p-Index From 2021 - 2026
6.628
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Aktivitas Di Kampus Dengan Gejala Flour Albus Pada Mahasiswa Keperawatan Syava Ardilawati; Ari Rahmat Aziz; Herlina
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.453

Abstract

Keputihan (flour albus) merupakan kondisi umum yang dialami oleh perempuan usia reproduktif, termasuk mahasiswa keperawatan. Salah satu faktor risiko yang diduga berkontribusi terhadap gejala flour albus adalah aktivitas harian yang padat selama berada di lingkungan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi aktivitas dan aktivitas fisik di kampus dengan gejala flour albus pada mahasiswa keperawatan. Dimana variabel aktivitas dibagi menjadi dua sub-variabel yaitu durasi dan jenis aktivitasnya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 orang mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik Stratified Random Sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi aktivitas, aktivitas fisik (adaptasi kuesioner IPAQ SF), dan flour albus. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori durasi aktivitas tinggi di kampus (46,5%) dan tingkat aktivitas fisik berat (45,3%) merupakan yang paling dominan. Gejala flour albus ditemukan pada 70,9% responden. Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi aktivitas di kampus dengan gejala flour albus (p-value = 0,000) < α (0,05), serta terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik di kampus dengan gejala flour albus (p-value = 0,000) < α (0,05). Durasi aktivitas dan aktivitas fisik di kampus memiliki hubungan yang signifikan dengan gejala flour albus. Mahasiswa dengan durasi aktivitas dan aktivitas fisik yang tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami flour albus.
GAMBARAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA LANSIA: DESCRIPTION OF INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USE IN THE ELDERLY Selly Anjely; Ari Rahmat Aziz; Widia Lestari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.353

Abstract

Peningkatan jumlah pendudukan usia lanjut memerlukan perhatian agar mereka dapat menikmati kehidupan yang sejahtera di masa tua. Penggunaan sosial media dapat memberikan dampak positif pada lansia dalam berkomunikasi dan memberikan dukungan sosial pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan intensitas penggunaan media sosial pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif di Kelurahan Labuh Baru Timur (Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki) Kota Pekanbaru pada bulan Juli 2023. Sampel penelitian terdiri dari 100 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden lansia berada dalam rentang usia 60-69 tahun (92%), dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (56%). Media sosial yang paling sering digunakan oleh lansia adalah WhatsApp (76%), diikuti oleh Youtube (54%). Dari segi aspek penggunaan media sosial, mayoritas lansia menunjukkan perhatian rendah terhadap penggunaan sosial media (61%), penghayatan rendah terhadap penggunaan sosial media (74%), durasi penggunaan sosial media yang rendah (55%), dan frekuensi penggunaan sosial media yang rendah (71%). Secara keseluruhan, intensitas penggunaan media sosial pada lansia cenderung rendah (52%). Diharapkan para lansia dapat lebih bijaksana dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial dengan mengatur waktu penggunaannya, sehingga dapat menghindari risiko terkait masalah kesehatan. Abstract The increasing number of elderly people requires attention so they can enjoy a prosperous life in their later years. The use of social media can have a positive impact on the elderly in terms of communication and providing social support. This study aims to describe the intensity of social media usage among the elderly. It employs a quantitative descriptive design in Labuh Baru Timur (Work Area of Puskesmas Payung Sekaki), Pekanbaru City, in July 2023. The sample consists of 100 respondents selected through accidental sampling. Data collection was conducted using a questionnaire, and data analysis was performed using descriptive analysis methods. The results show that the majority of elderly respondents are aged 60-69 years (92%), with a majority being female (56%). The most frequently used social media among the elderly is WhatsApp (76%), followed by YouTube (54%). In terms of social media usage aspects, the majority of the elderly show low attention to social media usage (61%), low appreciation of social media usage (74%), low duration of social media usage (55%), and low frequency of social media usage (71%). Overall, the intensity of social media use among the elderly tends to be low (52%). It is hoped that the elderly can be more prudent in using and utilizing social media by managing their usage time, thereby avoiding health-related risks.
Hubungan pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland: The relationship between knowledge of a gout diet and dietary behavior among patients with gout in wetland areas Yuliana Fitriyanti; Helina; Ari Rahmat Aziz
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.509

