Claim Missing Document
Check
Articles

The Use of Indonesian Formal Language in the Process of Legislative Drafting in Accordance With Law Number 12 Of 2011 Rati Riana; Muhammad Junaidi
Hang Tuah Law Journal VOLUME 2 ISSUE 1, APRIL 2018
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/htlj.v2i1.177

Abstract

The character of civil law law that gave birth to the form of written law perceived that the law relies on the text of the written text, so it is possible to misinterpret the interpretation or multiple interpretations of articles or regulations because of wrong in understanding the language. This will impact on law enforcement less than the maximum. The use of standard language is one solution to avoid multiple interpretations in understanding the essence of language in the realm of law. This type of research is qualitative research. The data source is the document of Law Number 12 of 2011 on the Establishment of Legislation. The analysis is conducted on the use of standard Indonesian language in the document to meet its accordance with the rules of the standard language. In addition to the document, the analysis was also conducted on the results of the interview and the questionnaire.
The Legal Security in Electronic Transactions to Protect Freedom of Speech: The Concept of Forming Legislation on Electronic Transactions Muhammad Junaidi; Hendro Widodo; Ahmed Kheir Osman
Jurnal Hukum Vol 40, No 2 (2024): Jurnal Hukum
Publisher : Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/jh.v40i2.38101

Abstract

The main objective of this study is to conduct a comprehensive study of the rules in criminalization which is one of the last alternatives in the law enforcement process. The Law on the Formation of Legislation in Indonesia provides Limitations of norms for violations of each legal norm formed does not violate human rights. The method used in this study was a sociological legal approach. The results of the study indicate that the norms contained in the Electronic Transaction Law in Indonesia should be a tool for law enforcers to carry out social engineering which is not a means to legalize the interests of power in Indonesia. This finding highlights the need to change the law as a constructive social engineering tool, and not as a mechanism to serve personal interests. Strengthening general provisions and clarifying norms is essential to prevent and prioritize the protection of freedoms interpreted as fundamental human rights. This study underlines the importance of aligning law enforcement with democratic values in the digital era.
PEMBERDAYAAN UMKM PENERIMA PKH MELALUI PELATIHAN PERHITUNGAN HARGA POKOK PENJUALAN (HPP) Tri Endang Yani; Totok Wibisono; Muhammad Junaidi; Sujito Sujito
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.11074

Abstract

ABSTRACT The Family Hope Program (Program Keluarga Harapan/PKH) is a conditional cash transfer program initiated by the Government of Indonesia aimed at reducing poverty and improving the welfare of low-income households. One of the beneficiary areas is Krobokan Urban Village, Semarang City, which consists of nine PKH groups with several Beneficiary Families (Keluarga Penerima Manfaat/KPM) engaged in micro, small, and medium enterprises (MSMEs). However, a key challenge faced by these MSMEs is the low level of understanding and ability to calculate the Cost of Goods Sold (COGS), which leads to inaccurate product pricing, reduced competitiveness, and suboptimal business sustainability. This community service activity aims to provide education and training on COGS calculation for PKH beneficiary MSMEs in Krobokan Urban Village, enabling them to set fair, competitive, and profitable selling prices, while also improving family economic independence. The implementation method used is direct education and training delivered to partner groups during the first semester of the 2025–2026 academic year. The results of the activity indicate an improvement in participants’ understanding and skills in calculating COGS, as well as their ability to determine more accurate product pricing. Therefore, this program is expected to support more efficient and sustainable business management for PKH beneficiary MSMEs. ABSTRAK Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program bantuan sosial bersyarat dari pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Salah satu wilayah penerima PKH adalah Kelurahan Krobokan, Kota Semarang, yang memiliki 9 kelompok PKH dengan sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya kemampuan pelaku UMKM dalam menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), sehingga berdampak pada ketidaktepatan penetapan harga jual, rendahnya daya saing produk, serta kurang optimalnya keberlanjutan usaha. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan perhitungan HPP kepada UMKM penerima PKH di Kelurahan Krobokan agar mampu menentukan harga jual yang wajar, kompetitif, dan menguntungkan serta meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah edukasi dan pelatihan secara langsung kepada kelompok mitra pada semester gasal tahun akademik 2025–2026. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan mitra dalam menghitung HPP serta kemampuan dalam menentukan harga jual yang lebih tepat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan usaha yang lebih efisien dan berkelanjutan bagi UMKM penerima PKH.
Reformulation of Customary Criminal Law in the National Criminal Code Based on the Formation of Legislation Muhammad Junaidi; Yoghi Arief Susanto
Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : PROGRAM STUDI MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jphi.v7i1.43-60

