Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

KEBIASAAN MAKAN IKAN BLUE NEON GOBY (Stipodhon semoni Weber, 1895) DI SUNGAI BIAK KABUPATEN BANGGAI, SULAWESI TENGAH. Khartiono, Lady Diana; Gani, Abdul; wuniarto, erwin; Herjayanto, Muh; Ndobe, Samliok; Bakri, Achmad Afif; Nurjirana, Nurjirana; Senggagau, Betutu; wisto, Wisto; ali, wildayanti
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.1.2024.1-6

Abstract

Genus Stiphodon adalah spesies ikan air tawar yang bersifat amphidromous, salah satunya Stiphodon semoni terkenal karena kecantikan warna tubuh, hijau atau biru metalik yang biasa disebut dengan nama Blue Neon Goby. Pada tahun 2020 tim pengusul penelitian menemukan Stiphodon semoni terdapat di beberapa wilayah sungai Pulau Sulawesi salah satunya di Sungai Biak Luwuk Banggai. Spesies S. semoni adalah ikan asli/ native perairan sungai di Sulawesi Tengah, Luwuk Banggai. Namun penemuan ikan native S. semoni tersebut disertai dengan ancaman kepunahannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data kebiasaan makanan ikan dari pengamatan pada habitatnya dan pengamatan laboratorium. Dari hasil penelitian ditemukan ikan S. semoni hidup pada perairan jernih dengan substrat dasar berbatu dan arus sedang, pada kedalaman air 30 cm – 50 cm. Tingkah laku S. semoni makan yaitu memakan makanan yang menempel pada bebatuan. Kemampuan menempelkan tubuhnya di permukaan substrat dasar bebatuan tersebut disebabkan oleh adanya modifikasi pada sirip perut (pelvic fin) yang menyerupai alat penghisap. Modifikasi tersebut dapat menyebabkan ikan S. semoni menempel kuat dan tidak hanyut oleh arus sungai. Jenis makanan ikan S. semoni yaitu jenis fitoplankton diatom dari kelas Bacillariophyceae, kelas Zignematophyceae, Mikrospora dan Cilliata. Sebelum memasuki musim hujan, komposisi makanan didominasi oleh Zignema sp. dan Cymbella, pada musim penghujan komposisi makanan didominasi oleh diatom Cymbella, Bacillaria dan terdapat banyak Mikrospora. Panjang usus S. semoni lebih panjang dari panjang tubuh, yaitu rerata 1,45 sehingga diduga S. semoni merupakan golongan omnivora.
Penggunaan madu sebagai bahan seks reversal alami untuk ikan cupang Betta splendens (Teleostei: Osphronemidae) melalui perendaman embrio Herjayanto, Muh.; Madinawati, Madinawati; Widiastuti, Irawati Mei
Jurnal Intek Akuakultur Vol. 7 No. 1 (2023): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Individu jantan Betta splendens memiliki warna dan bentuk yang digemari di pasar ikan hias dibandingkan betina. Karena itu budidaya cupang dapat dilakukan melalui produksi jantan menggunakan teknologi seks reversal dalam mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan (maskulinisasi). Bahan alami yang telah digunakan untuk maskulinisasi ikan adalah madu. Karena itu tujuan penelitian adalah mengkaji penggunaan madu melalui perendaman embrio untuk maskulinisasi ikan cupang. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, mortalitas tiap 15 hari, dan sintasan pada akhir pemeliharaan. Embrio yang digunakan berumur 20 jam setelah pembuahan. Perlakuan penelitian adalah perendaman embrio cupang di dalam larutan madu (mL L-1) 5, 10, 15, 20, dan 25. Perendaman dilakukan selama 7 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang digunakan memiliki kalium 0,31% dan pH 4. Pada penelitian ini pemberian madu tidak berpengaruh terhadap jumlah cupang jantan. Pemberian madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98±4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17±1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89±4,50%. Mortalitas terjadi pada awal pemeliharaan larva. Setelah umur 60 hari setelah menetas tidak terjadi kematian pada cupang. Nilai tingkat penetasan telur dan sintasan yang tinggi menunjukkan bahwa madu adalah bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan dalam budidaya monoseks.Individu jantan Betta splendens memiliki warna dan bentuk yang digemari di pasar ikan hias dibandingkan betina. Karena itu budidaya cupang dapat dilakukan melalui produksi jantan menggunakan teknologi seks reversal dalam mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan (maskulinisasi). Bahan alami yang telah digunakan untuk maskulinisasi ikan adalah madu. Karena itu tujuan penelitian adalah mengkaji penggunaan madu melalui perendaman embrio untuk maskulinisasi ikan cupang. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, mortalitas tiap 15 hari, dan sintasan pada akhir pemeliharaan. Embrio yang digunakan berumur 20 jam setelah pembuahan. Perlakuan penelitian adalah perendaman embrio cupang di dalam larutan madu (mL L-1) 5, 10, 15, 20, dan 25. Perendaman dilakukan selama 7 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang digunakan memiliki kalium 0,31% dan pH 4. Pada penelitian ini pemberian madu tidak berpengaruh terhadap jumlah cupang jantan. Pemberian madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98±4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17±1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89±4,50%. Mortalitas terjadi pada awal pemeliharaan larva. Setelah umur 60 hari setelah menetas tidak terjadi kematian pada cupang. Nilai tingkat penetasan telur dan sintasan yang tinggi menunjukkan bahwa madu adalah bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan dalam budidaya monoseks.
Evaluation of population growth of daphnia magna feeding Ulva lactuca Laheng, Suardi; Herjayanto, Muh.; Putri, Ika Wahyuni
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 10: No. 2 (August, 2023)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v10i2.9869

