Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Jarak ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan terhadap Kejadian Default pada Penderita TB Paru di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Salam, Salam; Wahyono, Tri Yunis Miko
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 3 No. 3 (2020): September 2020
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.54 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v3i3.1121

Abstract

Terkonsentrasinya rumah sakit di wilayah perkotaan membuat tidak meratanya akses pelayanan kesehatan bagi penduduk yang berada di daerah pedesaan dikarenakan jarak ke rumah sakit menjadi jauh dari tempat tinggal dalam mencari pengobatan. Angka putus berobat pasien TB paru tertinggi di Kabupaten Purbalingga berada di Rumah Sakit Goeteng Taroenadibrata, Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan terhadap kejadian default pada penderita TB paru di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2018-2019. Bahan dan metode Jenis penelitian ini adalah penelitian epidemiologi observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case control study. Perbandingan kelompok kasus dan kelompok kontrol (1:1) jumlah seluruh kasus sebanyak 29 kasus dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 28 kasus sehingga jumlah sampel yang didapat adalah 56 dengan rincian 28 kasus dan 28 kontrol. Hasil penelitian hasil analisis bivariat ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah dengan rumah sakit dengan terjadinya default, OR=3,262 p=0,0321. Analisis Multivariat dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah dengan terjadinya default OR=5,21 p=0,012 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah dengan rumah sakit setelah dikontrol oleh variabel konfounding jenis kelamin. Kesimpulan ada hubungan yang bermakna antara jarak rumah ke rumah sakit dengan kejadian  default.
Tinjauan Kemampuan Keterampilan Teknik Dasar Bola Voli Pada Siswa Ekstrakurikuler Bola Voli SMAN 1 Bunut Rola Angga Lardika; Salam, Salam
Journal Of Sport Education (JOPE) Vol. 2 No. 1 (2019): December
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/5efxdr03

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan tentang tinjauan kemampuan keterampilan teknik dasar bola voli pada siswa ekstrakurikuler bola voli SMAN 1 Bunut. Penelitian ini tergolong pada penelitian deskripitif. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling (sampel jenuh), dimana seluruh populasi yang dijadikan sebagai sampel. Berdasarkan penentuan sampel di atas maka didapat sampel sebanyak 20 siswa yang mengikuti ekstrakurikuler Bola Voli SMAN 1 Bunut. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab terdahulu dapat dikemukakan kesimpulan bahwa: Tingkat kemampuan passing bawah yang dominan dimiliki siswa ekstrakurikuler Bolavoli di Sekolah SMAN 1 Bunut Kabupaten Pelalawan adalah 1,7-80,5 tergolong baik. (36,36%), Tingkat kemampuan passing atas yang dominan dimiliki siswa ekstrakurikuler Bolavoli di Sekolah SMAN 1 Bunut Kabupaten Pelalawan adalah 48,7-56,5 tergolong kategori baik (40,90%), Tingkat kemampuan servis yang dominan dimiliki siswa ekstrakurikuler Bolavoli di Sekolah SMAN 1 Bunut Kabupaten Pelalawan adalah 13,3-1452 tergolong kategori kurang (31,80%), Tingkat kemampuan smash yang dominan dimiliki siswa ekstrakurikuler Bolavoli di Sekolah SMAN 1 Bunut Kabupaten Pelalawan adalah 13,9-15,7 tergolong kategori kurang (36,36%).
Comparison of Prefixes and Reduplication of Gorontalo Language and Atinggola Language Ome, Aas; N. Djou, Dakia; Salam, Salam
Journal of English Language and Education Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v11i1.1857

Abstract

This study examines the comparative form and function of prefixes and reduplication in Gorontalo and Atinggola languages using a comparative linguistics approach. This comparison aims to identify similarities and differences in morphological structure in both languages. Data were collected through interviews, observation, and documentation involving native speakers in Randangan District, Pohuwato Regency, and Atinggola District, North Gorontalo Regency. A total of 200 basic Swadesh vocabulary items were used as the primary analysis material. The research findings indicate that both languages have relatively similar morphological systems, particularly in the use of bound morphemes, such as prefixes, which contribute to verb formation. However, there are differences in their productivity and grammatical functions. Gorontalo has six types of prefixes and 20 forms of reduplication, while Atinggola has four types of prefixes and 25 forms of reduplication. Reduplication in both languages serves to express meaning, such as emphasizing intensity, adding meaning, and varying meaning. In general, this research contributes to the development of comparative historical linguistic studies and can be used as a reference in the conservation and development of regional languages in Indonesia.