Abstract

Customary criminal law, as a living law in society, holds a recognized position as an unwritten source of law. However, Article 2, Paragraph (3) of Law No. 1 of 2023 concerning the Criminal Code (KUHP) stipulates that customary law must be established through government regulations. This requirement poses a challenge and introduces new complexities in the reform of the National Criminal Code.This study aims to reconceptualize customary criminal law within the National Criminal Code based on the framework of statutory formation. The research adopts a doctrinal approach with a normative juridical method, utilizing legal sources such as legislation, jurisprudence, court decisions, and academic literature through a literature review. The analysis is conducted qualitatively.The findings reveal that customary criminal law already holds an equivalent position to statutory law and jurisprudence as an unwritten source of law. Therefore, formalizing customary law in the form of regional regulations is misguided. The application and procedural aspects of customary law should remain under the authority of indigenous communities. Meanwhile, the imposition of additional sanctions by judges should be regulated in the revised Criminal Procedure Code while respecting customary community norms.In conclusion, customary criminal law holds an equal position as an unwritten legal source and should remain recognized without requiring formalization through regional regulations. The state's role should be limited to providing protection and acknowledgment rather than enforcing formalization.
KEWENANGAN MENGADILI ANJURAN TERTULIS MEDIATOR HUBUNGAN INDUSTRIAL: Kajian Putusan Nomor 21/Pdt.Sus-PHI/2024/PN.SBY dan Nomor 55/G/2023/PTUN.SBY Muhammad Junaidi
Jurnal Yudisial Vol. 17 No. 3 (2024): DISPUTE OF RIGHT
Publisher : Komisi Yudisial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29123/jy.v17i3.701

Abstract

Putusan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Nomor 21/Pdt.Sus-PHI/2024/PN.SBY dan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Nomor 55/G/2023/PTUN.SBY, yang menyatakan tidak berwenang memeriksa sengketa terkait anjuran tertulis mediator hubungan industrial, menimbulkan permasalahan dalam konteks pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Sikap tersebut bertentangan dengan prinsip dasar peradilan bahwa pengadilan tidak diperkenankan menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara dengan alasan hukum tidak tersedia atau belum jelas. Sebaliknya, pengadilan berkewajiban menjalankan fungsinya demi menjamin kepastian dan keadilan hukum bagi para pencari keadilan. Penelitian ini mengkaji kewenangan absolut lembaga peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam menangani gugatan terhadap anjuran tertulis yang diterbitkan oleh mediator hubungan industrial. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan kejelasan yuridis mengenai kompetensi peradilan dalam menyelesaikan sengketa dimaksud. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dengan menelaah peraturan perundang-undangan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun anjuran tertulis dari mediator hubungan industrial diatur dalam kerangka hukum hubungan industrial, penerbitannya merupakan tindakan administratif dalam ranah tata usaha negara. Anjuran tersebut bukan merupakan putusan yudisial, melainkan produk administratif dari pejabat tata usaha negara. Oleh karena itu, apabila terdapat pihak yang keberatan terhadap isi anjuran tersebut, upaya hukum yang tepat adalah melalui gugatan ke PTUN, bukan ke PHI. Temuan ini menegaskan pentingnya kejelasan batas kewenangan peradilan guna menghindari kekeliruan yurisdiksi dan memastikan perlindungan hak-hak para pencari keadilan.
The Constitutionality of the Constitutional Court's Role as a Negative Legislator: The Limits of the Constitutional Court's Authority in Judicial Review of Statutes Against the 1945 Constitution Jefrianus Tamo Ama; Muhammad Junaidi; Endah Pujiastuti
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 4 (2026): August
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i4.1889

