Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Perbedaan Pakan Komersil Dengan Protein Rendah dan Pakan Alami Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Baung (Hemibagrus nemurus) Nugraha, Sujaka; Anjani, Tiara Puspa; Lia Puspita Sari; Humairani, Humairani; Rahma Mulyani; Indah Anggraini Yusanti
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 19 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v19i1.13852

Abstract

Pemilihan jenis pakan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya ikan. Penggunaan pakan komersil dengan protein rendah 15 % kurang optimal dalam pertumbuhan benih ikan baung, selain itu biaya produksi yang diperlukan juga cukup tinggi. Penambahan pakan alami seperti cacing sutra adalah salah satu jenis pakan alternatif yang dapat digunakan dan diketahui mempunyai kandungan gizi protein tinggi yang disukai oleh benih ikan baung. Kombinasi antara pakan komersil dan cacing sutra pada penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keberlangsungan hidup dan mempercepat pertumbuhan benih ikan baung. Penelitian ini dilakukan selama 16 hari menggunakan benih ikan baung dengan ukuran berkisaran antara 1 - 1.15 cm dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan yaitu pemberian pakan pelet komersil (P), pakan cacing sutera (C), serta pakan kombinasi antara pelet komersil 50 % dan cacing sutera 50 % (CP) yang diulang sebanyak 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan jenis pakan yang berbeda berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap panjang dan bobot akhir, pertumbuhan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, serta tingkat kelangsungan hidup benih ikan baung, namun tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap koefisien keragaman dan faktor kondisi benih ikan baung. Perlakuan pemberian pakan kombinasi pelet komersil dan cacing sutera (50%:50%) pada benih ikan baung dapat meningkatkan persentase kelangsungan hidup sebesar 89 % selama 16 hari pemeliharaan.   The choice of feed type is one of the factors that influences the success rate of fish farming. The use of commercial feed with a low protein of 15% is less than optimal for the growth of baung fish fry, besides that the production costs required are also quite high. The addition of natural feed such as silk worms is one type of alternative feed that can be used and is known to have high protein nutritional content which is preferred by baung fish fry. The combination of commercial feed and silk worms in this research is expected to increase survival and accelerate the growth of baung fish fry. This research was carried out for 16 days using baung fish fry with sizes ranging from 1 - 1.15 cm using a completely randomized design method with 3 treatments, namely commercial pellet feeding (P), silk worm feeding (C), and a combination of 50 commercial pellets. % and 50% silk worms (CP) which were repeated 3 times. The results of the study showed that treatment with different types of feed had a significant effect (P<0.05) on final length and weight, absolute length growth, specific growth rate, and survival rate of baung fish fry, but had no significant effect (P>0.05) on the diversity coefficient. and factors regarding the condition of baung fish seeds. The treatment of feeding a combination of commercial pellets and silk worms (50%:50%) to baung fish fry can increase the survival percentage by 89% for 16 days of rearing.
Tingkat Patogenisitas Bakteri Vibrio sp. Strain IS8 Yang Diinfeksi Pada Kerang Batik (Ruditapes philippinarum) Menggunakan Metode In Vitro Jati, Ciptaning Weargo; Noor, Huriyatul Fitriyah; Nursandi, Juli; Mulyani, Rahma
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 18 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v18i2.14567

