Claim Missing Document
Check
Articles

EVALUASI PEMELIHARAAN INDUK KAMBING SAANEN LAKTASI DAN ANALISIS KUALITAS SUSU SEGAR DI KECAMATAN BATU, KOTA BATU M. Basid Sidiq; Usman Ali; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemeliharaan induk kambing laktasi dan menganalisis kualitas susu segar di peternakan kambing Saanen Kecamatan Batu, Kota Batu. Materi penelitian adalah 24 ekor induk laktasi kambing perah Saanen di peternakan Dr Goat dan 6 ekor induk laktasi kambing perah Saanen di peternakan H2 Farm, serta lactoscan. Metode penelitian adalah studi kasus dengan wawancara dan kuisioner. Penentuan sample secara purposive dan pengambilan sampel secara keseluruhan induk laktasi dengan kriteria kambing perah yang sedang laktasi 3-5 sekitar umur 3 sampai 4,5 tahun. Variabel yang diamati adalah kasus pemeliharaan dan kualitas susu kambing segar. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi manajemen pemeliharaan kambing dilakukan secara intensif, pemilihan bibit yang unggul, kandang panggung, pakan hijauan rumput odot secara ad libitum dan kosentrat pollard mixfeed ½ kg 2x1 hari, perkawinan alami, kesehatan dengan obat cacing, biosecurity dengan penyemprotan disinfektan. Hasil uji kualitas susu susu segar Dr Goat kadar lemak susu 4,58%, kadar bahan kering tanpa lemak 7,77%, kadar protein 3,69% , laktosa 3,48% , temperatur 29,40°C, water 16,92%, salt 0,52%. Kualitas susu H2 Farm kadar lemak susu 6,32%, kadar bahan kering tanpa lemak 8,84% , kadar protein 4,21% , laktosa 3,96% dan temperatur 27,80 °C, water 02,30%, salt 0,66%. Kesimpulan pemeliharaan induk kambing perah Saanen di kedua peternakan Kota Batu sudah sesuai prosedur Permentan mengenai pedoman budidaya kambing perah yang baik berdasarkan kondisi fisik dan pemeliharaan. Kualitas susu kambing segar berdasarkan uji fat, snf, laktosa, protein dan temperatur di peternakan kambing perah telah memenuhi standar susu segar.Keywords: Pemeliharaan Kambing, kualitas susu, adlibitum
PENGARUH BIO ORGANIK SUMPLEMEN (BOS) TERHADAP BOBOT, INDEKS BENTUK DAN TEBAL KULIT TELUR AYAM ISA BROWN DI ATAS UMUR 64 MINGGU Dwi Aji Andrianto; Sunaryo sunaryo; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh BOS terhadap bobot, indeks dan tebal kulit telur ayam petelur di atas umur 64 minggu. Materi penelitian ini menggunakan BOS yang dicampur dengan air minum dan ayam petelur sebanyak 120 ekor terdiri umur 64, 72 dan 92 minggu. Setiap unit percobaan terdiri dari 10 ekor. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 3 kelompok umur K1 (62 minggu), K2 (72 minggu) dan K3 (92 minggu). dan 4 perlakuan. Perlakuannya terdiri dari pemberian BOS 0 ml/liter air minum asebagai kontrol (P0), 0,5 ml/l air (P1), 0,75 ml/l air (P2), dan 1ml/l air (P3). Data yang diperoleh dianalisis ragam dan dilanjut dengan uji Beda NyataTerkecil. Hasil analisis ragam menunjukan bahwa umur dan perlakuan pemberian dosis (BOS) pada air minum berpengaruh sangat nyata terhadap bobot, indeks dan tebal kulit telur (P<0,01). Rata-rata bobot telur (g) K1;70,050a, K2; 70,5250b, K3; 70,9450c. Rata-rata bobot telur (g) P0 ;69,7770a , P1: 70,450b, P2 : 70,7670bc, P3: 71,0330c. Rata-rata indeks telur K1; 76,240c ,K2; 74,758b, K3; 73,810a. Rata-rata indeks telur P0: 71,54a, P1: 73,93b, P2: 76,43b, P3: 77,85c. Ratarata tebal kulit (mm) K1;0,4000c, K2; 0,3920b, K3; 0,3830a. Rata-rata tebal kulit telur (mm) P0: 0,3810a .P1: 0,3910ab, P2: 0,3940b, P3: 0,399b. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan BOS meningkatkan bobot dan indeks bentuk telur, serta mempertebal kulit telur. Pemberian BOS pada air minum yang terbaik pada dosis 0,75ml/l air. Untuk memperbaiki kualitas telur ayam petelur umur di atas 64 minngu disarankan menggunakan BOS dalam air minum dengan dosis 0,75 ml/l.Kata kunci : Bio Organic Suplemen (BOS), bobot telur, indeks telur, tebal kulit telur
