Cekungan Bandung bagian timur merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat dengan perubahan kawasan terbangun cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan jumlah penduduk, perluasan area pemukiman, perkembangan kawasan pendidikan, serta pembangunan infrastruktur seperti Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) turut mendorong perubahan tata guna lahan di daerah tersebut. Perubahan tata guna lahan lambat laun dapat mempengaruhi kondisi kualitas dan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis dinamika perubahan tata guna lahan secara berkala di Cekungan Bandung bagian timur sebagai langkah dasar dalam perencanaan dan pengeololaan wilayah yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan data citra satelit Landsat 8 (tahun 2014 dan 2022) dengan metode penginderaan jauh meliputi tahap pra-pemrosesan, komposit citra, klasifikasi terbimbing dengan algoritma Maximum Likelihood Classification, serta uji akurasi koefisien kappa. Berdasarkan hasil penelitian, tata guna lahan daerah penelitian terdiri dari area hutan, area pemukiman atau kawasan terbangun, sawah dan lahan basah, perkebunan, serta kebun campuran dan semak. Adapun selama rentang 2014 – 2022 terjadi penurunan luas area hutan (13,51%) dari 20.360,37 hektar menjadi 15.268,55 hektar, peningkatan luas area pemukiman dan kawasan terbangun (6,72%) dari 7.502,09 hektar menjadi 10.033,35 hektar, peningkatan luas area sawah dan lahan basah (1,80%) dari 7.679,87 hektar menjadi 8.355,14 hektar, penurunan luas area kebun campuran dan semak (0,93%) dari 2.121,16 hektar menjadi 1.772,10 hektar, serta adanya penambahan area perkebunan sebesar 2.227,77 hektar. Peningkatan luas area sawah dan penambahan area perkebunan kuat diduga merupakan hasil konversi lahan dari area hutan dan sebagian kecil area kebun campuran. Uji akurasi koefisien Kappa sebesar 0,81 untuk peta tata guna lahan Cekungan Bandung bagian timur tahun 2014 dan sebesar 0,88 untuk peta tata guna lahan Cekungan Bandung bagian timur tahun 2022 menunjukkan bahwa metode klasifikasi terbimbing pada kelas tata guna lahan yang digunakan memiliki tingkat keandalan sangat tinggi. Perubahan besar beberapa tata guna lahan seperti area pemukiman dan kawasan terbangun banyak terkonsentrasi di daerah Jatinangor, Cileunyi, Rancaekek, Cimanggung, dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa arah manajemen pengembangan wilayah Bandung Timur yang didominasi proses urbanisasi dan pembangunan infrastruktur perlu dititikberatkan pada beberapa daerah tersebut. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi penyusunan kebijakan tata ruang dan tata kelola wilayah yang berkelanjutan.