Abstract

The constitutional role of the Constitutional Court of Indonesia as a negative legislator has generated continuing scholarly debate, particularly regarding whether judicial decisions containing conditional interpretations amount to an exercise of positive legislative authority. However, no clear analytical framework has been consistently applied to distinguish constitutionally permissible constitutional interpretation from judicial law-making. This study examines the Constitutional Court's constitutional position as a negative legislator. It analyzes four landmark Constitutional Court Decisions No. 46/PUU-VIII/2010, No. 14/PUU-XI/2013, No. 91/PUU-XVIII/2020, and No. 90/PUU-XXI/2023 to determine the constitutional limits of judicial review under Article 24C of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Employing normative legal research with statutory, conceptual, and case approaches, the study analyzes primary, secondary, and tertiary legal materials using descriptive-analytical methods. The decisions are evaluated based on three analytical criteria: whether the Court merely invalidates unconstitutional statutory provisions, whether it formulates new legal norms or regulatory standards, and whether its reasoning substitutes for legislative policy choices. The findings demonstrate that the Constitutional Court constitutionally remains a negative legislator. Nevertheless, the degree of judicial intervention varies across the examined cases. While several decisions contain constitutional interpretations that guide future application of statutory provisions, not every conditional interpretation constitutes an exercise of positive legislative power. Rather, a decision should be regarded as reflecting positive-legislator characteristics only when the Court effectively creates new normative rules or replaces legislative policy choices. This study contributes an analytical framework for distinguishing legitimate constitutional interpretation from judicial law-making and argues that the Court's authority should continue to be exercised within the principles of judicial restraint, respect for open legal policy, and the constitutional limits established by Article 24C of the 1945 Constitution.
Kajian terhadap Batas Usia Calon Kepala Daerah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 70/PUU-XXII/2024: A Study on the Age Limit Requirement for Regional Head Candidates Following the Constitutional Court Decision No. 70/PUU-XXII/2024 Muhammad Naufal Syutan Firmansyah; Muhammad Junaidi; Albertus Heru Nuswanto
Hukum dan Masyarakat Madani Vol. 16 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/humani.v16i1.14506

Abstract

Regional Head Elections are key to carrying out the people's will in Indonesia’s democracy. Candidates must meet several requirements, including a minimum age. This study examines the legal basis for the age rule for regional head candidates, based on Constitutional Court Decision Number 70/PUU-XXII/2024, the judges' reasoning, and its implications for legal certainty in elections. The main question is whether candidates must meet the age requirement when registering or when taking office. Using a normative legal method, this study finds that the Constitutional Court decided the age requirement must be met when the General Election Commission sets the candidates. This strengthens legal certainty, maintains election rules, and protects democracy. The age rule is considered constitutional and fair if it has a clear legal basis. This decision gives clearer legal guidance to those organizing, joining, or making laws for future elections.   Abstrak Pemilihan Kepala Daerah merupakan salah satu instrumen penting dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi konstitusional di Indonesia yang mensyaratkan terpenuhinya ketentuan administratif dan substantif bagi setiap calon kepala daerah, termasuk ketentuan mengenai batas usia minimum pencalonan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi hukum syarat usia calon kepala daerah berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PUU-XXII/2024, mengkaji pertimbangan hukum hakim konstitusi, serta menelaah implikasi putusan tersebut terhadap kepastian hukum dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Pokok permasalahan dalam penelitian ini terletak pada penentuan titik waktu pemenuhan syarat usia calon kepala daerah, yakni apakah syarat tersebut harus dipenuhi pada saat penetapan pasangan calon atau pada saat pelantikan calon terpilih. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan studi putusan melalui analisis terhadap norma hukum, doktrin, serta ratio decidendi Mahkamah Konstitusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mahkamah Konstitusi menegaskan pemenuhan syarat usia minimum calon kepala daerah harus telah terpenuhi pada saat penetapan pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai bentuk penegasan asas kepastian hukum, keseragaman norma pencalonan, serta integritas proses demokrasi elektoral. Pembatasan usia tersebut dinilai sebagai pembatasan yang sah secara konstitusional dan tidak bertentangan dengan hak warga negara untuk dipilih sepanjang ditujukan untuk kepentingan hukum yang legitimate. Dengan demikian, putusan ini memperkuat konsistensi penafsiran norma hukum pemilu serta memberikan landasan yuridis yang lebih tegas bagi penyelenggara pemilu, peserta pemilihan, dan pembentuk undang-undang dalam merumuskan kebijakan pencalonan kepala daerah di masa mendatang.
Legal Politics Of Criminal Responsibility In Reform Policy Subaidah Ratna Juita; Muhammad - Junaidi; Supriyadi - Supriyadi
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 1 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i1.3993

