Claim Missing Document
Check
Articles

The Effect of Roasting Methods of Ingredients The Songgak Tribe Sasak Herbal on Active Compounds Using Gas Chromatography Mas Spectroscopy (Gc-Ms) Analysis) Agrijanti, Agrijanti; Kusuma Dewi, Lale Budi; Khusuma, Ari; Wardoyo, Eustachius Hagni
Jurnal Kesehatan Prima Vol. 18 No. 2 (2024): AUGUST
Publisher : poltekkes kemenkes mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jkp.v18i2.1540

Abstract

Songgak is a concoction of the Sasak tribe of Lombok in West Nusa Tenggara. It consists of coffee mixed with groundwood, cloves, black pepper, coriander, and nutmeg. The original recipe involves roasting the spices before mixing them with coffee, namely using a frying pan over a stove. The roasting process is carried out without controlling the temperature and roasting time, so the roasted ingredients need to be standardized(Dewi et  al., 2021). GCMS is a tool used to analyze compounds in samples using chemical separation methods, mainly chromatography. The compounds in the mixture are separated in a chromatographic column. The separation mechanism between several compounds occurs due to differences in the solubility values of each in the moving solvent and differences in the absorption of each of the competing compounds into the stationary phase (Gross, 2017). In this research, variations will be carried out on spices, namely T1 original treatment of roasting spices over fire for 8 minutes, T2 drying spices in sunlight, T3 oven for 5 minutes, T5 oven for 5 minutes, T4 oven for 15 minutes and T5 oven for 15 minutes. In the T4 treatment, namely oven for 10 minutes, the results of the analysis of the substance content with the most types, namely 20 types, were obtained. The active anti-microbial compound found in all treatments was Hexadecanoic acid, 2-hydroxy-1-(h)(C19 H38 O4) BM:330, which helps inhibit the growth of cancer cells. (National Library Medicine, n.d.). Octadecanoic acid (CAS) Stear (C18 H34 O2) BM:282 Anti-inflammatory, Antiandrogenic Cancer prevention, Hypocholesterolemia Dermatigenic, 5-Alpha reductase inhibitor, Anemiagenic, Insecticide (Natarajan et al., 2019) and Tetradecanoic acid (CAS) Myris (C14 H28 O2) BM:228 as anti-inflammatory and anti-nociceptive. 
Optimalisasi Tepung Talas Mbote (Xanthosoma Sagittifolium) Sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Jamur Aspergillus Sp dan Candida Albicans azwa rafiza; Rohmi; Erna Kristinawati; Agrijanti
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v4i2.224

