Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERENCANAAN INTERVENSI SOSIAL OLEH PEKERJA SOSIAL TERHADAP KLIEN PECANDU ALKOHOL Tauzia Harari; Ananda Zahra; Nasywa Faza Lailan; Irhamni Rahman; Muhammad Sahrul
KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa Remaja, cenderung seseorang melakukan suatu perilaku menyimpang sangatlah tinggi, Salah satu Tindakan atau perilaku yang menyimpang yang sering kita dapati adalah mengkonsumsi alkohol, karena bagi kaum remaja melakukan hal tersebut merupakan hal yang lumrah dan dianggap keren. Artikel ini dibuat untuk memberitahu rancangan rencana intervensi yang dapat dilakukan seorang peksos untuk menangani klien dengan latar belakang kasus kecanduan alkohol. Metodologi desain penelitian yang digunakan adalah penelitian Tindakan Action Research, Sumber data yang digunakan adalah Sumber data Primer dan Sekunder, Teknis Wawancara yang dilakukan adalah Teknik Eksplorasi dan Ventilasi dan Teknis Assessment yang dilakukan adalah BPS/BPSS (Biopsychosocial Spiritual Assessment). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap klien berinisial MH, kelompok kami membuat rancangan rencana intervensi yaitu Terapi Perilaku Pengkondisian Klasik, terapi yang kami lakukan adalah pada pengondisian aversif dengan memberikan beberapa stimulus aversif berupa minuman yang tidak MH sukai, yaitu Jus Tomat. Hal ini secara tidak langsung, akan tertanam dalam alam bawah sadarnya perlahan demi perlahan, jika minuman yang dia suka, diminum berbarengan dengan minuman yang paling tidak dia suka, maka kemungkinan besar klien kami menjadi tidak menyukai minuman yang dia suka, dalam kasusnya adalah alkohol.Kata kunci: Alkohol, Kecanduan Alkohol, Intervensi Sosial, Pekerja Sosia
KONTROL DIRI TERHADAP PERILAKU ADIKSI REMAJA PENGGUNA GAME ONLINE Galih Vian Suwari; Muhammad Sahrul
KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belakangan ini perilaku adiksi dikalangan remaja sangat populer disebabkan karena berbagai macam hal salah satunya yaitu intensitas penggunaan game online. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini remaja akan sangat mengalami berbagai  perubahan pada dirinya, baik perubahan fisik maupun psikis. Remaja di era globalisasi ini dimanjakan dengan perkembangan teknologi internet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab adiksi game online pada remaja, untuk mengetahui bagaimana self control remaja yang mengalami adiksi game online, dan untuk mengetahui self control remaja yang mengalami adiksi game online.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jumlah subyek sebanyak 11orang dengan 5 informan kunci dan 6 informan pendukung. Subjek penelitian adalah remaja yang mengalami perilaku adiksi terhadap penggunaan game online.  Dalam penelitian ini perubahan yang paling terasa dialami oleh remaja adalah perubahan emosi. Perubahan keadaan emosi atau suasana hati yang dihadapi remaja yang mengalami kecanduan terhadap penggunaan game online dapat berupa sedih, depresi, lelah maupun gelisah. Perubahan keadaan emosi remaja yang mengalami kecanduan game online tidak terdapat batasan untuk menjadikan dirinya memiliki perasaan senang. Kesenangan tersebut bisa didapatkan akibat bermain game online secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan remaja kecanduan untuk terus bermain game online. Perilaku adiksi remaja terhadap penggunaan game online dapat mempengaruhi bagi self control pada diri mereka.Kata kunci: self control, remaja, perilaku adiksi, game online.
Terapi Okupasi Dalam Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Pada Anak Down Syndrome di Klinik Liliput Muhammad Arief Effendi; Muhammad Sahrul
Jurnal Ventilator Vol. 2 No. 4 (2024): Desember : Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v2i4.1556

