cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner
ISSN : 25409492     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner merupakan media elektronik yang digunakan sebagai wadah penyebaran hasil-hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang ditulis bersama dengan dosen pembimbingnya. Naskah/artikel yang diterbitkan telah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan penyunting JIMVET. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner untuk saat ini menerbitkan naskah ilmiah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner terbit dengan satu volume dan empat nomor dalam setahun (Fabruari, Mei, Agustus, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
Profil Hematologi Kelinci Setelah Implan Plate Material Logam (Profile Hematology Of Rabbit After Metal Plate Implant) Yolanda Sari; erwin erwin; Nuzul Asmilia; Zuhrawaty Zuhrawaty; Amiruddin Amiruddin; Muhammad Hambal
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.11797

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengamati jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan trombosit kelinci setelah implan plate material logam. Penelitian ini menggunakan 6 ekor kelinci yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diimplan plate tantalum dan kelompok 2 diimplan plate besi. Pengambilan darah melalui vena auricularis pada hari ke 0, 7, 14, 28, dan 56. Setelah perlakuan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan trombosit dihitung menggunakan hematology analyzer. Hasil penelitian menunjukkan penurunan jumlah eritrosit, hemoglobin dan hematokrit setelah implan material logam dengan perbedaan tidak signifikan antar waktu pengamatan sedangkan jumlah trombosit menunjukkan perbedaan signifikan antar waktu pengamatan. Implan plate tantalum dan plate besi menyebabkan perubahan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan trombosit pada beberapa hari pengamatan. Kata kunci : eritrosit, hemoglobin, hematokrit, plate besi, plate tantalumABSTRACT            This study was aimed to determine the number of erythrocytes, hemoglobin, hematocrit and thrombocytes on rabbits after metal plate implant. This study used 6 rabbits that divided into 2 groups. Group 1 was implanted of tantalum plate and group 2 was implanted of iron plate. Taking blood through auricular vein on days 0, 7, 14, 28, dan 56. After treatment the number of erythrocytes, hemoglobin, hematocrit and thrombocytes were calculated with the hematology analyzer. The results showed a decrease in the number of  erythrocytes, hemoglobin and hematocrit after metal plate implant with no significant difference between the time of observation while trombocytes showed a significant difference between the time of observation. Tantalum implant and iron plate causes changes in the number of erythrocyte, hemoglobin, hematocrit and thrombocyte on several days of observation. Keywords: total of erythrocyte, hemoglobin, hematocrit, thrombocyte, iron plate, tantalum plate
PENGARUH JUMLAH MIKROFILARIA PADA ANJING PENDERITA Canine Heartworm Diseases TERHADAP ANGKA KEMATIAN NYAMUK Aedes aegypti ISOLAT LAPANG (The Effect Of Microfilirae Amount On Dogs With Canine Heartworm Diseases On The Mortality Rate Of Aedes Aegypti Field Isolate) dzulfikar faizin romas; T. Fadrial Karmil; M Hanafiah; Winaruddin Winaruddin; M Hambal; Muttaqien Muttaqien; Nazaruddin Nazaruddin
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 5, No 4 (2021): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v5i4.9376

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jumlah  mikrofilaria pada anjing penderita Canine Heartworm Diseases terhadap angka kematian nyamuk Ae. aegypti. Sampel yang digunakan adalah seribu dua ratus ekor nyamuk dengan lima kali ulangan dan tiga ekor anjing dengan kategori infeksi mikrofilaremik tinggi 10.395 mf/ml, sedang 1.430 mf/ml, dan ringan 330 mf/ml serta satu anjing kontrol 0 mf/ml positif. Anjing di kandangkan dengan nyamuk, ketika nyamuk selesai menghisap kemudian dikoleksi dan diamati selama 13 hari. Data angka kematian nyamuk Ae aegypti akan dianalisis, secara statistik untuk melihat standart deviasi, dipastikan dengan uji ANOVA SPSS,   Rancangan Acak Lengkap (RAL), dan disajikan dalam bentuk grafik. Hasil penelitian menunjukan angka kematian pada perlakuan nyamuk kontrol 0 mf/ml dengan rata-rata 0.68±0.94. Sedangkan angka kematian nyamuk pada perlakuan di hari pertama pengamatan rata-rata angka kematian nyamuk pada tingkat  rendah 330 mf/ml sebanyak 12.00±0.75, sedang 22.00±0.75, dan tinggi 34.00±0.9, angka kematian mulai meningkat kembali di hari ketiga, pada tingkat rendah 330 mf/ml 9.87±0.87, sedang 13.85±1.24, tinggi 16.84±1.83. Angka kematian kembali meningkat pada hari ke sepuluh dengan rata-rata rendah 15.97±9.65, sedang 31.37±2.77, tinggi 40.22±5.95. Hasil ANOVA pada pengamatan hari ke 13, nilai p dari perlakuan adalah 0.000 (p 0.05), maka dari itu kita menolak H0. Kesimpulan semakin tinggi tingkat infeksi, semakin tinggi angka kematian nyamuk sehingga nyamuk Ae. aegypti dengan tingkat infeksi yang rendah bisa menjadi potensial vektor.