PENGARUH PERENDAMAN BERBAGAI KONSENTRASI DAN JENIS CUKA TERHADAP NILAI pH DAN SUSUT MASAK DAGING AYAM PETELUR AFKIR Ilmayana Husnia; Irawati Dinasari; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untukmenganalisa dari pengaruh perendaman berbagai konsentrasi dan jenis cuka terhadap nilai pH dan susut masak daging ayam petelur afkir. Pada Penelitian kali ini dilaksanakan di Lab. Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan UNISMA pada tanggal 12 Maret- 12April 2020.  Dalam penelitian terdapat bahan materi yitu jenis cuka, ayam petelur afkir, dan aquades. Alat yang digunakan beaker glass. pH meter, waterbath, stopwatch, serta alat tulis. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan pola tersarang orthogonal Faktoor A adalah konsentrasi (4%, 6%, 8%). Fakktor B  adalah jenis cuka (cuka madu dan cuka makan). Yang diamati dalam penelitian ini adalah nilai pH dan susut masak. Data hasil penelitian menganalisi menggunakan (ANOVA) Analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) apabila ada pengaruh. Berdasarkan penelitian hasil menunjukan kontrol dengan perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai pH dan susut. Perendaman berbagai jenis cuka (P<0,01) berpengaruh sangat nyata terhadap nilai pH dan (P<0,05) berpengaruh nyata terhadap susut masak. Perendaman berbagai konsentrasi dalam jenis cuka pengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH daging dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) susut masak daging. Penelitian ini berkesimpulan menunjukkan bahwa perendaman dengan konsentrasi 8% pada berbagai jenis cuka akan menghasilkan nilai pH dan nilai susut masak yang masih dalam batas normal terhadap daging afkir. Disarankan dengan perendaman konsentrasi 8% pada berbagai jenis cuka  akan menghasilkan nilai pH dan susut masak yang terbaik pada daging ayam petelur afkir. Perlunya penelitian lanjutan tentang pengaruh berbagai konsentrasi dengan mengunakan berbagai jenis cuka terhadap uji daya ikat air, uji kualitas organoleptik dan keempukan pada daging ayam petelur afkir.
PENGARUH UKURAN MANGKOK BUATAN TERHADAP PANJANG SAYAP DAN CUBITAL INDEX CALON RATU APIS CERANA Fatimah Azzahra; Mudawamah mudawamah; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai ukuran mangkok buatan terhadap panjang sayap dan cubital index calon lebah ratu Apis cerana java genotype. Materi yang digunakan adalah larva Apis cerana umur 1 hari, lilin Apis cerana dan gas CO2, mikrometer okuler dan kaca objektif. Metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 6 kotak koloni sebagai ulangannya dan masing-masing 4 unit. Analisa data dengan analisis ragam dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Perlakuan mangkok buatan terdiri dari P1(ukuran kecil) dengan ukuran berikut: tinggi 7,5 mm; diameter atas dan bawah adalah 6,5 mm dan 4,4 mm. P2 (ukuran sedang) tinggi 8,5 mm, diameter atas dan bawah adalah 7,1 mm dan 5,8 mm, dan P3 (ukuran besar) tinggi 10 mm, diameter atas dan bawah 7 mm dan 6,2 mm. Hasil penelitian menunjukkan berbagai ukuran mangkok berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap panjang sayap dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap cubital index. Panjang sayap diperoleh senilai 14,93 mmb pada ukuran mangkok buatan besar (P3), 13,47 mmab pada ukuran sedang (P2) dan terakhir 12,80 mma pada ukuran kecil (P1). Cubital index tertinggi dengan ukuran mangkok buatan besar (P3) senilai 4,24 mmb, P2 senilai 3,71 mmab dan P1 senilai 3,17 mma. Dapat disimpulkan bahwa panjang sayap dan cubital index calon lebah ratu Apis cerana java genotype dipengaruhi oleh ukuran mangkok buatan. Mangkok buatan dengan tinggi 10 mm, diameter atas 7,1 mm dan diameter bawah 6,2 mm dijadikan patokan agar calon lebah ratu yang dibuat selanjutnya memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan optimal.Kata kunci : Ukuran mangkok buatan, calon lebah ratu, Apis cerana java genotype, panjang sayap cubital index.
