Claim Missing Document
Check
Articles

Dampak Limbah Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) Terhadap Kualitas Air Sungai Limun Kabupaten Sarolangun Propinsi Jambi - The Impact Of Illegal Gold Mining Activity To The Water Quality Of Limun River, Sarolangun District, Jambi Province Yulianti, Rita; Sukiyah, Emi; Sulaksana, Nana
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 3 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.732 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i3.10969

Abstract

Daerah penelitian terletak di desa Muaro Limun, Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Sungai limun, salah satu sungai besar di daerah kabupaten sarolangun yang dimanfaatkan oleh mayarakat sekitarnya sebagai sumber penghidupan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan penambangan terhadap kualitas air sungai Batang Limun, dan perubahan sifat fisik dan  kimia yang diakibatkan   kegiatan penambangan.Metode yang digunakan adalah  metode grab sampel, serta stream sedimen untuk dianalis di laboratorium. Sejumlah sampel diambil di beberapa lokasi Penambangan Emas berdasarkan Aliran Sub-DAS dan dibandingkan dengan beberapa sampel lain yang diambil pada lokasi yang belum terkontaminasi oleh kegiatan penambangan. Analisis kualitas air mengacu pada  SMEWWke 22 tahun 2012 dan standar baku mutu air kelas II dalam PP No 82 yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010. Diketahui sungai Batang Limun telah mengalami perubahan karakteristik fisika dan kimia. Dari grafik  kosentrasi kekeruhan, pH, TSS, TDS  Cu, Pb, Zn, Mn, Hg terlihat bahwa penambang emas tanpa izin (PETI) dengan cara amalgamasi yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air sungai. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2015  sungai Limun dan sekitarnya terus mengalami penurunan kualitas air. Penurunan kualitas yang cukup tinggi terjadi  yaitu peningkatan nilai Rata-rata konsentrasi merkuri pada sungai Batang Limun dari 0,18ppb (0,00018 mg/l)  menjadi 0,3ppb (0,0003 mg/l), peningkatan tersebut dipengaruhi oleh proses kegiatan penambangan dan nilai tersebut masih dibawah standar baku mutu air kelas II  pp nomor 82 tahun 2010.Kata kunci :   Kualitas Air, Sungai Limun,TSS, Merkuri, PETI Limun river is one of the major rivers in the area of Sarolangun, which utilized by the society as a source of livelihood. The aim of study  to analyze the effect of mining activities on  the water quality of Batang Limun River, and the changes of physical and chemical properties of water. The method used are grab  and stream samples to  sediment analyzed in the laboratory. A number of samples were taken at several locations based Flow Gold Mining Sub-watershed and compared to some other samples taken at the location that has not been contaminated by mining activities. Water quality analysis referring to SMEWW, 22nd edition 2012 and refers to Regulation No 82 that issued by Minister of Health No. 492 / Menkes / Per / IV / 2010.The results showed that the Limun river has undergone chemical changes in physical characteristics. These symptoms can be seen from the discoloration of clear water in the river before the mine becomes brownish after mining, based on graphic of muddiness concentration: pH, TSS, TDS Cu, Pb, Zn, Mn, Hg have seen that  the illegal miner which used amalgamation caused deterioration in water quality, data from 2009 to 2015 Limun river and surrounding areas continue to experience a decrease in water quality. The decreasing of water quality showed in the TSS parameter which found in the area is to high based on  the standard of water quality class II pp number 82 of 2010. An increase in the value of average concentrations of mercury in the Batang Limun river before mine 0,18ppb (0.00018 mg / l) into 0,3ppb (0.0003 mg / l) on the river after the mine. The increase was affected by the mining activities and the value is still below the air quality standard Grade II pp numbers 82 years 2010, although the value is still below with the standards quality standard, the mercury levels in water should still be a major concern because if it accumulates continuously in the water levels will increase and will be bad for health. In contrast to the concentration of mercury in sediments that have a higher value is 153 ppb (0,513ppm ) .Key Words :   Water Quality, Limun River, Mercury, Illegal gold mining
KARAKTERISTIK MORFOTEKTONIK DAS BUOL BAGIAN HULU YANG TERSUSUN OLEH BATUAN BERUMUR KUARTER DAN TERSIER KABUPATEN BUOL PROVINSI SULAWESI TENGAH Ghaniansah, Algi Fajar; Tawil, Sukardan; Muslim, Dicky; Sukiyah, Emi
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v14i2.9806