Abstract

Gout arthritis merupakan penyakit metabolik yang dipengaruhi oleh pola konsumsi tinggi purin. Namun, masih banyak penderita asam urat di daerah wetland yang belum memiliki pengetahuan memadai mengenai diet rendah purin. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland. Desain penelitian adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 123 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (56,1%) dan perilaku diet tidak baik (60,2%). Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland (p = 0,010; OR = 2,842; 95% CI = 1,348–5,993). Peningkatan pengetahuan mengenai diet asam urat perlu menjadi prioritas intervensi keperawatan komunitas, khususnya pada masyarakat di daerah wetland. Gout arthritis is a metabolic disease influenced by a high-purine consumption pattern. However, many gout sufferers in wetland areas still lack adequate knowledge about a low-purine diet. This study aimed to determine the relationship between knowledge about gout diet and dietary behavior among gout sufferers in wetland areas. A descriptive correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 123 respondents were selected using accidental sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test and odds ratio. The results showed that the majority of respondents had low knowledge (56.1%) and poor dietary behavior (60.2%). A significant relationship was found between knowledge about gout diet and dietary behavior among gout sufferers in wetland areas (p = 0.010; OR = 2.842; 95% CI = 1.348–5.993). Improving knowledge about gout diet should be prioritized in community nursing interventions, particularly in wetland communities.
Hubungan self awareness dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri: The relationship between self-awareness and compliance with iron supplement consumption in adolescent girls Verina Raisya Irawan; Ari Rahmat Aziz; Herlina
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.513

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri akibat meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Pemerintah telah melaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya pencegahan anemia, namun tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam kepatuhan konsumsi TTD adalah self-awareness. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan self-awareness dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri di SMK Negeri 1 Pekanbaru. Desain penelitian adalah korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 239 siswi yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Self-awareness diukur menggunakan kuesioner yang mencakup tiga dimensi, yaitu subjektif, objektif, dan simbolik, sedangkan kepatuhan konsumsi TTD diukur berdasarkan jumlah tablet yang dikonsumsi dalam satu bulan terakhir. Mayoritas responden memiliki self-awareness yang baik pada ketiga dimensi, namun sebagian besar tidak patuh mengonsumsi TTD (67,4%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-awareness subjektif (p = 0,397), objektif (p = 0,133), maupun simbolik (p = 0,129) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Peningkatan kepatuhan konsumsi TTD memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan faktor eksternal seperti dukungan keluarga, teman sebaya, dan tenaga kesehatan. Anemia is a common health problem among adolescent girls due to increased iron requirements during growth and blood loss during menstruation. The government has implemented an iron supplement tablet (IST) program as an effort to prevent anemia, but compliance rates among adolescent girls remain low. One internal factor suspected to influence compliance is self-awareness. This study aimed to determine the relationship between self-awareness and iron supplement tablet compliance among adolescent girls at SMK Negeri 1 Pekanbaru. A correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 239 female students were selected using stratified random sampling. Self-awareness was measured using a questionnaire covering three dimensions — subjective, objective, and symbolic — while compliance was measured based on the number of tablets consumed in the past month. The majority of respondents had good self-awareness across all three dimensions, yet most were non-compliant with iron supplement tablet consumption (67.4%). No significant relationship was found between subjective (p = 0.397), objective (p = 0.133), or symbolic self-awareness (p = 0.129) and iron supplement tablet compliance. Improving compliance requires a more comprehensive approach involving external factors such as family support, peer support, and health worker involvement.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI PEKANBARU Rahma Safitri; Wice Purwani Suci; Ari Rahmat Aziz
Jurnal Keperawatan Abdurrab Vol. 7 No. 2 (2024): Volume 7 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jka.v7i2.3670