Abstract

Down Syndrome is a fairly common genetic disorder, this is one of the diseases caused by the emergence of an extra chromosome from 21 pairs of chromosomes or known as trisomy 21. This study aims to determine the provision of Occupational Therapy in Down Syndrome Children at the Liliput Clinic. Occupational Therapy in Improving Fine Motor Skills in Down Syndrome Children and supporting and inhibiting factors. This study uses a Qualitative Method, the informant sampling technique uses the Purposive Sampling Technique. And data collection is obtained from the results of Interviews, Observations, and Documentation. Data analysis is carried out through the stages of Data Reduction, Data Presentation, and Conclusion Drawing. The location of this study is at the Liliput Clinic, Jl. Cipete IV No. 06, Rt. 02 Rw 03, South Cipete, Cilandak District. The results of the study showed that the provision of Occupational Therapy for Down Syndrome Children, namely, Down syndrome children still tend to be limp, such as when doing activities they get tired more easily, then Down syndrome children have not been able to regulate their emotions stably. In improving fine motor skills in Down syndrome children, therapists train and instruct children how to hold objects properly such as pencils, pens and small scissors. Then the child is instructed how to write correctly. Supporting factors in Occupational Therapy for Down Syndrome Children are an experienced therapy background, supporting infrastructure, and support from parents of Down syndrome children. And the inhibiting factors are Down syndrome children who have high emotional levels and physical problems in Down syndrome children.
IMPLEMENTASI STANDAR SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MENUNJANG AKREDITASI LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK MUHAMADIYAH DARUL ILMI El Kahfi, Muhammad Fityan; Sahrul, Muhammad
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 7, No 2 (2024): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Desember 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v7i2.59515

Abstract

Lembaga kesejahteraan sosial, dari setting manapun termasuk setting anak dalam menjalankan akreditasi dituntut untuk memenuhi instrumen akreditasi sebagai suatu indikator penilaian akreditasi, terdapat beberapa klasifikasi instrumen akreditasi tersebut, salah satunya yaitu instrumen standar sumber daya manusia. SDM merupakan komponen vital dalam pelayanan sosial, namun beberapa fanomena seperti kuantitas SDM yang minim, latar belakang SDM yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu kesejahteraan sosial sampai perilaku abnormal seperti kekerasan yang dilakukan SDM membuat aspek SDM perlu dilakukan pengawasan. Maka dari itu, akareditasi melalui instrumen standar SDM merupakan sarana pengawasan akan kualitas mengenai SDM itu sendiri. Artikel ini membahas bagaimana LKSA Muhammadiyah Darul Ilmi mengimplementasikan instrumen standar SDM tersebut. Pendekatan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwasanya dalam implementasi instrumen standar SDM dalam menunjang akreditasi, lembaga secara tidak langsung melakukan unsur pengelolaan SDM, hal lain yang dihasilkan dalam penelitian ini yaitu terdapat relevansi antara implementasi standar SDM tersebut dengan tahap pengelolaan SDM seperti analisis dan desain pekerjaan, seleksi dan perekrutan, orientasi, pelatihan/pengembangan sdm, motivasi dan sistem penghargaan, supervisi dan penilaian kinerja serta terminasi. Maka dari hal tersebut rekomendasi penelitian ini, lembaga dalam mengimplemtasikan instrumen standar SDM, diharuskan melakukan pengelolaan SDM yang merujuk kebijakan pengasuhan anak karena hal tersebut dapat membantu lembaga memenuhi borang akreditasi itu sendiri. Social welfare institutions, from any setting including children's settings in carrying out accreditation, are required to fulfill accreditation instruments as an indicator of accreditation assessment, there are several classifications of accreditation instruments, one of which is the human resources standard instrument. HR is a vital component of social services. Still, several phenomena such as the minimum quantity of HR, HR backgrounds that are not by social welfare disciplines, and abnormal behavior such as violence committed by HR make HR aspects need to be monitored. Therefore, accreditation through HR standard instruments is a means of monitoring the quality of HR itself. This article discusses how LKSA Muhammadiyah Darul Ilmi implements the HR standard instrument. The approach in this research is a descriptive qualitative approach. The results of the study reveal that in the implementation of HR standard instruments in supporting accreditation, institutions indirectly carry out elements of HR management, another thing produced in this study is that there is a relevance between the implementation of HR standards and HR management stages such as job analysis and design, selection and recruitment, orientation, training/development, motivation and reward systems, supervision and performance appraisal and termination. So from this, this research recommends that in implementing the HR standard instrument, institutions are required to carry out HR management that refers to childcare policies because this can help institutions fulfill the accreditation form itself.
PENGEMBANGAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN DISABILITAS TULI DI SERONA COFFEE BINTARO Azahra, Muthia; Sahrul, Muhammad
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 7 No. 8 (2025): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v7i8.11789

