Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Exploring the Meaning of the Secret Book of Bainal Haq as a Literature Learning: A Study of Ludwig Wittgenstein's Philosophy of Language Chaer, Hasanuddin; Rasyad, Abdul; R., Januari Rizki Pratama; Setiawan, Irma; Hidayat, Rahmad; Ramdhani, Marlinda
Muslim Education Review Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : UIII Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56529/mer.v4i1.448

Abstract

This article delineates the stylistic similarities between Hölderlin's poetry and Sufi poetry within the manuscript of the 'Secret Book of Bainal Haq'. Accordingly, this research aims to highlight the shared stylistic features found in both types of poetry within the context of understanding the existence of God. The expressions of Sufi poetry contained therein reflect universal spiritual symbols capable of transcending cultural and historical boundaries. The Sufi literary discourse in the 'Secret Book of Bainal Haq' is connected to past literary traditions and anticipates the future direction of literature, as reflected in the poetry and metaphors used in the manuscript. This research approach adopts a qualitative descriptive content analysis method, employing Wittgenstein's 'Philosophical Investigations' approach. The research findings demonstrate that this approach effectively traces the relationship between transcendental existence (God) and religious aspects through Sufi literature in the 'Secret Book of Bainal Haq'. Within the framework of this research, the philosophy of language is considered an effective tool for understanding transcendental existence through literary discourse.
Komparasi Frekuensi Kemunculan Bentuk Standar dan Bentuk Tidak Standar Bahasa Indonesia Berbasis Korpus Hidayat, Rahmad; Asyhar, Mochammad; Chaer, Hasanuddin; Agusman, Agusman; Putra, Mohammad Fakhri Rahman Setiawan
Indonesian Language Education and Literature Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.18734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran frekuensi kemunculan bentuk standar dan tidak standar dalam korpus. Korpus yang digunakan adalah korpus LCC Indonesian 2023 yang terdapat dalam situs web https://cqpweb.lancs.ac.uk/. Korpus ini mencakup berbagai teks dari tahun 2008 sampai dengan 2022. Data yang diperbandingkan dalam penelitian ini terdiri dari 12 kategori yang secara keseluruhan terdiri dari 150 bentuk. Analisis data dilakukan dengan membandingkan angka frekuensi antara bentuk standar dan tidak standar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan bentuk standar dalam korpus lebih banyak dibandingkan dengan bentuk tidak standar, yakni 76,46% berbanding 23,44%. Ditemukan pula jumlah bentuk tidak standar lebih banyak dibandingkan bentuk standar pada kategori tertentu serta masih terdapat penggunaan bentuk lewah/mubazir. Penggunaan bentuk tidak standar masih dilakukan oleh penutur bahasa Indonesia sehingga diperlukan langkah strategis untuk mereduksinya.Comparison of Occurrence Frequency of Standard and Nonstandard Forms of Corpus-Based Indonesian LanguageThis study aims to describe the frequency of occurrence of standard forms and nonstandard forms in the corpus. The Indonesian 2023 LCC corpus is found on the website https://cqpweb.lancs.ac.uk/. This corpus includes various texts from 2008 to 2022. The data compared in this study consisted of 12 categories, which in total consisted of 150 forms. The data was analyzed by comparing the frequency rate between standard and nonstandard forms. The results revealed that the use of standard forms in the corpus was more than the nonstandard forms, 76.46% versus 23.44%. It was also found that the number of nonstandard forms is more than the standard forms in certain categories, and redundant forms are still used. It is necessary to take strategic measures to decrease the use of nonstandard forms by Indonesian speakers.
Pengenalan Linguistik Korpus untuk Pembelajaran dan Penelitian bagi Guru Bahasa Indonesia SMA Se-Lombok Barat: Introductory Session on Corpus Linguistics for Teaching and Research for High School Indonesian Language Teachers in West Lombok Indonesia Hidayat, Rahmad; Asyhar, Mochammad; Chaer, Hasanuddin; Efendi, Mahmudi; Febriani, Elya; Sundari, Sundari
DARMADIKSANI Vol 5 No 1 (2025): Edisi Juni
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i1.6645