Abstract

Law Number 1 of 1946 established the Criminal Code (KUHP), which was once a translation of Wetboek van Strafrecht and will remain in effect until the end of 2022 with all of its changes. The fundamental ideal that the entire Indonesian people strives for—liberation from all notions of colonialism—is carried out through the dialectical process of the Criminal Code in legislative actions for 60 (sixty) years. Therefore, the adoption of Law Number 1 of 2023 respecting the Criminal Code expresses the concepts of decolonization, recodification, democratization of criminal law, and adaptive harmonization. This study focuses on the legal politics of criminal responsibility from the standpoint of national criminal law reform. It seeks to address the following issues: (1) What is the legal politics of criminal responsibility in current positive criminal law?; and (2) What is the criminal responsibility law's political reform policy at the national level? This study compares criminal culpability under the old and new Criminal Codes using a comparative approach and a juridical-normative approach as its primary methodology. The primary focus of this study is secondary data, which encompasses both primary and secondary legal resources. Qualitative analysis techniques were used to analyze the data in the interim. The study's findings demonstrate that the fundamental tenet of criminal law reform—the principle of balance—is a fresh approach to the legal politics of criminal responsibility in the context of national criminal law reform. This approach is motivated by the Pancasila balance values, which are defined as Godly, Human, and Community values.
Kekosongan Norma Uji Laboratorium Tembakau Sintetis dalam Pembuktian Narkotika Banja Bakti Marantasi; Endah Pujiastuti; Muhammad Junaidi
Journal Juridisch Vol. 4 No. 2 (2026): JULY
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jj.v4i2.13739