Abstract

Nutritional status in children is still a major problem, characterized by the increasing incidence of malnutrition and undernutrition in children. To determine whether there is a relationship between factors affecting nutritional status and nutritional status in pre-school children. This study is a quantitative study with a cross-sectional approach. Data collection techniques by distributing questionnaires and observing the measurement of TB and BW of children. The research sample was 100 respondents with purposive sampling technique. Of the 100 respondents, 5-year-old children were 86 respondents (86%), most of them were male as many as 58 respondents (58%), the mother's last level of education was college as many as 42 respondents (42.0%), mothers did not work as many as 59 respondents (59.0%) economic status was less than MSE as many as 67 respondents (67%) nutritional status in children was good nutrition and at risk of overnutrition as many as 55 respondents (55%). The results of the Chi-Square test obtained the results of the associated factors, namely the economic status factor, the results of P value 0.020 <0.05, the factor of history of infectious diseases obtained the results of P value 0.000 <0.05, the health service utilization factor obtained the results of P value 0.000 <0.005. Factors affecting nutritional status in preschool children are economic status, history of infectious diseases and utilization of health services. Status gizi pada anak masih menjadi masalah utama, yang ditandai dengan kejadian gizi buruk dan kurang pada anak yang terus meningkat. Penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi dengan status gizi pada anak usia pra sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross Sectional. Teknik pengumpulan data dengan penyebaran kuisioner dan melakukan observasi pengukuran TB dan BB anak. Sampel penelitian sebanyak 100 responden dengan teknik pengambilan purposive sampling. Dari 100 responden, anak berusia 5 tahun sebanyak 86 responden (86%), sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 58 responden (58%), tingkat pendidikan terakhir Ibu perguruan tinggi sebanyak 42 responden (42,0%), Ibu tidak bekerja sebanyak 59 responden (59,0%) status ekonomi kurang dari UMK sebanyak 67 responden (67%) status gizi pada anak adalah gizi baik dan beresiko gizi lebih sebanyak 55 responden (55%). Hasil uji Chi-Square didapatkan hasil factor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak prasekolah yaitu pada faktor status ekonomi hasil P value 0,020<0,05, faktor riwayat penyakit infeksi didapatkan hasil P value 0,000<0,05, faktor pemanfaatan pelayanan kesehatan didapatkan hasil P value 0,000<0,005. Fakto-faktor yang mempengaruhi satus gizi pada anak prasekolah adalah status ekonomi, riwayat penyakit infeksi dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Senam Tera Sebagai Terapi Fisik Untuk Lansia Dengan Asam Urat di Panti Sosial Puteri Dianti; Ari Rahmat Aziz; Arneliwati Arneliwati; Auliana Tesa; Dimas Imam N; Nurhidayah Nurhidayah; Sri Agustin Purwanti; Adany Sulthan Alhisyam; Khofifah Dwi Sarifah; Rini Riasti; Ummu Hanifa; Hikmawati Ilma; Roja Nadila; Ella Biisnilla
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/d68bn485

Abstract

Asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan yang seringkali dialami lansia akibat penurunan fungsi ginjal. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan kesehatan lansia melalui senam tera sebagai intervensi nonfarmakologis pada lansia dengan asam urat. Mitra pengabdian adalah Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Husnul Khotimah Pekanbaru. Metode pengabdian meliputi tahap persiapan, edukasi mengenai asam urat dan senam tera, demonstrasi gerakan, praktik senam bersama selama ±20 menit, serta evaluasi melalui observasi langsung dan laporan verbal lansia mengenai kondisi nyeri dan kebugaran. Kegiatan diikuti oleh 10 orang lansia sebagai peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan keluhan nyeri pada 60% peserta, penigkatan kebugaran sebanyak 80%, peningkatan kenyamanan pada 70% peserta, dan 90% peserta menyatakan antusias untuk melanjutkan senam tera secara rutin. Evaluasi juga memperlihatkan adanya perubahan tingkat nyeri dari kategori sedang menjadi ringan dan tidak nyeri. Senam tera terbukti memberikan manfaat bagi lansia dengan urat, serta berpotensi menjadi strategi nonfarmakologis yang berkelanjutan untuk pengendalian gejala asam urat di lingkungan panti sosial.
Gambaran Tingkat Kecemasan dan Depresi pada Pasien Post Operasi Open Reduction Internal Fixation (ORIF) Nora Annisa Fitri; Hellena Deli; Ari Rahmat Aziz
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.923