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjudul “Pengenalan Linguistik Korpus untuk Pembelajaran dan Penelitian bagi Guru Bahasa Indonesia SMA Se-Lombok Barat”. Linguistik korpus merupakan sebuah kajian linguistik yang memanfaatkan korpus. Korpus merupakan kumpulan teks dalam jumlah yang sangat besar yang merepresentasikan kenyataan berbahasa penutur di lapangan. Korpus terdiri atas kalimat-kalimat alamiah yang diproduksi oleh penutur bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Pengenalan linguistik korpus dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia adalah dalam rangka memberikan pendampingan kepada guru untuk dapat mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Pengintegrasian teknologi ini merupakan salah satu aspek pembelajaran inovatif abad ke-21 yang harus dikuasai oleh guru sebagai sebuah keterampilan. Di samping itu, pengetahuan mengenai linguistik korpus juga dapat dimanfaatkan oleh guru melaksanakan penelitian untuk publikasi ilmiah. Dengan demikian, guru dapat meningkatkan kompetensi dan jenjang kariernya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan secara luar jaringan dengan beberapa tahapan. Tahapan yang dimaksud adalah (1) penjabaran hasil penelitian berbasis korpus, (2) pengenalan peranti korpus berbasis laman dan berbasis aplikasi, (3) praktik pemanfaatan korpus dan penyusunan korpus sederhana, (4) praktik pemanfaatan korpus untuk pembelajaran Bahasa Indonesia dan penelitian bahasa Indonesia dan (5) penyusunan rencana tindak lanjut dan refleksi. Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion), demonstrasi, dan tanya-jawab. Peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah para guru anggota MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Lombok Barat. Adapun korpus yang akan digunakan dalam praktik adalah korpus Leipzig Corpora Collection, Korpus Indonesia, dan Korpus Nusantara. Aplikasi yang digunakan untuk mengolah data korpus adalah Antconc versi 4.3.1 (Windows) dan CQP-Web. Setelah kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan, para guru Bahasa Indonesia dapat (1) menggunakan peranti linguistik korpus berbasis laman maupun aplikasi, (2) menganalisis hasil pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks, dan (3) merancang sebuah penelitian untuk dapat dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Pada akhirnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat meningkatkan kapasitas guru Bahasa Indonesia dalam rangka mewujudkan prinsip pembelajaran inovatif abad ke-21 khususnya dari segi pengintegrasian teknologi dalam mengelola pembelajaran.
Sufism and social cohesion: The role of Hizib Nahdlatul Wathan Tariqa in pluralistic religious life in East Lombok Rasyad, Abdul; Tohri, Ahmad; Basri, Hasan; Chaer, Hasanuddin
Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hsjpi.v12i1.85155

Abstract

Tariqa, within the framework of Sufism, refers to a system of religious thought and practice cultivated and exemplified by adherents of Sufi orders (tarekat) who embody a pluralistic orientation. This study seeks to elucidate the evolution of a diversity-orientated mentality embedded in tariqa (tasawuf) practices in East Lombok during the New Order era. Employing a historical research approach, this study adopts the established stages of historical inquiry is heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings indicate that the development of tariqa in East Lombok constitutes a long-standing historical process, rooted in the introduction of Islam to the region in the 15th and 16th centuries. This development has been consistently preserved as an integral element of the religious fabric of East Lombok society. The mentality of diversity has been culturally nurtured through a sustained and profound relationship between spiritual teachers (murshid) and their disciples within tarekat institutions. During the New Order period, the transformation of tariqa adherents into a community committed to fostering a culture of inclusivity and social cohesion was notably evident. Remarkably, the region experienced no communal conflict throughout the era, contributing to the formation of a harmonious society. This study aspires to contribute meaningfully to scholarly discourse on tariqa practices that embody tolerance and serve as exemplary models within pluralistic societies.
Pengenalan Linguistik Korpus untuk Pembelajaran dan Penelitian bagi Guru Bahasa Indonesia SMA Se-Lombok Barat: Introductory Session on Corpus Linguistics for Teaching and Research for High School Indonesian Language Teachers in West Lombok Indonesia Hidayat, Rahmad; Asyhar, Mochammad; Chaer, Hasanuddin; Efendi, Mahmudi; Febriani, Elya; Sundari, Sundari
DARMADIKSANI Vol 5 No 1 (2025): Edisi Juni
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v5i1.6645