Abstract

The research area is part of the Watershed Buol. Administratively, it is included in the  Tiloan District, Buol Regency, Central Sulawesi Province. The parameters used in the study include drainage patterns, watershed morphometric, morphotectonic, and geological structure. Parameters such as a reference to explain the tectonic activity in the area of research. Variables analyzed includes bifurcation ratio (Rb), drainage density (Dd), mount-front sinuosity (Smf), and the ratio of the wall and the bottom of the valley (Vf ratio). Quantitative descriptive approach used in the data analysis. The results showed that the average value of Rb is 2.14 with Dd ranges from 0.25 to 10. That phenomenon shows that the study area is controlled by tectonic based on morphometric analysis of the watershed. Smf values ranged from 1.1 to 1.6, while the Vf ratio ranges from 0.3 to 3.8. The results of the comparative test against morphometric-morphotectonic variables in the region composed of Quaternary and Tertiary rocks, showed a significant difference.Key words: Buol watershed, watershed morphometry, morphotectonic, and tectonic activity Daerah penelitian merupakan sebagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Buol. Secara administratif termasuk dalam Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Parameter yang digunakan dalam penelitian diantaranya adalah pola pengaliran, morfometri DAS, morfotektonik, dan struktur geologi. Parameter tersebut menjadi acuan untuk menjelaskan aktivitas tektonik di daerah penelitian. Variabel yang dianalisis meliputi rasio cabang sungai (Rb), kerapatan pengaliran (Dd), sinusitas muka gunung (Smf), dan rasio dinding dan dasar lembah (Vf ratio). Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan dalam analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Rb rata-rata 2,14 dengan Dd berkisar dari 0,25 hingga 10. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daerah penelitian dikontrol oleh tektonik berdasarkan analisis morfometri DAS. Nilai Smf berkisar  1,1 – 1,6, sementara itu Vf ratio berkisar 0,3 – 3,8. Hasil uji komparatif terhadap variabel morfometri dan morfotektonik DAS di wilayah yang tersusun oleh batuan berumur Kwarter dan Tersier, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa tektonik pada Kuarter dan Tersier menghasilkan pola yang berbeda.Kata Kunci: DAS Buol, Morfometri DAS, Morfotektonik dan Aktivitas Tektonik.
KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAS CIPELES MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rendra, Pradnya Paramarta Raditya; Sukiyah, Emi; Sulaksana, Nana
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 2 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i2.27443

