Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

RELASI AGAMA DAN POLITIK LOKAL: KAJIAN DAKWAH BIL HIKMAH Andi Hadi Ibrahim Baso; Musafir Pababari; Nila Sastrawati; Hasan bin Juhanis
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi variasi interpretasi dan implementasi da'wah bil hikmah (berdakwah dengan hikmah/bijaksana) oleh organisasi-organisasi Islam di Sulawesi Selatan, dengan mengkaji keterkaitan antara konsep teologis, strategi dakwah, dan praktik politik lokal. Secara historis, Islamisasi di Sulawesi Selatan sejak abad ke-17 melibatkan akulturasi budaya yang damai, mengintegrasikan ajaran Islam (sara') dengan adat istiadat setempat (pangadereng) untuk menciptakan identitas budaya hibrida di mana keduanya memiliki kedudukan yang setara. Hal ini melahirkan karakteristik sosiologis yang akomodatif, serta menumbuhkan model Islam yang menghormati tradisi. Era Reformasi pasca-1998 semakin mendorong identitas politik Islam, menjadikan Sulawesi Selatan sebagai pusat mobilisasi politik Islam yang dinamis, terutama melalui Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI). Aliansi organisasi Islam, aktivis, dan tokoh masyarakat ini bertujuan untuk memformalkan syariat Islam ke dalam kebijakan publik melalui jalur konstitusional, yang secara signifikan memengaruhi wacana politik lokal dan mengonsolidasikan kelompok-kelompok Islam. Metodologi penelitian ini bersifat kualitatif, dengan menganalisis narasi yang ada dan catatan sejarah dari teks yang tersedia untuk memahami bagaimana organisasi yang berbeda seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah (WI), Hidayatullah, Pesantren Darul Istiqamah, dan Jamaah An-Nadzir menavigasi lanskap politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa da'wah bil hikmah diterapkan secara beragam berdasarkan faktor teologis, historis, dan sosiologis, yang memengaruhi keterlibatan politik mereka mulai dari partisipasi tinggi (NU, WI), moderat (Muhammadiyah), hingga partisipasi rendah atau simbolis (Hidayatullah, Darul Istiqamah, An-Nadzir). Pendekatan yang bervariasi ini membentuk konfigurasi politik dan dinamika sosial-keagamaan di wilayah tersebut, yang menunjukkan hubungan harmonis sekaligus kompetitif di antara kekuatan-kekuatan Islam.
WUJUD IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM SIKLUS KEHIDUPAN PADA MASYARAKAT GORONTALO (STUDI PADA TRADISI PERNIKAHAN DAN TRADISI MOLONTALO (TUJUH BULANAN) Tine, Nurhayati; Pabbabari, Musafir; Susdiyanto, Susdiyanto; Ahmad, Abd. Kadir
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 3 (2017): December
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i3.7028