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjudul “Pengenalan Linguistik Korpus untuk Pembelajaran dan Penelitian bagi Guru Bahasa Indonesia SMA Se-Lombok Barat”. Linguistik korpus merupakan sebuah kajian linguistik yang memanfaatkan korpus. Korpus merupakan kumpulan teks dalam jumlah yang sangat besar yang merepresentasikan kenyataan berbahasa penutur di lapangan. Korpus terdiri atas kalimat-kalimat alamiah yang diproduksi oleh penutur bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Pengenalan linguistik korpus dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia adalah dalam rangka memberikan pendampingan kepada guru untuk dapat mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Pengintegrasian teknologi ini merupakan salah satu aspek pembelajaran inovatif abad ke-21 yang harus dikuasai oleh guru sebagai sebuah keterampilan. Di samping itu, pengetahuan mengenai linguistik korpus juga dapat dimanfaatkan oleh guru melaksanakan penelitian untuk publikasi ilmiah. Dengan demikian, guru dapat meningkatkan kompetensi dan jenjang kariernya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan secara luar jaringan dengan beberapa tahapan. Tahapan yang dimaksud adalah (1) penjabaran hasil penelitian berbasis korpus, (2) pengenalan peranti korpus berbasis laman dan berbasis aplikasi, (3) praktik pemanfaatan korpus dan penyusunan korpus sederhana, (4) praktik pemanfaatan korpus untuk pembelajaran Bahasa Indonesia dan penelitian bahasa Indonesia dan (5) penyusunan rencana tindak lanjut dan refleksi. Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion), demonstrasi, dan tanya-jawab. Peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah para guru anggota MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Lombok Barat. Adapun korpus yang akan digunakan dalam praktik adalah korpus Leipzig Corpora Collection, Korpus Indonesia, dan Korpus Nusantara. Aplikasi yang digunakan untuk mengolah data korpus adalah Antconc versi 4.3.1 (Windows) dan CQP-Web. Setelah kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan, para guru Bahasa Indonesia dapat (1) menggunakan peranti linguistik korpus berbasis laman maupun aplikasi, (2) menganalisis hasil pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks, dan (3) merancang sebuah penelitian untuk dapat dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Pada akhirnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat meningkatkan kapasitas guru Bahasa Indonesia dalam rangka mewujudkan prinsip pembelajaran inovatif abad ke-21 khususnya dari segi pengintegrasian teknologi dalam mengelola pembelajaran.
Asal Mula Bahasa Menurut Perspektif Dialektika Hegel: Pendekatan Filsafat Sejarah Chaer, Hasanuddin; Sirulhaq, Ahmad; Sukri, Sukri; Jafar, Syamsinas; Aswandikari, Aswandikari; Efendi, Mahmudi; Ashriany, Ratna Yulida; Khairussibyan, Muh.
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v7i2.21991

Abstract

This article outlines a view of the origins of language according to Hegel's dialectical perspective. This stems from the author's understanding of Hegel's concept which states that the substance of the mind originates from the spirit. This article explains that history originates from a spirit that introduces itself through thought and intuition. In this context, the activity of speaking has higher value than the written word; and listening activities have higher meaning than reading activities. Therefore, intelligence-linguistics crosses historical and cultural periods, developing from the free movement and power of the mind. Researchers use four stages of the historical method, namely heuristics, verification, interpretation and historiography. This article uses Hegel's dialectical theory with a historical philosophy approach. This research aims to interpret Hegel's dialectical logic and philosophical ideas in understanding the emergence of language, as a linguistic interaction. The results of this research show that, by utilizing dialectical and intuitive logic, one can hear the intuitive phenomenon of the existence of language features such as utterances, words and abstract phonemes. On that basis, someone is able to explain and express verbal or linguistic expressions flexibly in a concrete discourse event. On this basis, someone is able to think epistemologically and linguistically.Artikel ini menguraikan pandangan tentang asal mula munculnya bahasa menurut perspektif dialektika Hegel. Hal ini bermula dari pemahaman penulis tentang konsep Hegel yang menyatakan bahwa substansi pikiran bersumber dari roh. Artikel ini menjelaskan bahwa sejarah bersumber dari roh yang mengenalkan dirinya melalui pikiran dan intuisi. Dalam konteks ini, aktivitas berbicara lebih tinggi nilainya daripada kata-kata yang tertulis; dan aktivitas mendengar lebih tinggi maknanya daripada aktivitas membaca. Oleh karena itu, inteligensi-linguistik melintasi periode sejarah dan budaya, yang berkembang dari gerakan dan kekuatan pikiran yang bebas. Peneliti menggunakan empat tahapan metode sejarah (historical method), yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan logika dialektis Hegel dan ide-ide filosofisnya dalam memahami munculnya bahasa, sebagai suatu interaksi linguistik. Artikel ini menggunakan teori dialektika Hegel dengan pendekatan filsafat sejarah. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa, dengan memanfaatkan logika dialektis dan intuitif, seseorang dapat mendengarkan fenomena intuitif keberadaan fitur-fitur bahasa seperti ucapan, kata, dan fonem abstrak. Atas dasar itu, seseorang mampu menjelaskan dan mengekspresikan ungkapan verbal atau kebahasan secara fleksibel dalam suatu peristiwa wacana yang konkret. Atas dasar itu pula seseorang mampu berpikir secara epistemologis dan linguistik.
Analisis Wacana Al-Qur’an Suroh Al-A’raf Ayat 25 Sebuah Fenomena Kematian Chaer, Hasanuddin; Sirulhaq, Ahmad; Rasyad, Abdul
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v4i2.4239