Abstract

Daerah penelitian adalah DAS Cipeles yang terletak di Kabupaten Sumedang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakteristik morfometri DAS Cipeles, khususnya subDAS yang ada di dalamnya. Penelitian dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis dan dukungan perangkat lunak MapInfo untuk mengidentifikasi aspek morfometri DAS di daerah penelitian. Aspek morfometri DAS yang diteliti terdiri dari aspek linear (orde sungai (u), panjang sungai orde “u” (Lu), rata-rata panjang sungai (Lsm), rasio panjang sungai (RL), rasio cabang sungai (Rb), rata-rata rasio cabang sungai (Rbm)), areal (kerapatan drainase (Dd), frekuensi sungai (Fs), tekstur drainase (Rt), faktor bentuk (Rf), rasio sirkularitas (Rc), rasio elongasi (Re), panjang aliran permukaan (Lg)), serta relief (relief DAS (R), rasio relief (Rh)). Berdasarkan hasil penelitian, DAS Cipeles terdiri dari 38 subDAS yang tersebar di bagian utara dan selatan Sungai Cipeles dengan karakteristik morfometri beragam. Secara umum, 38 subDAS tersebut terdiri dari DAS memanjang yang berada pada relief tinggi dan DAS membulat yang berada pada relief rendah dengan tingkat geomorfik muda hingga lanjut. Meskipun di beberapa tempat ditemukan DAS memanjang pada relief rendah dan tingkat geomorfik lanjut serta DAS membulat pada relief tinggi dan tingkat geomorfik muda. Kontrol struktur relatif tidak ada cenderung lemah kecuali indikasi pada subDAS Cpl_06. Selain itu, kenaikan muka banjir di daerah penelitian cenderung lambat hingga tidak terlalu cepat sehingga DAS Cipeles tidak termasuk daerah rawan banjir.
ANALISIS KANDUNGAN MINERAL LOGAM DENGAN MENGGUNAKAN XRD DAN XRF PADA SINGKAPAN BERALTERASI TINGGI DAN RENDAH DI LOKASI PENAMBANGAN OPEN PIT KALIKUNING DAN LEROKIS PT. BATUTUA TEMBAGARAYA PROVINSI MALUKU SIRAJU, ASRUL; Hutabarat, Johanes; Sukiyah, Emi; Haryanto, Agus Didit
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.556 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.18661

Abstract

 ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di 4 lokasi singkapan batuan Vulkanik yang termanifestasi dengan alterasi hidrothermal wilayah tambang KaliKuning dan Lerokis Open PIT                        PT Batutua Tembagaraya. Metode penelitian yang dilakukan dengan survey lapangan dan pengambilan sampel batuan Vulkanik dari singkapan yang secara visual beralterasi rendah dan tinggi yang berada di 4 lokasi tersebut. Setelah pengambilan sampling batuan, batuan sampel disiapkan untuk pengamatan Petrografi, XRD,XRF serta analisis hasil pengukuran kandungan mineral dan logam oksida. Hasil pengamatan Petrografi, analisa hasil pengukuran XRD dan XRF maka dijumpai komposisi minireal penyusun utama maupun ubahan pada wilayah KaliKuning lebih bervariasi daripada Lerokis. Sedangkan kandungan unsur logam pada wilayah singkapan KaliKuning pada sampel KK-FW dan pada sampel Lerokis LR-FW memiliki komposisi logam oksida yang lebih dominan dari sampel KaliKuning KK-HW dan sampel Lerokis LR-HW. Dari hasil pengamatan wilayah KaliKuning Sampel KK-FW yang berada di Selatan-Barat, memiliki intensitas ubahan sedang, mineral sekunder yang teramati Klorit, Epidot, Okslda Besi, Kalsit, Kuarsa, Biotit dan Mineral Opak, menunjukan Meneral utama yang terkandung dilokasi ini adalah Kuarsa (SiO2)61,98%, Clinochlore, Group Piroksen dan Illite. Sedangkan logam oksida yang paling menonjol adalah Alluminium Oksida (Al2O3) 16,24%, Oksida Besi (Fe2O3) 7,46%, serta Mangan Oksida (MgO) 5,22%. Bagian Utara-Timur KaliKuning, sampel KK HW teridentifikasi Mineral yang mengalami ubahan sedang yaitu Klorit, Kuarsa, Biotit, Kalsit, Mineral Opak dan Illite. Mineral primer yaitu Kuarsa Cristobalite, Kristal Feldspar , Plagioklas. Hasil pengukuran XRD dan XRF menunjukan meneral utama yang terkandung dilokasi ini adalah Kuarsa Cristobalite (SiO2) 65,26%, Kristal Feldspar  dan Plagioklas. Logam oksida yang paling dominan yakni Alluminium Oksida (Al2O3) 16,55%, Oksida  Besi (Fe2O3) 3,9% dan Mangan Oksida (MgO) 0,82%. Sedangkan wilayah Lerokis sampel LR-FW yang berada di Selatan, mineral utama yang teramati yakni Kuarsa dan Plagioklas dengan intensitas ubahan kuat. Plagioklas tergantikan oleh Serisit dan Masadasar yang hampir seluruhnya terubah oleh Kuarsa, Serisit dan Mineral Opak. Hasil data pengukuran XRD dan XRF  menunjukan meneral utama dilokasi ini adalah Plagioklas dan Kuarsa (SiO2) 67,3%. Unsur logam oksida paling menonjol adalah Alluminium Oksida (Al2O3) 18,73% dan Oksida Besi (Fe2O3) 2,13%. Untuk Lerokis LR-HW bagian Selatan memiliki Mikrokristalin Plagioklas dan Gelas vulkanik dengan intensitas ubahan tinggi, terubahkan oleh Mineral Lempung, Klorit dan Serisit. Hasil pengukuran XRD dan XRF menunjukan Kuarsa, Clinochlore, Group Piroksen dan Illite. Logam oksida yang paling tinggi adalah Aluminium Oksida (Al2O3) 15,88%, Oksida Besi (Fe2O3) 7,15% dan Mangan Oksida (MgO) 7,36%.Kata Kunci: Wetar, KaliKuning, Lerokis, Alterasi, Mineral dan Logam Oksida
KONDISI TEKTONIK RENCANA TAPAK BENDUNGAN PELOSIKA BERDASARKAN ANALISIS CITRA SATELIT DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sukiyah, Emi; Jaassin, Andi Makkawaru
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.301 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i2.23010