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengembangan kecakapan hidup (life skill) dalam meningkatkan kemandirian individu dengan disabilitas tuli di Serona Coffee Bintaro. Serona Coffee menunjukkan komitmen kuat melalui strategi rekrutmen inklusif dan program pelatihan langsung di tempat kerja. Informasi lowongan disebarkan melalui komunitas seperti GERKATIN dan media sosial untuk memastikan akses yang luas bagi calon pekerja disabilitas tuli. Proses seleksi berdasarkan kriteria jelas, dengan memberikan kesempatan probation bagi yang belum berpengalaman. Serona Coffee aktif mengatasi tantangan komunikasi dengan strategi komunikasi inklusif seperti pelatihan bahasa isyarat untuk staf dan edukasi bagi pelanggan. Program ini tidak hanya mengembangkan keterampilan teknis dan soft skills, tetapi juga mempromosikan kesetaraan dan kesempatan kerja bagi individu dengan disabilitas. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan data perolehan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukan bahwa hasil program menunjukkan perubahan signifikan dalam kemandirian dan keterampilan hidup disabilitas tuli, dengan motivasi tinggi untuk belajar dan beradaptasi. Serona Coffee memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan keterampilan melalui pelatihan teknis dan lingkungan kerja inklusif. Tantangan seperti perbedaan sistem bahasa isyarat dan kurangnya pemahaman dari masyarakat umum tetap menjadi hambatan yang perlu diatasi
Meningkatkan Kepercayaan Diri Remaja Akhir Melalui Dukungan Emosional Pengasuh di Panti Sosial Bina Remaja Taruna Jaya 1 Radysti Devania; Muhammad Sahrul
WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 2 (2025): Mei : WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/wissen.v3i2.687

Abstract

Every teenager needs something called self-confidence because self-confidence plays an important role in developing personality and skills to become better. Problems that affect the self-confidence of teenagers living in social institutions include teenagers who have an inferior and shy attitude when appearing in public, often isolate themselves, do not focus on studying, and are reluctant to express their opinions. This can cause teenagers to regret the situation. The purpose of this study was to determine and describe how emotional support from caregivers increases the self-confidence of late adolescents, and to identify the supporting and inhibiting factors in providing emotional support from caregivers to late adolescents. This research method uses a qualitative approach with data obtained from observations, interviews, and documentation. The results of the study show that emotional support provided by caregivers, seen through consistent empathy, sincere concern, responsive attention, and appreciation through praise, increases the self-confidence and motivation of adolescents. Encouragement for active participation and responsibility also helps adolescents overcome fears and develop their potential. Supporting factors include adolescents' openness to advice, while rejection of help is an inhibiting factor. Case studies show that emotional support and positive social interactions significantly increase self-confidence, with positive changes observed in late adolescents at the Taruna Jaya 1 social care center for adolescents.
Pelaksanaan Program Youth Activation dalam Meningkatkan Relasi Sosial Bagi Atlet Disabilitas Intelektual di Lembaga Special Olympics Indonesia (SOIna) Angga Trisnanto; Muhammad Sahrul
Jurnal Cakrawala Akademika Vol. 1 No. 6 (2025): Edisi April
Publisher : PT. Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70182/jca.v1i6.351

