Articles
Contention of Meaning in WhatsApp Cultural Group : A Semantic Cognitive Analysis and Its Impact for The Law
Afdhal Kusumanegara;
Syihabuddin Syihabuddin;
Dadang Sudana;
Aceng Ruhendi Saifullah
Ethical Lingua: Journal of Language Teaching and Literature Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30605/25409190.292
The discourse of interpersonal communication in social media group contains of turn adjacency and simultaneous feedback of communication. Especially in WhatsApp group, the model of communication constructs a discourse by using a certain ideological mode through linguistic features. The communication model in the WhatsApp group involves participants directly, so that it is analyzed through mental and cognition with the semantic aspects that participants use. This study aims to reveal the contention of meaning in WhatsApp group by using cognitive semantic analysis. Cognitive semantic analysis is used to examine social cognition that affects contention of meaning among participants in the group. Contention of meaning in WhatsApp group communication is analyzed in three aspects; (1) the underlying social cognition, (2) the scheme of meaning in the group, and (3) the effects of the interaction scheme. The identification of semantic elements in interpersonal communication is based on microstructure analysis of van Dijk’s model i.e., linguistic features, such as background, coherence, detail, lexicon, pronominal, and graphic elements. Based on the research findings, the dominant aspect of social cognition that underlying participants in WhatsApp group communication are knowledges, attitudes, opinions, and concerns of the group members. The contention scheme of meaning in groups produces a discourse interaction model that tends to overlap and be structured. Effects that arose from the contention of meaning is ideological dominative groups and spread of knowledge on the topic of debate on all members of the group. This study reinforces the necessity of ideological construction through the contention of meaning in cognitive semantic studies and critical discourse especially in computer-mediated discourse analysis.
Novice Teachers and Native-Speakerism: Identity Recognition on Teacher for English as An International Language
Intan Pratidina Dewi;
Ahmad Bukhori Muslim;
Dadang Sudana
Journal of English Language Teaching and Linguistics Journal of English Language Teaching and Linguistics, 6(2), August 2021
Publisher : Yayasan Visi Intan Permata
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21462/jeltl.v6i2.589
The study aims to explore three novice teachers' perception towards English native-speakerism for the exploration of English as an International Language (EIL). The concern towards English native-speakerism, preferring the English variations from its native background, in the practice of teaching English as a Foreign Language (EFL) has become the central issue, especially in Indonesia. It is not aligned with the idea of EIL which foster the process of producing competent users of English through the inclusion of local cultural-based items. The case study design will be utilized in the research using the pre-interview, document analysis, and post-interview as the instrument for data collection of novice teachers' perception of local and nativized exposure. The study discovers that all collaborated novice teachers set an agreement to support the local cultural-based inclusion in practice yet support the inclusion of standardized English for teaching pattern and pronunciation. The findings show how the teachers have acknowledged the inclusion of local exposure to maximize the endeavor for students to be competent users of English. The discussion still relies on making the local cultural-based items in teaching practices viable and proposes Englishes in the teaching to lessen the native-speakerism.