Abstract

ABSTRAKBendungan Pelosika direncanakan memiliki kapasitas tampung air sebesar 822,26 m3 dengan luas lahan genangan 160.000 hektar. Keberadaan bendungan diharapkan dapat mengurangi debit banjir sebesar 10,359 m3/detik, menyediakan air baku dengan debit sebesar 0,20 m3/detik dan dapat membangkitkan listrik sebesar 10 MW. Konstruksi Bendungan tipe Rock Fill Dam berlokasi di Sungai Konaweha yang merupakan salah satu sungai terbesar di Sulawesi Tenggara. Irigasi untuk lahan seluas 20.040 Ha di Kabupaten Kolaka Timur dan Konawe diharapkan dapat terpenuhi. Geomorfologi lokasi rencana Bendungan Pelosika terdiri dari Pegunungan dan pedataran. Wilayah ini tersusun oleh batuan metamorfik berumur Paleozoikum dan endapan aluvium berumur Kuarter. Studi awal kondisi tektonik lokasi rencana Bendungan Pelosika menggunakan pendekatan morfometrik berdasarkan analisis indeks rasio lebar dan tinggi lembah (Vf) dan sinusitas muka gunung (Smf). Pengolahan citra satelit dan Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan dalam metode penelitian. Variabel morfometrik dan data indikasi tektonik diperoleh dari hasil pengolahan citra Landsat 8 OLI dan SRTM 30 m. Hasil analisis kelurusan geomorfologi menunjukkan arah umum UBL-STG yang berimpit dengan sesar-sesar yang ada di wilayah tersebut. Elevasi tertinggi berada pada 2.852 mdpl dan elevasi terendah -100 mdpl. Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 715.041 Ha dengan panjang total sungai sekitar 145,85 Km. Analisis morfotektonik pada empat lokasi terpilih menunjukkan nilai Vf antara 0,25 hingga 0,75 dan nilai Smf antara 1,06 hingga 1,17. Berdasarkan hasil analisis kedua variabel morfotektonik tersebut diketahui bahwa daerah rencana dudukan Bendungan Pelosika berada di daerah dengan kondisi tektonik menengah hingga aktif.Kata Kunci: Bendungan Pelosika, morfometrik, tektonik, citra satelit, SIGABSTRACTPelosika Dam is planned to have a water holding capacity of 822.26 m3 with an inundation area of 160,000 hectares. This dam is planned to reduce flood discharge by 10.359 m3 / second, provide raw water with a discharge of 0.20 m3 / second and can generate electricity by 10 MW. The Rock Fill Dam type of construction is located on the Konaweha River which is one of the largest rivers on the mainland of Southeast Sulawesi. It is also expected to be able to flow through irrigation of 20,040 hectares in the districts of East Kolaka and Konawe. Regionally, geomorphology is in the form of mountains and plain. The constituent rocks are Paleozoic metamorphic rocks and Quaternary alluvium deposits. The initial study of tectonic conditions of the Pelosika Dam site plan uses a morphometric approach based on the analysis of the valley width and height ratio (Vf) and sinuosity mountain front (Smf). Satellite imagery processing and Geographic Information Systems (GIS) are used in research methods. Morphometric variables and tectonic indication data obtained from Landsat 8 OLI and SRTM 30 m imageries processing. The results of the geomorphological lineament analysis indicate that the general direction is North Northwest - South Southeast which coincides with faults in the region. The highest elevation was 2,852 meter after sea level and the lowest elevation was -100 meter after sea level. Watershed covering an area of 715,041 hectares with a total river length of around 145.85 kilo meters. Morphotectonic analysis at four selected locations showed a Vf value between 0.25 to 0.75 and a Smf value between 1.06 to 1.17. Based on the results of the analysis of the two morphotectonic variables, it is known that the Pelosika Dam area designation is in an area with medium to active tectonic conditions.Key words: Pelosika Dam, morphometric, tectonic, satellite imagery, GIS
FENOMENA MORFOTEKTONIK PADA CITRA STRM DI WILAYAH TELUK KENDARI Yasin, Andi Makawaru; Sukiyah, Emi; Sulaksana, nana; Isnaniawardhani, Vijaya
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.626 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i2.9802