PENGARUH BERBAGAI UKURAN MANGKOK BUATAN TERHADAP PANJANG TUBUH DAN BOBOT CALON LEBAH RATU Apis cerana java genotype Desirma Cipta Masnaly; Muhammad Farid Wadjidi; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 01 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai ukuran mangkok buatan terhadap panjang tubuh dan bobot calon lebah ratu Apis cerana java genotype. Larva Apis cerana umur 1 hari, lilin Apis cerana, gas CO2 sebagai bahan dan timbangan analitik dengan ketelitian 0,01g, milimeterblok sebagai alat. Metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 3 perlakuan dan 6 kotak koloni sebagai ulangannya dengan masing-masing ulangan 4 unit, kemudian dilanjut uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Mangkok buatan terbagi menjadi P1(kecil) = tinggi 7,5 mm; diameter atas 6,5 mm; diameter bawah 4,4 mm, P2(sedang) = tinggi 8,5 mm; diameter atas 7,1 mm; diameter bawah 5,8 mm, P3(besar) = tinggi 10 mm; diameter atas 7,1 mm; diameter bawah 6,2 mm. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh nyata (P<0,05) antara berbagai ukuran mangkok buatan dan panjang tubuh, sedangkan pengaruh berbagai ukuran mangkok buatan terhadap bobot calon lebah ratu sangat nyata (P<0,01). Nilai rataan panjang tubuh terbesar diperoleh sebesar 12,52 mmb dengan ukuran mangkok buatan besar (P3), 11,06 mma dengan ukuran mangkok buatan sedang (P2), terakhir 10,96 mma dengan ukuran mangkok buatan kecil (P1). Bobot calon lebah ratu terbesar senilai 122 mgb (P3), dibawahnya 119 mgb (P2) dan terkecil 119 mga (P1). Dapat disimpulkan adanya pengaruh nyata terhadap panjang badan dan pengaruh sangat nyata terhadap bobot lebah ratu Apis cerana java genotype. Mangkok buatan dengan tinggi 10 mm, diameter atas 7,1 mm dan diameter bawah 6,2 mm dijadikan patokan  agar  calon  lebah ratu  yang  dibuat  selanjutnya memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan optimal. Kata kunci : ukuran mangkok buatan, lebah ratu, Apis cerana java genotype, panjang tubuh, bobot calon ratu.
ANALISIS PRODUKTIVlTAS KAMBlNG P.E.R.A.NAKAN ET.AW.AH (P.E) BER.DASAR.KAN .L.ITTER .SI.Z.E, T.I.PE KELAHlRAN D.A.N MORTALlTAS (ARTICLE REVIEW) Norizan Norizan; Sumartono Sumartono; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penel.it.i.an i.n.i  bertujuan untuk menganalisis tingkat p.rodu.ktiv.itas  kambing Peranakan Etawah (PE) berdasarkan litter size, tipe kelahiran dan mortalitas. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan cara telaah pustaka (literature review) terkait Produktivitas Kambing Peranakan Etawah (PE). Berdasarkan hasil telaah literatur yang diperoleh diketahui bahwa persentase litter size Kambing Peranakan Etawah (PE) berkisar 1,06%-2,00%. Persentase tipe kelahiran yang paling optimal adalah tipe kelahiran kembar dua yaitu sebesar 61,70%, sedangkan persentase mortalitas tertinggi adalah pada tipe kelahiran kembar yaitu sebesar 61,29%. Kesimpulan dari penelitian studi literatur ini adalah produktivitas induk kambing Peranakan Etawah optimal pada tipe kelahiran kembar dua. Pada umumnya Kambing Peranakan Etawah (PE) pada tipe kelahiran kembar dua mampu menghasilkan jumlah anak sekelahiran lebih tinggi. Pada tipe kelahiran  kembar daya mortalitas lebih tinggi daripada tipe  kelahiran  tunggal. Paritas dan kondisi lingkungan merupakan faktor-faktor yang  dapat  mempengaruhi   produktivitas   Kambing Peranakan  Etawah  (PE).