Linguistik Forensik terhadap Perbuatan Tidak Menyenangkan di Media Sosial (Kajian Pragmatik)
Lilis Hartini;
Aceng Ruhendi Saifullah;
Dadang Sudana
Deiksis Vol 12, No 03 (2020): Deiksis
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (462.036 KB)
|
DOI: 10.30998/deiksis.v12i03.5416
Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat. Berbagai macam permasalahan sosial dapat dipicu oleh kurangnya kesantunan dalam berbahasa, berawal dari caci maki, kemudian berujung pada kekerasan fisik dan akhirnya mengakibatkan pelanggaran hukum, seperti perbuatan tidak menyenangkan. Permasalahan inti dalam penelitian ini adalah bagaimana parameter B&L dalam menilai tindakan perbuatan tidak menyenangkan di media sosial dan situasi komunikasi yang bagaimana yang diperlukan dalam menciptakan kesantunan bahasa di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindakan perbuatan tidak menyenangkan di media sosial dan ketidaksantunan berbahasa yang digunakan penutur di media sosial yang berakibat pada tindakan hukum. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik tentang kesantunan berbahasa dari B&L. Melalui metode kualitatif ditemukan bahwa media sosial merupakan sarana bergaulnya beragam komunitas sehingga tidak terlihat batasan kesantunan berbahasa maupun budaya berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga parameter kesantunan berbahasa yang dilanggar oleh netizen, yaitu skala peringkat jarak sosial, skala peringkat status sosial, dan skala peringkat tindak tutur, kemudian kesantunan berbahasa di media sosial sudah semakin luntur sehingga dipandang perlu untuk menyosialisasikan nilai kesantunan berbahasa B&L. Kata Kunci: Kesantunan berbahasa, media sosial, tindakan hukum
Meme sebagai Cerminan Berpikir Kritis Warganet di Ruang Siber (Kajian Semiotik Pragmatik)
Prapti Wigati Purwaningrum;
Aceng Ruhendi Saifullah;
Dadang Sudana
Deiksis Vol 12, No 03 (2020): Deiksis
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (332.763 KB)
|
DOI: 10.30998/deiksis.v12i03.5417
Isu pemindahan ibu kota sudah menjadi wacana dari beberapa pemerintahan sebelumnya. Namun, pada era kepemimpinan saat ini diumumkan secara resmi tentang niatan tersebut. Tepat sekitar Agustus lalu presiden mengumumkan secara resmi tentang pemindahan ibu kota dan sekaligus lokasi yang strategis untuk dijadikan ibu kota baru. Sebagai bentuk pro dan kontra muncul berbagai tanggapan dari masyarakat. Meme merupakan salah satu bentuk tanggapan yang paling sering muncul di dunia siber khususnya media sosial sebagai bentuk tanggapan atas kebijakan ini. Penelitian ini merupakan studi kasus yang menggunakan meme dan tanggapan warganet sebagai data penelitian. Untuk memahami tanda dan makna serta tanggapan dari warganet melalui teori multimodal, semiotik pragmatik, kebebasan berekspresi, dan berpikir kritis. Melalui penelitian ini penulis ingin mengetahui bagaimana tanda, makna serta tanggapan warganet yang muncul dalam meme merupakan bentuk perkembangan berpikir kritis terhadap sebuah kebijakan pemerintah. Dalam kajian ini pengumuman resmi dari presiden tentang “pemindahan ibu kota” dimaknai sebagai tanda, sedangkan pemunculan berbagai meme terkait, dimaknai sebagai reaksi masyarakat untuk menunjukkan pro dan kontra atas keputusan tersebut. Melalui pemunculan meme, warganet mencoba untuk berekspresi, berpendapat, serta mengkritik terhadap kebijakan pemerintah tentang pemindahan ibu kota. Pada akhirnya temuan dari analisis ini akan mendeskripsikan tentang bagaimana pola berpendapat, berkomentar, dan berpikir kritis di ruang siber. Kata Kunci: Semiotik-pragmatik, tanda dan makna, berpikir kritis, meme
Flouting Maxim in Netizen’s Utterance on The Comment Page of Danise Chariesta’s Instagram Account
Mutia Fitri Hanum;
Dadang Sudana;
R. Dian Dia-an Muniroh
English Language and Literature International Conference (ELLiC) Proceedings Vol 5 (2022): Innovative Practices in Language Teaching, Literature, Linguistics, and Translation
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
To achieve the goals of communication, it is important for the participants in every conversation to obey the cooperative principle in order to avoid misunderstanding of interpretation between them. Danise Chariesta is a content creator who is known for her arrogance. She often received a negatif reaction from netizens. This study aims to reveal the types of flouting maxim by netizen in and also the meaning behind their utterances. The researcher used a descriptive qualitative method. Then, to analyze the data, the researchers used Grice’s theory, Cooperative Principles consisting of four maxim types: quality, quantity, relation, and manner. The study revealed the rationales behind maxims flouting which were beneficial to build fun communication and to elaborate more explanations. The result of the research shows that there are 15 data of flouting maxim in comment page. The highest occurrence of flouting maxim in this movie is flouting maxim of quantity and quality with 5 data (33%). Then followed by flouting maxim of relevance with 3 data (20%). Flouting maxim of manner is the highest occurrence of flouting maxim with 7 data (47%). From all the types of flouting maxim that are performed by the characters in the comment page, the most dominant data that appear in the movie is flouting maxim of manner.