Abstract

Latar Belakang: Jamur patogen seperti Aspergillus sp. dan Candida albicans menyebabkan infeksi seperti aspergillosis dan kandidiasis, terutama pada individu imunokompromais. Media kultur standar PDA mahal, sehingga diperlukan alternatif lokal seperti tepung talas mbote yang kaya karbohidrat (41%), protein (15%), lemak (1,4%), mineral, dan vitamin. Talas mbote berpotensi sebagai substrat nutrisi untuk pertumbuhan jamur karena kandungan gizinya yang mendukung metabolisme karbon. Tujuan Penelitian: Penelitian bertujuan mengoptimalkan berbagai formula tepung talas mbote (4 gr, 3,5 gr, 3 gr, 2 gr, 1 gr) sebagai media alternatif pertumbuhan Aspergillus sp. dan Candida albicans dibandingkan PDA. Analisis dilakukan untuk membandingkan diameter koloni Aspergillus sp. dan jumlah koloni Candida albicans pada media tersebut. Metode Penelitian: Penelitian pre-eksperimental dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi TLM Poltekkes Kemenkes Mataram pada Desember 2024-Januari 2025 dengan 4 perlakuan formula tepung talas mbote. Inokulasi jamur diinkubasi 3x24 jam pada suhu optimal, dianalisis secara deskriptif melalui pengukuran diameter koloni Aspergillus sp. dan hitung koloni Candida albicans. Hasil Penelitian: Pada Aspergillus sp., formula 4 gr menghasilkan diameter koloni terbesar 23 mm (rata-rata 51,5 mm), melebihi PDA (rata-rata 49 mm); formula 3,5 gr 22 mm. Pada Candida albicans, formula 4 gr tumbuh 25 koloni (rata-rata 55,5), lebih tinggi dari PDA (rata-rata 42); formula 3,5 gr 24 koloni. Semua formula menunjukkan pertumbuhan optimal, didukung enzim amilase yang menguraikan karbohidrat menjadi glukosa. Kesimpulan: Tepung talas mbote Xanthosoma sagittifolium efektif sebagai media alternatif optimal untuk pertumbuhan Aspergillus sp. dan Candida albicans, terutama formula 4 gr dan 3,5 gr yang sebanding atau melebihi PDA. Media ini ekonomis dan nutrisi lengkap, cocok untuk laboratorium dengan keterbatasan sumber daya.
Pengaruh Jenis Pengobatan terhadap Kadar Gula Darah 2 Jam Post Prandial pada Pasien Diabetes Melitus Tipe-2 Jasmine Chairunnisa; Agrijanti; Ari Khusuma; Pancawati Ariami
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 disebabkan oleh gangguan sekresi atau fungsi insulin yang menyebabkan akumulasi glukosa dalam darah, sehingga merusak organ seperti jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. Prevalensi diabetes di Indonesia meningkat signifikan, dengan 19,5 juta penderita pada 2021 menurut IDF, termasuk 64.544 kasus di Nusa Tenggara Barat pada 2023. Pengukuran gula darah 2 jam post prandial penting untuk menilai efektivitas pengobatan dalam mengontrol glukosa pasca makan. Tujuan Penelitian: Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pengobatan metformin, glibenklamid, dan kombinasi metformin-glibenklamid terhadap kadar gula darah 2 jam post prandial pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Selain itu, menganalisis mekanisme kerja obatobatan tersebut dalam menurunkan glukosa darah untuk meningkatkan pengendalian glikemik. Metode Penelitian: Penelitian analitik observasional potong lintang menggunakan data sekunder dari 96 rekam medis pasien DM Tipe 2 di RSUD Patut Patuh Patju periode JanuariDesember 2024, dengan sampel purposive (32 metformin, 32 glibenklamid, 32 kombinasi). Analisis dilakukan dengan uji nonparametrik Kruskal-Wallis setelah uji normalitas KolmogorovSmirnov. Hasil Penelitian: Rerata gula darah puasa dan 2 jam post prandial sebelum pengobatan: metformin (157 dan 151 mg/dL), glibenklamid (154 dan 150 mg/dL), kombinasi (189 dan 162 mg/dL), menunjukkan penurunan kadar gula darah pada ketiga kelompok. Uji Kruskal-Wallis menghasilkan p=0,081 (puasa) dan p=0,886 (2 jam post prandial), tidak ada perbedaan signifikan antar pengobatan (p>0,05). Kombinasi metformin-glibenklamid memberikan penurunan rerata terbaik (selisih 27 mg/dL). Kesimpulan: Ketiga jenis pengobatan menurunkan kadar gula darah 2 jam post prandial pada pasien DM Tipe 2, dengan kombinasi metformin-glibenklamid paling optimal meskipun tidak signifikan secara statistik. Pengendalian glikemik lebih baik pada terapi kombinasi, dipengaruhi faktor seperti pola makan dan kepatuhan pasien.
Effect of Patients Taking Amlodipine on Urea Levels Nurhidayati Nurhidayati; Nurul Inayati; Agrijanti Agrijanti
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 4 No. 7 (2024): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v4i7.1613