(This study aimed to know the effect of the amount of microfilariae on dogs with Canine Heartworm Diseases on the mortality rate of mosquitoes Aedes Aegypti. The sample used was one thousand two hundred mosquitoes with five repeatations and three dogs with a high category of microfilaremic infection 10,395 mf / ml, moderate 1,430 mf / ml, and low 330 mf / ml and one control dog 0 mf / ml positive. The dog was caged up with mosquitoes, when the mosquitoes had finished sucking then it was collected and observed for thirteen days. The mortality rate of Ae aegypti mosquito was analyzed, statistically looked at the standard deviation, confirmed by the ANOVA SPSS Complete Random Design test, and presented in graphical form. The results showed that the mortality rate in controlled mosquito treatment 0 mf / ml was 0.68±0.94. While the mortality rate of mosquitoes in the treatment on the first day of observing the average mosquitoes mortality rate at the low level of 330 mf / ml was as much as 12.00 ± 0.75, moderate 22.00 ± 0.75, and a high of 34.00 ± 0.9, the mortality rate began increasing again on the third day, at the low level 330 mf / ml 9.87 ± 0.87, medium 13.85 ± 1.24, high 16.84 ± 1.83. The death rate again increased on the tenth day with the low average of 15.97 ± 9.65, moderate 31.37 ± 2.77, high 40.22 ± 5.95. Based on ANOVA results, the p value of the treatment was 0.000 (0.05), therefore we rejected H0. The higher the infection rate, the higher the mosquitoes mortality rate so that the mosquiotoes Ae Aegypti with the low infection rate with the fewest average number of mortality rate can be a potential vector).
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa (Antibactery Activity Of Ethanol Extract Robusta Coffea (Coffea canephora) On Bacteria Pseudomonas aeruginosa) Sinta Nova Sari; Fakhrurrazi Fakhrurrazi; Mahdi Abrar; M Daud AK
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.7729

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol biji kopi robusta terhadap pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa.  Penelitan ini dilakukan secara eksperimental menggunakan ekstrak etanol biji kopi robusta dengan konsentrasi 25%, 50%,75% dan untuk uji aktivitas bakteri menggunakan metode difusi atau Kirby-Bauer. Data hasil penelitian ini  dianalisis secara deskriptif dengan melihat dan membandingkan zona hambat antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi pemberian ekstrak etanol biji kopi robusta (Coffe canephora) maka semakin besar daya hambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa  yakni, pada konsentrasi 25%  yaitu sebesar 7,7 mm, kemudian berturut-turut pada konsentrasi 50% sebesar 9,52 mm, dan pada konsentrasi 75%  sebesar 10,88 mm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji koi robusta dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa. (The aim of this study is to know the antibacterial effect of ethanol extract of robusta coffee to the growth of Pseudomonas aeruginosa. This research was experimentally conducted using robusta coffee extract with the concentration of 25%, 50%, 75% to the growth of Pseudomonas aeruginosa using Kirby-Beaur method. This study is analysed descriptively by looking inhibition zone for each treatment. The result of this study shows that the higher concentration of robusta coffee extract, the greater inhibition zone to the growth of Pseudomonas aeruginosa, consicutively 25% is 7,7 mm, 50% is 9,52 mm and 75% is 10,88 mm. It can be concluded that ethanol extract of robusta coffee has an antibacterial effect to growht of Pseudomonas aeruginosa. )
Deteksi Sistiserkus Cacing Pita (Taenia spp) pada babi (Sus scrofa) di Rumah Potong Hewan Medan Sumatera Utara Connie Asty Pakpahan; Muttaqien Bakri; M. Hanafiah; Yudha Fahrimal; Nuzul Asmilia; T. Fadrial Karmil
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.5213

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeteksi ada atau tidaknya sistiserkus cacing pita (Taenia spp) pada babi yang dipotong di rumah potong hewan Medan Sumatera Utara. Sistiserkus merupakan metacestoda dari larva Taenia solium. Deteksi sistiserkus sangat diperlukan untuk memahami pola distribusi, prevalensi dan cara penularan penyakit (siklus hidup T. solium). Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2017. Sampel yang digunakan sebanyak 20 ekor dengan menggunakan dengan simple random sampling. Sampel yang sudah dikumpulkan diperiksa secara makroskopik postmortem dengan cara melihat tanda- tanda sistiserkosis pada daging seperti lepuhan pada sampel. Data yang di peroleh akan di analisis secara deskriptif. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh sampel negatif terdeteksi sistiserkus asal babi-babi milik peternak yang di potong di RPH.