REFUSAL STRATEGIES AND POLITENESS IN VIRTUAL COMMUNICATION: A CYBERPRAGMATICS STUDY
Dinda Noor Azizah;
Dadang Sudana
English Language and Literature International Conference (ELLiC) Proceedings Vol 4 (2021): Creative and Innovative Learning Strategies in The Field of Language, Literature, Ling
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study aims to investigate the use of speech act refusal strategies in virtual communication via instant message application, WhatsApp. This study uses cyberpragmatics and relative relations studies to determine the form of a politeness strategy for the participants who are involved in virtual communication. The object studied are screenshots of the WhatsApp chat between a banker and a prospective bank customer which is analyzed by using a qualitative descriptive and Discourse Completion Task (DCT) methods. The results showed that the dominant refusal strategy that emerged was the indirect refusal strategy, which included reason, statement of regret, and promise of future acceptance. Also, the use of negative politeness has a more tendency towards the use of refusal strategies.
The construction of victims of defamation in court’s written verdicts
Mahardhika Zifana;
Iwa Lukmana;
Dadang Sudana
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 12, No 1 (2022): Vol. 12, No. 1, May 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17509/ijal.v12i1.28273
Most countries in the world consider defamation case to be a civil domain. However, Indonesia still classifies defamation as a criminal act. Following the issue of defamation in the Criminal Code, the establishment of the Law Number 11 of 2008 on Electronic Information Transactions has resulted in a more complex situation because it also covers the act of defamation. After the Law came into force in 2009, to 2014, 71 people had been charged in court for alleged defamation. This study is a linguistic study in the context of law to discuss the construction of victims in copies of court decisions on defamation cases. It aims to reveal the representation of victims in the court’s verdict. The data were taken from two copy-texts of court decisions in 2014 and 2015. The texts explaining the position of victims in relation to one of the grounds for judge’s decision. This study used the Fairclough’s (1997) critical discourse analysis framework that features dialectical-relational approaches to map social relations patterns explaining a party's construction in a discourse. The data interpretation and conclusions reveal the reproductions of the logic of parties in the decisions, marginalization of victims, and the establishment of the role and position of victims in defamation discourses by ignoring institutional aspects and powerlessness. Thus, victims are not the center of discourse in the text copies of Indonesian court decisions. In addition, victim is the most important part of the defamation cases since the cases was classified as a criminal complaint.
EFL Students' Experience in Speaking Practice on Discord Application
Dewi Sartika;
Dadang Sudana;
Gin Gin Gustine
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 22, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v22i1.47651
Being fluent in a foreign language requires many practices. However, Indonesian EFL learners might find it challenging to find a speaking partner to practice with as English is not widely used in the society. Moreover, the outbreak of Covid-19 has restricted people to communicate face to face, thus they seek for alternative modes of communication utilizing technology. This study was conducted in order to provide a detailed account and explanation of how learning English informally through a social media called Discord could be a better alternative to practice speaking English. The study involved two EFL students with different background based on their reason of joining the application. Narrative inquiry was used as the method of the study with data collected from interviews and observations to gather the stories on how they practiced their English in the application. The stories were then retold in a narrative account which then validated by the participants. The result includes a detailed account of the experience of practicing English in informal settings with an explanation of how these experiences reflected on the factors affecting speaking skill and ways to develop the three main aspects of speaking. With the results, Discord application shows the possibility to be an alternative for EFL students in finding a place and partners to practice their speaking.
