Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL PANGAN

Aplikasi Tepung Bekatul Fungsional Pada Pembuatan Cookies Dan Donat Yang Bernilai Indeks Glikemik Rendah (Application of Functional Bran in Making Cookies and Donuts with Low Glycemic Index Value) Astawan, Made; Wresdiyati, Tutik; Widowati, Sri; Saputra, Indira
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.814 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.144

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan bekatul fungsional (direndam dalam asam askorbat 1000 ppm selama 1 jam pada berbagai formula cookies dan donat. Terhadap formula cookies dan donat yang terbaik kemudian dilakukan uji sensori, analisis sifat fisik dan kimia, serta pengukuran indeks glikemik (IG). Bekatul fungsional dapat diaplikasikan sebagai pensubstitusi terigu pada pembuatan cookies dan donat. Formula cookies dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 40 persen dari total tepung, dan formula donat dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 35 persen dari total tepung, merupakan formula yang terpiih. Kedua produk tersebut memiliki kadar serat pangan yang tinggi sehingga dapat diklaim sebagai pangan fungsional sumber serat pangan. Penambahan bekatul fungsional ke dalam formula cookies dan donat dapat menurunkan nilai IG, yaitu dari 67 pada cookies standar (tanpa bekatul) menjadi 31 pada cookies bekatul, dan dari 72 pada donat standar menjadi 39 pada donat bekatul. Dengan demikian, cookies dan donat bekatul dapat digolongkan sebagai pangan yang memiliki IG rendah (< 55). Pangan dengan IG rendah dapat diklaim sebagai pangan fungsional anti-diabetes. Faktor pendukung rendahnya IG pada cookies dan donat bekatul dibandingkan cookies dan donat standar adalah kadar lemak, kadar protein, kadar serat pangan, dan kadar amilosa yang lebih tinggi, serta daya cerna pati yang lebih rendah.kata kunci: cookies, donat, bekatul, indeks glikemik, organoleptikThe objective of this research was to apply functional rice bran (made by soaking rice bran in 1000 ppm ascorbic acid for 1 hour in processing some formulas of cookies and donut. Sensory, physical, chemical, and glycemic index (GI) analysis were then done to the selected formula of cookies and donut. The functional rice bran could be applied to substitute wheat flour in making cookies and donut. Cookies formula with addition of 40 percents functional rice bran from the total flour, and donut formula with addition of 35 percents functional rice bran from the total flour, were the best selected formulas. The two formulas had high dietary fiber content, so it can be claimed as a dietary fiber source of functional foods. The addition of functional rice bran into the cookies and donut formulas could decrease the GI value, from 67 in standard cookies (without addition of functional rice bran) to become 31 in functional rice bran cookies, and from 72 in donat standard to become 39 in functional rice bran donut. So, functional rice bran cookies and donut can be classified as foods with low GI value (< 55). Low GI foods can be claimed as antidiabetic functional food. Higher content of fat, protein, dietary fiber, amylose, and also the lower of starch digestion of rice bran cookies and donut contributed in lowering the GI.keywords: cookies, donut, rice bran, glycemic index, sensory
Karakteristik Fisikokimia dan Sifat Fungsional Tempe yang Dihasilkan dari Berbagai Varietas Kedelai (Phsyco-chemical Characteristics and Functional Properties of Tempe Made from Different Soybeans Varieties) Astawan, Made; Wresdiyati, Tutik; Widowati, Sri; Bintari, Siti Harnina; Ichsani, Nadya
JURNAL PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.627 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i3.102