Abstract

Tulisan ini akan mengelaborasi tentang wujud implementasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam kearifan lokal masyarakat Gorontalo terkait dengan siklus kehidupan. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus. Penelitian ini dilakukan di Gorontalo, dan difokuskan pada adat-istiadat yang masih berlaku di Gorontalo. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi, etnografi, sosio-edukatif, dan hukum Islam. Sumber data primer penelitian ini diperoleh dari individu-individu yang berkompeten dalam hal tradisi dan adat-istiadat masyarakat Gorontalo baik dari lingkungan akademisi, budayawan, tokoh adat, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat lainnya yang masih terlibat aktif dalam berbagai pelaksanaan ritus budaya di Gorontalo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1) observasi partisipasi; (2) wawancara mendalam; dan (3) penggunaan dokumen. Penelitian ini menggunakan 3 (tiga) instrumen utama yaitu: peneliti sendiri (human instrument); pedoman observasi; dan pedoman wawancara. Analisa data dalam penelitian ini bersifat deskriptif (deskriptif analitis) dan analisis komparatif. Untuk menarik kesimpulan, data yang dihimpun diolah melalui proses reduksi, sajian data, dan verifikasi. Wujud implementasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam kearifan lokal masyarakat Gorontalo terkait dengan siklus kehidupan ditemukan pada beberapa makna edukatif yang diperoleh dari prosesi adat moponika/lenggota lo pohutu (pernikahan) dan molontalo (tujuh bulanan) Masing-masing dari prosesi yang terkait dengan siklus kehidupan tersebut memuat kearifan lokal berupa: 1) perlunya meninggalkan sifat-sifat tercela; 2) penyucian diri dari dosa lahir dan batin; 3) pentingnya menjaga kehalalan dari setiap harta yang dimiliki; 4) memperkuat pendirian, keimanan dan ketakwaan; 5) mempertahankan kesucian dan kehormatan diri; 6) kerendahan hati; 7) hidup hemat; 8) penataan diri mulai dari remaja sampai berumah tangga; 9) menjaga nama baik keluarga; 10) tidak meminta-minta; 11) keberkahan dan kebahagiaan hidup sebagai sasaran akhir; 12) penghargaan terhadap tamu dan kerabat; 13) serta pentingnya kesabaran dalam menjalani kehidupan.
PENAFSIRAN-PENAFSIRAN AL-ZAMAKHSYARI TENTANG TEOLOGI DALAM TAFSIR AL-KASYSYAF Rusmin, Saifullah; Galib, M; Abubakar, Achmad; Pabbabari, Musafir
Jurnal Diskursus Islam Vol 5 No 2 (2017): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v5i2.7121

Abstract

Tulisan ini akan mengelaborasi tentang penafsiran-penafsiran al-Zamakhsyari  tentang teologi dalam  tafsir al-kasysyaf. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Data diolah dengan mempergunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu mengolah data berdasarkan nilai yang terkandung dalam setiap data. Pendekatan yang relevan digunakan dalam penelitian ini tentu saja adalah pendekatan historis dan sosio-antropologi dengan melihat relevansi antara latar belakang budaya serta pemikiran yang lahir dari sejarah hidupnya dikaitkan dengan pandangan-pandangan tafsirnya. Teknik interpretasi tafsir tentu saja menjadi sarana yang digunakan untuk melihat lebih jauh ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan oleh al-Zamakhsyari pada dua kategori besar. Teknik interpretasi tersebut adalah; Pertama, Interpretasi tekstual; Kedua, Interpretasi Sistemis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan-pandangan al-Zamakhsyari lewat tafsir al-Kasysyaf sangat dipengaruhi oleh konteks yang melatarbelakangi lahirnya tafsir ini. Ketika ia berbicara mengenai masalah teologi dalam tafsirnya, maka akan terlihat dengan jelas ia membela prinsip aliran Mu’tazilah, kecuali pada masalah sihir, siksa kubur dan sebuah ayat tentang prinsip posisi pelaku dosa besar di akhirat. Adanya perbedaan pada beberapa prinsip Mu’tazilah, dapat mengindikasi satu di antara dua hal; pertama, sesungguhnya al-Zamakhsyari tidaklah menguasai detil prinsip Mu’tazilah. Kedua, al-Zamakhsyari adalah seorang yang sangat idealis sehingga kemampuannya dalam menilai sebuah lafadz yang mengarahkan kepada sebuah makna,  tidak dibatasi oleh pola ideologi mazhab.
SOCIAL PROTEST MOVEMENT ISLAMIC LAW PERSPECTIVE (Critical Study of the Protest Phenomenon in Indonesia) Abbas, Abdul Harris; Aidid, Hasyim; Pabbabari, Musafir; Marilang, Marilang
Jurnal Diskursus Islam Vol 9 No 2 (2021): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v9i2.22596