Abstract

Kendari bay has a strategic position in Southeast Sulawesi. In this region there is a city of Kendari, the capital of the province. The unique shape is a product of the collision of tectonic plates, occupies the southeast arm of Sulawesi. There might be a strong tectonic control in the region. The up lift process continues sustainable, evidence was also recorded in the landscape. The phenomenon morphotectonic show unique patterns that are easily recognizable on remote sensing data. The data used in this study is derived from SRTM imagery. Besides lineament associated with geological structure, the DEM can also be obtained from that image. Sun-shading technique used to clarify the appearance of lineament associated with geological structure. The lineament data plotted into a rosette diagram to determine the general trend. The lineament density data obtained by calculating the ratio of the total length of lineament in each grid of 5x5 sq km. The results showed that the morphotectonic phenomenon easily recognizable in the SRTM imagery. Sun-shading techniques can clarify lineament patterns associated with the presence of fault. Zone of lineament density increase indicates an irregular pattern and generally at the level of more than 400 meters above sea level, located in the northern and southern approached Wolasi Mountains. At an elevation of less than 400 meters above sea level, low lineament density between 0 to 8 km /sq km. This phenomenon indicates that the area has undergone a process of denudation. Lineament pattern trending NE-SW reflect the release of the compression process LAWANOPO shear fault trending NW-SE. Keywords: Morphotectonic, SRTM image, lineament, GIS, Kendari Bay Teluk kendari memilki nilai strategis di Provinsi Sulawesi Tenggara. Di wilayah ini terdapat Kota kendari yang merupakan ibu kota provinsi. Bentuknya yang unik merupakan produk tumbukan lempeng tektonik, berada di lengan tenggara Sulawesi. Tidak salah jika ada kontrol tektonik yang cukup kuat di wilayah ini. Proses pengangkatan secara berkesinambungan terus berlangsung, bukti-buktinya juga terekam pada bentang alam di wilayah ini. Fenomena morfotektonik menunjukkan pola-pola yang unik sehingga mudah dikenali pada data penginderaan jauh. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berasal dari citra SRTM.  Di samping kelurusan yang berasosiasi dengan struktur geologi, dari citra tersebut juga diperoleh DEM. Teknik sun-shading digunakan untuk memperjelas kenampakan kelurusan-kelurusan yang berasosiasi dengan struktur geologi. Data hasil interpretasi kelurusan diplot ke dalam diagram rose untuk mengetahui arah umum. Data kerapatan kelurusan diperoleh dengan cara menghitung perbandingan total panjang kelurusan dalam setiap grid yang berukuran 5x5 km2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena morfotektonik mudah dikenal pada citra SRTM. Teknik sun-shading dapat memperjelas pola-pola kelurusan yang berasosiasi dengan keberadaan sesar. Zona peningkatan densitas kelurusan menunjukkan pola yang tidak teratur dan secara umum berada pada level > 400 mdpl, terdapat di bagian utara dan selatan mendekati Pegunungan Wolasi. Pada elevasi < 400 mdpl, densitas kelurusan rendah antara 0 sampai 8 km/km2. Fenomena ini menunjukkan bahwa daerah tersebut telah mengalami proses denudasi. Pola kelurusan berarah NE-SW mencerminkan realese dari proses compression sesar geser LAWANOPO berarah NW-SE.   Kata Kunci : Morfotektonik, citra SRTM, kelurusan, SIG, Teluk Kendari
SEBARAN DAN KARAKTERISTIK BATUAN ULTRAMAFIK SEBAGAI POTENSI NIKEL LATERIT SERTA KAITANNYA DENGAN PENYIMPANAN KARBON PADA DAERAH SOROWAKO Sambodo, Tri Hananto Priyo; Sukiyah, Emi; Hutabarat, Johanes
Indonesian Mining Journal Vol 27 No 2 (2024): Indonesian Mining Journal, October 2024
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/imj.Vol27.No2.2024.1608