Abstract

Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang diproduksi melalui fermentasi kedelai dengan kapang Rhizopus sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik fisik dan kimia kedelai impor (GMO, Non-GMO) dan kedelai lokal (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Sebelum difermentasi, kelima jenis kedelai dibandingkan satu sama lain dalam hal ukuran, berat per 100 biji, volume, densitas kamba, impuritas, dan derajat pengembangan setelah dimasak dan direndam satu malam. Kadar air, abu, dan proteinnya juga dibandingkan. Untuk produksi tempe, kedelai disortasi, direbus, direndam, dikupas kulitnya, dan difermentasi. Tempe yang dihasilkan kemudian dianalisis kadar air, abu, protein, kapasitas antioksidan, rendemen, biaya paling efektif, dan karakteristik sensorinya. Hasil analisis menunjukkan kedelai Grobogan memiliki ukuran terbesar (19,53 g/100 biji kedelai) dan efektivitas biaya tertinggi (0,73), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen tempe yang dihasilkan (p > 0,05). Tempe yang dihasilkan dari kedelai Grobogan memiliki kadar air, protein, dan lemak yang sama dengan tempe dari kedelai impor. Tempe yang dihasilkan dari kedelai Argomulyo memiliki kadar protein tertinggi (52,70 persen). Kapasitas antioksidan tempe dari kedelai impor dan lokal berkisar antara 186-191 mg AEAC/kg tempe dan tidak berbeda nyata (p > 0,05) satu sama lain. Berdasarkan analisis sensori pada tempe mentah dan tempe goreng, secara keseluruhan tempe dari kedelai lokal memperoleh tingkat kesukaan yang sama dengan tempe dari kedelai impor.Tempe is Indonesian traditional food made by fermentation of soybean by the fungus Rhizopus sp. The objective of this research was to compare physical and chemical properties of import soybeans (GMO, Non-GMO) and local soybeans (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Before being fermented, these import and local soybeans were compared on size, weight/100 grains, volume, bulk density, impurities, and puffing degree after being cooked and overnight soaked. The moisture, ash, and protein contents were also compared. For producing tempe, soybeans were sorted, cooked, soaked, dehulled, and fermented. The tempe moisture, ash, protein, antioxidant capacity, yield, cost effectiveness, and sensory characteristic were then evaluated. The result showed that Grobogan variety had the biggest size (19.53 g/100 soybean grains) and the highest cost effectiveness (0.73), but the yields of all tempe were not significantly different (p > 0.05). Tempe made from Grobogan soybean had moisture, protein, and fat content as high as tempe made from imported soybeans. Tempe made from Argomulyo soybean had the highest protein content (52.70 percent). The antioxidant capacity of tempe made from imported and local soybeans was about 186–191 mg AEAC/g, but was not significantly different (p > 0.05). Based on sensory evaluation of raw and fried tempe, overall tempe made from local soybeans had the same preference with tempe made from imported soybeans. 
Evaluasi Nilai Gizi Protein Tepung Tempe yang Terbuat dari Varietas Kedelai Impor dan Lokal Evaluation on Protein Nutritional Value of Tempe Flour Made from Imported and Local Soybean Varieties Astawan, Made; Mursyid, Mursyid; Muchtadi, Deddy; Wresdiyati, Tutik; Bintari, Siti Harnina; Suwarno, Maryani
JURNAL PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.31 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i1.48