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA SMPAN SUSU KAMBING PASTEURISASI PADA SUHU REFRIGERATOR TERHADAP TOTAL MIKROBA DAN KADAR PROTEIN Firda Uswatun Khotimah; Inggit Kentjonowaty; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis adanya pengaruh jenis kemasan dan lama simpan susu kambing pasteurisasi dalam suhu refrigerator terhadap total mikroba dan kadar protein. Materi yang digunakan yaitu susu kambing segar, aquades, nutrient agar (NA), botol polyethylene terephthalate (PET) dan kantong plastik polypropylene (PP). Metode penelitian percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nested dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor A = jenis kemasan (K1 = botol plastik PET, K2 = kantong plastik PP). Faktor B = lama simpan (L6 = 6 hari dan L12 = 12 hari). Variabelnya adalah total mikroba dan kadar protein. Data yang diperoleh dianalisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan dan lama simpan susu kambing pasteurisasi dalam suhu refrigerator berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap total mikroba tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar protein. Rataan total mikroba (CFU/ml) pada K1 = 4,1x102a dan K2 = 3,1 x103b, K1L6 = 3,3x102 a, K1L12 = 5x102 a, K2L6 = 6,2 x103 ab, K2L12 = 7,7x103 b. Rataan kadar protein (%) pada K1 = 3,74, K2 = 3,6, K1L6 = 3,61, K1L12 = 3,59, K2L6 = 3,6, K2L12 = 3,86. Kesimpulannya adalah kemasan botol plastik PET lebih baik dibandingkan kantong plastik PP sebagai bahan pengemas susu kambing pasteurisasi dalam suhu refrigerator 9 °C dilihat dari total mikroba dan kadar protein. Kata Kunci : Susu kambing, pasteurisasi, total mikroba, kadar protein, kemasan
PENGARUH PEMBERIAN SARI DAUN MENGKUDU (MORINDA CITRIFOLIA) DAN MULTI ENZIM DALAM AIR MINUM TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN QUAIL DAY PRODUCTION TERNAK PUYUH PERIODE LAYER Edy Purwanto; Muhammad Farid Wadjidi; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 01 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk menganalisa pengaruh pemberian sari daun mengkudu (morinda citrifolia) dan multi enzim dalam air minum terhadap konsumsi pakan dan quail day production ternak puyuh periode layer. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sari daun mengkudu, multi enzim dengan burung puyuh usia 6 bulan yang banyaknya 320 ekor. Metode pengamatan ini yaitu penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan ditambah campuran sari daun mengkudu (Morinda citrifolia) dan multi enzim/SDME dengan tingkat yang berbeda dalam air minum, P0 = air minum tanpa SDME, P1 = air minum + 3 ml SDME, P2= air minum + 6 ml SDME, dan P3 = air minum + 9 ml SDME. Data yang didapatkan dianalisa dengan analisis ragam (ANOVA) dan apabila berpengaruh dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pemberian sari daun mengkudu dan multi enzim(SDME) pada air tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan (P>0,05) tetapi berpengaruh nyata terhadap Quail Day Production (P<0,05). Rata-rata nilai konsumsi pakan selama penelitian pada puyuh umur 180 sampai 200 hari adalah P0= 419,10 gram P1= 418,78 gram P2=  418,61 gram dan  P3= 418,53 gram. Rata-rata Quail Day Production (%) selama penelitian (20 hari) pada puyuh umur 180 sampai 200 hari adalah P0= 67,88a, P1= 69,13a, P2= 72,50ab dan P3= 76,75b. Disimpulkan bahwa penambahan pemberian sari daun mengkudu dan multi enzim dalam air minum menjadi meningkat pada Quail Day Production dan tidak menimbulkan pengaruh terhadap konsumsi pakan pada puyuh periode layer usia 180 hari sampai 200 hari. Direkomendasikan menambahkan sari daun mengkudu dan multi enzim sebanyak 9 ml kedalam 1 liter air minum untuk mendapatkan Quail Day Production yang baik. Kata kunci : puyuh, sari daun mengkudu, multi enzim, konsumsi pakan dan Quail Day Production.