Abstract

Ultramafic rocks, as the main raw material for the formation of nickel laterite in nature, are important object to study and explore for their availability since nickel is very important mineral in producing batteries for electric cars which is expected to reduce carbon emissions in the future. Along with that, the storage of carbon dioxide in ultramafic rocks is considered as one of the safest storage method because carbon dioxide reacts naturally with magnesium-rich minerals contained in these rocks. The reaction between carbon dioxide and magnesium-rich minerals such as olivine, pyroxene, and serpentine will produce magnesite (MgCO3), which is more stable in nature. Ultramafic rocks have wide distribution in southeastern arm of Sulawesi Island, especially in Sorowako and the surrounding areas. The method used in this research is an observation method on outcrops and supported by laboratory analysis. Ultramafic rocks in Sorowako area have wide distribution and have varying degrees of serpentinization. The magnesium (Mg) element contained in the research area is widely spread as well as the development of geological structure allows the potential development of ultramafic rocks as carbon storage.
SEBARAN DAN KARAKTERISTIK BATUAN ULTRAMAFIK SEBAGAI POTENSI NIKEL LATERIT SERTA KAITANNYA DENGAN PENYIMPANAN KARBON PADA DAERAH SOROWAKO Sambodo, Tri Hananto Priyo; Sukiyah, Emi; Hutabarat, Johanes
Indonesian Mining Journal Vol 27 No 2 (2024): Indonesian Mining Journal, October 2024
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/imj.Vol27.No2.2024.1608

Abstract

Ultramafic rocks, as the main raw material for the formation of nickel laterite in nature, are important object to study and explore for their availability since nickel is very important mineral in producing batteries for electric cars which is expected to reduce carbon emissions in the future. Along with that, the storage of carbon dioxide in ultramafic rocks is considered as one of the safest storage method because carbon dioxide reacts naturally with magnesium-rich minerals contained in these rocks. The reaction between carbon dioxide and magnesium-rich minerals such as olivine, pyroxene, and serpentine will produce magnesite (MgCO3), which is more stable in nature. Ultramafic rocks have wide distribution in southeastern arm of Sulawesi Island, especially in Sorowako and the surrounding areas. The method used in this research is an observation method on outcrops and supported by laboratory analysis. Ultramafic rocks in Sorowako area have wide distribution and have varying degrees of serpentinization. The magnesium (Mg) element contained in the research area is widely spread as well as the development of geological structure allows the potential development of ultramafic rocks as carbon storage.
IMPLIKASI KADAR AIRTANAH TERHADAP DAYADUKUNG TANAH DI WILAYAH GAMBIR DAN SEKITARNYA Yuda, Himmes Fitra; Zakaria, Zufialdi; Sukiyah, Emi
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.017 KB)