Abstract

Tempe merupakan produk olahan fermentasi kedelai asli Indonesia. Telah diketahui bahwa kandungan gizi tempe lebih baik dibandingkan kedelai yang tidak difermentasi. Masalah utama tempe adalah umur simpan yang relatif rendah. Salah satu alternatif pengolahan tempe adalah tepung tempe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas protein tepung tempe yang terbuat dari kedelai impor dan lokal. Penelitian ini menggunakan tikus putih Sprague-Dawley sebagai hewan model. Tikus dibagi 4 kelompok berdasarkan sumber protein dalam ransum, yaitu tepung tempe kedelai impor Genetically Modified Organism (GMO)/hasil rekayasa genetika, tepung tempe kedelai impor non-GMO, tepung tempe kedelai lokal Grobogan, dan kasein sebagai kontrol. Parameter kualitas protein diukur berdasarkan metode pertumbuhan dan metode keseimbangan nitrogen. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai food convertion efficiency (FCE), protein efficiency ratio (PER), dan net protein ratio (NPR) dari semua jenis tepung tempe. Nilai true protein digestibility (TPD) tepung tempe kedelai grobogan dan non-GMO tidak berbeda nyata, namun nyata lebih tinggi dari tepung tempe kedelai GMO, dan lebih rendah dari kasein. Tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai biological value (BV) dan net protein utilization (NPU) semua sampel. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum nilai gizi protein tepung tempe kedelai lokal Grobogan tidak berbeda dengan tepung tempe kedelai impor non-GMO.Tempe is a fermented soybean product from Indonesia. It has been known that nutritional values of tempe are better than unfermented soybean. The main problem of tempe product is its short shelf life. An alternative way to solve this problem is tempe flour. The objective of this research was to evaluate the protein nutritional quality of tempe flours made from imported and local soybeans. This research used albino Sprague-Dawley rats as an animal model. The rats were divided into 4 groups based on protein source of the diet, namely: tempe flour of imported Genetically Modified Organism (GMO) soybean, tempe flour of imported non-GMO soybean, tempe flour of local Grobogan soybean, and casein as a control. Protein nutritional parameters were observed based on growth of rats and nitrogen balance methods. The results showed that there were no significant different of food conversion efficiency (FCE), protein efficiency ratio (PER), and net protein ratio (NPR) values from all of tempe flours. True protein digestibility (TPD) value of Grobogan and non-GMO tempe flours was not different, but higher than GMO soybean tempe flour, and lower than casein. There were no significant different of biological value (BV) and net protein utilization (NPU) values from all samples. This research concluded that generally the nutritional quality of protein of tempe flour from local Grobogan soybean tempe flour was not different from the protein quality of import non-GMOZT. 
Evaluasi Nilai Gizi Protein Tepung Tempe yang Terbuat dari Varietas Kedelai Impor dan Lokal Evaluation on Protein Nutritional Value of Tempe Flour Made from Imported and Local Soybean Varieties Made Astawan; Mursyid Mursyid; Deddy Muchtadi; Tutik Wresdiyati; Siti Harnina Bintari; Maryani Suwarno
JURNAL PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v23i1.48

Abstract

Tempe merupakan produk olahan fermentasi kedelai asli Indonesia. Telah diketahui bahwa kandungan gizi tempe lebih baik dibandingkan kedelai yang tidak difermentasi. Masalah utama tempe adalah umur simpan yang relatif rendah. Salah satu alternatif pengolahan tempe adalah tepung tempe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas protein tepung tempe yang terbuat dari kedelai impor dan lokal. Penelitian ini menggunakan tikus putih Sprague-Dawley sebagai hewan model. Tikus dibagi 4 kelompok berdasarkan sumber protein dalam ransum, yaitu tepung tempe kedelai impor Genetically Modified Organism (GMO)/hasil rekayasa genetika, tepung tempe kedelai impor non-GMO, tepung tempe kedelai lokal Grobogan, dan kasein sebagai kontrol. Parameter kualitas protein diukur berdasarkan metode pertumbuhan dan metode keseimbangan nitrogen. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai food convertion efficiency (FCE), protein efficiency ratio (PER), dan net protein ratio (NPR) dari semua jenis tepung tempe. Nilai true protein digestibility (TPD) tepung tempe kedelai grobogan dan non-GMO tidak berbeda nyata, namun nyata lebih tinggi dari tepung tempe kedelai GMO, dan lebih rendah dari kasein. Tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai biological value (BV) dan net protein utilization (NPU) semua sampel. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum nilai gizi protein tepung tempe kedelai lokal Grobogan tidak berbeda dengan tepung tempe kedelai impor non-GMO.Tempe is a fermented soybean product from Indonesia. It has been known that nutritional values of tempe are better than unfermented soybean. The main problem of tempe product is its short shelf life. An alternative way to solve this problem is tempe flour. The objective of this research was to evaluate the protein nutritional quality of tempe flours made from imported and local soybeans. This research used albino Sprague-Dawley rats as an animal model. The rats were divided into 4 groups based on protein source of the diet, namely: tempe flour of imported Genetically Modified Organism (GMO) soybean, tempe flour of imported non-GMO soybean, tempe flour of local Grobogan soybean, and casein as a control. Protein nutritional parameters were observed based on growth of rats and nitrogen balance methods. The results showed that there were no significant different of food conversion efficiency (FCE), protein efficiency ratio (PER), and net protein ratio (NPR) values from all of tempe flours. True protein digestibility (TPD) value of Grobogan and non-GMO tempe flours was not different, but higher than GMO soybean tempe flour, and lower than casein. There were no significant different of biological value (BV) and net protein utilization (NPU) values from all samples. This research concluded that generally the nutritional quality of protein of tempe flour from local Grobogan soybean tempe flour was not different from the protein quality of import non-GMOZT. 
Karakteristik Fisikokimia dan Sifat Fungsional Tempe yang Dihasilkan dari Berbagai Varietas Kedelai (Phsyco-chemical Characteristics and Functional Properties of Tempe Made from Different Soybeans Varieties) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Sri Widowati; Siti Harnina Bintari; Nadya Ichsani
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.102