REPRESENTASI AHOK DALAM PORTAL PEMBERITAAN DI KOMPAS DAN REPUBLIKA
Ami Rahmi;
Dadang Sudana
Edusentris VOL 4, NO 2 (2017): JULI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.422 KB)
|
DOI: 10.17509/edusentris.v4i2.371
Media massa adalah salah satu jembatan bagi bertukarnya informasi di kalangan masyarakat. Menariknya, ada adagium yang terlanjur diyakini bahwa tidak ada media yang netral. Hal ini menunjukkan bahwa media massa pasti memiliki kecenderungan untuk memihak pada salah satu pihak. Pandangan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan analisis makna ideasional pada pemberitaan mengenai representasi Ahok dalam sampul pemberitaan mengenai “Ahok di mata mereka” dan peresmian simpang susun semanggi di portal berita online Republika dan Kompas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis. Sampel penelitian terdiri atas media online Republika dan Kompas yang dipilih menggunakan teknik purposif. Data representasi Ahok pada objek pemberitaan kedua media massa dikumpulkan dengan teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pada pemberitaan di Repulika, Ahok muncul sebagai partisipan II, yang menunjukkan bahwa Ahok dan segala informasi mengenai dirinya bukan merupakan entitas utama dalam pemberitaan. Berlawanan dengan Republika, Kompas memunculkan Ahok sebagai partisipan I, yang memposisikan Ahok dan segala informasi mengenai dirinya sebagai entitas utama dalam pemberitaan. Perbandingan konstruksi makna ideasional representasi Ahok pada kedua media besar menunjukkan bahwa Republika memiliki ideologi politik non-kooperatif pada Ahok. Sepak-terjang Ahok ditutupi oleh berbagai sudut pandang pemberitaan yang menempatkan Ahok sebagai pihak yang tidak berperan positif pada sebuah isu. Sebaliknya, sosok Ahok dikonstruksi sangat baik oleh Kompas. Berbagai hal baik yang dilakukan oleh Ahok ditampilkan sebagai modal untuk menunjukkan popularitas, elektabilitas, dan citra Ahok yang baik di hadapan masyarakat, yang mengindikasikan Kompas memiliki idelogi kooperatif terhadap sosok Ahok sebagai pemimpin Jakarta.
Problematika Penerapan Tanda Baca dan Pola Kalimat dalam Produk Peraturan Daerah
Lilis Hartini;
Dadang Sudana
Deskripsi Bahasa Vol 2 No 2 (2019): 2019 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (710.296 KB)
|
DOI: 10.22146/db.v2i2.356
Struktur bahasa Indonesia memusatkan perhatiannya pada tata bahasa yang sesuai dengan standardisasi bahasa. Struktur bahasa yang sudah memenuhi syarat kaidah bahasa Indonesia yang berlaku menerapkan pola kalimat yang sempurna. Pola kalimat akan sempurna apabila ditunjang oleh tanda baca yang sesuai dengan makna sintaksiknya. Struktur bahasa seperi ini dikategorikan sebagai bahasa yang baik dan benar. Permasalahan inti dari penelitian ini adalah bagaimana problematika tanda baca dan pola kalimat yang diterapkan dalam produk peraturan daerah dan bagaimana kekeliruan bahasa dapat terjadi pada produk Peraturan Daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pola kalimat dan kekeliruan bahasa dalam produk peraturan daerah. Melalui metode deskriptif dengan mengambil pendekatan kualitatif interpretatif berdasarkan kepustakaan ditemukan bahwa terdapat beberapa aturan hukum yang tidak menerapkan tanda baca dan pola kalimat yang sesuai dengan strandardisasi bahasa, sehingga komunikasi hukum menjadi kurang baik. Ini berimbas pada kekeliruan penggunaan bahasa pada teks-teks hukum. Hasil data yang dianalisis tersebut disajikan melalui contoh yang relevan dengan keadaan hukum dewasa ini. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua problematika dalam produk hukum. Pertama, problematika penerapan tanda baca dan pola kalimat pada teks hukum terdapat pada kebiasaan masyarakat hukum yang tidak mau beranjak dari budaya untuk menyalin kembali istilah-istilah hukum atau teks-teks hukum dari wacana hukum sebelumnya Kedua, berhubungan dengan kekeliruan berbahasa yang sering menyimpang dari strukturtata bahasa sehingga terkesan penulisan aturan terlampau jauh dari kepraktisan berbahasa. Hal ini mengakibatkan kekeliruan struktur bahasa dalam produk hukum karena kaidah bahasa Indonesia yang baku telah dilanggar.