and the data was analyzed using multivariate regression to determine the factors that influence adherence to ARV treatment. Results: This study involved 85 PLHIV patients. A total of 59 people (69.4%) were included in the compliant category on antiretroviral treatment. Multivariate analysis showed that men were 4 times more likely to be disobedient (p=0.022; OR = 4.922; 95% Cl = 1.261 – 19.208), while respondents with school education were less likely to be disobedient p=0.007 ; OR = 0.118; 95% Cl = 0.025 – 0.558). As for age, marital status, and employment status did not have a significant effect on adherence to ARV treatment. Conclusion: Gender is the most dominant factor in influencing adherence where male patients are 4 times more likely to be non-adherent compared to female patients.
Related Factors of Antiretroviral Adherence in HIV/AIDS Patients at one of the Community Health Centers in Malang City: Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral pada Pasien HIV/AIDS di Salah Satu Puskesmas di Kota Malang Putra, Dimas Setyadi; Puspitasari, Irma Melyani; Alfian, Sofa Dewi; Sari, Aisha Maulidya; Hidayati, Ika Ratna; Atmadani, Rizka Novia
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2023.009.01.7

Abstract

Introduction: HIV or Human Immunodeficiency Virus has become a serious global problem due to increased yearly infections. People living with HIV/AIDS (PLHIV) must take antiretrovirals (ARV) to improve their quality of life, so adherence is the main focus of therapy. Objective: This study aims to determine the factors that influence of adherence to ARV treatment in PLWHA at one of the Community Health Centers in Malang City. Methods: This study used a descriptive cross-sectional analysis method by collecting data using the Adherence to Refills and Medication Scale (ARMS) questionnaire during the February-March 2021 period at one of the Community Health Centers in Malang City and the data was analyzed using multivariate regression to determine the factors that influence adherence to ARV treatment. Results: This study involved 85 PLHIV patients. A total of 59 people (69.4%) were included in the compliant category on antiretroviral treatment. Multivariate analysis showed that men were 4 times more likely to be disobedient (p=0.022; OR = 4.922; 95% Cl = 1.261 – 19.208), while respondents with school education were less likely to be disobedient p=0.007 ; OR = 0.118; 95% Cl = 0.025 – 0.558). As for age, marital status, and employment status did not have a significant effect on adherence to ARV treatment. Conclusion: Gender is the most dominant factor in influencing adherence where male patients are 4 times more likely to be non-adherent compared to female patients.
EDUKASI KESEHATAN JIWA PADA IBU-IBU DI POSYANDU DESA KUTAMANDIRI KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN SUMEDANG Rendrayani, Farida; Zakiyah, Neily; Barliana, Melisa Intan; Puspitasari, Irma Melyani
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 13, No 1 (2024): Maret, 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v13i1.42700

Abstract

Kesehatan jiwa merupakan hak asasi manusia, yang tidak terpisahkan dari kesehatan dan kesejahteraan secara umum. Literasi mengenai kesehatan jiwa pada masyarakat khususnya depresi pada kaum ibu, memegang peranan penting dalam pencegahan dampak merugikan baik pada skala lokal maupun global. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PPM) ini dilakukan untuk meningkatkan literasi mengenai depresi pada kelompok kritikal yaitu, ibu-ibu yang memiliki anak balita. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan edukasi kesehatan jiwa dan membagikan flyer kepada ibu-ibu di Posyandu Kendedes Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Efektivitas kegiatan dalam meningkatkan literasi kesehatan jiwa pada ibu-ibu tersebut kemudian diukur berdasarkan perubahan skor tes pada saat sebelum dan sesudah penyuluhan menggunakan analisis statistik Wilcoxon-signed rank. Hasil pretest menunjukkan bahwa 68,75% peserta memiliki tingkat pengetahuan yang baik, yang diinterpretasikan berdasarkan nilai skor ≥ median (median = 7, rentang skor 3 – 8). Pada saat post-test terdapat peningkatan nilai skor dengan rata-rata nilai menjadi 8,19; rentang skor menjadi 6 -10. Hasil uji Wilcoxon-signed rank menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skor pre-test dan post-test (p = 0,03). Kegiatan PPM berupa edukasi kesehatan jiwa terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan mengenai depresi pada ibu-ibu. Kegiatan edukasi merupakan langkah penting dalam mencapai kesehatan jiwa yang lebih baik di masyarakat. Dengan demikian, kegiatan PPM ini harus terus berlanjut, baik dengan kelompok target yang sama maupun berkembang pada kelompok kritikal lainnya.
PELAYANAN KEFARMASIAN BERBASIS TEKNOLOGI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI Abdul Kholik Tasib; Eli Halimah; Irma Melyani Puspitasari
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 3 (2023): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i3.27926