Abstract

Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang diproduksi melalui fermentasi kedelai dengan kapang Rhizopus sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik fisik dan kimia kedelai impor (GMO, Non-GMO) dan kedelai lokal (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Sebelum difermentasi, kelima jenis kedelai dibandingkan satu sama lain dalam hal ukuran, berat per 100 biji, volume, densitas kamba, impuritas, dan derajat pengembangan setelah dimasak dan direndam satu malam. Kadar air, abu, dan proteinnya juga dibandingkan. Untuk produksi tempe, kedelai disortasi, direbus, direndam, dikupas kulitnya, dan difermentasi. Tempe yang dihasilkan kemudian dianalisis kadar air, abu, protein, kapasitas antioksidan, rendemen, biaya paling efektif, dan karakteristik sensorinya. Hasil analisis menunjukkan kedelai Grobogan memiliki ukuran terbesar (19,53 g/100 biji kedelai) dan efektivitas biaya tertinggi (0,73), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen tempe yang dihasilkan (p > 0,05). Tempe yang dihasilkan dari kedelai Grobogan memiliki kadar air, protein, dan lemak yang sama dengan tempe dari kedelai impor. Tempe yang dihasilkan dari kedelai Argomulyo memiliki kadar protein tertinggi (52,70 persen). Kapasitas antioksidan tempe dari kedelai impor dan lokal berkisar antara 186-191 mg AEAC/kg tempe dan tidak berbeda nyata (p > 0,05) satu sama lain. Berdasarkan analisis sensori pada tempe mentah dan tempe goreng, secara keseluruhan tempe dari kedelai lokal memperoleh tingkat kesukaan yang sama dengan tempe dari kedelai impor.Tempe is Indonesian traditional food made by fermentation of soybean by the fungus Rhizopus sp. The objective of this research was to compare physical and chemical properties of import soybeans (GMO, Non-GMO) and local soybeans (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Before being fermented, these import and local soybeans were compared on size, weight/100 grains, volume, bulk density, impurities, and puffing degree after being cooked and overnight soaked. The moisture, ash, and protein contents were also compared. For producing tempe, soybeans were sorted, cooked, soaked, dehulled, and fermented. The tempe moisture, ash, protein, antioxidant capacity, yield, cost effectiveness, and sensory characteristic were then evaluated. The result showed that Grobogan variety had the biggest size (19.53 g/100 soybean grains) and the highest cost effectiveness (0.73), but the yields of all tempe were not significantly different (p > 0.05). Tempe made from Grobogan soybean had moisture, protein, and fat content as high as tempe made from imported soybeans. Tempe made from Argomulyo soybean had the highest protein content (52.70 percent). The antioxidant capacity of tempe made from imported and local soybeans was about 186–191 mg AEAC/g, but was not significantly different (p > 0.05). Based on sensory evaluation of raw and fried tempe, overall tempe made from local soybeans had the same preference with tempe made from imported soybeans. 
Aplikasi Tepung Bekatul Fungsional Pada Pembuatan Cookies Dan Donat Yang Bernilai Indeks Glikemik Rendah (Application of Functional Bran in Making Cookies and Donuts with Low Glycemic Index Value) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Sri Widowati; Indira Saputra
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i4.144