Abstract

Success in the fish hatchery is influenced by natural feed. One of the natural freshwater feeds that have a high nutritional content and is easy to cultivate is Daphnia magna. The availability of D. magna at any time must be supported by daily feeding. Ulva lactuca macroalgae is one of the ingredients that have the potential to be used as D. magna feed because it has good nutrition and is abundantly available on the coast. This research was conducted for 17 days at the Integrated Laboratory of Madako Tolitoli University. The aim of the study was to determine the population growth of D. magna fed          U. lactuca. D. magna was reared in a 25 x 25 x 30 cm aquarium containing 5 liters of green water and a stocking density of 20 individuals/L. The treatments tried were Treatment A = Without U. lactuca Soak (0 ml/L), Treatment B = U. lactuca Soak (3 ml/L), Treatment C = U. lactuca Soak (5 ml/L). The results showed that the administration of U. lactuca 5 ml/L (804.44 ind/L) had the highest population growth compared to the treatment of 3 ml/L immersion of U. lactuca (597.78 ind/L) and without administration of immersion of U. lactuca (482.22 ind/L). Treatment of U. Lactva 5 ml/L is effective in increasing Growth D. Magna and can be an alternative feed D. Magna whose availability is abundant in the coastal area.Keywords: Daphnia magna; growth; Ulva lactuca
IDENTIFICATION OF FRESHWATER GOBY SPECIES FROM THE BIAK AND KOYOAN RIVERS, LUWUK BANGGAI, CENTRAL SULAWESI Gani, Abdul; Bakri, Achmad Afif; Adriany, Devita Tetra; Nurjirana, Nurjirana; Herjayanto, Muh.; Bungalim, Monicha Indrasari; Ndobe, Samliok; Burhanuddin, Andi Iqbal
Jurnal Ilmu Kelautan SPERMONDE VOLUME 5 NUMBER 2, 2019
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jiks.v5i2.8931

Abstract

Sulawesi is an island famous for its biodiversity, including many endemic species. In particular, Sulawesi has the highest number of gobies in the world, including species with potential as food and/or ornamental fishes. The exploration of freshwater ichthyofauna is important in the context of Indonesian and global biodiversity. This research aimed to identify gobies found in the Luwuk Banggai area of Central Sulawesi, as a contribution to the exploration of Indonesian ichthyofaunal biodiversity. Gobies were sampled from January to March 2019 in the Biak and Koyoan Rivers. The sampled fish were measured and identified based on morphological characteristics. A total of 52 specimens were collected, and identified as belonging to 17 species within two families, the Gobiidae and Eleotridae. Gobies from the Koyoan River comprised 32 specimens from 8 species, while 20 specimens belonging to species were found in the Biak River. Only two species were found in both rivers: Stiphodon semoni and Sicyopterus lagocephalus. These results augment the body of knowledge regarding the presence and distribution of gobies in Indonesia
PRELIMINARY STUDY OF POST TRANSPORTATION ADAPTATION RESPONSE OF Esomus metallicus (AHL 1923), AN FOREIGN FISH SPECIES IN INDONESIA AND INITIAL DISCUSSION OF ITS UTILIZATION POTENTIAL Solahuddin, Edo Ahmad; Fadillah, Tia Noer; Suci, Dinda Trie; Putri, Nabila; Fatimah, Fanny Yulianti; Rizki, Exel Muhamad; Herjayanto, Muh.; Syamsunarno, Mas Bayu; Pratama, Ginanjar; Zahro, Fathimah; Wasistha, Intan Nurani Drana; Meata, Bhatara Ayi; Hasanah, Afifah Nurazizatul; Agung, Lukman Anugrah; Roidelindho, Kiki; Munandar, Aris
Jurnal Media Akuakultur Indonesia Vol 1 No 2 (2021): Indonesian Journal of Aquaculture Medium
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/mediaakuakultur.v1i2.357