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI LEVEL SUKROSA DAN FRUKTOSA TERHADAP TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT DAN NILAI pH YOGHURT SUSU KAMBING Dicky Ari Pratangga; Sri Susilowati; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan sukrosa dan fruktosa pada berbagai level terhadap total Bakteri Asam Laktat (BAL) dan nilai pH yoghurt susu kambing. Materi yang digunakan susu kambing sebanyak 5 L, starter yoghurt komersil, sukrosa, fruktosa, media MRS agar, aquades, alkohol 95%, spirtus, alumunium foil, tissue dan kapas. Penelitian menggunakanmetode percobaan dan rancangan Nested 8 perlakuan 3 ulangan, A1B0 = sukrosa level 0%, A1B1 = sukrosa level 4%, A1B2 = sukrosa level 6%, A1B3 = sukrosa level 8%, A2B0 = fruktosa level 0%, A2B1 = fruktosa level 4%, A2B2 = fruktosa level 4%, A2B3 = fruktosa level 8% dan diuji lanjut menggunakan uji BNT 5%. Variabel yang diamati total BAL dan nilai pH. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan berbagai jenis gula dan level dalam jenis gula berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total BAL yoghurt susu kambing dan penambahan level dalam jenis gula berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai pH yoghurt susu kambing. Rata-rata total BAL (CFU/ml) A2B0 = 9x106 ± 0,12a, A1B0 = 1x107 ± 0,08ab, A2B1 = 1,1x107 ± 0,11abc, A2B2 =1,3x107 ± 0,08abcd, A2B3 = 1,5x107 ± 0,12bcd, A1B1 = 1,6x107 ± 0,08cd, A1B2 = 1,6x107 ± 0,06 cd, A1B3 = 2x107 ± 0,12d. Rata-rata nilai pH A1B3 = 4,10 ± 0,08a, A2B3 = 4,17 ± 0,12ab, A1B2 = 4,20 ± 0,08 ab, A1B1 = 4,37 ± 0,09abc, A2B2 = 4,40 ± 0,08bc, A2B1 = 4,50 ± 0,08c, A1B0 = 4,57 ± 0,05c,A2B0 = 4,60 ± 0,16c. Kesimpulan penelitian bahwa Semakin tinggi penambahan level sukrosa dan fruktosa pada yoghurt susu kambing maka meningkatkan total BAL dan menurunkan nilai pH. Penambahan berbagai level sukrosa dan fruktosa pada total Bakteri Asam Laktat (BAL) dan nilai pH yoghurt susu kambing yang optimal pada penambahan sukrosa dengan level 8%. Disarankan untuk menggunakan penambahan sukrosa level 4% dalam pembuatan yoghurt susu kambing karena lebih ekonomis.Kata kunci : Yoghurt kambing, sukrosa, fruktosa, total BAL, nilai pH
PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN DAUN SENGON (Albizzia falcataria) TERALKALINASI DAN TERFERMENTASI TERHADAP BIAYA PAKAN PERKILOGRAM PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN INCOME OVER FEED COST ITIK PEDAGING PERIODE FINISHER Fajar Bayu Dwi Kurniawan; Umi Kalsum; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan daun sengon teralkalinasi dan terfermentasi terhadap biaya pakan perkilogram pertambahan bobot badan dan income over feed cost (IOFC) itik pedaging fase finisher yang dilaksanakan pada tanggal 28 April sampai 22 Mei 2020 di kandang peternakan Bapak Supriadi Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Materi dalam penelitian adalah itik peking jantan umur 22 hari, konsentrat 511, CP 144, jagung giling, pollard, dan daun sengon teralkalinasi dan terfermentasi Aspergillus niger. Penelitian ini menggunakan metode percobaan, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan, tiap ulangan terdiri dari 5 ekor itik, dengan perlakuan A = 100% ransum tanpa ditambah daun sengon, B = 95% ransum ditambah 5% daun sengon. C = 90% ransum ditambah 10% daun sengon. D = 85% ransum ditambah 15% daun sengon.  