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan bekatul fungsional (direndam dalam asam askorbat 1000 ppm selama 1 jam pada berbagai formula cookies dan donat. Terhadap formula cookies dan donat yang terbaik kemudian dilakukan uji sensori, analisis sifat fisik dan kimia, serta pengukuran indeks glikemik (IG). Bekatul fungsional dapat diaplikasikan sebagai pensubstitusi terigu pada pembuatan cookies dan donat. Formula cookies dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 40 persen dari total tepung, dan formula donat dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 35 persen dari total tepung, merupakan formula yang terpiih. Kedua produk tersebut memiliki kadar serat pangan yang tinggi sehingga dapat diklaim sebagai pangan fungsional sumber serat pangan. Penambahan bekatul fungsional ke dalam formula cookies dan donat dapat menurunkan nilai IG, yaitu dari 67 pada cookies standar (tanpa bekatul) menjadi 31 pada cookies bekatul, dan dari 72 pada donat standar menjadi 39 pada donat bekatul. Dengan demikian, cookies dan donat bekatul dapat digolongkan sebagai pangan yang memiliki IG rendah (< 55). Pangan dengan IG rendah dapat diklaim sebagai pangan fungsional anti-diabetes. Faktor pendukung rendahnya IG pada cookies dan donat bekatul dibandingkan cookies dan donat standar adalah kadar lemak, kadar protein, kadar serat pangan, dan kadar amilosa yang lebih tinggi, serta daya cerna pati yang lebih rendah.kata kunci: cookies, donat, bekatul, indeks glikemik, organoleptikThe objective of this research was to apply functional rice bran (made by soaking rice bran in 1000 ppm ascorbic acid for 1 hour in processing some formulas of cookies and donut. Sensory, physical, chemical, and glycemic index (GI) analysis were then done to the selected formula of cookies and donut. The functional rice bran could be applied to substitute wheat flour in making cookies and donut. Cookies formula with addition of 40 percents functional rice bran from the total flour, and donut formula with addition of 35 percents functional rice bran from the total flour, were the best selected formulas. The two formulas had high dietary fiber content, so it can be claimed as a dietary fiber source of functional foods. The addition of functional rice bran into the cookies and donut formulas could decrease the GI value, from 67 in standard cookies (without addition of functional rice bran) to become 31 in functional rice bran cookies, and from 72 in donat standard to become 39 in functional rice bran donut. So, functional rice bran cookies and donut can be classified as foods with low GI value (< 55). Low GI foods can be claimed as antidiabetic functional food. Higher content of fat, protein, dietary fiber, amylose, and also the lower of starch digestion of rice bran cookies and donut contributed in lowering the GI.keywords: cookies, donut, rice bran, glycemic index, sensory