Abstract

ABSTRACTThe research area is in Gambir and surround it, Central Jakarta and West Jakarta municipality. The study to learn the characteristics of the soil in the research area. The relationship of water content and soil bearing capacity is known from secondary data of soil investigation at four locations sampled. Based on observations of four soil samples, the highest water content is in sample HF-3 at 68.28%, and the lowest water content is in sample HF-4 by 48%. Depend on the soil bearing capacity value, sample HF-3 has the lowest value, which is 2.64 T / M2. The highest soil bearing capacity value is found in the sample HF-4, which is 25.49 T / M2. Regression correlation test results showed that in dry conditions / low water content, the value of soil bearing capacity will be high, meanwhile in wet conditions, water levels will rise, so the value of the soil bearing capacity will be smaller than in dry conditions. Keywords : Soil bearing capacity, water content ABSTRAKLokasi penelitian berada pada wilayah Gambir dan sekitarnya, kotamadya Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Studi ini untuk mempelajari karakteristik tanah pada daerah penelitian. Hubungan kadar air dan daya dukung tanah diketahui dari data penyelidikan tanah di 4 lokasi sampel. Berdasarkan pengamatan dari 4 sampel tanah, nilai kadar air tertinggi adalah pada sampel HF-3 sebesar 68,28%,  nilai kadar air terendah adalah pada sampel HF-4 sebesar 48%. Jika dilihat dari nilai dayadukung tanah, sampel HF-3 memiliki nilai yang paling rendah, yaitu sebesar 2,64 T/M2. Nilai dayadukung tanah yang tertinggi ada pada sampel HF-4 sebesar 25,49 T/M2. Dari hasil uji regresi korelasi menunjukan bahwa pada kondisi kering/kadar air rendah, nilai dayadukung tanah akan besar, sementara pada kondisi basah, kadar air akan meningkat, sehingga nilai dayadukung tanah akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan kondisi kering. Kata Kunci : Dayadukung tanah, kadar air
ANALISIS HASIL AIR (“WATER YIELD”) BERDASARKAN DEBIT ALIRAN SUNGAI, DTA CITARIK BAGIAN HULU, DESA TANJUNGWANGI, KECAMATAN CICALENGKA, KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT Haryanto, Edi Tri; Hendarmawan, Hendarmawan; Sukiyah, Emi; Joy, Benny
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.79 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian hasil air berdasarkan debit aliran sungai Daerah Tangkapan Air (DTA) Citarik Hulu, Jawa-Barat  ini bertujuan untuk mendapatkan data hasil air dan analisis debit aliran pada sungai-sungai kecil yang ada di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, dan Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang,  Jawa-Barat. Metoda penelitian adalah dengan melakukan pengukuran debit aliran sungai menggunakan alat “current meter” dan pengukuran curah hujan dengan alat ukur curah hujan manual, dengan mencatatan harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil air (“water yield”) rata-rata harian pada sub-sub DAS di sebelah selatan, yaitu di Desa Tanjungwangi lebih kecil disbanding  dengan sub-sub DAS di sebelah utara  di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, disebabkan oleh  prosentase air yang  tersuplesi ke dalam air tanah, sub-DAS di sebelah selatan  lebih besar.AbstractThe research of  water  yield  based on  river flow  of   Upper  Citarik Catchments, West-Java aims to get water yield data and to analyze flow discharge of small rivers in Tanjungwangi Village, Cicalengka Sub District, Bandung Regency, and small rivers in  the village of  Sindulang,  Cimanggung Sub-District, Sumedang Regency, West Java.  