Abstract

This study formulates three problems which include: (1) The principles of the social protest movement from the perspective of Islamic law; (2) Methods and techniques for conducting demonstrations from the perspective of Islamic law; (3) The social impact of demonstrations in Indonesia from the perspective of Islamic law. This study uses a qualitative method (descriptive-analytic). Based on the data source is library research (library research). The approach used is the sociological approach of Islamic law and the siyasah fiqh approach. In the perspective of scientific studies, these two approaches are used to understand the phenomenon of demonstrations in Indonesia based on legal arguments contained in the Qur'an and Hadith, the opinions of fuqaha' and opinions that develop (ijitahad) at a time in life. Muslims. Meanwhile, from a methodological perspective, these two approaches are used to provide an interpretation of the methodology of Islamic law on the concept and practice of demonstrations based on social movement theory and Islamic political theory. The results of this study found that: The principles of the Islamic social protest movement are built on the doctrine of rights and obligations between the people and the rulers in an Islamic state which include: the principle of hisbah; The principle of freedom of expression; The principle of deliberation; and constitutional principles. Based on the method of carrying out the demonstration, there are 2 methods, namely the exclusive method and the inclusive method. Based on the technique of holding demonstrations, there are 3 levels, namely: (1) demonstrations with the ability and strength of the masses; (2) demonstration with verbal ability and strength; (3) protest with the ability of the heart. Through the istislahi approach, that Islamic law strongly condemns all demonstration activities that cause harm to religion, soul, mind, descendants and property. On the other hand, he strongly supports all demonstration activities that uphold the five maintenances (Maqasid al-khamsah). That demonstrations are not at all motivated by passion or personal tendencies, let alone to cause damage to the earth. It is an obligation not just an appeal for those who can afford it. The law is fardu kifayah. Turning away from that obligation is the same as carrying oneself That demonstrations are not at all motivated by passion or personal tendencies, let alone to cause damage to the earth. It is an obligation not just an appeal for those who can afford it. The law is fardu kifayah. Turning away from that obligation is the same as carrying oneself That demonstrations are not at all motivated by passion or personal tendencies, let alone to cause damage to the earth. It is an obligation not just an appeal for those who can afford it. The law is fardu kifayah. Turning away from that obligation is the same as carrying oneself.
The Principles of Government Based on Local Wisdom for the Archipelago Islamic Community in the Bacan Sultanate, Indonesia Amanan Soleman Saumur; Musafir Pababbari; Rahmatullah Rahmatullah; Fatimah Saleh; Sumiyati Zikir Robo
Khazanah Sosial Vol. 6 No. 2 (2024): Khazanah Sosial
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ks.v6i2.35546

Abstract

Penelitian ini mengkaji dan mendalami prinsip-prinsip pemerintahan berdasarkan kearifan lokal masyarakat Islam Kepulauan di Kesultanan Bacan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pendekatan wawancara mendalam sebagai instrumen utama dalam menggali data penelitian. Hasil penelitian ditemukan bahwa dalam kepemimpinan Sultan Bacan telah diamanahkan empat prinsip yang ada dalam bahasa Bacan atau bahasa daerah, yaitu (1) prinsip ketaatan kepada Allah Ta'ala, (ketaatan Kepada Allah SWT, seorang sultan Bacan harus memiliki tingkat keimanan yang kuat karena Sultan harus menjadi teladan dan teladan bagi masyarakat umum (2) Palihara piling, (Menjaga Amanah), seorang sultan Bacan harus mampu menjaga amanah yang diberikan oleh masyarakat sehingga harus dipercaya secara luas (3) Kaadilang nang Kabanaran, (adil dan tepat) seorang sultan harus adil dan menjunjung tinggi kebenaran dalam kepemimpinannya (4) Ayahtikamang (Musyawarah), Musyawarah harus menjadi landasan dalam setiap pengambilan keputusan
Critical Historiographical Analysis of Philip K. Hitti’s History of The Arabs: An Examination of Positionalism and Arab Historical Narratives: Analisis Historiografi Kritis terhadap History of The Arabs karya Philip K. Hitti: Telaah atas Posisionalitas dan Narasi Sejarah Arab Zulkifli, Muh; Anggariani, Dewi; Pababbari, Musafir
Indonesian Journal of Islamic History and Culture Vol. 7 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Islamic History and Culture
Publisher : The Department of Islamic History and Culture in cooperation with the Center for Islamic History and Culture in Aceh and Malay World Studies (PUSAKA), Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ijihc.v7i1.9676