Abstract

Reinkarnasi adalah salah satu fenomena yang selalu menghasilkan kontroversi besar. Sementara beberapa orang berdasarkan pengalaman pribadi yakin akan kemungkinannya, beberapa yang lain langsung mengkritisi hal itu. Artikel ini menggunakan metode analisis deskriptif, informasi data dari struktur wacana ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan objek kajian, data tersebut dianalisis, ditafsirkan dan kemudian kami simpulkan. Tujuan artikel ini untuk mengkontekstualisasikan fenomena kematian didalam wacana al-Qur’an suroh al-A’raf ayat 25 dalam kerangka Islam ortodok dan merekonsiliasi antara dua pandangan yang berbeda Hindu dan Islam tentang reinkarnasi.
RETORIKA ALQURAN SEBAGAI PEMBELAJARAN BAHASA Chaer, Hasanuddin; Rasyad, Abdul; Sirulhaq, Ahmad
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retorika adalah seni berbahasa atau ilmu meyakinkan orang lain dengan menggunakan kata-kata secara efektif dalam berbicara atau menulis. Artikel ini membahas ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa retoris. Retorika ayat-ayat ini mempengaruhi pikiran dan hati para pendengar dan pembaca al-Qur’an. Tujuan artikel ini adalah membahas aspek-aspek retorika ayat Al-Qur’an dan menganalisis kualitas makna yang dimilikinya. Artikel ini menggunakan metode kajian kepustakaan (Library Research) dengan pendekatan analisis induktif yang berfokus pada makna ayat yang memberikan tambahan makna retorika yang tak dapat ditiru. Hasil penelitian menjelaskan bahwa retorika al-Qur’an memiliki peran yang sangat vital dalam mengkaji dan mencermati makna ayat dalam al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk menyingkap kualitas makna kognitif retorika al-Qur’an yang merupakan sumber wacana kebahasaan. Melalui pemahaman retorika al-Qur’an, pembaca tidak hanya menggunakan sebagai seni memahami makna ayat al-Qur’an atau meyakinkan orang lain tetapi lebih dari itu sebagai ilmu logika bahasa, filsafat, hukum dan juga agama serta argumentasi ilmiah dalam berkomunikasi. 
KATA 'SĀFĀR' DALAM PERSPEKTIF SUFI: KAJIAN TERHADAP METAFORA KONSEPTUAL GEORGE LAKOFF Chaer, Hasanuddin; Rasyad, Abdul; Mari'i, Mari'i; Hidayat, Rahmat; Susanti, Pipit Aprilia; Riyanto, Andra Ade
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v8i2.22510

Abstract

This article delves deeply into the essence of the word 'Sāfār' from a Sufi perspective, utilizing the conceptual metaphor framework developed by George Lakoff. The research aims to uncover the philosophical and spiritual meanings contained within the word 'Sāfār' in the context of Sufi tradition, and how the use of conceptual metaphor can deepen our understanding of Sufi mystical journeys. Within Lakoff's "The Path Traversed-If Possible/Not Possible" conceptual framework, the article explores the dynamics between the Source Domain and the Target Domain in the metaphor of 'Sāfār'. This research applies George Lakoff's conceptual metaphor method to interpret the literal meaning of the word 'Sāfār' within the spiritual Sufi framework into a metaphorical meaning. To understand this phenomenon, the research is conducted through three stages: First, data collection, in which researchers gather literal words of 'Sāfār' from the texts of the Qur'an and Sufi manuscripts. Second, data analysis, in which researchers observe, analyze, and understand the literal meaning of the word 'Sāfār' in the Qur'anic texts, and connect it with metaphorical meanings. Third, data conclusion, where researchers understand and interpret the meaning from the source domain to the target domain of the metaphor of the word 'Sāfār' in the context of Sufi spiritual journey. Findings from this research indicate that a metaphorical understanding of the term 'Sāfār' can provide new insights and broader perspectives on spiritual, philosophical, and cognitive linguistic experiences. This is because the research highlights the complexity of dynamics between the source domain and the target domain in the process of metaphorical interpretation.
Pelatihan pengembangan pembelajaran dan asesmen berdiferensiasi pada guru bidang studi di SMPN 4 Kuripan Lombok Barat Setiawan, Irma; Sapiin, Sapiin; Sudika, I Nyoman; Chaer, Hasanuddin; Karoluslina, Karoluslina; Martin, Nurhidayat
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30759