Abstract

Special Olympics Indonesia melalui program Youth Activation memberikan wadah bagi anak-anak disabilitas intelektual untuk berkembang menjadi atlet profesional. Program ini dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diti, karakter kepemimpinan, serta relasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pelaksanaan program Youth Activation dalam meningkatkan relasi sosial bagi atlet disabilitas intelektual yang bernaung di bawah Special Olympics Indonesia (SOIna). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Youth Activation memiliki peran signifikan dalam meningkatkan interaksi sosial dan membangun rasa percaya diri para atlet disabilitas intelektual. Program ini juga berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat inklusif yang lebih menerima dan menghargai keberagaman. Implementasi program ini melibatkan berbagai kegiatan olahraga dan kompetisi yang dirancang untuk membentuk fisik yang sehat, menunjukkan keberanian, merasakan kebahagiaan, serta memperlihatkan kemampuan dan persahabatan. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pentingnya keberlanjutan dan dukungan terhadap program Youth Activation dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan relasi sosial atlet disabilitas intelektual di Indonesia.
PERAN PEKERJA SOSIAL GENERALIS DALAM PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Taufiqurokhman; Risyad Mustafa Midin, Arief; Sahrul, Muhammad; Alawiyah, Tuti; Kusmawati , Ati
KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan terhadap perempuan merupakan isu global yang serius dan kompleks, termasuk di Indonesia, yang mencakup kekerasan fisik, seksual, psikologis, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pekerja sosial generalis dalam menangani kekerasan terhadap perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 orang yang terdiri dari pekerja sosial, korban kekerasan, dan pihak terkait lainnya, dengan teknik purposive sampling yang menghasilkan 20 responden sebagai sampel. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tematik melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja sosial generalis memainkan peran penting dalam memberikan pendampingan, perlindungan, serta advokasi bagi korban kekerasan, dan mereka juga berkontribusi dalam upaya pencegahan melalui edukasi masyarakat serta kolaborasi lintas sektor. Namun, tantangan masih muncul dalam hal keterbatasan sumber daya dan resistensi budaya patriarkal. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pelatihan bagi pekerja sosial, penguatan jejaring kerja, serta kebijakan yang lebih mendukung perlindungan perempuan dari kekerasan.
Dukungan Sosial Teman Sebaya untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Remaja di Panti Asuhan Amal Wanita An-Nur Depok Daffa Pasya Islami; Muhammad Sahrul
WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 4 (2025): November : WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/wissen.v3i4.1208

Abstract

This study investigates the role of peer social support in enhancing self-confidence among adolescents at the Amal Wanita An-Nur Orphanage in Depok, Indonesia. Adolescents living in orphanages often experience psychological challenges, including low self-confidence and limited social interaction, which can affect their personal growth and future orientation. The objective of this research is to explore how peer social support contributes to strengthening self-confidence and to identify the forms, driving factors, and obstacles of such support. A qualitative descriptive method was applied through observation, interviews, and documentation, involving seven informants consisting of the orphanage head, caregivers, and adolescents. Findings show that three types of support emotional, appraisal, and informational play a dominant role in fostering self-confidence. Emotional support was expressed through empathy and active listening, appraisal support was provided through recognition of achievements and encouragement, while informational support involved advice and constructive feedback. Meanwhile, instrumental and network support were less emphasized due to limited resources. Despite the presence of barriers such as feelings of inferiority, miscommunication, and differences in emotional readiness, peer support proved effective in motivating adolescents, strengthening their resilience, and fostering positive self-perception. The implications suggest the need for structured peer-support programs, facilitated by caregivers and social workers, to maximize adolescents’ potential and prepare them for future challenges. Thus, this study demonstrates that peer social support serves not only as a protective factor but also as a social learning tool that shapes adolescents' interpersonal skills. Targeted programs can increase self-confidence, expand social relationships, and create a more supportive and inclusive nursing home environment.
Pelayanan Sosial Dalam Pelaksanaan Program Bimbingan Keterampilan Untuk Meningkatkan Kemandirian Anak Jalanan Di PSBR Taruna Jaya 2 Arfan Fajri; Muhammad Sahrul
WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2024): Februari : WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/wissen.v2i1.52

Abstract

The process of socializing self-reliance services for street children at PSBR Taruna Jaya 2 has several guidance activities such as social guidance which provides physical and mental guidance and skills guidance. This research was conducted at the Taruna Jaya 2 DKI Jakarta Youth Development Social Institution (PSBR Taruna Jaya 2) among street children who received skills guidance. The method used is qualitative with data collection techniques of observation, interviews and documentation. The informants interviewed were social workers, institutional managers, instructors and street children. The results of the research show that the condition of street children before receiving guidance at PSBR Taruna Jaya 2 did not have special skills to make a living, they were young men aged 18 to 30 years. They were caught in control operations by the authorities, living on the streets acting as street children (anjal), homeless people and beggars (gepeng), silver people, street singers, clown singers and punks. Education is low and some cannot read, write and count. Participated in coaching at PSBR Taruna Jaya 2 for 6 months. Implementation of skills guidance programs in the form of welding, car or motorbike repair, electronics, air conditioning and screen printing. The implementation of the program is funded by the Regional Government of DKI Jakarta and involves social workers, institutional managers, psychologists and instructors. Monitoring and evaluating training guidance with internships at collaborating companies. The independence of street children means that by terminating street children, they become aware of the law, return to their families and live in the community, some have even gotten jobs and opened their own businesses so they can cover their own needs without depending on other people.