Abstract

Pendahuluan: Tindakan ORIF merupakan prosedur pembedahan invasif yang berpotensi mempengaruhi kondisi psikologis pasien akibat proses penyembuhan yang lama, keterbatasan mobilitas, dan ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari sehingga dapat menjadi sumber kecemasan dan depresi. Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat kecemasan dan depresi pada pasien Post operasi ORIF di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif terhadap 58 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil: Karakteristik responden mayoritas berjenis kelamin laki-laki 41 responden (70,7%), berusia 26–45 tahun sebanyak 25 responden (43,1%), bekerja sebagai wiraswasta 29 responden (48,3%), berpendidikan SMA 31 responden (53,4%), dan menjalani ORIF pada ekstremitas bawah 35 responden (60,3%). Gambaran tingkat kecemasan menunjukkan responden dengan kategori normal sebanyak 38 responden (65,5%), borderline abnormal sebanyak 13 responden (22,4%), dan abnormal dengan 7 responden (12,1%). Gambaran tingkat depresi menunjukkan responden dengan kategori normal sebanyak 40 responden (69,0%), borderline abnormal sebanyak 13 responden (22,4%), dan abnormal dengan 5 responden (8,6%). Kesimpulan: Sebagian besar pasien Post operasi ORIF memiliki tingkat kecemasan dan depresi dalam kategori normal. Namun, masih terdapat responden yang mengalami kecemasan dan depresi yang bermakna secara klinis, sehingga diperlukan skrining psikologis rutin dan intervensi keperawatan yang holistik pada pasien Post operasi ORIF. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pelayanan keperawatan dalam melakukan deteksi dini serta pemberian dukungan psikologis pada pasien Post operasi ORIF.
Physical, Psychological, Social, and Environmental Quality of Life Among Elderly in Wetland Regions Nur Yuliati; Ari Rahmat Aziz; Safri Safri
Jurnal Keperawatan Profesional Vol 14, No 2 (2026): Nursing in a Multicultural Environment
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jkp.v14i2.13735

Abstract

Elderly people experience physiological, psychological, and social changes that can affect their quality of life. The condition of their living environment, including wetland areas, also has the potential to affect their well-being. This study aims to determine the quality of life of elderly people living in wetland areas. The study used a quantitative descriptive design with a sample of 264 respondents selected through a purposive sampling technique. Inclusion criteria included elderly people who were physically and mentally healthy, able to read and write, and willing to participate as respondents. The research instrument used the WHOQOL-BREF questionnaire, which assesses four domains of quality of life: physical health, psychological health, social relationships, and the environment. Data were analyzed univariately in the form of frequency distributions and percentages. The results showed that most respondents were aged 60–74 years (99.4%), female (78.8%), had an elementary school education or equivalent (59.5%), worked as housewives (73.9%), and were married (69.7%). In general, the quality of life of elderly people living in wetland areas was in the good category, with 198 people (75%). These findings indicate that older adults in wetland areas generally have a good quality of life and can serve as a basis for developing more responsive health programs and community services.
The Relationship of Patient Assessment of the Implementation of Nurse Therapeutic Communication with Patient Satisfaction with Service Hillary Agustin Dahur; Ari Rahmat Aziz; Anisa Yulvi Azni
Jurnal Keperawatan Profesional Vol 14, No 1 (2026): Challenges and Integrated Approaches in Various Clinical Conditions
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jkp.v14i1.11857

Abstract

Therapeutic communication is a crucial aspect of nursing care that reflects the interpersonal skills of nurses in establishing a professional, empathetic, and attentive relationship with patients. In the context of holistic care, therapeutic communication significantly influences patients' perceptions and experiences regarding the quality of healthcare services they receive. This study aims to analyze the relationship between patients' assessments of nurses' therapeutic communication and their satisfaction with inpatient services. The study employed a quantitative method with a descriptive correlational design. A total of 234 patients were selected using purposive sampling, with inclusion criteria of patients who could communicate effectively (without hearing or speech impairments) and exclusion criteria of patients in critical conditions or those discharged against medical advice. The instrument used to assess nurses' therapeutic communication demonstrated validity ranging from 0.517 to 0.855 and reliability with a Cronbach alpha value of 0.962. Data were analyzed using the Pearson Chi-Square statistical test. The univariate analysis showed that 56% of patients rated nurses' therapeutic communication as good, while 73.1% expressed satisfaction with the services. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.001 (p < 0.05), indicating a significant relationship between the assessment of therapeutic communication and patient satisfaction.
Perilaku Masyarakat Terkait Sanitasi Lingkungan pada Wilayah Lahan Basah di Tepian Sungai Siak Nafa Azzarah; Febriana Sabrian; Ari Rahmat Aziz
Jurnal Kesehatan Komunitas Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan Komunitas
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/keskom.Vol12.Iss1.2296