Abstract

Esomus metallicus merupakan spesies ikan yang secara alami tidak tersebar di Indonesia (non-native). Pada beberapa kasus, jenis ikan non-native telah mengancam ekosistem alami di perairan umum. Melalui ekspedisi ilmiah, dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk mengkaji respons awal adaptasi pascapengangkutan, yaitu sintasan dan tingkah laku ikan E. metallicus liar di dalam wadah terkontrol. Selain itu, juga dilakukan analisis terhadap potensi pemanfaatan untuk bidang akuakultur, pengolahan hasil perikanan, dan strategi edukasi kepada masyarakat tentang ikan E. metallicus. Ekspedisi dilakukan selama dua hari di bagian barat Pulau Jawa. Ikan diangkut menggunakan sistem tertutup selama 6 jam. Pemeliharaan ikan pascapengangkutan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan sintasan ikan E. metalicus selama pengangkutan yaitu 96,72%. Ikan E. metalicus dapat beradaptasi dengan baik di dalam wadah pemeliharaan terkontrol yang terlihat dari sintasan akhir pengamatan 90,96%, tingkah laku berenang yang aktif secara berkelompok dan telah memakan pakan buatan. Potensi sebagai ikan hias dapat dilihat pada warna sisik metalik, ukuran tubuh yang kecil, dan tingkah laku berenang berkelompok dapat menjadi ikan untuk akuaskap. Selain itu, potensi pemanfaatan ikan ini yaitu sebagai pakan hidup untuk ikan predator, tepung ikan, ikan uji di laboratorium, dan bahan makanan. Kajian lebih lanjut hal tersebut sebagai solusi pengendalian ikan non-native perlu dilakukan. Analisis risiko menunjukkan bahwa E. metallicus termasuk ke dalam spesies risiko sedang. Strategi edukasi terhadap masyarakat perlu dilakukan karena masyarakat menganggap ikan E. metallicus adalah “benteur” atau “paray”, yang merupakan nama lokal untuk ikan dari genus Rasbora asli Indonesia karena kemiripan morfologi.
Revisi Peta Distribusi Ikan Padi (Adrianichthyidae: Oryzias spp.) Berdasarkan Identifikasi Morfologi di Paparan Sunda Indonesia Paricahya, Akhsan Fikrillah; Kholil, Kiki Nur Azam; Sufaichusan, Ifa; Herjayanto, Muh.; Saputri, Rengga Retno Laila; Faqih, Abd. Rahem; Marhendra, Agung Pramana Warih
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 5 (2024): May
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i5.6758

Abstract

Members of the Adrianichthyidae family share typical distributions, as does the javanicus group, which inhabits western parts of Southeast Asia. Javanicus group members, specifically Oryzias javanicus and Oryzias hubbsi, is the only Adrianichthyidae species that can be spotted in Sundaland Indonesia. Morphological identification and the species distribution mapping of Oryzias specimens from Sundaland in this study were interpreted using ecoregional and dendogram tree approach. Specimens were collected from 11 areas representing five ecoregions in Sundaland Indonesia. Specimens were collected from islands of Java, Sumatra, Belitung and Kalimantan. Six individuals from each population of Oryzias were sampled for morphological identification. Specimens collected from estuaries were morphologically identified as O. javanicus and specimens from freshwater identified as O. hubbsi. Distribution of O. hubbsi from Salatiga is the first record from Central East Java (CEJ) ecoregion, which was previously only distributed in Southern Sumatra-Western Java (SWJ) ecoregion. Morphology of O. hubbsi from Sundaland Indonesia has mean of Standard Length (SL) 1.56 cm, Total Length (TL) 1.94 cm, Anal rays (A) 16, Pectoral rays (P) 8, and Dorsal rays (D) 6. Meanwhile, morphology of O. javanicus from Sundaland has mean of SL 2.07 cm, TL 2.56 cm, A 22, P 11, and D 6.
Molecular Analysis Using Cytochrome Oxidase Subunit I (COI) to Confirming New Recorded Oryzias hubbsi in Central East Java Ecoregion Paricahya, Akhsan Fikrillah; Kholil, Kiki Nur Azam; Saputri, Rengga Retno Laila; Herjayanto, Muh.; Wiadnya, Dewa Gede Raka; Faqih, Abd. Rahem; Marhendra, Agung Pramana Warih
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 7 (2024): July
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i7.6802