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan uji laboratorium tembakau sintetis sebagai dasar pembuktian tindak pidana narkotika serta implikasinya terhadap kepastian hukum dalam praktik peradilan pidana di Indonesia. Latar belakang penelitian ini berangkat dari perkembangan narkotika jenis baru berupa tembakau sintetis yang memiliki karakteristik kimia fluktuatif dan belum diakomodasi secara memadai dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, khususnya terkait standar uji laboratorium. Urgensi penulisan penelitian ini terletak pada munculnya kekosongan norma yang menyebabkan pembuktian sangat bergantung pada interpretasi ahli dan aparat penegak hukum, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan disparitas putusan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, terutama melalui analisis Putusan Nomor 65/Pid.Sus/2025/PN Tmg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan pengaturan khusus mengenai metode, parameter, dan standar validitas uji laboratorium tembakau sintetis berdampak pada lemahnya kepastian hukum dalam proses pembuktian serta memperluas diskresi penegak hukum. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pembuktian tindak pidana narkotika terhadap tembakau sintetis saat ini belum didukung oleh kerangka normatif yang jelas dan terukur. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan bahwa persoalan uji laboratorium tembakau sintetis merupakan problem normatif-struktural dalam sistem hukum pidana yang memengaruhi legitimasi pemidanaan dan memerlukan pembaruan regulasi yang adaptif.
Efektivitas Eksekusi Putusan Pengadilan Hubungan Industrial Pasca Undang-Undang Cipta Kerja Anton Catur Sulistiyo; Endah Pujiastuti; Muhammad Junaidi; Putri Haliza Yuniar
Journal Juridisch Vol. 4 No. 2 (2026): JULY
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jj.v4i2.13913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penegakan hukum terhadap eksekusi putusan Pengadilan Hubungan Industrial di Pengadilan Negeri Semarang pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 serta merumuskan solusi yuridis guna menjamin kepastian hukum dan keadilan substantif bagi pekerja. Urgensi penelitian ini didasarkan pada fenomena stagnasi eksekusi putusan PHI yang menyebabkan kemenangan pekerja sering kali bersifat simbolis tanpa pemulihan hak secara nyata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis dengan spesifikasi deskriptif analitis, yang memadukan data primer berupa wawancara mendalam dengan aparatur peradilan dan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan serta literatur hukum. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis pergeseran paradigma eksekusi putusan PHI dari mekanisme perdata yang bersifat formalistis menuju penggunaan tekanan pidana sebagai instrumen pemaksa kepatuhan, serta penekanan pada urgensi penerapan upaya paksa badan (gijzeling) sebagai solusi struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriminalisasi non-pembayaran pesangon sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 terbukti meningkatkan tingkat keberhasilan eksekusi hingga 66,7% melalui efek gentar (deterrent effect). Namun demikian, efektivitas tersebut masih terhambat oleh rigiditas hukum acara perdata umum dan keterbatasan aset yang dapat dieksekusi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepastian hukum dalam eksekusi putusan PHI masih bersifat parsial dan memerlukan reformasi regulasi yang memberikan kewenangan lebih besar kepada pengadilan, termasuk pemblokiran rekening otomatis dan sandera badan, guna menjamin keadilan substantif bagi pekerja. Kata kunci: Dana Penjaminan Pesangon; Eksekusi; Kepastian Hukum; Pengadilan Hubungan Industrial; Undang-Undang Cipta Kerja.  
Co-Authors A. Heru Nuswanto Abdullah Kelib Aga Gumilang Kristiyawan Agung Kristyanto Nababan Ahmed Kheir Osman Aisyah Nurhaliza Albertus Heru Nuswanto Amri Panahatan Sihotang Angreinni Angreinni Anton Catur Sulistiyo Arief Rizal Arief Rizal Arief Rizal Atok Dadyo Utomo Ayu Melati Ratuningnagari Bahrudin Mahmud Bambang Sadono Bambang Sadono Banja Bakti Marantasi Bramedika Kris Endira Budi Suryanto Cita Tsaabiethah Agustria Sasti Claustantianus Wibisono Tanggono Dedi Suwandi Dedy Suwandi Diah Sasikirana Retno Murniati Diah Sulistiyani R S Diah Sulistyani Diah Sulistyani Ratna Sediati Diah Sulistyani Ratna Sediati Diah Sulistyani RS Dwi Harmono Edy Nugroho Endah Pujiastuti Fanesa Amada Fenny Cahyani Gunawan Meidianto Hendri Susilo Hendro Widodo Heri Kiswanto Herwin Haryadi Basoeki Indra Ashoka Mahendrayana Irfatul Chasanah Izzudin Arsalan Jatmiko . Jefrianus Tamo Ama Junius Akbar Karyanto Karyanto Khikmah Khikmah Kukuh Sudarmanto Kukuh Sudarmanto Mahbub Fajril Qolby Mangaraja Manurung Maskuri Maskuri Miftah Arifin Miftah Arifin Miftah Arifin Misbakhul Munir Mochamad Said Moehamad Nindyarto Laksmana Praja Moh. Havidz Nevoso Muhamad Chabib Faturrohman Muhammad Fakhrul Haq Muhammad Naufal Syutan Firmansyah Muhammad Nur Aflah Muhammad Rizky Pratama Ar Rahim Nilaiana Nilaiana Nina Juwitasari Nunuk Wahyuningrum Nurkholis Nurkholis Nuswanto, A Heru Oktarini Kusniawati Panjaitan, Bahmid Paulus Sirait Purnomo Purnomo Putri Diyan Nur Aini Putri Haliza Yuniar Raden Soeko Agung Prasetyo Rahajeng Wulandari Rati Riana Rati Riana Rizky Nanda Perdana Rizqi Purnama Puteri Sabar Sabar Septiandani, Dian Setiya Pramana Siti Fatimah Soegianto Soegianto Soegianto Soegianto Soegianto Soegianto Stefani Dewi Rosaria Subaidah Ratna Juita Sudarmanto, Kukuh Suhartono Suhartono Sujito Sukadi sukarna, kadi Sukimin Sukimin Sukimin Sukimin Supriyadi - Supriyadi Suryani Angraini Fahmi Syafran Sofyan Tatiek Nurhayatie Titik Muryanti Tri Endang Yani Tri Wibowo Umu Malikah Veronica Anggraini Suci Wulandari Vikri Pramana Putra Wahab Aznul Hidaya Wahyu Mahendra Wibisono, Totok Wiwit Mulyanto Yoghi Arief Susanto Yulistyowati, Efi Zaenal Arifin Zaenal Arifin Zulianto Zulianto Zulkifli Zulkifli