Analisis data menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap biaya pakan perkilogram PBB, diperoleh nilai rata – rata A = Rp. 20.435,64b ; B = Rp. 19.862,30ab ; C = Rp. 18.988,67a ; D = Rp. 18.452.08a. Pada nilai IOFC menunjukan pengaruh nyata (P<0,05).  Nilai rata – rata IOFC yaitu A = Rp. 1943,10a ; B = Rp. 2592,52ab ; C = Rp. 3625,81bc ; D = Rp. 4208,57c. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan 5, 10 dan 15% daun sengon teralkalinasi dan terfermentasi Aspergillus niger mampu menurunkan biaya pakan perkilogram PBB dan meningkatkan IOFC. Penggunaan 15% daun sengon teralkalinasi dan terfermentasi Aspergillus niger dalam ransum itik peking fase finisher optimal dalam menghasilkan biaya pakan perkilogram PBB paling rendah sebesar Rp. 18.452,08 dan IOFC paling tinggi sebesar Rp. 4.208,57.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Abiwardhani, Alif Brillian Ahlul Ilham Mahayana Ahmad Fadholi, Ahmad Ahmad Fa’iqin Alik Maulidiyah Armada armada Azmi, Ahmad Faruq Badat Muwakhid Bayu Pratama, Bima Sakti Bustami Fauzan Daniar Dwi Absari Dedi Suryanto Desirma Cipta Masnaly Desy Desy Dicky Ari Pratangga Dinasari, Irawati Dwi Aji Andrianto Edi Hartono Edy Purwanto Fadilla, Zahra Jinan Faiqul Mubarok Fajar Bayu Dwi Kurniawan Fanani, Khoirul Fatimah Azzahra Firda Uswatun Khotimah Fitriani Fitriani Hae, Nabila Latifa Hairil Ansyarif Hamdan Has Hariri, Moh Ibrahim, Ismet Igo Athief Naufal, Maulana Ilmayana Husnia In&#039;am Maulidha Rizaldy Inggit Kentjonowaty Intan Dwi Novieta, Intan Dwi Irawati Dinasari Retnaningtyas Irmayani Irmayani Ita Athia Iva Siska Anggraeni Devitasari Khadafi, Muhammad Rahul Kharismawan, Wildan Bilal khowi, Muhamad Abdul Kusnarida, Elif Luluh Anggriani M Nurkholis M. Basid Sidiq Mahardhika, Brahmadhita Pratama Mahmuda, Yuwanda Lailatul Mardhotilah, Achmad Bagus Adhiluhung Masnaly, Desirma Cipta Maulana, Robby Rizaldi Merlita Herbani Mu’is, Muhammad Mubaraq, Ghusni Mudawamah Mudawamah Muhamad Farid Wadjdi Muhammad Faisal Muhammad Farid Wadjdi Muhammad Farid Wadjidi Muhammad Nizham Pradiptha Musoffin, Abdul Nanda Agustia Nasharuddin Nisa’us Sholikah Norizan Norizan Novi Apriyanti Nur Laili Azizah Nur Laili Azizah Nurazka, Nauval Nurul Friska Maulidah Nurul Humaidah Nurul Jadid Mubarokati Oktriza Melfazen Oktriza Melfazen Purnama, Shelly Eka R, Rasidin Rahmat Dianto Rasbawati, Rasbawati Retnaningtyas, irawati Dinasari Ridha Rizkiani Ainun Nishak Rifkas, Alvin Paradiptya Rita Dewi Antika Rizki Rizki Sadewa, Jihad Sahidan Rais Salsabila, Maulida Setiawan, Tri Bagus Sihabudin, Agus Sirojuddin, Khidzir Sri Susilowati Sri Susilowati Sri Susilowati Sultoni, Muhammad Sumartono Sunaryo Sunaryo Syafirah, Nurmaya Syam Rahadi Thaufiqur Rochman, Achmad Tintrim Rahayu, Tintrim Toriq Nur Satrio Prayoga Ulinnuha, Ahmad Umi Kalsum Unung Lesmanah Usman Ali Utomo, Moch Luthfi Hadi Wijaya, Ega Adi Wulang, Chairul Usman Muhammad Yanti Nurjaya, Maria Indradi