DETEKSI PROTOZOA DARAH BABI LIAR (Sus scrofa) DI KECAMATAN LHOKNGA, ACEH BESARDETEKSI PROTOZOA DARAH BABI LIAR (Sus scrofa) DI KECAMATAN LHOKNGA, ACEH BESAR Maria Ferawati Magai; Muttaqien Bakri; Muhammad Hambal; T Fadrial Karmil; Budianto Panjaitan; Nurliana Nurliana
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.4538

Abstract

 Penelitian  ini bertujuan  mendeteksi jenis-jenis protozoa darah yang terdapat pada babi liar di kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan empat ekor babi liar yang diperoleh dengan cara dijerat secara tradisional di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Darah untuk pemeriksaan protozoa diambil dengan cara ditampung menggunakan vacuum tube. Pengamatan dilakukan dengan membuat preparat ulas darah babi liar yang diwarnai dengan Giemsa 10%. Pembuatan preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa 10%, antara lain darah yang telah diperoleh diteteskan di atas gelas objek untuk dibuat preparat ulas darah. Kemudian dikeringkan selama sekitar 1-2 menit, dengan diangin-anginkan lalu difiksasi menggunakan metanol absolut selama 10-15 menit dan dikeringkan beberapa saat. Preparat yang telah kering diletakkan di rak pewarnaan, didiamkan sebentar lalu preparat ditetesi dengan Giemsa 10% dan didiamkan selama 30 menit sampai 1 jam. Kemudian preparat diangkat dari rak pewarnaan dan dibilas dengan aquades atau air yang mengalir lalu didiamkan hinga kering. Preparat siap untuk diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran  100x menggunakan minyak emersi. Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap darah  dari empat ekor babi liar, diketahui sebanyak dua ekor dari darah babi liar ditemukan protozoa darah. Protozoa darah yang ditemukan yaitu Anaplasma spABSTRACT This study aims to detect the types of blood protozoa found in wild boar in the subdistrict of Lhoknga, Aceh Besar. This study used four wild boar obtained by traditional snares in Lhoknga Sub-district, Aceh Besar. Blood for protozoan examination was taken by a vacuum tube. The observations were made by preparing the preparations of the wild pig blood smeared with 10% of Giemsa. Preparation of blood review material with staining 10% of Giemsa there is; blood that has been obtained dripped on the object glass to be made blood review. Then dried for about 1-2 minutes, with aerated then fixed using methanol for 10-15 minutes and dried for a while. The dried preparations are placed on a coloring rack, momentarily silenced and the preparations are stained with 10% of Giemsa and left for 30 minutes to 1 hour. Then the preparations are removed from the staining rack and rinsed with aquades or running water and then left until dry. Preparations are ready to be observed under a microscope with 100x magnification using emersive oil. The results of blood tests of four wild pigs, known as two of the wild pigs blood found protozoa blood. The blood protozoa found is Anaplasma sp  
DETEKSI Salmonella sp. PADA DAGING PUYUH (Coturnix-coturnix japonica) AFKIR DI KECAMATAN DARUL IMARAH KABUPATEN ACEH BESAR Uci Herawati; rastina rastina; roslizawaty roslizawaty; erina erina; nurliana nurliana; M jalaluddin
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.8536

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeteksi Salmonella sp. pada daging puyuh (Coturnix-coturnix japonica) afkir di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Sampel penelitian berjumlah sepuluh ekor puyuh afkir yang diambil dari dua peternakan (peternakan A dan B) di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar, masing-masing peternakan diambil lima ekor puyuh afkir. Deteksi Salmonella sp. dilakukan dengan menggunakan metode rujukan SNI 2879:2008 yang terdiri dari uji pre-enricment, enrichment, isolasi dan deteksi Salmonella sp. Tahapan pengujian ini dipisahkan menjadi uji persumtif menggunakan media Lactose Broth (LB), Rappapport Vassiliadis (RV), Xylose Lysine Deoxycholate (XLD) dan uji konfirmasi digunakan media Triple Sugar Iron Agar (TSIA) dan Lysine Iron Agar (LIA). Hasil yang didapatkan yaitu, dari sepuluh sampel yang diuji, seluruhnya menunjukkan hasil positif pada media RV dan LB, dan hanya dua sampel yang menunjukkan hasil positif pada media XLD, TSIA, dan LIA. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dua dari sepuluh sampel (20%) daging puyuh (Coturnix-coturnix japonica) afkir di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar yang diuji terdeteksi Salmonella sp.