Abstract

Kerang, khususnya jenis Ruditapes philippinarum, memiliki nilai ekonomis tinggi di Prancis dan banyak wilayah lainnya. Meskipun teknologi budidaya dan pengendalian penyakit berkembang pesat, penyakit musiman seperti Brown Ring Disease (BRD) atau penyakit cincin coklat tetap menjadi tantangan dalam budidaya R. philippinarum. Penyakit ini disebabkan oleh Vibrio tapetis, yang memiliki dampak patogenik yang signifikan pada kerang. Penelitian ini fokus pada pengujian tingkat patogenisitas V. tapetis strain IS8 pada kerang batik (R. philippinarum). Melalui uji aderensi dan fagositosis, kami mengevaluasi kemampuan bakteri ini untuk menyebabkan efek aderen pada hemosit kerang dan aktivitas fagositosis. Hasilnya menunjukkan bahwa V. tapetis strain IS8 memiliki tingkat patogenisitas yang sangat tinggi, dengan kemampuan aderensi dan aktivitas fagositosis yang lebih tinggi dari kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa V. tapetis strain IS8 mampu menginduksi penyakit cincin coklat pada kerang batik dan memiliki dampak patogenik yang signifikan. Pengetahuan lebih lanjut tentang mekanisme infeksius bakteri ini diperlukan untuk meningkatkan pemahaman tentang peran mereka dalam budidaya kerang di masa depan.   Clams, particularly Ruditapes philippinarum, hold significant economic value in France and various other regions. Despite rapid advancements in culture technology and disease control, seasonal diseases such as Brown Ring Disease (BRD) continue to pose a challenge in the cultivation of R. philippinarum. This ailment is attributed to Vibrio tapetis, exhibiting a substantial pathogenic impact on clams. This study concentrates on assessing the pathogenicity level of V. tapetis strain IS8 in the Manila clam (R. philippinarum). Through adhesion and phagocytosis assays, we evaluate the capability of V. tapetis strain IS8 to induce adhesion effects on clam hemocytes and phagocytic activity. The results demonstrate that V. tapetis strain IS8 exhibits a remarkably high level of pathogenicity, surpassing the positive control in both adhesion and phagocytosis assays. In conclusion, this research establishes that V. tapetis strain IS8 can induce Brown Ring Disease in Manila clams, showcasing a significant pathogenic impact. Further comprehension of the infectious mechanisms of this bacterium is essential for enhancing our understanding of their role in clam cultivation in the future.
Efektifitas Sistem Dekapsulasi Dengan Salinitas Berbeda Terhadap Daya Tetas (Hatching Rate) Siste Artemia Izwar, Akmal; Anis Nugrahawati; Irfannur; Yusrizal Akmal; Asih Makarti Muktitama; Rossy Azhar; Syahirman Hakim; Rahma Mulyani
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 19 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v19i1.15940

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap daya tetas artemia dekapsulasi. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan A artemia dekapsulasi dengan salinitas 20 ppt Perlakuan B artemia dekapsulasi dengan salinitas 25 ppt, perlakuan C artemia dekapsulasi salinitas 30 ppt dan kontrol penetasan artemia non dekapsulasi salinitas 30 ppt. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan antar perlakuan. Daya tetas tertinggi terdapat pada perlakuan C yaitu Artemia dekapsulasi dengan salinitas 30 ppt sebesar 88,55%, daya tetas perlakuan B sebesar 68,51%, daya tetas perlakuan A sebesar 54,98%, dan kontrol menunjukkan daya tetas paling rendah yaitu sebesar 51,51%. Proses dekapsulasi dengan kadar Salinitas berbeda dalam proses penetasan siste artemia mempengaruhi daya tetas artemia. Artemia dekapsulasi dengan media penetasan bersalinitas 30 ppt mampu meningkatkan daya tetas sebesar 37,04% dari perlakuan kontrol.   This study aims to determine the effect of salinity on the hatching rate of decapsulated Artemia. The research design used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Treatment A of decapsulated artemia with a salinity of 20 ppt. Treatment B of decapsulated artemia with a salinity of 25 ppt, treatment C of decapsulated artemia with a salinity of 30 ppt and kontrol non-decapsulated artemia hatching with a salinity of 30 ppt. The research results showed that there were differences between treatments. The highest hatching rate was in treatment C, namely decapsulated Artemia with a salinity of 30 ppt of 88.55%, the hatching rate of treatment B was 68.51%, the hatching rate of treatment A was 54.98%, and the kontrol showed the lowest hatching rate of 51 .51%. The decapsulation process with different levels of salinity in the hatching process of the artemia system affects the hatching rate of artemia. Artemia decapsulation with hatching media with a salinity of 30 ppt was able to increase hatching rate by 37.04% from the kontrol treatment.  
Analisis Kelayakan Usaha Pendederan Ikan Channa (Channa pulchra) Menggunakan Pakan Alami Cacing Sutra (Tubifex sp.) dan Daphnia magna Noor, Huriyatul Fitriyah; Jati, Ciptaning Weargo; Putriani, Rizha Bery; Mulyani, Rahma
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 19 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v19i1.15945