Abstract

Philip K. Hitti's History of the Arabs (1937) is a canonical work that shaped the Western understanding of Arab history. This article presents a historiographical critique of the text using Edward Said's Orientalism, Michel-Rolph Trouillot's concept of silencing, and Chase F. Robinson's study of Islamic historiography. The analysis reveals that while Hitti's work aimed to reclaim Arab history from Orientalist bias, it remained trapped within the same discursive logic. Its "rise and fall" narrative systematically silences the Ottoman period, reflecting both Hitti's Arab nationalist bias and his Christian sectarian perspective as a Maronite. Moreover, his philological method disregards the epistemology of classical Islamic historiography. The article concludes that the current significance of Hitti's work lies not in its factual authority, but as a mirror of intellectual ambivalence in the late colonial era.
Dari Arsip ke Algoritma: Transformasi Historiografi Indonesia di Era Artificial Intelligence Risdayanti Risdayanti; Hikmawati Z; Musafir Pababbari; Dewi Anggraini
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (2026): Takuana (July-September)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v5i2.665

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) has significantly transformed historiographical practices through archival digitization, algorithm-assisted historical data processing, and changes in historical research methodologies. This study aims to analyze the transformation of Indonesian historiography in the AI era by examining changes in access to historical sources, the evolving role of historians, and the epistemological challenges emerging within digital historiography. The study employed a qualitative approach using a library research design. Data were collected from books, scholarly articles, policy documents, and other relevant literature, and were analyzed through content analysis involving data reduction, categorization, interpretation, and conclusion drawing. The findings indicate that archival digitization has improved the accessibility, research efficiency, and preservation of historical sources while simultaneously creating challenges related to the digital divide, algorithmic bias, and the oversimplification of historical narratives. The study also reveals that AI does not replace historians but rather redefines their role toward more critical responsibilities in source verification, contextual interpretation, and oversight of technology-assisted historiographical processes. Therefore, the transformation of historiography in the AI era should be accompanied by the strengthening of digital historiographical methodologies, digital literacy, and the active engagement of historians to ensure the validity, integrity, and quality of historical knowledge.
HISTORIOGRAFI GENDER: MENGHADIRKAN SUARA YANG TERPINGGIRKAN Tuti Wahyuni; Musafir Pabbabari
Journal of Future Social Humanities and Cultural Evolution Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus : Journal of Future Social Humanities and Cultural Evolution
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jfshe.v1i2.833

Abstract

Historiografi gender adalah pendekatan penulisan sejarah yang berupaya memperkenalkan kembali pengalaman kelompok-kelompok yang telah lama terpinggirkan, khususnya perempuan, ke dalam narasi sejarah. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana historiografi gender berkembang sebagai kritik terhadap historiografi tradisional, yang cenderung androsentris dan patriarkal. Metode penelitian yang digunakan adalah riset pustaka, yang melibatkan pengumpulan berbagai dokumen akademis yang relevan dengan studi historiografi gender. Temuan menunjukkan bahwa historiografi konvensional sebagian besar menempatkan laki-laki sebagai aktor utama dalam sejarah, sementara perempuan seringkali hanya digambarkan sebagai tokoh pelengkap dalam narasi sejarah. Munculnya historiografi gender merupakan upaya untuk merekonstruksi sejarah dengan cara yang lebih inklusif dengan memasukkan pengalaman perempuan, kelompok-kelompok yang terpinggirkan, dan hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Historiografi gender tidak hanya meneliti perempuan sebagai objek sejarah tetapi juga mengeksplorasi konstruksi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang membentuk ketidaksetaraan gender sepanjang perkembangan sejarah. Oleh karena itu, historiografi gender berfungsi sebagai pendekatan penting dalam menciptakan penulisan sejarah yang lebih adil, kritis, dan representatif bagi semua kelompok dalam masyarakat.