Abstract

Oryzias hubbsi's distribution is rarely discussed, as it is believed to only occupy the western part of Java, while its conservation status is Near Threatened (NT) as of 15 October 2018 on the IUCN red list. Specimens of O. hubbsi were recorded from Bandung and Jakarta in the description, other reports for O. hubbsi are commonly from Southern Sumatra-Western Java (SWJ) ecoregion in Java. However, an unexpected discovery of the genus Oryzias in Semarang freshwater opens up opportunities for the hidden spread of O. hubbsi to Central Java, and especially to other ecoregions which is Central and East Java (CEJ). Morphological approaches with distinctive O. hubbsi characters, complemented by molecular approaches with O. hubbsi samples from the Bogor population, confirmed similarities of species between both populations. Genetic distance using p-distances between both populations was below 2%, both populations made obvious clusters with a gap of 0.5%, and differed by five nucleotide base sites only. This new distribution record of O. hubbsi can be a foundation for conservation and domestication planning efforts.
Growth Performance of Daphnia sp. Cultured in Different Concentration of Rice Washing Water Agung, Lukman Anugrah; Herjayanto, Muh.; Solahudin, Edo Ahmad; Ujianti, Rizky Muliani Dwi
Advance Sustainable Science, Engineering and Technology Vol 2, No 2 (2020): May-October
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v2i2.6439

Abstract

Abstract. This study aimed to investigate the effect of the administration of rice washing water in culture medium on the growth performance of Daphnia sp. This research using three different doses of rice washing water i.e 1 mL/L, 3mL/L, and 5 mL/L. Daphnia sp. was cultured with an initial density of 20 ind/L. Observed parameters include growth parameters (population density, size and specific growth rate) and water quality. This result showed that a concentration of 3 mL/L created the highest population of Daphnia sp. density about 620±20 ind/L, number small size (young stage) 81.2%, and the highest specific growth rate about 56.68±0.55%. The water quality content of  DO, temperature and pH during this study were in the good range of Daphnia sp. life and reproduction. The research has a conclusion that rice washing water can be used to nutritional sources of Daphnia sp. In the future, it is necessary to make further observations about the reproductive performance of Daphnia sp, given rice washing water through clone culture.Keywords: Live food, Population density, Rice washing water, Size of Daphnia sp., Specific growth rate
Persepsi Masyarakat Terhadap Digitalisasi Edukasi Perikanan di Pasar Ikan Tradisional dan Modern Hadi, Lucas Unggul Abimanyu Kusuma; Hartanto, Aditya Pratama; Maulana, Muhammad Fikri; Herjayanto, Muh
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2026): SINTAK-MAS Sinergi Teknologi dan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sintak-mas.v1i2.54999