Abstract

AbstrakPembelajaran dan asesmen berdiferensiasi pada konteks pendidikan kekinian sangatlah penting, khsususnya untuk mengakomodasi siswa yang memiliki keberagaman secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran berdiferensiasi dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dengan mempertimbangkan kesiapan, minat, dan gaya belajarnya. Dalam pembelajaran, tentu diperlukan instrumen penilaian yang adaptif, yakni asesmen berdiferensiasi.  Melalui asesmen diagnostik, kelebihan dan kelemahan belajar siswa dapat diketahui secara komprehensif, sehingga dapat memudahkan guru dalam merancang asesmen yang sesuai dengan potensi siswa. Untuk merancang pembelajaran dan asesmen berdiferensiasi ini, diperlukan pelatihan intensif yang berkelanjutan, khususnya bagi guru selaku fasilitator pembelajaran di era Kurikulum Merdeka. Seperti halnya yang akan dilakukan di SMPN 4 Kuripan, Desa Jagaraga Kecamatan Kuripan Lombok Barat, NTB. Permasalahan utama yang dihadapi komite pembelajaran (pengawas bina, kepala sekolah, dan guru) adalah formulasi pembelajaran kurang dapat mengakomodasi kesiapan, minat, dan gaya belajar siswa. Penyebab utama karena para guru bidang studi masih kurang memahami secara komprehensif mengenai implementasi pembelajaran dan asesmen berdiferensiasi. Tujuan pelatihan/kegiatan ini untuk menguatkan pemahaman dan mengaktualisasikan pengembangan pembelajaran dan asesmen berdiferensiasi, sehingga proses dan hasil belajar siswa meningkat. Hasil kegiatan pelatihan meliputi: 1) tahap persiapan, melalui asesmen diagnostik diperoleh potensi dan kelemahan guru mencapai cukup baik; 2) tahap masukan, melakukan pemolaan dan kategorisasi berdasarkan hasil diagnostik, termasuk menemukan strategi terbaik dalam meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran berdiferensiasi yang berkelanjutan mencapai baik; dan 3) tahap proses, melakukan pelatihan berkelanjutan terdiferensiasi mencapai sangat baik. Kata kunci: asesmen; berdiferensiasi; guru; pembelajaran; pengembangan Abstract Differentiated learning and assessment in the contemporary educational context are very important, especially to accommodate students with cognitive, affective, and psychomotor diversity.Differentiated learning is designed to meet students' learning needs by considering their readiness, interests, and learning styles.In learning, adaptive assessment instruments are certainly needed, namely differentiated assessments.Through diagnostic assessments, the strengths and weaknesses of students' learning can be comprehensively identified, making it easier for teachers to design assessments that align with students' potential.To design differentiated learning and assessment, continuous intensive training is required, especially for teachers as learning facilitators in the era of the Merdeka Curriculum.As will be done at SMPN 4 Kuripan, Jagaraga Village, Kuripan District, West Lombok, NTB.The main problem faced by the learning committee (supervisors, principals, and teachers) is that the learning formulation does not adequately accommodate students' readiness, interests, and learning styles.The main reason is that subject teachers still lack a comprehensive understanding of the implementation of differentiated learning and assessment.The purpose of this training/activity is to strengthen understanding and actualize the development of differentiated learning and assessment, so that the process and outcomes of student learning improve.The results of the training activities include: 1) preparation stage, through diagnostic assessment, the potential and weaknesses of teachers were identified, reaching 60% (satisfactory); 2) input stage, modeling and categorization based on diagnostic results, including finding the best strategies to improve teachers' abilities in sustainable differentiated learning, reaching 85% (good); and 3) process stage, conducting continuous differentiated training, reaching 90% (very good). Keywords: esmen; differentiation; teacher; learning; development