ANALISIS KONSENTRASI HORMON IGF-1 CAIRAN FOLIKEL OVARIUM SAPI ACEH DARI LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN (RPH) BANDA ACEH. (Analysis of IGF-1 Hormone Concentration in Ovary Follicular Fluid of Aceh Cow from Animal Slaughterhouse in Banda Aceh) Nabilah Putroe Agung; Mulyadi Adam; Gholib Gholib; Juli Melia; Ummu Balqis; Triva Murtina Lubis
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 2 (2022): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i2.7873

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi hormon IGF-1 pada cairan folikel ovarium sapi aceh. Cairan folikel diaspirasi dari 30 pasang ovarium yang dikoleksi dari 30 ekor sapi aceh di Rumah Potong Hewan (RPH) Banda Aceh. Cairan ovarium dikoleksi berdasarkan ukuran folikel dan diidentifikasi ada tidaknya korpus luteum (CL). Ukuran folikel dikategorikan menjadi tiga (3) kategori yaitu folikel kecil (Ø1˗˗5 mm), folikel sedang (Ø5˗˗8,5 mm), dan folikel besar (Ø≥8,5 mm).  Pengukuran konsentrasi hormon IGF-1 dilakukan dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 12 ovarium (40%) memiliki CL dan 18 ovarium (60%) tidak memiliki CL. Konsentrasi hormon IGF-1 pada ovarium yang memiliki CL dengan kategori folikel kecil dan sedang masing-masing 17,39±7,24 ng/ml dan 0,1 ng/ml. Konsentrasi hormon IGF-1 pada ovarium tanpa CL dengan kategori folikel kecil, sedang, dan besar masing-masing 8,81±2,73 ng/ml, 2,09±0,27 ng/ml, 1,38±0,93 ng/ml. Rataan IGF-1 pada folikel kecil terlihat lebih tinggi baik pada ovarium yang memiliki CL maupun pada ovarium yang tidak memiliki CL, namun secara statistik tidak berbeda (p0,05). Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi hormon IGF-1 pada semua kategori folikel tidak berbeda baik pada ovarium yang memiliki CL maupun ovarium yang tidak memiliki CL. (This study was conducted to measure concentration of IGF- hormone in ovary follicular fluid of aceh cow. Follicular fluid was aspired from 30 ovarian pairs collected from 30 aceh cows in Banda Aceh animal slaughterhouse. Ovarian fluids are collected based on the follicle size and identified by the presence of the corpus luteum (CL). The size of the follicle are categorized in three categories: small (Ø1˗˗5 mm), medium (Ø5˗˗8.5 mm), and large (Ø≥8.5 mm) follicles. Measurement of IGF-1 concentration using an Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. Data were analyzed using a Kruskal-Wallis test. The results showed that 12 ovaries (40%) have CL and 18 ovaries (60%) have not CL. The concentrations of IGF-1 in the ovaries that have CL in small and medium follicles  were 17.39±7.24 ng/ml and 0.1ng/ml, respectively. The concentrations of IGF-1 in the ovaries without CL in small, medium, and large follicles were 8.81±2.73 ng/ml, 2.09±0.27 ng/ml, 1.38±0.93 ng/ml, respectively. The mean of IGF-1 concentration in small follicles was higher in both ovaries with CL or without CL, but it was not significantly different  (p0.05). It can be concluded that the concentration of IGF-1 in all categories of follicles did not differ either in ovaries with  CL and without CL.)