Abstract

Background: Hypertension is a condition when blood pressure increases or is often referred to as a “silent killer” because signs and sympotoms occur, usually causing headaches, nosebleeds, irreguler heartbead, fan buzzing in the ears, hypertension is a disease that is often found among elderly. Research Purposes: To determine the effect of patients taking amlodipine on urea levels. Research Methodos: Analytic observational research with cross sectional research design. Used 24 sampels of hypertension who consumend the drug amlodipine and analyzed the data using a non parametric test. Result: The mean results of examining urea levels in patients taking amlodipine were 31,61. Conclusion: There wa a significant effect of patients taking the drug amlodipine on urea levels according to adherence in taking the a p value of 0,003 (p<0,05). The results of blood pressure meansurements of patients taking the drug averaged 145 mg/dl.
PENDAMPINGAN PEMBUATAN SABUN CAIR FILTRAT LIDAH BUAYA & DAUN MINT SEBAGAI SABUN ANTISEPTIK PENCEGAHAN COVID-19 PADA KADER & IBU PKK KELURAHAN DASAN CERMEN Lale Budi Kusumadewi; Ari Khusuma; Agrijanti Agrijanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol 5 No 1 (2021): Oktober
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jpm.v5i1.2046

Abstract

Covid-19 is a disease caused by the SARS-CoV-2 virus and has symptoms similar to the common cold, which can progress to severe illness and pneumonia (pneumonia), causing difficulty breathing. One of the basic protective measures for individuals against COVID-19 is to wash their hands with soap and running water. Soap is a cleanser made from oil or fat with a strong base. In the final manufacture of soap, dyes, fragrances and natural ingredients are generally added to improve the characteristics of the soap. Aloe vera is one of the plants that are efficacious for maintaining healthy skin. The specialty of aloe vera lies in its gel which is able to seep into the skin tissue so that it resists losing too much fluid from the skin. The use of antibacterial from synthetic materials can prevent infection, but not a few have side effects such as irritation. To solve community problems related to the spread and control of cases of the spread of COVID 19, the implementation of this community service was carried out in the form of training and assistance in making aloe vera and mint leaf filtrate liquid soap as antiseptic soap for the prevention of COVID 19 in mosque cadres and youth in the Dasan Cermen Asri neighborhood. , Dasan Cermen Mataram City. The results of this activity are in the form of increasing the knowledge and skills of partners in making soap and marketing soap produced online.
Odds Ratio of Increase in Hemoglobin Level Associated with Consumption of Songgak Coffee in Patients with Pulmonary TB Lale Budi Kusuma Dewi; Sri Hartuti; I Wayan Getas; Agrijanti Agrijanti; Erlin Yustin Tatontos; Ida Bagus Rai Wiadnya; Siti Zaetun; Ari Khusuma
Jurnal Kefarmasian Indonesia VOLUME 15, NUMBER 1, FEBRUARY 2025
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonary TB cases in Indonesia are the second highest in the world. The incidence of Anemia in pulmonary TB patients can be as high as 90%. Anemia can lead to poor outcomes in the recovery of pulmonary TB. Songgak coffee is a coffee with a mixture of spices that is commonly consumed by the people of Central Lombok to make the body healthy and increase vitality, including pulmonary TB patients. Songgak coffee is made from 7 types of spices mixed with coffee. The results of previous research show that Songgak coffee has quite good antioxidant content and is an immunostimulant. Antioxidants may increase Hemoglobin levels. This was a case-control study. A total of 26 new pulmonary TB patients were divided into 2 groups. Group A received songgak coffee as an additional anti-TB drug, while group B received anti-TB drug therapy alone. Hemoglobin levels in groups A and B were measured before drug administration and 14 days after treatment. The data collected were nominal data, reported as increasing and non-increasing. A total of 12 out of 13 patients in group A had an increase in Hemoglobin, while only 1 person in group B had an increase in Hemoglobin. The odds ratio value for increasing Hemoglobin levels in pulmonary TB patients who consume songgak is 12. The odds ratio value for increasing Hemoglobin in pulmonary TB patients taking songgak is 12. The odds ratio value for increasing Hemoglobin levels in pulmonary TB patients who take Songgak is 12 times higher than in pulmonary TB patients who do not take Songgak.
Pengaruh Lama Hemodialisa Terhadap Hasil Urinalisa Metode Carik Celup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Praya Diana Safitri R; Rohmi Rohmi; Agrijanti Agrijanti; Siti Zaetun
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.1946