Abstract

Kepatuhan yang buruk terhadap pengobatan antihipertensi merupakan faktor risiko utama dari tekanan darah yang tidak terkontrol. Pemanfaatan teknologi dapat memungkinkan farmasis untuk melakukan pelayanan kefarmasian secara lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi. Hasil penelusuran dari database pubmed dengan kata kunci (Pharmacist) AND (Adherence OR compliance) AND (Hypertension OR "blood pressure") AND (Technology) didapatkan 8 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk direview. Dalam studi ini, penggunaan teknologi untuk meningkatkan kepatuhan dengan menggunakan Botol Pil Berbicara, Pengingat Layanan Pesan Singkat (SMS), Video Online Berkode QR, Sistem Respons Suara Interaktif, Teknologi Informasi Multidisiplin, Klinik Perawatan Kolaboratif Virtual, Telehealth dalam Layanan Manajemen Perawatan Kronis, dan Teknologi yang Mendukung Rencana Kesehatan dan Apotek Komunitas. Teknologi dapat diterapkan dalam pelayanan kefarmasian secara efektif dapat meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi. Penerapan teknologi dalam pelayanan kefarmasian yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan kepatuhan karena kelupaan dapat menggunakan Pengingat SMS, sedangkan untuk pasien dengan literasi kesehatan rendah dapat menggunakan Botol Pil Berbicara atau Video Online berkode QR. Penerapan teknologi memungkinkan farmasis untuk memantau kepatuhan pengobatan dan tekanan darah di rumah dengan menggunakan Teknologi Sistem Respon Suara Aktif dan memungkinkan berkolaborasi dengan tenaga profesional kesehatan lainnya untuk meningkatkan kepatuhan pasien dengan menggunakan Teknologi Informasi Multidisiplin, Klinik Perawatan Kolaboratif Virtual atau pun Telehealth. Penerapan teknologi juga memungkinkan untuk diterapkan secara luas yang melibatkan apotek komunitas dan rencana kesehatan daerah dalam upaya meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dengan cara berbagi data menggunakan Teknologi yang Mendukung Rencana Kesehatan dan Apotek Komunitas.
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Sacubitril/Valsartan Dibandingkan Ramipril pada Pasien Gagal Jantung dengan Hipertensi di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Marulin, Dita; Puspitasari, Irma Melyani; Rahayu, Cherry; Zakiyah, Neily
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.2.86

Abstract

Berdasarkan hasil uji klinis, penggunaan sacubitril/valsartan mempunyai efektivitas yang lebih baik pada pengobatan pasien gagal jantung kronis dengan pengurangan fraksi ejeksi (HFrEF) bila dibandingkan dengan terapi standar. Namun, efektivitas biaya dengan terapi sacubitril/valsartan pada rawat inap untuk gagal jantung di Indonesia belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas biaya terapi sacubitril/valsartan bila dibandingkan dengan terapi standar ACE inhibitor (ramipril) pada pasien gagal jantung dengan hipertensi yang dirawat inap di RSUP dr.Hasan Sadikin Bandung. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan desain studi cross sectional dari rekam medis dan rincian biaya pengobatan pasien gagal jantung periode Januari sampai dengan Desember 2022. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas penurunan MAP (Mean Arterial Pressure) pada terapi sacubitril/valsartan dan ramipril berturut-turut 14 mmHg dan 13 mmHg. Sedangkan lama rawat untuk terapi dengan sacubitril/valsartan selama 5 hari dan ramipril selama 6 hari. Total biaya berdasarkan perspektif rumah sakit untuk biaya rawat inap, biaya dokter, biaya pelayanan dan tindakan, biaya obat, biaya alkes, dan biaya laboratorium sebesar Rp 22.823.450 pada terapi sacubitril/valsartan dan Rp 18.121.600 pada terapi ramipril. Nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) per penurunan 1 mmHg MAP dan per pengurangan 1 hari rawat yaitu Rp 4.701.800. Hasil analisis sensitivitas menunjukan efektivitas penurunan MAP, pengurangan hari rawat, biaya pelayanan dan tindakan, serta biaya alkes merupakan parameter yang berpengaruh terhadap ICER.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sacubitril/valsartan memiliki efektivitas terapi dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan ramipril, dimana efektivitas obat merupakan faktor yang paling mempengaruhi nilai ICER.
Pengaruh Faktor Usia, Polifarmasi, dan Komorbiditas terhadap Drug-Related Problems pada Pasien Diabates Melitus Tipe 2 Durotulailah, Lela; Alfian, Sofa Dewi; Puspitasari, Irma Melyani; Silanas, Ilman
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2023.12.3.61902