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Micrococcus luteus dan Staphylococcus epidermidis pada Ambing Sapi Aceh (Isolation and Identification Micrococcus luteus and Staphylococcus epidermidis Bacteria on the Udder of Aceh Cattle) Usma Aulia; Teuku Zahrial Helmi; Darmawi Darmawi; Fakhrurrazi Fakhrurrazi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 2 (2022): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i2.8630

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri Micrococcus luteus dan Staphylococcus epidermidis pada ambing sapi aceh. Penelitian ini menggunakan metode Carter yang dianalisis secara deskriptif. Sampel yang digunakan adalah 10 ambing sapi aceh yang terdapat di UPT Hewan Coba Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Kode sampel dibuat berdasarkan nomor yang terdapat pada telinga sapi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan swab steril, kemudian dikultur dalam media nutrient broth (NB) dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 °C. Selanjutnya dilakukan penanaman pada media selektif mannitol salt agar (MSA) dan media blood agar (BA) lalu diinkubasi kembali selama 24 jam dengan suhu 37 °C. Koloni bakteri yang tumbuh terpisah pada media MSA dan BA diamati morfologi koloni bakteri, pewarnaan Gram, uji katalase dan uji biokimia (manitol dan glukosa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 sampel swab ambing diidentifikasi 3 isolat Micrococcus luteus dan 7 isolat Staphylococcus epidermidis. Kesimpulan penelitian ini adalah bakteri Staphylococcus epidermidis lebih sering berada pada ambing sapi aceh dibandingkan dengan keberadaan Micrococcus luteus (The aims of this study was to isolate and identify Micrococcus luteus and Staphylococcus epidermidis bacteria on the udder of aceh cattle. This study used Carter method which analyzed descriptively. The samples used were 10 udder of aceh cattle at UPT Hewan Coba faculty of Veterinary of Syiah Kuala University. The samples code created based on the number tag on the cattle’s ear. The sample was taken from cattle’s udder by using sterile swab cultured in nutrient broth (NB) media and incubated for 24 hours at 37 °C. Furthermore, cultured in mannitol salt agar (MSA) media and blood agar (BA) media then re-incubated for 24 hours at 37 °C. Bacterial colonies that grew apart on MSA and BA media were observed the morphology of bacterial colonies, Gram stained, catalase test and biochemical test (mannitol and glucose). The result of this study indicated that from 10 samples, identified 3 samples are Micrococcus luteus and 7 samples are Staphylococcus epidermidis. The conclusions of this study was Staphylococcus epidermidis bacteria was more common on the udder of aceh cattle than Micrococcus luteus bacteria).
JUMLAH LEUKOSIT DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) JANTAN BERDASARKAN TINGKATAN UMUR DI PUSAT LATIHAN GAJAH (PLG) MINAS RIAU (Total Leukosit and Differential Leukosit of Male Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) Based on Age Level in the Elephant Exercise Center (PLG) Minas, Riau) Atikah Rahma Putri; Triva Murtina Lubis; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 2 (2022): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i2.8596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap jumlah leukosit total, basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan berdasarkan umur di PLG Minas, Riau. Penelitian ini menggunakan sampel darah yang diambil dari 10 ekor gajah sumatera jantan dengan kisaran umur 6-35 tahun. Pengambilan darah dilakukan pada vena auricularis posterior dengan menggunakan vacutainer yang berisi antikoagulan. Jumlah leukosit dan diferensial leukosit ditentukan dengan hematology analyzer Sysmex XN-550. Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan umur (25 tahun dan 25 tahun) dan dianalisis dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata (±SD) jumlah leukosit total, basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit pada umur 25 tahun berturut-turut adalah 14,50±2,34 x103/µl, 0,18±0,08 %, 5,10±2,50 %, 23,56±5,28 %, 36,10±7,99 %, dan 35,06±7,66 % sedangkan pada umur 25 tahun berturut-turut adalah 11,09±3,61 x103/µl, 0,26±0,04 %, 3,74±1,51 %, 22,80±4,74 %, 38,82±12,56 %, dan 34,38±11,61 %.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa umur tidak berpengaruh (P0,05) terhadap jumlah leukosit total, basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit pada gajah sumatera jantan di PLG Minas, Riau. (The aim of this study was to determine the effect of age on total number of leukocytes, basophils, eosinophils, neutrophils, lymphocytes, and monocyte of male sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus) base on age in PLG Minas Riau. In the study was used blood samples collected from 10 males sumatran elephants with age range 6-35 years old. Blood was collected is done in the posterior auricular vein using a vacutainer containing anticoagulants. The leukocyte count and leucocyte differentials were determined by the Sysmex XN-550 hematology analyzer. The data obtained were classified by the age (25 years and 25 years) and analyzed by t test. The results showed that the mean (± SD) total leukocyte count, basophils, eosinophils, neutrophils, lymphocytes, and monocytes at age 25 years were 14.50±2.34 x103/μl, 0.18±0,08 %, 5.10±2.50 %, 23.56±5.28 %, 36.10±7.99 %, and 35.06±7.66 % while at age 25 years were 11.09±3.61 x103/μl, 0.26±0.04 %, 3.74±1.51 %, 22.80±4.74 %, 38.82±12.56 %, and 34.38±11.61%. Based on the result, it can be concluded that age has no effect (P0,05) on total leukocyte, basophils, eosinophils, neutrophils, lymphocytes, and monocytes in male sumatran elephants in PLG Minas, Riau.)