Co-Authors . Komari A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abidah, Puri Adzrok Adi Winarto Adurrasyid, Zaid Afifah, Diana N. Akmal, Muhammad Ichlasul Alamsah Firdaus Alfarisi, Hamzah Amilia Dayatri Uray Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Ananda Putri Cahyani Andi Early Febrinda Andi Mu’nisa Ani Karmila Ans Budi Hartanta ANZS BUDY HARTANTA Arief Boediono Armando M Saragih Aziz, Sandra Azizatul Ulfa Bambang Pontjo Priosoeryanto Bambang Purwantara Bella Dinar Fauqii Cahyani Berry Juliandi Chitisankul, Wanida T. Citra Noviana Dadang Supriatna Dadi Hidayat Maskar Dadi Hidayat Maskar, Dadi Hidayat Damayanti, Aprilia F. Damayanti, Aprilia Firdha Damiana Rita Ekastuti Deddy Muchtadi Deddy Muchtadi Deddy Muchtadi Deddy Muchtadi DEDDY MUCHTADI Deddy Muchtadi Diini Fithriani Dimas Ahmad Rizaldi Dwi Febiyanti - Dwi Kesuma Sari Dwi Utami, Septi Eiichiro Fukusaki Eka Prasetiawan Eka Prasetiawan Eka Prasetiawan Elmeizy Arafah Erna Suzanna Evi Damayanti Evy Damayanthi Fithriani, Diini Fitrah Asma Ulhusna Fransiska R Zakaria Hadiningtias, Primanisa Hamzah Alfarisi Hamzah Alfarisi Hamzah Alfarisi Hamzah Alfarisi Hardinsyah Hidayati, Mustika I Komang Gede Wiryawan I Nyoman Suarsana Ichsani, Nadya Inas Suci Rahmawati Indah Fajarwati, Indah Indira Saputra Irma Isnafia Arief Isnafia Arief , Irma Ita Djuwita Jefriaman Sirait Joko Hermanianto Karnila, Rahman Karnila Ketut Adnyane Mudite koekoeh santoso Komang G Wiryawan Komari Komari Komari Komari Lasmiati, Ni Nengah LUSIA YUNI HASTANTI MADE ASTAWAN Made Astawan Made Astawan Made Darawati Manalu, Johanes Marojahan MARIA BINTANG Maryani Suwarno Maryani Suwarno Maryani Suwarno Muhamad Firdaus Muhamad Firdaus Muhammad Agus Muljanto Muhammad Ichlasul Akmal Muhammad Ichsan Mursyid . Mursyid Mursyid Mustika Hidayati Nadya Ichsani Nancy Dewi Yuliana NASTITI KUSUMORINI Nelis Imanningsih Ni Nengah Lasmiati Novita, Rias R. Palupi, Nurheni Sri Prabandari, Silvia Arin Prasetyawati, Renny Candra Prayudani, Ayu P G Prayudani, Ayu Putri Gitanjali Prima Yaumil Fajri Prima Yaumil Fajri Putri, Anisya Saeila Putri, Sastia P. Putri, Sastia Prama Putty Anggi Lestari Rafidha Irdiani Rahmawati, Siti Irma Ramdhani, Rizal Pauzan Ratnaningsih Eko S. Renny Candra Prasetyawati Ria Ceriana Rini Kesenja Rita Khairina Sadiah, Siti Saithong, Pramuan Sandra Arifin Aziz Saputra, Indira Saragih, Armando M SARASWATI SARASWATI Sarwono Waspadji Sarwono Waspadji Sarwono Waspadji Sastia Prama Putri Savitri Novelina Septi Dwi Utami Setyawati S Karyono Setyawati S. K. Setyawati S. Karyono Sidik . Silvia Arin Prabandari Siti Harnina Bintari Siti Sa&#039;diah Siti Sa'diah Siti Sa'diah Siti Sadiah Siti Sa’diah SITI SA’DIAH Soewarno S Soekarto Soewarno Soekarto Sofiawati Sofiawati Sofiawati, Sofiawati Sri Rahmatul Laila Sri Widowati Sri Widowati Srihadi Agungpriyono Subangkit, Mawar Sukarno Sukarno Suliantari . Sussi Astuti Taopik Ridwan TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN TEGUH SURANTA SINULINGGA Tessa Winandita Trioso Purnawan Tryas, Anisha Ayuning Ulhusna, Fitrah Asma VENNY FEBRIYANI Vera Di Nurwati Wasmen Manalu Yalmaida, Nabila Az Zahra Yana Nurdiana Yeni Setiorini Yeni Setiorini Yenni MS Nababan YOLI ZULFANEDI Yuspihana Fitrial