Abstract

Latar Belakang: Pasien gagal ginjal kronik biasanya melakukan terapi utama pengganti ginjal yaitu hemodialisa yang dapat mempertahankan fungsi tubuh pasien. Dalam hemodialisa, carik celup (memiliki spesifisitas tinggi 97–100) membantu memantau fungsi ginjal sisa untuk manajemen pasien, penyesuaian terapi, dan untuk pemantauan fungsi ginjal yang sederhana, efisien, dan efektif. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh lama hemodialisa terhadap hasil urinalisa metode carik celup pada pasien gagal ginjal di RSUD Praya. Metode Penelitian: Observasional analitik dan desain penelitian cross-sectional. Hasil Penelitian: Rerata lama hemodialisa pada pasien di RSUD Praya yaitu 6 bulan. Rerata hasil pemeriksaan carik celup untuk lama hemodialisa ≤ 3 bulan, nilai positifitas parameter glukosa 0.78, leukosit 2.56, eritrosit 3.22, protein 3.22. Lama hemodialisa 4-6 bulan, nilai positifitas parameter glukosa 1.33, leukosit 2.11, eritrosit 2.89, protein 2.78. Lama hemodialisa > 6 bulan, nilai positifitas parameter glukosa 0.22, leukosit 1.44, eritrosit 2.22, protein 1.33. Uji statistik pada parameter protein (p = 0,001), eritrosit (p = 0,037), leukosit (p = 0,073) dan glukosa (p = 0,783). Kesimpulan: Ada pengaruh lama hemodialisa terhadap hasil urinalisa metode carik celup parameter protein dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Praya.
Penggunaan Songgak Suku Sasak Untuk Menurunkan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus Ari Khusuma; Lale Budi Kusumadewi; Agrijanti Agrijanti
Alamtana: Jurnal Pengabdian Masyarakat UNW Mataram Vol 7 No 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jaltn.v7i2.1061

Abstract

Berdasarkan data profil Puskesmas Babakan, angka obesitas penduduk, dari 3.824 yang diperiksa, ditemukan 1.053 orang (27%) di antaranya dinyatakan obesitas. Hiperglikemia adalah suatu kondisi medis berupa peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal yang merupakan ciri dari beberapa penyakit, terutama diabetes mellitus di samping berbagai kondisi lainnya. Diabetes melitus (DM) saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Dalam masyarakat suku Sasak, bumbu selalu dibutuhkan. Masakan khas suku Sasak membutuhkan bumbu-bumbu dari jenis yang sangat beragam. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, bumbu juga digunakan sebagai songgak. Hasil penelitian tahun 2021 menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian songgak suku Sasak terhadap kadar glukosa darah hewan coba tikus yang diinduksi aloksan. Sebagai upaya membantu pengendalian kadar glukosa darah penderita hiperglikemia dengan ramuan tradisional, direncanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada tahun 2022 dengan judul sosialisasi pemanfaatan Songgak Suku Sasak untuk menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus. Tujuan dari penelitian ini adalah mensosialisasikan penggunaan Songgak Suku Sasak untuk menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus. Metode dalam penelitian ini adalah penyuluhan, pemeriksaan, pendampingan, dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan selama 3 bulan terhitung mulai bulan Mei sampai dengan Juli 2022. Hasil: Dalam kegiatan evaluasi dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah untuk menilai keberhasilan songgak dalam menurunkan kadar glukosa darah. Kegiatan evaluasi dilakukan setelah masyarakat mengkonsumsi Songgak selama 2 minggu. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan evaluasi, hasil pemeriksaan glukosa darah peserta, sebanyak 21 orang peserta mengalami penurunan kadar glukosa darah dan 11 orang diantaranya merupakan peserta yang sebelumnya memiliki kadar glukosa darah 200 mg/ dl. Peningkatan kadar glukosa darah terjadi pada 2 orang penderita DM berturut-turut dari 406 mg/dl menjadi 487 mg/dl dan 294 mg/dl menjadi 365 mg/dl. Seluruh masyarakat yang berjumlah 45 peserta kegiatan tersebut ingin mencoba konsumsi songgak. Sebagian besar masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut merasakan manfaat tidak membuat tubuh lebih segar dan ringan, serta meredakan pegal-pegal.