VISUALISASI LENDIR MUKOSA OS CERVICALIS EXTERNAL SAPI ACEH SEJAK AWAL BERAHI MENGGUNAKAN ALAT INSEMINASI BUATAN (IB) BERKAMERA (VISUALIZATION OF EXTERNAL CERVICALIS MUCOSAL MUCOSE OS IN ACEH CATTLE SINCE THE BEGINNING OESTRUS USING CAMERA EQUIPPED ARTIFICIAL INSEMINATION TOOL) Fahrul Brinaldi; Ginta Riady; Cut Nila Thasmi; Hafizuddin Hafizuddin; M Jalaluddin; Nurliana Nurliana
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 2 (2022): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i2.17744

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang terjadi pada peternak sapi di Indonesia adalah rendahnya produktifitas dan mutu genetik yang disebabkan oleh minimnya penggunaan teknologi dan kurangnya keterampilan peternak saat proses Inseminasi Buatan (IB). Metode rektovaginal yang umum digunakan dalam proses IB saat ini memiliki resiko kesalahan dalam penempatan deposisi semen pada organ reproduksi betina. Tujuan penelitian untuk mengetahui visualisasi dari os cervicalis external selama fase berahi sapi betina dengan menggunakan alat IB berkamera. Penelitian ini menggunakan 12 ekor sapi berumur 4-6 tahun yang disinkorinasi berahi dengan prostaglandin. Deteksi berahi dilakukan tiga kali yaitu pagi; siang dan sore dengan lama deteksi 30 menit. Penetapan berahi sampel sapi berdasarkan total skor tingkah laku berahi. Sapi betina berahi kemudian diperiksa dengan alat IB berkamera untuk mendapatkan visualisasi os cervicalis external.  Parameter yang diamati adalah visualisasi os cervicalis external dan kualitas lendir mukosa cervix  pada 0; 6 dan 12 jam setelah berahi. Hasil penelitian menunjukkan lendir mukosa cervix pada 8 ekor sapi saat pengamatan 0 dan 6 jam berahi tampak transparan. Sedangkan pengamatan pada 12 jam setelah berahi, 5 ekor sapi (63%) memperlihatkan lendir mukosa cervix transparan dan 3 ekor sapi (37%) memperlihatkan lendir mukosa cervix  kental. Dapat disimpulkan bahwa visualisasi os cervicalis external  umumnya memperlihatkan lendir mukosa cervix transparan pada 0; 6 dan 12 jam setelah berahi.                                         Kata kunci : Alat Inseminasi Buatan (IB) Berkamera, Visualisasi, Mukosa. ABSTRACT      Problems that occur in cattle breeders in Indonesia are low productivity and genetic quality which were associated with the lack of use of technology and lack of skills of farmers during the artificial insemination process. The rectovaginal method which is commonly used in artificial insemination today has a risk of error in the placement of semen deposition in the female reproductive organs. The purpose of the study was to determine the visualization of the os external cervical mucus during the oestrus phase of female cows using a camera- equipped artificial insemination tool. This study used 12 cows aged 4-6 years old which were synchronised using prostaglandin. Oestrus detection was performed thrice a day namely in the morning; noon and late afternoon; for thirty minutes, respectively. Determination of estrus status of samples based on the total scores of oestrous behavior. Parameters observed were visualization of the external cervical os and the quality of cervical mucus at 0; 6 and 12 hours after estrus. The results showed cervical mucus in 8 cows during observation at 0 and  6 hours after estrus looked transparent. Where as examination at 12 hours after oestrus,  cervical mucus were transparent and cloudy for 5 samples (63%) and for other 3 sampels (27%), respectively. It can be concluded that visualization of the os external cervical mucus of local cows generally showed  transparent at 0; 6 and 12 hours after oestrus.Key words : Artificial Insemination Tool, Visualization, Mucosa.