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kelayakan usaha pendederan ikan Channa pulchra menggunakan pakan alami (cacing sutra dan Daphnia magna) berskala rumah tangga di Kota Bandar Lampung. Penelitian dilakukan dari bulan Januari hingga April 2024 untuk menganalisis pertumbuhan, kesehatan ikan, dan aspek ekonomi usaha. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian pakan alami berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ikan Channa dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 90%. Data anggaran laba yang didapat dari analisis kelayakan usaha ini sebesar Rp1.065.500,00 dengan Break Even Point (BEP) 112 ekor ikan per siklus produksi. Analisis keuntungan yang didapat adalah sebesar 28,9% dari total komponen biaya yang dikeluarkan. Analisis biaya produksi, overhead tetap, dan operasional menunjukkan pengeluaran yang terkontrol, mendukung keberlanjutan usaha pendederan ikan Channa. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis kelayakan usaha yang dilakukan, didapatkan simpulan bahwa usaha pendederan ikan Channa (Channa pulchra) menjanjikan secara ekonomi dan memiliki potensi keuntungan dalam usaha budidaya ikan hias.   This study evaluates the feasibility of Channa pulchra nursery using natural feeds (silkworms and Daphnia magna) on a household scale in Bandar Lampung City. The research was conducted from January to April 2024 to analyze growth, fish health, and the economic aspects of the aquaculture business. The results indicate that feeding with natural feeds positively contributes to Channa fish growth, with a survival rate reaching 90%. The profit budget data from the feasibility analysis amounted to Rp1,065,500.00, with a break-even point (BEP) 112 fish per production cycle. Profit analysis showed a return of 28.9% on the total expenditure components. Analysis of production costs, fixed overheads, and operational costs indicated controlled expenditure, supporting the sustainability of Channa fish nursery operations. Based on the research findings and feasibility analysis conducted, it is concluded that the Channa pulchra fish nursery is promising economically and has profit potential in the business operations.
Karakteristik Morfometrik dan Meristik Ikan Putak Notopterus notopterus Di Tiga Kabupaten Sumatera Selatan Mahmud Bimo Seno; Mulyani, Rahma; Indah Anggraini Yusanti; Humairani
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 19 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v19i2.17769

Abstract

Perbedaan kondisi lingkungan tempat hidup ikan putak Notopterus notopterus dapat mempengaruhi distribusi dan variasi morfologi ikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik morfometrik, meristik dan nisbah kelain Ikan putak di Sumatera Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yang bersifat deskriptif dengan menggunakan Ikan putak sebagai objek penelitian. Pengambilan sampel ikan putak dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling pada 3 stasiun tempat pengambilan sampel, yaitu stasiun 1 penampungan ikan putak yang ada di desa Epil Kabupaten Musi Banyuasin, Stasiun 2 terletak di BBI Sukarela Kabupaten Banyuasin, dan Stasiun 3 tengkulak ikan putak yang terletak di Sianjur 3 Kota Palembang. Sampel yang diperoleh diamati mengunakan acuan penelitian terdahulu dan diolah dengan analisis sederhana hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga stasiun tersebut, ada 11 karakter yang sama yang menunjukkan status alometrik positif, yaitu lebar kepala (HW), jarak antara sirip anal dan perut (PEFL), panjang sirip punggung (DFL), lebar sirip dubur bagian atas (NAFL), lebar sirip punggung (NPF), kedalaman kepala (HD), lebar sirip dubur (AFW), tinggi badan (BD), jarak linea lateralis ke tubuh bagian bawah (DLB), jarak linea lateralis bagian atas (DLU), dan lebar tulang sirip punggung (DSW). Disamping itu 3 stasiun tersebut ada 3 karakter yang dengan status hubungan kuat, yaitu panjang standar (SL), panjang sirip punggung (DFL), dan lebar sirip punggung (NPF). Berdasarkan data tersebut pada stasiun 1 dan 3 menunjukkan perbandingan jenis kelamin didominasi oleh ikan putak jantan sehingga dapat dikatakan populasi ikan putak di stasiun 1 dan 3 tidak ideal. Differences in environmental conditions where the Notopterus notopterus fish live can influence the distribution and variation in fish morphology. The aim of the research was to determine the morphometric characteristics, meristics and diversity ratios of knife fish in South Sumatra. The method used in this research is a descriptive survey method using knife fish as the research object. Sampling of knife fish was carried out using the purposive sampling method at 3 stations where samples were taken, namely station 1, the knife fish shelter in Epil village, Musi Banyuasin Regency, Station 2 located at BBI Sukarela Banyuasin Regency, and Station 3, the knife fish middleman located at Sianjur 3 Palembang City. The samples obtained were observed using previous research references and processed with simple analysis. The research results showed that from the third station, there were the same 11 characters that indicated positive allometric status, namely head width (HW), distance between anal and pelvic fins (PEFL), dorsal fin length (DFL), upper anal fin width (NAFL), dorsal fin width (NPF), head depth (HD), anal fin width (AFW), body height (BD), distance of linea lateralis to lower body ( DLB), distance to the lateral line upper (DLU), and dorsal fin width (DSW). Beside these 3 stations, there are 3 characters with strong relationship status, namely standard length (SL), dorsal fin length (DFL), and dorsal fin width (NPF). Based on this data, stations 1 and 3 show that the sex ratio is dominated by male putak fish, so it can be said that the knife fish population at stations 1 and 3 is not ideal.