The research  method  is by measuring the flow discharge of the river using "current meter" and  measuring daily  rainfall with  rainfall  measurements  devices manually. The results showed that daily average  water yield  in the  south ,sub-sub-catchments which is in the village of Tanjungwangi smaller that of the north  sub-catchments in the village of Sindulang  due to the percentage of water that infiltrate in to the groundwater, sub-catchment in south were larger.
Co-Authors abdurrohman, Muhammad jihad Achmad Sjafrudin, Achmad Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Agung Mulyo Agus Didit Haryanto Agus Didit Haryanto -, Agus Didit Haryanto Aldrin Ramadian Algi Fajar Ghaniansah, Algi Fajar Andi Agus Nur Andi Makawaru Yasin, Andi Makawaru Apong Sandrawati Arif R. Darana Arifin Anfasha, Arifin Arya, Pulung P Asep Nursalim, Asep Athanasius Cipta Aton Patonah Bani Nugroho, Bani Benny Joy Boy Yoseph Cahya Sunan Sakti Syah Alam Budi Muljana Cipta Endyana Daliman, Shaparas Binti Denny Lumban Raja Dewi Gentana Dicky Muslim Dina Tania Donny R. Wahyudi Dudi Nasrudin Usman Dwi Purnomo Dyah Ayu Setyorini Edi Prasetyo Utomo Edi Tri Haryanto Edi Tri Haryanto, Edi Tri Edy Sunardi Endah, Raras Euis Tintin Yuningsih Fachrudin, Kurnia Arfiansyah Fahira, Ghina Febri Hirnawan Fery Erawan Fery Erawan Fikri Abdulah, Fikri Gilang Firmansyah, Gilang Hendarmawan H Hendarmawan Hendarmawan Herry Riswandi HS, Karyono Ildrem Syafri Iyan Haryanto Jamal Jamal Jamal Jamal Jamal Jassin, A.M.I. Johanes Hutabarat Johanes Hutabarat Karyono HS Khoirullah, Nur kurnianto, brany Linda Pulungan M. Nursiyam Barkah Makkawaru, Andi Martha Magdalena Nanlohy Mawardi, Sonny Mega Fatimah Rosana Moch Ridfan Trisnadiansyah Mohamad Sapari Hadian Muhamadsyah, Faisal Muhammad Lutfi Muhammad Luthfi Faturrakhman Muhammad Ronggour Pardamean Siahaan Mulyono - Nana Sulaksana Nana Sulaksana Nana Sulaksana Nendi rohaendi Nisa Nurul Ilmi Novi Triany Nurfadli, Eza Pradnya P. Raditya Rendra Pradnya P. Raditya, Pradnya P. Pradnya Paramarta Raditya Rendra Puguh Setiyanto, Puguh Pulung Arya Pranantya Pulung Arya Pranantya, Pulung Arya putera, alvindo andreansyah Raden Irvan Sophian Retnoningtyas, Widya Ika Reza Mohammad Ganjar Gani Ridwan, Panji Rina Devnita Rita Yulianti, Rita Sabila, Zahra Syahida sabily, zulfa Sambodo, Tri Hananto Sambodo, Tri Hananto Priyo Saragih, Rahmat Yantono Sendjaja, Yoga A. Setyorini, Dyah Ayu Siahaan, Yakub Sipahutar, Sumahang R. SIRAJU, ASRUL Sonny Mawardi Sri Wahyuni Subagja, Agam Suherman Dwi Nuryana Suherman Dwi Nuryana Sukardan Tawil Sulastri, Murni Sumaryono Sumaryono Suratman Suratman Syalsabilla, Lola Lintang Taat Setiawan, Taat Tresnasari, Endah Undang Mardiana Vijaya Isnaniawardhani Wahyuzi, Radhi Winantris Winantris Winarti Winarti Witjahjati, Retno Yoga Andriana Sendjaja Yuda, Himmes Fitra Yudhi Listiawan Yusuf, Muhammad Farhan Yuyun Yuniardi Zakaria, Zulfiadi Zufialdi Zakaria Zulfi, Damar Sayyidina