Abstract

Environmental sanitation is an effort to optimize environmental conditions to prevent the spread of disease and improve public health. Inadequate implementation of environmental sanitation, including access to clean water and use of unsanitary toilets, contributes to an increase in environmentally based infectious diseases. This research aims to explore community behavior related to environmental sanitation in the wetland area along the Siak River. This study used a descriptive qualitative approach through semi-structured interviews with six informants, selected by purposive sampling, and analyzed using thematic analysis. Some practices reported by the informants align with environmental health standards, such as disposing of waste at designated landfills, managing drinking water, and maintaining household environments. However, there are still practices that do not align with health standards, such as disposing of feces into rivers and using river water for household needs. Poor sanitation practices, if carried out over a long period of time, will endanger health, quality of life, and the environment. These practices are attributed to poor community habits and economic constraints that hinder informants from constructing adequate sanitation facilities. The role of relevant institutions is needed in empowering and improving sanitation infrastructure so that environmental sanitation practices that meet health standards can be implemented.
Co-Authors Abda Abda Adany Sulthan Alhisyam Adesyahpuri, Diva Adiguna, Drajat Agrina Ahmad Kautsar Ahmad Redho Aisyah Mukda Camila Putri Allima, Nur Alrasimah, Alrasimah Amelia, Natasya Aminatul Fitri Ananda, Reza Dwi Angelica, Thesia Anisa Yulvi Azni Anisah Syofiah SL Annaya Qamara Tasman Ardilla Nurliza Arini, Intan Arneliwati Arya Ramadia AS, Fajrina Insyirah Aulia Oktavia Azizah Azizah Bayhakki Bayhakki Biisnilla, Ella Br Munthe, Cristina Lasmaria Cecep Eli Kosasih Destria Efliani Devyna, Yulia Dewi Liesnoor Setyowati Dewi Puspita Sari Dianti, Puteri Didi Kurniawan Dimas Imam N DZAKIA, MASITA AQLA Ella Biisnilla Fadhillah, Fadhillah Fadhlia, Husna Farniati, Farniati Fathaniah, Farahiyah Fathra Annis Nauli Febriana - Sabrian Febriana Sabrian Fitriani, Dora Ghina Luthfia Handika, Yefma Feby Helina Hellena Deli Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hidayat, Anugerah Hikmawati Ilma Hillary Agustin Dahur Hunafa, Zahra Hutabarat, Ribka Pebriana Indriati , Ganis Indriati, Ganis Izzati, Helga Rahma Jannaim Jannaim Jannaim Jannaim Juliana, Dea Adelia Kamal Mahmudi Karolin Paninzela Dwi Putri Khofifah Aisyah Fitri Khofifah Dwi Sarifah Lai, Claudia. K. Y. Maharani Karlina Maisantri, Vivi Mamat Lukman Melani, Dela Mimi Eri Miransya, Devara Aneila Misrawati Muttakhidatul Hikmah, Muttakhidatul Nafa Azzarah Nakhlah, Fidela Nia Khusniyati Nopriadi Nopriadi Nopriadi Nora Annisa Fitri Nur Yuliati Nurhanifa Rizky Tampubolon Nurhannifah Rizky Tampubolon Nurhayati Nurhidayah Nurhidayah Nurhidayah Nurhidayah nurul almaas, haniifah Nurul Huda Nurul huda Nurul Huda Pakpahan, Jonas Letare Putri, Salsabila Zumari Putri, Shindi Rahmedani Putricia, Alyssa Salma R. Dia, R. Dia Rahayu Annisa Fitri Rahayu, Windy Lavenia Rahma Safitri Rahmaniza Rahmaniza Reni Zulfitri Rifky Arnando Rini Riasti Riri Novayelinda Riska Ardhya Saraswati ROHMI FADLI Roja Nadila Rokhmani, Nikmah Rusdi, Jusar Muhammad Rustam, Musfardi Safri Safri Safri Sari, Niken Yuniar Sari, Suci Indah Sebayang, Sabrina Nur Ramadhanty Selly Anjely Sri Agustin Purwanti Sri Utami Stephanie Dwi Guna Sukma, Melati Syafni Gusti Windari Syava Ardilawati Syeptri Agiani Putri Tampubolon, Masrina Munawarah Tampubolon, Masrina Munawaroh Tesa, Auliana Ummu Hanifa Veny Elita Verina Raisya Irawan Viola Hamnesti Wahyuni, Hati Sri Wasisto Utomo Wice Purwani Suci Widia Lestari Yulia Irvani Dewi Yulia Rizka Yuliana Fitriyanti Yunisman Roni Zanti, Wahdini Putri Zukhra, Ririn Muthia