Abstract

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam penyebaran informasi, termasuk pada sektor perikanan yang memiliki peran strategis dalam pembangunan agromaritim. Namun, edukasi perikanan di pasar ikan tradisional dan modern masih terbatas pada cara konvensional yang kurang menarik dan interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap digitalisasi edukasi perikanan melalui media pembelajaran berbasis website One Minute Iwak (OMI). Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 75 responden yang telah menggunakan website dalam tahap pengembangan. Data dianalisis melalui perhitungan rata rata dan uji reliabilitas (Cronbach Alpha) pada empat dimensi persepsi, yaitu ketertarikan, kemudahan, pengaruh, dan potensi penggunaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tergolong positif terhadap penerapan website OMI, terutama pada aspek kemudahan akses dan ketertarikan terhadap tampilan visual serta konten edukatifnya. Temuan ini menegaskan bahwa digitalisasi edukasi perikanan berpotensi meningkatkan literasi masyarakat, memperluas jangkauan informasi, serta memperkuat keterhubungan antara pasar tradisional dan modern menuju transformasi digital sektor agromaritim.
Co-Authors Abd Waris Abd. Rasyid Syamsuri Abd. Waris Abdillah Abdillah Abdul Gani Abdul Gani Abdul Gani ABDUL GANI Abdul Gani Abdul Gani Abdul Gani Abdul Rahem Faqih Achmad Afif Bakri Achmad Noer Faqih Achmad Noerkhaerin Putra Adi Susanto Adi Susanto Adriany, Devita Tetra Agung Pramana Warih Marhendra, Agung Pramana Warih Ahmad Fahrul Syarif Ahmad Luthfi Nur Fauzi Akhsan Fikrillah Paricahya Alapi, Rahmat ali, wildayanti Alimuddin Andi Iqbal Burhanuddin Annisa Misykah Mauliddina Annisa Misykah Mauliddina Aris Munandar Aris Munandar Aulia Yuaninda Badia Raja Parlinggoman Bakri, Achmad Afif Betutu Senggagau, Betutu Budiaji, Weksi Bungalim, Monicha Indrasari Cahyani, Regita Christian Julianto Opi Dawam Heksa Satria Dedeh Jubaedah Devita Tetra Adriany Dewa Gede Raka Wiadnya Dinar Tri Soelistyowati Dinda Trie Suci Dodi Hermawan Edo Ahmad Solahuddin Edo Ahmad Solahudin Edo Ahmad Solahudin Eltis Panca Ningsih, Eltis Panca Erwin Wuniarto, Erwin Esa Rama Widiyawan Esa Rama Widiyawan Esa Rama Widiyawan Esa Rama Widiyawan Etin Nurkhotimah Exel Muhamad Rizki Exel Muhamad Rizki Fadhil Naufal Tamirrino Fadillah, Tia Noer Faisal, Ibnu Fani Savitri Agatha Fanny Yulianti Fatimah Fathimah Zahro Fatimah, Fanny Yulianti Findayani, Nugra Ginanjar Pratama Ginanjar Pratama Ginanjar Pratama Hadi, Lucas Unggul Abimanyu Kusuma Halia, Mudabbirah Halik, Moh. Nur Hartanto, Aditya Pratama Hartina Harton Arfah Hasanah, Afifah Nurazizatul Humaidi, Agus Hussein, Ahmad Saddam Ilham Septian Intan Nurani Drana Wasistha Irawati Mei Widiastuti Itok Dwi Kurniawan Jusmanto Jusmanto Kamaludin Ahmadi Khartiono, Lady Diana Kholil, Kiki Nur Azam Kiki Roidelindho Kusmadi Lukman Anugrah Agung Madinawati Magfira Magfira Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno Mas Bayu Syamsunarno, Mas Bayu Maulana, Muhammad Fikri Meata, Bhatara Ayi Meata, Bhatara Ayi Mohamad Ayip Firmansyah Mohamad Ayip Firmansyah Muamar Muamar Mudabbirah Halia Muh. Iqbal Adam Muhamad Iqbal Muttaqin Muhammad Fadli Muhammad Nur Muhammad Rizki Maulana Munandar, Aris Musdalifa Musdalifa Mustahal Mustahal Mustahal Mustahal Mustahal Mustahal Mustahal Muta Ali Khalifa Nabila Putri Nada Thalia Permata Adriani Nasution, Ali Napiah Novalina Serdiati Novian Suhendra Novita Rahmayanti Novita Rahmayanti Novitasari Irianingrum Novitasari Irianingrum Nugra Findayani Nugroho Agung Prasetyo Nugroho Agung Prasetyo Nur ‘Aida Nur Fitria Nur Fitria, Nur Nurjirana Nurjirana Nurjirana, Nurjirana Odang Carman Paricahya, Akhsan Fikrillah Puput Melaty Putri, Ika Wahyuni Putri, Nabila Rafi Maulana Rasyad Rahmat Padyawan, Andhy Rasul Regita Cahyani Rini Yanuarti Riski Awalia Rizki, Exel Muhamad Roidelindho, Kiki Rusmana Sababuli, Jeklin M. Salman, Abrar Mujahidin Samliok Ndobe Saputri, Rengga Retno Laila Solahuddin, Edo Ahmad Solahudin, Edo Ahmad Sri Fajriah Suardi Laheng, Suardi Suci, Dinda Trie Sufaichusan, Ifa Suryatama, Yahya Rizkiandra Sutisna Suwarni, Yulianti Syah Banten Anarki Syamsul Fajri Hidayat Syariful Mubarok Syifa Alfiah Tia Noer Fadillah Ujianti, Rizky Muliani Dwi Vianka Nafisa Salsabila wandi Waris, Abd. Wasistha, Intan Nurani Drana Wicaksono, Aryo Wenang wisto, Wisto Yenny, Ratna Fitry Yuliana Kolo Yuliana Yuliana Yulianti Suwarni Zahro, Fathimah Zidan, Muh.