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa lebih dari satu dari sepuluh individu dewasa di seluruh dunia menderita DM. Penyakit ini tidak hanya memberikan beban morbititas dan mortalitas tinggi, tetapi juga berkontribusi terhadap timbulnya berbagai kondisi penyerta (komorbiditas) yang kompleks. Kombinasi antara usia lanjut, polifarmasi, dan komorbiditas tersebut meningkatkan risiko terjadinya masalah terkait obat (drug-related problems/DRPs) pada pasien DM tipe 2, yang pada akhirnya dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan kualitas hidup pasien. Tujuan artikel review ini adalah mengidentifikasi pengaruh usia, polifarmasi, dan komorbiditas terhadap DRPs pada pasien DM tipe 2 baik di pelayanan rawat inap maupun rawat jalan. Penelitian ini menggunakan metode review dengan mengacu pada artikel-artikel yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Strategi pencarian artikel menggunakan data berbasis elektronik yaitu PubMed, Medline, dan Scopus. Hasil penelusuran artikel yang memenuhi kriteria inklusi diperoleh sebanyak 6 artikel.  Artikel yang terpilih menunjukkan bahwa faktor usia, polifarmasi, dan komorbiditas memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian DRPs pada pasien dewasa dengan DM tipe 2 di layanan kesehatan sehingg diperlukan manajemen pengobatan yang cermat dan pemantauan yang ketat oleh tenaga kesehatan terutama apoteker untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaian DRPs secara dini, untuk mencapai perbaikan dalam kualitas hidup pasien.
QUALITY OF LIFE IN HEART FAILURE PATIENTS RECEIVING SODIUM GLUCOSE -2 (SGLT2) INHIBITORS: A LITERATURE REVIEW Alfathia, Kinanti; Zakiyah, Neily; Dewi, Triwedya Indra; Puspitasari, Irma Melyani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 3 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i3.3059

Abstract

Gagal jantung merupakan kondisi klinis progresif yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Penghambat Natrium Glukosa Co-transporter-2 (SGLT2), yang awalnya dikembangkan untuk terapi diabetes melitus tipe 2, telah menunjukkan manfaat kardiovaskular. Studi ini bertujuan mengevaluasi dampak penggunaan penghambat SGLT2, terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung melalui tinjauan sistematis literatur. Penelusuran dilakukan di database PubMed dan EBSCOhost untuk menemukan uji klinis terkontrol secara acak yang melaporkan perubahan kualitas hidup menggunakan instrumen valid seperti Kansas City Cardiomyopathy Questionnaire (KCCQ) dan EuroQol 5-Dimension (EQ-5D). Dari 398 artikel yang diidentifikasi, sebanyak 20 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa terapi penghambat SGLT2 secara konsisten meningkatkan skor KCCQ dan EQ-5D secara bermakna dibandingkan plasebo, mencerminkan perbaikan pada aspek fisik, gejala klinis, dan kesejahteraan emosional. Efektivitas ini tercatat konsisten pada berbagai subpopulasi, terlepas dari status diabetes dan tipe fraksi ejeksi dan mendukung peran SGLT2 inhibitor sebagai terapi komprehensif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung.
EFFECTIVENESS OF STATIN AND EZETIMIBE COMBINATION ON ATHEROSCLEROTIC PLAQUE IN PATIENTS WITH CORONARY HEART DISEASE Sumedhi, Herdina Mayangsari; Zakiyah, Neily; Dewi, Triwedya Indra; Sinuraya, Rano Kurnia; Puspitasari, Irma Melyani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 3 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i3.3198

Abstract

Penyakit jantung koroner mengacu pada kondisi penyumbatan pembuluh darah arteri yang dikenal dengan istilah aterosklerosis. Statin bekerja dengan mengurangi produksi kolesterol di hati serta menjaga stabilisasi plak pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Namun demikian pemberian statin tidak dapat ditoleransi dengan baik pada pasien tertentu, sehingga dipertimbangkan penggunaan kombinasi statin dengan ezetimibe. Tinjauan artikel ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi statin dan ezetimibe terhadap plak aterosklerosis pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Penelusuran pustaka dilakukan menggunakan basis data PubMed dan EBSCO (MEDLINE Ultimate) pada bulan Februari 2025 dengan menggunakan kata kunci “Ezetimibe”, “Hydroxymethylglutaryl-CoA Reductase Inhibitors”,“Atherosclerotic Plaque” dan “Coronary Artery Disease”. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu artikel berbahasa Inggris, diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir, penelitian pada manusia, dan merupakan randomized controlled trial pada pasien jantung koroner dengan atau tanpa penyakit penyerta. Kriteria eksklusi meliputi: tinjauan/review, studi protokol, editorial, tinjauan sistematis dan meta analisis, dan topik/hasil yang tidak relevan. Penelusuran awal menghasilkan 34 artikel dengan 10 duplikasi dan 14 kriteria eksklusi, sehingga diperoleh 10 artikel penelitian yang berfokus di Jepang, Korea, dan Cina. Hasil tinjauan artikel menunjukkan bahwa kombinasi statin dengan ezetimibe lebih efektif dalam menurunkan low density lipoprotein-cholesterol (LDL-C), mengurangi respon inflamasi, serta menghasilkan regresi plak aterosklerosis yang lebih besar dibandingkan monoterapi statin. Dengan demikian, penggunaan kombinasi statin dosis rendah hingga sedang dan ezetimibe dapat menjadi terapi pilihan bagi pasien dengan penyakit jantung koroner yang berisiko tinggi.